Tags

,

Title : Be My Baby?

Author : KimRae

Cast : Kyuhyun/Raena

Genre : Romance geje XD

halooooo~~ ada yang mau cerita geje? nih, saya kasih *eh

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

* * * * *

“Excuse me, do you have tissue?” aku mendongak dan mengalihkan perhatian dari laptopku sejenak saat ada yang menyentuh pundakku. Seorang laki-laki yang wajahnya terlihat sembab duduk di sebelahku dan meminta tisu. Aku mengangguk, langsung merogoh tas kecil yang tadi aku letakkan di samping kiriku lalu menyerahkan satu bungkus tisu padanya. Mungkin dia sedang pilek.

“Thanks.” Aku mengangguk, sekedar formalitas untuk mengiyakan ucapan terima kasihnya tadi. Kasihan, tampan tapi ingusan? Penyakit memang tidak pilih kasih.

Aku kembali sibuk dengan laptopku. Oh, jangan kira aku ini sibuk dengan berkas laporan kantor atau tugas kuliah atau semacamnya itu, aku sibuk menyelesaikan level Angry Bird-ku, itu saja.

“Please, be my baby~ please, be my baby~” ini yang aku suka dari keadaan ruang tunggu bandara sepi. Setidaknya aku bisa bernyanyi-nyanyi pelan tanpa harus merasa malu kalau orang-orang sekitar melihat. Lagipula aku baru saja dapat kabar bahwa penerbanganku kembali ke Seoul ditunda selama satu jam lebih, jadi aku tidak perlu takut tidak mendengar pengumuman keberangkatan.

“Excuse me.” Aku menoleh ke kanan, laki-laki itu lagi. Untuk kedua kalinya, aku melepas headsetku dan memasang tampang ada-apa yang aku miliki.

“Kau, orang Korea juga?” Aku memang sempat berpikir laki-laki ini orang Korea, tapi aku takut salah tebak. Jadilah aku mengangguk dan tersenyum -lagi- agar dia tidak banyak bertanya. Hei, Angry Bird-ku menunggu!

“Ah, baguslah. Aku bosan jika harus sendirian di sini. Setidaknya aku tidak harus pakai bahasa menyulitkan itu. Kau tahu? Aku tidak terlalu menikmati jalan-jalanku di London ini, aku kira akan sangat menyenangkan…”

Aku hanya melongo memerhatikannya yang berbicara panjang lebar dengan orang yang baru pertama kali dia temui sepertiku. Aku hanya mengangguk saat sesekali dia melihatku dan terus bercerita tentang kesusahannya dalam berbahasa Inggris. Pantas saja saat meminta tisu tadi terasa sangat aneh.

“Ah, apa aku terlalu banyak berbicara? Ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Kyuhyun imnida.” Aku memerhatikan tangannya sejenak, dan memutuskan untuk menjabat tangan itu. Jari-jarinya panjang, sama sepertiku.

“Raena imnida.”

“Hei, aku seperti pernah melihatmu. Di mana ya?”

“Aku juga seperti pernah melihatmu.” Ya, muka orang Korea banyak yang sama, Tuan. Aku harap joke yang aku berikan tadi kau pahami. Oh, tolonglah, bukannya tidak suka bertemu dengan orang satu negara, tapi aku ingin bersantai menyelesaikan Angry Bird-ku tanpa celotehan panjang tidak penting darimu!

“Wah, jodoh! Hahahaha.” Aku ikut tertawa bersamanya. Yeah, jodoh, dari kepalamu.

“Kau sedang memainkan Angry Bird?” dia melihat layar laptop yang ada di pangkuanku, lalu mengangguk. Entah apa yang dia anggukkan, yang jelas aku mohon dia diam setelah ini.

“Raena-ssi, boleh aku memainkannya sekali?” Bagus. Setelah mengganggu acara bermainku, dia mau mengambil alih permainanku sekarang? Ruang tunggu bandara memang tidak pernah tenang seperti yang aku bayangkan.

“Tentu, silahkan.” Dia mengambil laptopku dengan muka bahagia. Aku kembali memasang headset-ku dan memutuskan untuk melihatnya bermain saja.

