Tags

, , , , ,

Author : KimRae

Main Cast : Lee Taemin, with his lovely nuna Kim Raena XD

Other Cast : Lee Sungra (ehm), Cho Kyuhyun

Genre : little angst, romance, family

* * * * *

Nuna, saranghaeyo~

“Lee Taemin! Min-ie! Banguuuuunn!” sedikit saja aku buka mataku, kembali berpura-pura mengantuk untuk ke-sekian-kalinya dalam hidupku ketika wanita ini membangunkanku. Sedikit mengerang untuk polesan akhir agar dia yakin bahwa aku masih sangat malas untuk bangun dari kasur nyaman miliknya ini.

“Min-ie~ sayaaang~ adikku sayaaang~ banguuun~”

“Ng~ sebentar lagi, nunaaa~” aku memeluk guling miliknya yang dari semalam aku kuasai. Salahnya sendiri kenapa lebih memilih melakukan webcam dengan orang yang aku tidak tahu siapa. Pakai acara rahasia pula. Awas saja kalau itu pacarnya.

“Ini hari pertamamu sekolah lagi, liburannya sudah habis.”

“Iya~ aku banguuun~” aku membuka mataku lebar. Siap menyambut kembali wanita yang aku harapkan akan selalu bersamaku selamanya.

“Jadi? Siapa yang tadi malas bangun untuk sekolah?” katanya sambil bertolak pinggang. Rambutnya yang tidak dia ikat, dan piyama biru couple yang aku berikan waktu itu…

“Aku! Makanya, poppo satu detik dulu~”

Dia, orang yang aku jadikan nunaku, tujuh tahun lebih tua dariku, dan aku mencintainya.

* * * * *

Aku sedang memeriksa penampilanku sekali lagi saat eomma mengetuk pintu kamarku, memberitahukan bahwa Raena nuna sudah menunggu di ruang makan. Seperti biasa, mengantarku ke sekolah. Aku hanya menjawab seadaanya dan langsung menyambar tas sekolahku. Ah! Sebagai sentuhan terakhir, aku menyemprotkan parfum yang wanginya menurut Raena nuna cocok untukku, hehehe.

“Pagi, nuna!” aku mencium pipinya singkat sebelum duduk di hadapan sarapanku sendiri. Nasi goreng kimchi ini pasti buatan eomma, dan dengan begini otomatis aku tidak bisa menyuapi Raena nuna untuk makan. Aku tidak mau dia muntah di sini.

Aku makan dengan cepat, selain karena sudah agak terlambat juga aku tidak ingin membuat Raena nuna ikut terlambat pergi bekerja gara-gara aku. Lihat, aku namja yang baik, kan?

“Babo…” aku melirik Raena nuna, dia sedang tersenyum di hadapan handphone-nya sambil mengatakan ‘babo’ tadi. Senyumnya itu…aku tidak pernah lihat selama ini. Pernah melihat orang tersenyum dengan saaaaangat cantik, tapi matanya malah menunjukkan kesedihan? Mungkin kalau aku pernah, aku sudah akan memeluk Raena nuna sekarang. Masalahnya, aku takut kalau aku tiba-tiba memeluknya tanpa sebab yang jelas, aku tidak ingin dia menganggapku aneh.

Beberapa saat masih aku perhatikan, Raena nuna masih saja tersenyum dan melihat layar handphone-nya.

“Nuna?” Raena nuna langsung mengalihkan perhatiannya padaku dan menyimpan handphone-nya ke saku kembali. Ck, tidak boleh ada yang menarik perhatiannya selain aku.

“Nuna lihat apa?”

“Ng? Aniyo. Hei, makananmu kemana-manaaa~” Raena nuna membersihkan sisa nasi yang ada di ujung bibirku, membuat kulit jarinya menyentuh kulit bibirku. Seseorang, tolong jangan bangunkan aku kalau ini mimpi…

“Anak nakal, cepat habiskan makananmu~”

…karena kalau ini mimpi, aku yakin tidak akan menahan diri lagi untuk menciumnya selama mungkin.

* * * * *

“Belajar yang benar, nuna tidak mengantarmu setiap hari untuk melihat nilaimu hancur, mengerti?” aku mengacungkan jempolku ke arah nuna sebelum akhirnya aku keluar mobil. Sebelum benar-benar keluar, aku selalu mengingatkan nuna agar tidak lupa untuk menjemputku nanti. Bukan, aku bukannya manja. Kalau saja eomma mengizinkanku untuk membawa motor atau mobil sendiri ke sekolah, aku tidak mungkin minta antar Raena nuna terus. Sebesar apapun cintaku padanya, aku tidak mau merepotkannya.

Aku melambai ke arah mobil nuna yang sudah mulai menjauh. Sedikit memberi salam dengan satpam sekolah dan beberapa yeoja yang aku tidak tahu siapa namanya yang menyapaku duluan.

“Yo!”

“Hei! Anak nuna!”

Aku meringis saat rambutku dibuat berantakan oleh Jongin —lebih suka memanggil dirinya Kai— dan Baekhyun. Dua orang ini bisa dibilang teman dekatku di kelas. Kalian tahu sendiri bagaimana perawakan anak-anak kelas percepatan—eh, kalian belum tahu kalau aku anak kelas percepatan? Ya, aku pintar, hehe.

“Kau masih diantar oleh nuna-mu itu? Ckckck.” Baekhyun membenarkan letak tas di punggungnya. Sesekali menyapa balik para adik kelas yang menyapanya.

“Mau tahu cara agar kami tidak mengejekmu lagi?” kali ini Kai yang angkat bicara. Senyum licik miliknya terlihat lagi dan aku yakin ide yang dia miliki sama sekali tidak bagus dan tidak ada guna.

“Kenalkan aku dengan nuna-mu~” nah, ini yang aku bilang tidak ada guna. Untuk apa aku mengenalkan Raena nuna dengan orang seperti Kai?

“Ck, tidak akan dan tidak akan pernah terjadi. Silahkan terus berha—eh?” aku menoleh saat ada seseorang yang menabrak tubuhku dan sepertinya barang-barang yang dia bawa berjatuhan.

“Mianhaeyo sunbaenim!” dia membungkuk berkali-kali sambil mengambil kembali barang-barangnya yang tergeletak di tanah. Aku ikut membantunya, Baekhyun dan Kai juga.

“Ne, tidak apa-apa. Nah, ini buku-bukumu. Lain kali hati-hati.” Aku menyerahkan buku-bukunya, sedikit tersenyum agar yeoja yang sepertinya adik kelas ini tidak terlalu takut denganku. Tenang saja, aku tidak akan membuat hal kecil seperti ini menjadi masalah.

Tangannya sedikit bergetar saat akan mengambil bukunya dari tanganku. Bisa aku rasakan kalau matanya sesekali melirikku sebelum akhirnya dia langsung menarik kuat bukunya dari tanganku. Yeoja itu membungkuk berkali-kali dan langsung berlarian entah kemana, mungkin ke kelasnya.

“Eeeey~ aku lihat ada yang sedang terpesona tadi.” Kai meninju bahuku kuat, cengiran muncul di wajahnya dan itu menambah kesan kalau dia adalah orang yang menyebalkan.

“Itu…kalau tidak salah Lee Sungra, anak kelas percepatan satu tingkat dibawah kita. Anggota klub-ku.” Baekhyun mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tas-nya dan kembali memeriksa kegiatan yang harus dia lakukan hari ini. Ketua klub matematika di sekolah, digilai banyak yeoja, ditambah lagi kepribadian yang tidak pilih-pilih teman…aku rasa kalau Raena nuna melihat Baekhyun dia akan langsung suka, dan itu berarti bahaya untukku. Tidak ada yang boleh Raena nuna bilang lucu ataupun imut selain aku.

“O? Anak kelas percepatan juga? Pantas saja wajahnya familiar, bukannya kelas kita pernah mengadakan semacam perkenalan dengan kelas mereka?” aku hanya mengangguk menanggapi kata-kata Kai. Aku hanya heran kenapa yeoja tadi itu terlihat gugup saat berhadapan denganku. Aku menyeramkan? Tidak, tentu saja. Raena nuna selalu bilang kalau aku ini anak paling tampan dan lucu.

“Jadi…bagaimana?” aku mengangkat kedua alisku saat Kai kembali berbicara. Bagaimana apanya?

“Ayolaaah~ Ne? Ne?”

“Apa? Aku tidak mengerti.”

“Dia ingin berkenalan dengan nunamu, dia pernah bilang padaku kalau nunamu itu seksi.” Aku berhenti berjalan. Menoleh ke Baekhyun yang tadi mengatakan apa yang pernah Kai katakan tentang nunaku. Apa Kai bilang? Seksi?!

“Jongin-ssi…” Kai menatapku dengan setengah ngeri. Oh, baguslah kalau dia mengerti.

“A-ampun. Aniyo! Aku tidak pernah bilang nunamu se–A! A!”

“Aku hajar kau!” Kai menghindari pukulanku di lengannya sedangkan Baekhyun hanya melengos dan terus berjalan menuju kelas.

“Aku sudah bilang kalau Taemin itu posesif, Kim Jongin?” Baekhyun berlari menuju kelas sesaat setelah bel sekolah berbunyi. Aku masih sibuk dengan Kai yang mulutnya tidak berhenti mengatakan kalau Raena nuna itu seksi. Ck, dasar setan mesum!

Peraturan lain, tidak ada yang boleh mengatakan Raena nuna seksi selain aku. Hei, aku satu-satunya namja yang pernah tidur satu kamar dengannya, tidak ada yang tahu seperti apa Raena nuna selain aku, mengerti?

