Tags

, ,

Author : KimRae

Cast : Kyuhyun(SJ)/Raena(OC)

Other : Sungmin (SJ)

Genre : uhukromanceuhuk

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

*SJ’s Dorm, 11pm

Kyuhyun, sekali lagi mengusap dahinya dengan sapu tangan yang kemarin dia dapat dari fans-nya. Entah sudah berapa kali untuk hari ini dia merasa kepanasan. Setidaknya ketampanannya tidak menurun sama sekali, menurutnya,

“Kyuhyun-a, belum mau tidur? Kenapa tidak kau hidupkan saja pendingin ruangannya?” Sungmin, yang baru saja masuk setelah mandi –untuk kesekian kalinya– hari ini menatap Kyuhyun dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rapi, pikirnya.

“Eh? Lupa, hehehe.” Kyuhyun mengambil remote control pendingin ruangan di kamar mereka lalu menyalakannya. Membuat Sungmin berlarian

tepat ke bawah pendingin ruangan tersebut agar mendapatkan ‘angin segar’ sesegera mungkin. Sungmin menatap Kyuhyun sekali lagi, kali ini bukan hanya pakaian Kyuhyun yang menarik perhatiannya, tapi wajah pria yang sudah bersamanya sampai mendapat julukan KyuMin couple ini yang tidak berhenti cemberut.

“Ada apa lagi? Kita sudah menang di Music Bank, apa kau tidak senang?” Kyuhyun menoleh ke arah Sungmin, mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang daritadi menjadi penyebab wajah kusutnya saat ini.

“Tentu saja aku senang, hyung, tapi gadis genit itu yang merusak semuanya!” Kyuhyun menunjukkan ponselnya pada Sungmin, menampilkan rentetan pesan singkat antara Kyuhyun dan…gadis genitnya.

“Dia hanya mengatakan ‘apa’ lalu kau secemberut ini? Lalu apa hubungannya dengan dia menjadi gadis genit?” Sungmin menoyor kepala Kyuhyun kuat, membuat wajah dongsaengnya itu kembali berkerut. Hanya dia yang tahu watak gadis genitnya kalau hanya membalas pesan singkat menjadi lebih singkat, dan tebakannya selalu benar, biasanya.

“Aku mengiriminya pesan seperti biasa tapi dia hanya membalas seperti itu! Pasti dia sedang melihat video namja lain!”

“Lalu?”

“Ya…ya aku tidak suka.” Sungmin hanya tersenyum melihat tingkah dongsaengnya tersebut. Sudah lama Kyuhyun tidak bertemu dengannya. Mungkin semua perasaan yang dia simpan selama tidak bertemu berkumpul menjadi satu, cemburu. Cemburu yang tidak berasalan bagi Sungmin.

“Jadi, sekarang apa yang ingin kau lakukan?” Sungmin menunjuk kemeja Kyuhyun dengan telunjuknya. Meminta penjelasan atas rapinya pakaian yang dia pakai –hampir– tengah malam seperti ini.

“Bertemu dengannya, memangnya siapa lagi?”

“Kau pikir dia itu vampir? Setiap kau bertemu dengannya, pasti hampir tengah malam seperti ini, ckckck.” Sungmin berjalan menuju laci meja riasnya, mengambil kunci mobil dan melemparkannya pada Kyuhyun.

“Malam ini pakai mobilku saja.”

“Eh?”

“Sekalian sampaikan salamku pada gadis genitmu itu. A! Ingat, jangan menikah lebih dulu dariku, hehehe.”

* * * * *

Kyuhyun menekan bel pintu apartemennya berkali-kali. Tidak ada tanda-tanda ada orang sama sekali…tunggu, untuk apa dia menekan bel kalau dia terbiasa masuk tanpa izin terlebih dahulu kalau datang ke sini?

