Tags

,

Title : So Jet Lag

Author : KimRae

Genre : romance lagi euy!

Cast : Kyuhyun/Raena(OC)

Theme Song #eaa : Simple Plan – Jet Lag

Haihaihai! Balik lagi dengan author pede nan rupawati iniiiii~ *ditimpuk *dilemparin busa(?)
Ada theme song-nya yah? ehehehe. nah, saran sih, nggak juga gapapa, tapi bagus loh, dengerin lagu itu dulu sebelum baca ini *ngarep* ><
FF ini terinspirasi sama lagu itu ples sama apa yang saya rasain sekarang, jet lag *melayang*
Oiya, di FF ini banyak percakapan teleponnya, semoga nggak bingung yah 🙂
Yowes lah, langsung ke TKP aja ^^

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

* * * * *

*10am, New York

Aku dan staff kantor lain membungkuk saat pimpinan rapat hari ini akan meninggalkan ruangan beserta rombongannya. Menyelesaikan presentasi hari ini dengan cepat adalah salah satu tujuanku. Setelah ini, kami bisa mendapatkan jatah istirahat agak panjang dibandingkan biasanya karena pekerjaan kami tidak terlalu merepotkan lagi.

Semua staff kembali ke ruangannya masing-masing sambil mengobrol menggunakan bahasa asal mereka dengan teman-teman mereka yang satu kebangsaan. Aku memang bekerja di perusahaan milik Korea, tapi letaknya yang di New York menjadikan perusahaan furniture ini memiliki banyak karyawan dari berbagai negara. Bahasa Inggris merupakan bahasa utama di kantor ini walaupun ini merupakan perusahaan Asia, setidaknya kami harus menyesuaikan diri.

Aku keluar dari gedung kantorku dan berjalan sendirian menuju restoran Korea langgananku yang ada di sini. Setidaknya aku bisa berbahasa Korea dengan bebas dibandingkan aku memilih untuk makan di restoran umum lainnya.

Saat sampai, aku memilih tempat duduk yang berada dipojok dan langsung dihampiri oleh pelayan di sini. Aku hanya memesan satu porsi bibimbab dan air putih. Pelayan itu mengangguk lalu berlalu, sempat bertanya kenapa aku tidak memesan soju seperti biasanya yang hanya aku jawab dengan senyuman.

Suasana New York disiang hari tidak ada bedanya dengan malam hari, ramai. Kendaraan berlalu-lalang dengan tertib, pejalan kaki berjalan dengan cepat, dan beberapa pengamen handal sedang mengadakan ‘konser’ kecil di pinggir jalan. Saat pesananku datang, memang ada yang berbeda. Tidak ada lagi soju saat aku ketahuan olehnya karena pernah menghubunginya via webcam di sini.

Aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan i-Phone 4 lamaku. Wallpaper bergambar kami berdua dengan latar Menara Namsan bersama kue ulangtahunnya, Desember tahun kemarin. Ya ampun, baru dua bulan dan aku masih belum bisa terbiasa jauh darinya.

Gadis itu, aku akan menghubunginya sekarang.

“Halo?” sudah dijawab, tapi kenapa tidak ada suara? Aku melirik jam tanganku, masih jam 10.30.

“Rae-ya? Baby, hello?”

“Aah jinja…” aku semakin merapatkan telingaku karena suaranya sangat pelan. Ah, ayolah, sudah dua bulan aku tidak menghubunginya karena sibuk!

“Good morni—“

“YA! Kau gila?!”

“Mwo?!” aku menjauhkan telingaku dan menyesal saat tertipu suara pelannya tadi. Kalau tahu teriakannya dari telepon sama menyakitkan dengan yang asli aku tidak akan mendekatkan telingaku tadi.

“Tengah malam lewat! Kau bilang ‘good morning’?!”

“Hei, di sini masih pagi.”

“Aku di Seoul, Cho Kyuhyun-ssi. Seoul. Korea Selatan, di benua Asia bagian timur, dan di sini sedang jam setengah satu, subuh. Kau lupa? Aah aku mau tidur lagiiii~”

“Ne, aku tahu. Tapi bukannya aku sudah mengirimimu SMS kemarin malam? Kau menerimanya pagi hari kan? Aku rela tidak tidur waktu itu!”

“SMS apa?! Aku tidak menerima SMS atau telepon sama sekali darimu! Baru hari ini kau tiba-tiba meneleponku tengah malam!”

