Tags

, ,

—> Keep It

—>> Where?

kembali lagi~~ aaah envy banget sama yang bisa nonton SS4 di Seoul, moga di Indonesia ada yaa ><

lagi-lagi dengan ff yang pendek banget .__.v

kali ini dari Raena atau si Angel’s pov, semoga nggak bingung ><

Enjoy! ^^

Hope you’ll like it! 🙂

*Taiwan. Nov 20th, 7 am. Zidane’s apartement*

“Hei, makan dulu. Papa tetap tidak akan mendengarkanmu kalau kau tidak mau makan.” Zidane kembali menaruh piring berisi roti dan telur itu di hadapanku, dan sekali lagi aku menolaknya. Aku tidak nafsu makan kalau begini.

“Papa~ ayolah~ aku ingin sekali ke sana~” aku menghentakkan kakiku yang tidak sakit di lantai. Zidane hanya menggelengkan kepalanya dan menaruh piringku tadi di dekat tempat cuci piring kemudian mengantarkan kopi untuk kakek yang ada di ruang santai. Dari dapur ini aku bisa melihat kakek hanya menonton tivi dan tidak mengubris rengekanku sama sekali.

“Kalau kau merayu dari sini, mana bisa dia dengar! Bodoh!”

“Aaw~” aku meringis kecil saat Zidane memukul keningku dengan sendok kecil. Iya aku tahu, harus mendekati kakek kalau ingin merayu. Masalahnya, aku sedang malas bergerak dengan keadaan satu kakiku ditanami besi. Oh, benar. Heechul oppa juga seperti ini, kenapa harus sama sepertinya? Kenapa bukan baja? Atau emas? Abaikan.

“Sini, aku bantu kau berdiri.” Zidane meraih kedua tanganku dan menariknya pelan. Aku sendiri sudah lumayan terbiasa dengan kaki ini, setidaknya hanya satu yang dipasangi benda asing. Zidane melepaskan tangannya saat aku sudah berdiri dengan baik dan mengisyaratkanku untuk segera mendekati kakek.

Perlahan aku berjalan menghampiri kakek yang masih fokus menonton tivi, memangnya dia mengerti apa yang sedang dibicarakan orang-orang dalam tivi itu?

“Papa~ Papa~ ke Seoul~ boleh yaa?” kakek tidak mengubrisku dan asyik dengan kopinya. Duduk di sampingnya saja seperti ini tidak akan membuahkan hasil, kalau terus merayunya ditengah acara berita juga tidak akan ada yang didengarkannya. Diam saja?

Aku jadi ingat kejadian sekitar tiga hari yang lalu. Saat kakek menjemputku di rumah sakit, aku sedang disuapi bubur oleh salah satu suster di sana. Pagi itu aku baru saja ingin menghubungi Yena untuk menemaniku di rumah sakit tapi kakek tiba-tiba masuk dan mengambil handphone-ku.

Pagi itu juga dia menyita handphone-ku, menyuruh suster di sana untuk mengganti pakaianku, membayar semua tagihan rumah sakit. Tidak lama dari itu sekitar pukul sembilan pagi, setelah menempuh perjalanan ke bandara dengan taksi –yang ternyata sudah diisi dengan barang-barangku- kakek langsung menyuruhku menaiki kursi roda yang sudah disiapkan pihak bandara untukku. Aku bahkan tidak sempat berpikir karena kakekku begitu cepat dan hebat karena melakukan ini semua sendiri, dapat kekuatan darimana dia?

“Di sini kau bisa berlatih berjalan dengan lebih baik.” Akhirnya kakek angkat bicara. Beliau mematikan tivi dan beralih menatapku yang ada di samping kanannya posisiku berubah, dari posisi malas-malasan menjadi lebih tegap.

“Aku mohon~” aku memeluk lengan kakek dengan manja, berharap cara umur lima tahunku ini masih ampuh.

“Kau ingin menonton konser itu kan?” aku mengangguk semangat sedangkan kakek hanya menghela nafasnya berat. Kakek memandangi kaki kiriku yang menjadi tempat bersarangnya besi ‘pembantu’ berjalan itu sembari sesekali menggeleng.

“Pa, aku sudah tidak menonton yang hari pertama. Hari kedua memang aku tidak yakin masih ada tiketnya, tapi tolonglaah~ ke Seoul~”

“Kakimu, Angel.”

“Aku sudah sehat, Pa. Lihat, aku bisa langsung berdi—aw!”

“Angel!” Zidane langsung membantuku untuk berdiri sembari mengomel panjang. Kakek juga berdiri, tapi dia menjauhiku, bukannya membantuku berdiri.

“Angel Kim.” Aku melihat kakek yang berdiri di ujung pintu masuk apartemen Zidane saat aku masih sibuk menyeimbangkan diri agar tidak jatuh lagi. Kakek menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan melihatku tajam.

“Zidane, lepas peganganmu.” Zidane melepaskan rangkulannya di bahuku ragu-ragu. Aku menyeimbangkan diriku sendiri dan untungnya aku tidak jatuh lagi. Jujur saja, untuk menapakkan kakiku berdiri berlama-lama itu agak sulit walaupun tidak sesulit pertama kali aku mengetahui bahwa ada besi di kakiku.