“Raena?” sesaat setelah masuk, Kyuhyun harus menyesuaikan matanya dengan suasana gelap di ruang depan apartemen itu. Kyuhyun meraba dinding di sebelah kanan pintu untuk menemukan tombol agar ruangan itu tidak gelap lagi.

“Nah, dimana kau sekarang, liliput?” Kyuhyun langsung mengunci pintu apartemen kembali dan melepaskan sepatunya, menuju ruangan favorit Raena. Kamar tidur.

“Raena?” tidak ada tanda-tanda gadis itu ada di kamar tersebut. Seluruh apartemen ini kosong tanpa ada pemiliknya. Kyuhyun kembali memastikan keberadaan Raena sekali lagi dengan mengecek semua ruangan, lagi. Bahkan kolong kasur milik gadis itu dia periksa.

“Ais, jinja!” Kyuhyun menjambak rambutnya frustasi. Tidak menemukan gadisnya dengan cepat adalah hal yang dia benci. Banyak hal yang ingin dia lakukan dengan gadis itu, entah apapun itu, asalkan bersama gadis itu. Kyuhyun tidak bisa memperkirakan kapan mereka bisa bertemu kembali jika jadwal padatnyaย  memiliki sifat yang posesif, padat.

Kyuhyun duduk di sofa ruang tamu, menyalakan televisi setelah mengambil air putih yang ternyata hanya ada satu di kulkas. Tidak ada makanan sama sekali yang tersisa. Gadis itu tidak mungkin menghilang lagi, kan?

“Tidak ada tanda-tanda dia habis menonton video.” Kyuhyun memerhatikan meja ruang tamu yang bersih dari cola ataupun popcorn, yang biasa menemani gadis itu menonton music video grup mana saja yang dia inginkan. Setidaknya dia salah kali ini, Raenanya tidak sedang menjadi gadis genit. Hanya saja, dimana gadis itu sekarang?

“Omo!” Kyuhyun langsung menoleh saat mendengar suara gadis yang daritadi dia cari. Raena melepaskan sendalnya dan menuju tempat Kyuhyun duduk, sambil membawa beberapa kantong plastik besar di tangannya.

“Kau mengagetkanku.” Kyuhyun berdiri, membuat Raena mundur agar tidak perlu mendongak untuk melihat Kyuhyun. Memang, tingginya hanya sebatas dagu Kyuhyun, ukuran yang tidak terlalu pendek menurutnya, tapi berbeda jika kau berhadapan dengan Kyuhyun.

“Dari mana saja kau?” Kyuhyun melihat tangan Raena yang masih membawa kantong-kantong plastik itu sebelum gadis itu meletakkan di meja. Satu hal yang Kyuhyun sadari setelah sekian lama tidak bertemu dengan gadis ini, dia memakai jepit rambut pemberiannya…beberapa minggu yang lalu.

“Berbelanja isi perut kulkas dan isi perutku, aku lapar.” Kyuhyun menahan tangan Raena sebelum gadis itu berjalan menuju dapur. Raena baru saja ingin protes ketika Kyuhyun merebut kantong plastik yang berisi makanannya kalau saja laki-laki itu tidak melakukan hal yang aneh, merentangkan tangannya lebar.

“Apa?”

“Kau tidak tahu maksudku begini?” Kyuhyun masih merentangkan tangannya, menunggu respon Raena yang jauh lebih lambat dari dugaannya. Hei, sebuah pelukan!

Raena memperhatikan Kyuhyun dari bawah sampai atas. Laki-laki itu masih sama, tidak berubah, hanya gaya rambutnya yang lebih membuatnya terlihat lebih baik dari pada waktu album ke-lima mereka. Raena tahu apa yang Kyuhyun inginkan, tapi…hei, bagaimana kalau menjahilinya terlebih dahulu? Setidaknya Raena tahu resiko apa yang akan dia dapat nantinya.

