Tags

, ,

~ First

~ Second

~ Third

Dan ini adalah yang keempat~! ^^
Ada yang nungguin cerita Untitled dengan judul nggak jelas ini? Hehhee >< kalo ada, maaf kalo update-nya lama banget T_T
Di epidose(?) kali ini, saya banyak nambahin support cast dari BB sama GB lain, biar nggak terlalu bosen ^^
Mohon maaf lagi kalo ceritanya maksa ato nggak jelas (_ _)

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

* * * * *

Badanku rasanya sakit semua. Bodoh! Kenapa pula aku pakai acara tertidur di mobilnya?! Menyebalkan!

Aku terus memijat-mijat kecil leherku yang rasanya seperti akan patah. Pekerjaan di kantor kembali menumpuk menjelang bulan baru, ditambah sebentar lagi akan menyambut tahun baru. Kalau kalian mau tahu, aku dan seluruh staff kantor baru saja selesai menghadiri rapat besar untuk menentukan apa saja yang akan kami kerjakan untuk menyambut tahun baru ini.

“Hei, kau tidak apa-apa?” Seungho –partnerku selain Jungseok- menyentuh pundakku dan membuatku menoleh padanya. Pria berambut merah bagian atas ini jarang sekali berbicara, hanya beberapa orang terdekat saja yang bisa berbicara leluasa dengannya. Jungseok yang sering berpasangan dengan Seungho dalam mengambil gambar saja masih tidak bisa membangun komunikasi yang baik.

“Seungho-ssi? Ah, aku tidak apa-apa.” Sedikit senyum aku tunjukkan padanya, mencoba meyakinkan pria ini agar tidak berwajah datar tapi terlihat khawatir seperti itu lagi, aneh.

“Kau yakin? Kau sudah sarapan?” sambil mengatakan itu Seungho melirik jam tangan miliknya dan kembali melihatku. Aku mengangguk cepat sebelum dia menanyakan hal-hal yang tidak penting lagi dan menunda ‘acara’ self massage-ku.

“Kau bisa memakan bekalku, kalau kau mau.” Seungho menyodorkan kotak makanannya yang… bisa dibilang –sangat- lucu untuk ukuran pria berotot sepertinya. Lagi-lagi aku menolak, dengan alasan yang masuk akal, aku sudah makan.

“Kalau begitu… maaf sudah mengganggu. Aku keluar sebentar.” Belum sempat aku menjawab, Seungho keluar ruangan, digantikan oleh masuknya Jungshin –anggota tim kreatif- dengan wajah sumringahnya. Oh, aku tahu, pasti usulannya diterima oleh Jangkwon sajangnim.

“Raena-ssi! Kabar bagus!” Jungshin, dengan rambut panjangnya yang tidak dia ikat itu berjingkrak-jingkrak di depan mejaku. Mau tidak mau aku ikut berdiri dan bertepuk tangan. Iya sih, aku belum tahu apa kabar bagusnya, tapi setidaknya melihat dahi Jungshin yang tidak berkerut seperti biasanya ini sangatlah menyenangkan.

“Siapkan tenagamu banyak-banyak karena kalian akan keliling Seoul! Haha!” entah karena terlalu semangat atau apa, Jungshin menepuk lenganku kuat dan dia tidak akan minta maaf kalau saja aku tidak menjerit kesakitan. Apa semua pria yang ada di sini lupa kalau aku ini perempuan?!

“Ehehe, maaf. Aku terlalu bersemangat ya?”

“Sangat.”

“Ah, baiklah. Langsung saja, pokoknya kau, Jungseok hyung, dan juga Seungho akan segera melaksanakan pekerjaan kalian!” aku mengangguk. Setelah itu, Jungshin dan aku hanya mengobrol sedikit tentang apa saja, tidak jelas lebih tepatnya.

“Eh, tumben kau tidak bersama bodyguardmu itu? Kemana dia?” aku mengernyit saat Jungshin menanyakan hal itu. Bodyguard? Aku ini bukan artis ataupun orang penting, sejak kapan aku butuh hal semacam itu?

“Maksudmu?”