* * * * *

“Baiklah, hari ini cukup sampai disini. Jangan lupa belajar untuk kuis minggu depan.” Kami semua berdiri kemudian membungkuk saat guru Matematika-ku keluar kelas. Suasana kelas yang tadinya serius dan tenang langsung berubah menjadi gaduh dan penuh dengan keluhan. Memang tidak salah kalau semua anak di kelas ini mengeluh, karena minggu depan kelas kami tidak lepas dari kuis.

“Taemin-ah, mau makan bersama? Aku lapar, Baekhyun lebih memilih berkumpul di ruang klubnya dibanding menemaniku. Mau, kan?” Kai menyampirkan tasnya di bahu saat berbicara denganku. Dari tatapan memohonnya itu bisa terlihat betapa laparnya anak itu sekarang.

“Mianhae, aku tidak bisa. Aku harus ke perpustakaan hari ini. Kau tahu kan, mencari referensi untuk tugas Bahasa Inggris, tugas Biologi, tugas—”

“Aku mengerti! Argh, kepalaku langsung pusing. Jangan menyebutkan tugas-tugas jelek itu lagi. Aku heran kenapa sekolah meluluskanku saat mendaftar masuk kelas percepatan!” Kai mengacak rambutnya sembari tetap mengutuk tugas-tugas yang diberikan. Untuk orang yang memiliki niat masuk kelas percepatan sepertiku, tugas sebanyak apapun akan aku selesaikan. Tugas ada untuk diselesaikan dan kalau tugas selesai aku bisa melakukan hal lain, seperti berduaan dengan nunaku.

“Lalu kenapa kau mendaftar? Babo.” Aku meninggalkannya sendirian di kelas menuju perpustakaan. Seperti yang aku duga, Kai mengikutiku dan kami berjalan beriringan. Dia merangkul bahuku santai dan menunjukkan senyum inosen yang dia miliki.

“Ehehe, bercanda. Nah, ayo aku temani kau ke tempat membosankan itu.”

* * * * *

Aku dan Kai sampai di perpustakaan…setelah berkali-kali menghindari gerombolan yeoja yang entah kenapa bisa jadi sangat buas ketika melihat Kai, dan juga aku. Letak perpustakaan yang ada di ujung sekolah ini juga tidak menguntungkan karena jalur tempuh perjalanan kami jadi lebih panjang, jadi jangan heran kalau perpustakaan selalu—

“Yak, sepi~” Kai langsung masuk perpustakaan dengan wajah malasnya setelah memberi salam dengan si penjaga perpustakaan. Sepi, seperti biasa.

“Kau yakin kalau tempat ini tidak berhantu?” Kai meletakkan tasnya di atas meja dan langsung duduk tanpa melihat-lihat buku terlebih dahulu. Aku ikut meletakkan tasku dan langsung mencari buku yang aku cari. Terserah buku apa saja, yang yang penting berkaitan dengan tugas dan kuisku lalu aku bisa membacanya dengan damai, karena Kai pasti lebih memilih tidur.

Sekitar sepuluh menit aku mencari, tidak ada buku yang aku ambil sama sekali. Bukannya aku kehilangan niat untuk belajar, hanya saja aku bingung harus mengambil buku apa. Ditambah lagi belum makan, suasana sepi, dan suara putaran kipas angin yang membuatku jadi mengantuk. Sialan, virus Kai mulai menyebar.

“Taemin-a?” aku menoleh dan mendapati Baekhyun yang sedang menaruh satu buku tebal —yang aku kira buku matematika— ke tempatnya. Di sampingnya ada yeoja yang wajahnya tidak bisa aku lihat, dia menunduk.

“Baekhyun-a, kebetulan kau ada di sini. Bisa bantu aku memilih buku biologi?” Baekhyun menaruh tasnya di meja yang sama lalu menghampiriku, masih dengan diekori oleh yeoja di sampingnya tadi.

“Kau mau buku tingkat berapa? Sampai bingung begitu, ckckck. Nah, buku ini setahuku lengkap.” Baekhyun memberikanku satu buku yang tidak begitu tebal dan beralih dengan yeoja yang selalu mengekorinya tadi.

“Sungra-ssi, jadi meminjam catatanku?”

“N-ne.”

“Tunggu sebentar.” Baekhyun langsung meninggalkan yeoja itu dan menuju Kai. Barulah aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tunggu, bukannya itu yeoja yang tadi pagi menabrakku? Aku tersenyum sebagai bentuk sapa yang menurutku baik, tapi yeoja itu malah menunduk dan kembali menghampiri Baekhyun. Ck, sopan sekali.

“Kkamjong! Bangun!” Baekhyun menendang kursi Kai, dan itu menyebabkan Kai terbangun secara tiba-tiba. Yeoja yang bernama Sungra tadi hanya berdiri di samping Baekhyun sambil menahan tawanya saat melihat ekspresi kesal Kai yang dibangunkan dengan cara seperti itu.

Kai mengacak rambutnya asal yang aku tambahkan dengan pukulan dengan buku tadi agar dia bangun tidak setengah-setengah.

“Aiii~ kalian ini!” Kai mengacak rambutnya sekali lagi, barulah dia duduk dengan tenang dan melihat sekeliling sampai pandangannya terhenti pada sosok Sungra yang ada di samping Baekhyun. Aku mengambil tempat duduk di samping Kai, lalu Baekhyun memilih duduk di sampingku dan otomatis Sungra itu duduk di hadapanku dan di samping Kai.

“Baekhyun-a, siapa?” Kai menunjuk Sungra dengan tatapan genit yang dia miliki. Ck, kebiasaan. Aku memilih untuk membuka bukuku saja, jangan ada waktu yang terbuang lagi.

“Dia? Anggota klubku, kenapa?”

“Kau yakin? Yeoja ini selalu berada di sampingmu, seingatku. A, Kim Jongin. Namamu?”

“Namanya Lee Sungra. Ck, sudahlah, mana bukuku yang kau pinjam? Dia ingin memakainya, dan aku yakin akan lebih bermanfaat kalau dia yang pinjam daripada kau.”

“Ei~ santai, apa dia pacarmu, ha? Ckckck.” Aku mendongak dan menatap Baekhyun yang sekarang wajahnya sudah merah. Topik tentang ‘pacar’ memang agak sedikit sensitif untuknya. Aku melihat wajah jahil Kai yang kembali muncul lagi, sepertinya menarik untuk menggoda Baekhyun sekarang.

“Aigo~ uri-Baekki sudah punya pacar?” aku berhighfive ria dengan Kai demi melihat wajah Baekhyun yang semakin memerah.

“Aniyo! Bukan! Aku bukan pacarnya Baekhyun sunbae!”

“Ne! Bukan! Kami hanya partner!”

Aku dan Kai tambah tertawa melihat tingkah mereka berdua yang menurutku sama-sama salah tingkah. Atau jangan-jangan bercandaan kami itu benar? hehehe.

Setelah beberapa saat menggoda Baekhyun dan ‘pasangannya’ itu, kami semua kembali tenang. Tidak, tidak ada yang marah dengan kegaduhan yang kami buat. Siapa yang mau marah? Si penjaga perpustakaan yang hobi tidur?

Aku kembali membaca buku biologiku, Baekhyun sedang menjelaskan apa saja yang ada di catatannya pada Sungra, sedangkan Kai hanya bermain game yang ada di PSP yang dia bawa hari ini.

“Ck, aku lapar~”

“Makan.” Kai menoleh ke Baekhyun dengan raut wajah kesal. Aku juga mendongak untuk melihat apa yang akan terjadi setelah ini, tapi tatapan satu orang yang ada di hadapanku yang pertama kali aku lihat. Ng? Dia memerhatikanku?

“Ehem. Jungra-ssi, kau punya makanan?” tatapan yeoja itu langsung beralih ke Kai yang tadi memanggilnya…Jungra?

“Tidak ada, dan…namaku Sungra, bukan Jungra, sunbae.”

“Oh, ehehe. Maaf.” Kai kembali bermain dengan PSP-nya, sesekali mengelus perutnya yang lapar itu seperti ibu-ibu hamil. Kasihan, kalau aku punya cemilan sedikit mungkin aku akan memberi makanan itu padanya, biar bagaimanapun dia ini temanku.

Aku kembali dengan buku biologi milikku, membaca sedikit materi yang menurutku aku butuhkan dan sisanya hanya memandangi beberapa gambar organ yang ada di buku tersebut.

A! berbicara tentang gambar organ, aku jadi ingat Rae nuna… iya, aku selalu mengingatnya. Nuna sangat tidak suka gambar organ manapun, alasannya takut. Setiap kali aku memintanya untuk mengajariku, dia pasti memilih untuk menutupi gambar-gambar itu dengan tangannya. Lalu, aku akan dengan sengaja menakut-nakutinya dengan gambar itu sampai dia berteriak dan berakhir dengan memelukku. Aku senang? Tentu saja. Pelukan Raena nuna itu adalah hal yang paling aku sukai.

Ais, aku tidak bisa konsentrasi lagi! Beberapa saat yang lalu Rae nuna mengirimiku pesan singkat dan dia bilang kalau akan terlambat menjemputku. Sekarang sudah pukul dua siang dan kemungkinan sebentar lagi dia menjemput. Aku melirik Kai yang sudah tidak bermain dengan PSP-nya lagi, kembali tidur. Baekhyun dan Sungra seperti memiliki dunia sendiri, maksudku…mereka berdua serius sekali belajarnya.

