Tags

, ,

permisiiii~~ *bersihbersih*
halooo apa kabar semuaaaaa ^o^
Yahyah, setelah beberapa hari kosong, mau ngisi lagi, boleh kan yaah boleh yaaah ><
Kali ini bukan ff KyuAn atopun Cho’s Family, tapi couple yang saya pake adalaaaaahhh~~~~ *bgm troublemaker(?)* Eunhyuk dan Raena! JJaaanngg!! XD
Kenapa mereka? Ya karena saya suka #maksa# jadi ya walopun sebenernya niat awal pengen buat angst, malah jadi romance. uh, otak eke emang nggak jauh jauh dari cerita romantis cyiiin~~ *plak!
yondraaang dibanding banyak bacot dan ntar ceritanya ternyata geje dan maksa, keburu ditamplokin pake kaos unyuk ntar XD

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

* * * * *

Suasana kantor ini begitu sepi. Apa aku terlalu pagi pergi ke kantor? Tapi bukannya sebagai pimpinan yang baik harus memberi contoh yang baik?

Aku menyeduh sendiri susu strawberry hangat dari mesin pembuat minuman yang ada di ruanganku. Untungnya mesin ini aku putuskan untuk aku masukkan saja ke ruangan waktu itu, karena akan repot jika para bawahanku tahu pimpinan mereka lebih suka susu rasa strawberry dibandingkan meminum kopi seperti kebanyakan pemimpin perusahaan lainnya.

Cuaca di Seoul pagi ini lumayan cerah. Sambil memandangi jendela ruanganku yang terhubung langsung dengan ramainya jalanan kota Seoul, aku meminum susu hangatku perlahan dan mengingat apa yang biasanya aku lakukan beberapa hari yang lalu kalau pagi seperti ini.

Biasanya pagi-pagi seperti ini, aku akan membawa kekasihku ke ruangan dan kami berdua…yah tidak usah dijelaskan. Dan kemarin, aku baru saja patah hati, tapi aku lebih suka menyebutnya keberuntungan hebat. Kalau saja aku tidak tahu wanita genit itu hanya menyukai uang dan tidak bisa menjaga diri, mungkin aku sudah menjadi miskin tidak terhingga sekarang.

Tok tok tok

Aku cepat-cepat menghabiskan susu hangatku sebelum orang yang mengetuk pintu ruanganku masuk, bisa jadi bahan ejekan dari belakang kalau ada yang tahu.

“Masuk.” Salah satu asistenku –dan juga teman dekatku- yang bernama Choi Siwon masuk ruangan sambil membawa beberapa berkas di tangannya. Kalian tahu? Banyak orang yang menyangka Siwon-lah pemilik perusahaan ini, dan itu cukup membuatku tersinggung. Apa wajahku tidak ada gurat pemimpin sama sekali?

“Hyukjae-ya, ini berkas untuk pembangunan bulan depan.” Dia langsung menyodorkannya padaku dan melonggarkan dasinya, mungkin gerah, tapi ini masih pagi.

“Kau tahu? Aku tidak bisa mengurusi proyek hotel ini. Memang sepertinya akan berhasil, tapi tetap saja orang-orang yang ada di wilayah itu tidak mau memberikan tanah kosong itu pada kita. Cis, tidak ada bukti kepemilikan saja berani melawan.“

“Kau sudah ke sana?” Siwon mengangguk, dia menuju mesin pembuat minuman dan menyeduh kopi instan yang memang selalu tersedia di sana. Dia mengikutiku memandang keluar dari kaca jendela.

“Lalu? Keadaan di sana?”

“Sebenarnya mereka tidak memberontak yang membahayakan. Mereka hanya mengatakan dengan tegas bahwa tanah itu tidak boleh dibangun apapun, kecuali taman bermain. Lucu, kan? Perusahaan kita tidak punya waktu banyak untuk mengurusi permainan seperti itu.” Siwon hanya menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu meminum kopinya perlahan. Aku rasa dia masih mau melanjutkan kalimatnya tadi. Melihatnya kesal terhadap pekerjaan, baru kali ini.

