Tags

, ,

Title : My Lovely Trouble Maker [MLTM]

Author : KimRae

Genre : romance, mungkin angst, dan…yah, mungkin fantasy juga masuk *eh

Main Cast : Kyuhyun, S115M2, dia belon dinamain di sini :3

Other Cast : Changmin, beberapa OC ^^

HAAAAAAIII!! *ngomong sambil tutup mulut*
Saya nyoba ngebuat FF yang genrenya yang agak melenceng dari keahlian saya yang tidak terlalu ahli dalam hal apa-apa ini, yak! Fantasy!
Tapi sumpah, saya nggak pede sebenernya, tapi saya pengen banget ngetik ini ‘_’ yah, semoga lancara aja ya .__.
Mungkin saya bakal liat respon reader dulu terhadap FF ini, kalo bagus ya….saya lanjut~ kalo nggak, saya tetep lanjut *lah
Oke deh, daripada banyak bacot, enakan para readerkutemantemankutercinta semua langsung simak(?) aja FFnya, saya pergi dulu *kemane

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

* * * * *

*Seoul, 10 November 2070

“Sistem sudah hampir sempurna. Program untuk boneka kita sudah hampir jadi, bagaimana menurutmu?”

“Sempurna. Boneka ini akan sangat membantu, terlebih lagi pada para orangtua dan anak-anak yang memerlukan bantuan untuk kehidupan sehari-hari.”

“Tinggal memasukkan chip berisi program mereka, memutar sekrup mereka sekali, dan boom! Ciptaan kita kali ini akan menambah prestasi Korea di dunia internasional.”

“Ah, kau benar. Hei, aku harus menyiapkan data yang akan kita kumpulkan untuk pak presiden. Jaga mereka dulu, aku pergi.”

“Baiklah.”

Salah satu dari mereka pergi, meninggalkan satu temannya –laki-laki– dalam ruangan penuh benda berwarna metalik, tidak lupa dengan tabung seukuran tubuh manusia yang terdiri dari banyak kabel.

“Tidak ada yang lebih indah dari ini semua.” laki-laki itu mengitari tabung-tabung yang berisi boneka yang tadi mereka bicarakan. Laki-laki itu berhenti pada salah satu tabung, berisi boneka perempuan yang kemarin malam baru saja melewati tahap penyelesaian fisik.

Tangan laki-laki itu menelusuri kaca tabung penutup, merasa senang dengan desain boneka tersebut. Tanpa pikir panjang, laki-laki itu memasukkan kata sandi dan berhasil membuka tabung kaca tersebut, mengeluarkan boneka perempuan tadi dari dalamnya.

Boneka perempuan itu dia dudukkan di kursi terdekat. Membuat tubuh boneka itu tertunduk karena belum dinyalakan.

“A! Aku belum memutar sekrupmu, anak manis.” laki-laki itu menyampirkan rambut sang boneka ke sebelah kiri, menampilkan tahi lalat yang ada di leher sebelah kanan boneka itu.

“Nah, ini dia!” laki-laki itu menekan tahi lalat sang boneka, membuat kulit leher boneka tersebut terbelah dua dan pintu tersembunyi yang ada di balik leher itu pun terbuka. Sebuah sekrup berbentuk baling-baling muncul secara otomatis tidak sampai satu detik setelah ‘pintu’ di leher boneka tersebut terbuka, tidak mengejutkan bagi si penciptanya.

Laki-laki itu memutar sekrup tersebut hanya lima kali, hanya untuk melihat bagaimana reaksi sang boneka saat sedang menyala. Sistem boneka yang belum disempurnakan membuat boneka itu masih memiliki sistem kerja manual, membuat laki-laki itu berani mengeluarkan sang boneka tadi.

Laki-laki itu mundur beberapa langkah, sekedar memberikan ruang untuk boneka manusia ciptaan mereka jika bergerak. Sekrup yang menjadi alat pembangkit boneka ini juga sudah kembali masuk ke leher sedetik setelah berhenti diputar.

“Kenapa responnya lama sekali? Seharusnya dia langsung menya–” mulut laki-laki itu terbuka lebar saat melihat boneka di hadapannya mengedipkan mata beberapa kali. Tubuh sang boneka duduk tegak, tidak lagi tertunduk lesu seperti sebelum dinyalakan.

“Luar biasa.” laki-laki itu memandangi sang boneka dengan takjub, ditambah lagi boneka perempuan itu langsung berdiri dan tersenyum.