“Kyuhyun itu. Anak bagian entertainment itu. Biasanya kan dia selalu bersamamu kemanapun kau pergi, sampai si Seungho—“

“Ya!” aku dan Jungshin kompak menoleh ke arah pintu masuk dan mendapati Seungho yang berjalan cepat ke arah Jungshin. Pertengkaran tidak penting terjadi lagi.

Eh, iya, ngomong-ngomong soal Kyuhyun itu, tidak seperti biasanya dia tidak menghampiriku jam-jam seperti ini.

Aku membiarkan Seungho dan Jungshin berdebat tentang apa yang aku tidak mau tahu. Tidak terlalu peduli, toh ujung-ujungnya mereka akan berbaikan lagi. Aku berjalan agak menjauh dari mereka menuju dekat jendela yang terhubung dengan pemandangan jalan utama kota Seoul pada pagi –hampir siang- hari, sibuk seperti biasa.

Aku mengeluarkan handphoneku, aku bertujuan untuk menghubungi Kyuhyun. Siapa tahu anak itu masih tidur dan lupa kalau hidupnya sudah ada hal penting bernama kerja.

“Kenapa tidak dijawab?” aku menjauhkan handphoneku dari telinga dan kembali menekan tombol call untuk menghubungi Kyuhyun lagi. Sampai beberapa kali aku mencoba, tetap tidak ada jawaban sama sekali, padahal nada sambungnya masih aktif.

Aku keluar ruangan, meninggalkan Jungshin dan Seungho menuju ruangan kerja Kyuhyun. Mungkin ada yang bisa aku tanyai tentang keberadaannya sekarang.

“Permisi..” sebelum sepenuhnya tubuhku masuk, aku melongokkan kepalaku terlebih dahulu untuk melihat suasana di ruangan tempat Kyuhyun bekerja. Agak sepi sih, hanya ada dua orang gadis yang sedang mengobrol ria dengan segala macam make-up di hadapan mereka.

“Raena-ssi?”

“A!”

“Ah! Maaf, maaf. Aku mengagetkanmu?” Jooyeon, salah satu tim kreatif di bagian Kyuhyun bekerja membungkukkan badan, aku jadi tidak enak sendiri padahal aku yang main tengok ke ruangan orang lain.

“Ah, tidak apa-apa, kok. Aku hanya ingin mencari—“

“Kyuhyun, kan?” aku mengangguk dan menjadi canggung saat Jooyeon tersenyum tidak jelas padaku. Tapi ekspresi itu tidak bertahan lama, wajah Jooyeon berubah bingung sambil menatapku.

“Kau tidak tahu dia dimana?” aku menggeleng. Wajah Jooyeon seperti tidak percaya denganku, tidak percaya bahwa aku tidak mengetahui keberadaan Kyuhyun. Wajar kan, aku bukan ibunya, aku hanya ingin tahu makhluk satu itu kemana hari ini.

“Benarkah? Sepertinya kau akan percuma bertanya padaku atau yang lain. Kalau kau saja tidak tahu, berarti yang lain juga tidak tahu, Raena-ssi.” Kok bisa seperti itu sih?

“Kau yakin?”

“Ng! sebenarnya beberapa jam yang lalu aku mencoba menghubunginya, tapi panggilanku tidak dijawab. Aku pikir dia bersamamu loh.” Aku hanya mengangguk, pura-pura puas dengan jawabannya. Efek sikap Kyuhyun padaku selama ini, semua orang jadi memandang aku adalah pusat informasi Kyuhyun.

“Kalau begitu terima kasih, Jooyeon-ssi. Maaf sudah merepotkan, aku kembali dulu.”

“Ne… tidak perlu sungkan seperti itu, hehehe. Kalau ada masalah dengan Kyuhyun lebih baik dibicarakan baik-baik, hubungan kalian kan baru saja berjalan. Kalian menikah kan?” HE?!

“Ap-apa?!” Jooyeon tersenyum puas. Aku sendiri masih bingung kapan Kyuhyun mengatakan pada Jooyeon bahwa kami meni—tunggu dulu! Aku tidak menikah dengannya!

