Tags

, ,


images

 

 

Ah, malam hari di musim dingin.

Salju yang turun perlahan, mantel hangat, taman bermain, boneka Krong di tangan kiri, dan genggaman hangat tangan seorang ibu di tangan—o? Di mana ibu?

“Eomma~?”

Seorang anak kecil laki-laki celingukan di antara ramainya pengunjung taman bermain malam itu. Topi rajut putihnya sampai terjatuh karena dia berlarian tidak tentu arah, tentu saja untuk mencari ibunya. Beberapa orang sudah menanyakan di mana ibunya berada, tapi tentu saja dia tidak mau menjawab. Bukankah seharusnya anak itu yang bertanya pada mereka? Dasar orang-orang aneh.

Mantel hitam dan boots putih. Mantel hitam dan boots putih. Mantel hitam dan boots putih.

Oh, entah sudah berapa kali bocah kecil malang ini mengulang-ulang rupa sang ibu di kepala kecilnya itu. Dan kalau melihat dari ketinggiannya saat ini, mungkin hampir semua orang di taman bermain ini bisa menjadi ibunya. Kenapa semua orang di sini harus pakai mantel hitam, pikirnya.

Sekarang, bocah lima tahun ini hanya bisa menyesal karena terlalu fokus dengan bianglala besar yang dia pikir tidak jauh dengan tempatnya berdiri semula, saat dia masih bersama ibunya. Bianglala nakal, kenapa dia harus menjauh waktu dikejar?

“Bibi, bibi, bibi. Lihat eomma~?”

Salah satu pelajaran yang diberikan oleh ibunya, bertanya saat kau tersesat…

“Aigo~ kau tersesat? Ciri-ciri eommamu bagaimana, anak tampan~?”

Anak itu diam sebentar. Eomma bagaimana, ya?

“Eommaku cantik. Saaaaangat cantik. Bibi lihat eomma yang cantik?”

Wanita tua itu hanya diam, mengerutkan dahinya tanda dia sedang berpikir keras. Wanita yang cantik? Oh, tidak, tidak. Wanita tua itu juga berpikir dia cantik, tapi dia jelas merasa bukan ibu dari anak kecil ini.

“Ah, bagaimana kalau kau ikut bibi ke pos polisi saja?” tanya wanita tua itu sambil tersenyum ramah.

Bayangan akan kejadian menyeramkan–seperti pembunuhan, pencurian, penculikan– langsung masuk ke pikiran anak kecil ini. Dia langsung mundur selangkah, ketakutan. Dia tidak akan mau ke tempat yang ada label ‘polisi’, karena pasti menyeramkan. Ibunya juga pernah bilang, kalau polisi hanya menangkap orang-orang jahat, jadi mana mungkin dia akan menemukan ibunya di sana, kan? Hm, itu menurutnya.

Anak kecil itu langsung berlari, meninggalkan wanita tua tadi kebingungan di depan toko makanan yang sedang dia jaga tadi. Setidaknya dia tidak harus meninggalkan dagangannya untuk membawa anak tadi ke pos polisi, pikirnya. Huh, jahat.

Langkah kaki kecil anak ini terus berlari tidak tentu arah, menerima beberapa pandangan heran dan khawatir dari beberapa pengunjung yang melihatnya. Boneka Krong kesayangannya tetap berada aman di pelukan anak kecil ini, sekedar mengingatkannya kalau dia tidak sendirian, tapi tetap saja dia sendirian.

Anak kecil ini sekarang hanya bisa berharap kalau dia punya kekuatan Superman, atau mungkin kekuatan Batman? Selama bisa membuatnya bertemu sang ibu dengan cepat, dia mau jadi superhero apa saja, termasuk Sun-gokong–kalau monyet itu termasuk superhero.

Di bawah tenda pintu masuk tempat sirkus, berdiri sambil memeluk boneka Krong-nya dengan erat, mantel yang masih membuatnya hangat, anak kecil ini hanya bisa berharap akan ada keajaiban yang datang untuk menyelamatkannya. Entah itu ibu peri atau malaikat yang datang, asalkan dia bisa bertemu dengan ibunya. Mungkin setelah selamat dari tersesat ini dia akan berjanji tidak akan mudah digoda oleh bianglala lagi.

Sekarang, dia hanya bisa menunggu, sambil menatap jauh kekeramaian taman bermain dan wajah bahagia anak-anak lain yang digenggam erat oleh ibu masing-masing.

Ng, dia menunggu keajaiban. Oh! Sambil menangis.

+++++

Dung, dung, dung~

Oh! Lihat! Siapa anak perempuan manis ini?

