Tags

, ,

screen-shot-2012-12-04-at-3-23-06-pm

“You Made My Heart Beat, then You Beat My Heart.”

 

 

Kau mengundangku subuh ini. Hanya dengan pesan singkat yang mengatakan bahwa kau membutuhkanku. Aku datang. Ke tempatmu.

“Xing, boleh aku masuk?”

“A? Ne, masuklah.”

Kau memakai tuxedo putih, lengkap dengan dasi kupu-kupumu. Hanya saja rambutmu yang masih berantakan.

“Kau tidak keluar?”

“Belum waktunya, aku hanya ingin datang lebih awal dari semua orang.”

Kau menarik tanganku, masuk ke kamar yang pernah kita sepakati bersama. Kamar ini masih cantik, sama seperti saat aku pertama kali melihatnya.

“Termasuk keluargamu sendiri?”

“Ng.”

Senyum itu lagi. Kau menepuk-nepuk kasur —tempatmu duduk sekarang–, mengisyaratkan padaku agar aku duduk di sana, di sampingmu.

“Kau..gugup?”

“Sangat.”

Kau mengusap-usap wajahmu dengan kedua tanganmu, aku bisa merasakan gugupmu dari sini, jarak sedekat ini. Dahimu sekarang mengeluarkan sedikit keringat, dan kau beberapa kali meniup telapak tanganmu itu.

“Yixing—”

“Raena.”

Tiba-tiba kau menggenggam tanganku. Tatapan matamu menelusuri seluruh bagian wajahku, sampai akhirnya kau menatapku. Oh, jangan tatapan itu lagi, Xing.

“Aku punya hadiah untukmu, Na.”

“Hadiah?”

Siapa yang butuh hadiah, Xing. Kau merogoh saku celanamu, mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam. Kau menatapku lagi, kali ini lengkap dengan senyumanmu.

“Kalung?”

“Ne, untuk kita berdua. Berbaliklah, aku ingin memasangkannya untukmu.”

Yang benar saja, Xing. Aku mendorong tanganmu yang hampir menyentuh bahuku, berniat untuk menyuruhku berbalik agar kau bisa memasangkan kalung itu. Kau menurunkan tanganmu, kembali mendaratkannya di tanganku, kembali menggenggamnya dengan erat. Jangan, jangan ini lagi.

“Kau..belum memaafkanku?”

Yes, and I hate you to death. Oh, Xing, andaikan aku bisa mengatakan hal seperti itu padamu. But still, I thank you for this.

“Kau membuatku belajar sesuatu, bagaimana bisa aku belum memaafkanmu, Xing?”

“Tapi—”

“Ssh, sudahlah.”

Suasana menjadi canggung, kita berdua diam, dan aku kembali teringat dengan apa yang kau lakukan.

“Raena—”

“Semua orang akan mendapatkan kebahagiaannya, Xing. Kau memilih kebahagiaan lamamu, aku mengerti.”

“Na, maafkan aku..”

“Tidak. Tidak apa-apa. Kalian berdua cocok.”

Mataku tertuju pada kalung yang masih berada di tanganmu. Masih kau genggam erat.

“Terima kasih, tapi..kau harus ingat satu hal. Kau bukan pelarian—”

Tok, tok, tok

Kita berdua menoleh bersama ke arah pintu. Mendengar ketukan itu beberapa kali, dan hanya diam, tidak menjawab panggilan dari Ibumu yang sudah panik karena kau tidak menjawab dan membuka pintu kamarmu. Oh, kau mengunci pintunya tadi, Xing?

“Xing, kau harus buka pintu—”

Kau menciumku. Kau memeluk tubuhku erat. Kau memperdalam ciumanmu ketika aku tidak merespon sama sekali. Kau menelusuri leherku dengan jemarimu, sampai akhirnya aku membalas apa yang kau lakukan sekarang, yang membuatku semakin membenci diri sendiri. Lebih membencimu, bahkan.

“Aku mencintaimu, Na. Aku mencintaimu.”

“Kau akan menikah dengannya. Pergilah. Buka pintumu, biarkan ibumu masuk, kau harus bersiap-siap, Xing.”

Aku mendorongmu untuk berdiri dengan sekuat tenaga. Mengarahkanmu ke pintu dan menyuruhmu untuk membuka pintu tersebut sementara aku bersembunyi di lemari pakaian.

“Dasar anak nakal. Cepat! Pengantin wanitanya saja sudah selesai berdandan! Lihat wajahmu, ya ampun!”

Aku bisa mendengar suara pintu yang ditutup cukup kuat dari tempat gelap ini. Kau sudah pergi. Sudah saatnya aku meninggalkan tempat ini. Mungkin nanti bisa minta tolong dengan resepsionis hotel untuk memberikan kunci kamar ini padamu. Aku tidak mungkin di sini. Tempat ini…menyesakkan.

