Tags

, ,

Title : My Lovely Trouble Maker [MLTM]

Author : KimRae

Genre : romance, dan…yah, mungkin fantasy juga masuk *eh

Main Cast : Kyuhyun,  masih S115M2 XD

Other Cast : Changmin, beberapa OC ^^

* * * * *

Gadis itu masih di atas kasurku, hanya saja posisinya yang aku rubah menjadi posisi orang tertidur, tidak tertelungkup lagi. Benda yang tadi muncul dari dalam lehernya tadi sudah kembali masuk secara otomatis, mungkin karena tidak disentuh selama beberapa jam…ya, aku mendiamkannya selama sekitar..entahlah, mungkin dua jam. Hei, aku masih harus mengerti apa yang dilihat oleh mataku, dan harus dicerna oleh otakku!

Aku memutuskan untuk membaringkannya secara normal karena tidak tega melihatnya seperti orang mati, sekalian untuk memerhatikan bentuknya.

Gadis ini terlihat umum, maksudku, bentuknya sama dengan manusia yang berjenis kelamin perempuan lainnya. Rambut coklat panjang sampai siku tangannya, jumlah jari tangan dan kaki ada dua puluh, dan hal yang dimiliki manusia normal lainnya…a! Tambahan, dia…ehm, cantik.

Satu hal yang aku tidak percaya dari gadis ini. Apa dia benar robot? Atau mataku saja yang salah melihat tadi? Tapi bagaimana bisa dia masuk kamarku? Aku bingung begini karena hal sepele, hal yang akan jadi wajar kalau gadis ini adalah manusia. Bagaimana tubuh seorang robot…hangat?

Untuk memastikannya sekali lagi, aku menggenggam tangannya lalu menggenggam tanganku sendiri. Suhu tubuh kami sama walaupun ini sudah mendekati musim dingin. Hangat.

“Ais, apa yang harus aku lakukan sekarang?” aku masih memerhatikannya, belum berniat untuk melakukan permintaannya tadi untuk memutarkan sekrupnya. Aku masih takut kalau pada kenyataannya gadis ini bukan robot biasa. Ada kemungkinan dia robot penghancur dengan wajah cantik sebagai alat penipu agar tidak dicurigai. Bisa jadi dia robot yang jahat dan akan menghancurkan rumahku ketika dia dinyalakan.

Aku menyampirkan rambut yang menutupi leher bagian kanannya. Titik yang berwarna merah tadi sudah berubah menjadi tahi lalat biasa, tidak berkedip-kedip seperti tadi. Sengaja aku menempelkan telapak tanganku di lehernya, masih sama juga, hangat.

Mengingat kemunculannya yang tiba-tiba seperti ini, aku jadi ingat dengan penjelasan Profesor Kang tadi pagi. Apa benar ada hubungannya dengan gempa tadi? Kalau dipikir-pikir, belum ada perusahaan pembuat robot sampai sesempurna ini. Kebanyakan robot yang sudah ada tidak memiliki rambut selembut ini, robot umum juga tidak memiliki gerakan memberontak seluwes tadi, mereka juga…tidak bisa tersenyum seindah tadi. Nah, aku bingung sendiri.

“Apa aku harus menghubungi Changmin? Ah, tidak. Jangan sekarang.” bisa gawat kalau Changmin melihat ada gadis di rumahku —kamar lebih tepatnya— mengingat otak mesumnya itu bisa aktif kapan saja. Ditambah lagi gadis ini memakai pakaian berwarna silver ketat dan itu menambah daftar gawat kalau Changmin melihatnya.

Aku mendekati gadis robot itu lebih dekat, menarik tubuhnya mendekat padaku dan dengan sedikit ragu-ragu aku menyandarkan kepalanya di bahu sebelah kiriku. Jangan berpikir yang macam-macam, aku hanya tidak ingin dia oleng dan kembali jatuh.

Sudah aku putuskan, aku akan coba menyalakannya.