“Ani… aniyo! Aku tidak menikah dengannya! Lagipula kapan kami melaksanakan pernikahannya, Jooyeon-ssi? Is, orang itu!” aku menghentakkan kakiku sebelum meninggalkan Jooyeon yang berdiri terkejut karena nada bicaraku yang agak tinggi, berbeda dengan nada bicaraku selama ini.

Aku tidak tahu sekarang, untuk apa aku mencari pria itu sampai gelisah seperti ini. Memang, dia selalu berada di sampingku dan tidak pernah berhenti menghubungiku. Sekarang, dia sama sekali tidak bisa dihubungi padahal tadi malam –saat aku bersama Jongwoon- dia menghubungiku dan menanyakan aku berada dimana.

“Apa aku ke apartemennya saja?” aku melirik jam dinding yang ada di lorong kantor, jam 10.15, belum jam istirahat, berarti tidak bisa kalau sekarang.

“Hei, kau darimana saja?” pertanyaan Jungshin menyambutku saat aku baru saja kembali masuk ruangan. Di sebelahnya berdiri Seungho dengan majalan bulan lalu di tangannya, sedangkan Jungshin merangkulnya, seperti orang pacaran saja.

“Jalan-jalan kantor.” Jungshin hanya nyengir tidak jelas saat aku langsung duduk di tempat kerjaku. Mejaku mereka duduki, sopan sekali.

“Ups, mianhaeyo, hehehe.” Jungshin dan Seungho langsung berdiri saat aku menatap mereka tidak suka.

“Jadi? Sudah tahu keberadaan penjagamu itu?” Tanya Jungshin sambil sedikit melirik Seungho. Aku hanya menggeleng lemah dan menyandarkan tubuhku di kursi tanpa ada minat untuk memulai percakapan dengan mereka. Mood-ku langsung turun begitu saja.

“Ayolah, jangan pasang tampang cemberut seperti itu. Masih ada aku dan Sengho di sini!”

“Siapa yang cemberut?”

“Kau! Jelek! Haha!” Jungshin langsung melesat kabur sebelum tanganku mencapai bahunya, bermaksud memukulnya. Gesit sekali, sih.

“Ehm.” Aku mengatur nafasku sebelum menoleh ke arah Seungho yang tidak ikut lari keluar ruangan seperti Jungshin tadi.

“Ada apa, Seungho-ssi?” Seungho menarik nafasnya beberapa kali sambil melirik-lirik ke seluruh penjuru ruangan. Saat dia mendapati aku memerhatikannya –karena tingkah anehnya- dia hanya tersenyum aneh.

“Ng… nanti siang, mau makan bersama?”

*****

Pukul 12 siang lebih, sudah saatnya jam makan siang. Aku menoleh kea rah pintu masuk ruanganku dan mendapati Seungho yang baru saja masuk sambil membersihkan bajunya secara asal, lalu tersenyum saat mendapati aku sedang melihatnya.

“Sudah siap?”

“Untuk makan? Siap itu harus, Seungho-ssi—ups, maaf.” Aku menghindar saat dia mencoba untuk mengacak rambutku, itu gerakan refleks. Tidak akan terjadi jika orang yang ingin menyentuh rambutku itu Kyuhyun, ah, dan juga laki-laki itu, tidak usah disebut.

Suasana menjadi canggung, Seungho hanya tertawa aneh lalu mengisyaratkan agar kami langsung pergi saja. Jadi tidak enak.

“Jadi, kau mau makan di mana?” kami mengobrol sambil berjalan menuju lift untuk turun. Beberapa kali juga berpapasan dengan karyawan lain dan saling menyapa. Lift yang aku dan Seungho tempati sangat penuh, namanya juga jam makan siang.

“Makan di dekat sini saja, tidak usah jauh-jauh.” Seungho mengangguk paham, lalu kami berdua keluar menuju pintu utama kantor. Sudah bersikap seperti biasa sekarang, karena kami mengobrol santai. Ah, aku jadi ingin Kyuhyun di sini, apa habis makan siang aku ke apartemennya langsung ya?

Aku berhenti berjalan saat baru saja beberapa langkah keluar dari pintu utama kantor. Seungho yang berjalan duluan menoleh ke arahku. Tunggu, dari mana dia tahu aku di sini?

