Tags

,

tumblr_md6i6qDxhC1rdbk4fo1_500

“Hmm..”

Udara pagi..atau mungkin harus aku sebut udara subuh hari ini, sangat menyenangkan. Sangat, sangat, sangat menyenangkan. Setidaknya aku tidak menyesal sama sekali sudah bangun sangat pagi hari ini, atau mungkin bisa dibilang aku tidak bisa tidur dari semalam karena terlalu gugup untuk menghadapi hari ini.

Aku sering ke pantai ini, dari dulu sampai sekarang. Entah itu hanya sekedar bermain dengan anak-anak sekitar atau hanya memandangi apa yang bisa aku pandang.

Hari ini aku sendirian ke sini. Ibu sedang tidak enak badan dan sebenarnya tidak mengizinkanku untuk pergi hari ini, tapi Ibu mana yang bisa tahan dengan aegyoย gadis sepertiku? Hehe. Kecuali satu orang, sih.

Hari ini, aku membawa handuk kering di tangan kananku, dan baju hangat di tangan kiriku. Aku siap untuk menyambutnya—ups! Apa aku menyebutkan nama seseorang tadi? Tidak, kan? Ah, aku malu~

“Pagi, Raena!”

“Eonni! Pagii!”

Aaah, salam ramah ini lagi. Indah sekali hidup di sini.

“Selamat pagi, Nyonya Kim.”

Aku langsung menghampiri salah satu bibi penjual ikan yang sepertinya baru saja selesai mengambil ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan tadi malam. Ah! Itu tandanya dia sudah pulang!

“Bibi Seo, jangan panggil aku Nyonya Kim~ aku tidak suka! Ne?” Bibi Seo hanya mengangguk canggung padaku, ketika aku berniat untuk membantunya membawa keranjang ikan, dia menjauh.

“Jangan, Raena~ nanti bau tubuhmu amis, tanganmu juga akan lecet kalau membawa keranjang ini~ kau ingin bertemu dengannya, kan? Jangan rusak penampilanmu hari ini, gadis manis~”

Aku hanya tersenyum tidak enak pada Bibi Seo, aih sepertinya semua orang di sekitar pantai ini tau kalau aku ke sini untuk menemuinya.

Aku membungkuk sekilas dan mengucapkan salam perpisahan karena Bibi Seo sudah harus mengumpulkan ikan-ikannya di mobil, untuk langsung dibawa ke Seoul, katanya.

“Ck, kenapa kau ke sini lagi, he?” suara ini!

“Chanyeol!” tepat dugaanku, saat aku berbalik aku langsung mendapati pemandangan dari laut terindah dalam hidupku. Park Chanyeol. Salah satu awak kapal ikan kesayangan Ayah.

“A! Lepas! Uhuk! Aku tidak bisa bernafas! Badanku juga masih bau!” biar saja, aku ingin memeluknya, siapa suruh jadi laki-laki yang menarik perhatianku? Tapi…uh, kenapa tubuhnya harus tinggi sekali?!

“Raena!” Chanyeol mendorong tubuhku menjauh darinya. Dia mencengkram erat kedua bahuku dan menyenyajarkan pandangan matanya denganku. Ck, apa dia akan menolakku lagi? Harus berapa kali lagi keberadaanku ditolak mentah-mentah olehnya?

“Maaf.” Dia melepaskan cengkraman tangannya dari bahuku, sembari kembali menegakkan tubuhnya dan bersiap pergi.

“Chanyeol..” aku mengikutinya dari belakang, langkahnya yang lebar itu cukup membuatku harus mempercepat jalanku. Dia terus berjalan, tidak peduli denganku yang sudah capek mengikuti langkah lebarnya. Jangan menyerah, Raena! Suatu saat, dia pasti akan jatuh cinta padamu!

“Berhenti.”

“Chanyeol—”

“Berhenti..mengejarku seperti anak kucing yang hilang. Mengerti?” Chanyeol tetap tidak membalikkan tubuhnya untuk melihatku. Dia hanya berhenti berjalan, membiarkanku untuk mendekati tubuhnya dan mendengar apa yang dia katakan.

“Tidak mengerti, maaf.”

“Ck.” Aku menunduk dan spontan mundur beberapa langkah saat dia tiba-tiba berbalik. Sentuhan dingin tangannya yang masih agak basah itu terasa aneh ketika menyentuh pipiku, menyuruhku untuk mendongak dan menatap matanya yang sudah aku anggap sebagai samudra terluas di dunia, penuh misteri dan butuh waktu lama untuk memahaminya. Pasifik kalah saing dengan keindahan matanya.

“Aku tidak akan menerima pernyataan cintamu, atau ajakanmu untuk kencan atau apapun itu. Kau sudah melakukan kesalahan.”

“Aku..salah?”

“Banyak, salahmu banyak.”

“Aku..aku tidak mengerti, Yeol.”

“Kau itu gadis bodoh, makanya tidak mengerti.”