Ng..bagaimana aku menjelaskannya, ya? Baru kali ini aku berdekatan dengan seorang gadis, jadi tanganku tidak telaten dalam hal semi memeluk seperti ini, canggung. Apalagi ketika wangi melon yang berasa dari rambutnya masuk hidungku. Ck, kau membuatku tertarik, robot cantik.

Aku menyampirkan rambutnya, kembali melihat tahi lalat tadi dan mengumpulkan keberanian kalau nanti lehernya kembali terbelah dua. Hal menakjubkan sekaligus menyeramkan.

Benda berbentuk baling-baling langsung keluar setelah aku menekan tahi lalat yang merupakan tombol pembukanya. Tadi gadis ini menyebutnya sekrup, dan aku harus memutar sekrup ini agar dia kembali menyala. Harus berapa kali aku memutarnya? Sedikit saja atau banyak-banyak?

“Ais, merepotkan.” entah berapa kali aku memutar sekrup gadis ini, yang jelas lebih dari sepuluh kali sepertinya. Aku memerhatikan jam dindingku, pukul sembilan tepat. Nah, berapa lama kau akan bertahan kalau diputar lebih dari sepuluh kali.

Sekrup tadi kembali masuk setelah aku selesai memutarnya, dan kulit leher gadis ini kembali mulus tanpa cacat sedikitpun. Teknologi hebat, bahkan kulitnya saja bisa selembut ini, persis manusia.

Tidak ada respon. Dia tetap tertidur dan tidak bergerak sama sekali. Aku sudah melakukannya dengan benar, hanya memutar sekrup bukanlah hal yang sulit untukku, apa ada yang kurang?

“Kenapa belum aktif?” aku kembali membaringkannya dan berdiri di samping kasurku. Memerhatikannya lagi kalau saja ada tanda-tanda dia akan menyala, tapi tidak ada sama sekali. Dia masih tidak bergerak dan matanya masih tertutup rapat.

Aku menyenggol kepalanya beberapa kali, mungkin bisa membangunkannya?

“Hei.”

..

..

“Oi.”

..

..

“Bangun.”

Masih tidak ada respon. Ya! Robot macam apa dia ini?! Ck, robot ru—

“Ng…masih mau tiduuuuur..”

Apa katanya?

“Sebentar lagi..” dan dia memeluk guling milikku lalu berguling-guling seperti berada di kasurnya sendiri. Mungkin hanya Changmin yang tahu hal ini, hal bahwa aku tidak suka ada orang lain yang menguasai kasurku. Oke, mungkin ketika dia tidak menyala tadi aku masih bisa memberikan kelonggaran, tapi kalau sudah menyala seperti ini…tidak ada toleransi.

“Ya! Bangun!” aku menendang kasurku kuat, menyebabkan gadis robot itu terlonjak kaget dan langsung duduk. Melihatku dengan tatapan inosen sambil tetap memeluk guling milikku. Ck, kenapa dia harus cantik?!

“Kau..yang menyalakanku tadi?” aku hanya mengangguk dan berdiri agak jauh dari kasurku. Senyumnya kembali muncul setelah melihat anggukanku tadi.

“Kau siapa?”

“Bukannya aku yang harus bertanya seperti itu?” gadis aneh. Makin aneh karena justru senyumnya tambah lebar, membuat matanya berbentuk seperti lengkungan bulat sabit…tunggu, sejak kapan aku memerhatikan orang sedetail ini?

“Maaf. Ng..aku..sebentar, kau melihat ayahku?”

“Ayah?”

“Iya. Ayah. Memakai kacamata, jas putih, dan memiliki lencana bintang di saku kirinya.” dia kelihatan sangat bersemangat ketika menjelaskan seperti apa bentuk ayahnya. Robot juga bisa punya ayah?

Dia berdiri menghampiriku yang tidak menjawabnya sama sekali. Menelitiku dari ujung kaki sampai kepala, sampai akhirnya mata kami bertemu. Aku baru tahu tingginya sekarang, sebatas daguku. Mau apa dia?

