word count : 414w

haaah judulnya fantastis(?) banget. Yaah, tinggal besok yah? 😦

Enjoy deh kalo gitu ^^

* * * * *

Aku membuka lembaran pertama. Foto-foto kami terpampang dengan jelas. Saat indah sampai saat kami hampir berpisah pun masih ada. Walau sudah berdebu tebal, album foto ini masih menjadi album foto favoritku untuk selalu aku lihat. Ah, aku sangat merindukannya, semenjak kematiannya–

“Ah, hapus, hapus. Jangan gara-gara kematian. Apa ya?” Aku melihatnya menggaruk kepala sambil mengulang beberapa bagian cerita yang sedang dia selesaikan dari tadi. Kekasihku memang suka membuat cerita fiksi, tapi baru hari ini aku melihatnya pusing dan selalu mengulang cerita.

“Boo~ sini sebentar.”

“Kenapa?” Dia menunjukkan bagian cerita yang daritadi dia bingungkan kelanjutannya. Aku baca sebentar, dan… aku tidak mengerti. Mungkin dia lupa kalau aku lebih hobi membaca karakter di game online dibanding membaca cerita fiksi dengan genre romantis tragis.

“Memang judul hari ini apa?” Dia bersender di sandaran sofa, mengusap-usap matanya lalu menghembuskan nafasnya pelan. Otomatis aku mengikutinya, hehe.

“Ini bukan judul terkahir.”

“Iya, tahu. Baby ceritanya besok hari terakhir, kan?”

“Bukan gitu maksudnya.”

“Jadi?”

“Ya judulnya itu!”

“Ah, nggak ngerti.” Dia memelototiku geram dan memukul lenganku agak kuat.

“Boo! Judulnya itu–aih tulis aja deh!” akhirnya dia mengambil selembar kertas dan pena yang ada di kolong meja tempatnya menulis tadi, lalu menuliskan judul yang dia dapat hari ini.

Aah, ternyata yang dia katakan tadi, hehe. Judul yang lumayan menguras otak, karena judul yang membahas judul. Ah, entahlah, tapi yang jelas judul ini memberiku ide tentang judul lain yang sangat cocok untuknya.

“Oh, pantes. Judulnya susah.”

“Jadi, gimana dong?”

“Bukannya judul yang kemarin-kemarin itu ada unsur romantis sama patah hatinya? Tiba-tiba jadi gini? Woo~”

“Wo apaan! Mending kamu punya ide! Awas kalau habis ini ngajakin maen PS lagi!”

“Nggak kok, ada ide malah.” Dia menoleh cepat, matanya berbinar, senyumnya terkembang. Nah, begini kan lebih cantik.

“Jadi, kamu buat ceritanya harus sama aku. Deal?” dia mengangguk cepat.

“Apa? Penasaran nih.”

“Judulnya yang tadi kan? Buat aja per-bab. Judul bab pertama itu Kamu Nikah Sama Aku, bab kedua Punya Anak dari Aku, bab ketiga Punya Cucu dari Anak Kita, dan bab terakhir tapi nggak terakhir itu Bahagia Selamanya Cuma Sama Aku. Gimana?”

Dia diam. Eh? Lagi berusaha ngerti ya? Apa lemot-nya keluar?

“Itu kok judulnya nggak formal banget yah?”

“Emang hidup kita nanti perlu formal?”

“Hidup? Bentar deh, nyambungnya sama judul hari ini apa?”

“Nggak ada. Emang aku bilang bakal nyambung?”

“Nggak inget.”

“Iya deh. Lanjutin aja. Aku bobokΒ aja di samping kamu. Biar sadar.”

Haaah~ sayangku ini, maksud judul yang aku kasih itu ya buat kita. Butuh banyak judul buat hidup sama kamu nantinya.

* * * * *

Advertisements