Ck, aku tidak suka dibilang gadis bodoh. Ayah selalu bilang kalau aku ini gadis pintar setelah aku menyelesaikan tugas mendesain bentuk kapal baru sesuai dengan keinginannya!

“Aku tidak bodoh!”

“Lalu apa?”

Ck, memang sulit berbicara dengan makhluk terumbu karang sepertinya, yang dia tahu hanya ikan, ikan, ikan, dan ikan saja. Apa aku harus berubah menjadi ikan duyung agar dia suka padaku? Tunggu, ikan duyung kan..ehem, jelek. Tidak, aku tidak mau jadi ikan duyung.

“Jawab. Lalu apa kalau kau tidak bodoh?”

“Iya! Aku bodoh! Menyukai manusia umpan hiu dan piranha sepertimu memang tindakan bodoh! Aaaa! Aku pulang! Hu!” Aku segera berbalik dan berlari menjauh darinya. Tidak lupa melemparkan handuk kering dan baju hangat yang aku bawa tadi ke mukanya yang…uh, sial, aku masih menyukainya.

“Apa? Hei! Aku bilang aku apa?! Berhenti!” aku mempercepat lariku dan aku rasa hal itu percuma saja. Kakinya lebih panjang dari kakiku dan dia itu adalah seorang laki-laki, hidup di pantai dan laut, berwajah manis tapi memiliki suara sadis, dan tidak usah diragukan lagi kalau tubuhnya sangat, sangat, saaaaangat—

“Aw!”

“Bodoh! Aku bilang juga apa!” dia membantuku berdiri. Batu sialan! Huhuhu aku tidak mau melihat mukanya lagiiiii!

“Jangan manja, berdiri.”

“Tidak mau.” Aku mengusap-usap pergelangan kakiku yang sekarang rasanya sakit sekali, lebih sakit daripada ditindih oleh ikan pedang yang pernah berhasil Ayah tangkap dulu.

Chanyeol berjongkok di hadapanku. Ck, aku tau bagaimana raut mukanya sekarang, dia pasti sedang mengejekku sekarang. Jangan menangis, kau bukan gadis manja lagi!

“Kau panggil aku apa tadi?”

“Umpan ikan hiu.”

“Kurang~”

“Ck, umpan ikan hiu dan piranha.” aku bisa mendengar tawanya, aku bisa membayangkan bagaimana hidungnya yang berkerut ketika dia tertawa seperti ini, walaupun aneh..aku suka.

“Itu kau tau.”

“Eh?”

Aku menatap matanya, bingung dengan apa maksudnya mengatakan itu. Chanyeol hanya tersenyum, senyum pertama yang aku dapatkan darinya setelah sekian lama mengejarnya seperti..ya, mungkin dia benar, seperti anak kucing hilang. Tangan Chanyeol terhenti ketika dia hendak menyentuh pipiku, mengepalkan tangannya dan menaruhnya kembali di atas pasir. Sekarang jari-jarinya melukiskan garis-garis abstrak di sana, entah apa yang dia pikirkan sekarang.

“Aku tidak akan menyentuhmu, aku…tadi itu, aku minta maaf.”

“Kenapa? Kau hanya menyentuh pipiku, kau tidak melukaiku, Yeol.”

“Aku ini nelayan. Tanganku kasar, penuh luka, dan—”

“Aku tidak peduli.” Chanyeol menatapku dengan tatapan aku-tidak-percaya-padamu andalannya ketika kami masih kecil dulu. Ih, aku saja masih ingat hal sedetil itu tentangnya.

“Kau tidak takut dengan tanganku?” Chanyeol mengibas-ngibaskan kedua tangannya di hadapanku, seakan-akan aku ini buta dan tidak bisa melihat dengan jelas semua luka yang disebabkan oleh tali pancing atau jala atau benda kapan lainnya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, dan Chanyeol hanya menghela nafasnya.

“Ayahmu pembuat kapal, kapten kapal, pemimpin—”

“Aku tau aku tau aku tau~ Dia ayahku, mana mungkin aku tidak tau apa saja pekerjaannya?”

“Bukan itu maksudku~”

“Lalu?” Chanyeol diam lagi. Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami. Aku yang menunggunya berbicara, dan dia yang seperti ragu untuk mengatakan apa yang sekarang ada di pikirannya. Kalau saja ubur-ubur bening bisa menjadi alat untuk menembus isi kepalanya, mungkin aku sudah menangkap ubur-ubur itu banyak-banyak. Eh, tapi tunggu, ubur-ubur itu menggelikan, mereka kecil dan..menggelikan, pokoknya menggelikan.

“Aku..ng.. bau amis.”

“Ng..memang. Lalu?”

“Aaaa! Kau membuatku frustasi! Aku mencoba mengatakan sesuatu padamu, bodoh!” Chanyeol mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan itu dan berteriak tidak jelas sambil terus mengatakan bahwa aku bodoh. Oh, sepertinya dia menemukan kesenangan tersendiri dengan menyebutku bodoh, begitu? Dasar umpan jelek!

