Tags

,

Title : Hello, You~

Author : KimRae

Genre : Romance geje -lagi- XD

Cast : Taemin/Sungra(OC)

Okeoke, another geje fic from meeh~~ agak nggak sinkron sama judul karena emang saya nggak pinter buat judul, hehhee ><

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

* * * * *

“Sungra-ya, belum pulang?”

“Ng, itu, aku menunggu jemputan. Kau duluan saja.”

“Tidak apa-apa? Ya sudah, hati-hati.” Jangmi melambai ke arahku dan langsung berlarian menuju motor yang dikendarai oleh ibunya di depan gerbang sekolah. Aku tersenyum saat ibunya membuka penutup helm dan tersenyum padaku sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan lokasi sekolah.

“Paman Cha di mana sih?” aku melihat jam tanganku lagi untuk kesekian kalinya. Sudah pukul enam sore, padahal aku sudah minta jemput dari jam setengah enam.

Aiiih, ini pasti gara-gara aku menjadi panitia acara ini. Acara tahunan sekolah yang mengadakan lomba antar kelas dan menghabiskan waktu -sekalian tenaga-ku sampai akhirnya aku selesai sesore ini. Walau aku suka minta jemput tapi aku tidak mau sampai merepotkan Paman Cha seperti ini. Paman Cha itu sudah berumur lebih dari setengah abad, pasti capek.

Hari semakin sore. Suasana sekolah juga sudah mulai menyeramkan, hanya ada satpam di depan sana yang menjaga sekolah 24 jam.

Aku memutuskan untuk ke depan gerbang. Kalau saja Paman Cha sebentar lagi sampai dan aku bisa langsung masuk ke mobil tanpa harus merepotkan Paman Cha untuk masuk di halaman sekolah.

Satpam sekolah sempat menanyakan kenapa aku belum pulang, dan aku jawab saja seadanya. Setelah menunggu beberapa lama, aku mendapatkan telepon dari Paman Cha bahwa ban mobil kempes dan dia tidak bisa menjemputku sekarang kecuali aku mau menunggu sekitar satu atau dua jam. Bukan kempes biasa, katanya.

Bahaya! Aku tidak tahu jalan pulang!

Selalu dijemput membuatku tidak memerhatikan jalan. Saat-saat pulang aku gunakan untuk tidur di mobil, jadi bisa dikatakan aku buta jalan–eh, tunggu dulu. Kalau tidak salah eomma pernah bilang kalau di dekat sini ada halte bus. Kalau ingin pulang, cari bus dari arah kanan menuju ke kiri. Apa aku ke sana saja? Mumpung haltenya tidak jauh, ah baiklah.

Aku merapatkan jaket yang tadi aku bawa. Selain dingin, hawa di sekitar sini juga tidak terlalu bagus untuk anak SMA sepertiku berjalan sendirian. Mobil memang banyak yang berlalu-lalang, lampu jalan juga sangat terang, tapi tetap saja aku sendirian di sini dan tidak tahu apa-apa kecuali menunggu bus dari arah kanan.

Aku duduk sendirian di halte sekarang. Tadi ada satu ibu dengan anaknya yang masih kecil, tapi mereka sudah naik bus duluan, dari arah kiri.

“Bus kanan, bus kanan, bus kanan~” aku mengucapkan itu berkali-kali seperti mantra. Berharap bus dari arah kanan muncul tapi daritadi tidak muncul. Sudah pukul enam lewat 20 menit. Kurang malam apa lagi coba? Ah, coba eomma dan appa tidak pergi ke Jepang.

Klontang!

Aku menoleh ke kanan saat ada suara kaleng yang lumayan kuat. Dari kejauhan aku bisa melihat rambut blonde-nya yang seperti… jamur itu bersinar di bawah sinar lampu jalan. Dia anak SMA juga, terlihat dari seragamnya walaupun seragam itu terlihat banyak tambalan sana-sini.

Aku memilih untuk duduk di ujung kursi karena anak laki-laki tadi duduk di sampingku. Sekilas aku lihat tadi dia seperti memakan sesuatu, permen karet mungkin.

“Sendirian?” aku menoleh ke arahnya, lalu melihat ke sekitar. Oh, tidak ada siapa-siapa? Berarti dia bicara denganku?

“Aku bicara denganmu loh.”

“Eh? Ng, i-iya.” Dia hanya mengangguk sebentar lalu kembali mengunyah permen karet miliknya. Apa dia juga menunggu bis?

“Kau orang baru ya?”

“Eh?”

“Iya, orang baru.” Maksudnya orang baru? Oh, jangan bilang dia ini anak sekolah merangkap preman? Wajah imut yang menipu.