Aku membuka jendela sebelum aku pergi, saat itu juga aku baru menyadari bahwa hari sudah pagi. Cerah. Matahari saja mengejekmu, Rae.

Aku tidak berani melihat ke bawah. Ke arah kolam renang mewah yang sekarang pasti sudah ramai dengan tamu pesta pernikahan kalian. Tempat sederhana itu mungkin sudah menjadi tempat yang sangat cantik.

Saat aku berbalik, cahaya kecil dari benda di atas kasur yang bersinar karena sinar matahari menarik perhatianku. Ah, kalung tadi. Best Friend. Bagaimana bisa aku jadi temanmu kalau begini, Xing?

Aku berbaring di atas kasur…kita. Memejamkan mata untuk mengeluarkan semua apa yang kita pernah lakukan di sini. Sekaligus meninggalkan amarahku pada tempatnya.

Kamar hotel ini, tempat kita memutuskan untuk menjadikannya kamar untuk hari pertama kita kalau menjadi pengantin waktu itu. Lemari tempatku bersembunyi tadi, kita pernah mengisinya dengan baju kita waktu itu. Kasur yang menjadi tempatku berbaring sekarang ini, pernah menjadi tempat kita bersatu, atas nama cinta yang waktu itu kau katakan. Kau meyakinkanku bahwa hatimu sudah mantap, tidak akan goyah apapun yang terjadi.

I miss the times I spent with you, Xing.

Waktu dia kembali. Memohon padamu untuk mengambilnya kembali sebagai bagian dari hidupmu, mengatakan bahwa dia menyesal sudah mengkhianatimu, kau tidak berpikir dua kali. Kau mengambilnya kembali, dan menghilangkanku dari kehidupanmu. Saat itu aku tahu, kau tidak punya pendirian, Xing.

Kau bingung, tapi kau tetap membiarkannya masuk lagi kekehidupanmu. Kau bingung, tapi kau tetap mengajaknya menikah. Kau bingung, tapi kau tidak mengubris permohonanku untuk meninggalkannya, sama sekali tidak. Aku memohon waktu itu, Xing. Aku memohon seperti budak yang akan dihukum mati oleh majikannya. Aku memohon padamu agar tidak meninggalkanku. Aku memohon, dengan kepalaku yang berada di kakimu. How pathetic.

Dan beberapa jam yang lalu, kau menciumku dan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Hell, Zhang Yixing. Go there, you deserve that place. Aku menyesal sudah berbaik hati untuk menuruti permintaanmu hari ini untuk datang menemuimu kalau begini jadinya.

Bagaimana bisa kau menikahi seseorang ketika kau saja masih bingung dengan perasaanmu sendiri, Xing?

Kesadaranku kembali saat aku mendengar sorak sorai dari bawah, dari arah kolam renang. Oh, apa kalian sudah resmi menjadi suami istri sekarang? Kau pasti sudah mencium istrimu, kan? Apa caramu menciumnya sama seperti caramu padaku? Apa kau masih bingung dengan perasaanmu sekarang, Xing?

Aku berdiri, siap meninggalkan tempat ini. Sebelumnya, aku mengambil satu bagian kalung yang tadinya ingin kau pasangkan padaku. Kau ingin memasangkan bagian Best, kan? Lalu memakai bagian Friends untuk dirimu sendiri. Tidak, aku yang akan membawa bagian Friends denganku, dan meninggalkan bagian Best untukmu. Aku akan membuang bagian Friends ini. Aku tidak akan pernah bisa berpura-pura menjadi temanmu. Tapi, Walaupun kau menyakitiku sampai seperti ini, tetap saja, kau pernah menjadi bagian terbaik dari hidupku, Xing.

Tenang saja, Xing. Aku tidak akan takut untuk mencintai dan disakiti lagi. Karena tidak akan ada orang lain yang bisa menyakitiku seperti apa yang kau lakukan.

 

Because you are special to me, and you were a love that I wonโ€™t ever have again.

 

I guess this is goodbye.

 

Thankyou, Xing.

**

 

 

Cr : Lee Hi, Feat. Jennie Kim – Special

Pic was not mine, i got it form tumblr.

sorry for this terrible fic, dear T^T

sorry for not updating anything for a longlonglonglonglong time TT^TT

Saya mungkin bakal muncul dengan ff yang pendek-pendek geje kayak gini, untuk kelanjutan My Lovely Trouble Maker atau ff yang berjenis continued lainnya…saya belum tau ๐Ÿ˜ฅ

too lazy to type, too lazy to update, too lazy to life, bleh. im truly sorry ๐Ÿ˜ฅ please forgive this poorandlazy creature, ne? :”(

but…yeah, I LOVE YOU ALL! THANKYOU! :’)

Advertisements