“Raena-ah! Hai!” dia mengenakan kacamata minusnya, dengan pakaian santai, berdiri di samping mobilnya yang terparkir persis di depan pintu kantor. Sial.

“Raena-ssi, siapa?” Seungho menatapku bingung. Yang bisa aku lakukan hanya menggeleng, aku harus cepat-cepat pergi dari hadapan Jongwoon sekarang atau dia akan membawaku bersamanya.

“Seungho-ssi, ayo, cepat.”

“E-eh?” Ya, ya. Dia pantas bingung dan gugup karena aku menggandeng tangannya secara tiba-tiba dan berjalan cepat-cepat agar bisa melewati Jongwoon. Sayangnya, Jongwoon itu terlalu kejam untuk membiarkanku pergi dengan laki-laki lain.

“Ya! Kalian mau kemana? Tidak mau mengajakku?” dia berdiri di hadapan kami. Seungho yang sama sekali tidak tahu masalah kami apa hanya bisa menatap kami berdua bingung. Jongwoon hanya tersenyum, lalu kembali memasukkan kedua tangannya ke saku celana setelah berusaha menghalangi kami pergi tadi.

“Kim Jongwoon. Calon suami Kim Raena, senang bertemu denganmu. Ah, boleh aku bawa istriku pergi? Terima kasih.” Apa-apaan dia ini?! Jongwoon mengulurkan tangannya,bersalaman dengan Seungho yang masih melongo, lalu dengan seenak kepalanya saja dia menarikku menjauhi Seungho.

“Jongwoon-ssi, bisa kau lepas? Aku bisa jalan sendiri!”

“Oke, oke. Masuk, tuan putri.”

“Is!” dengan terpaksa aku masuk ke mobilnya. Maaf, Seungho.

Jongwoon mengendarai mobilnya dengan tenang, penuh senyum kemenangan. Kalau begini, bagaimana bisa aku mengunjungi Kyuhyun? Apa nanti aku kabur saja?

“Jangan berpikir untuk kabur, araseo? Ibu mau bertemu denganmu di cafeku, jadi kau tenang saja.” Aku menoleh padanya yang masih fokus menyetir. Ibu? Ah, aku memang merindukan Ibu.

“Benarkah? Woa~ aku memang ingin bertemu dengannya, sudah lama sekali.” Membayangkan bertemu kembali dengan Ibu pasti menyenangkan. Celotehannya tentang kopi kesukaanku pasti akan memenuhi telingaku lagi dan membayangkan hal itu saja sudah membuatku tidak sabar untuk bertemu dengannya.

“Kau senang?”

“Sangat!”

“Baguslah.” Dan seperti biasa, dia mengusap rambutku dengan tangan lembutnya itu. Haah, kalau seperti ini terus, bisa kacau rencanaku untuk melupakannya.

*****

Selama diperjalanan menuju café miliknya, kami berdua hanya diam saja. Tidak ada yang memulai percakapan karena memang aku sendiri bingung hal apa yang harus kami bicarakan. Canggung, itu lebih tepatnya.

“Sebentar lagi sampai.” Aku sedikit melihat ke depan saat kami hampir dekat dengan sebuah papan besar ala café modern milik Jongwoon dan keluarganya. Ah, Ibu.

Jongwoon turun duluan saat dia selesai memarkirkan mobilnya di depan café. Aku juga ikut turun dan sesekali membenarkan tata rambutku, aku memutuskan untuk menguncirnya saja.

“Ibu! Lihat siapa yang datang!” Jongwoon menarik tanganku menuju meja kasir, tempat Ibu. Aku melihat beberapa gadis yang begitu semangat saat Jongwoon memasuki café tadi melihatku penasaran. Masa bodoh.

“Ibu!” itu dia. Sosok perempuan yang sangat aku rindukan. Berhubung aku sudah tidak memiliki ibu lagi, aku menganggapnya sebagai ibu sendiri.

“Raena? Oh, sudah lama kita tidak bertemu, sayaaang~” Ibu langsung berjalan cepat ke arahku dan memelukku erat. Pelukannya masih seerat dulu, hehe.