“Kalau kau ingin tahu keadaannya bagaimana, coba kau ke sana. Jarak Mokpo dan Seoul tidak terlalu jauh bagi supir kantor kita, kurasa. Dan hati-hati dengan anak-anak di sana.”

* * * * * * * * * *

Aku menuruti saran Siwon. Seorang Siwon tidak akan merasa jengah dengan sebuah pekerjaan seberat apapun halangannya. Kali ini, entahlah, sepertinya aku memang harus melihat langsung bagaimana tempatnya.

Aku memutuskan untuk mengendarai mobilku sendiri. Aku terbiasa pergi sendirian dibanding harus berdua dengan supir kami yang tidak tahu situasi jika ingin mengajak mengobrol. Lain kali aku akan mencari supir yang bisa membaca perasaan seseorang dari mimik wajah, biar dia tahu kalau orang yang disupirinya itu sedang capek atau tidak.

Sesampainya di dekat pantai yang ada di Mokpo. Haaah, sudah berapa lama aku tidak menghirup udara bagus seperti ini? Harum laut yang tidak akan aku dapatkan jika terus berhadapan dengan berkas dan terkurung di ruang kerja.

Di sinilah kami akan membangun hotel nanti. Berhadapan langsung dengan hotel, pemandangan bagus dari nelayan-nelayan yang sedang melaut dan mencari ikan, dan juga suasana sore yang romantis seperti sekarang ini.

Pukul empat sore, langit masih lumayan cerah, tapi berbeda sekali rasanya dengan Seoul. Mungkin karena langit di sini belum ditutupi oleh gedung-gedung tinggi.

Tuk!

“Eh?” Aku merasakan ada kerikil yang mengenai leherku, tidak terasa sakit sama sekali. Aku mencari orang yang melempari aku dengan kerikil ini. Tenang saja, aku tidak akan memarahi orang itu, kecuali orang itu sengaja.

Tuk!

Lagi? Kali ini di tanganku, dua kerikil. Aku memutar-mutar tubuhku untuk mencari siapa yang melakukannya, tapi beberapa bebatuan menutupi pandanganku.

Tuk!

“Aw!” oke, kali ini tidak bisa dibiarkan. Kerikil itu mengenai kepalaku dari belakang!

“Hihihi..” aku mendengar tawa khas anak kecil dari satu batu lumayan besar. Ah, pasti ini yang dimaksud Siwon.

“Nah! Kena kau!” anak kecil perempuan berkuncir kuda menatapku takut-takut saat aku memegangi tangannya. Untuk ukuran anak desa, anak ini sangat cantik seperti anak kota Seoul, bahkan dia memiliki lipatan mata!

“He-hei! Jangan menangis! Aku tidak bermaksud memarahimu!” Gawat! Wajah anak cantik ini semakin memerah dan mulutnya seperti sudah siap untuk mengeluarkan suara tangisan. Matanya yang lucu itu juga sudah mengeluarkan cairan bening airmata dan…

“Hiks… hiks… huuwaaaaaaaaa~!” demi apapun yang ada di kota ini! Aku lebih suka menghadapi kertas laporan daripada harus menghadapi anak kecil menangis! Aku tidak tahu cara mendiamkannya!

“Yuki-ya! Eodiseoyo?” Dari kejauhan, aku mendengar suara wanita yang sedang berteriak. Anehnya, anak kecil yang tadi menangis ini tiba-tiba diam dan menoleh ke samping kanan, arah suara wanita itu berasal.

“Yeogiiii!” aku menutup telingaku karena lengkingan anak ini sangat kuat. Pantas saja waktu menangis tadi kencang sekali tangisannya.

Tidak lama dari itu, aku mendengar suara langkah kaki yang berlari yang semakin mendekat. Anak kecil tadi melepaskan genggaman tanganku di tangannya.

“Ajussi jelek!”

“Mwo?!” dia langsung lari dariku. Aku mengejarkan dan ternyata ada keberuntungan yang sangat besar dari hasil menjadi sasaran kerikilnya hari ini.