“Wow, kemejamu rapi, kenapa aku tidak menyadarinya daritadi?” Raena bertepuk tangan sambil menunjukkan senyum palsunya pada Kyuhyun, membuat laki-laki itu mau tidak mau bertambah kesal. Kesal yang pertama karena tidak menemukan Raena secara cepat, dan kesal yang kedua karena Raena sudah berani menjahilinya.

“Kalau begitu, makananmu untukku.”

“Ya! Aku la–”

“Kau payah.” Kyuhyun duduk, membuka bungkusan makanan cepat saji yang tadi dibeli Raena. Wajahnya cemberut –lagi– karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Apa susahnya memberinya satu pelukan saja? Yang susah itu melepaskan pelukannya, begitu pikirnya.

Raena hanya menahan senyumnya, tidak berniat menyerah pada keinginannya yang sudah sampai di ubun-ubun untuk memberi laki-laki itu pelukan. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu, hanya itu yang ada dipikiran Raena.

“Aku ke dapur dulu… a! Jangan habiskan makananku, aku mohon.” Raena cepat-cepat menuju dapur sambil membawa bungkusan belanjaannya yang lain. Mengeluarkan dua botol jus jeruk dan menaruh sisa persediaan makanan lainnya dalam kulkas. Setelah itu, Raena menuju kamarnya, mengambil satu-satunya boneka yang dia miliki, itu pun karena Kyuhyun yang memberikannya.

“Aku kemba–ya! Jangan yang burger!” Raena merebut bungkusan burger berharga miliknya dari tangan Kyuhyun, tepat sebelum laki-laki itu menggigit makanan yang paling Raena harapkan berada di dalam perutnya saat ini. Hal ini kembali mengingatkan Kyuhyun akan kebiasaan gadis itu, tidak ada daging sama dengan belum makan.

Kyuhyun memerhatikan Raena yang saat ini duduk di sampingnya, lebih tepatnya lagi duduk di ujung sofa sedangkan dia juga berada di ujung yang lainnya. Raena memangku Kiyu –nama bonekanya– lalu membuka bungkusan burger tadi dengan gembira, atau lebih tepatnya dengan seluruh rasa laparnya.

“Kalau kau lapar juga, kau boleh ambil yang kentang.”

“Kenapa tidak beli burger dua?”

“Hanya ada paket burger dengan kentang. Sebelum aku berubah pikiran, makan saja.”

“Tapi aku juga ingin burger.”

“Aku tidak tahu kalau kau akan datang. Ck, aku mau makan, jangan ganggu.” Raena mengambil remote televisi, menyalakannya dan menonton apa saja siaran yang ada. Acara malam hari, ralat, tengah malam apa yang bisa menarik perhatian?

“Gendut.”

“Biar.” Raena melanjutkan makannya. Membiarkan Kyuhyun untuk mengambil jatah makannya yang satu lagi dan mengambil sendiri jus jeruk yang tadi hanya diletakkan oleh Raena di meja tanpa dia tawarkan pada Kyuhyun.

Kyuhyun memerhatikan Raena sekali lagi. Cara makan gadis ini tidak berubah kalau sedang lapar, sangat cepat. Belum ada beberapa menit Kyuhyun memakan kentangnya, burger Raena sudah hampir habis.

“Burger itu kau makan atau kau sedot? Cepat sekali.” tetap tidak bergeming. Raena masih bersandar dengan santainya sambil menonton acara lawak untuk para orang tua yang kebetulan disiarkan saat ini, masih dengan sisa burger di tangannya.

“Kiyu mau~?” Raena mengangkat boneka itu hingga berada tepat di hadapannya setelah meletakkan bungkusan burger yang sudah tidak ada isi tersebut. Kyuhyun kembali menoleh dan menatap boneka kucing itu iri. Kebiasaan Raena yang lain yang kembali dia ingat, berbicara dengan boneka itu.

“Uhuk!” Kyuhyun memukul-mukul dadanya kuat saat merasakan kentang goreng yang dia makan masih dalam keadaan utuh masuk ke tenggorokannya. Penyebabnya? Dia melihat Raena mencium Kiyu, hanya itu.

