Tags

,

–> First

–>> Second

And this is the third! woohooooooo \(^o^)/

nggak tau harus ngasih judul apalagi, aaaaah bener-bener nggak bakat kalo ngasih judul (=_=”)

lagi-lagi dengan ff sambungan yang pendek *krik* nggak bakat -lagi- bikin yang panjang dan penuh arti *angin berhembus(?)

walaupun begitu, walaupun demikian, walaupun segimanapun, semoga berkenan *eaaaaa kritik dan saran selalu dinanti dari kawan-kawan readers 🙂

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^ 

*****

“Malam-malam seperti ini masih melamun juga?” ibu menyentuh bahuku pelan sambil menaruh cangkir kopi yang tadi aku minta padanya. Ibuku tidak langsung keluar dari kamar, beliau duduk di pinggiran kasurku dan aku dapat merasakan kalau sedang ditatap intens oleh orang tersayangku itu.

“Jongwoon-ah,”

“Ya?” ibuku memberi isyarat agar aku mendekatinya. Aku berdiri dari kursi dan duduk disebelah ibuku. Beliau langsung mengusap kepalaku lembut sambil melantunkan lagu anak-anak yang dapat dengan lancar membuatku tidur dari aku kecil sampai sekarang. Raena juga tahu kebiasaanku ini, dan aku sering memintanya bernyanyi lagu tidur ini saat aku bersamanya, dulu.

“Belum mau tidur?”

“Sepertinya belum..” kepalaku bersandar di bahu ibuku. Beliau merangkulku, membuatku memejamkan mata dan mencoba untuk menghilangkan semua bayanganku tentang Raena.

Kejadian tadi siang saat di restoran, cukup membuat rasa cemburuku bangkit. Saat tangannya digenggam erat oleh laki-laki kurang ajar itu, saat laki-laki itu memanggil Raenaku dengan sebutan sayang, saat laki-laki itu mengaku sebagai suaminya, sudah bisa aku simpulkan kalau laki-laki itu gila.

“Aku memikirkan seseorang,”

“Raena?” aku tersenyum samar, tahu bahwa ibuku tidak akan bisa melihat. Sedikit kelegaan bahwa ibuku tidak pernah lupa pada gadis itu, gadis yang selalu merepotkannya tapi berhasil merebut hati ibuku.

“Dia ada di Seoul,” ibuku langsung menyingkirkan kepalaku dari bahunya dan menjitak kepalaku pelan. Mau protes tapi tidak jadi, karena sepertinya percuma melawannya.

“Kenapa kau tidak bilang pada ibu? Kenapa kau tidak membawanya ke rumah? Setidaknya kau bawa dia ke café kita! Kau pikir kau saja yang merindukannya?” ibuku tidak henti-hentinya mencubiti lenganku karena kesal. Kalau ibuku tahu apa yang sebenarnya terjadi, beliau pasti sudah mengomeliku lebih panjang dari ini.

“Ibu tidak mau tahu! Besok kau bawa dia ke rumah! Jongwoon-ah… ibu merindukannya juga…” aku hanya mengangguk, tidak tahu harus menjawab apa lagi. Tinggal berdoa saja ada keajaiban, tiba-tiba Raena ada di rumah, selesai.

“Mengerti. Boleh aku keluar? Ingin mencari angin segar, hehehe.” Ibuku hanya menggelengkan kepala tapi tangannya malah seperti menyuruhku untuk keluar.

“Pergilah, ibu tidak ingin kau melamun lagi. Sudah, sana!” aku hanya tertawa dan langsung mengambil jaket serta kunci mobilku setelah berpamitan dengan ibu dan ayah yang sedang membaca koran di ruang santai. Sebelum aku benar-benar keluar, ayah ingin aku membelikannya wine dan juga cerutu karena persediaan dua barang kesukaannya itu sudah hampir habis. Ibu mungkin sudah bosan untuk mengingatkan ayah agar tidak terlalu banyak merokok, tapi kebiasaan tetaplah kebiasaan, susah hilang.

