Title : My Winter

Author : KimRae

Cast : maunya Rae sama Kyu, tapi ya bisa siapa aja deh πŸ™‚

Genre : romance

Disini pov-nya si cewek ya πŸ™‚

* * * * *

Seperti biasanya. Awal musim semi tidak langsung dipenuhi oleh bunga-bunga yang cantik. Suasana musim dingin masih terlihat, terbukti dari bekas-bekas putih salju di jalanan yang belum hilang sempurna. Masih banyak orang-orang yang memakai mantel tebal mereka saat berjalan pagi-pagi seperti ini. Jalanan kota Seoul juga belum terlalu ramai, mengingat ini masih suasana liburan.

“Menunggu lama?” aku menoleh saat ada hawa hangat yang menempel di pipi kiriku. Dia mengenakan mantel hitamnya lagi dan tetap membawa dua cangkir kopi hangat kesukaan kami yang biasanya kami minum bersama di kursi taman sekitar sini.

“Tidak juga. Sudah mulai bekerja?” kami berdua berjalan berdampingan. Setelah aku mengambil satu cangkir milikku darinya, dia kembali menggandeng tangan kiriku agar tetap hangat saat bersamanya. Alisnya hanya terangkat sedikit sebagai bentuk jawaban atas pertanyaanku tadi. Aku tersenyum saat dia mengusap telapak tanganku perlahan. Dia selalu seperti itu, tidak pernah menyia-nyiakan hal-hal kecil saat bersamaku. Baginya, kebersamaan kami harus diiringi dengan kesederhanaan yang istimewa. Yang tidak mudah dilupakan.

Dia menunjuk salah satu kursi kosong yang ada di taman. Sedikit salju masih tersisa di sana dan dia langsung membersihkannya untukku.

“Duduklah.” Aku mengangguk, menurutinya.

Tidak ada obrolan seperti biasanya. Senyumnya juga tidak terlalu sering terlihat hari ini. Begitu juga denganku, agak berat rasanya mengetahui bahwa musim dingin sudah habis.

“Kopinya enak?” aku menoleh. Menatap matanya yang ternyata agak berair itu. Aku mengangguk, mencoba untuk mengusap kedua matanya, menyuruh untuk si pemilik mata itu memejamkan matanya agar tidak mengeluarkan airmata. Akan sangat menyakitkan jika harus melihatnya menangis untukku.

“Aku…ingin selalu kedinginan bersamamu. Tidak apa, asalkan bersamamu.” Aku menggeleng. Musim dingin kami tidak bisa diulang lagi. Kalaupun nanti akan ada musim dingin lagi, itu bukan musim dingin kami.

“Dia sudah pulang. Kembalilah. Kau baru mengenalku sebentar. Mungkin kau hanya merasa kesepian dan butuh teman.” Aku mengusap pipinya. Membiarkan tanganku menikmati hangatnya untuk terakhir kali.

Dia menggeleng kuat. Tangannya menggenggam tanganku lebih erat. Seakan tidak ingin menggenggam tangan lain dalam hidupnya. Inginku juga seperti itu, sayangnya itu sudah terlambat.

“Aku bisa merasakannya. Aku, aku mencintaimu.”

Aku memeluknya erat. Agak sesak memang, karena mantel. Tapi ternyata bukan hanya karena itu. Ada hal lain, perasaan ini.

Bisakah waktu itu diulang? Kalau bisa, aku tidak mau mengajarinya membuat tanda hati di kopinya waktu itu. Aku tidak mau menerima ciumannya setelah mencoba kopi buatannya sendiri. Aku tidak mau terjebak dengan tunangan orang, yang akan menikah seperti dia.

Musim dingin kami lewati bersama, semuanya kami lakukan agar kenangan kebersamaan itu tidak terlupakan. Menyenangkan bisa melewati salah satu musim yang paling aku takuti bersama orang yang aku cintai.

Aku kembali padanya, kembali memusatkan perhatianku padanya. Orang yang harusnya aku lepas, bukan aku tahan.

“Maaf. Kembalilah padanya, calon istrimu sudah menunggu.”

* * * * *

Advertisements