Secara spontan dia langsung menarik leherku mendekati bahunya, lumayan membuat leherku sakit karena dilakukan secara tiba-tiba. Tidak hanya sampai disitu, dia menekan-nekankan jarinya disekujur leherku dan itu cukup membuatku kegelian dan risih. Berani sekali dia melakukan ini padaku!

“Kau tidak sama sepertiku—a!” Aku mendorongnya menjauh, agak kuat sampai dia jatuh terduduk di lantai kamarku. Salah satu penyebab tidak begitu banyak gadis yang mendekatiku, aku kasar pada mereka.

Wajahnya berubah murung, lalu menunduk sambil memeluk kedua kakinya. Dia tidak melakukan apa-apa lagi, hanya diam dan tidak ‘menyerang’ku seperti tadi. Apa aku terlalu kasar? Aku rasa tidak, hal yang wajar dilakukan kalau ada orang yang menyerangmu begitu, kan?

Entah apa yang sedang dipikirkannya —kalau dia bisa berpikir— sekarang, tingkahnya aneh dan aku juga tidak mengerti apa yang dia bicarakan. A! Aku belum tahu dia berasal dari mana!

Aku mendekatinya, duduk di samping kanannya walau masih dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Dia sempat menoleh ke arahku tapi kembali menunduk saat dia tahu kalau aku memerhatikannya.

“Boleh aku tahu asalmu?”

Dia tidak menjawab, hanya menyodorkan tangan kanannya padaku sambil tetap diam. Aku memerhatikan tangannya, tidak ada yang aneh sama sekali.

“Usap telunjukku, ada di sana.”

“Telunjuk?”

“Ngng~~ lakukan saja.” eis dia memberiku perintah. Untung saja aku dalam keadaan penasaran. Kalau tidak, sudah aku cekik dia.

Aku mulai mengusap-usap telunjuknya..dan yah, aku kembali tercengang. Muncul tulisan kecil dari balik telunjuknya dan semakin lama semakin jelas. Tulisan tersebut bersinar terang dan lama kelamaan sebuah monitor transparan keluar dari dalam telunjuknya.

“S115M2. Korean. 19 Years Old. National Corporation, Seoul….2070?” aku kembali mengulang membaca bagian tahun. Memastikan bahwa mataku tidak salah baca antara angka satu dan tujuh. Sialnya, itu benar angka tujuh.

Monitor itu langsung hilang dan kulit telunjuk gadis ini kembali seperti semula. Dia langsung menarik tangannya dan kembali memeluk kedua kakinya dengan erat. Aku langsung berdiri dan keluar dari kamar. Ini tidak mungkin.

Profesor Kang, kau benar.

*Kyuhyun’s Pov, end

* * * * *

*Author’s Pov

Paman Cha baru kembali dari toko alat pancing miliknya yang berada di luar komplek perumahan tempat tinggalnya. Laki-laki paruh baya itu baru saja ingin membuka pagarnya saat dia melihat Kyuhyun keluar dari rumah terburu-buru.

“Kyuhyun-a! Kau sudah pulang kuliah?” Kyuhyun berhenti sejenak untuk melihat siapa yang memanggilnya tadi. Dia tidak langsung mengampiri Paman Cha, melainkan melamun sebentar dan itu membuat Paman Cha berinisiatif untuk mendekatinya.

“Ada apa, nak?” Paman Cha menepuk pundak Kyuhyun, membuat laki-laki itu sedikit terlonjak kaget tapi cepat-cepat tersenyum pada laki-laki yang menjadi tetangga kesayangannya itu.

“Tidak, paman.”

“Kau melamun. Apa ada masalah? Ceritakan pada paman.” Kyuhyun menatap Paman Cha sebentar. Sedikit ragu untuk menceritakan kalau ada ‘benda’ dari masa depan di dalam rumahnya.

