Tags

,

Title : Meeting

Author : KimRae

Genre : Romance, Family(dikit)

Cast : Kyuhyun(SJ)/ Raena(OC)

Jengjeng!
saya datang lagi (~=_=)~
kali ini dengan cerita palentin yang maksa dan yah begitulah, khas seorang Sonya yang geje *eh *nggading
pokoknya jangan terlalu ngarep cerita yang romancenya unyu ataupun bagus di sini, soalnya ya gitu, buatnya tengah malem dan otak saya lagi nggak fokus buat ini *kenapa dibuat?! *dilemparsendal
mohon maaf jika ada typo atau semacamnya~~ dan… cerita ini kurang lengkap *eh* tapi mungkin bakal ada cerita lain yg bisa ngelengkapin cerita ini *plak!

oke deh, Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

* * * * *

Pukul 11 siang. Raena yang sekarang berada di restoran menghampiri Chaekyo yang sedang bersantai di dapur, tidak ada pesanan lagi. Hari ini sebenarnya sudah pasti agak lembur, Valentine ini restoran tempat Raena bekerja menyediakan jjajangmyeon spesial agar orang-orang yang tidak memiliki pasangan dapat menemukan pasangannya di restoran mereka. Entahlah, strategi Jinjoo -si pemilik- sepertinya terlalu berlebihan.

“Chae-ya, aku pulang dulu. Sudah minta izin kok, hehhe.” Raena langsung masuk ke ruang ganti tanpa mendengar apa yang Chaekyo bicarakan. Dia langsung keluar dan sedikit mencubit pipi temannya itu agar Chaekyo tidak banyak bicara.

“Ya!”

“Ups! Hei, beri Sungmin oppa-ku coklat! Kau tidak ingin makan jjangmyeon lagi tahun ini kan? Annyeong!”

“Ya! Kembali kau!” Wajah Chaekyo memerah walaupun tangannya bersiap melempari Raena yang sudah lari cepat dengan panci. Mungkin Chaekyo harus meminta Sungra untuk membantunya membuat coklat untuk Sungmin.

*****

Satu tas jinjing kecil yang berisi baju sudah Raena letakkan di meja ruang depan agar tidak lupa untuk dibawa. Raena mengambil dua botol air mineral yang tadi dibelinya dan meletakkannya di samping tas.

Raena duduk di sofa depannya. Melihat semua barangnya yang tidak banyak itu dengan teliti dan juga mengeluarkan dua lembar tiket pesawat yang sudah dia beli jauh-jauh hari. Raena mengambil handphone di sampingnya, sambil melirik jam dinding yang ternyata sudah pukul setengah 12 lebih. Semoga Kyuhyun sedang tidak ada pekerjaan hari ini.

“Aku hubungi sekarang saja.” Raena langsung menekan tombol 5, menghubungkan ke nomor Kyuhyun dan membutuhkan waktu agak lama agar laki-laki itu menjawab panggilannya.

Ne? Yeobosaeyo?”

“Kyun-ah, kau di mana? Hari ini ada jadwal kerja?”

“O? Sebentar, aku cek dulu.”ย Raena mengangguk pelan, menunggu Kyuhyun yang mengecek jadwalnya sambil memainkan bulu-bulu karpet yang terasa geli di kakinya.

“Rae-ya? Masih di sana?”

“Ne. Bagaimana?”

“Hari ini aku kosong. Wae? Ingin bertemu?”

“Bisa datang ke bandara jam dua ini? Tidak usah bawa banyak barang, bawa satu set pakaian saja cukup, oke?”

*****

Kyuhyun menurunkan tudung jaket miliknya dan memilih berbalik menatap dinding bandara saat banyak orang yang berlalu lalang di dekatnya. Dia masih di pintu luar bandara, menunggu Raena yang katanya sebentar lagi datang.

“Hei, menunggu lama?” Kyuhyun tersenyum lega saat akhirnya Raena sampai, dan ย bisa menemukannya. Kyuhyun hanya menggeleng pelan, meletakkan tangannya pada pinggang Raena dan memeluk gadis itu erat.

