word count : 440w

no, bukan galau, hahhaa XD

* * * * *

Wow.

Kalian bahagia. Lihat, foto itu terpampang mesra di layar komputerku. Foto kau, mantan kekasihku, dan sahabatku. Foto kalian berdua.

‘Aku menyayangimu’

‘Aku lebih menyayangimu’

‘Jangan tidur malam-malam, ya. Terima kasih untuk hari ini, sayang.’

‘Itu karena aku bersamamu.’

Deretan postingan me2day kalian membuatku…mau muntah. Bisakah kalian mencari tempat lain untuk bermesraan? Apa kalian berdua lupa kalau aku menjadi ‘pengikut’ kalian dan kalian ‘mengikutiku’ di me2day ini?

Ah, aku lupa. Aku yang menimbulkan semua ini. Aku yang meninggalkanmu. Aku yang bertindak seakan tidak pernah mencintaimu, dengan cara membuat ekspresi dan mataku masih menatap orang yang kusukai dulu. Dan bagian yang paling aku tunggu adalah, kau menjadi kekasih sahabatku.

Aku memang aktris hebat, sangat hebat. Salah satu temanku pernah mengatakan bahwa mataku penuh kebohongan, dan itu –terkadang- benar. Aku berbohong padamu.

Mau aku sebutkan beberapa kebohonganku padamu? Sebentar, aku mengingatnya dulu. Ah, iya, aku paling mengingat ketika aku selalu mengatakan padamu bahwa aku masih menyukai temanku dulu, dan kau paling tidak suka itu. Tentu saja, waktu itu kau masih milikku.

Aku jadi berpikir… ah, kenapa aku sering mengatakan hal itu? Dan menjadi lebih sering lagi mengatakannya ketika hubungan kita –aku rasa- akan benar-benar berakhir? Itu, karena aku melihat tatapan seorang wanita kepadamu, sahabatku.

Jangan salahkan aku begitu tahu apa isi hatimu, sahabatku. Aku terbiasa menebak perasaan orang dan itu selalu tepat—tidak, aku bukannya bias membaca pikiran ataupun meramal. Aku hanya terbiasa.

Caramu menatap kekasihku dulu itu, caramu berbicara dengannya, dan caramu… caramu menanggapi hari spesial kami di jejaring sosial. Aku ingat… ah, sudahlah. Aku hanya ingin dia tahu saja, bahwa aku tidak menyukai caramu itu, sahabatku. Tapi tidak apa-apa, itu hak milikmu.

Hal yang paling kejam aku lakukan padamu, kekasihku dulu, adalah mengakhiri hubungan kita tanpa mau bertatap muka denganmu.

Katakan aku pengecut, atau apapun waktu itu, aku hanya takut mengubah keputusanku. Keputusanku untuk menyerahkanmu pada sahabatku. Kau tahu? Kalian terlihat lebih baik berdua, tanpa ada aku.

Tepat dugaanku, seminggu setelah hubungan kita berakhir, kau sudah menjadi miliknya, milik sahabatku. Selamat untuk kalian berdua.

Sayangnya, aku sedikit teledor dalam menjaga hatiku sendiri agar tidak terlalu memusingkan kalian. Setelah mengetahui kalian bersama, aku tidak merasakan apa-apa karena memang itu yang aku inginkan, kalian bersama. Apa aku bahagia? Apa aku senang?

‘Hei, sms saja, hehehe.’

Aku kembali pada akun me2day-ku. Akhirnya, sadar juga kalian, gunakan telepon genggam kalian itu.

Tunggu, kenapa aku mengingat ini lagi? Kenapa aku tidak bertindak cuek dan melewatkan obrolan kalian di me2day seperti biasa?

Ho, sepertinya aku sadar sekarang. Merasakan sakit itu lebih baik daripada tidak bias merasakan apa-apa—termasuk jatuh cinta- seperti sekarang. Setidaknya aku tidak kembali berhati batu, keras.

Jadi, aku tadi sakit hati atau tidak?

* * * * *

Advertisements