Ikat rambut warna-warni, mantel pink dengan gambar Pororo, lolipop yang lebih besar dari bulatan wajahnya, dan sepatu boots pink yang akan mengeluarkan warna-warni setiap dia berjalan. Jangan lupakan pipi tembam merona yang bisa membuatmu ingin mengunyah anak ini.

Lihat kanan. Lihat kiri. Belakang.

“Eomma tersesat lagi, ya? Ckckck.” dia hanya menggelengkan kepalanya dan terus berjalan ke arah yang dia anggap benar. Meninggalkan ibunya yang sekarang sedang panik karena anak cantiknya hilang. Oh, ibu yang satu ini harus ingat kalau anaknya yang satu itu selalu menganggap dirinya tidak pernah tersesat.

Anak perempuan ini terus berjalan, sempat membuang lolipopnya yang masih tersisa banyak itu ke tempat sampah karena bosan dengan rasanya. Dia tersenyum puas karena sudah melakukan satu kebaikan untuk negara ini, yaitu buang sampah pada tempatnya.

Terlalu banyak yang dia lihat, dan terlalu banyak yang membuatnya tertarik untuk mencoba semua yang dia lihat. Anak kecil yang satu ini…terlalu sulit diatur. A! Sekarang dia ingin mencoba masuk ke rumah hantu!

“Maaf, anak kecil, tempat ini hanya untuk orang dewasa. Mana orangtuamu?” kata si penjaga pintu masuk. Anak perempuan ini memerhatikan penampilan si penjaga masuk dari bawah sampai atas. Menyeramkan. Mungkin dia tidak perlu masuk rumah hantu untuk dapat bertemu dengan hantu pikirnya.

“Hei, kenapa kau tertawa?”

“Muka paman jelek! Paman hantu, ya? Ya? Ya?” kata anak perempuan ini sambil menunjuk wajah si penjaga pintu masuk. Dia langsung berlari dari tempat itu saat si penjaga pintu masuk berniat untuk menangkapnya dan menjadikannya hantu kecil, begitu menurutnya. Kalaupun dia menjadi hantu, dia akan menjadi hantu yang tidak akan ada seorangpun yang takut dengannya, anak ini terlalu manis…kecuali sifatnya.

Dia berhenti berlari, masih cekikikan saat mengingat apa yang hampir dia alami tadi. Mungkin kalau anak kecil lain takut dengan hantu dan hal menyeramkan lainnya mereka akan berlari, tapi tidak dengan anak perempuan yang satu ini. Hantu itu lucu, menurutnya.

Tak, tak, tak

Langkah kakinya yang mungil tidak berhenti berjalan, terus saja berjalan tidak peduli dengan tatapan sekitarnya. Dari sudut pandang orang-orang itu, mungkin mereka sedang berpikir ‘di mana orangtua anak itu?’, atau ‘Dia tersesat, ya?’, dan lain sebagainya. Lain lagi dengan apa yang ada di otak anak perempuan kecil ini. Oh, bisa kau tebak apa yang ada di pikiran anak perempuan kecil keras kepala yang biasa dimanja dan dipuji oleh keluarganya?

Anak perempuan itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, berjalan lurus percaya diri bagaikan model-model asing yang sering dia lihat di televisi. Kalimat ‘anak ini cantik sekali’ dan ‘Aigoo, anak itu seperti malaikat’ sudah berkeliling di pikirannya daritadi. U-hu, mereka pasti sedang berpikir seperti itu, menurutnya.

Senyumnya mengembang saat dia melihat tenda besar berwarna merah dari kejauhan, tenda sirkus. Dia suka melihat orang-orang dengan gerakan lincah itu memanjakan matanya, dia suka bagaimana lucunya gajah-gajah yang bisa berhitung, dia suka melihat orang-orang yang terbang dengan tali, dan bagian favoritnya adalah melihat harimau dan singa–hewan terlucu sejagat raya, menurutnya.

Kembali berlari, dia tidak mau melewatkan pertunjukan yang akan ditampilkan oleh sirkus tersebut.

Senyumnya yang mengembang tidak tampak lagi setelah anak perempuan ini mendapati tanda ‘tutup’ di depan pintu masuk. Pipinya yang sudah bulat itu bertambah bulat saat dia sedang kesal.

“Hiks..”

Anak perempuan kecil itu menoleh, dan matanya menyipit saat mendapati anak kecil yang seukuran dengannya sedang berjongkok di sisi lain pintu masuk. Matanya berbinar saat melihat apa yang dipeluk oleh anak yang dia lihat sekarang.

“A! Krong!”

