Tags

, , , ,

Title : Flashback

Author : KimRae

Genre : Family, semoga bener (_ _”)

Main Cast : Kim Raena(OC/me/you/siapasajalah), Cho Kyuhyun

Other : Choi Seunghyun, Shim Changmin, and other staff(?)

okeeeee~~~

balik lagi dengan Cho’s fam, ada yang kangen? *pede

settingnya… waktu si Raena belum hamil lagi, dan waktu si Jinho masih umur 6 tahun *sekarang 7 XD

panjang *lumayan* dan agak-agak gimanaaaa gitu, miaan (_ _)

okedeh, langsung aja 🙂

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

****

Malam hari yang seperti biasa. Mengurus pasien, memeriksa keadaan rumah sakit ini secara langsung, melihat proses operasi jantung yang ditangani Changmin, memeriksa data-data rumah sakit. Badanku rasanya mau memisahkan diri saja.

Aku dan Changmin baru saja keluar dari kamar pasien yang tadi barusan dioperasi. Untunglah prosesnya tidak memakan banyak waktu dan anak kecil berumur 11 tahun itu bisa hidup dengan jantung yang normal lagi.

“Haah, untung saja tadi berjalan lancar seperti biasa.” Changmin berjalan di sampingku sambil merentangkan tangannya ke atas. Aku sendiri berjalan santai –memasukkan kedua tanganku di saku jas dokter- seperti biasa. Entah kenapa hari ini membuatku capek luar biasa. Dan aku ingin cepat pulang bertemu keluargaku. Hanya mereka yang bisa membuatku lebih santai.

“Kau tidak perlu menjenguknya!” aku dan Changmin serentak berhenti berjalan saat seorang pria membentak seorang wanita di depan kamar rawat. Wajah pria itu seperti menahan amarah, berbanding terbalik dengan wajah si wanita yang tidak terlihat sama sekali, menunduk.

“Aku mohon… aku mohon…” terdengar oleh kami isakan si wanita. Wanita itu menarik-narik kerah kemeja pria di hadapannya, sepertinya menangis.

“Kyu, itu ada apa sih?” aku hanya mengangkat bahuku dan menoleh saat Changmin berjalan cepat menghampiri mereka sambil sesekali melirik jam tangannya. Aku mengekorinya dari belakang dan juga melihat jam tanganku, pukul 10 lewat tujuh menit. Memang sudah seharusnya mereka tenang.

“Maaf, permisi.” Kedua orang itu menoleh bersamaan saat Changmin menyentuh bahu pria itu. Aku bisa melihat si wanita dan si pria menunduk bersamaan saat melihatku and aku melakukan hal yang sama. Si wanita buru-buru menghapus bekas-bekas airmatanya menggunakan mantelnya. Si pria sepertinya sedang berusaha meredam emosinya yang terlihat meluap-luap tadi.

“Maaf mengganggu pembicaraan kalian, tapi tolong jangan berteriak ketika berada di rumah sakit. Apalagi kalian berada di depan ruang rawat.” Kedua orang itu kembali membungkuk, meminta maaf.

“Maaf, aku… aku hanya ingin melihat anakku.”

Eh? Aku… seperti… de javu.

“Kau tidak perlu melihatnya lagi.”

“Tapi dia juga anakku~”

“Kau masih ingat dia anakmu, huh?”

“Maafkan aku~”

Seketika dua orang ini kembali sibuk dengan perdebatan mereka. Tidak seheboh tadi yang sampai saling berteriak, mungkin mereka masih menganggap kami ada di sini.

De javu. Aku seperti melihat sesuatu yang pernah aku alami sendiri melihat dua orang pasangan ini. Dulu…

“Kyu.” Changmin menepuk pundakku dan berhasil menghindariku untuk masuk kembali kekenangan sekitar tiga tahun yang lalu. Saat Jinho berumur tiga tahun.

“Sepertinya kita harus memisahkan mereka dulu.” Aku mengangguk. Selain tidak mau mereka terus bertengkar, aku juga tidak mau mereka membuat pasien lain merasa terganggu dengan suara mereka yang bisa kapan saja meledak-ledak.

“Maaf. Kalau kalian ingin bertengkar, aku sarankan untuk keluar sebentar lalu kembali lagi jika sudah selesai. Kami memiliki banyak perawat di sini.” Kedua orang itu langsung diam dan saling pandang. Lalu mereka memutuskan untuk undur diri setelah salah satu perawat yang dipanggil Changmin datang.

“Hei, kau itu kepala rumah sakit ini, tapi kenapa gaya bicaramu tidak pernah sopan sama sekali?” Changmin lanjut berjalan duluan, meninggalkanku dibelakangnya yang berjalan agak pelan.

Melihat pasangan tadi bertengkar, seperti ada tusukan jarum yang menghantam otakku. Sakit.

Mereka bertengkar, masalah anak. Apa sama sepertiku dulu?