“Tidak mungkin kau tidak menerimanya. Aku mengirimimu SMS agar kau tidak tidur saat malam di sana.”

“Aku tidak menerima SMS apapun kecuali permintaan untuk mendesain pakaian pengantin!”

“Oke, oke, baiklah. Kau membentakku saat mengantuk? Masih bisa? Hehehe…”

“Tidak usah ha-he-ha-he! Hari ini aku sangat lelah, dan harusnya aku terbangun nanti jam sembilan. Gara-gara kau—“

“Tapi kau suka, iya kan?”

“Menurutmu?”

“Hehehe, mianhae…”

“Ng…” kami berdua diam. Akhirnya, setelah dua bulan tidak mendengar suaranya karena kami sama-sama sibuk membuatku sangat merindukannya. Seoul dan New York terpisah benua, begitu juga dengan jam yang super berbeda.

“Boo…”

“Ne?”

“You say good morning when its midnight here, hampir setiap kali kita saling menghubungi. Hubungan kita lucu.”

“Aku masih belum bisa membiasakan diri. Kau juga seperti itu. Sebelum kita bertemu Desember kemarin, kau pernah mengirimi pesan selamat tidur saat aku baru bangun pagi. Padahal sudah—“

“Sudah dua tahun lebih.”

“Ya, dua tahun lebih. Hei, tidak apa-apa kalau kau melanjutkan berbicara denganku? Kau ingin istirahat kan?”

“Tidak apa-apa. Jarang-jarang kau punya waktu senggang. Besok juga rencanannya aku baru pergi ke tempat pengantin jam 10 pagi. Ah, apa yang sedang kau lakukan?” aku tersenyum. Dia merelakan waktu istirahatnya agar bisa berkomunikasi denganku. Dia sudah memahami kesibukanku, begitu juga sebaliknya.

“Bisa kau tebak?”

“Ng… sebentar. Makan siang? Benar kan?”

“Gadis pintar, hehehe. Kau? Sedang apa?

“Sedang meratapi waktu tidurku, hehehe, bercanda.”

“Bagaimana pekerjaanmu? Sepertinya bulan ini sangat sibuk. Ng… aku juga sih.”

“Sangat sibuk. Aku hanya heran kenapa banyak sekali orang yang ingin menikah bulan Februari ini.”

“Kenapa? Kau iri, hm?” aku mendengar dia terkekeh pelan, khas orang mengantuk yang tidurnya terganggu. Dia pasti sedang melihat cincin yang waktu itu aku berikan padanya sambil tersenyum.

“Ng… sudah ada yang mengajakku menikah. Tapi katanya bukan sekarang. Jadi, selama aku menunggu orang itu dipindah-tugaskan ke Seoul, aku mengurusi pernikahan orang lain saja dulu.”

“Aku harap orang yang mengajakmu menikah itu segera mendapatkan surat pindah tugasnya.”

“Ng, semoga.”

“Baby…”

“Ng?”

“Aku kadang berharap agar kita tidak terlalu jauh. Setidaknya, kenapa waktu itu bukan aku saja yang dipindahkan ke Tokyo? Aku masih merasa kesulitan kalau ingin menghubungimu. Kau tahu? Perbedaan waktu ini membuatku gila.”

“Aku juga.”

“Aku ingin melihatmu.”

“Skype?”

“Secara langsung, babobaby~”

“Aku kan pura-pura tidak tahu maksudmu tadi, baboboo~”

“Aku merindukanmu.”

“More than your buddies? More than your game? More than your wine? Aku ragu, Mr. Cho. Ahahaha.”

“Ya! Aku serius!”

“Me too. Dua tahun bahkan tidak bisa merubah segalanya. Aku terkadang masih menunggu teleponmu waktu akan makan siang.”

“Jangan katakan itu. Kau membuatku ingin kembali sekarang.”

“Mianhae…”

“Aku akan kembali padamu, secepatnya.”

“Tidak usah memaksa pimpinanmu lagi. Bagaimana kalau kau dipindahkan tambah jauh?”

“Araseo. Kau tenang saja.”

Boo…”

“Ng?”

“Aku—“

“Eiii jangan katakan duluan!”

“Jadi kau tidak ingin aku mengatakannya duluan? Bukannya kau selalu meminta aku mengatakannya duluan?”

“Lain kali saja.”

“Ck, tidak ada lain kali.”

