Tags

,

Title : Another Meeting

Author : KimRae

Genre : family?

Raena’s pov, in the morning~

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

* * * * *

*Jeju Island

Aku melirik jam tanganku untuk yang kedua kalinya. Menunggu di mobil lebih membosankan, makanya aku memilih untuk menunggu di depan pintu kedatangan bandara saja.ย Aku bersender di tiang bandara -agak jauh dari pintu- dan mendongakkan kepalaku sesekali ke arah pintu. Banyak sekali orang yang berkumpul membuatku sulit untuk melihat lebih jelas, dan aku malas kalau harus berdesak-desakkan seperti itu. Oh, iya, coba tebak siapa yang aku jemput.

Handphone-ku bergetar dan menampilkan nama orang yang sedang aku tunggu. Tidak perlu dijawab, lebih baik aku langsung ke dekat pintu dan mengangkat papan nama ini agar beliau melihatnya dengan jelas. Aku harap dia tidak lupa membawa kacamatanya lagi kali ini.

Di sebelahku saat ini berdiri seorang laki-laki muda, mungkin umurnya lebih muda dariku. Dia melambai pada seorang ibu-ibu yang baru saja selesai mengambil bagasinya, aku rasa itu ibunya. Pemandangan yang sama aku lihat di sekelilingku, semuanya menjemput keluarga mereka, ah, ada juga yang menjemput pacarnya, aku rasa.

Tak!

“Aaaw~” aku mengusap kepalaku cepat setelah terkena ‘serangan’ tongkat dari orang yang aku jemput. Beliau tertawa dengan suara berat khas milik kakek-kakek usia 76 tahunnya. Suara tawanya menyebalkan…

“Kim Raena, lama tidak bertemu dengan kakek?”

…tapi aku sangat merindukannya.

*****

Aku membantunya menuruni anak tangga -yang sangat banyak- ini secara perlahan. Beliau berulang kali menolak untuk aku papah, alasannya? Ya dia menganggap dirinya masih muda.

“Kek, aku bantu saja, ya? ya?”

“Kau fokus saja membawa tasku. Jangan cerewet.” Lagi-lagi harus mengalah dengannya. Setidaknya beliau masih bertumpu dengan tongkatnya dan tidak bertindak layaknya anak muda dengan menuruni anak tangga sambil menghisap cerutunya.

Pemandangan sepanjang menuruni anak tangga menuju penginapan kami tidak terasa melelahkan karena disuguhi pemandangan indah khas Jeju. Warna pantai dan juga bunga-bunga yang membuat pikiran tenang dapat membuat lelah yang seharusnya kami rasakan tidak terlalu terasa.

Aku masih mengikuti kakek dari belakang. Memerhatikan sosok tegapnya yang tidak pernah berubah dari aku kecil sampai sekarang. Pantas saja kalau dia masih bertingkah layaknya anak muda, badannya saja jarang sekali sakit. Paling parah hanya yang dulu, karena rokok.

“Hei, penginapan kita yang mana?” aku kembali memfokuskan perhatianku kembali ke kakek. Menunjuk salah satu pintu yang saat itu sedang terbuka. Seorang gadis berseragam baru saja keluar, mungkin kamar untuk kakek sudah selesai dirapikan.

“Itu, di sana. Masih tidak mau aku bantu?”

Tak!

“Aw! Kenapa di kaki?!”

“Kaki saja tidak benar. Mau sok membantu? Ckckck,” aku meringis kesakitan saat tongkat kakek memukul kaki kiriku yang waktu itu jadi ‘korban penanaman besi’ setelah kecelakaan. Dia mau menyiksa cucunya sendiri?!

“Sakiiit!”

“Biar kau tidak nakal lagi. Ayo, cepat! Jalanmu masih lambat?” senyum meremehkannya itu terlihat lagi. Ck, untung dia kakekku.

*****

Aku menaruh tas kakek di atas kasurnya dan mulai merapikan pakaiannya di lemari. Beliau kembali tidak bisa diam, berkeliling sekitar kamar dan tidak lupa memakai kacamata tebalnya untuk mengomentari tempat ini. Aku butuh sesuatu untuk menyumpal telingaku sekarang.

“Jadi ini kamarku?”

“Mana lampu baca?”

“Ck, selera warnanya terlalu cengeng.”

“Apa tidak ada asbak rokok di sini?”

“Kakeeeeeek~ apa tidak ingin istirahat? Berhentilah mengomentari ini-itu!” aku membaringkan diri di kasurnya. Aih, kenapa bukan aku saja yang menempati kamar ini? Kasurnya lebih nyaman.

“Raena.” Aku mendongakkan kepalaku saat kakek memanggil. Beliau duduk di pinggiran kasur dan meletakkan tongkatnya yang penuh ukiran kanji itu di sampingnya. Aku tertarik untuk mendekatinya, menaruh bantal di atas pangkuannya dan aku membaringkan kepalaku di atasnya.