Tujuan Kyuhyun untuk keluar rumah justru ingin pergi mencari Profesor Kang, sekedar menanyakan lebih lanjut tentang ceritanya tadi tanpa berniat kalau apa yang Profesor Kang ceritakan itu benar. Gengsi.

“Hanya sedikit capek dengan kuliah, paman, hehe. Aku pergi dulu, titip rumahku ya paman. Annyeong.” Paman Cha hanya melongo saat Kyuhyun langsung pergi sambil berlarian menuju halte.

Satu hal yang Paman Cha ingat, terakhir kali Kyuhyun mengatakan ‘titip rumahku’ adalah saat Kyuhyun lupa mematikan kompor otomatis di dapurnya, sehingga menimbulkan bunyi ledakan besar.

Untung untuk Paman Cha, laki-laki tua itu memiliki kunci cadangan rumah Kyuhyun yang diberikan oleh orang tua laki-laki muda itu. Orang tua Kyuhyun tahu kalau Paman Cha adalah satu-satunya orang yang bisa memahami sifat anak mereka yang antisosial tersebut.

Kyuhyun sudah tidak terlihat lagi oleh mata Paman Cha, membuat laki-laki paruh baya itu hanya menghela nafas dan berharap kali ini Kyuhyun tidak meninggalkan masalah di rumahnya.

Paman Cha kembali berbalik dan membuka pagar rumahnya setelah tadi sempat tertunda.

“BOOM!!”

Terkejut, Paman Cha menoleh cepat ke belakang dan menggelengkan kepalanya. Suara ledakan itu berasal dari rumah Kyuhyun dan Paman Cha tidak mau ambil resiko untuk tetap berlama-lama berdiam diri.

“Ya ampun, anak itu.” Paman Cha cepat-cepat mengambil kunci cadangan rumah Kyuhyun yang kebetulan selalu dia bawa yang ada dalam saku celananya. Paman Cha berlarian menuju rumah Kyuhyun, berharap tidak ada benda yang terbakar. Untung buat Kyuhyun hari ini, setidaknya komplek perumahan mereka sedang sepi dan tidak ada yang mendengar ledakan tadi. Kalaupun ada, Paman Cha tidak tahu bagaimana harus membela Kyuhyun –lagi– kali ini. Kyuhyun bisa terancam diusir oleh warga lain kalau begini terus.

Setelah berhasil masuk, Paman Cha langsung memerhatikan seluruh ruangan yang ada di rumah Kyuhyun, tidak termasuk kamarnya karena Kyuhyun pecinta privasi tingkat tinggi. Kyuhyun sempat kesal setengah mati dengan orangtuanya yang menyerahkan kunci cadangan rumah begitu saja dengan Paman Cha, walau pada akhirnya dia harus mengakui bahwa Paman Cha orang yang bisa diandalkan.

“Semuanya aman…berarti dapur. Oh, jangan dapurmu lagi, Kyuhyun-aaa.” Paman Cha langsung berlarian menuju dapur. Mendapati satu-satunya alat hasil kreasi Kyuhyun –yang menurut laki-laki muda itu berhasil berfungsi dengan baik– sedang mengepulkan asap tebal berwarna hitam. Mungkin penyebabnya sama, aliran listrik yang tidak stabil pada alat itu.

Ngiiiiiiiing!

“Aigooo~~ Aku terlambat~~” Paman Cha menepuk keningnya kuat, alasannya? karena alat pendeteksi kebakaran yang ada di dapur Kyuhyun telah menyala. Membuat seluruh ruangan di rumah Kyuhyun dihujani oleh air.

Paman Cha segera menutupi tubuhnya dengan jaket parasut yang dia kebetulan dia pakai. Memutuskan untuk mulai mencari tombol penghenti ‘hujan lokal’ yang sedang terjadi.

“Harus cepat ditemukan sebelum semua benda di rumah ini basah kuyup….nah! Ini dia!”

“Hatchi!”