Drrt…drrt…

Aku merogoh saku celanaku dan bahagia bukan main saat melihat nama Rae nuna yang menghubungiku. Oke, aku tidak suka kalau membuatnya menunggu untuk mendengar suaraku. Terlalu percaya diri? Biar saja.

“Nuna!” aku tidak bisa menghentikan cengiranku saat ini. Terserah Baekhyun dan Sungra —yang konsentrasinya pecah— mau menganggapku apa.

“Taemin-a, nuna sebentar lagi sampai. Kau tunggu di depan gerbang, araseo?”

“Ne! aku segera ke sana, hehehe,” aku langsung menyimpan ponselku dan mengembalikan buku biologi tadi di tempatnya dengan cepat. Harus cepat karena yang akan aku temui ini adalah orang yang sudah aku rindukan sejak tadi pagi, hehehe.

“Hei, kau mau kemana?” Kai memerhatikan gerakanku yang cepat sambil ikut membereskan barang-barangnya. Er…aku punya firasat buruk tentang ini.

“Pulang.”

“Aku ikut!” nah, ini yang aku tidak suka. Tidak ada yang boleh mengganggu waktu berduaku dengan Rae nuna.

“Tidak boleh.”

“Pelit sekali. Kalian pasti ingin pergi makan, kan? Ayolaaah~ aku sudah hampir mati sekaraaang~” Kai memasang tampang memelasnya lagi —yang menurutku tidak mengundang rasa kasihan sama sekali— dan mengekoriku yang sudah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini.

“Baekhyun-a, Sungra-ssi, aku duluan. Annyeong!” aku berlarian keluar perpustakaan menuju gerbang. Jangan sampai Kai mengikutiku dan menggangguku.

Waktu bersama Raena nunaku terlalu berharga untuk dibagi dengan orang lain.

* * * * *

“Pasang sabuk pengamanmu,”

“Ck.” Aku memasang sabuk pengamanku dengan kesal. Rae nuna yang tidak mengerti kenapa aku kesal hanya mengacak-acak rambutku cepat dan menoleh ke belakang untuk memastikan Kai sudah duduk dengan benar.

Bocah sialan itu berhasil menyusulku saat berlari ke depan gerbang, dan kebetulan Rae nuna sudah sampai. Entah ilmu hitam apa yang dilakukan oleh namja sok seksi ini sehingga Raena nuna memperbolehkannya untuk ikut ke dalam mobilnya dan sekalian mengajaknya makan siang bersama kami. Padahal aku ingin makan siang berdua saja dengan nunaku.

“Jongin-a, kau suka steak, kan?”

“Suka! Saaangat suka! Apapun asal bersamamu, nuna, hehehe.”

“Aigoo~ temanmu ini sama manisnya denganmu, Taemin-ie~” kata nuna sambil mengacak rambut Kai. Aa! Akan aku beri pelajaran kau besok, Kim Jongin!

“Nuna, langsung jalan saja. Aku lapar.”

Rae nuna hanya tersenyum dan langsung menyalakan mesin mobilnya kembali, berjalan perlahan tanpa mengetahui tingkat kekesalanku saat ini. Aku menolak untuk menoleh ke belakang saat Kai dengan senangnya menyenggol bahuku terus-terusan. Is, pasti dia sangat senang saat ini.

“Hei, Lee Taemin.” Aku terpaksa menoleh karena kali ini Kai benar-benar mengganggu. Harus menahan rasa kesal yang luar biasa karena harus melihat wajah penuh kemenangan yang menyebalkan miliknya ini.

Kai mendekatkan wajahnya dengan telingaku, berbisik sangat pelan dan berhasil membuatku memantapkan niat untuk memberinya pukulan terkuatku besok.

“Nunamu memang benar seksi.”

Sialan kau.

* * * * *

“Taemin-ie?”

“Taemiiiiiinn~”

“Heeeiii~ jawab nunaaa~” aku menyingkirkan tangan nuna dari pipiku. Rasa kesal masih menguasaiku sejak Kai ikut bersama kami. Yang paling membuatku kesal adalah saat Kai disuapi oleh Rae nuna dan tidak berhenti mencari perhatian dengan kata-kata manisnya itu. Harusnya aku yang Rae nuna suapi paling banyak!

“Ada apa? Kau kelihatan kesal, belum kenyang ya?” Rae nuna kembali memfokuskan perhatiannya pada jalanan, kembali menyetir dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya terus menekan-nekan pipiku walaupun sudah aku tepis daritadi.

“Kenyang.”

“Lalu?”

“Aniyo,” aku mendengus dan menatap ke arah jendela. Saat ini emosiku sedang tidak bisa aku kuasai. Hei, harusnya aku tidak boleh begini! Harusnya aku tidak boleh marah dengan nuna! Harusnya aku marah dengan Kai jelek itu! Aku harus minta maaf dengan nuna.

Aku melirik sekilas ke arah nuna yang masih fokus menyetir, sesekali ikut bernyanyi pelan dengan lagu yang diputarkan di playlistnya. Lihat Lee Taemin, kau sudah menyia-nyiakan waktu berharga di jalan bersama Rae nuna hanya gara-gara kau cemburu.

“Nuna, aku minta ma—“

“Kita sudah sampai~” Rae nuna menghentikan mobilnya tepat di halaman parkir rumah keluarga Kim, tetanggaku. Eh, kenapa aku bisa tidak sadar begini?

“Ayo, turun.” Sambil tersenyum Rae nuna mengambil tas kecilnya yang ada di kursi belakang dan langsung keluar. Aku menyusulnya keluar setelah tiba-tiba Rae nuna memeluk dua orangtua yang aku tidak tahu siapa. Keluarganya?

“Paman! Bibi! Aaa aku merindukan kaliaaan~” nuna memeluk dua orangtua itu erat secara bersamaan. Dua orangtua yang dipanggil nuna dengan ‘paman’ dan ‘bibi’ itu terlihat…sangat senang bisa bertemu dengan nuna.

Aku mengingat kembali siapa saja keluarga Kim yang sering datang ke sini, dan seingatku dua orangtua ini memang tidak pernah datang ke sini, atau mungkin aku saja yang tidak ingat?

“Raena, kami juga merindukanmu~”

“Bagaimana kabarmu?”

Raena nuna benar-benar melupakanku ada di sini, sepertinya. Terlihat dari betapa asiknya dia mengobrol dengan mereka. Ck, apa aku pulang saja lalu meminta maafnya nanti malam? Kan mudah, tinggal meloncati balkon saja.

“Taemin-a?” aku menoleh ke belakang dan mendapati Paman Kim yang baru saja pulang bekerja, masih dengan setelan jasnya yang rapi dan senyumnya yang sama persis dengan nuna, menyenangkan.

“Paman!” aku memeluk Paman Kim erat, beliau sudah seperti keluarga kandungku sendiri semenjak aku masih kecil. Paman Kim mengacak rambutku dan mengajakku untuk menghampiri nuna dan dua orangtua tadi.

Akhirnya seperti terjadi reuni keluarga dadakan di sini. Raena nuna kembali menghampiriku tapi fokusnya tetap pada orang-orang tua di sini. Paman Kim memeluk laki-laki yang satunya dengan penuh semangat dan berbarengan dengan itu Bibi Kim keluar dari rumahnya dan memeluk perempuan yang satunya. Oh, mungkin dua orangtua ini baru sampai sama seperti kami.

“Ayo masuk, aku sudah masak banyak untuk kalian.” Kata Bibi Kim sambil menggandeng bibi yang satunya lagi, dan pada akhirnya mereka semua masuk.

“Nuna, mereka siapa?” aku menarik-narik lengan baju kerja nuna, penasaran. Rae nuna tidak menjawab, hanya menggandengku untuk ikut masuk bersamanya dan duduk di sofa ruang keluarga bersama dua paman yang ada, sedangkan Rae nuna…sepertinya ke dapur.

“Sudah lama kalian tidak berkunjung ke rumah, lebih sering bertemu di luar, hahaha,” kata Paman Kim. Aku hanya memerhatikan pembicaraan mereka yang tidak aku mengerti dan sempat memperkenalkan diri sebagai tetangga —sekaligus adik Rae nuna— karena disuruh oleh Paman Kim.

Sebenarnya aku ingin menyusul nuna ke dapur, ikut membantu mungkin lebih menyenangkan dibanding mendengar obrolan yang tidak aku mengerti. Mana mereka menggunakan lelucon entah jaman kapan pula.

“Besok dia pulang, tapi dia tidak mau kalau kami yang menjemput, ckckck. Anak itu, pasti sudah menyuruh Raena untuk menjemputnya.”

“Benarkah? Ais, tidak apa-apa~ selama ini Raena juga sudah sangat ingin bertemu dengannya.”

Demi telinga dan pikiranku yang sensitif tentang Rae nuna, mereka membicarakan apa? Siapa yang akan nuna jemput besok?

“Empat tahun lebih hanya pulang dua kali. Raena pasti mengalami banyak masa sulit.”

“Ne, dia sering menggerutu kalau tiba-tiba koneksi internet di Seoul melambat, hahaha.”

“Mereka pasti saling merindukan.”

Siapa? Nuna merindukan siapa? Aku…tidak tahu apa-apa tentang ini. Setahuku nuna tidak sedang berurusan dengan orang luar negeri ataupun bercerita tentang siapapun yang sedang dia tunggu itu. Aku tahu beberapa teman nuna yang ada di luar negeri, tapi tidak mungkin kalau sampai kedua orangtua ini membahasnya, kan? Pasti…sangat penting, kan?

“Aku harap setelah sampai di Seoul nanti, Kyuhyun tidak akan bertele-tele lagi dengan Raena. Anak itu sudah dewasa. Kami juga ingin Raena menjadi bagian dari keluarga kami, bagaimana?”