“Ya!”

“Waeyo~? Dia ingin burger juga, makanya aku cium.” Raena kembali meletakkan Kiyu di pangkuannya, tersenyum penuh kemenangan saat Kyuhyun menunjukkan satu kelemahannya, Kiyu. Ada yang mengira kalau Kyuhyun mudah merasa kesal dan cemburu hanya karena sebuah boneka pemberiannya sendiri?

Kyuhyun meletakkan kentang gorengnya yang belum habis di atas meja, memilih untuk meminum jusnya saja untuk kembali melegakan tenggorokannya yang tadi tertimpa bencana. Raena sudah beralih dengan acara yang dia tonton, sesekali tertawa kecil karena lelucon yang dilontarkan dia rasa lucu.

Kyuhyun menatap boneka kucing yang ada di pangkuan Raena. Dari dia datang sampai saat ini dia belum mendapatkan perhatian Raena sama sekali, sedangkan boneka itu sudah mendapatkan ciuman, di bibir pula.

“A! Singkirkan kakimu!” Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan setelah meletakkan kedua kakinya di atas Kiyu, menimpa boneka kucing menyebalkan itu adalah hal yang paling dia tunggu-tunggu.

“Apa? Kakiku perlu istirahat, liliput.”

“Ck, kau menyebalkan! Singkirkan kakimu! Dia kesakitan!” Kyuhyun memerhatikan Raena yang sedang berusaha menyingkirkan kakinya dari atas Kiyu, yang otomatis juga berada di pangkuan gadis itu. Tidak bisa Kyuhyun pungkiri kalau dia senang melihat gadisnya itu menyentuh salah satu bagian dari tubuhnya sekarang, walaupun bukan pelukan.

“Ng, aku juga merindukanmu.” Raena menghentikan usahanya untuk menyingkirkan kaki Kyuhyun, beralih menjadi menatap wajah Kyuhyun yang sedang menunduk dan menolak untuk melihat wajah Raena langsung.

“A-aku tidak mengatakan kalau aku merindukanmu. Aku bilang kau menye–”

“Ne, aku… aku juga sangat merindukanmu. Kau mengerti maksudku, kan?” kali ini Kyuhyun menatap mata Raena, membiarkan dirinya jatuh cinta sekali lagi pada gadis ini. Raena juga tidak bisa berbohong kalau dia merindukan Kyuhyun, seperti apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.

Mereka berdua diam. Hanya Kyuhyun yang membuat posisinya semakin nyaman –termasuk posisi kaki– dan bersandar menggunakan bantal yang ada di sofa. Raena berdehem beberapa kali, sekedar untuk menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba dia rasakan. Tangannya kali ini tidak lagi mendorong-dorong kaki Kyuhyun dari pangkuannya, hanya meletakkannya begitu saja.

“K-kakimu pegal?”

“Ng.” dan dengan jawaban itu, Kyuhyun merasakan kakinya disentuh oleh tangan Raena, mendapatkan pijatan yang menurut Raena bisa membuat kaki Kyuhyun lebih baik.

“Raena-ya?”

“Ne?” Raena tidak menoleh, masih melanjutkan apa yang tangannya lakukan. Namun Kyuhyun tahu kalau gadis itu sudah seratus persen mendengarkannya dengan serius kali ini.

“Kau ingat tepatnya kapan kita mulai berpacaran?”

“Eh?” Raena menatap Kyuhyun heran, lebih heran lagi dengan pertanyaannya. Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu? Raena kembali mengingat-ingat kapan tepatnya mereka mulai memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih, tapi…nihil. Raena tidak ingat sama sekali.

“Aku tidak ingat, maaf.”

“Sama, aku juga.”

“Lalu kenapa kau bertanya?”

“Aniyo. Hanya ingin memulai pembicaraan denganmu, tapi aku bingung, hehe.” Kyuhyun menggaruk tengkuknya, merasa bodoh dengan pertanyaannya sendiri. Tapi akan lebih bodoh lagi kalau dia menanyakan kabar gadis itu, pikirnya.

