word count : 593w

hari kedelapan. panjang. umum. *tibatiba kempes(?)*

Enjoy! ^^

* * * * *

Aih, aku benci kau hari ini.

Bagaimana bisa kau berpakaian sebagus itu padahal kita hanya ke taman? Sedangkan aku, hanya memakai kaus santai dan juga jeans biasa dengan rambut panjangku yang aku kuncir ekor kuda.

Bagaimana bisa kau terlihat tampan hari ini? Sedangkan aku, tanpa makeup yang biasa aku gunakan bekerja, wajahku tampak pucat walaupun masih ada rona merah -sedikit- di pipiku.

Bagaimana bisa juga kau memilih taman sebagai tempat yang kita kunjungi? Biasanya, kau akan membawaku ke game center atau tempat yang menurutku membosankan dan menyenangkan bagimu. Makanya, aku hanya berdandan seadanya seperti ini.

“Hei, kenapa jalanmu lambat?” teriakmu dari kejauhan. Aku tertinggal. Jelas saja, aku dari tadi sibuk protes dalam hati tentangmu hari ini.

“Kau kenapa? Dari tadi cemberut, ada yang salah?” Kau mendekatiku, mengajakku duduk di kursi dekat pohon agar teduh.

“Tidak. Tidak apa-apa.”

“Eiiy… kau bohong. Kenapa? Ceritakan padaku. Kalau saja aku bisa membantu.” kau merangkulku, dan sekali lagi aku tidak bisa untuk menolak permintaanmu.

“Kau! Kenapa berpakaian formal seperti ini?! Kau tidak adil!” Kau menatapku dengan heran, dan detik berikutnya kau tersenyum. Senyum yang benar-benar senyum.

“Kenapa tidak adil?”

“Ya setidaknya kan aku bisa mengimbangimu! Kau ingin aku terlihat seperti pelayan yang sedang berselingkuh dengan tuannya, begitu?! Is, jahat! Aku benci kau!” kali ini, kau tertawa. Iiih kurang ajar!

“Hahaha! Kau ini… kau pikir orang setampan aku mau memacari seorang pelayan?” kau mengacak rambutku. Bagus, sekarang aku tambah kelihatan seperti pelayan menyedihkan.

“Baiklah, baiklah. Jangan cemberut seperti itu. Kau tetap–”

“Jangan katakan kalau aku tetap cantik walaupun berpenampilan seperti apapun! Aku kan ingin dipandang orang pantas berada di sampingmu! Kau tidak adil!”

“Bagian yang tidak adil yang mana, sih?”

“Apa aku harus mengatakannya?”

“Tentu saja. Ayolah, katakan.”

Kau tidak adil karena membiarkanku sendirian yang memujamu!

“Tidak. Tidak mau. Tebak saja sendiri.”

Diam. Mungkin kau sibuk berpikir, mungkin yah.

“Hei.”

“Apa?” kau membenarkan posisi dudukmu. Sikumu bertumpu pada pahamu. Padangan matamu juga seperti menerawang jauh.

“Aku seperti ini karena memang sudah saatnya.”

“Maksudmu?” kau menggaruk tengkukmu. Beberapa kali juga kau menghembuskan nafas dalam, seperti ada beban yang harus kau keluarkan.

“Harusnya ini aku lakukan nanti malam, soalnya ibu dan kakakku juga baru bisa menyiapkan nanti malam. Tapi kau sudah marah-marah seperti ini, ya sudahlah.”

“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu.”

“Aku tidak pandai bicara, kau tahu itu, kan? Makanya, kemarikan tanganmu.” dengan patuh aku hanya menuruti perintahmu. Kau meraih tangan kananku, tangan kananmu merogoh saku celanamu dan mengeluarkan kotak kecil yang aku tahu isinya apa.

“Nah, pas! Bagaimana? Mau?”

“Jadi, kau melamarku? Begitu?”

“Iya–Aw! Hei! Kenapa kau memukulku?! Setiap wanita yang dilamar kekasihnya itu harusnya senang!” tidak aku pedulikan teriakan kesakitanmu, yang jelas kau sudah membuatku kesal duluan hari ini!

“Tuh, kan! Kau tidak adil! Aku benci!”

“Aw! Hei! Berhenti memukuliku!”

“Bagaimana bisa kau membiarkanku terlihat payah seperti ini sedangkan kau terlihat sempurna?! Iiiiih kau payah!” kau menahan tanganku. Dengan muka yang sama-sama memerah, kau menertawakanku.

“Itu karena kau yang terlihat sempurna setiap hari.”

“Tapi aku terlanjur membencimu hari ini, bagaimana? dahimu berkerut, tapi tidak lama, karena digantikan oleh senyummu yang -sekali lagi- membuatku tidak bisa berkata apa-apa.

“Baiklah, kau boleh membenciku sepuas-puasnya hari ini karena katamu aku berlaku tidak adil. Aku juga akan membencimu hari ini karena merusak momen.”

“Baiklah. Aku akan membencimu hari ini. Hari ini, kok.” kau dan aku sama-sama tersenyum. Aku rasa, karena kita tahu apa yang akan kita katakan selanjutnya.

“Apa aku harus mengatakannya?”

“Apa aku harus mengatakannya juga?” kita tertawa. Haha, aku baru tahu kalau ada perasaan senang saat saling ‘membenci’ seperti ini.

Karena benci hari ini, akan kita gantikan dengan sepuas-puasnya saling mencintai.

* * * * *

Advertisements