“Eh?” Paman Cha yang baru saja menekan tombol penghenti darurat itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur, dan mendapati seorang gadis yang sedang mengusap-usap hidungnya cepat sambil berjongkok di sebelah kulkas.

Aigooo, pantas saja dia jarang mengundangku ke rumahnya, menyimpan gadis, eh? pikir Paman Cha.

Hujan dadakan tadi telah berhenti, Paman Cha menghampiri gadis yang tadi dilihatnya dan langsung berjongkok ketika sudah berada di dekat gadis itu.

Gadis tadi mendongak, menatap Paman Cha yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum. Mau tidak mau, karena tugasnya memang banyak tersenyum, gadis itu juga ikut tersenyum. Perasaannya mengatakan bahwa laki-laki tua di hadapannya sekarang tidak berbahaya.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Paman Cha, tetap di posisi tadi. Gadis itu hanya menggaruk kepalanya pelan sambil menunduk, sedikit malu untuk mengatakan kenapa dia bisa di dapur ini.

“Aku…lapar, tapi benda itu sangat aneh. Waktu aku mau menyalakannya, dia malah meledak. Aku…takut…” gadis itu menggambar garis-garis fiksi di lantai dapur menggunakan telunjuknya. Paman Cha hanya tersenyum, ditambah lagi pipi gadis itu yang merona yang Paman Cha tebak karena malu.

Paman Cha menepuk kepala gadis itu pelan, membuat gadis tadi tersenyum lebih lebar dan merasa nyaman dengan kehadiran orang tua itu. Rambut basah si gadis membuat Paman Cha tersadar kalau dia harus cepat-cepat membawa gadis itu ke tempat kering, agar tidak masuk angin, tapi…di mana pakaiannya? Sedari tadi Paman Cha perhatikan, gadis ini memakai pakaian yang aneh, seperti pakaian robot-robot yang sering dia tonton di televisi.

Paman Cha ingat kalau kemarin dia baru saja mendapatkan selebaran tentang jasa pembersih rumah yang sedang mengadakan diskon, dan kemarin juga dia membeli banyak daging sapi karena kupon belanja yang dia miliki sudah hampir habis masa berlakunya.

“Mau ikut paman? Di rumah paman ada baaaanyak makanan. Rumah paman ada di depan.” Paman Cha berdiri, mengulurkan tangannya dan langsung disambut senang oleh gadis itu. Paman Cha langsung menggandeng tangan gadis itu sambil tersenyum, teringat dengan anak gadisnya dulu yang sekarang sudah menikah dan tinggal di tempat lain.

“Paman akan masak yang banyak untukmu, agar tidak masuk angin.” gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya semangat, membuat Paman Cha semakin senang dengan kehadirannya dan berniat untuk mengajaknya dan Kyuhyun untuk jalan-jalan bersama. Mereka pasangan kekasih, kan? Pikir Paman Cha.

Oh, tugas Paman Cha selain memberi gadis ini makan dan baju ganti, yaitu menelepon jasa pembersih rumah.

*Author’s Pov, end

* * * * *

*Kyuhyun’s Pov

Susah-susah aku ke rumah Profesor Kang, apa yang aku dapat? Tidak ada! Aku terus mencoba untuk bertanya baik-baik padanya tapi dia hanya tersenyum dan menyuruhku untuk berpikir sendiri! Dia pikir aku akan memohon-mohon padanya? Begitu? Cih, jangan harap. Aku akan menemukan jawabannya sendiri nanti.

Aku mendongak sedikit untuk mengetahui apakah letak halte yang berada di depan komplek rumahku masih jauh atau tidak. Tadi, setelah menghabiskan waktu tidak tentu di rumah Profesor Kang, aku mampir ke minimarket terdekat di sana, ingat dengan makananku yang sudah hampir habis di kulkas.

Aku kembali teringat dengan S11….ah, aku lupa, pokoknya aku kembali teringat dengan gadis itu. Kalau benar dia dari masa depan dan terdampar ke tahun ini karena gempa, bagaimana aku bisa mengembalikannya?