“Kyuhyun-ah~”

“Biarkan saja dulu seperti ini. Sekalian aku menyembunyikan wajahku, hehehe.” Raena hanya tersenyum dan mengusap punggung lelaki yang sedang memeluknya itu pelan. Kyuhyun membuatnya terbiasa ditinggal, dan sekali bisa merasakan kehadiran satu sama lain… terlalu sayang jika dilewatkan dalam waktu singkat.

“Kita mau ke mana?” suara Kyuhyun agak pelan karena wajahnya masih lengket di leher Raena. Laki-laki itu semakin menundukkan wajahnya, ada banyak orang yang melihat mereka sekarang. Berpelukan di dekat pintu masuk? Siapa yang tidak heran?

“Ke Jeju. Aku sudah membelikan tiketnya untukmu dan jangan protes. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu saat di sana.” Raena menjauhkan tubuh mereka dan segera menarik Kyuhyun untuk masuk, sebentar lagi keberangkatan mereka dan Raena tidak mau waktunya terbuang untuk mendengar ocehan Kyuhyun yang tidak terima dibelikan tiket tanpa sepengetahuannya.

Untuk hari ini, waktu akan berkali-kali lipat berharga bagi Raena.

*****

“Nah! Selamat datang di Jeju!” Raena merentangkan tangannya saat turun dari taksi yang membawa mereka dari bandara menuju sebuah desa yang letaknya agak jauh. Suasana pantai langsung menyergap begitu merasakan angin pantai yang tidak terlalu kencang dan juga tidak terlalu dingin.

Kali ini Raena membiarkan Kyuhyun untuk membayar taksi. Kyuhyun tidak akan membiarkannya membayar untuk yang kedua kali.

Kyuhyun membuka tudung jaketnya, tidak ada orang di sekeliling mereka. Hanya ada beberapa nelayan yang sepertinya sedang menyiapkan kapal-kapal mereka untuk melaut nanti malam. Kyuhyun menghampiri Raena yang sudah berada agak jauh di depannya dengan cepat, meraih tangan kiri gadis itu dan berjalan bersama ke sebuah tempat yang Raena tuju.

“Kau mau ke tempat siapa? Dari di pesawat tadi kau tidak menjawab pertanyaanku.” Raena tersenyum sebentar lalu melepaskan tautan tangan mereka. Gadis itu berlari ke arah sebuah rumah kayu kecil yang letaknya agak dekat dengan pantai. Kyuhyun bisa melihat seorang nenek yang keluar dari rumah itu dan merentangkan tangannya saat Raena mendekat.

Kyuhyun mendekati Raena yang masih memeluk nenek tadi, dia masih berpikir apa dia mengenal nenek ini atau tidak. Seingatnya Raena tidak pernah cerita kalau dia mempunyai keluarga di Jeju.

Raena masuk ke dalam rumah itu tanpa mengajak Kyuhyun, nenek tadi juga seperti tidak melihat kehadiran Kyuhyun di belakang Raena. Tujuan Raena membawa Kyuhyun ke Jeju? Entahlah, Kyuhyun sedikit malas memikirkannya. Dia hanya mementingkan bisa berdua dengan Raena di tempat sepi ini, entah apa yang akan mereka lakukan nantinya.

“Kyuhyun-ah!” Raena tidak lama berada dalam rumah itu, tapi sudah ada dua buket bunga mawar putih di tangannya. Di tambah satu kantong kecil berwarna coklat yang Kyuhyun tidak tahu apa isinya.

“Raena-ya, ini siapa?” nenek itu menunjuk Kyuhyun sebentar, Kyuhyun membungkukkan badannya dan tersenyum karena nenek itu juga tersenyum padanya.

“Ini? Dia penjaga pribadiku, hehehe.”

“Mwo? Penjaga? Ya! Aku pa–mm!” Raena membekap mulut Kyuhyun dengan tangannya dan langsung pamit sebelum nenek itu menebak siapa Kyuhyun. Setidaknya, tempat ini tahu televisi.