“Hahaha, melihat tingkah mereka berdua, aku tidak mungkin tidak setuju, kan?”

Aku menoleh kaget ke arah dua orangtua yang ada di sampingku ini. Mereka hanya kembali melontarkan candaan dan bahkan mereka membicarakan tentang jumlah cucu dan sebagainya. Maksud mereka apa? Kyuhyun…dia siapa?

Tidak boleh. Raena nuna hanya boleh ada di sini, bersamaku. Kyuhyun…siapapun kau, aku harus mencari tahu siapa kau.

* * * * *

Sekolah lagi, seperti biasa. Perbedaannya hari ini adalah tidak diantar oleh nuna dan kemungkinan bersar juga tidak akan dijemput. Sejak pulang dari rumah nuna kemarin sore, aku sengaja tidak berbicara dengan nuna. Alasannya? Karena aku sedang butuh waktu sendiri. Memang, tidak berbicara dengan nuna satu hari sama saja membunuh otakku secara perlahan. Aku membutuhkannya untuk selalu bersamaku, entah karena terbiasa atau karena memang aku menginginkannya di hidupku.

Aku dan Raena nuna sudah bersama sejak aku masih di kandungan. Saat aku lahir, kemungkinan nuna berumur tujuh tahun. Sekarang umurku 17 tahun, jadi bisa kalian simpulkan sendiri sudah berapa lama aku bersamanya.

Ck, sebentar lagi waktunya pulang. Setelah tadi pagi aku puas memukuli Kai di lengannya dan mencuri buku catatan Baekhyun, aku memilih untuk duduk di depan kelas saja. Tidak tahu harus melakukan apa lagi karena aku sendiri tiba-tiba malas untuk pulang.

Aku mengayun-ayunkan kakiku, kembali memikirkan obrolan dua paman kemarin mengenai nuna dan ‘orang yang dia tunggu’ itu. Siapa namanya kemarin…Kyuhyun? Ck, kenapa aku sebal sendiri?

Tidak ada yang tidak aku ketahui tentang nuna. Hobinya, apa yang dia benci, jam berapa dia tidur, ukuran sepatunya, bahkan skor tertinggi game Tetris yang dia mainkan pun aku tahu. Silahkan menganggapku tidak ada pekerjaan lain, karena aku sendiri menikmati itu.

Alasan terkuatku ikut tes kelas percepatan waktu itu…tentu saja Raena nuna. Perbedaan umurku dan nuna terpaut cukup jauh, yah walaupun tidak bisa diubah walaupun aku ikut kelas percepatan. Setidaknya, aku sudah kuliah saat akan menikahi nuna. Eh, menikahi? Ne, itu niatku sejak aku berusia tiga tahun.

Lalu, aku juga sedang sangat giat belajar biologi, tujuannya? Karena nuna pernah bilang ingin mempunyai suami seorang dokter. Demi nuna, apapun akan aku lakukan. Aku membutuhkannya, dan aku mencintainya. Bukan, bukan sebagai adik ke kakak perempuannya, tapi lebih ke seorang laki-laki yang mencintai gadisnya dengan sungguh-sungguh.

Aku memerhatikan ponselku —berkali-kali— dan kembali mendengus saat tidak ada pesan atau panggilan dari nuna yang masuk. Memang, semalam nuna sudah keheranan dengan mood jelekku dan berusaha untuk berbicara denganku. Dengan bodohnya, aku menolak semua itu.

Buk!

“Aaw!” aku mengusap kepalaku dan mendapati buku matematika tebal berada di kepalaku. Tidak perlu melihat siapa yang melakukannya, pasti Baekhyun.

“Cari tempat melamun, di sini kau dilihat oleh murid-murid lain, babo,” dia duduk di sampingku dan ternyata dia tidak sendirian. Dia bersama Sungra itu lagi. Sungra duduk di samping Baekhyun dan tidak lupa untuk selalu menunduk ketika aku menyapanya walau sekedar tersenyum. Aneh.

“Hei, kalian ini selalu berdua. Kalian yakin tidak ada hubungan apa-apa?” ck, disaat seperti ini aku butuh Kai untuk menggoda mereka berdua. Semenyebalkan apapun namja satu itu, dia adalah partner danceku dan kami sudah berteman sejak sekolah dasar.

“Dia temanku. Kalian ini dari kemarin tidak puas-puas ya?” Baekhyun memukul kepalaku dengan bukunya sekali lagi. Ck, kalau hanya teman tidak mungkin yeoja ini mengikuti Baekhyun kemana-mana. Kemungkinan besar juga Baekhyun yang mengajaknya, karena Baekhyun termasuk selektif memilih yeoja yang bisa dekat dengannya.

“Kau belum pulang? Nunamu tidak menjemput?” aku hanya menggeleng dan hanya memerhatikan Sungra yang sedang membaca buku milik Baekhyun. Serius sekali sampai tidak mau mendongak lagi.

“Kau sendiri?”

“Aku? Mungkin sebentar lagi, harus mengikuti les vokal hari ini.” Aku hanya mengangguk. Mengikuti kegiatan Baekhyun yang bersandar di dinding kelas sambil memainkan kakinya. Sekolah sudah mulai agak sepi, mungkin di depan kelas ini tinggal kami bertiga. Kai sudah pulang dari tadi, ada yeoja yang dia incar katanya.

“Hei, aku ke kamar mandi dulu, ne?” Baekhyun menyampirkan tasnya di punggung dan langsung berlari ke arah kamar mandi, meninggalkan aku berdua saja dengan gadisnya ini.

“Hei.” Tidak ada jawaban. Ck, aku tidak suka yeoja seperti ini, tidak seperti nuna yang ramah pada siapa saja.

“Hei.” Aku memerhatikan wajahnya. Mungkin kalau ditatap tajam seperti ini dia akan sadar. Beberapa kali aku menendang-nendang pelan kakinya, dan akhirnya yeoja ini mendongak juga. Hanya melirikku sedikit kemudian kembali dengan buku Baekhyun lagi. Oh, mungkin dia sedang membaca surat cinta dari Baekhyun?

“N-ne?”

“Oh, kau bisa bicara? Hehehe.” Aku kembali ke mode ‘anak baik’ milikku. Kasihan juga kalau yeoja ini aku ajak bicara dengan mood jelek. Mungkin dia hanya percaya Baekhyun untuk diajak bicara.

Kembali hening. Dia tidak menjawab candaanku dan aku juga tidak punya bahan pembicaraan apa-apa dengannya, aku tidak mengenalnya. Ck, Baekhyun ini ke kamar mandi atau pulang? Lama sekali, dan aku kebosanan di sini.

Aku memerhatikan ponselku sekali lagi, masih tidak ada nama Raena nuna yang terpampang sampai saat ini. Ayolah nunaaa~ cari akuuu~

“Ck, membosankan. Payah. Jahat.” Kesal sendiri memang tidak menyenangkan, terlebih lagi aku kembali ingat kalau nuna menjemput seseorang bernama Kyuhyun itu hari ini dan melupakanku. Kalau begitu sekalian saja tidak usah perhatikan aku lagi!

Aku berdiri dan menyampirkan tasku di punggung, kembali melirik si Sungra ini yang masih berkutat dengan buku. Sampai saat ini aku belum berniat pulang, yeoja ini juga sepertinya tidak ada pekerjaan lain selain membaca buku Baekhyun. Baekhyun-a, aku pinjam sebentar gadismu mungkin tidak apa-apa, kan?

Aku menendang kakinya lagi, kali ini agak kuat dan dia langsung mendongak. Menatap mataku langsung.

“A-ada apa?”

“Kau, mau jalan-jalan?”

* * * * *

Pluk!

Entah batu keberapa yang aku lempar tadi, dan mungkin Sungra sudah kebosanan karena hanya menemaniku duduk-duduk di pinggiran Sungai Han tanpa keliling kemanapun. Jalan-jalan versi baru, mungkin.

“Op—eh, sunbae belum mau pulang?” dan entah sudah berapa kali juga dia bertanya padaku tentang hal yang sama. Aku juga bingung kenapa aku mengajaknya kalau ujung-ujungnya aku tidak mengajaknya mengobrol ataupun sekedar berkeliling pusat perbelanjaan di Seoul. Kalau dia mau pulang dari tadi, sudah aku suruh, tapi dia selalu menolak.

“Apa rumahmu jauh dari sini? Kau boleh pulang, kalau kau mau.” Dan dia kembali menggeleng, hanya tersenyum dan ikut melemparkan batu-batu kecil yang ada dan sesekali melemparnya sejauh mungkin.

Hampir pukul enam sore, warna langit sudah tidak terang lagi, angin yang berhembus juga sudah lebih dingin…dan aku belum berniat pulang sama sekali. Aku juga tidak menyalakan ponselku, toh tidak ada yang mencariku. Nuna melupakanku.

“Sungra-ssi, kau pernah menyukai orang yang jauh lebih tua darimu?”

“Eh?” aku kembali melemparkan satu batu ke sungai, tersenyum melihat matahari yang hampir tenggelam di sini dan bersiap pindah untuk muncul di belahan bumi lainnya. Pikiranku kembali tidak menentu, antara kesal dan rasa cinta yang tidak bisa hilang sampai sekarang terhadap nunaku.

“Kau pasti pernah. Baekhyun kan lebih tua darimu, hehehe.”

“Aniyo, aku dan Baekhyun sunbae tidak ada apa-apa.” Sungra terlihat panik, terlihat dari wajahnya yang tidak begitu senang saat aku mengatakan hal tadi. Apa mungkin Baekhyun yang mendekati yeoja ini dan belum diterima?

