Berduaan dengan dia itu, ya…bikin jantung deg-deg-ser sampai nggak karuan detaknya.

Lihat saja, suamiku itu sedang menggenggam tanganku erat, memandangi wajahku lekat dengan senyum yang menawan. ย Tipe pria romantis, dia menyiapkan makan malam super mewah ini hanya untukku.

“Sayang, makanannya enak?” Kami berdua sudah kenyang. Aku mengangguk girang karena memang makanannya enak dan aku sedang lapar.

Suasana restoran semakin romantis. Lampu yang berwarna kuning romantis, musik jazz yang mengalun indah, makanan enak -murah- tentunya, dan tidak ketinggalan suamiku yang tampan dan sempurna dari dalam sampai luar.

“Sepertinya ada yang beda dari kamu malam ini, apa ya?” Suamiku melepaskan genggamannya dan memerhatikan wajahku lekat. Wajah tampannya itu membuatku… tambah cinta!

Apa suamiku akan menciumku di tempat umum seperti ini?ย Wajahnya mendekat, pandangan matanya menyipit, mulutnya terbuka perlahan seiring wajah kami yang semakin mendekat. Sekarang, jarak mata kami mungkin tidak lebih dari sepuluh centi.

“Sayang,” suaranya pelan dan dalam.

Dag dig dug!

Duh! Jantungku bertambah kuat berdetak! Bagaimana ini?! Aku mau dicium olehnya, tapi… aku malu!

Mulutnya semakin terbuka, semakin lama semakin lebar, apa dia mau memakan mulutku?

“Ng… sayang?”

“Ternyata, bulu hidungmu lebih panjang dari punyaku, sayang.”

Sialan.

Advertisements