“Bisa?” aku mengangguk dan akhirnya Zidane agak menjauh dariku, merasakan hawa tidak enak dari kakek. Wajah kakek sangat serius, Zidane yang laki-laki saja ngeri apalagi aku.

Kakek kemudian merogoh saku celana kain sebelah kirinya, dan perlahan mengeluarkan benda yang sangat aku inginkan kembali padaku dari kemarin-kemarin, handphone-ku. Ah, satu benda lagi, seperti kertas.

“Handphone-mu, tiket pesawat ke Seoul, dan tiket Super Show. Hampiri aku di sini, tanpa bantuan, dalam hitungan 15 detik.” Oke, aku bahagia! Sangat bahagia! Hanya satu yang membuat kebahagiaanku berkurang, bagaimana bisa dengan kaki yang seperti ini aku mencapai kakek yang berjarak lebih dari 10 meter dariku dalam waktu 15 detik?!

“Hitungan dimulai dari…”

“Tung—“

“Sekarang!”

Aku berlari secepat mungkin, tidak memerdulikan apa yang akan terjadi pada kakiku ini. Hitungan ke lima, sudah terasa sedikit kaku untuk berlari, lanjut saja!

Hitungan kedepalan, sedikit ngilu. Kalau aku lanjutkan berlari mungkin tidak akan terasa apa-apa lagi. Ayolah, tiga barang itu sangat aku butuhkan!

Hitungan kesepuluh, hampir dekat. Oh, tidak, kakek curang! Dia menjauh!

“Lamban!”

“Aku tidak lamban!” Aku mengejar kakek yang sudah berlari menyusuri lorong-lorong apartemen ini. Aku tidak memerdulikan teriakan Zidane yang mencoba untuk mencegah kami berlari-larian di luar apartemennya. Untuk ukuran orang tua, kenapa kakek masih kuat berlari?!

“Kakeeeeeekkk!!” berteriak sambil berlari itu ternyata asyik juga. Orang lain terganggu? Biar!

“Kejar! Lamban!”

“Makanya berhenti!”

“Kejar!”

“Nanti jantungmu kumat!” dan dia berhenti. Demi palang merah remaja! Apa yang harus aku lakukan kalau penyakit jantungnya kumat?! Kami sudah berlari jauh dari apartemen Zidane dan tidak tahu sudah di depan kamar siapa!

Kakek berjalan perlahan menghampiriku yang masih mengatur nafas. Saat aku menunduk untuk mengatur nafas, aku merasakan sebuah sarung tangan berbau khas tembakau yang menempel di keningku. Aku berdiri, dan kakek dengan telaten menghapus keringatku sembari tersenyum.

“Ambillah.” Aku mengambil tiga barang itu dari tangan kakek. Kakek mengusap kepalaku penuh sayang saat aku memeluknya erat.

“Kakeeeek~ terima kasiiih~” aaah menyenangkan memiliki kakek seperti ini. Merepotkan di awal, tapi menyenangkan ketika di akhir, ehhehhe.

“Iyaaa. Pergilah sekarang, beberapa barang-barangmu sudah kakek bereskan. Penerbanganmu sebentar lagi. Hati-hati di jalan, mengerti?”

*****

“Ramai sekaliiiiii~” aku menggenggam erat tiketku saat akan memasuki tempat konser mereka. Jujur, baru pertama kali aku pergi sendirian ke sebuah konser.

Berhasil masuk, langsung mencari tempat duduk, yaah kenapa tidak yang berdiri saja? Tapi sudahlah, yang penting dibelikan, hehehe.

Selama konser berlangsung, aku terus menganggkat dan menggoyangkan lightstick-ku tinggi-tinggi. Bukan bermaksud agar Kyuhyun lihat, hanya menyesuaikan dengan keadaan di sekitarku saja. Lagipula, tulisan lightstick-ku bukan nama Kyuhyun, tapi Eunhyuk, hehhe.

Ah! Bagaimana kalau mengirimi Kyun SMS saja? Kemungkinan kecil dibaca, tapi tidak apa-apa. Hanya ingin memberitahunya kalau aku ada di sini.

To : mhom
Kyun-ah, aku di sini :p

Sent!

Aku kembali menikmati konser mereka. Untunglah aku tidak melewatkan konser mereka walaupun tidak dari hari pertama, setidaknya aku melihat kan?

Tingkah mereka lucu-lucu, apalagi Kyuhyun. Seperti anak kecil kelaparan saja saat melihatnya makan apel itu tanpa henti, hehehe. Tempat ini seperti bukan tempat konser, seperti tempat berkumpulnya keluarga besar karena persaudaraan terjalin sangat jelas di sini. Cinta yang sangat besar.

Konser terasa cepat sekali berakhir, Jungsoo oppa menangis. Orang kesayanganku satu itu mudah sekali menangis. Mungkin dalam waktu beberapa bulan lagi, dia tidak akan mengikuti jalannya Super Show. Wajib militer, setiap kali aku mengingat ini rasanya sedih sekali.