“Raena nuna?” aku melihat Jongjin –adik Jongwoon- menghampiri aku yang masih memeluk Ibu. Senyumnya terkembang dan dia ikut bergabung bersama kami. Oke, ini reuni kecil.

“Bagaimana kalau duduk dulu? Akan lebih enak untuk mengobrol.” Jongwoon menggenggam tanganku sembari membawa kami ke tempat duduk yang pas, dan Ibu melihat itu.

“Jongjin-ah, ambilkan minum.”

“Kenapa aku? Harusnya hyung, kan yang tidak kangen dengan Raena nuna itu hyung!”

“Siapa bilang, hah?” Jongwoon, yang duduk di sebelahku langsung merangkulku kuat. Ibu hanya bertepuk tangan ringan dan tersenyum melihat kami lalu menyuruh Jongjin yang menyiapkan minuman. Aku mohon tidak terjadi yang macam-macam di sini. Seperti—

“Kapan akan menikah?” –pertanyaan ini. Oh, apa aku terlihat seperti gadis yang ingin cepat-cepat menikah? Aku menatap Jongwoon, aku harus menjawab lebih dulu dari dia sebelum dia mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ibu.

“Kami—“

“Ibu, masih terlalu jauh untuk membicarakan pernikahan. Kami baru saja bertemu, akan kami bicarakan lagi…” Jongwoon menatapku, seperti saat dulu saat dia ingin meminta persetujuanku untuk mengatakan sesuatu. Tatapan hangat ini bahkan tidak berubah sama sekali.

“…iya kan, sayang?”

Dia memanggilku ‘sayang’, sesering apapun dia memanggilku seperti itu, kenapa sekarang berbeda? Aku seperti ditariknya lagi untuk kembali ke masa lalu. Kembali ditarik untuk jatuh padanya.

“Sayang?”

“A-ah? Iya. Benar, Ibu.”

“Aigoo~ pasangan yang sudah lama tidak bertemu memang bisa membuat iri~” aku menunduk malu saat Ibu mengucapkan hal itu dan bertepuk tangan pelan. Aku rasa wajahku memerah menahan malu, ini saja rasanya sudah panas.

“Ya, aku melewatkan apa? Kenapa kalian membiarkan aku sendirian tidak tahu apa-apa di sini? Kejam sekali!” Jongjin menggerutu sambil menaruh cangkir kopi dan kue-kue kecil di hadapan kami. Wajahnya terlihat tidak terima saat Jongwoon hanya memandangnya mengejek.

“Kau memang tidak perlu tahu, babo!”

“Ya! Kau bilang apa?!”

Dan pertengkaran kecil kakak beradik ini pun dimulai. Aku dan Ibu hanya tertawa bersama melihat dua laki-laki yang sudah dewasa ini bertengkar seperti anak kecil. Ibu menyentuh tanganku yang ada di atas meja, menatapku penuh sayang seperti biasanya.

“Untunglah kau kembali. Ibu jadi bisa melihat Jongwoon seperti itu lagi.” Ibu memerhatikan Jongwoon dan Jongjin yang masih asyik berdebat di sebelah kami. Seperti itu lagi itu yang seperti apa?

“Saat kau pergi, dia tidak pernah membantah Jongjin dan mengiyakan semua yang Jongjin lakukan padanya. Tidak enak dilihat. Terima kasih.” Setelah mengatakan itu, Ibu melerai Jongjin dan Jongwoon agar berhenti berdebat.

“Kalian berdua, sudaaah! Ada tamu special di sini. Jongwoon-ah! Kau ini ajak ngobrol Raena! Is dasar anak-anak bandel!”

Jongwoon kembali menggenggam tanganku dan kami mulai makan bersama. Walau hanya kue-kue kecil, kebersamaan seperti ini membuatku senang dan memilih untuk melihat wajah cerah mereka saja. Lagipula, ada Jongwoon yang selalu menyuapiku di sini. Malu? Lumayan. Hei, dia melakukannya di depan Ibu, hehe.