“Hei! Ayo cepat! Kau tidak mau pulang dan menemui Raena ya?” teriak Changmin dari ujung lorong menuju elevator.

“Iya! Tunggu!” dan aku berlari menghampiri Changmin. Ingin segera pulang, dan bertemu dengan istriku, lalu menghilangkan semua kenangan buruk yang kembali masuk dipikiranku.

*****

“Aku pulang~” aku menaruh sepatuku dan sedikit menyipitkan mata karena ruang tamuku agak gelap. Hanya lampu neon pajangan yang ada di dekat televisi yang menyala dengan sinar kuningnya.

Perlahan, aku mendekati sosok Raena yang sedang duduk, ng… tidur lebih tepatnya. Dia selonjoran di sofa kami, untung dia membawa selimut, karena sekarang musim dingin. Aku tidak mau dia terkena flu.

“Rae-ah~ Ireona~” aku menepuk pipinya pelan, kalau kuat-kuat kan bahaya. Dia tidak bangun, hanya mengerang dan merubah posisinya menjadi menghadap sandaran sofa. Aku memutuskan untuk duduk di pinggiran sofa itu, dan aku melihat segelas susu yang tidak lagi hangat ada di atas meja. Ais, pasti dia menungguku sangat lama.

“Baiklah, semoga kau tidak bertambah berat, baby.” Aku tersenyum sendiri saat mengatakan hal itu. Berat badan, bisa-bisa kalau dia tahu, aku akan tidak dapat jatah morning kiss selamanya. Menggendong ibu-ibu satu ini perlu tenaga ekstra.

“Ya ampun.” Berat. Terkadang aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Raena memiliki berat seperti ini disaat tubuhnya masih sama seperti dulu, hanya tingginya yang berbeda sedikit. Ideal sih, tapi ya berat.

Aku membaringkan tubuhnya perlahan dan menyelimutinya. Setelah itu aku berganti pakaian dan memutuskan untuk mencuci muka dan membersihkan mulut dan gigi saja. Tidak usah mandi, bisa terkena penyakit aku mandi malam-malam begini.

Aku langsung berbaring setelah melakukan itu semua. Aku menoleh ke kiri, tempat istriku sudah tertidur nyenyak. Aku paling suka memandanginya tidur seperti ini, cantiknya bertambah berkali-kali lipat meskipun aku lebih suka dia saat bangun, lebih membuat semangat.

Kalian percaya tidak, kalau aku mengatakan bahwa aku pernah hampir menyakiti pemilik wajah ini? Aku bahkan hampir pernah membuatnya ketakutan denganku. Baiklah, mungkin ada baiknya aku menceritakannya, aku rasa bisa sedikit membuang rasa penyesalanku.

—–

3 years ago

“Kyuhyun-ah, bagaimana dengan laporan yang ini? Sudah kau periksa?” Seunghyun hyung mengetuk-ngetuk kumpulan berkas laporan kemajuan rumah sakit yang ada di mejaku. Kepalaku bertambah pusing gara-gara masih banyak laporan yang harus aku periksa dan buat.

“Hyung, periksa sendiri sajalah.” Aku sedikit menyingkirkan berkas itu dan tentu saja sebagai orang yang lebih tua dariku, Seunghyun hyung tidak terima aku perlakukan seperti itu.

“Tidak ada sopan santun sama sekali. Bagaimana bisa Raena menikah denganmu? Ck.” Seunghyun hyung mengambil berkas itu dan keluar dari kamarku. Peduli? Tidak. Terserah dia mau bilang apa tentang pernikahanku dengan Raena, yang jelas Raena sudah jadi istriku.

Aku merogoh saku kemejaku saat telepon genggamku berdering. Paman Jung? Tumben sekali dia menelepon? Ada apa di rumah?

“Yobosaeyo?”

“Ne? Aniyo, dia tidak menghubungiku hari ini, waeyo?”

“Mwoya?! Yang benar saja!”

“Ah, araseo~mianhae~”

Aku langsung menekan angka tujuh setelah memutuskan sambungan dengan Paman Jung. Apa Raena gila?! Menitipkan Jinho di penitipan anak-anak di mall?! Paman Jung tadi bertanya apa Raena menghubungiku hari ini, karena pihak penitipan anak-anak tersebut menghubungi telepon rumah kami. Jinho sudah dititipi dari tadi pagi sampai siang ini dan Jinho menangis-nangis karena belum makan. Untunglah aku membeli motor untuk Paman Jung waktu itu, jadi Paman Jung bisa menjemput Jinho.

Umur Jinho masih tiga tahun, butuh seorang ibu yang selalu siap siaga di sampingnya. Apa Raena tidak memikirkan hal itu?

“Kim Raena, kemana kau?” kesal, telepon genggamnya aktif, tapi tidak pernah dijawab. Aku juga tidak memiliki pilihan lain, hanya bisa menghubunginya dari sini. Segala macam kesibukan ini membuatku muak.