Selesai dengan kegiatan anehnya, Chanyeol kembali menatapku, kali ini tatapan kesal yang sangat jelas terpampang dari raut wajahnya. Apa? Daritadi aku hanya mendengarkannya berbicara dan tidak melakukan apapun!

“Kau! Kau..itu..tidak..ais! Kita ini tidak bisa bersama! Aku hanya bawahan Ayahmu! Aku bau amis! Kau bau–ah, salah, kau wangi melon! Kurang mengerti apa lagi?!”

“Yeol, kau tidak apa-apa?”

“Aaaaa! Jangan bersikap baik padaku!” Chanyeol memanyunkan bibirnya, persis saat kami masih kecil dulu, saat aku mengambil layang-layang miliknya dan tidak sengaja menerbangkan layang-layang itu ke langit, di bawa angin. Sebagai gantinya, aku mengajaknya bermain boneka, tapi dia tetap saja cemberut. Padahal boneka itu mahal, dan semua anak gadis di desa waktu itu sangat ingin bermain denganku.

Aku menggeser dudukku lebih mendekat padanya, harus bergeser perlahan karena kakiku masih sakit. Tidak peduli dengan bajuku yang kotor terkena pasir, yang jelas aku ingin dekat dengan umpan hiu dan piranha yang mengaku amis ini.

“R-Raena! Ya! Sudah aku bilang jangan memelukku!” dan sekali lagi, dia mendorongku. Kali ini, aku tidak sedih karena didorong menjauh olehnya. Aku mengendus-endus lengan dan bajuku, aku tidak pernah sesenang ini dengan wangi…atau bau tubuhku yang seperti ini.

“Apa yang kau lakukan?”

Jjang! Sekarang aku juga bau amis! Yey!” Aku mengepalkan tanganku ke atas dan bersorak kegirangan. Yey! Sekarang bauku sama dengan Chanyeol! Tidak ada alasan dia menjauhiku lagi, kan? Hehehe.

“Kau aneh.” Aku berhenti bersorak dan menatap Chanyeol yang sekarang sudah tersenyum lagi. Kali ini senyumannya ikut disponsori oleh pelukan. Dia yang memelukku kali ini, bukan aku.

“Kau aneh, kau bodoh, kau keras kepala. Ayahmu akan membunuhku kalau tau anak gadisnya bau amis seperti para bawahannya.”

Aku menggelengkan kepalaku, sambil mengeratkan pelukan dan menikmati aroma baru yang menjadi favoritku.

“Ayah tau tentangmu, Ayah tau tentang keluargamu. Kita ini sudah berteman sejak kecil, umpan~”

“Ngng~”

Aku memejamkan mataku. Membiarkan hangatnya sinar matahari yang mulai terbit. Pagi sudah tiba, dan hangatnya sampai ke hatiku, lewat Chanyeol.

“Umpan~”

“Oppa, yang benar itu Chanyeol oppa, bukan Chanyeol umpan hiu. Apa?”

“Hehe, oppa~”

“Ng?”

“Kau menyukaiku, kan?”

“Ha! Percaya diri sekali kau.”

“Kenyataannya begitu~ Tuh, telingamu merah, umpan~”

“Cih, coba buatkan aku Ikan Hiu goreng tepung dengan saus pedas ala restoran di Seoul, baru aku menyukaimu.”

“Benar? Oke!”

Setidaknya kesempatanku untuk membuatnya jatuh cinta padaku terbuka luas! Entah itu hanya seluas rumahnya atau seluas samudra yang pernah dia arungi bersama Ayah, aku tidak peduli. Selama samudra di matanya masih bersedia aku selami, selama itu pula kesempatanku bersamanya akan terus ada, dan terus ada sampai dia menyuruhku untuk tetap tinggal di pelabuhannya, sampai air di samudra itu mengering, hilang ditelan perut bumi.

Atau perumpamaan lain, ikan. Tidak aku izinkan ikan manapun merusak ekosistem samudranya, mencuri perhatian air lautnya, hanya aku satu-satunya ikan yang akan menjadi penghuni samudra itu, karena aku menginginkannya begitu. Uh, apa yang aku pikirkan? Menjadi ikan? Ya ampun.

Aku yakin, satu-satunya gadis yang suka bau amis di sini hanya aku. Pengecualian, bau amis itu harus dari tubuh Chanyeol, bukan yang lain, hehe.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Yeol~”

“Ng?”

“Kau ingin Hiu, kan?”

“Iya, kenapa?”

“Kau jadi umpannya, mau?”

“Tidak, terima kasih. Tidak perlu Hiu, aku sudah menyukaimu, puas? Jangan jadikan aku umpan, aku mohon.”

“Ihihi, bodoh.”

“Itu kau.”

“Ngng, si amis bodoh. Amis bodoh suka umpan hiu bodoh, amis amis amis amis—”

“Raena.”

“Oke, aku berhenti bicara. Ah! Menurutmu aku ini cocok jadi ikan jenis apa?”

“Ikan badut.”

“Ck.”

“Aku suka ikan badut, bodoh.”

~THE END~

Pic was not mine, i got it from Tumblr~

๐Ÿ™‚

Advertisements