*****

“Ya! Kita mau ke mana?” Raena terus menarik tangan Kyuhyun untuk menaiki bukit dekat pantai yang tidak jauh dari rumah nenek tadi. Kyuhyun yang menenteng tas kecil miliknya sudah menggerutu sepanjang jalan tapi Raena sama sekali tidak menghiraukannya.

Raena melepaskan tangan Kyuhyun saat mereka sampai di ujung bukit yang di bawahnya merupakan tebing curam menuju pantai. Siluet matahari yang hampir seperti menyentuh air bisa terlihat dengan jelas karena juga memantulkan bayangan mereka dengan sangat indah.

Raena berjalan menuju ujung tebing. Kyuhyun tidak berlari mengerjar Raena, setidaknya Raena tidak akan pernah berpikir untuk bunuh diri apalagi di depannya. Gadis itu menghampiri dua batu yang berbentuk persegi panjang, menghadap matahari terbenam langsung.

Kyuhyun mendekati Raena, berdiri di samping gadis itu dan baru tahu bahwa dua batu itu adalah batu nisan.

“Mom, Dad, i’m here.” Kyuhyun menoleh cepat ke arah Raena yang entah sejak kapan sudah duduk bersimpuh dan menundukkan kepalanya dalam di hadapan kedua nisan itu. Bahasa Inggri Kyuhyun memang belum lancar, tapi kalau sekedar ‘mom’ dan ‘dad’, Kyuhyun lebih dari tahu artinya.

“Rae-ya, ini…”

“Appa, eomma. Hei, beri salam pada mereka.” Kali ini suara Raena agak serak. Spontan Kyuhyun ikut bersimpuh dan menunduk memberikan salam pada dua orang yang selama ini ingin sekali dia temui walaupun Kyuhyun sudah tahu kedua orang itu telah tiada. Kyuhyun hanya tidak menyangka akan gugup walaupun yang dihadapinya bukanlah hal hidup lagi.

“A-annyeonghaseyo.”

“Tidak usah segugup itu, hehe.” Raena menyenggol lengan kiri Kyuhyun yang berada di sebelahnya. Gadis itu kemudian meletakkan buket mawar putih dimasing-masing nisan kedua orangtuanya.

“Aku malas pakai Bahasa Belanda, boleh aku memakai Bahasa Korea?” Kyuhyun hanya memerhatikan Raena yang sedang berbicara. Memang tidak akan ada balasan, hanya saja raut wajah Raena yang sangat gembira itu menarik Kyuhyun untuk memerhatikan gadisnya lebih lama.

“Berapa tahun aku tidak melihat kalian? Sudah lama sekali, kan? Appa, aku harap kau sudah belajar Bahasa Korea dengan eomma, hehehe.” Dan Kyuhyun melihat mata gadis itu berair. Belum menangis, hanya berair, dan Kyuhyun sudah menyiapkan dirinya untuk menjadi sandaran jika nantinya diperlukan.

“Apa kalian sedang berduaan di sana? Merayakan hari ini berdua saja? Tidak mau mengajakku?”

“Ah, aku membawa coklat koin yang dulu selalu kita makan bersama. Ayo, makan bersama.” Raena ย meletakkan dua coklat lain di depan batu nisan kedua orangtuanya.

Raena membuka bungkus satu coklat koin miliknya dan menyodorkan coklat itu di hadapan Kyuhyun, bermaksud menyuapinya.

“Tradisi kecil keluargaku, makanlah.” Kyuhyun membuka mulutnya yang terasa kaku. Entah kenapa suasana sekarang sangat tidak mendukung untuk sekedar menghibur Raena agar tidak sedih, dan Kyuhyun hanya melahap coklat koin itu perlahan.

Raena membuka satu bungkus lagi. Kali ini bukan untuk Kyuhyun, melainkan untuk dirinya sendiri.