S115M2’s system, activated.
Language, Korean, activated.
Couldn’t found main program. Error.

Wajah boneka perempuan itu seketika merengut, mendengar kata eror mungkin menyakiti perasaannya, ya, mereka diciptakan dengan perasaan, berbeda dengan robot.

“Aigo, anak manis. Jangan muram, tersenyumlah. Sebentar lagi kau dan teman-temanmu akan sempurna.” dan boneka itu langsung tersenyum.

“Kau mirip sekali dengan anakku. Ah, tentu saja, aku yang mendesainmu. Panggil aku ayah.” boneka itu memiringkan kepalanya, bingung dengan apa yang dibicarakan oleh laki-laki itu.

“Ayah?”

“Kau tidak tahu artinya? Hmm, mungkin kau perlu diperbaiki. Nah, dengarkan aku. Ayah adalah orang yang menyayangimu, kau mengerti arti menyayangi, kan?” boneka itu mengangguk sambil tersenyum. Merasa senang karena mendengar kata ‘menyayangi’.

“Anak pintar. A! Kau tunggu di sini, ayah akan mencari satu tim agar kau segera diperbaiki, mengerti?”

“Mengerti, ayah.” laki-laki itu langsung keluar, meninggalkan bonekanya sendirian di ruangan tadi. Satu hal yang sudah diputuskan oleh laki-laki itu, bonekanya harus lebih sempurna dari boneka lain. Persembahan untuk sang putri yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.

“Boneka putriku harus—apa ini?!” laki-laki itu bersandar di dinding, menopang tubuhnya agar tidak oleng.

“Gempa!” teriak salah seorang pegawai yang kebetulan berpapasan dengan laki-laki itu. Gempa yang sudah lama tidak terjadi di tanah Korea, cukup kuat sampai gedung tersebut mengeluarkan bunyi peringatan di seluruh penjuru.

“Anakku!” laki-laki itu langsung berlarian ke ruangan semula, khawatir ‘anaknya’ ketakutan karena sendirian.

“Anakku!” tepat setelah laki-laki itu membuka pintu ruangannya, gempa berhenti. Laki-laki itu langsung mencari sang boneka yang sudah hilang entah kemana. Tidak, tidak ada tempat bersembunyi sama sekali di sini, dan boneka itu diciptakan menjadi boneka penurut, tidak mungkin dia keluar ruangan karena tidak termasuk perintah laki-laki tadi.

“Kwangseok! Kwangseok! Keadaan boneka kita!” salah satu temannya yang pergi tadi kembali, dengan wajah cemas dia menghampiri Kwangseok yang sekarang sedang terduduk lemas di lantai.

“Kwangseok, kau kenapa?”

“Anakku, Daewoo-a. Anakku, hilang…”

“Anak…mu?” Daewoo yang tahu tentang salah satu boneka replika anak temannya itu, langsung memeriksa tabung dimana seharusnya ‘anak’ temannya itu berada.

“Kau mengeluarkannya, Kwangseok-a?” Kwangseok hanya mengangguk, dia bahkan menangis. Menangisi kesalahannya yang ceroboh mengeluarkan ‘anaknya’ begitu saja tanpa mau bersabar sampai program dan sistem yang ada sempurna.

“Gempa tadi. Mungkin gempa tadi menimbulkan lorong waktu, aku yakin anakmu terjebak di sana.” teori lorong waktu saat gempa, mereka semua paham akan hal itu. Boneka tadi bisa terdampar di tahun mana saja, sesuai kemana lorong waktu membawanya.

“Kita harus mencarinya, Daewoo-a. Kita harus mencarinya.”

* * * * *

*Seoul, 10 November 2012

Kyuhyun’s Pov

Krii–prang!

Aku segera bangun dan langsung menatap lantai. Jam alarm yang aku ciptakan sudah tergeletak tanpa nyawa dan…pecah. Aku mengacak rambutku frustasi kali ini, apa tidak bisa satu saja dari mereka ini bertahan satu malam saja tanpa rusak?

“Kenapa tidak ada yang berhasil….aish!” aku menendang jam alarm pecah itu dan menuju kamar mandi. Sedikit lesu untuk pergi kuliah karena aku masih ngantuk dan pelajaran hari ini tidak menarik sama sekali, filsafat. Jurusanku kan teknik, kenapa harus mengambil mata kuliah membosankan itu? Ck, kalau tidak termasuk ke dalam syarat kelulusan semester empat ini, aku tidak mungkin mengambil mata kuliah itu.