*****

“Hati-hati.” Aku dan Jongwoon sama-sama membungkuk tanda akan berpisah. Aku sudah berada di depan kantor lagi, Jongwoon yang mengantarkan. Seperti biasa, selama perjalanan kembali ke kantor juga kami tidak banyak berbicara. Jongwoon hanya menanyakan perasaanku setelah bertemu dengan Ibu dan Jongjin lalu kami kembali diam.

“Raena-ya.”

“Ya?”

“Malam ini… mau keluar bersamaku?” kali ini dia meminta izin, he? Biasanya main tarik saja.

Mm… sudah aku bilang kalau Jongwoon itu memiliki mata yang indah? Baiklah, mata itu bahkan bisa membuatku jatuh untuk berkali-kali tanpa dia mengatakan banyak hal sekarang.

“Asal kau menjemputku.” Jongwoon tersenyum, dan sekali lagi membungkuk sebagai tanda undur diri. Aku tahu sekarang dia mengucapkan kata ‘yes’ berkali-kali daritadi. Sesenang itu? Mungkin aku juga.

*****

Jam tujuh malam. Aku sudah bersiap di depan cermin dengan baju seadanya, tidak perlu berdandan kan? Toh, hanya Jongwoon yang akan aku temui, bukan presiden.

Drrtt… drrtt…

“Ya?”

“Aku sudah di depan. Turun saja, oke?”

“Baiklah.” Aku memerhatikan wajahku untuk terakhir kali sebelum mengambil tas dan hoodie lalu keluar. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di bawah menemui Jongwoon karena aku tinggal di lantai dua apartemen.

“Woon-ah?” aku menyentuh pundaknya dari belakang karena memang dia sedang menunduk dan tidak memerhatikan sekitar. Dia berbalik ke belakang dan tersenyum seperti biasa.

“Hei. Nah, sudah aku perkirakan kau akan memakai baju santai seperti ini. Ayo!” tidak jauh berbeda dariku, dia juga hanya mengenakan kaos biasa dan jeans hitam, tetap mengenakan kacamata minus yang rasanya ingin aku lepas.

“Memangnya kita mau ke mana?” dia hanya mengangkat bahu tapi tetap tersenyum. Tangannya menuntunku ke pintu penumpang di sebelahnya dan membukakan pintu seperti biasa.

“Kau ikut saja.”

Sesaat aku benar-benar lupa, sepertinya aku harus mengulang kembali rencanaku untuk melupakannya dan tidak benar-benar jatuh lagi padanya.

*****

Kami berada di pinggiran Sungai Han lagi setelah semalam juga berada di sini karena tidak sengaja bertemu. Dia menyuruhku duduk dan memberikan gelas kertas kopi yang kami beli tadi. Angin malam di kota Seoul sekarang biasa saja. Tidak terlalu kencang, tidak juga terlalu pelan, makanya aku memutuskan untuk tidak memakai hoodieku saja, merepotkan.

“Sudah lama tidak seperti ini. Iya kan?”

“Mungkin.” Aku menyesap sedikit mocca yang tadi dibelikannya. Memang sudah lama kami tidak seperti ini. Sekarang, setiap bertemu pun rasanya terlalu banyak kecanggungan yang kami miliki. Entah karena aku pernah menolak untuk kembali padanya atau apa, hanya saja kami tidak bisa kembali seperti dulu lagi yang membuatku merasa tidak nyaman.

“Apa kalau aku memintamu untuk kembali, sekali lagi—“

“Jongwoon-ssi, apa kau tidak bosan untuk memintaku kembali? Jawabanku masih sama.” Bisa aku rasakan dia menatapku lama. Aku berusaha mati-matian agar otakku berjalan sesuai rencanaku sekarang. Memilih untuk tetap pada pendirian dan tidak menyerah begitu saja dengan apa yang hatiku inginkan.

“Ibu akan senang jika kau bersamaku.”

“Kau… tidak pernah menceritakan tentang hubungan kita yang sudah putus?”

“Tidak.”

“Pantas saja.”

“Tapi itu untuk kebaikan kita.” Jongwoon memaksaku untuk melihat ke arahnya. Dia menarik lengan kananku dan yang aku dapatkan adalah wajahnya yang… sedih?