Aku harus berusaha keras menahan agar otakku tidak pecah. Menjalankan semester terakhir di kedokteran dan menjalankan pendidikan manajemen rumah sakit sekaligus bukanlah hal yang menyenangkan sekalipun oleh orang cerdas sepertiku.

Bukan tanpa alasan aku mempelajari manajemen rumah sakit. Untuk meyakinkan appa menyerahkan rumah sakit ini padaku, aku harus bisa melampaui ilmunya dibidang ini.

Baiklah, aku memutuskan akan berbicara dengan Raena nanti malam saja saat aku pulang.

—-

“Kau kemana tadi siang?” di kamar, Raena sedang membersihkan make-upnya dan menatapku dari cermin riasnya. Wajahnya ceria sekali saat aku menanyakan hal itu.

“Kyu! Aku tadi melakukan wawancara dengan pihak kedutaan! Dan kau tahu? Mereka tertarik dengan lampiran-lampiran yang aku berikan dan aku mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara di Jepang bulan depan! Hebat kan!” Raena mengatakannya dengan semangat. Hebat? Iya, tapi kalau sudah lupa pada anak sendiri, tidak hebat lagi.

“Kau melupakan Jinho hanya gara-gara itu?” wajahnya berubah tidak enak. Senyumnya memudar dan dia berdiri menghampiriku yang sedang duduk di pinggiran kasur.

“Kyu-ah, tapi kan itu juga penting. Kan ada Paman Jung yang menjem—“

“Beliau tidak akan tahu jika pihak penitipan tidak menelpon rumah.” Raena menunduk saat aku menatapnya tajam. Aku memang membiarkannya tetap bekerja setelah lulus dari bidang sastranya. Kelebihannya dalam menguasai berbagai bahasa membuatnya sangat hobi mencari pekerjaan.

“Maaf, Kyu. Tapi kesempatan itu tidak datang dua kali. Mereka sepertinya tertarik memperkerjakanku dibidang yang sangat jarang didapatkan oleh pegawai baru. Dan mereka percaya dengan—“

“Jinho. Tanggungjawabmu. Cho Jinho. Anak kita, kau ingat pernah melahirkannya kan?” aku geram. Yang ada di otaknya hanya kerja dan kerja.

Aku segera meninggalkannya tidur. Tidak peduli dengannya yang hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Beberapa saat setelah itu, aku merasakan tangannya memelukku dari belakang. Sebenarnya cara ini akan sangat ampuh kalau aku hanya kesal biasa padanya, tapi kali ini entah kenapa tidak sama sekali.

“Kyu, mian…” suaranya pelan. Aku memejamkan mataku, sesekali dia harus tahu kalau dia salah.

—-

“Changmin-ah, bagaimana dengan pasienmu?”

“Sudah aku tangani semua, hanya ada satu lagi pasien yang harus menjalani operasi.” Aku hanya mengangguk dan kembali berkutat dengan soal-soal manajemen dan juga laptopku yang menampilkan tab-tab Microsoft word, isinya semua makalah dan beberapa karya ilmiah milik profesor-profesor terkenal di Korea Selatan maupun luar negeri yang sudah diterjemahkan. Sekali lagi aku katakan, ini membuatku muak.

“Kyuhyun-ah.”

“Jangan ganggu aku dulu, Changmin-ah. Kau tidak lihat aku sedang sangat sibuk?” aku melirik Changmin sekilas, dia hanya menggelengkan kepalanya tanpa berminat untuk meninggalkan ruanganku.

“Sepertinya kau akan tua sebelum umurmu.” Aku meletakkan kertas soal itu di meja, sedikit menghentaknya agar Changmin tahu bahwa aku sangat terganggu.

“Bisa kau diam? Atau setidaknya bantu aku!”

“Wow, santai. Aku hanya ingin kau istirahat sejenak— oke jangan lempari aku dengan kertas itu dulu. Kau itu harusnya sedang berada di rumah, atau setidaknya jam makan siang seperti ini kau menghubungi istrimu dan mengajak anakmu juga untuk makan siang bersama! Tapi lihat! Kau malah berkutat dengan obsesimu mengambil alih rumah sakit ini?!” Changmin menatapku dengan tidak percaya. Oh, ayolah. Harusnya dia masih ingat kalau itu tujuanku kalau sudah menikah.

“Changmin-ah—“

“Kali ini aku tidak akan membiarkanmu berbicara panjang. Sudah saatnya kau mau mendengarkan orang. Aku tahu itu tujuanmu setelah menikah, aku hafal!”

“Tapi kali ini kalian sudah punya anak, Jinho! Walaupun belum masuk usia sekolah, tapi dia membutuhkan kedua orangtuanya! Walaupun tidak 24 jam, tapi kan kalian bisa pulang lebih awal untuk bermain bersamanya! Bukannya pulang setiap jam 10 malam, lalu masuk kamar, lalu tidur!”