Selesai mandi, kemudian makan, kemudian menyalakan televisi dan menyiapkan semua keperluan kuliahku untuk hari ini. Setiap hari sama saja, tidak ada yang berbeda. Mungkin bagi sebagian orang hidupku ini super membosankan, tidak ada yang menarik.

Tapi menurutku, hidupku lebih dari sekedar menarik! Setiap hari berkutat dengan mesin dan juga hal-hal yang berbau teknologi sudah lebih dari cukup untukku merasa ‘hidup’. Kebiasaan orang berbeda-beda, kan?

Aku tinggal di sebuah rumah kecil milikku sendiri, sebenarnya ayahku yang membelikannya karena aku menolak untuk tinggal di apartemen, atau mungkin lebih tepatnya para penghuni apartemen tidak akan tahan memilki tetangga sepertiku.

Tetangga mana yang akan tahan dengan bunyi ledakan dari mesin-mesin yang aku ciptakan? Ditambah lagi aku sedikit bermasalah dengan kehidupan sosial, sulit bergaul lebih tepatnya. Aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan ribuan kabel berbagai warna atau besi-besi tua yang menurutku masih layak untuk digunakan.

Tampilanku biasa, sangat biasa. Kacamata tebal, rambut acak-acakan, dan kemeja yang selalu rapi karena mesin setrikaan yang aku ciptakan sendiri. Tidak, tidak ada gadis yang tertarik dengan laki-laki kutu mesin sepertiku. Semua gadis sama saja, lebih suka dengan laki-laki keren dengan mobil sport dan berdandan layaknya anggota boyband terkenal.

Aku melahap irisan sandwich terakhirku dengan cepat dan langsung menyampirkan tas di punggung, bersiap untuk pergi. Aku mengecek keadaan kamar, dapur, dan ruang makanku sekali lagi sebelum benar-benar pergi. Aku tidak mau mendapat telepon dari tetangga lagi kalau dapurku kebakaran dan akhirnya benar-benar diusir dari wilayah ini.

“Baiklah, semuanya dalam keadaan normal. Saatnya berangkat.” pukul tujuh pagi, masih sempat untuk berlari ke halte. Aku membenarkan letak kacamataku sebelum membuka pintu untuk keluar.

“Selamat pagi, Kyuhyun-a.” aku hanya tersenum menanggapi sapaan tetangga yang rumahnya berada di depan rumahku, aku biasa memanggilnya Paman Cha. Dia satu-satunya orang yang memaklumi hobiku yang berkutat dengan dunia mesin dan robot, mungkin karena beliau juga hobi.

“Sudah memastikan kompor otomatismu suda tidak menyala, kan? Hahaha.”

“Sudah, paman. Tenang saja. A! Aku pergi dulu! Annyeong!”

“Hati-hati!” aku langsung berlarian ke halte sambil sesekali menoleh ke arah Paman Cha yang melambai-lambai ke arahku dengan sapu miliknya.

Pertanda hari-hariku akan berjalan seperti biasa, semoga.

* * * * *

Sampai di kampus. Suasana seperti biasa, tidak terlalu ramai kalau kau masuk kelas di pagi hari. Banyak dari mereka yang masih tidur ataupun bolos. Salah satu alasanku banyak mengambil kelas pagi.

“Kyuhyun-a!” aku menoleh ke belakang saat ada satu suara yang memanggilku, Changmin. Satu-satunya orang yang mau dekat denganku, mungkin.

“Hei, sendirian lagi?” aku hanya mengangguk dan membenarkan letak tas di punggungku agar lebih nyaman. Aku dan Changmin bisa dibilang teman dekat. Dia satu-satunya orang yang mau dekat denganku, dan mau bersabar dengan sikapku yang tertutup ini.

Changmin memiliki sifat yang berbeda denganku. Dia lebih mudah bergaul, memiliki banyak teman dari fakultas lain, dan…yah pokoknya lebih bersahabat dengan orang baru. Aku yakin orang-orang disekitar Changmin heran kenapa dia mau dekat denganku. Bisa dibilang aku beruntung mempunyai teman yang tidak hanya mengambil keuntungan saat ujian dariku seperti Changmin.