Ajaib. Aku yang terlalu bodoh bermain atau orang ini memang master game, dia bahkan tidak perlu mengulang level untuk mencapai lever berikutnya!

Ngantuk. Begini jadinya kalau tidak ada yang aku pegang. Daritadi hanya memutar-mutar playlist yang hampir semua lagunya sudah aku dengar lebih dari lima kali. Si Kyuhyun yang di sampingku ini juga masih asyik menyelesaikan bagian terakhir dari game-ku. Bahkan dia sudah minta izin untuk melihat-lihat game lainnya yang aku iyakan saja daripada nanti aku sendiri yang susah.

“Kau mengantuk? Bisa bersandar di sini, kalau kau mau.” Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Gila saja, bersandar dengan laki-laki yang belum ada satu jam aku kenal.

Mataku semakin berat. Aku melirik jam-ku sekilas dan tidak lama lagi jadwal penerbanganku tiba. Oh, aku merindukan Seoul… dan kasurku.

“Raena-ssi.”

“Ya?” dia mengembalikan laptopku dalam keadaan mati dan tersenyum sambil memasukkan laptopku ke dalam tas. Dia bahkan tidak bertanya apa itu memang tempat menyimpannya atau bukan, walaupun memang itu tempat menyimpan laptopku.

“Penerbanganku sekitar 10 menit lagi, bagaimana denganmu?” aku mengangguk singkat. Ingat? Aku ngantuk.

“Boleh lihat tiketmu?” tanpa basa-basi lagi aku menyerahkan tiketku padanya. Dia tersenyum samar sambil memerhatikan tiket milikku dan miliknya secara bergantian.

“Ada apa?”

“Tidak. Ayo, bersiap-siap.” Dia berdiri, mengulurkan tangannya padaku yang tidak aku tanggapi sama sekali. Dia hanya tertawa pelan karena itu. Wajar saja kan aku melakukan itu, apa maksudnya coba? Apa jangan-jangan orang ini maniak? Ih, menyeramkan.

“Hei, jangan jauh-jauh, nanti kau hilang!” Ingin sekali aku berteriak padanya agar menjauh dariku. Memangnya aku ini anak kecil?!

“Sudah aku bilang jangan jauh-jauh.” Dia menangkap tanganku dan menggandengnya dengan seenak jerawatnya saja. Aku semakin yakin kalau orang ini maniak.

“Kau tahu tidak? Aku heran kenapa aku berbuat seperti ini padamu, Raena-ssi.” Aku menoleh padanya dan memandangnya heran. Kami berdua berjalan bersama sambil tetap bergandengan tangan meskipun aku sudah meliuk-liukkan tanganku agar lepas, walau akhirnya berhenti aku lakukan saat masuk pesawat. Malu.

Kyuhyun itu tidak melanjutkan kata-katanya. Aku juga tidak berharap dia akan mengatakan apa-apa lagi. Mengikutiku sampai duduk di sebelah tempat dudukku pun dia lakukan. Tuhan, selamatkan aku. Aku tahu laki-laki ini sangat tampan, tapi kalau maniak? Jangan sampai aku kenapa-kenapa!

“Aku duduk di sebelahmu.”

“Aku bisa lihat itu.”

“Raena-ssi, aku lebih suka menamai pertemuan kita ini sebagai takdir, kau?”

“Aku lebih suka menamai pertemuan kita ini sebagai pertemuan.” Aku mengabaikan tawanya yang terasa sangat menjengkelkan di telingaku. Lebih baik segera memasang seatbelt, pasang headset, tidur.

“Aku akan mencarimu saat di Seoul.”

“Aku akan menghindarimu saat di Seoul.”

“Tidak ada yang bisa menghindar dari Tuan Cho.” Dia mengambil sebelah headset-ku, ikut mendengarkan lagu tanpa seizinku lagi. Lagu milik Wonder Girls kesukaanku sedang terputar.

Satu-satunya saat yang sedikit menyenangkan bertemu dengan orang ini adalah… mata kami saling bertemu, mendengarkan lagu bersama sambil melihat senyumnya, dan dia menyentuh hidungku dengan telunjuknya.

“Be my baby?”

* * * * *

Advertisements