Baru saja aku akan memotong lagi, hendak bertanya dia tahu darimana kegiatanku dan Raena saat sampai rumah, tapi dia sudah kembali merocos.

“Aku tahu dari Paman Jung, tidak usah tanya. Oh, dan Raena, bisakah kau menyuruhnya untuk lebih bersemangat mengurus rumah tangga kalian? Bukan bersemangat mencari kerja sana-sini!”

BRAK!

Cukup. Dia terlalu banyak berbicara padaku.

“Apa hakmu menceramahiku?!”

“Aku sahabatmu!”

“Ini hidupku!”

“Dan aku peduli!”

“Kau—“

“APA?!” Changmin dan aku sudah saling berhadapan. Wajah kami berdua memerah karena saling berteriak, dan untungnya mejaku menjadi penghalang agar aku tidak menarik kerah jas lab-nya.

“Aku ingin kalian hidup dengan normal. Bukan sebagai pasangan yang gila kerja.”

“Kau, kau bisa mendapatkan jabatan ini kalau Jinho sudah menginjak usia sekolah. Raena juga. Setidaknya anak kalian tidak akan merasa kesepian. Kau harusnya tahu, kau tidak bisa melihat dari mata Jinho? Anak itu butuh kalian. Pertama kali aku melihat Jinho saat aku kabur jam makan siang ke rumah kalian, pertama kali yang aku ingin lakukan adalah membawanya ke apartemenku dan merawatnya dengan baik.”

Aku diam. Sekarang, pikiranku kosong. Entah tidak ada ruang lagi atau bagaimana, aku sulit mencerna kata-kata Changmin. Terlalu rumit, menurutku.

“Masih tidak sadar? Oh, Tuhan~” Changmin meremas rambutnya kasar dan menatapku geram.

“Terserah kau saja. Kalau kau tidak keberatan, aku mau menerima Jinho. Akan sangat menyenangkan punya malaikat kecil yang menghibur dengan kepolosannya setelah menempuh hari-hari seperti ini.” Setelah mengatakan itu, Changmin keluar ruanganku.

Aku memijat pelipisku. Rasanya Changmin terlalu banyak berbicara sampai-sampai semuanya tidak bisa aku simpan di otak. Hanya terbanyak kata-kata terakhirnya, ‘menyenangkan punya malaikat kecil’.

Tunggu. Aku rasa kepalaku kembali pusing. Lebih baik aku meneruskan pekerjaanku saja. Cepat selesai, cepat pulang, cepat dapat jabatan dari appa. Selesai.

—-

Jam 10 malam. Boleh aku katakana aku tidak pernah beranjak dari kursi ini –kecuali untuk ke kamar kecil- dari tadi siang sampai sekarang. Sebenarnya tugasku sudah selesai, semuanya. Hanya saja, aku ingin mempelajari materi lain lebih cepat. Cepat selesai akan sangat baik agar appa segera percaya padaku.

Bukan tanpa alasan aku ingin mengambil alih rumah sakit ini. Appa sudah terlalu tua untuk mengurusi hal-hal berat seperti ini, beliau sudah harus istirahat. Sayangnya, appa orangnya terlalu keras untuk menyerah begitu saja. Jadi, aku juga harus bekerja keras untuk meyakinkannya.

“Kyu?” Seunghyun hyung muncul di balik pintu ruanganku. Pakaiannya sudah berganti lebih santai, bersiap pulang.

“Kau tidak pulang?” aku menggeleng, dan tanpa membujuk lagi dia langsung menutup pintu ruanganku, dan aku dapat mendengar derap langkahnya menjauh karena rumah sakit ini sudah sangat sepi.

Aku sempat terlonjak karena tiba-tiba telepon genggamku berdering nyaring saat aku hampir saja terlelap. Paman Jung lagi.

“Ye, ahjussi?”

“Ah, mianhaeyo… mungkin aku tidak pulang malam ini, katakan pada Raena-eh?”

“Mwo? Dia juga tidak pulang? Dia kemana?!” nada suaraku tiba-tiba meninggi. Tidak pulang?! Tanpa memberitahuku?!

“Ah, ne. Kamsahamnida, ahjussi.”

Aku memijat pelipisku. Kemana wanita itu? Harusnya kalau ingin kemana-mana, dia menghubungiku! Aku ini suaminya!

Aku memutuskan untuk menhubunginya saja setelah bisa meredakan pusingku yang tiba-tiba menyerang.

“Raena-ah!”

“Ya! Kau dimana?!”

“Mwo?!”

“Pulang!”

“Aku tahunya kau pulang! Tidak ada acara menginap-meningap dirumah temanmu!” dan sambungan langsung aku putuskan tanpa mendengar apa yang akan dia katakan. Menginap di rumah temannya yang bekerja di kedutaan hanya untuk mempelajari data? Is, penting sekali daripada pulang kerumah.

Oke, cukup mengurusi hal tidak pentingnya. Lanjut belajar dua materi lagi, dan aku –mungkin- bisa tidur. Tidak usah pulang.