“Hei, aku menemukan tempat yang menjual banyak jenis kabel kemarin. Mungkin kau tertarik untuk pergi ke sana nanti? Akan aku temani kau, bagaimana?” aku mengacungkan jempolku ke arah Changmin, tanda setuju mengikuti ajakannya.

“Heiii, cobalah perbanyak berbicara! Orang lain bisa menganggapmu bisu, babo.” Changmin mengikutiku berjalan sampai ke kelas filsafat, dia berada di kelas yang sama denganku setiap hari. Aku hanya mengabaikannya dan meletakkan tasku di meja paling belakang, diikuti oleh Changmin yang duduk di sampingku.

“Kau tahu? Kalau kau melepaskan kacamatamu itu dan berbicara lebih banyak, aku rasa akan ada banyak gadis yang mendekatimu.” ujar Changmin sambil memgeluarkan bukunya dari dalam tas. Aku hanya melengos kesal saat dia mengatakan hal ini setiap kali bertemu denganku.

“Ayolah! Bagaimana kau bisa mendapatkan pacar kalau tetap seperti ini?!”

“Oh? Maaf, Tuan Shim. Setahuku, kau yang sudah sangat friend-able ini belum pernah memiliki pacar. Kau menasehatiku apa tadi?” aku bisa melihat wajah Changmin yang berubah kesal dan kekesalannya semakin terlihat saat dia menendang mejaku pelan.

“Sialan kau, Cho Kyuhyun.”

“Terima kasih kembali.” aku hanya menyeringai padanya dan tepat sebelum aku mendapatkan pukulan di lengan, Profesor Kang –dosen filsafat kami– memasuki kelas, diiringi dengan murid lain yang sedikit terburu-buru saat masuk kelas.

“Selamat pagi, semuanya.” kami menjawab serempak dan langsung mengeluarkan buku tebal filsafat yang kemarin dibagikan oleh pihak pengajaran atas permintaan Profesor Kang. Beliau berinisiatif sendiri untuk memberikan kami buku karena tidak ada murid yang ingin membeli buku itu karena tidak terlalu tertarik, termasuk aku.

Aku mulai menguap saat Profesor Kang mulai mengoceh tentang apa itu arti kehidupan dan blablabla lainnya. Aku menoleh ke arah Changmin yang tidak jauh berbeda keadaannya denganku, bahkan dia sudah menutup bukunya dan menjadikannya bantal untuk tidur. Ckckck, aku tidak akan sekurang-ajar itu.

“Teknologi masa depan, akan sangat canggih jika kita perhatikan……….” aku langsung menegakkan kepalaku saat mendengar Profesor Kang menyebutkan kata teknologi. Entah waktu aku di kandungan ibu dan ayah memberiku makan apa, sampai aku sangat menyukai dunia teknik dan teman-temannya, termasuk teknologi.

“Sebagai manusia yang penuh rasa ingin tahu, kita melakukan banyak hal agar pengetahuan semakin berkembang manusia puas dengan apa yang dia temukan. Tapi apa kalian tahu, kalau gempa bisa menimbulkan lorong waktu?”

Tidak ada jawaban, aku tahu kalau sekarang Profesor Kang sedang menghela nafas karena tahu murid-muridnya di kelas ini tidak ada yang mendengarkan.

“Aku tidak tahu, Profesor. Bisa anda ceritakan?” Profesor Kang menatapku kaget, begitu juga beberapa murid yang kebetulan masih memerhatikan Profesor Kang.

“Akhirnya kau bersuara, Kyuhyun-ssi.”

“Maaf, tapi aku memintamu untuk menjelaskan tentang lorong waktu saat gempa tadi, Profesor, jika anda masih ingat. Bukan untuk mengomentari aku bersuara atau tidak.” Profesor Kang hanya tersenyum kecil, sedikit membenarkan letak kacamatanya dan menatapku intens.

“Belum ada teori pasti tentang ini, Kyuhyun-ssi. Tapi beberapa peneliti sudah menemukan beberapa bukti.”

“Kalau belum pasti, kenapa anda menceritakannya pada kami?”

“Aku sudah bilang kalau beberapa peneliti sudah menemukan beberapa bukti, kan, Kyuhyun-ssi? Jika anda masih ingat.”

Ck, dia membalasku. Lihat, sekarang dia tersenyum penuh kemenangan dan berhenti tersenyum saat aku menatapnya penuh rasa bosan. Aku tidak suka dia.