“Haha, santai saja. Aku rasa kalian berdua cocok.” Aku kembali diam dan membiarkan angin memainkan rambutku yang sudah mulai agak panjang. Sempat ingat kalau nuna sudah pernah menyuruhku untuk memotong rambut dan aku dengan manjanya meminta dia yang memotongkan. Jadi beginilah hasilnya, rambutku kacau, tapi tetap saja aku suka. Sangat suka malah.

“Aku mencintainya, Sungra-ssi. Sangat mencintainya. Aku tidak peduli dengan perbedaan umur yang kami miliki. Selama dia berada di sampingku, itulah namanya hidup untukku.” Aku menunduk, memandangi liontin kalung yang baru sekali ini aku keluarkan dari dalam pakaian sekolahku. Membiarkan orang lain untuk melihatnya.

Liontin ini spesial untukku, nuna yang membelikannya. Liontin berbentuk salib yang sebenarnya hanyalah T yang diberi hiasan sedikit dengan berlian biru kecil. Bukan, bukan itu yang membuat liontin ini spesial. Nuna membelikannya dengan uang gaji pertama yang dia terima setelah diterima bekerja di Arirang. Hebat, kan?

“Aku seperti ini karena takut, takut sendiri kalau nanti dia meninggalkanku untuk orang lain. Aku membutuhkannya, Sungra-ssi. Sekarang aku menyesal karena marah padanya hanya karena aku kesal sendiri, hehe.” Aku mengacak rambutku dan beralih untuk melihat apa yang dilakukan oleh Sungra. Eh, dia menatapku?

“Hei, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau suka padaku? Haha, bercanda.” Dan wajah Sungra langsung memerah. Ng? dia malu? Atau…a! mungkin kedinginan, yeoja dengan kulit putih sepertinya pasti pipinya mudah memerah kalau dingin atau panas.

“Kau kedinginan? Mau pakai jaketku?” aku mengeluarkan jaketku dari dalam tas, dari tadi tidak aku pakai karena aku malas. Baru saja aku ingin memakaikan jaketku pada Sungra, aku mendengar seperti ada orang yang meneriakkan namaku dari kejauhan.

“Taemiiiiin~!”

“Nu-nuna?” aku langsung berdiri dan menghampiri nuna yang berlarian ke arahku. Dia hanya memakai pakaian biasa dan tidak ada make-up sama sekali di wajahnya, bisa aku tebak dia sudah lama pulang bekerja.

“Nuna kenapa tahu aku di si—“ aku langsung diam saat nuna memelukku erat. Wangi melon yang berasal dari rambutnya kembali tercium oleh hidungku. Aku juga bisa merasakan lengannya melingkari leherku karena memang aku sedikit lebih tinggi darinya.

“Nuna mencarimu kemana-mana! Paman dan bibi juga khawatir! Kenapa kau matikan ponselmu?!” n-nuna menangis? Aku tidak salah dengar, kan? Ini isakan nuna, kan?

“N-nuna, mianhaeyo…” tidak ada jawaban. Nuna masih menangis dan memelukku semakin erat. Lee Taemin, kau namja terbodoh di dunia! Kau membiarkan orang yang kau cintai menangis seperti ini!

“Kita pulang, ne?” nuna menangkup kedua pipiku dengan tangannya. Tangannya saja bahkan sanggup membuatku jatuh cinta lebih dalam dengannya. Tidak bisa menjawab, aku hanya mengangguk dan mengikuti nuna berjalan menuju mobil…nya?

Aku masuk mobil yang juga dimasuki oleh nuna…tunggu, ini bukan mobil nuna dan kenapa nuna duduk di kursi penumpang?

“Rae-ya, dia adikmu itu?”

“Ne. A, Taemin-ie, ayo berkenalan dulu.” Nuna tersenyum pada laki-laki yang aku rasa pemilik mobil ini. Dari tadi aku penasaran siapa dia, dan seperti apa wajahnya. Kenapa nuna tersenyum terus padanya?

Aku mengulurkan tanganku dari kursi belakang, sedikit menegakkan tubuhku agar terlihat lebih tinggi dari posisi duduk namja itu. Namja itu menoleh, menampilkan wajahnya yang tersenyum walaupun terlihat dingin.

“Hei, sobat kecil. Cho Kyuhyun imnida. Kekasih nunamu.”

Mwo? Kekasih nuna?

Aku menjabat tangannya sambil menyebutkan namaku tanpa minat. Aku menatap nunaku yang sekarang menjitak kepala namja yang menyebut dirinya ‘kekasih nuna’ tadi sambil tertawa. Nuna protes dengan cara Kyuhyun itu memperkenalkan diri. Aku memerhatikan tatapan mata Kyuhyun itu terhadap nuna…aku tidak pernah melihat yang seperti itu. Di sekolah juga banyak pasangan kekasih yang sering menunjukkan kemesraan mereka yang tidak penting itu, tapi tidak ada yang menatap kekasihnya seperti ini.

Dia pasti sangat merindukan nuna…

Aku hanya bersandar di kursi dan memainkan jari-jariku secara asal. Memilih untuk tidak terlibat dalam obrolan mereka walaupun nuna sering mengajakku bercanda. Entah kenapa, niatku untuk mencari tahu siapa Kyuhyun itu lenyap. Bukan karena aku sudah berkenalan dengan orangnya, lebih karena…entahlah, aku juga tidak tahu.

Mereka berdua memang tidak menunjukkan kemesraan yang berlebihan, malah yang ada mereka saling melontarkan ejekan dan berdebat tentang kebiasaan masing-masing, walaupun didominasi oleh nuna yang protes tentang kebiasaan kekasihnya itu selama di luar negeri. Itu sebabnya aku memilih untuk tidak ikut obrolan mereka dengan alasan capek.

Aku tidak pernah melihat nuna sesemangat ini ketika berbicara semenjak…sekitar empat tahun terakhir. Saat itu nuna yang tidak begitu sering berurusan dengan internet menjadi seperti orang yang kecanduan dengan internet dan setiap saat melihat ponselnya walau pada akhirnya dia hanya menghela nafas dan kembali beraktifitas seperti biasa. Apa ini orang yang membuatnya seperti itu?

Saat melihat namja ini, aku sudah tidak percaya diri. Lihat wajahnya, dia..er…baiklah, aku akui dia tampan, dan dari hasil celingukanku di kursi belakang ini, aku menemukan jas putih dengan lambang salah satu rumah sakit nasional di Korea. Ck, pantas saja nuna ingin menikah dengan seorang dokter, kekasihnya memang seorang dokter ternyata.

Aku mengambil jas putih itu dan melipatnya agar terlihat rapi, sayang kan kalau tidak tertata seperti ini, pasti sulit untuk masuk ke rumah sakit sebesar…eh? Apa ini?

Aku mengambil kotak panjang bewarna coklat yang tadi tertutupi oleh jas putih tadi. Kotak sederhana yang di atasnya tertulis ‘Untuk Raena’ dan berhiaskan pita bewarna biru kesukaan nuna. Aku mendongak, memastikan bahwa nuna dan kekasihnya sedang tidak memerhatikanku dan masih fokus dengan obrolan mereka.

Aman, mereka berdua masih berkutat dengan dunia mereka berdua. Agak menguntungkan untuk sifat penasaranku karena aku ingin melihat apa isi kotak ini. Kalau berbahaya untuk nuna, aku kan bisa mengambil tindakan awal agar nuna tetap selamat.

Aku membuka kotak itu perlahan. Saat ujungnya terbuka, aku melihat ada sepasang kaki boneka gendut —mungkin— bewarna coklat. Semakin dibuka, semakin benar tebakanku kalau ini boneka, hanya saja boneka ini tidak gendut.

Ck, kalau sekedar boneka kucing bertuliskan ‘I Love You’ begini, aku bisa memberikannya untuk nuna. Boleh saja dia berpacaran dengan nuna sudah lama, tapi yang mengenal nuna luar-dalam hanya aku. Tunggu, dia masih jadi kekasihnya kan? Kalau begitu, apapun bisa terjadi…aku rasa.

Setidaknya, aku masih belum mau menyerah untuk mendapatkan nuna.

* * * * *

Aku masuk kamarku secara buru-buru setelah eomma dan appa membanjiriku dengan pertanyaan dan rasa khawatir mereka karena aku tadi sempat ‘menghilang’. Setelah minta maaf, aku langsung mengambil piring makan malam yang sudah disediakan untukku dan menaiki tangga lalu masuk kamar, tidak lupa dikunci.

Aku menaruh piring makanku di meja belajar dan langsung duduk di kasur. Tidak perlu ganti pakaian, malas. Aku membongkar tas sekolahku dan menemukan kotak coklat tadi. Ng…iya, aku mengambilnya.

“Ck, walaupun nuna suka boneka kucing, aku tidak yakin nuna akan suka boneka ini. Namja payah, jauh-jauh dari New York malah hanya membawa ini untuk nuna?” aku mengeluarkan boneka kucing itu dari tempatnya. Memutar-mutar boneka itu di udara dan baru sadar ternyata bagian yang bertuliskan ‘I Love You’ tadi sedikit lebih keras dari bagian yang lain.

Aku menoleh ke arah jendela, berjalan ke arahnya dengan perlahan sampai menuju balkon. Biasanya aku dan nuna senang berkumpul di sini, tapi sekarang kamar nuna terlihat sepi. Tadi aku sempat diajak untuk ikut makan malam bersama mereka, termasuk bersama kekasihnya itu, tapi aku menolak. Aku tidak mau melihat interaksi mereka lebih lama lagi, bisa pusing kepalaku.