“Bu-bukan. Aku siswa.” Aku menjawab pelan. Sepelan aku mengeluarkan tongkat lollipop kecil dari saku rok-ku yang aku yakini tidak akan banyak berguna jika orang ini macam-macam. Setidaknya aku bisa menusuk hidungnya dan berlari kencang.

“Hehe, kau takut ya? Wah, sepertinya aku harus ganti baju baru.” Aku melirik ke arahnya yang sedang menggaruk kepalanya sambil tersenyum. Aku bersikap sedikit rileks setelah melihat senyum itu. Aku rasa anak ini tidak berbahaya seperti yang aku pikirkan.

“Ng… kenapa kau ada di sini?”

“Memangnya ada yang salah kalau aku di sini?”

“Kau kabur dari rumah ya?” aku memerhatikan barang yang aku bawa. Hanya tas biasa dengan isi yang tidak banyak. Kenapa dia kira aku ingin kabur dari rumah?

“Aku ingin pulang, bukan kabur. Itu mungkin kau.”

“Wah, salah, hehehe.” Sok kenal, sok tahu. Anak ini tetap berbahaya.

“Kau… Sungra, kan?” aku menoleh cepat dan saat itu aku rasa aku terkena serangan jantung mendadak saking kagetnya melihat dia sudah berada di dekatku. Aku mendorong wajahnya dengan telunjukku kuat-kuat dan dia hanya tertawa keras sambil memegangi perutnya. Tidak lucu!

“Ahahhahahaha! Maaf, maaf~ Habisnya, kau seperti sedang mengobrol dengan penjahat. Hei, aku anak baik-baik kok, hanya seragamku yang tidak baik-baik, hehehe.”

“Kau menakutiku!”

“Ehehe, maaf~ Eh, tapi benar kan kau Sungra?”

“Memangnya kenapa kalau iya, kenapa kalau bukan?”

“Kalau bukan, ya maaf. Kalau iya, aku ingin kau bertanggung jawab.” laki-laki itu menatapku serius. Bertanggung jawab atas apa? Aku melakukan apa? Hei, aku ini masih SMA, tidak mungkin berbuat kriminal.

“Masih ingat tiang warung ramen yang kau tabrak? Itu warung milik pamanku.” Aku memegangi kepalaku sebentar lalu berpikir. Beberapa minggu yang lalu kalau tidak salah Paman Cha memang pernah tidak sengaja menabrak tiang sebuah warung ramen karena mengantuk. Aku yang berada di sebelahnya juga mengantuk dan tidak memerhatikan jalan. Bukannya sudah kami ganti rugi?

“Sudah kami ganti rugi. Kenapa kau yang minta ganti rugi?”

“Ckckck…” dia mengetuk-ngetukkan telunjuknya di keningku. Itu membuatku menjauhkan diri darinya walaupun tidak begitu jauh karena tempat duduk ini tidak terlalu panjang. Oh, aku lupa aku menunggu bus. Bus, cepatlah datang.

“Kau pikir aku tahu namamu setelah itu karena apa?”

“Peduliku.” Aku melengos. Orang ini tidak penting. Terlalu banyak berbicara dengannya mungkin sebuah trik hipnotis cara terbaru.

“Kau harus peduli, Lee Sungra.”

“Aku tidak mau peduli.” Orang ini tetap tersenyum. Memang lucu, wajahnya bisa kau ketegorikan tampan dan cantik sekaligus, tapi dia menahan tanganku untuk tetap berada di atas kursi ini!

“Karena setelah itu aku mendapatkan sesuatu yang menarik, mau tahu?”

“Aku. Tidak. Peduli. Lepas! Atau aku teriak?!”

“Aku ingin kau tahu bahwa sejak saat itu aku mulai menyukai kata ketiga dari kalimatku ini. Nah, cari jawabannya.” Setelah itu dia melepas tanganku dan berdiri. Dia mengulurkan tangannya sedangkan aku berpikir apa yang dia katakan tadi. Ei, otakku capek, dia suruh berhitung? Mana dia mengatakannya secara cepat.

“Mau pulang bersamaku? Tidak ada bus sejak kau pertama duduk di sini, hehehe.”

“Mwo?!”

“Aku tidak mungkin menculikmu, ayo!” aku ditarik paksa untuk ikut dengannya. Cukup shock dengan apa yang dikatakannya tadi tentang bus. Kenapa tidak dia bilang dari tadi?!

“Masih belum menemukan jawabannya?”

“Eh?”

“Eiii~ jawabannya ya, kau.”

“Aku?”

“Lee Taemin imnida. Senang bertemu denganmu lagi, Lee Sungra.”

* * * * *

Advertisements