****

Sudah ada wine dan cerutu di jok belakang mobilku. Aku tidak terlalu suka bau yang ditimbulkan oleh cerutu itu walau hanya samar-samar. Heran kenapa ayah sangat suka menghisap benda itu.

Musim dingin di Seoul sudah berlangsung beberapa hari ini, membuat kaca jendela mobilku sedikit berembun. Kalian tahu? Dulu, ada seseorang yang sangat rajin membersihkan embun di kaca mobilku ini. Dia juga sering memasangi syal di leherku agar aku tidak kedinginan. Kalian tahu siapa orang itu.

Malam ini aku tidak ingin langsung pulang, setelah menghubungi ayah kalau wine dan cerutunya akan datang terlambat karena aku ingin keluar sebentar, aku mengunjungi pinggiran Sungai Han untuk menenangkan diri.

Aku tahu kalau ini hanya kebiasaan klasik, tapi tempat ini tidak pernah membuatku bosan untuk mengunjunginya. Tentu saja selain karena keindahannya, tempat ini juga sering aku kunjungi dengan Raenaku.

Ternyata dingin malam kali ini lebih menyeramkan dibanding malam-malam kemarin. Setidaknya aku tidak merasa menyesal telah membeli kopi kemasan dari café terdekat. Aku merapatkan jaketku, sesekali menghembuskan nafas agak kuat hanya untuk menimbulkan uap seperti asap yang keluar dari mulut.

“Itu kebiasaanku.” Aku tersentak kaget saat suara seorang gadis membuyarkan kegiatanku tadi dan langsung duduk di sampingku. Raena memangku tas jinjing kecilnya dan meminum kopi kemasannya –sama sepertiku- tanpa menatapku sedikitpun.

“Kau…”

“Jangan takut begitu, aku kan bukan hantu.” Raena melepas ikatan rambutnya dan menyimpan ikat rambut itu di saku celananya. Tatapan matanya masih fokus pada aliran Sungai Han yang tenang malam ini. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya, setelah itu meminum kopinya perlahan. Jari-jari tangannya mengusap matanya cepat dan kemudian kedua tangannya dia lipat di perutnya.

Kapan terakhir kali aku memandanginya seperti ini?

Hening, sama sekali tidak ada yang memulai pembicaraan. Raena terus saja asyik dengan kegiatannya memandangi Sungai Han, sedangkan aku asyik memandangi wajahnya. Sudah lebih dari 15 menit, tidak membosankan sama sekali.

Satu hal yang baru aku sadari, daritadi aku memerhatikannya tapi kenapa baru sekarang aku sadar? Gadis ini tidak memakai jaket atau baju hangat lainnya. Dia hanya mengenakan jeans dan baju lengan panjang biasa. Apa dia tidak kedinginan?

Aku melepas jaketku, bermaksud untuk memakaikan benda itu padanya.

“Tidak perlu. Aku tidak kedinginan sama sekali. Aku punya ini.” Raena menggoyangkan gelas kertas kopi tersebut di depan wajahku. Saat itulah aku bisa berhadapan dengan wajahnya walau hanya sebentar karena dia sudah berbalik lagi memandangi Sungai Han.

“Sedang apa kau di sini?” menurut kalian, apa itu pertanyaan bagus? Apa aku yang terlalu bodoh? Sepertinya iya, dia menyunggingkan senyum yang-benar-saja-nya itu padaku dan menggelengkan kepalanya pelan.

“Apa tidak boleh? Aku rasa ini tempat umum, Jongwoon-ssi.” Apa aku bilang, pertanyaan bodoh. Kenapa selalu seperti ini? Aku tidak tahu apa yang harus aku bicarakan dengannya. Dulu, jika bertemu, obrolan apa saja pasti akan terasa sangat menyenangkan, tidak aka nada habisnya.

Drrtt.. drrtt…

Aku menoleh ke arah Raena yang sekarang sibuk mencari handphonenya dan dapat aku lihat senyum samarnya sebelum menjawab telepon itu.

“Kyuhyun-ssi?”

“Ah, maaf. Aku sedang di luar, ada apa?”