—-

Sangat ingat, waktu dulu, tingkat egoisku sangat tinggi. Ditambah lagi dengan sifat kami yang sama-sama suka cari kerja dan tidak bisa diam. Intinya, tiga tahun pernikahan itu kami lalui dengan sangat berat, dan puncaknya di tahun ketiga itu, kami… hampir… yah begitulah.

“Ng…”

“Ssst…” Raena mengerang sedikit, tumben tidak bangun. Biasanya, kalau aku memandanginya lama sambil mengenang kembali kejadian apa saja yang pernah kami alami seperti ini, dia akan bangun.

Apa yang aku bayangkan tadi hanyalah pengantar dari hampir hancurnya rumah tangga kami. Keegoisan dan juga jiwa yang masih ingin banyak mencari pengalaman juga obsesi hampir menjadi jembatan kematian bagi rumah tangga kami waktu itu. Kalau sampai aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku, dan tidak segera sadar bahwa itu adalah kesalahan bersama, mungkin aku tidak akan bisa memeluknya setiap malam ketika hendak tidur seperti sekarang ini.

Kejadian itu, bermula dari Jinho, dan kami juga tersadar karenanya.

—–

“Kyuhyun-ah, tolong izinkan aku ikut seminar, aku kan sudah minta izin padamu tiga hari yang lalu!”

“Lebih baik kau dirumah saja, aku harus ke rumah sakit. Nanti yang menjaga Jinho siapa? Oke?”

“Kyuhyun-ah~”

“Rae-ah, dengarkan aku. Jinho membutuhkanmu di—“

“Lalu apa Jinho tidak membutuhkanmu?” aku berbalik dari cermin, merapikan kembali kemejaku dan menatap Raena yang juga sudah sama rapinya denganku. Pagi ini kami berdua akan pergi, rencananya. Hanya saja, aku tidak mengizinkannya untuk pergi. Dia tidak boleh terlalu banyak keluyuran sedangkan Jinho masih membutuhkannya sebagai seorang ibu, bukan sebagai penerjemah dan pegawai kedutaan.

“Aku pergi dulu. Ah, dan ingat, jangan pergi kemana-mana, mengerti?”

“Kyu!”

“Annyeong.” Tanpa memerdulikan panggilannya aku langsung keluar kamar dan berpamitan dengan Bibi Jung yang sedang menyirami bunga, ada Jinho di sampingnya.

“Appa!” aku tersenyum pada jagoanku itu, lalu mengacak rambutnya sebentar sebelum masuk mobil.

“Appa, mau kemana? Main cama Jinnie~” Jinho menarik-narik manja ujung kemejaku. Saat itu Raena muncul dari depan pintu dan menghampiri Bibi Jung. Wajahnya murung, maklum saja karena keinginannya tidak aku penuhi.

“Jinnie-ah~ appa harus pergi kerja… jangan bandel ya di rumah~” Jinho merengut dan melepaskan tarikannya dari ujung kemejaku. Tanpa pamit sekali lagi, aku langsung masuk mobil dan melajukannya lumayan cepat, aku sudah terlambat.

—-

Hari kembali sore, aku kembali berkutat dengan pekerjaan di rumah sakit setelah pagi tadi mengumpulkan tugas kuliah dan juga meminta materi lebih cepat.

Aku menyandarkan tubuhku di sofa sejenak untuk melupakan pekerjaanku yang selama ini menumpuk luar biasa. Sebentar lagi semua ini akan selesai, dan appa juga sudah mulai percaya padaku untuk menangani rumah sakit ini. Akhirnya.

Oh, salah. Masih ada tumpukan esai, sialan.

Aku kembali ke meja kerja, kembali menghadapi laptop dan juga beberapa lembar kertas yang tidak teratur lagi halamannya dan mulai bekerja.

Gangguan lagi, pikirku. Telepon genggamku berdering disaat yang tidak tepat, saat aku sedang semangat-semangatnya mengerjakan tugas. Paman Jung lagi yang menelepon.

“Ya? Paman, maaf, bisakah jangan sekarang? Aku sedang sibuk. Maaf.”

Aku meletakkan telepon genggamku di atas meja kerja, kembali terlarut dalam pekerjaan.

Entah ada apa, hanya saja setelah menerima telepon tadi, perasaanku malah jadi kacau. Cho Kyuhyun, abaikan saja, hanya perasaan.

—-

Aku mengerjapkan mataku. Kepalaku terasa berputar seiring mataku menyesuaikan keadaan dengan sekitar. Oh, aku ketiduran di ruanganku lagi?

“Aw, leherku~” sepertinya aku harus menghilangkan kebiasaan ketiduran di rumah sakit ini. Seluruh tubuhku bisa cepat hancur kalau seperti ini terus.

Pukul enam pagi. Rumah sakit masih lengang. Aku kebingungan antara mau pulang atau menumpang mandi di apartemen Changmin karena laki-laki itu pasti belum datang. Ah, telepon dia saja dulu.

