word count : 296w

#15HariNgeblogFF hari keenam ^^

ng… semakin hari semakin biasa ‘_’ tapi wes lah, semoga suka ^^

* * * * *

“Boleh aku memelukmu?” tatapan matamu lemah saat mengucapkannya. Aku hanya mengangguk dan kau langsung memelukku erat. Itu membuatku berdebar-debar, kau tahu?

Saat kau memelukku, terasa sangat menyenangkan. Apalagi kau tidak kunjung melepaskan pelukanmu padaku.

Namun, perasaan menyenangkan itu tidak bertahan lama. Digantikan oleh rasa sakit sekaligus kasihan terhadapmu. Seperti… tubuh dan otakku merasakan bahagia, tapi hatiku sendiri tidak.

Tapi aku mencintaimu, bolehkan aku berharap kau akan tetap bersamaku dan merasakan pelukanmu setiap saat yang aku mau?

“Boleh aku memelukmu lebih erat lagi?” sekali lagi aku mengangguk dan ikut mengeratkan pelukan kita. Aku semakin berdebar-debar karenamu, perasaanku semakin melambung tinggi karena pelukanmu, dan harapanku semakin kuat akan eksistensimu di sekitarku.

Kau menghembuskan nafas lega setelah melepas pelukan kita. Matamu terlihat sedikit berair, tanda kau menahan tangis. Kenapa? Kenapa kau masih harus menangis? Ada aku.

“Terima kasih. Terima kasih banyak.” Rasanya enggan melepas genggaman tanganmu sekarang. Jangan ucapkan terima kasih padaku. Aku mohon, tetaplah bersamaku.

“Kau tetap akan pergi?”

“Tentu saja. Aku tidak bisa bertahan di sini bersamamu, terlalu berat.”

“Apa tetap tidak bisa? Apa yang membedakan kami?”

“Maaf. Tetap saja tidak bisa.”

Kau menyentuh bahuku, menatapku dengan tatapan sedihmu.

“Hiduplah dengan baik. Makan makanan yang baik. Jaga… jaga detak jantungnya-ah maaf, maksudku detak jantungmu agar tetap berdetak dengan baik.”

Yang bisa aku lakukan hanya mengangguk pelan. Ternyata, tetap saja tidak bisa. Padahal aku sangat mencintaimu, bahkan lebih dari dirinya.

“Kenapa hanya dia yang bisa? Kenapa?” kau hanya tersenyum.

“Aku pergi dulu. Terima kasih.”

Ah, tentu saja kau tidak bisa bersamaku. Karena ada seseorang yang selalu di matamu, di hatimu.

“Tidak bisa karena… karena ada dia di matamu, kan? Hanya dia, kan?” kau sudah pergi, tidak akan mendengar gumamanku tadi.

Ada dia di matamu.

Hanya ada orang yang jantungnya sedang berdetak untukku di matamu.

Hanya ada dia, kembaranku.

* * * * *

Advertisements