“Aku hanya mengingat kalau kita sudah melewati tiga kali tahun baru, hehe.” Raena mulai memijat telapak kaki Kyuhyun. Berbekal ilmu terapi yang pernah dia pelajari lewat alat kesehatan milik Jinjoo –manager restoran tempatnya bekerja– cukup membuatnya yakin kalau Kyuhyun tidak akan merasakan pegal lagi.

Kyuhyun memejamkan matanya, sekedar untuk merasakan sensasi yang diterima oleh kakinya karena sentuhan gadis yang selama –entah selama apa– ini sudah mau menemaninya. Menerima semua gosip yang ada, mau menerimanya setiap tengah malam ketika laki-laki itu merasa kelelahan, dan…mau berbagi makanan dengannya. Tentu saja ada banyak hal yang membuat Kyuhyun masih mau bersama Raena, hanya saja tidak bisa dia jelaskan satu per satu.

“Oh, selamat untuk kemenangan kalian hari ini. Penampilan kalian tetap saja luar biasa.”

“Kau menonton? Kau ada di sana?” Kyuhyun menyingkirkan kakinya, sedikit membuat Raena terkejut tapi langsung menyesuaikan diri.

“Aniyo, aku hanya melihat timeline di twitterku. Aku tidak sempat ke sana, pekerjaanku di restoran semakin padat kalau sudah masuk musim panas seperti ini, mianhae.” Raena memeluk Kiyu, memilih untuk menunduk daripada harus melihat wajah kecewa Kyuhyun karena mendapatinya tidak hadir lagi di acara musik yang mereka datangi.

“Ne, tidak apa-apa.” Suasana kembali canggung. Hanya ada suara orang tertawa yang berasal dari televisi dengan volume sedang. Kyuhyun menatap televisi di hadapannya dengan enggan, sekali lagi merasa bodoh dengan tindakannya yang tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya dia harus kembali mengingat apa tujuannya datang malam ini.

“Ng..hei.” Kyuhyun menyentuh pipi Raena dengan telunjuknya, membuat gadis itu susah menoleh dan memilih untuk tetap menunduk.

“Apa?”

“Nah, itu dia!”

“Eh? Apa, sih?” Raena berusaha menyingkirkan jari Kyuhyun dari pipinya dengan cara mundur, tapi percuma. Kyuhyun semakin menekankan telunjuknya ke pipi gadis itu hingga Raena terpojok di sandaran sofa.

“Sakit!”

“Tadi aku mengirimimu pesan, kenapa kau hanya menjawabnya dengan ‘apa’?”

“Kan aku sedang belanjaaaaa~” Raena mengembungkan pipinya, kesal dengan telunjuk Kyuhyun yang semena-mena terhadap pipinya. Bukan hanya pipi, tapi wajahnya.

“Oh, begitu? Hehehe.” Kyuhyun melepaskan jarinya dari pipi Raena, membuat gadis itu bisa kembali duduk dengan benar. Raena mengelus-elus pipinya yang masih terasa sakit, menatap Kyuhyun dengan tatapan paling penuh rasa sebal yang dia miliki. Mau balas dendam?

“Ha! Kena kau!” telunjuk Raena berhasil mendarat dengan mulus di pipi Kyuhyun yang tidak sempat menghindar. Raena melakukan hal yang sama, menekan pipi Kyuhyun sampai wajah Kyuhyun menyentuh sandaran sofa.

“Lagipula kau memanggilku ‘bocah liliput’ di pesan itu! Aku kan tidak sependek itu, Kyun-aaa~” Kyuhyun hanya tertawa mendengar rengekan kekasihnya ini. Sudah lama tidak mendengar gadisnya merengek seperti ini, pikirnya.