Belum sempat aku menekan tombol ‘call’, telepon genggamku kembali berdering, dari Paman Jung lagi.

“Yobosaeyo ahjussi? Waeyo?”

“Eh?”

“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?”

“Tidak mau?”

“Bawa sekarang saja ahjussi!”

“Mwo?! Raena dimana?”

“Aish! Yasudah, secepatnya aku kembali. Paman dan bibi siapkan barang-barang Jinho!”

Aku segera melesat keluar ruangan tanpa melepas jas lab-ku. Berlarian di lorong rumah sakit seperti orang gila.

Pertama, Jinho sakit. Kata Paman Jung, panasnya tinggi dari kemarin siang dan dia tidak mau dibawa ke rumah sakit kecuali olehku dan Raena. Dan Jinho juga menangis terus.

Kedua, Raena melanggar janjinya untuk tidak keluar kemarin. Dia tetap menghadiri seminar itu, pulang malam, dan tidak melihat keadaan Jinho lagi karena Jinho sudah tidur setelah susah payah dibujuk oleh Bibi Jung. Ini tidak bisa dibiarkan. Raena sudah keterlaluan.

—-

“Noona, bagaimana?” setelah menggendong Jinho menuju ruang rawat tadi, kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Demamnya sangat tinggi. Bagaimana aku bisa tenang kalau begini?

“Masih sangat tinggi. Harus dirawat untuk beberapa hari.” Kahi noona melepaskan stetoskopnya dari dada Jinho. Wajah anakku memerah, seperti habis berlari cepat dan keringat juga mengucur dari dahinya.

“Tuhan…” kecemasanku melebihi apapun. Anakku terbaring sakit, demam. Aku meremas rambutku kuat, selama ini semua perintahku terhadap Raena diabaikan saja olehnya. Jadinya seperti ini kan!

“Kyuhyun-ah, beberapa hari ini, Jinho makan apa?” Kahi noona membersihkan keringat Jinho dengan sapu tangannya dan menyiapkan alat suntik dan kawan-kawannya. Hanya ada aku, Jinho, dan Kahi noona disini, ruang VIP.

Jinho makan…apa? Apa? Aku tidak ingat. Sebentar, aku tidak tahu. Jinho makan apa beberapa bulan ini, aku tidak tahu.

“Jinho sepertinya lemas. Tubuhnya… seperti kekurangan nutrisi. Apa kalian memerhatikan—“

Brak!

“Jinho!” Raena, dengan kemeja formal yang sudah tidak formal lagi tampilannya berlari menghampiri ranjang rawat Jinho. Ini dia, kesempatan untuk mengingatkannya.

“Aku perlu bicara dengamu.” Aku menarik lengannya kuat, membuatnya meringis kesakitan.

“Kyu-ah! Aku ingin melihat Jinho dulu!”

“Masih penting bagimu?!” Raena diam. Matanya menatapku tidak percaya. Pertama kali aku membentaknya sangat kuat sampai Kahi noona menyuruh kami diam.

“Apa maksudmu? Dia anakku, tentu saja penting!”

“Kalau begitu kenapa kau tetap pergi?!”

“Tapi aku pulang!”

“Kau tidak memerhatikannya!”

“Setidaknya aku ingat pulang!”

“Kalian diam!” aku dan Raena menoleh kea rah Kahi noona yang menutupi telinga Jinho dengan kedua tangannya. Oh, tidak. Jangan, jangan menangis Jinnie-ah.

“Hiks.. hiks… appa~ eomma~ sakiiit~”

“Jinnie-ah~” Raena melepaskan lengannya paksa dariku dan menghampiri Jinho. Airmatanya keluar, untuk apa? Menyesal karena sudah tidak mengurus Jinho dengan benar? Terlambat.

“Kau ikut aku keluar.”

“Kyu—“

“Sekarang.”

“Aw!” aku menyentak lengannya agar dia mau keluar. Masalah ini harus selesai, atau aku tidak akan tenang menjaga Jinho.

“Sekarang bicara. Kenapa kau tetap keluar?” Raena diam. Tangan yang satunya mengelus-elus lengan kirinya yang aku tarik tadi. Lorong rumah sakit sekitar ruang VIP ini lumayan sepi, jadi tidak ada yang memerhatikan kami.

“Aku… aku hanya ingin—“

“Ingin menghadiri dan mendapat banyak rekan kerja, begitu?” Raena menunduk. Takut menatap mataku yang sudah menatapnya tajam.

“I-iya… Kyu-ah, mianhaeyo~ mianhaeyo~ tidak akan aku ulangi lagi…”

Hanya janji. Pasti diulangi lagi.

“Lebih baik kau pulang, tidak usah menjenguk Jinho. Lebih baik kau urusi saja pekerjaanmu itu. Itu kan yang kau inginkan? Aku mengizinkanmu bekerja sepuas hatimu tanpa dilarang. Pulanglah. Jinho tidak membutuhkanmu.”