+++++

Entah dia harus terkejut atau senang saat ada yang menghampirinya dan berteriak semangat seperti tadi. Anak laki-laki ini memerhatikan ekspresi anak yang berteriak tadi dengan hati-hati.

Ow, ternyata ibunya tidak berbohong tentang malaikat cantik yang selama ini selalu dia dengar ceritanya sebelum tidur. Hanya saja dia tidak tahu kalau ternyata malaikat menyukai Krong dan mengenakan pakaian bergambar Pororo.

“Boleh aku pegang Krong?”

Anak laki-laki ini sudah tidak menangis lagi, bahkan dia sudah lupa alasannya menangis karena sekarang dia tersenyum sambil menyerahkan boneka Krong-nya ke anak perempuan di hadapannya tanpa ragu sama sekali.

“Aaaa~ Krong lucuuu~” kata anak perempuan itu sambil memeluk erat boneka Krong-nya. Oh, bisakah anak ini bertambah manis lagi?

“Kau suka Krong? Atau Pororo?” tanya anak laki-laki ini penasaran. Dia tidak bisa berhenti tersenyum ketika melihat anak perempuan itu. Malaikat yang ini terlalu menyenangkan, dan dia suka itu.

“Poro! Aku suka Pororo~ tapi aku juga suka Krong~ a! Pororo lebih lucu, sih. Tapi, tapi, tapi..ng..Krong juga lucu!” dan anak laki-laki ini hanya bisa menatap takjub. Tidak pernah dia menerima tanggapan sesemangat ini dari orang lain, bahkan orangtuanya.

Dua anak kecil itu hanya diam, menikmati kesibukan masing-masing–yang satu sibuk memeluk boneka, yang satunya lagi sibuk memerhatikan anak yang sedang memeluk bonekanya.

“A! Apa tadi kau yang menangis? Krong kenapa menangis?” Oh, dia mendapatkan panggilan sekarang, Krong. Bagaimana kalau kita menamainya Krong dan Pororo untuk anak perempuan centil itu?

Krong menunduk, kembali sedih saat ingat kenapa dia bisa sampai di sini, sendirian.

“Aku tersesat~ aku terpisah dengan eomma-ku~”

“Hoo~” Pororo kecil itu hanya mengangguk–mungkin paham– dan menepuk-nepuk kepala Krong sambil tersenyum. Krong..uh, hanya bisa terdiam karena tindakan Pororo cantik ini membuat pipinya memanas. Ais, mereka lucu sekali.

“Aku bisa membantumu, mau? Ciri-ciri eomma-mu bagaimana?” mata bulat Pororo cantiknya sekarang menatap Krong kecil ini dengan fokus, membuatnya terlihat sangat lucu dan keinginan untuk mencubit pipi gadis kecil itu semakin besar.

“Eomma cantik~”

“Cantik? Hmm~” Pororo cantik itu kembali mengangguk, seakan-akan dia memang mengerti dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

“Aku tahu eomma-mu! Ayo! Ikut aku!”

Dan Krong tampan kita hanya bisa menurut ikut saat si Pororo cantik menarik tangannya, entah akan ke mana. Selama bersama dengan malaikat cantik penyuka Pororo seperti ini, dia tidak akan protes kalaupun dia harus tersesat semalaman.

+++++

“Yang itu?”

“Yang sedang makan ayam itu?”

“Yang sedang menangis itu?”

“A! Aku tahu! Yang sedang dicium itu, kan?”

Sudah berapa kali Krong menggeleng pun dia sendiri tidak tahu. Pororo cantiknya mungkin sudah menebak hampir seluruh wanita yang dia anggap cantik sebagai ibunya. Tidak lupa tambahan beberapa ibu-ibu yang dia marahi karena tidak mau mengaku kalau Krong tampan satu ini adalah anaknya. Ya, malaikat cantiknya sedikit..aneh, dan terlalu pemberani.

“Po-poro~ kita istirahat dulu, yuk~” ajak Krong. Sekarang pipinya memerah bukan hanya karena dingin, tapi juga capek berlari-lari mengikuti Pororo cantiknya. Dia tidak mau kehilangan jejak malaikat yang satu ini.

Si Pororo cantik menoleh, melihat bagaimana keadaan Krong yang sudah terduduk di pinggiran, dekat rumput-rumput yang ada di pinggir jalan taman bermain itu. Ais, Pororo cantik kita lupa kalau ibunya sering memberi nasihat untuk tidak terlalu banyak berlari-larian jika bersama orang lain.