“Dengan?” Raena sedikit melirikku. Dia tidak tahu saja kalau aku ingin berteriak pada orang yang meneleponnya itu kalau dia sedang bersamaku.

“Sendirian. Aku sendirian.”

“Kau bersa-mmp!” sial. Mulutku ditutup dengan tangan kanannya, padahal aku baru saja ingin protes karena dia bilang dia sendirian. Kalau saja itu bukan laki-laki itu, aku pasti tidak akan protes.

Tangannya masih mendekap mulutku sedangkan dia masih berbicara dengan Kyuhyun. Apa aku bisa dikatakan pria plin-plan? Karena aku sekarang tidak memerdulikan lagi apa yang dia bicarakan dengan Kyuhyun. Fokusku teralih pada tangannya.

Aku menarik nafas dalam, menikmati wangi lotion teh hijau dari tangannya. Kulit telapak tangan itu juga masih halus, sama seperti dulu. Aku memiringkan kepalaku, merubah posisi tangannya menjadi berada di pipiku. Wajahku menghadap Sungai Han, tapi pipiku disentuh oleh tangannya. Lain kali aku akan memuji kemampuannya yang hanya bisa fokus pada satu hal.

Dulu, ketika tangannya berada di pipiku, hal yang pasti dia lakukan adalah menekan-nekan pipiku. Entah apa maksudnya tapi itu sudah seperti kebiasaan baginya. Sekarang, sepertinya kebiasaan tetaplah kebiasaan, hehehe.

“Tidak usah dijemput. Aku bisa pulang sendiri.”

“Tidak, tidak usah.”

“Ini baru jam sembilan malam, aku tidak akan apa-apa.”

Aku memejamkan mataku, menahan emosi sekaligus cemburu. Apa perlu laki-laki itu bersikap seperti dia benar-benar suami Raenaku? Oh, ayolah, siapapun akan tahu kalau si Kyuhyun itu berbohong tentang status suami-istri mereka. Tidak ada cincin sama sekali di tangan Raena. Aku yakin, laki-laki itu mengalami cinta sepihak dengan Raena. Dia bukan tipe Raenaku sama sekali.

Tangan Raena masih aktif menekan-nekan pipiku, sekalian saja aku menyentuh tangannya yang berada di pipiku.

“Jangan mencuri kesempatan, Jongwoon-ssi.” Dia menyingkirkan tangannya dari pipiku dan langsung mengambil gelas kertas kopinya. Meminum kopi itu dengan cepat dan aku rasa dia meminumnya sampai habis.

“Suamimu?” Raena menoleh dan mengusap matanya cepat. Aku bahkan tidak butuh jawaban, hanya ingin mendengar apa yang ada dipikirannya tentang statusnya yang tiba-tiba berubah menjadi istri orang tadi siang.

“Menurutmu?” aku hanya tersenyum mendengar apa yang dia katakan. Jelas sekali dia tidak suka dengan apa yang Kyuhyun itu lakukan tadi siang. Tanganku melayang begitu saja ke puncak kepalanya, mengacak rambutnya dan itu berhasil membuatnya terlihat kesal. Rambut panjangnya itu langsung ditatanya lagi. Sialnya, perbuatanku itu membuatnya duduk agak jauh lagi dariku.

“Kenapa menjauh?” aku bergeser mendekatinya, dan dia bergeser menjauhiku. Aku melakukan hal yang sama lagi, dan dia melakukan hal yang sama juga. Sekali lagi, masih sama. Tunggu saja sampai dia jat—

“Aduh!” –uh. Apa aku bilang.

“Kau… is!” aku berdiri di hadapannya yang jatuh terduduk sambil tertawa. Maaf, kalau yang ini tidak bisa aku kontrol, dia manis dan lucu disaat bersamaan. Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya bangun, tapi dia sama sekali tidak perduli. Dia berdiri sambil memalingkan mukanya dariku, bisa aku lihat mukanya menahan malu. Sekali lagi, dia bisa manis dan lucu disaat yang bersamaan, gadisku.