Dia milik perusahaan negara, sudah pasti keberadaannya sangat penting. Kalau gempa yang membawanya ke sini, apa gempa juga yang bisa membuatnya kembali? Tapi lorong waktu belum tentu muncul lagi, kan? Dari sedikit petunjuk yang Progesor Kang berikan —setelah aku paksa sedikit— tadi, lorong waktu tidak akan selalu muncul waktu gempa, kalaupun muncul…belum tentu di sini lagi, kan?

Selain masalah bagaimana cara mengembalikannya, cara untuk mengurusinya juga menjadi pikiranku. Dia perlu diberi makan atau tidak, dia perlu tidur atau tidak, tujuan diciptakannya untuk apa….ck, sejak kapan aku peduli dengan orang lain?! Tunggu, dia bukan orang, tapi dia seperti orang, tapi…ah! Masa bodoh!

Aku langsung berdiri dan bersiap untuk turun saat halte tempatku turun sudah terlihat. Tidak lupa dengan barang belanjaanku tadi, bisa mati kelaparan aku nanti malam.

Aku segera turun dan berjalan sedikit cepat karena sudah tidak sabar ingin bertemu komputerku, file penelitianku, dan kasurku. Ck, musim dingin memang membawa pengaruh buruk pada semangat kerjaku.

Saat berjalan cepat, aku melihat ada mobil semacam truk warna-warni melintas keluar komplek. Ada tulisan ‘Kami datang, Anda senang’ di salah satu bagian badan mobil itu. Ck, ada-ada saja. Apa orang-orang akan sesenang itu kalau rumah mereka dibersihkan oleh orang lain? Semakin banyak pengguna jasa aneh jaman sekarang.

Semakin dekat dengan rumahku, aku bisa melihat Paman Cha yang baru saja mengunci pintuku dengan kunci cadangan yang dia miliki. Di sampingnya ada seorang gadis yang mengenakan piyama pororo berwarna biru. Agak sedikit longgar karena piyama itu terlihat lebih besar dari ukurannya. Siapa? Anak Paman Cha? Seingatku anaknya sudah menikah dan pindah dari sini, dan satu hal lagi, anak Paman Cha itu sedikit gemuk.

Tunggu, aku seperti mengenal rambut coklat panjang itu.

“Oh, Kyuhyun-a?” Paman Cha menoleh saat aku berada di sampingnya, begitu juga dengan gadis yang aku perhatikan tadi yang ternyata…robot aneh itu. Paman Cha tersenyum padaku saat mataku tetap tertuju pada robot aneh itu, daritadi dia hanya menunduk dan bersembunyi di balik tubuh Paman Cha yang tidak terlalu tinggi. Kenapa dia seperti ketakutan melihatku?

“Paman, ada apa? Kenapa…dia bisa bersama paman?” aku menunjuk gadis itu yang membuatnya tambah bersembunyi di balik tubuh Paman Cha. Kenapa dia?

“Oh, tidak ada apa-apa. Ah, tadi kau pasti lupa mematikan aliran listrik di kompor otomatismu, kan?”

“Apa?”

“Iyaaa~~ ckckck, sudah paman ingatkan berapa kali kalau sebelum pergi—”

“Apa yang terjadi?” aku sudah mematikan seluruh keadaan rumahku aman tadi pagi sebelum berangkat kuliah, waktu sampai di rumah juga aku langsung dikejutkan oleh penampakan robot aneh ini di kamarku, aku bahkan tidak menyentuh komporku sama sekali. Pasti ada yang tidak beres, dan pelakunya pasti robot aneh itu.

“Aah, seperti biasa~ masalah dengan kompormu lagi, tapi kali ini…” sedikit ragu-ragu Paman Cha menatapku, lalu memerhatikan robot aneh itu yang masih bersembunyi di balik tubuhnya.