“Sekitar tahun 1200an, seorang pemuda di Jepang menemukan handphone di jalanan sesaat setelah gempa terjadi, dan dia berhubungan dengan seorang wanita yang kebetulan saat itu sedang menghubungi suaminya, pemilik handphone yang hilang itu.”

“Jangan bercanda, Profesor. Telepon baru ditemukan sekitar tahun 1800an dan penggunaan handphone baru populer sekitar tahun 1910. Bagaimana bisa mereka memilki handphone dan si wanita berselingkuh dari suaminya?”

“Ckckck, aku belum selesai bercerita, dan siapa yang mengatakan kalau wanita itu berselingkuh?” kali ini Profesor Kang menatapku sebal. Aku juga tidak mau kalah, aku menatapnya sebal dan menendang-nendang kaki mejaku.

“Wanita itu, sedang berada di tahun 1967, Kyuhyun-ssi.” aku menatap profesor tidak percaya, bagaimana bisa menghubungi orang yang berada di tahun yang berbeda dengan kehidupanmu?

“Satu hal yang membuat semuanya bertambah janggal adalah, hanya tahunnya yang berbeda, tetapi tanggal dan bulannya tetap sama. Bagaimana menurutmu? Aku bisa menunjukkan buktinya kalau kau mau. Ada di museum di Jepang, keturunan pemuda itu yang mengabadikannya, begitu juga dengan cucu si wanita tadi.” kali ini profesor tersenyum puas, bertindak seakan-akan dongeng dramanya tadi berhasil membuatku takjub dan percaya begitu saja.

“Terima kasih, Profesor Kang, atas dongengmu.”

“Itu bukan dongeng, Kyuhyun-ssi, tapi—-”

Aku berpegangan pada ujung-ujung mejaku saat merasakan getaran yang cukup kuat. Profesor Kang terlihat sama paniknya denganku dan getaran tadi berhasil membangunkan kembali lamunan murid-murid di sini, kecuali Changmin.

“Babo! Bangun! Cepat! Ada—”

“Semuanya keluar! Ada gempa!” semua murid menghambur keluar saat Profesor Kang berteriak, termasuk aku dan Changmin yang akhirnya terbangun. Seakan melupakan semua pelajaran evakuasi saat gempa, kami menyeruak keluar gedung. Setidaknya tidak ada yang mati terinjak-injak.

Tepat saat semua murid berada di luar gedung, gempa berhenti. He? Hanya sebentar? Begitu saja?

“Waw, aku pikir aku akan mati tadi. Ck, gempa sialan.” Changmin mengacak rambutnya dan mengusap-usap matanya kasar. Sepertinya dia masih mengantuk. Di sekitar kami beberapa murid masih heboh tentang betapa kuatnya gempa tadi, tentang betapa singkatnya gempa tadi, bahkan ada yang heboh kalau semua kegiatan perkuliahan hari ini dibatalkan.

“Oi.” aku menoleh ke arah Changmin yang sudah bersiap dengan kunci motor di tangannya, mau kemana dia? Bolos?

“Semua jadwal kuliah hari ini dibatalkan. Jadi pergi ke toko yang aku katakan tadi pagi?”

“Ng. Cepatlah, aku sudah lapar.”

Kalau cerita Profesor Kang tadi benar, aku ingin robot serba bisa tersesat di rumahku, agar aku tidak susah-susah lagi mengurusi hidup dan fokus dengan penelitian ilmu gerak kekal pada mesin, ideku yang dibantu oleh Changmin. Ah, atau mungkin si robot nanti bisa membuatkannya untukku? Haha, mustahil. Cerita bodoh yang menarik, profesor.

* * * * *

Aku tidak terlalu lama pergi dengan Changmin, mungkin tidak sampai satu jam, karena toko yang dia ceritakan ternyata sedang tutup, kemungkinan besar karena gempa tadi. Ck, seharusnya tidak perlu seheboh itu, toh gempanya hanya sebentar dan sistem keamanan Korea untuk antisipasi gempa sudah lumayan canggih.

“Haaaah~ rumaaaaah~” aku membuka pintu rumahku dengan cepat dan melemparkan tasku begitu saja di atas sofa ruang tamu. Setelah mengunci pintu, aku melepaskan kacamataku dan meletakkannya di atas televisi, agar nanti kalau aku ingin menonton tidak perlu repot mengambilnya dari dalam kam—

“KYAAAAAAAAAAAA!!! TOLOOOOONG!!!”