“Wah~ Raenaku malu? Tidak ada yang sakit kan?” aku menggunakan nada bicara yang paling tidak disukainya, mengejek. Dia memelototiku dan hendak beranjak pergi. Tidak akan semudah itu untuk pergi dariku. Kalau mudah, aku tidak mungkin tetap berniat mengejarnya sekalipun sudah ditolak mentah-mentah olehnya.

“Iiiih~ lepaaas~” aku memeluknya. Menikmati wangi rambutnya setelah sekian lama. Sekuat apapun dia berontak, tetap saja aku yang menang. Mulutnya berkata tidak, tapi berbeda dengan reaksi tangannya. Mana ada orang yang minta lepas dipeluk tapi satu tangannya mencengkram erat jaket yang aku kenakan.

“Jongwoon-ssi~ Tolong lepaskan aku… aku harus pulang.”

“Tidak usah pulang.”

“Jongwoon-ssi…”

“Apa memeluk gadisku sendiri tidak boleh?”

“Aku bukan—“

“Hubungan kita hanya diputus sepihak olehmu, sedangkan aku tidak. Jadi, kita masih sepasang kekasih, dan kau masih milikku.” Raena berhenti berontak. Itu membuatku berani untuk mengeratkan pelukanku padanya sekalipun harus ditatap iri oleh beberapa orang yang lewat.

“Aku pernah bilang, aku tidak mau bersama orang yang tidak mendukungku sama sekali.”

“Aku minta maaf. Aku harus apa agar kau memaafkanku?”

“Tidak perlu melakukan apa-apa. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang aku mohon lepas.”

“Kalau begitu, kembali padaku.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa? Ada yang harus aku lakukan agar kau mau kembali?” Raena melepaskan pelukanku perlahan. Kali ini aku membiarkannya lepas, sekedar untuk melihat wajahnya. Matanya sama sekali tidak melihatku, dia hanya menunduk dan beberapa kali menggosokkan kedua tangannya pada kedua lengannya.

“Ada. Bersikaplah biasa padaku. Jangan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Itu saja.” Raena tersenyum dan membungkuk padaku sebelum akhirnya dia berbalik untuk pergi.

“Berhenti.” Raena berhenti dan berbalik, menatapku biasa dengan senyumnya seakan kata-katanya tadi tidak berdampak apa-apa bagiku. Aku pikir saat dia menghampiri dan duduk di sampingku tadi adalah pertanda baik, tapi ternyata bukan.

Aku mengambil gelas kopiku sebelum menghampirinya. Ada raut kebingungan di wajahnya, ditambah lagi aku tidak mengatakan apa-apa setelah menyuruhnya berhenti. Tangan kiriku menyentuh pipinya yang tidak ditanggapi apa-apa oleh Raena, sedangkan tangan kananku yang menggenggam kopi tadi tidak melakukan apa-apa.

“Ada apa, Jongwo—ng!” Raena tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Aku mencubit hidungnya kuat sampai dia memukul-mukul tanganku.

“Aku baru akan melepasnya kalau kau berjanji akan mendengarkan aku dulu. Tidak main asal pergi seperti tadi dan di café waktu itu. Deal?” Raena cepat-cepat mengangguk dan mengusap-usap hidungnya sambil sesekali menatapku marah. Tangannya kemudian merogoh ke dalam tas jinjing kecilnya dan mengambil kaca kecil.

“Apa?!” ucapnya sambil tetap fokus memeriksa keadaan hidungnya dari kaca. Kebiasaan lama yang tidak pernah hilang, dia paling tidak suka kalau hidungnya diganggu. Aku menyingkirkan kaca itu dengan cara merebut benda itu dari tangannya. Raena siap-siap protes kalau saja aku tidak berancang-ancang untuk mencubit hidungnya lagi.

“Cepat katakan. Ini sudah malam!” Aku tidak berkata apa-apa, tapi menunjukkan kunci mobilku di hadapannya. Tujuanku? Ya mengantarnya pulang. Kalian pikir aku akan membiarkannya pulang sendirian malam-malam seperti ini? Lagipula, sekalian mengulur waktuku untuk berpisah dengannya hari ini.