“Kompor otomatismu meledak lebih parah dari kemarin, dan paman terlambat masuk rumahmu jadi alat pemadam otomatis rumahmu menyala dan hujan buatan langsung muncul, tapi jangan khawatir karena—hei! Dengarkan penjelasan paman dulu!”

Aku langsung membanting pintu masukku dan tidak melepaskan genggaman tanganku pada gadis, ralat, robot aneh ini. Aku langsung mengunci pintu saat Paman Cha masih berteriak dari luar agar aku mendengarkannya terlebih dahulu. Maaf, paman.

Ck, harusnya aku tahu kalau meninggalkan benda ini di rumahku akan sangat besar resikonya. Aku menyeretnya ke dapur, dan mendapati kompor otomatisku yang sudah tidak bernyawa lagi, terlihat dari bekas gosong diseluruh bagiannya.

“Kau apakan komporku?!” dia hanya menunduk dan memainkan ujung piyamanya. Kompor otomatis milikku itu adalah benda pertama yang berhasil aku ciptakan secara benar dan berjalan dengan lancar! Hasil kerja kerasku memutar otak! Dan dia menghancurkannya!

“Ma-maaf… aku la—”

“Kau tahu berapa lama aku membuatnya?!” aku mengepalkan tanganku, menahan emosiku agar tidak semuanya tumpah. Bisa gawat kalau aku mendorong gadis ini kuat dan dia meledak, sebagus apapun desain yang dia miliki, dia tetap saja robot, tetap mesin, kumpulan besi tidak berguna yang diciptakan manusia agar bisa membantu mereka. Ck, tebakanku pasti benar soal robot ini sengaja dibuang karena rusak.

“Kau! Robot rusak! Jangan menyentuh apapun kecuali dirimu sendiri!” aku meninggalkannya di dapur menuju kamarku. Mengunci kamarku dengan kunci ekstra agar tidak ada yang mengganggu.

“Tidak basah?” aku menekan-nekan kasurku, kering. Aku juga memerhatikan sekeliling kamarku dan tidak ada jejak air sama sekali, hanya lantainya yang sedikit lembab. Untunglah aku selalu menutupi komputerku dengan pelindungnya, kalau tidak, mungkin aku akan benar-benar gila sekarang, semua data penelitianku yang lengkap ada di sana. Laptop? Aku tidak terlalu tertarik untuk menggunakannya terlalu sering.

Aku sampai lupa, ruang tamu dan dapurku tadi juga tidak basah lagi. Apa mungkin orang-orang yang di truk tadi yang membersihkan rumahku? Tapi…bagaimana bisa mereka masuk ke kamarku? Paman Cha tidak memiliki kunci cadangan untuk kamarku.

Apa mungkin…ah, sudahlah. Masa bodoh dengan rongsokan hidup itu sekarang. Dia sudah membuatku frustasi dari pagi sampai sekarang.

Aku berbaring di kasurku, mengambil beberapa cemilan yang tadi aku beli dan untungnya tidak aku tinggalkan di dapur. Mungkin lebih baik aku berada di kamar dan memikirkan cara untuk menyingkirkan robot rusak itu dari sini. Aku mau hari-hariku tenang tanpa pengganggu sepertinya.

Ah, aku mengatakan apa di awal tadi? Aku tertarik padanya? Tidak, tidak jadi.

Continued yow~

 

 

HAI! :3

maaf updatenya lama, penyakit males ngetik saya kambuh lagi. silahkan panggil saya author pemalas, karena emang kenyataannya gitu T^T

Tapitapitapitapitapiiiiiii bukan berarti pure saya nggak mau ngetik, di rumah…emang nggak tenang buat ngetik, banyak yang kepo .___.

Ada yang tau saya terinspirasi dari mana ni FF? mungkin ada yang tau tentang film jepang yang judulnya kalo nggak salah Absolute Boyfriend, sama, robot juga ^^

Gimana part ini? aneh kah? kacau kah? saya tunggu kritik dan sarannya ^^

Terima kasiiiiiih~~~ :3

Advertisements