“Yuki-ya, gwaenchanayo? Ada yang terluka?” seorang wanita, dengan kaos sederhana dan rok batas lutut yang tidak ada model sama sekali -polos- menghampiri anak kecil tadi sambil menatapnya khawatir. Wajah wanita itu sungguh… apa? Aku tidak tahu kata apa yang tepat untuk mengambarkan wajahnya.

Setelah memastikan tidak ada yang terluka pada gadis kecil yang aku baru tahu namanya Yuki tadi, wanita itu melihatku. Dia menelitiku dari atas sampai bawah. Wanita tadi sedikit berbisik dengan Yuki itu dan kemudian mencubit pipi gadis kecil itu gemas. Kalian tahu, dia menghampiriku!

“Annyeonghaseyo. Aku ingin minta maaf atas perlakuan Yuki padamu.” Dia menunduk dalam di hadapanku dan ini membuatku canggung.

“Ng… gwaenchanayo? Yuki tidak membuatmu terluka, kan?” dia tersenyum, padaku.

Periksa jantungku, apa baik-baik saja sekarang?

* * * * * * * * * *

Namanya Kim Raena, penduduk pendatang dari Busan, tinggal di sekitar sini, dan memiliki senyum terindah yang pernah aku lihat. Gadis ini sangat berbeda dengan banyak gadis yang pernah aku temui di Seoul. Pembawaannya lebih tenang, gaya berbicaranya juga menyenangkan dan tidak membosankan, dia bahkan memiliki selera humor yang lumayan.

Sekarang kami sedang berjalan berdua, sedangkan Yuki mendahului kami sambil berlari-lari. Aku tidak perlu bercerita banyak karena dia sudah tahu siapa aku, walau sebenarnya dia tidak tahu kalau aku adalah pemilik perusahaan yang akan membangun hotel di sini.

“Aku masih tidak enak dengan perbuatan Yuki padamu tadi, benar tidak apa-apa?”

“Aniyo, aku tidak apa-apa. Hanya kerikil kecil, hehehe.” Aku tertawa kecil untuk menutupi kegugupanku. Gila! Seorang Lee Hyukjae tidak akan mudah gugup dihadapan gadis secantik apapun!

Kami duduk di sebuah batu besar yang sepertinya dibuat menjadi kursi. Raena memersilahkan aku duduk sedangkan dia ditarik Yuki menjauh dariku. Raena pamit sebentar, membiarkan aku sendirian duduk di sini dan memandanginya bersama anak-anak lain yang entah kapan sudah berkumpul di sini.

Kalau aku perhatikan, tempat ini seperti taman bermain sederhana. Hanya beberapa ban bekas mobil yang dijadikan pijakan, ayunan, pasir pantai yang bisa dijadikan apa saja, juga lapangan bola kecil yang sekarang digunakan bermain bola oleh anak-anak di sini.

Apa karena jas yang aku kenakan, atau tampangku yang terlihat kaya, anak-anak yang tadi asik bermain serentak berhenti saat melihatku. Jarakku dengan mereka memang tidak terlalu jauh, aku bisa melihat salah satu dari mereka mengambil kerikil dan akhirnya diikuti oleh anak-anak lain.

Keberuntungan lain, aku tidak jadi dilempari kerikil lagi karena Raena mendekati mereka dan mengatakan sesuatu yang aku tidak tahu. Raena berbicara dengan mereka seperti berbicara dengan anak sendiri, terlihat pelan dan hati-hati.

“Mianhamnida. Anak-anak di sini tidak bermaksud menyakitimu. Sekali lagi aku minta maaf.”

“Ne, tidak apa-apa. Mau menemaniku duduk di sini?” Raena terlihat berpikir sebentar sampai akhirnya dia mengangguk dan duduk agak jauh dariku.

“Jadi, ada apa membawaku kemari?” memang dia yang mengajakku untuk ke sini, lebih tepatnya ke lokasi yang akan dibangun bagian tengah hotel karena tanah di sini sangat bagus dan luas. Raena menoleh ke arahku sejenak lalu kembali mengawasi anak-anak yang sedang bermain tak jauh di depan kami.