Aku sedikit menunduk, di bawah kamar nuna adalah ruang makan keluarga mereka. Suara tawa Paman Kim sampai terdengar keluar, sepertinya mereka senang sekali kedatangan tamu namja itu.

“Nuna~ kenapa kau berpacaran dengannyaaaa~” aku menyelipkan kedua kakiku di cela-cela pagar pembatas balkon dan mengayun-ayunkannya secara bebas. Wajah nuna sempat terlihat dan sepertinya dia bahagia sekali walaupun makanannya diambil entah oleh siapa. Padahal itu daging asap kesukaannya, aku saja sulit minta ampun kalau ingin meminta daging asap itu darinya.

“Nuna kenapa menjadi kekasih orang lain~” aku mencubit-cubit pipi boneka kucing tadi dengan kuat kemudian memeluknya, membayangkan kalau itu adalah nuna. Bagian keras tadi membuatku agak canggung memeluk boneka ini.

“Boneka ini aneh!” bisa-bisanya namja itu memberikan boneka aneh pada nuna! Tindakanku mengambilnya memang bena—eh?

“Resleting?” aku meraba pinggiran bagian yang keras tadi secara perlahan, dan menemukan garis resleting kecil. Waw, ternyata boneka ini punya ruangan rahasia.

Aku membuka resleting itu perlahan, takut rusak. Lagipula siapa suruh membuat boneka aneh seperti i….

“Cin..cin?” aku mengeluarkan dua buah benda kembar beda ukuran tersebut dari dalam tempat aneh di boneka kucing itu. Cincin berwarna putih yang di bagian dalamnya terukir nama mereka masing-masing, ada berlian kecil yang tertanam di cincin ini. Sederhana, tapi…kenapa tiba-tiba aku jadi merasa bersalah sudah mengambil boneka ini?

Aku mencoba memasukkan kembali cincin itu ke tempatnya semula sebelum sesuatu yang sama berkilaunya dengan cincin ini dari tempat yang sama. Aku menarik benda itu keluar dengan hati-hati, takut kalau-kalau terjatuh dan aku tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan nuna kalau hal itu benar terjadi.

“Kalung?” aku mengamati liontin kalung ini, berhiaskan beberapa berlian kecil yang menjadi pemanis liontin berbentuk rumah kecil ini. Terdapat satu tonjolan kecil di pinggiran liontin ini yang aku pastikan adalah tombol, tipe kalung zaman kapan ini?

Klak!

Aku memerhatikan isi kalung tersebut. Bukan, bukan berlian atau permata yang ada di dalamnya, melainkan foto. Foto mereka berdua ketika masih SMA, lengkap dengan seragamnya. Ternyata hubungan mereka sudah sangat lama. Kenapa aku tidak menyadarinya?

Aku menaruh barang-barang itu ke tempatnya semula, menutup resleting tadi dengan hati-hati agar posisi barang di dalamnya tidak berubah. Boneka kucing itu aku letakkan di sampingku, aku biarkan memandangiku.

Ruang makan rumah nuna sudah sepi, aku rasa mereka sudah selesai dan berpindah ke ruang tamu.

Aku memegangi dadaku, merasakan ada yang sesak di dalam sana. Kesal dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Kesal karena nuna tidak pernah menceritakan kalau dia sudah punya kekasih, dan merasa bersalah karena…kalau aku tidak mengembalikan boneka ini, kemungkinan nuna bersedih akan sangat besar. Aku juga tidak tega dengan namja itu kalau dia tahu boneka yang berisikan niat masa depannya bersama nuna ini hilang. Dia pasti sudah menyiapkan semua ini sejak lama, terutama kemantapannya untuk menikahi nuna.

Tapi…aku mencintai nuna.

“Ais! Lee Taemin! Mana akal sehatmu!” aku segera mengambil boneka kucing itu dan berdiri, berlarian turun dengan cepat melewati eomma dan appaku yang sedang bersantai menonton televisi. Mungkin mereka tidak pernah melihat anaknya terburu-buru seperti ini selain terlambat ke sekolah.

“Taemin-a! mau kemana?!” teriak appa-ku. Tenang appa, anakmu ingin merelakan sesuatu sekarang!

“Mengembalikan masa depan orang!” dan dengan itu, aku membanting pintu hingga tertutup.

Nuna, mianhae, aku adik yang jahat.

* * * * *

Aku mengendap-endap saat memasuki halaman rumah keluarga Kim, rumah nuna. Aku juga tidak tahu kenapa aku mengendap-endap seperti ini, ais!

Aku melihat mobil kekasih nuna tadi terparkir di sebelah mobil nuna. Sekarang tinggal berdoa kalau mobil tersebut tidak dikunci.

“Aa kenapa dikunciiiii~!” aku berusaha membuka seluruh bagian pintu yang ada di mobil tersebut. Percuma, terkunci. Bagaimana bisa aku memasukkan kembali boneka ini?!

“Mencari sesuatu, Lee Taemin?” aku terpaku di tempatku saat mendengar suara yang tadi sore baru saja aku kenali. Kyuhyun itu. Mati aku!

Dengan cepat aku berbalik dan menyembunyikan boneka tersebut di belakangku. Aku tahu itu percuma karena pasti dia sudah melihat apa yang ada di tanganku ini, hanya saja tidak menutup kemungkinan kalau dia lupa, kan?

“Rumahmu yang itu, kan?” dia menunjuk rumahku yang tepat bersebelahan dengan rumah nuna. Aku mengangguk sebagai jawaban, entah kenapa tenggorokanku rasanya kering dan suaraku seperti enggan keluar ketika mendengar suaranya tadi.

“Taemin-a.” aku mendongak dan mendapati tatapan matanya yang tajam ke arahku. Dia tidak mengatakan apa-apa kecuali mengulurkan tangannya sebagai isyarat yang aku paham dengan sangat. Dia ingin aku mengembalikan bonekanya.

Aku menyerahkan boneka itu padanya…hei! Berhenti bergetar! Tangan bodoh! Kenapa kau ketakutan seperti ini?!

“M-mianhaeyo, hyung. A-aku tidak bermaksud—“

“Aku tahu. Tindakan yang wajar dilakukan oleh laki-laki yang sedang cemburu.” Aku semakin menunduk saat Kyuhyun hyung mengatakan hal itu. Dia tahu.

“Kau melihat isinya?”

“N-ne.”

“Kau tidak membuangnya, kan? Hehe.” Aku menggeleng dengan cepat dan mendapati cengirannya yang…membuatnya terlihat lebih tampan dari tadi sore. Tangan Kyuhyun hyung tidak henti-hentinya mengelus boneka kucing itu sampai akhirnya dia kembali memfokuskan perhatiannya padaku.

“Sebenarnya, aku tidak suka ada namja yang berusaha untuk mendekati calon istriku.” Aku bisa merasakan tatapan mengintimidasi darinya yang membuatku semakin takut. Hei, apa yang mau dia lakukan pada anak SMA sepertiku?!

“Saat dia bercerita tentangmu, jujur saja aku penasaran seperti apa rupa anak imut dan tampan yang selalu dia sayangi. Ternyata itu kau.”

“Aku memang tam—“ aku langsung menutup mulutku dengan tangan dan melihat Kyuhyun hyung mulai tertawa. Ais, kenapa kau tidak bisa menahan diri untuk tidak narsis sekali saja!

“Dan dia juga benar soal sifat narsismu.” Kyuhyun hyung mengacak rambutku cepat dan itu membuatku sedikit santai. Setidaknya dia tidak bertindak setegang tadi terhadapku.

“Dia mencintaimu…” aku tersenyum lebar saat Kyuhyun hyung mengucapkan hal tersebut. Nah, sudah jelas kan kalau nuna lebih mencintaiku daripada di—

“…sebagai adiknya.” Eh?

“Dia adalah anak tunggal, sama sepertimu. Dia pernah bercerita kalau saat kau lahir adalah saat-saat yang paling dia tunggu, karena merasa akan punya adik. Orangtua Raena sudah terlalu tua untuk mempunyai anak lagi, itulah sebabnya dia sangat menantikan kehadiranmu di dunia ini.”

Aku menunduk lagi. Memikirkan apa yang Kyuhyun hyung bicarakan. Benar, usia Paman dan Bibi Kim saat menikah memang sudah tidak muda, Raena nuna adalah anak mereka ketika mereka menginjak usia sekitar tiga puluhan lebih. Aku tahu hal ini dari appa.

“Karena aku akan menikahinya, otomatis aku harus meminta restu dari orang-orang yang mempunyai hubungan dengannya, dan itu termasuk kau.”

“Eh? Kenapa aku juga?”

“Karena Raena menyayangimu. Kau yang menemaninya dan membuatnya tidak terus bersedih saat aku berada di New York. Aku berhutang banyak padamu, Taemin-a.” Kyuhyun hyung menyentuh bahuku, membuatku mendongak dan —sekali lagi— berhadapan dengan matanya.

“Aku tahu kau mencintainya bukan seperti adik kepada kakak, tapi…maukah kau mengizinkanku untuk menikahinya?” kali ini tatapannya lebih lembut, lebih memohon dan tidak ada keraguan sama sekali yang aku lihat. Apa dia sangat mencintai nuna? Lebih daripada aku yang juga merasakan hal yang sama terhadap nuna?

“Tapi hyung, aku…juga mencintainya. B-bagaimana…ini?”

“Aku berjanji akan membuat Raena bahagia. Aku berjanji tidak akan menyakitinya. Itu yang juga ingin kau lakukan, kan?”