Dua anak kecil itu duduk berdampingan. Pororo cantik menarik tangan Krong yang kelelahan ke arah bangku taman yang kosong dan duduk di sana. Kaki mereka yang kecil untungnya masih bisa membuat mereka duduk di bangku tersebut walaupun ketika sudah duduk dengan benar, kaki mereka masih bisa berayun-ayun, manis.

Krong menoleh ke arah Pororonya. Pororo yang dia sangka seorang malaikat–sampai sekarang– itu sedang memerhatikan keadaan sekitar. Bibirnya sedikit mengerucut dan beberapa anak rambutnya yang hitam itu keluar dari kuncirannya.

Banyak sekali rencana yang sudah tersusun di kepala Krong kalau nanti sudah bertemu dengan ibunya. Pertama, dia ingin mengajak Pororo ini menonton serial Pororo bersama, bermain bersama, menjadikannya teman, memamerkan Pororo cantik ini pada teman-teman di taman kanak-kanaknya, dan..ng..tunggu, apa Krong sedang berpikir untuk mencium pipi imut Pororo imut kita yang satu ini? Hihi, lucu.

“A! Pororo!”

Krong terkejut saat Pororonya sudah melompat dari bangku taman dan berlarian–lagi– menuju salah satu tempat bermain yang menyediakan berbagai macam boneka, termasuk Pororo. Krong mengikuti Pororo dari belakang, sedikit memaksakan kakinya untuk berlari lagi karena tidak mau kalah dengan Pororonya. Bagaimanapun dia tetap laki-laki, dan laki-laki tidak boleh kalah dari anak perempuan, begitu kata kakaknya.

“Woaaaaa!” Krong tidak bisa memungkiri kalau tempat yang mereka hampiri ini penuh dengan boneka lucu dan beragam hadiah lainnya yang tidak kalah menarik. Hanya saja ada satu hal–orang, lebih tepatnya, yang mengganggu.

Krong dan Pororo memerhatikan seorang lelaki tua yang hanya memakai kaus putih dan celana panjang hitam yang daritadi terus berteriak, seperti ‘masukkan lima gelang! dapatkan satu hadiah pilihanmu!’ dan sejenisnya. Intinya, lelaki itu menyuruh orang-orang untuk bermain terlebih dahulu, baru bisa mendapatkan hadiah. Sepertinya cukup sulit untuk dua makhluk kecil ini.

“Poro mau boneka itu?” kata Krong sambil menunjuk boneka Pororo berukuran besar yang tergantung di dekat boneka Donal Duck. Pororo cantiknya hanya mengangguk, pandangan matanya tidak pernah lepas dari boneka Pororo besar tadi, itu cukup membuat Krong kecil kita bersemangat untuk memberikan boneka Pororo itu pada Pororonya.

“Ai! Terima kasih, sayaaang!”

Krong menoleh ke arah sepasang..entahlah, laki-laki dan perempuan, mereka mengenakan banyak sekali aksesoris yang serupa–seperti topi, mantel, sepatu. Krong kecil belum tahu apa itu kata ‘kekasih’, ckckck.

Krong masih memerhatikan pasangan tadi, dan matanya langsung membulat lebar saat dia melihat perempuan tadi mencium laki-laki yang bersamanya. Oh, jadi, kalau kita memberi seorang perempuan hadiah, kita bisa mendapat ciuman? Oh, semangat Krong bertambah berkali-kali lipat!

“Paman, boleh aku coba permainannya?” lelaki penjaga tempat itu menunduk, melihat ke arah Krong yang tadi menarik-narik ujung bajunya.

“Anak kecil bisa apa, ha? Mana orangtua kalian? Ckckck, tidak boleh.”

“Ayolah, paman~”

“Tidak boleh.”

Krong menoleh ke arah Pororo yang semakin menunjukkan wajah sedihnya. Wajah semangatnya tadi sudah hilang entah ke mana, dan Krong tidak suka hal ini.

Krong menghampiri Pororonya, menepuk-nepuk kepala gadis kecil itu perlahan dan ikut merasa sedih karena tidak berhasil memberi hadiah untuk malaikat cantiknya..dan sekalian tidak jadi mendapat ciuman juga.

“Krong tidak bisa memberi boneka Pororo itu untukmu~” Pororo cantiknya hanya bisa mengangguk, tertunduk sambil sesekali mengusap-usap matanya yang sudah memerah karena menahan airmata. Ouch, hati Krong kita yang tampan terlalu lemah untuk melihat seorang malaikat menangis di hadapannya.

Ng..tunggu dulu. Sepertinya ada yang kasihan dengan dua makhluk kecil ini. Oh! Si paman penjaga!

