Tags

,

Title : Stay

Author : eke cyiiin~~ *plak!* KimRae-imnidaaa

Genre : G

Cast : Bee/ Yeoppo, Jungsoo

Ini kepikiran waktu nonton Twailaik(?), nggak ada hubungannya sih, hehehhe :3

bakal diisi dengan kata-kata sok berat, sok berisi~~ biasa, otak jam 12 malem lewat *plak!

Nggak ada hubungannya sama kehidupan SJ sekarang, karena Jungsoo disini ya sebagai Jungsoo, bukan member Suju, bukan orang terkenal, bukan siapa-siapa, dan dia saya buat….menderita. *kabur*

Ng… ini… bagi yang Teukbias, tolong… jangan bunuh saya *pasang helm + baju anti peluru*

Lagi-lagi nggak pede sama judul (__ __”) *benturin kepala ke dada Kyuhyun*

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

****

“Aku bilang apa tentang hal ini?!” aku menyejajarkan posisiku di hadapannya. Malam ini sangat dingin, lebih dingin dari yang aku perkiraan dan dari yang disiarkan oleh banyak stasiun televisi. Tambah dingin lagi karena aku tidak memakai alas kaki dan tidak memakai mantel penghangat.

“Ya!” ditambah tanganku menggenggam besi-besi yang menjadi penyangga tangannya di kursi ini. Dingin.

Aku tidak henti-hentinya mengguncang kursi berjalan itu, agar orang yang duduk di atasnya itu sadar. Otaknya mungkin sudah membeku sehingga mau melakukan hal ini. Aku merasa aku tidak ada guna baginya. Bagi kalian, apa bunuh diri itu menyenangkan?

“Kau ingin lompat?! Sekarang! Lompat!” Dia diam. Dia tidak berani menatapku, hanya air matanya yang terus mengalir dari pipinya. Sikap diamnya bukanlah pertanda bahwa dia sedang menyesal, diamnya tidak bisa dibaca.

Jungsoo. Jungsooku, cacat. Kursi berjalan inilah kakinya. Diamnya tidak bisa kau artikan lagi. Stroke, mungkin cukup untuk membuat mental seseorang yang awalnya hidup sempurna menjadi lemah maksimal ketika harus dihadapkan dengan kenyataan seperti ini.

Jungsooku, kehilangan kepercayaandirinya. Kehilangan semangatnya untuk melakukan apapun.

Ah, biar aku hitung sudah berapa kali dia mencoba bunuh diri. Sekali? Salah. Aku tidak bisa menghitungnya lagi.

Mengenai lokasi dimana dia mau mengakhiri hidupnya? Tunggu, aku mau menamparnya terlebih dahulu.

Plak!

“Tatap mataku! Jungsoo! Lihat aku!” tangan kami sama-sama bergetar. Airmata tidak akan membeku, maka dari itu airmatanya masih lancar mengalir, bertambah deras.

“Kau anggap apa aku hah?! Apa?!”

“Yeo…. Yeo….”

“Jungsoo… Jungsoo…” aku memeluknya. Pelukan yang entah keberapa kali aku lakukan selama hidupku bersamanya.

Hidup kami bahagia, sangat. Semua terasa sempurna, secara fisik dan segalanya. Tapi, ketika satu hal saja yang mengganggu, kenapa dia sehancur ini? Apa dia tidak menyimpan semua kenangan yang dia lalui bersamaku? Apa semua itu tidak cukup untuk membuatnya selalu bertahan di sisiku?

Menua bersamanya adalah tujuan hidupku. Biarlah, kehidupan 15 tahun rumah tangga kami tidak dihadiri oleh anak sekalipun, tapi aku bahagia, bersamanya. Bagaimana dia tidak merasakan aku sangat membutuhkannya dihidupku? Aku tidak mau dipisahkan oleh apapun, termasuk itu. Itu hanya penyakit!

“Jungsoo…” kakiku rasanya membeku. Bibirku bergetar ketika menyebutkan namanya, tapi semua terasa hangat saat tangannya mencoba untuk memelukku. Pelukannya tidak sesempurna dulu, tidak seerat dulu, tapi tetap menjadi hal yang paling menyenangkan bagiku.

“Jangan lagi… aku mohon padamu…”

“Eot….khe…”

“Sst… Jungsoo, ingat lagi, 15 tahun lalu. Aku, adalah kita. Kau, adalah kita. Tidak ada kau, tidak ada aku. Hanya ada kita…” dia mengangguk.

“Jadi?”

“….an… mi…”

“Tidak apa-apa. Aku maafkan, uri-Jungsoo adalah orang yang kuat~”

Di tannga taman bermain inilah, lagi-lagi aku membujuknya untuk tidak meninggalkanku. Aku membutuhkannya, seberapa tidak sempurnanya pun dia sekarang. Aku butuh dia membutuhkanku, merepotkanku, mengacaukan konsentrasiku ketika menjahit baju hangat di musim dingin, membantuku membersihkan guguran daun dihalaman rumah kecil kami, mengipasinya saat musim panas, dan menyaksikan bunga bermekaran di halaman rumah tetangga. Semua hal.

“Berpeganglah padaku, jangan pernah berpikir kau tidak pantas hidup bersamaku. Selamanya, aku mencintaimu.” aku peluk Jungsooku erat-erat. Menghangatkan suhu tubuh kami berdua dengan cara sederhana.

Sekali lagi, aku butuh kau membutuhkanku.

*****

kritik dan saran selalu dinantiiii~~ ^o^

*kabur diam-diam*

Advertisements