One coin for one family, for one love, for–“

“Rae-ya…” Kyuhyun memeluk Raena yang menangis sebelum memakan coklatnya. Tubuh gadis itu bergetar saat Kyuhyun mengusap rambutnya penuh sayang. Kehilangan kedua orangtuanya sekaligus, tentu saja membuatnya sesedih ini walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.

“Ssstt… jangan menangis.” Kyuhyun mencium kening Raena lama. Berharap Raena tenang dan tidak menangis lagi. Kalau tawa seseorang saja bisa menular, maka tangis gadis ini adalah hal yang paling berbahaya untuk Kyuhyun lihat. Kyuhyun tidak mau ikut mengeluarkan airmata.

“Eomma… appa…” Raena masih terisak, tidak bisa menghentikan tangisnya sendiri untuk sekarang. Kyuhyun menjauhkan tubuhnya, membersihkan airmata Raena yang terus keluar dan memberikan senyum terbaik yang dia miliki.

“Kau ini bagaimana? Bertemu orangtuamu malah menangis, senyum?” Kyuhyun menarik paksa pipi Raena dan membentuk senyum aneh di wajah gadis itu. Kyuhyun melirik dua nisan itu sejenak, memikirkan apa yang harusnya dia lakukan agar Raena tidak terlalu larut dalam kesedihannya.

“Hei, kau tidak mau mengenalkan aku pada mereka?”

“Eh? Oh, iya. Aku lupa. Eomma, appa, ini Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Entah dia ini pacarku atau siapa, kalian bisa menilainya sendiri dari perlakuannya padaku selama ini, hehehe.” Kyuhyun menyentik dahi Raena pelan lalu tersenyum. Dia berhasil.

“Ehm. Ng… aku harus memanggil mereka apa?”

“Terserah kau saja.”

“Ng… mom and dad? Hehehe.” Raena memukul bahu Kyuhyun kuat dan itu membuat Kyuhyun tertawa. Mungkin agak canggung baginya untuk menggunakan ‘mom and dad’ sebagai panggilan, tapi setidaknya dia mencoba.

“Mom. Dad. Kyuhyun imnida. Senang bisa bertemu calon mertuaku. Aku calon menantu kalian, mohon restui aku untuk menjada anak gadis kalian satu-satunya ini. Satu-satunya gadis manja merangkap mandiri yang berhasil membuatku lupa kalau aku Superstar saat bersamanya. Mohon bantuan kalian.” Kyuhyun menunduk dan melirik ke arah Raena yang hanya melongo saat Kyuhyun mengatakan kalimat panjang tadi.

“Kau ini apa-apaan? Melamarku lagi?”

“Kalau iya? Hehehe.”

Raena diam saja dan tidak melanjutkan menatap Kyuhyun. Laki-laki itu sudah membuatnya merasa nyaman sekarang, bahkan di hadapan kedua orangtuanya.

“Hei, kemarikan tanganmu.”

“Ng?”

“Ais, lambat.” Kyuhyun menarik tangan kanan Raena. Kembali menyelipkan benda putih berkilau yang sekarang sudah melingkar manis di jari manis Raena. Raena bahkan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, termasuk saat Kyuhyun menciumnya agak lama dan itu terasa lebih membahagiakan dari apapun.

“Kyu! Kau menciumku di hadapan mereka! Aku malu!”

“Biar saja! Mereka pasti tahu kalau kau sangat menyukai itu, hehehe.”

“Tapi tetap saja!”

“Peduliku. Nah, ayo menikah.”

Sore itu, mereka habiskan bersama di atas bukit. Satu hal yang ingin Kyuhyun lakukan sebelum melamar Raena lagi sudah tercapai. Bertemu dengan kedua orangtua gadis yang dia cintai. Bisa dia tenang sekarang? Atau…

“Kau belum bertemu kakekku, Cho Kyuhyun-ssi.”

Masih ada yang harus dia temui?

* * * * *

sudah saya bilang kalo cerita ini nggak fokus? *plak!

mohon kritik dan sarannyaaaahh ^^

*menghilang*

Advertisements