“Ahahaha, mianhae~” Kyuhyun kembali menyentuhkan telunjuknya di pipi Raena, hanya saja kali ini lebih lembut. Raena kembali diam, tidak tahu harus melakukan tindakan apa lagi selain tetap menempelkan telunjuknya di pipi Kyuhyun.

“Lihat aku~”

“Tidak mau.” Raena menunduk, menolak untuk menatap Kyuhyun secara langsung. Dia tahu, kalau dia menatap Kyuhyun kali ini, setelah perasaan rindunya berhasil terkumpul seperti ini, dia ragu kalau tidak akan menangis. Kesal, marah, dan cemburu adalah hal yang paling ingin dia rasakan sekedar untuk mengalihkan kerinduannya akan sosok laki-laki yang sudah beberapa tahun ini menemaninya. Merindukan seseorang yang entah kapan memiliki waktu senggang itu menyiksa.

“Aku memberikan Kiyu, agar dia bisa menggantikanku. Kau suka, kan?”

“Ngng~”

“Kau lebih suka aku atau Kiyu?”

“Kau tahu jawabannya.” Kyuhyun tersenyum, melepaskan telunjuknya kembali dan menarik tangan gadis itu ke arahnya. Mengisyaratkan agar Raena mendekat. Setelah gadis itu mendekat, Kyuhyun…tidak melakukan apa-apa. Hanya memerhatikan rambut panjang Raena yang menurutnya harus dipotong sedikit.

“Lebih suka aku atau Kiyu?”

“Ya kau tahu jawabannya, Kyun-a~”

“Aku tidak tau, Rae-yaaa~” Raena mendongak, menampilkan matanya yang sudah berkaca-kaca menahan airmatanya untuk tidak keluar. Satu pukulan kuat mendarat di bahu Kyuhyun saat Raena sudah tidak bisa membendung lagi airmatanya.

Kyuhyun kembali merentangkan tangannya, tersenyum melihat Raena yang kali ini secara terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Kyuhyun.

“Boleh aku mendapatkan pelukan sekarang?” tanpa banyak kata-kata lagi, Raena langsung memeluk Kyuhyun erat. Tidak ada suara tangisan sama sekali karena Raena hanya mengeluarkan airmatanya. Kyuhyun tahu kebiasaan itu…ah! Kebiasaan apa dari seorang Kim Raena yang tidak Cho Kyuhyun ketahui?

“Sekarang aku tahu jawabannya, kau lebih menyukaiku dibanding boneka kucing itu, hehe.” Raena hanya semakin menenggelamkan wajahnya di leher Kyuhyun. Melepaskan semua perasaan yang dia simpan selama ditinggal sibuk oleh laki-laki itu.

“Aku istirahat di sini, ne? Tapi tanpa Kiyu di kasur kita, mengerti?”

“Tidak boleeeeh~ nanti dia kedinginaan~” ucap Raena disela-sela tangisannya. Kyuhyun mengerti itu, dia hanya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak cemburu dengan boneka itu. Selalu boneka itu yang dipeluk, kali ini boleh kan kalau dia sedikit egois?

“Kita beri dia selimut nanti.”

“Ngng~” Raena mengangguk, kali ini setuju dengan rencana ‘jahat’ Kyuhyun terhadap boneka kesayangannya. Pengganti Kyuhyun, menurutnya.

“Mau poppo.”

“Tidak mau.”

“Poppoooooo~” Raena menggeleng di leher Kyuhyun, membuat laki-laki itu kegelian dan berinisiatif untuk menangkup kedua pipi Raena dan mencium gadis itu sambil tersenyum. Untuk apa meminta izin untuk mencium kekasihnya sendiri?

Ai ni hen duo.”

“Eh?”

“Ne? Hehehe. Ayolah, sudah malam. Khusus malam ini aku akan menggendongmu, semoga kau tidak bertambah berat, gadis kecil genit.”

“Arti yang tadi apa?”

“Rahasia.”

Ai ni hen duo, love you a lot.

Selamat malam.

*****

Advertisements