“Aku sudah menyesali ini sejak lama. Aku sudah menghukum diriku sendiri karena tidak menghargaimu. Aku sudah berusaha untuk menjadi orang yang kau inginkan!”

“Jongwoon—“

“Kalau aku katakan hal yang sebenarnya pada Ibu, kau pikir aku bisa menemuimu lagi?! Ibu pasti lebih melindungimu! Dia menyayangimu! Kau mau hal itu terjadi padaku?!”

“Sakit…” dia mencengkram lenganku terlalu kuat. Mungkin ini adalah bentuk pengendalian emosinya padaku. Matanya yang dibingkai oleh kacamata itu tetap terlihat tajam walaupun tampak berkaca-kaca. Aku mohon jangan menangis di depanku.

Dia secara cepat menarikku ke pelukannya. Sangat erat sampai aku bisa merasakan detak jantungnya, juga nafasnya. Di tempat umum, berpelukan, entah bagaimana aku harus mengatur ekspresi wajahku saat ini. Aku putuskan untuk menunduk saja, menenggelamkan diriku di antara bahu dan lehernya.

Masih dalam pelukan kami, tangan kanannya menyusuri tangan kiriku perlahan dan pada akhirnya sampai ke jari. Aku merasakan sesuatu yang… bundar dan dingin memasuki jari manisku.

“Aku tidak peduli kau akan menolak. Kau milikku.” Dia melepaskan pelukan kami. Itu membuatku menatap jari manis tangan kiriku yang kini sudah berhias sebuah cincin sederhana dengan mata berlian di tengahnya. Cincin ini bahkan terasa sangat pas di jariku dan seperti tidak akan pernah lepas.

Dia mengalihkan perhatianku dari cincin tersebut. Menyentuh kedua pipiku dengan tangannya dan mendekatkan wajah kami perlahan.

“Aku mencintaimu, sangat. Menikahlah dengan—“

Drrttt… drrtt…

Refleks aku menjauhkan wajahku dari Jongwoon dan segera merogoh tasku untuk mengambil handphone. Kyuhyun? Ah! Aku sampai lupa padanya!

“Jongwoon-ssi, aku permisi terima telepon sebentar.” Aku meninggalkan Jongwoon sendirian duduk di tempat kami tadi dan aku agak menjauh darinya. Barulah aku rasa dia tidak bisa mendengar pembicaraanku aku menerima telepon dari Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah?”

“Ha-halo? Ah, tersambung? Halo, Jonghyun imnida.”

“Jonghyun? Siapa kau?” aku mengerutkan keningku saat suara lain yang meneleponku, bukan Kyuhyun.

“Aku pelayan di tempat soju langganan Tuan Cho. Ng… dia sedang mabuk berat, makanya aku menelepon orang yang ada di inbox handphone-nya.”

“He?! Berikan aku alamat tempatmu! Sekarang!”

Mungkin karena ketakutan karena aku bentak atau apa, pelayan yang tadi namanya Jonghyun itu mengucapkan alamat tempat café mereka dengan tidak jelas dan selalu mengulang-ulang. Aku sampai harus berteriak padanya karena tidak tanggap dengan apa yang harus dilakukan. Kalau sudah tahu mabuk berat dari tadi sore kenapa tidak menelepon dari tadi sore?!

Aku memutuskan sambungan dan kembali menghampiri Jongwoon. Lebih baik aku segera menyusul Kyuhyun, lagipula tempatnya tidak terlalu jauh dari sini. Aku hanya perlu berlari melewati beberapa gedung besar dan café itu terletak di sela-sela tempat yang susah untuk dijangkau jika kau tidak benar-benar tahu tentang Seoul.

“Jongwoon-ssi, aku pergi duluan, oke? Aku ada urusan.”

“Ya! Kau mau ke mana!”

“Aku pergi dulu!” aku berlarian meninggalkan Jongwoon. Kyuhyun itu… sampai kapan dia bisa berhenti membuatku khawatir?

*****

Aku menutup hidungku saat aroma yang tidak pernah aku sukai menyeruak masuk. Masih jam delapan malam memang, tapi tempat ini menunjukkan tiga jam lebih cepat menurutku.