“N-ne, hyung.”

“Jadi, kau merelakannya bersamaku, kan?”

Aku tidak tahu kenapa namja ini meminta izin padaku untuk menikahi nuna. Aku tidak memiliki hubungan darah dengan nuna. Tapi aku merasa kalau tindakan namja ini tepat. Dia mengambil nunaku, milikku, tentu saja harus dengan izin.

Lee Taemin, pikirkan kebahagiaan nuna. Singkirkan semua rasa egoismu. Nuna sudah menetapkan hatinya pada satu orang sejak dulu hingga sekarang, Kyuhyun hyung. Nuna juga menetapkan hatinya untuk seseorang sejak ia lahir, dan itu aku. Kurang spesial apa lagi aku di mata nuna? Kenapa aku tidak pernah merasa cukup dengan hal yang seperti itu saja?

Aku menegakkan tubuhku, tersenyum ke arah Kyuhyun hyung yang masih menatapku dengan tatapan penuh harapnya.

“Semoga pernikahan kalian lancar nanti, hyung.”

Hyung, aku percaya padamu untuk menjaga nunaku. Cinta pertamaku.

* * * * *

“Lee Taemin! Min-ie! Banguuuuunn!”

“Min-ie~ sayaaang~ adikku sayaaang~ banguuun~”

Aku menggeliat sekali lagi saat guncangan di bahuku terasa semakin kuat. Aaa aku pasti sudah mulai gila! Walaupun Raena nuna masuk di mimpiku semalam, bukan berarti aku jadi berkhayal kalau dia sedang membangunkanku?

“Kau mau bangun, atau nuna cium?” aku langsung membuka mataku lebar-lebar saat suara nuna tepat berada di samping telingaku. Tunggu, jadi tadi itu bukan mimpi?

“Nah, akhirnya kau bangun juga. Ayo, mandi lalu bersiap-siap sekolah, nuna dan Kyu—“

“Siapa?” nuna spontan menoleh ke arahku sebentar sebelum kembali menyiapkan seragam sekolah dan merapikan meja belajarku.

“Ne, nuna akan mengantarmu bersama Kyuhyun. Kau sudah berkenalan dengannya kemarin, kan?” nuna menaruh seragamku di atas kasur dan beralih ke tumpukan selimut, melipatnya hingga kembali rapi sehingga aku terpaksa berdiri dari kasurku.

Jadi, Kyuhyun hyung sudah datang ke sini pagi-pagi? Oh, mungkin dia ingin mengantar nuna bekerja, tapi karena nuna biasa mengantarku sekolah, jadi dia menawarkan diri untuk mengantarku juga, mungkin begitu.

“Nah, ini handuk dan sera—“

“Nuna.” Aku menghentikan gerak tangannya yang baru saja ingin menyerahkan handuk dan seragam padaku. Nuna menatapku bingung karena baru pertama kali ini aku memotong kata-katanya. Maaf nuna, aku harus menghindarimu dulu hari ini.

“Taemin-a? kenapa?” nuna menyentuhkan punggung tangannya di dahiku. Bisa aku rasakan perasaan nyaman itu bertambah dan rasa hangat itu juga berkumpul di dadaku. Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan semua perasaan yang aku miliki untuk nuna berkumpul ketika aku menyentuh telapak tangannya yang masih di dahiku.

Kalau nuna sudah menikah nanti, apa tangan ini masih akan sehangat ini untukku? Apa nuna akan melupakanku?

“Taemin?” baiklah, saatnya membuka mata dan menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa nuna adalah yeoja tercantik dan aku sangat mencintainya…sebagai adik. Harus sebagai adik.

“Nuna, aku…pergi ke sekolahnya sendirian saja, hehehe.”

“Eh? Waeyo?”

“Sudah lama tidak naik bus~ ayolah nuna, boleh kan?” aku mengeluarkan jurus andalanku yang tidak mungkin ditolak oleh nuna, aegyo. Nuna tidak pernah menolak semua keinginanku kalau sudah melihatku seperti ini, hehe.

“Aigo~ baiklah. Nanti nuna katakana pada orangtuamu, ne? nah, sekarang mandilah, nuna bersiap pergi dulu.”

“Nuna tunggu!” aku menarik tangan nuna yang hampir menyentuh knop pintu dan berhasil mendapatkan perhatian nuna lagi.

“Ne?”

Poppo satu detiknya beluuum~”

Dan nuna pun tersenyum. Senyum kesukaanku sejak aku mengenal apa arti sebuah senyum, kasih sayang. Nuna menyayangiku, begitu juga aku. Yang harus aku lakukan sekarang hanyalah melihat nuna bahagia dengan suaminya nanti.

Aku tidak perlu berhenti menyayanginya sekalipun dia sudah menjadi milik orang lain.

* * * * *

Aku menyandarkan kepalaku di jendela, bus ini berjalan tidak terlalu cepat dan itu membuatku merasa aman untuk menyandarkan kepalaku tanpa takut tersantuk.

Jarak rumahku dan sekolah cukup jauh, salah satu penyebab aku selalu di antar oleh nuna. Mungkin setelah ini aku harus memaksa kedua orangtuaku untuk mengizinkanku mengendarai motor sendiri. Akan sangat repot nanti kalau…kalau nuna sudah menikah, kan?

Aku baru melewati satu pemberhentian bus, masih ada dua lagi untuk mencapai sekolah dan aku baru tahu kalau naik bus di pagi hari itu sangat menyenangkan. Tidak terlalu ramai dan udara pagi yang masuk melalui jendela juga masih menyegarkan, berbeda dengan siang hari.

Pemberhentian yang kedua, aku menyingkirkan tas yang tadi aku letakkan di tempat duduk yang ada di sampingku, kalau saja nanti ada orang yang mau duduk, kan?

Aku memejamkan kedua mataku saat merasakan bus ini mulai bergerak lagi. Angin pagi ini terlalu enak sampai membuatku mengantuk, jangan sampai nanti aku melewatkan tempat pemberhentian karena tertidur.

“Sunbae?”

“Ng?” aku menoleh dan mendapati yeoja yang beberapa hari ini aku kenal karena selalu mengikuti Baekhyun, Sungra. Dia melihatku sambil tersenyum dan aku juga membalas senyumnya, tumben. Apa sudah diajari oleh Baekhyun untuk ramah pada semua teman pacarnya?

“Aku tidak pernah melihat sunbae naik bus, hehe.” Dia kembali menunduk dan merogoh tasnya, entah apa yang dia cari.

“Hanya ingin mencari suasana baru.” Aku bergeser sedikit agar tempat duduknya lebih luas. Maklum, aku sedikit ‘berkuasa’ di kursi ini tadi, hehe.

“Ah, ini jaket sunbae yang ketinggalan waktu itu. Terima kasih.” Aku tersenyum padanya sambil mengucapkan terima kasih. Aku bahkan lupa kalau pernah ingin meminjamkan jaket padanya.

Tidak ada percakapan lagi, mungkin dia belum terbiasa mengobrol dengan namja selain Baekhyun. Jadi, aku kembali menghadap jendela saja.

Pikiran tentang nuna kembali lagi. Apa yang sedang nuna lakukan sekarang…bersama Kyuhyun hyung? Ais, harusnya aku tidak usah memikirkan hal yang seperti itu lagi. Nuna pasti dijaga dengan baik oleh Kyuhyun hyung, jadi tidak perlu khawatir, kan?

Sebentar lagi sampai di sekolah, aku sudah merapikan letak tasku di punggung dan menegakkan tubuhku agar mudah segera berdiri. Sebelumnya, aku ingin menutup jendela ini dulu, anginnya jadi semakin ding—

“Eh?” aku menempelkan kepalaku di jendela saat sekilas seperti melihat mobil Kyuhyun hyung lewat, aku yakin dia bersama nuna. Mau kemana mereka? Bukankah kantor nuna bukan arah sini? Nuna selalu memutar setelah mengantarkanku. Sial, kenapa aku jadi penasaran?

Aku mendongak agar bisa melihat dengan jelas sejauh apa lagi aku akan sampai di sekolah, lalu menoleh ke arah Sungra yang tiba-tiba berkutat dengan bukunya saat aku menoleh ke arahnya tadi.

“Sungra-ssi, hari ini ada tugas? Atau ulangan?” dia terdiam sebentar. Oh, ayolah! Jawab dengan cepat!

“Ti-tidak ada, sunbae. Waeyo?” tepat dia selesai mengatakan itu, bus berhenti. Menandakan kalau sekolahku sudah berada sekitar dua meter dari pemberhentian ini dan kami –sebagai murid sekolah itu– harus turun dari bus ini.

Aku menahan tangan Sungra sebelum dia beranjak dari tempat duduknya. Sempat dilihat dengan tatapan heran, bercampur pipinya yang tiba-tiba memerah. Sudah aku putuskan, aku akan bolos hari ini.

“Sunbae? Kita harus turun di sini!” aku bisa melihat wajah Sungra yang sudah berubah menjadi panik sekarang. Bertambah panik saat bus menutup kembali pintunya dan kembali berjalan. Aku terpaksa harus membekap mulutnya agar tidak berteriak kepada si sopir untuk berhenti. Untunglah di bus ini tidak terlalu ramai, bisa disangka penjahat aku.

“Mianhae. Aku ingin bolos hari ini, hehe. Mau menemaniku?” aku juga bingung dengan pikiranku. Kenapa aku mengajak orang yang sudah jelas tidak tahu apa-apa tentangku dan nunaku. Aku hanya merasa…butuh seseorang sekarang.

“Mau…kemana?”