“Hei, jangan menangis di tempatku! Ya ampun, dasar anak kecil.” Lelaki itu kemudian membuka sebuah kotak kecil–sepertinya penuh mainan– dan memberikan sepasang cincin. Aigo, paman ini ternyata baik hati.

“Ini untuk kalian. Sudah, pergi, sana!”

Pororo cantik itu menerima sepasang cincin kecil, berwarna hijau dan biru, dan bergambar Pororo juga Krong. Senyum Pororo cantik pun mengembang, mengucapkan beberapa kali kalimat terima kasih untuk si paman penjaga tempat bermain lalu langsung menarik–huft, lagi– Krong yang juga ikut bergembira.

“Ng..bagaimana kalau kau yang Krong?”

“Hu? Tapi..aku suka Pororo~”

“Ckckck. Sini, kemarikan tanganmu~” Pororo cantik itu hanya menuruti perintah Krong. Sambil mengulurkan tangan, Pororo memerhatikan tangan Krongnya yang ternyata sedikit lebih kecil darinya, kalau diperhatikan lagi, Krongnya lebih pendek sedikit darinya. Tapi, Krong lucu, kok.

“Nah! Selesaaaii~” Krong berteriak senang saat dia selesai memasangkan cincin itu di jari telunjuk Pororonya, dan memasangkan cincin miliknya sendiri. Mereka berdua tersenyum, gigi yang kecil-kecil itu tampak sempurna untuk senyum mereka yang tulus.

“Itu agar kau selaaalu mengingatku, ya?”

Pororo cantiknya bertambah cantik saat dia menunduk malu dan mengangguk. Pipinya tambah merona dan jari-jari kecilnya memainkan cincin yang tadi dipasangkan oleh Krong. Biasanya, hal seperti itu hanya akan terjadi ketika dia bermain rumah-rumahan dengan temannya di komplek sekitar rumah, tapi ini berbeda. Sangat berbeda sampai-sampai Pororo cantik ini terus tersenyum.

“Ah, nama Krong sia—“

“Raechee!”

“Jongee!”

“Ah! Itu mereka!”

Kedua anak itu menoleh serempak kesumber suara, suara ibu mereka. Di saat bersamaan pula mereka di gendong oleh ibu masing-masing, terpampang jelas raut kekhawatiran di wajah mereka, sekaligus lega karena anak mereka selamat dan tidak pergi keluar dari area taman bermain.

Krong kecil memeluk leher ibunya dengan erat, melirik sebentar ke arah Pororonya yang juga sedang dipeluk sang ibu. Pororonya terlihat sangat senang, sampai-sampai mata bulatnya membentuk sabit indah saat dia tertawa karena dikelitik oleh ibunya.

Dan begitulah pertemuan mereka. Ibu mereka hanya bertukar salam, lupa mengenalkan anak mereka masing-masing.

Arah pulang mereka berlawanan, tapi tetap saja Pororo dan Krong kecil itu saling melambaikan tangan dari gendongan ibu mereka masing-masing. Berharap, suatu hari nanti bisa bertemu kembali, dan bermain peran sebagai Pororo dan Krong..yang berteman dengan manisnya.

* * * * *

Β 

 

 

 

 

HALOOOOO!!!

Apa kabar? Ais, makin cantik aja nih kayaknya πŸ˜‰ *ngegombal

Kayak biasa, cuma bakalan publish ff pendek ato bersambung pendek kayak gini untuk kedepannya, soalnya nggak tau bisa kapan ngetik fulltime(?) lagi

laptop saya rusak, nggak bisa di-adjust brightness-nya, dan itu cukup bikin mata saya keblinger dan teriak ‘AAAARGGHH!!!’ sepanjang saya ngetik, tapi demi isi otak saya yang udah penuh sama beberapa ff ini, jadi ya harus ada yang dikeluarin, biar ada yang masuk lagi gitu, hehehe :B

agak jarang dapet inspirasi tentang Kyuhyun, makanya udah jarang update ff yang ada kyuhyun-nya, kenapa? gegara dia kalah unyu sama adek-adek EXO *eh

Dia udah jarang nyanyi, padahal saya sering dapet ide waktu denger dia nyanyi, yang lagu baru maksudnya ‘__’

sekian deh izin saya~

mungkin bisa dibilang semi hiatus karena emang lagi sibuk sama kuliah, minta digigit unyu tuh pelajarannya, hehe *eh

makasih banget buat yang masih mampir di blog ini, kalian mampir aja saya seneng kok, cerita yang saya sediain emang seadaanya sih :’)

Terima kasih banyak semuanyaaaaa ^^;

ps: ada saran, saya masuk sastra apa linguistik? hehe, hehehehehehehehe *kabur

Advertisements