“Cis, bilang saja kau ingin mengantarku pulang. Iya kan?” aku tersenyum dan langsung menggandeng –lebih tepatnya menyeret- Raena menuju mobilku. Dia diam saja, tidak menolak sama sekali.

Setelah menanyakan di mana dia tinggal, Raena tidak berkata apa-apa, hanya menyenderkan kepalanya dan wajahnya menghadap jendela. Berkali-kali aku mengajaknya bicara saja tidak ada tanggapan.

“Kau merokok?” secara tiba-tiba Raena menoleh padaku sambil sesekali mengusap hidungnya. Raena mencari-cari sumber bau rokok tersebut dan akhirnya menemukan cerutu titipan ayah tadi di belakang.

“Ya ampun Kim Jongwoon! Sejak kapan kau merokok?! Wine berat ini juga?!” Aku kelabakan harus menjawab pertanyaannya bagaimana. Ucapannya itu sangat menghakimi.

“Ya! Jangan salah paham dulu! Itu semua titipan ayah!”

“Bohooong~ ayah tidak merokok lagi setahuku!”

“Ayah merokok lagi, bodoh!”

“Kapan aku bodoh?!”

“Sekarang!”

“Kau merokok!”

“Tidak!” Raena mendengus dan menjorokkan kedua benda titipan ayah tersebut di bawah kursi belakang. Dia memerhatikanku selama aku menyetir, entah apa yang dia perhatikan sampai-sampai rautnya terlihat serius seperti itu.

“Aah baguslah. Kau tidak berbohong.” Raena menepuk-nepuk kepalaku seakan-akan aku ini anak kecil. Dia bersandar lagi saat aku baru saja ingin mengajaknya mengobrol, menggantikan pertengkaran kecil tadi. Eh, tunggu sebentar, dia memerhatikanku kan tadi? Masih ada harapan.

“Sayang~”

“Ya– eh, apa? Jangan memanggilku sayang!” Aku terkekeh melihat tingkahnya itu, ketahuan sekali kalau dia tidak melupakanku sama sekali. Kesempatanku mendapatkannya lagi sangat besar kalau begitu.

“Tidak. Kau memerhatikanku lagi. Kau juga masih memanggil ayahku dengan sebutan ayah, bukan paman. Itu tandanya kau—”

“Hentikan. Aku tidak sengaja. Hanya kebetulan saja.” Raena berdecak pelan dan memalingkan wajahnya lagi menghadap jendela. Dapat aku lihat pantulan wajahnya yang sedikit tersenyum itu. Berjuang sedikit lagi, aku pasti mendapatkannya kembali.

Beberapa lama, tidak ada suara lagi.

“He? Tidur?” saat berhenti di lampu lalu lintas, aku menyentuh kepalanya dan tidak ada respon. Sudah mengantuk rupanya, aku juga sih. Aku memalingkan wajahnya agar menghadapku dan aku memandanginya lama sampai ada suara klakson mobil yang menyadarkanku agar segera melajukan mobil.

Aku menyetir sambil sesekali memerhatikannya. Baru kali ini aku melihat wajahnya saat tidur dan itu membuatku tidak ingin membangunkannya sekarang. Ini saat yang bisa dibilang menguntungkan, aku tidak perlu membangunkannya dan bisa menikmati memandangi wajahnya sepanjang malam.

“Tertidur begitu saja di mobil laki-laki itu berbahaya, Kim Raena…” Aku parkir di sebuah taman kota kecil yang sudah tidak ada pengunjungnya. Hanya beberapa pejalan kaki yang terlihat buru-buru ingin pulang. Telapak tanganku menyentuh matanya, pipinya, dan terakhir bibirnya. Sudah berapa lama aku tidak merasakan semua ini?

“…tapi kalau laki-laki itu aku, keamananmu akan terjaga 24 jam. Makanya, kembalilah padaku secepatnya.” Dan berikutnya, aku merasakan lagi apa yang tadi terakhir aku sentuh, agak lama. Untuk besok, mungkin aku harus menyiapkan alasan yang tepat kenapa aku tidak pulang malam ini pada ayah dan ibu.

Semoga dia memimpikanku. Selamat tidur, nyawa hidupku.

*****

Advertisements