“M-mwo?”

“Kau dengar aku. Pulanglah.”

“Kyuhy—“

“Aku bilang pergi!” sial. Airmatanya keluar. Jangan hiraukan, itu airmata penyesalan. Dia harus diperingatkan.

Aku kembali masuk ruangan saat Kahi noona melihatku tidak percaya. Kenapa? Ada yang salah?

“Kau terlalu keras, Kyuhyun-ah.”

“Dia harus tahu kalau dia salah, noona.”

“Tapi—“

“Hei, ada apa disini?” Seunghyun hyung tiba-tiba masuk ruangan. Kahi noona hanya menggeleng dan memilih kembali memeriksa Jinho yang kemungkinan sudah selesai disuntik. Sekarang, dia sudah lebih tenang.

“Aniyo, tidak apa-apa, hyung.”

“Kau bilang tidak apa-apa? Apa kau lakukan pada Raena?” suaranya tetap tenang, tapi penuh dengan amarah. Emosi orang ini tidak bisa kalian baca kalau kalian tidak benar-benar mengerti sikapnya.

“Aku memberinya nasihat tadi.”

“Nasihat? Nasihat jenis apa, hah?!” nadanya sekarang meninggi. Aku tahu, orang ini pasti ikut campur kalau sudah mengenai Raena. Sampai kapan dia mau mencintai istri orang?

“Tidak. Tidak jenis apa-apa. Bukan urusan—“

“Urusanku, Cho Kyuhyun-ssi.” Baiklah. Mungkin lebih baik aku keluar, melihat keadaan Raena. Aku yakin gadis itu pulang sambil menangis, makanya Seunghyun hyung sampai marah seperti ini. Aku yakin, Raena tidak akan lama menangis jika sudah melihat tumpukan pekerjaannya. Pekerjaannya itu seperti surga baginya.

“Kyu?” yang aku dapatkan adalah, Raena berjongkok sambil bersandar di dinding depan pintu. Airmatanya belum berhenti mengalir saat dia melihatku. Dan… rasa bersalah menghampiriku, mungkin.

“Untuk apa kau masih di sini?”

“Jinho. Aku ingin melihat Jinho… aku mohon…”

“Aku bilang kan tidak perlu. Pulang saja.”

“Kyu—“

“Yo! Wah, pasangan suami istri ada—oh, maaf. Apa aku mengganggu?” Changmin langsung menyesuaikan sikap saat melihat wajahku yang dingin dan Raena yang masih menangis, lengkap dengan penampilannya yang kusut.

“Hei, kalian tidak apa-apa?”

“Tidak.”

“Oh…” Changmin menggaruk tengkuknya. Mungkin dia bingung harus mengatakan apa lagi dihadapan pasangan yang sedang bertengkar.

“Aku… masuk dulu?”

“Silahkah.”

“Oh, okay. Jangan bertengkar…” Changmin akhirnya masuk ke ruangan Jinho, menjenguk anakku. Sekarang, aku kembali berdua dengan Raena, yang masih menangis.

“Untuk apa kau menangis?”

“Aku minta maaf… aku mohon…”

“Percuma. Jinho sudah terlanjur sakit gara-gara kau tidak merawatnya dengan baik.”

“Mianhaeyo…”

“Ya, ya. Mian saja sampai kau selesaikan pekerjaanmu.” Dia tidak membalas perkataanku. Tangannya terkepal, pertanda kalau emosinya sedang naik. Mau balas marah?

“Lalu kau apa? Lupa pulang. Pergi pagi. Tidak pernah menanyakan kabar. Kalau begitu apa namanya kalau tidak gila kerja?” pelan, tapi menusuk. Aku menatapnya tidak percaya. Bekas-bekas airmata di pipinya mulai mongering, digantikan dengan tatapan menantang darinya.

“Kau pikir aku juga penyebab sakitnya Jinho, begitu?”

“Menurutmu?”

“Tentu saja tidak. Kau yang—“

“Kenapa hanya aku?!” oh, oke, dia meneriakiku.

“Karena kau ibunya!”

“Dan kau ayahnya!”

“Tapi kau harusnya lebih bertanggung jawab!” Raena membulatkan matanya tidak percaya. Hei, aku benar kan?

“What?! Aku?! Ya! Kita membuatnya bersama! Jinho tanggungjawabmu juga!”

“Tapi peran seorang ibu lebih penting!”

“Kau juga penting baginya! Bagaimana bisa kau mementingkan obsesimu dibanding anakmu?!”

“Apa kau tidak seperti itu, hah?!”

“Aku sudah minta maaf!”

“Itu tidak cukup!”

“Lalu apa lagi?! Apa lagi?!”

“KAU! PERGI DARI SINI!”

“Tidak mau!”

“Jinho tidak membutuhkanmu!”