Nyanyian khas anak-anak Belanda kembali beliau nyanyikan. Sama seperti dia me-ninabobok-kanku ketika aku masih kecil dulu, dan tidak lupa mengusap rambutku perlahan. Biasanya, dia akan melakukan ini jika kedua orangtuaku sedang sibuk, untuk menghiburku agar tidak menangis karena ditinggal.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Eh?”

“Setelah bertemu lagi dengan orangtuamu,” aku tersenyum, memainkan anak rambutku yang sekarang sudah lebih panjang dan menatap langit-langit kamar yang serba putih ini.

“Tentu saja senang. Tapi, kenapa kakek baru memberitahunya sekarang? Lama sekali aku tahunya.” Kakek mencubit hidungku, membuatku merengut dan beliau tertawa pelan. Aku memerhatikan wajah kakek, rasanya aku tahu dari mana eomma mendapatkan wajah cantiknya.

“Nanti saja kakek jelaskan, yang paling penting kau sudah bertemu mereka.”

Diam sesaat. Aku jadi berpikir lagi, bagaimana perasaan kakek sekarang. Eomma adalah anak kesayangan dari istri pertama kakek yang asli Korea, makanya wajahku berbeda sendiri dari sepupuku yang lain. Saat berita kematian eomma dan appa dia ketahui, aku tahu kakek waktu itu sangat sedih. Hanya saja waktu itu wajah tegasnya lebih terlihat menyeramkan bagiku.

“Kakek..”

“Ya?”

“Mau mengunjungi mereka?” kakek menatapku murung. Apa aku salah bicara?

“Kau ingin aku mati? Menuruni anak tangga tadi sudah membuat pinggangku seperti mau lepas. Ditambah lagi kau mau mengajakku naik tebing di atas sana? Anak nakal.” Dan serangan cubitan di lenganku pun dimulai. Yah, setidaknya beliau masih bertahan hidup, tidak berpikiran pendek untuk menutup dunianya karena kehilangan anak kesayangannya.

Ah! Aku jadi ingat! Ada yang ingin aku ceritakan pada kakek!

Aku pun bangun dan menghadapnya antusias. Kakek menatapku bingung dan aku semakin suka untuk menceritakan hal ini. Tentang Kyuhyun, tentunya.

“Kakek, waktu itu aku mengajak Kyuhyun untuk menemui appa dan eomma. Mereka sudah bertemu, dan sepertinya appa dan eomma setuju sa–aw!” aku mengusap keningku yang ‘dijatuhi hukuman’ berikutnya oleh kakek. Uh, sepertinya aku harus berlatih karate lagi agar kakek tidak seenaknya saja memukulku.

“Bawa dia padaku. Aku ingin tahu, siapa yang berani melarang cucuku untuk menjenguk kakeknya yang sedang sakit waktu itu.”

“Eh?”

“Kau yang mengenalkannya padaku, atau aku yang mencarinya sendiri, Kim Raena?” kata kakek sambil memainkan kembali tongkatnya. Informasi saja, tongkat itu multifungsi, kata kakek. Yang jelas, pukulan dari tongkat itu sangat sakit, contohnya ya kakiku ini masih berdenyut nyeri. Kalau dia tidak suka dengan Kyuhyun, bagaimana?

Oke, aku harus menghubungi laki-laki itu tentang hal ini.

Continued…?

Ng… halo? .__.

Ah, saya kangen wordpress saya, readersnya juga :’)
Mau minta maaf banget kalo udah lama banget nggak publish ff apa-apa, ng… saya udah nyiapin alasan buat ini kalo ada yang mau tau ๐Ÿ™‚

Pertama, laptop saya sering eror T_T entah apa penyebabnya, ini laptop kalo dibawa pulang baek-baek aja, pas nyampe di asrama lagi, dia ย mulai eror gak karuan, dan itu bikin males, banget, maaaaaaff~~

Kedua, beberapa ide udah ada, banyak banget malah, tapi ya itu, kayaknya selain karena laptop eror, saya kena writers block deh /^\

Ketiga, tugas saya tidak kenal ampun tidak kenal jemu tidak pudar-pudar TAT
tugas itu pasti ada dari senen sampe kamis, jumat? nyate emang, tapi nyiapin diri buat kuis Kanji sama Sejarah Jepang buat senin-nya ntar. Abis itu, presentasi… aaah kepalaku @..@

Bulan April ntar juga udah mulai UTS, dan bahannya itu gak maen-maen, keroyokan semua -____-

Jadi….. saya mohon maaf sebesar-besar-besar-besarnya sama readers semua ๐Ÿ˜ฅ

Kalopun saya publish ff, trus ceritanye geje, saya berhak dimarahin sama readers semua, saya rela, asal nggak nyinggung SARA *loh

Itu aja dulu deh, semoga kalian semua tetep setia sama dua per-ff-an, hehehe ๐Ÿ˜€

Makasih banyaaaak ^^

Advertisements