“Tidak apa-apa. Tidak usah kau katakan juga aku sudah tahu kalau kau selalu mencintaiku, hehehe.”

“Percaya diri sekali.”

“Memang. Tapi aku harus selalu meyakinkanmu agar tidak pernah mencoba untuk berselingkuh.”

“Heiii kapan aku mencoba berselingkuh? Hahaha.”

“Jongwoon, Seunghyun, Hyukjae, dan masih banyak lagi laki-laki yang mendekatimu dan kau terima-terima saja mereka memperlakukanmu seperti ‘putri kerajaan’. Kau tidak mengatakan bahwa kau sudah jadi milik orang lain?”

“Calon milik, Kyuhyun-ssi, hehehe.”

“Ya!”

“Iya, iya. Hei, mereka itu hanya teman dekatku. Kau tidak perlu cemburu seperti itu.”

“Jangan main-main. Kau selalu membuatku tidak tenang di sini.”

“Kan kau bilang tadi sudah tahu kalau aku selalu mencintaimu? Kenapa harus tidak tenang? Baboooooh~”

“Tetap saja.” Aku berhenti bicara. Tidak ada jawaban lagi dari Raena. Saat dia mengatakan ‘babo’ tadi sepertinya dia menguap. Aku melihat jam tanganku lagi, sudah jam 11.30 di sini. Pasti dia sangat mengantuk.

“Baby?”

“Ah, mianhae, aku memejamkan mataku sebentar tadi, hhehe.”

“Tidak apa-apa. Tidurlah lagi.”

“Kau akan pergi bekerja lagi?”

“Tidak. Hanya saja kau pasti mengantuk. Aku tidak ingin mengganggu waktu istirahat orang yang aku rindukan.”

“Ng…”

“Jaljayo~”

“Ne, makan siang jangan lupa, jangan pakai soju lagi.”

“Iyaa, tidurlaah…”

“Bekerja dengan baik, istirahat yang cukup, kalau ketemu boneka teddy Mr. Bean jangan lupa lagi untuk membelikannya untukku~”

“Jangan mengigau. Tidurlah.”

“Hoaah~ masih Sembilan bulan lagi kau bisa kembali…”

“Tidak akan lama. Ketiga kalinya, tidurlah, Kim Raena-ssi.”

“Boo~”

“Dengar? Suaramu seperti orang mabuk, tidurlah.”

“I love you.” Aku tersenyum saat dia mengatakannya duluan dengan suara parau khas orang mengantuk. Setelah dia mengatakan itu, tidak ada suara lagi, aku rasa dia sudah terlelap sekarang.

“More than everything. Good night, baby.” Dan aku pun memutuskan sambungan telefon kami. Menatap bibimbab yang tidak terlalu dia sukai tapi akan tetap memakannya kalau aku yang menyuapi –walau dengan gerutuan- dan juga air putih yang selalu dia sodorkan padaku. Aku merindukan semuanya, lagi.

Waktu pertama kali aku ke sini dan meninggalkannya di Seoul, aku sering pesimis akan bertahannya hubungan kami. Selama itu juga sering terjadi salah paham karena kami belum terbiasa dengan perbedaan waktu yang lama, bahkan sampai saat ini.

Ah, aku jadi ingat kata-kata Raena tadi, katanya dia tidak menerima SMS ku? Padahal aku sudah rela untuk tidur tengah malam hanya untuk mengiriminya SMS agar tidak tidur dan aku ingin menghubunginya. Hanya jam-jam seperti itu dan jam-jam ‘keberuntungan’ seperti ini yang bisa aku gunakan untuk menghubunginya.

Aku membuka folder pesanku dan langsung mengecek bagian berita terkirim. Eh? Kenapa tidak ada?

“Aku yakin aku sudah—ya ampun, pantas saja.”  Aku tertawa kikuk saat mendapati SMS yang harusnya aku kirimkan pada Raena ada pada folder konsep yang artinya tidak terkirim sama sekali. Aku juga baru ingat ternyata aku ketiduran sebelum menekan tombol kirim.

Aigo, kenapa rasanya masih sulit sekali? Apa aku harus membiasakan diri untuk minum kopi?

* * * * *

mian kalo ada typo (_ _)
mian juga kalo kurang menarik T^T
dan mian juga kalo saya ngasal tentang folder pesan di i-Phone, saya sendiri nggak punya i-Phone XD
Mohon kritik dan saran ^^

Terima kasiiih 🙂

Advertisements