“Kau… utusan perusahaan itu kan?” aku mengangguk saja, walau pada kenyataannya aku bukan utusan perusahaanku sendiri. Aku ingin mendengarkan apa yang ingin gadis ini katakan. Sekalian cari aman.

“Anak-anak di sini memang seperti itu. Melihat orang yang memakai jas sepertimu pasti akan mereka lempari…”

“…bukan tanpa alasan. Mereka takut tempat mereka bermain diambil. Ah, kau lihat bangunan kecil di sana?” Raena menunjuk salah satu bangunan kecil yang gagal dibuat karena dihancurkan warga sekitar sini. Aku mengangguk sebagai jawaban, menunggunya untuk menyelesaikan apa yang ingin dia bicarakan. Hei, apa dia tidak tertarik sama sekali denganku sampai lebih suka membahas ini dibanding berkenalan atau apa?

“Di sana seharusnya masih ada beberapa permainan untuk mereka. Walaupun tidak terlalu besar, tapi itu sudah cukup untuk melepas lelah mereka dari sekolah.”

“Tapi bukankah pihak perusahaan sudah berjanji akan memberikan ganti rugi? Kenapa masih tidak mau?” Raena menoleh, menatapku dengan matanya yang tidak terlalu sipit itu, lalu tersenyum. Akan menyenangkan kalau melihat wajah ini setiap hari, untukku.

“Uang bukanlah hal yang sangat mereka agungkan, Hyukjae-ssi.”

Aku diam mendengar hal itu. Masih ada orang yang bisa menolak uang zaman sekarang, apalagi hanya untuk tempat bermain anak-anak, itu hal yang luar biasa.

“Eomma! Sini!” aku menoleh cepat ke arah Yuki yang melambai-lambai dari kejauhan. Aku melihat Raena yang tersenyum cerah lalu membalas lambaian tangan Yuki dari tempat kami duduk. Aku menoleh ke belakang, berharap yang dipanggil ‘eomma’ oleh Yuki tadi bukanlah Raena tapi sayang sekali tidak ada siapa-siapa di belakang kami. Sial! Jadi aku sudah keduluan orang lain untuk mendapatkan gadis ini?!

“Eomma di sini sajaa!” teriak Raena di sebelahku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar, dia juga menyebut dirinya ‘eomma’! berarti dia sudah menikah! Aish!

Setelah meneriakkan itu, kami berdua diam. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya atau apa yang ingin dia katakana lagi, karena inti pembicaraan kami tadi sudah dia sampaikan walau hanya tersirat. Dia ingin aku –yang dia sangka utusan perusahaan- untuk menghentikan pembangunan agar anak-anak di sini tetap memiliki lahan untuk bermain. Pembicaraan kami otomatis berhenti, apalagi ketika Yuki itu memanggil Raena dengan sebutan ‘eomma’ yang membuatku urung lebih mendekatinya. Hei, dia istri orang!

Sudahlah, daripada memikirkan nasib perasaanku yang ternyata tidak bisa aku teruskan lebih baik memikirkan bagaimana jadinya proyek pembangunan kami nanti. Apa harus aku teruskan? Kalau dipikirkan lagi memang ada benarnya, anak-anak desa seperti mereka akan sangat sulit mendapatkan tempat bermain kalau tempat yang ada digunakan untuk kepentingan satu pihak. Kalau mereka berada di Seoul mungkin mereka tidak akan repot untuk bermain di mana soalnya sudah banyak tempat bermain di sana.

Aku melirik jam tanganku, tidak terasa berada di sebelah gadis ini sudah satu jam lebih. Langit sore di sini sangat cantik, anginnya juga berhembus halus, akan sangat sempurna jika posisiku dengan Raena saat ini lebih dekat. Bukan seperti ini, sekitar setengah meter jarak kami ditambah keheningan di antara kami. Ah, jangan lupakan status istri orang dan satu anak yang membuatku kesal sekaligus sedih.

“Mau?” aku mendongak saat Raena menawarkan permen mint kecil di tangannya. Aku melihatnya sebentar lalu mengambil permen itu, yah mungkin tidak mendapatkannya juga tidak apa-apa. Penting itu sekarang aku bisa bersamanya dan berharap suaminya tidak melihat ataupun marah.