Aku membeku di tempatku berdiri…aku tidak salah dengar, kan? Kenapa…ada suara perempuan minta tolong…dari dalam kamarku?!

Aku berlari ke arah kamarku, mencari kunci kamar tidurku di kumpulan kunci banyak kamar di rumah ini. Ck, akan aku satukan semua kamar-kamar penyimpanan itu nanti!

“Nah!” ketemu! Aku langsung memasukkan kunci dan membuka pintu kamarku saat mendengar teriakan minta tolong lagi. Pencuri? Penguntit? Hantu?

Aku melihat sekeliling kamarku dan mendapati gundukan selimut di atas kasur. Bergerak kesana-kemari sambil tetap meminta tolong.

“Tolooooong!! Aku dikepuuuung!!”

Aku hanya melihat gundukan selimutku yang terus bergerak, manusia mana yang minta tolong hanya karena dia berada di dalam selimut? Ck, modus pencuri!

Aku berinisiatif mengambil tongkat baseball –yang sengaja aku beli hanya untuk jaga dri– dan menunggu sampai orang dari dalam selimut itu berhenti bergerak. Strategiku; menunggunya berhenti bergerak, kalau dia sudah selesai dengan sandiwara sok terjebaknya baru aku pukuli dia dengan tongkat baseballku ini.

Aku masih bersiap dengan tongkatku saat tiba-tiba gundukan selimut itu berhenti bergerak, yang sudah pasti disebabkan oleh orang di dalamanya yang juga berhenti bergerak. Apa aku harus membuka selimut ini? Tapi bagaimana kalau tiba-tiba aku diserang? Bagaimana kalau ternyata dia seorang penyi—

Warning, battery low.”

Mwo…ya? Telingaku tidak sedang berkhayal, kan? Aku biasa mendengar suara jenis itu difilm-film tentang robot, dan kali ini, asal suara itu berasal dari dalam…selimut ini?!

Aku memberanikan diri untuk menarik salah satu ujung selimut terdekat, dan dengan cepat melemparkan selimut itu ke lantai.

Pemandangan pertama yang aku lihat adalah…manusia, dan dia perempuan. Dia hanya duduk di atas kasurku, melihatku tepat di manik mata sambil mengatur nafasnya. Aku menurunkan tongkatku di lantai, memerhatikan wanita ini sekali lagi. Tidak ada yang aneh darinya, dan tidak mungkin juga suara peringatan tentang baterai yang lemah tadi berasal dari—

Warning, battery low.” —nya?

Aku mundur beberapa langkah saat wanita ini tersenyum padaku. Dengan gerakan yang sangat lambat, tangan kiri wanita itu menyampirkan rambutnya, hingga bagian kanan lehernya terpampang jelas, dan itu membuat mulutku menganga lebar.

Bukan, bukan karena kulit lehernya yang terlihat seksi atau apa. Bagaimana aku tidak terkejut kalau ada benda kecil seperti tahi lalat yang berkedip-kedip dan berwarna merah di sana?!

Lagi, dengan gerakan yang sama lambatnya dengan yang tadi, tangan kanan wanita itu menyentuh titik merah yang berkedip-kedip tadi di lehernya, menenkannya sedikit dan…aku yakin aku sudah gila sekarang. Kulit lehernya terbelah dua! Ter!Belah!Dua!

Belum cukup aku dibuat takjub dengan terbelahnya kulit leher tadi, tiba-tiba muncul benda dari dalam lehernya yang berbentuk seperti baling-baling secara cepat. Wanita tadi kembali melihatku, tersenyum….um…ya, akan sangat sulit untuk mengendalikan otakku kalau harus dihadapkan dengan wanita super cantik tapi dengan keadaan super tidak masuk akal ini. Bagaimana bisa dia masuk ke rumahku?!

“Bisa…tolong…putarkan…sekrup…ku?”

Dan dengan selesainya dia berbicara, dia tertidur. Tubuhnya tergeletak begitu saja di kasurku seperti orang mati.

Oh, tidak, lambaian sapu Paman Cha tadi pagi bukan pertanda hariku akan berjalan seperti biasa…lagi.

Continued yow~

gimana? bingung? Lemme know whats on your mind guys :”

ditunggu kritik dan sarannya ^^

Nyeooooooonngg~~ *menghilang

Advertisements