Café ini kecil, di etalasenya bisa aku lihat berbagai macam wine dan soju. Bukan hanya laki-laki yang ke sini, banyak juga wanita muda yang aku rasa seumuran denganku yang menemani mereka minum. Mengerikan.

Aku melihat sosok Kyuhyun yang kepalanya berada di atas meja. Seperti orang mati. Di atas mejanya masih jelas terpampang satu, dua, tiga… ah entahlah berapa botol hijau dan hitam yang ada. Aku rasa dia benar-benar mabuk sekarang.

“Kyuhyun-ah! Bangun!” aku mengguncang-guncang bahunya, dan itu hal yang sangat percuma dilakukan jika kau nanti berhadapan dengan orang mabuk super berat sepertinya.

“Permisi.” Aku mendongak dan mendapati laki-laki yang sepertinya masih muda, memakai nametag Jonghyun, ah ini anaknya. Masih muda sudah bekerja di tempat seperti ini? Kasihan.

“Ah, kau yang menghubungiku tadi? Terima kasih.” Dia mengangguk dan menyerahkan handphone Kyuhyun padaku. Sekarang, bagaimana caraku membawanya pulang?

“Ng.. nuna, tadi aku lihat dia ke sini membawa mobil. Mungkin kunci mobilnya ada di kantong.” Aku mengiyakan dan meminta tolong Jonghyun untuk membantuku memapah Kyuhyun sampai mobilnya.

Ini akan sangat merepotkan.

*****

Sedikit keberuntungan buatku, yah kalau itu masih bisa dibilang keberuntungan. Kamar apartemen Kyuhyun hanya berada di lantai dua dan aku bisa minta tolong satpam di sana untuk membantuku memapah Kyuhyun. Walaupun badannya terlihat tidak terlalu besar, Kyuhyun itu sangat berat. Makannya saja banyak.

“Terima kasih banyak sudah membantu.” Aku membungkuk berterima kasih saat satpam itu telah membaringkan Kyuhyun di kasurnya. Aku menutup pintu dan beralih ke dapur untuk mengambil air putih dan juga air panas untuk mengompres Kyuhyun. Entah apa gunanya mengompres makhluk mabuk satu ini, coba saja.

“Rae-ya~ kau… wah, istriku~” tuh, mabuk.

“Tidur saja.”

“Kena—aaah kenapa kau bersamanya…” aku berhenti mengompresinya. Bersama siapa?

“Kau bilang kau sendirian~ tapi kau… bersamanya~” aku kembali mengingat kapan aku pernah berkata seperti itu. Ah! Apa mungkin kemarin malam sebenarnya dia melihat?

“Kau… milikku.”

“Kyu!” oh, gawat. Peringatan yang pernah Jungshin berikan tentang hobi skinship Kyuhyun harusnya aku indahkan. Dia ini mabuk! tapi bukan berarti dia bisa memelukku di atas kasur secara sembarang seperti ini!

“Kyuhyun-ah, lepaskan aku!”

“Kau… milikku.” Dia menarikku lebih dalam ke pelukannya. Oke, dipeluk secara tiba-tiba sebanyak dua kali cukup membuatku muak hari ini.

“Aku menyiapkan… ini… untukmu…” benda bundar putih kecil dan bersinar Nampak di antara wajahku dan wajah Kyuhyun. Tangan Kyuhyun yang berada di depan wajahku segera pindah… ke jari-jari tangan kananku.

“Aah aku ingin tidur bersama istriku sekarang~”

Jongwoon dan Kyuhyun, menaruh benda yang sama, di jari yang berbeda, tapi keduanya pas di jariku.

Apa aku harus melepas salah satu, atau tidak keduanya? Gila, hidup macam apa ini?

* * * * *

Ya Allaaaaah~ selesaaaaiii ;A;

eh, tapi ini belom End sih .__.

mian kalo maksa dan ceritanya agak gimana, maklumi saya *eh

mian juga kalo ada typo, hehehhe

mohon kritik dan saran ^^

terima kasiiiih 🙂

Advertisements