“Yuki memang suka memanggilku seperti itu. Dia menganggapku eomma-nya.”

“Uhuk!”

“Hyukjae-ssi, gwaenchanayo?” aku tersedak permen mint tadi saat Raena mengatakan hal itu. Aku memukul-mukul dadaku agar berhenti tersedak saking senangnya. Raena melihatku bingung, mungkin dia tidak tahu omongannya tadi membuatku kaget sekaligus senang bukan main! Belum menikah!

“Ehm!” aku berusaha untuk membersihkan kerongkonganku agar ketika berbicara tidak terdengar terlalu senang dan dapat berbicara dengan jelas nantinya.

“Ng… kalau aku boleh tahu, kenapa Yuki memanggilmu begitu?”

“Dia anak yatim piatu. Aku menjadi relawan di tempatnya di asuh dan kami menjadi dekat. Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke rumahku di sini.” Jawab Raena sambil memakan lagi permen mint yang dia miliki.

Aku mengangguk cepat karena otakku langsung bekerja cepat saat mengetahui Yuki bukan ananknya dan hanya anak asuhnya. Gadis yang baik, kurang apa lagi?

“Waeyo, Hyukjae-ssi?”

“Hehehe, aniyo. Ah! Langitnya bagus, hehehe.” Apa wajah bahagiaku terlalu terlihat? Ah, biarkan saja!

Ah! Bagaimana aku bisa lupa untuk menghubungi Siwon? Aku harus segera mengatakan bahwa proyek akan segera dibatalkan. Dia harus bisa mengatasi hal ini atau kartu mesumnya aku berikan ke tunangannya nanti, hahahha!

Oke, selesai mengirimi Siwon SMS, lalu… apa? Ng… apa yang harus aku katakan? Diam lagi?

Kami kembali menikmati angin pantai, tetap dengan melihat anak-anak yang masih bermain. Perlahan, aku memperkecil jarak di antara kami. Sekedar untuk menyempurnakan soreku di sini.

“Jadi, bukan eomma asli kan?”

“Ng… bukan. Waeyo?”

“Tapi dipanggil eomma…” Raena tampak kebingungan sekarang. Aku menatapnya sambil tersenyum, berharap dia tidak menganggapku gila karena terlalu senang tadi. Bahkan dia berhasil membuatku gila tanpa harus melakukan banyak hal.

“Apa Yuki sudah memiliki seseorang yang dipanggilnya ‘appa’?” aku harap belum ada. Ayolah, Raena, setidaknya jika proyek aku batalkan aku sangat tidak akan menyesal.

“Aku rasa… tidak ada, waeyo?”

“Ng… aniyo. Berarti, aku harus cari cara agar Yuki mau memanggilku appa, hehe.” Raena menoleh cepat. Saling bertatapan dengannya itu adalah surga dunia sekarang. Wajah bingung itu saja tampak sangat cantik di mataku.

Senyum Raena muncul setelah beberapa saat dia diam. Ah, dia mengerti? Baguslah.

“Yuki anak yang sulit dibujuk, apalagi dengan orang yang kesan pertamanya kurang baik sepertimu, Hyukjae-ssi.” Ah, kendalaku pada anak itu.

“Tapi… orang yang dipanggil eomma oleh Yuki sepertinya akan suka jika kau yang menjadi appa-nya.”

Dan hidupku yang sebenarnya pun dimulai. Saat dia tertawa pelan dan kembali memerhatikan anak-anak yang mulai beranjak untuk pulang, aku merekam itu semua dalam otakku. Secara tidak langsung, dia sudah membuat hidupku lebih bahagia sekarang.

Pertemuan seorang pemuda kaya dan gadis desa lalu mereka jatuh cinta dalam waktu sekejap saja, tidak hanya terjadi di dalam drama ataupun dongeng. Aku mengalaminya sekarang denganmu, Kim Raena… atau harus aku ubah kau menjadi Nyonya Lee? Ide bagus.

* * * * *

mian kalo ada typooo m(_ _)m
mohon kritik dan saraaan ^^

makasih semuaaaaa 🙂 *melayang*

Advertisements