“Molla, kau ikuti aku saja. Tenang, aku tidak akan menculikmu.” Aku kembali duduk dengan tenang sedangkan Sungra mungkin sedang kebingungan sekarang. Biarlah, sekali-sekali bolos tidak mungkin membuat nilainya jelek kalau dia terus belajar dengan Baekhyun.

Saat berhenti di sebuah persimpangan, aku bisa melihat mobil Kyuhyun hyung yang berhenti di sebuah mini market, dan aku juga melihat Kyuhyun hyung yang baru saja keluar sambil membawa kantong kecil lalu masuk mobil. Ais, mereka mau kemana sebenarnya?!

“Sunbae, kita mau kemana?”

“Sebentar, diam dulu.”

Menghindari fakta bahwa aku tidak hanya menyayangi nuna, lalu berusaha berpikir agar merelakannya bersama orang lain…adalah hal yang paling sulit aku lakukan sejauh ini.

* * * * *

Aku memilih untuk duduk di bangku panjang yang ada di belakang –lebih tepatnya depan—sebuah pohon. Menoleh berkali-kali hanya untuk memastikan Rae nuna dan Kyuhyun hyung tidak berpindah lokasi dari tempat duduk mereka semula.

Jarak kami cukup jauh, tapi cukup dekat bagiku untuk melihat apa saja yang mereka lakukan.

Saat sampai di sini aku kebingungan. Mereka ini pasangan zaman dulu sekali, hanya bermain di sekitaran Sungai Han. Mungkin kalau pasangan masa kini, mereka lebih memilih mall, atau tempat modern lainnya.

Aku mengikuti semua kegiatan mereka di sini. Saat sampai, mereka hanya berjalan-jalan santai sambil mengobrol. Setelah itu, melihat anak-anak anjing yang mungkin berasal dari penampungan. Sedikit kesal dengan Kyuhyun hyung tadi, apa dia tidak tahu kalau nuna tidak suka anjing? Pencari kesempatan sekali! Bilang saja kalau ingin dipeluk nuna!

“Sial. Sial. Sial!” aku menendang batu yang ada di hadapanku dengan kesal. Melihat mereka bermain-main seperti itu berhasil membuatku iri setengah mati. Kenapa harus Kyuhyun hyung? Harusnya aku saja!

Aku menolak untuk menoleh ke belakang. Hanya akan menambah sakit hatiku saja, cukup tadi aku melihat nuna mencium pipi Kyuhyun hyung dan hyung membalas dengan mencium nuna di bibir. Is! Harusnya semua itu milikku!

Tunggu, sepertinya aku kehilangan sesuatu…

“Sunbae.” Aku menoleh ke kanan saat merasakan lengan seragamku di tarik. Sungra menyodorkan satu kaleng jus jeruk padaku dan langsung duduk di sampingku setelah aku menerima kaleng tersebut. Ah, iya, aku sampai lupa kalau aku mengajaknya tadi.

“Yeoja itu…siapa?” aku mengikuti arah pandangan Sunga ke belakang. Tepat ke arah nuna dan Kyuhyun hyung. Hyung sedang membujuk nuna untuk menggendong anjing kecil yang mereka pinjam tadi, dan berhasil.

Aku membuka tutup kaleng jus itu, lalu menyesap sedikit isinya sebelum menantap Sungra yang sepertinya masih penasaran dengan jawabanku.

“Dia? Cinta pertamaku.” Aku kembali minum, kali ini untuk menghabiskan semua isinya. Aku tahu kalau Sungra masih menatapku, entah apa yang dia pikirkan saat ini. Hanya saja, sepertinya dia kaget mendengar kata-kataku tadi. Hei, apa aku tidak boleh mempunyai cinta pertama?

“Kau tahu rasanya frustasi?”

“Eh?”

“Frustasi, kebingungan, dan cinta. Semuanya menjadi satu.”

“Aku…tidak mengerti, sunbae.” Aku menatap Sungra sekali lagi, menemukan raut wajah kebingungan sekaligus khawatir karena aku mengatakan hal yang pasti menurutnya aneh. Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap matanya sampai…aku tahu kenapa aku membutuhkan seseorang untuk ikut denganku hari ini.

“O-oppa! Kau… kau kenapa menangis?” dengan cepat Sungra mengaduk-aduk isi tasnya. Aku menunduk, menyembunyikan wajahku yang pasti terlihat sangat menyedihkan saat ini. Sial, harusnya aku tidak harus menangis. Harusnya aku bahagia kalau nuna merasa bahagia. Lee Taemin, kau tidak boleh begini!

“Oppa, ini, tisu, pakailah.” Aku mengusap kedua mataku dengan tangan cepat-cepat, lalu kembali mendongak dan tersenyum sembari mengambil tisu yang tadi diberikan oleh Sungra. Aku bisa merasakan elusan tangan seseorang di punggungku, Sungra. Lumayan membuatku kembali tenang dan berpikir jernih.

“Oppa, aku tidak tahu apa masalahmu, tapi…” dia menoleh ke belakang, lalu kembali melihatku, “…mungkin oppa harus merelakannya.”

“Ne.” pada kenyataannya, aku hanya mengiyakan di mulut, belum di hati. Aku sudah menyerahkan hidupku untuk nuna, bahkan cita-citaku yang sebenarnya ingin menjadi artis rela aku ubah untuk nuna tanpa nuna minta. Aku ikut kelas percepatan hanya untuk nuna, semuanya untuk nuna. Kenapa nuna tidak menyadarinya? Menyadari kalau aku mencintainya.

“Mungkin, dia bukan ditakdirkan untuk o—eh, sunbae.” Sungra menutup mulutnya dengan bungkus tisu yang dia miliki. Aku menoleh padanya, kenapa dia jadi salah tingkah sendiri? Ng…tunggu, dia tadi memanggilku apa? Oppa?

“Sebelum terlambat, mungkin sunbae bisa mengatakan padanya kalau sunbae menyukainya. Mungkin…sulit, tapi tidak ada salahnya, kan?” Sungra terus menunduk, memainkan jari-jarinya.

Aku memikirkan apa yang Sungra katakan tadi, mengatakannya pada nuna? Sudah sering, sangat sering. Ah, aku baru ingat kalau yeoja yang satu ini tidak tahu kedekatanku dengan nuna seperti apa.

“Ada nasihat lagi untukku?”

“Eh? Ma-maaf, aku terlalu banyak bicara, ya?”

“Aniyo, mungkin ada yang ingin kau sampaikan lagi setelah melihat keadaanku yang…yah, kacau seperti ini.” Sungra menatapku bingung sebelum akhirnya tersenyum sedikit padaku.

“Ada…aniyo, pasti ada yeoja yang mencintai sunbae, sama seperti sunbae mencintai cinta pertama sunbae itu,” dan wajahnya pun langsung memerah. Kenapa? Ckckck, yeoja ini membingungkan.

Hmm…mungkin, mungkin ada yang mencintaiku sekarang ini. Apa? Aku tampan, itu saja cukup membuatku dikelilingi yeoja setiap hari di sekolah dan membuatku kerepotan untuk menghindari mereka.

Aku menoleh ke belakang, melihat Kyuhyun hyung yang sedang merangkul nuna, entah apa yang mereka lakukan atau bicarakan. Yang bisa aku lihat hanyalah tangan Kyuhyun hyung yang tidak berhenti mengusap-usap lengan nuna, sesekali…mencium kening nuna.

Dari sini, aku bisa melihat kebahagiaan itu terpancar dari mereka berdua. Mereka…seperti merasa lengkap satu sama lain setelah sekian lama tidak bertemu. Membayangkan diri sendiri harus terpisah dengan orang yang kita cintai selama empat tahun lebih dan hanya bertemu sebanyak dua kali…aku tidak tahu semenderita apa nuna waktu itu.

Aku mengalihkan pandanganku dari mereka, kembali menatap yeoja yang berada di sampingku ini. Masih sibuk dengan dunianya sendiri mungkin.

“Hei.” Aku menendang kakinya agak kuat agar dia mengalihkan perhatiannya padaku. Hei, aku mengajaknya untuk menemaniku, bukan untuk melihatnya terus menunduk.

“N-ne?” berdasarkan apa yang dikatakannya tadi, aku pasti memiliki yeoja yang mencintaiku, hanya saja aku belum menemukannya, begitu kan maksudnya?

“Kau mau membantuku mencari yeoja yang mencintaiku itu, Sungra-ssi?”

Hidupku harus terus berjalan. Entah itu lurus, berbelok, atau bahkan tersesat. Aku hanya tahu kalau kebahagiaan nuna adalah segalanya bagiku dan yang selalu aku utamakan. Dengan datangnya Kyuhyun hyung, mungkin sudah saatnya aku mencari kebahagiaanku sendiri, dengan cara yang aku inginkan.

END

HAI! HAI! HAI! *tebar bunga* *benerin jilbab* *salamin semuanya*

Apa kabar? :”

udah lama ya saya nggak muncul, maaf, kena…semacam writersblock atau apalah itu namanya. Saya jadi agak males ngetik, padahal ide banyak, beneran loh, suer disamber Kyuhyun ‘_’v

FF ini udah ketanem lama di draft, cuma ya gitu, mandek, hehe .__.

mohon maaf sekali lagi kalo ceritanya kurang memuaskan, saya janji bakal ngegalih(?) rasa rajin saya lebih dalam lagi biar sering update FF ;;__;;

Kritik dan saran selalu ditunggu dari temen-temen semua 🙂

Oh iya! Selamat menjalankan ibadah bulan Ramadhan yaaa~ mohon maaf lahir batiiin ^^

Advertisements