“Kalau begitu dia juga tidak membutuhkanmu!” cukup, emosiku naik.

“Kau—“

“KYUHYUN!” Kahi noona menahan tangan kananku yang sudah melayang di udara, bersiap untuk menampar wajah istriku. Tunggu, menampar?

“Apa yang akan kau lakukan hah?!” Seunghyun hyun, yang ditahan oleh Kahi noona, menarik kerah kemejaku.

Pikiranku kosong. Apa yang akan aku lakukan tadi? Menamparnya? Menampar Raena?

“Raena-ah, gwenchanayo?” Changmin mengguncang tubuh Raena yang kaku. Matanya menatap tangan kananku yang masih terkepal di udara tidak percaya. Tanpa suara, dia menangis.

“Kau keterlaluan.”

Sangat.

“Raena, masuk saja. Sudahlah, jangan dipikirkan lagi.” Raena tidak bergeming dari tempatnya, dan tak lama dari itu, dia jatuh terduduk.

“Mi-mianhae… mianhaeyo… mianhaeyo…” suaranya lirih. Sungguh, aku… apa yang sudah aku lakukan padanya?

“Kyu, aku perlu bicara denganmu.” Changmin menarik tanganku menjauhi lokasi pertengkaran kami tadi. Wajahnya tampak geram, menahan amarah yang aku rasa sudah berusaha ditahannya sampai…

BUK!

“Kau gila!” pukulannya kena telak di pipiku. Ada sedikit darah yang muncul.

“Aku sudah bilang apa tentang ini, hah?!”

“Aku… aku tidak sadar saat akan melakukannya…”

“Baiklah, tunggu sebentar,” Changmin menarik nafas dalam, salah satu caranya untuk meredam emosi dan berbicara tenang.

“Baiklah. Aku tidak tahu ada apa dengan pikiranmu itu. Yang jelas, kalian berdua itu salah. Titik. Kalian berdua yang memutuskan untuk memiliki anak. Lahirlah Jinho. Hei, man! Kalian membuatnya bersama! Tanggung jawab bersama!”

“Apa yang aku katakan tentang gila kerja? Ah, kau pasti lupa. Kau isi otakmu itu dengan pelajaran dan obsesimu saja, iya kan? Sial, sahabatku seperti ini tapi aku masih mau saja bersahabat dengannya.” Changmin memegang kedua bahuku kuat, dan kemudian mengguncangnya.

“Sadar, hei! Sadar!”

Seperti terkena sihir, kepalaku rasanya pusing.

“Jernihkan pikiranmu. Aku tahu, kau sangat mencintainya. Kau tidak mungkin bermaksud menyakitinya. Ayolah, aku tahu seberapa besar kau menginginkannya dulu. Kalian perlu bicara banyak, tentunya tidak pakai emosi…” Changmin melepas pegangannya di bahuku, lalu menepuknya kuat. Aku hanya bisa mengangguk. Aku salah, sangat.

“…dan satu lagi. Jangan pernah berdiri saat marah, bahaya.”

—–

Aku harus sangat –sangat- berterima kasih pada Changmin. Setidaknya aku bertambah sadar bahwa aku juga salah pada waktu itu.

Caraku berbaikan dengan Raena? Sulit. Raena menjadi takut padaku. Dia juga selalu menunduk ketika melihatku, dan tidak berani mendekatiku. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri pada waktu itu, tangan kanan bandel.

Satu cara yang tidak aku sangka bisa menjadi mediaku berbaikan dengannya. Bukan dengan cara romantis ataupun rayuan-rayuan picisan, hanya Jinho. Anak kami memang ajaib.

Sekarang… haaah~ kalau saja waktu itu Kahi noona tidak menghentikan tanganku, mungkin aku tidak bersama Raena lagi sekarang.

“Kau membayangkan apalagi?” aku tersenyum. Keahliannya ini memang unik. Walaupun ngantuk berat, tapi bisa mengetahui tidur atau belum.

“Ceritaa~” dia memelukku, yang tentu saja aku balas pelukannya. Aku hanya menggeleng pelan, lalu menciumi kepalanya. Istriku.

“Tidur saja~ aku hanya memandangi wajahmu. Semakin hari semakin cantik, hehehe.”

“Is, rayuan macam apa itu?”

“Tidurlah…”

“Ng…”

Aku mengelus punggungnya, begitu juga dia. Saat merasakan tangannya sudah berhenti bergerak dan nafasnya mulai terasa teratur. Aku mencium pipinya. Istriku.

“Maafkan aku. Aku mencintaimu.”

Jadi, begitulah. Sekarang kalian tahu kan, kalau rumah tangga kami itu tidak selalu damai?

Ah iya, itu adalah resiko menikah muda, mungkin, hehehe. Selamat tidur dari keluarga Cho.

*****

mian kalo ada typo (_ _)

makasih buat dukungannya semuaaa ^^

kritik dan saran selalu dinanti di kotak komen, hihi :3

Advertisements