Aku melihat handphone-ku, tidak ada tanda-tanda kalau Kyuhyun tahu aku mengiriminya pesan. Aku kembali fokus untuk berjalan keluar dari gedung ini, sesekali meminta izin untuk menggenggam tangan salah satu dari mereka agar aku tidak oleng sana-sini.

“Maaf merepotkan, terima kasih~” aku membungkuk pada salah satu gadis yang tadi membantuku berjalan. Gadis itu juga membungkuk dan melambaikan tangannya padaku karena sudah harus pulang bersama teman-temannya yang lain. Kalian tahu? Dia memegang nama Kyuhyun, hehehe.

Udara semakin dingin, ditambah lagi dengan musim yang mendukung. Aku harus cepat-cepat pulang ke hotel kalau tidak mau mati kedinginan di sini.

Drrtt.. drrtt.. drrtt..

Aku merogoh saku jaketku, menampilkan nama samaran Kyuhyun di handphone-ku dan dengan segera aku jawab.

“Hello~”

“Ya! Jangan hola helo hola helo! Dari mana kau?!” Sambutannya begini ya? Tahu begini aku tidak usah mengabarinya!

“Dari mana? Entahlah.”

“Aiyaaa~ maaf maaf~ Rae-ah, kau di mana?”

“Di… mm… di sini? Hehehe~”

“Serius. Di mana?”

“Ya di sini, Kyun-ah~”

“Rae! Di sini itu di mana?! Kau ikut kami saja sekarang! Aku sedang akan menuju mobil kami, kau tahu kan bentuknya? Nah, kita akan bertemu! Mengerti?”

“Ya pokoknya di sini. Eh? Kalian tidak langsung pulang ya? Tidak, aku tidak mau ikut.”

“Atau aku ke apartemenmu saja?”

“He?! Tidak! Tidak usah! Aku tidak di sana! Aku di… ah sudahlah, pergilah. Aku tidak ingin meru—“

“Merusak? Ya! Aku merindukanmu! Mana bisa jadi rusak?!”

“Bahasamu mulai kacau~ sudahlah, kau pergi saja~” Diam, Kyuhyun tidak menjawab. Hanya helaan nafasnya dan beberapa suara bising yang menjadi latar percakapan kami. Aku sendiri berusaha untuk tetap fokus pada mencari taksi dan juga berusaha agar tidak kehilangan ingatan kalau Kyuhyun sedang menelepon, hehe.

“Rae-ah?”

“Iya? Eh, sebentar.” Aku menutupi handphone-ku dengan tangan dan berbicara pada supir taksi kemana tujuanku. Aku menginap di hotel kali ini, karena suruhan kakek, biar ada yang menyiapkan sarapan katanya.

“Ya, Kyun-ah?”

“Di mana?”

“Di… sini, hehe~”

“Aku tidak boleh tahu?”

“Tentu saja boleh, tapi nanti.” Kyuhyun kembali diam. Suaranya masih sama, aku merindukannya.

“Kau… di sini kan?”

“Iya, aku di sini..”

“Aku pasti bisa bertemu denganmu lagi, karena kau di sini kan?”

“Iya..”

“Haah, ini berbahaya.”

“Eh?”

“Daritadi kau mengucapkan kata di sini. Sekarang, aku tidak bisa berhenti membayangkanmu ada di sini. Di sini… aku seperti sedang memelukmu..”

“Mesum. Memangnya kau sedang memeluk siapa? Hehehe~”

“Dia memelukku,” suara Sungmin oppa, hehehe. Mereka akan berpesta kan? Lebih baik membiarkannya bersama mereka saja, lagipula kakiku sudah minta istirahat sekarang.

“Aish, hyung. Menyingkir dulu~ halo? Rae?”

“Iya?”

“Apa yang kau lakukan sekarang?”

“Ng… memelukmu dari sini? Hehe~”

“Kalau bertemu nanti, boleh aku—“

“Aku yang akan memelukmu duluan, senang?”

“Tentu.”

“Selamat untuk konsernya, selamat bersenang-senang, jangan lupa istirahat.”

“Mengerti~”

“Tutup teleponnya kalau begitu.”

“Kau duluan~”

“Tidak mau, kau duluan telepon ya kau duluan yang tutup.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Ya aku juga tidak mau.”

Kalau seperti ini, kapan percakapan ini berakhir? Apa dibiarkan saja? Berdebat siapa yang mengakhiri sambungan duluan, sepertinya akan jadi kebiasaan baru, hehehe.

Kyun-ah~ sampai bertemu nanti.

*****

silahkan kalau ada yang mau kritik dan saran, karena saya tau kalo ff KyuAn udah jarang publish, pendek-pendek pula, terus geje *eh*

tapi makasih, tetep makasih banget sama kawan-kawan reader yang udah mau mampir dan baca ^^ cukup puas sama stat akhir-akhir ini walopun nggak dibarengi sama komen, yasutralah, saya terima dengan lapang dada(-nya Eunhyuk) ><

terima kasih semuaaa ^^

Advertisements