Tags

, ,

read this first–> Untitled

ada yang mau nanya tentang judulnya? apa maksud judulnya? eke juga nggak tau cyiiin~~ *plak!

aaah pokoknya gitu deh ><

Enjoy! ^^

Hope you’ll like it! 🙂

Kembali ke rutinitas biasa, bekerja. Untunglah di Seoul aku langsung mendapat tawaran pekerjaan di sebuah kantor majalah terkenal. Setidaknya aku tidak harus keliling kota lagi untuk mencari pekerjaan dan pusing memikirkan cara untuk menghidupi diri sendiri di sini. Sepertinya aku harus berterimakasih banyak dengan temanku di sini.

Aku meletakkan kamera kesayanganku di atas meja kerja. Hari ini kantor cukup ramai, sepertinya senin pagi ini banyak orang yang sedang gembira.

“Raena-ssi, selamat pagi.”

“Ah, Jungseok-ssi. Selamat pagi.” Jungseok, teman satu profesiku –bukan, bukan dia yang memberitahuku tetang pekerjaan ini- menghampiri mejaku dan membawakan majalah kantor kami bulan lalu. Aku memerhatikan sampul majalah pariwisata itu, Pulau Jeju dengan matahari tenggelamnya.

“Jangkwon sajangnim sangat puas dengan hasil jepretanmu ini! Kau tahu? Penjualan majalah pariwisata kita meningkat bulan lalu! Hoaaa~ kau baru di sini, tapi sudah menarik perhatian direktur! Daebak!” Jungseok menepuk bahuku kuat –tidak sengaja, mungkin- dan tertawa. Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya ini. Ah, kalau saja dia tahu bulan kemarin adalah bulan terberatku saat kembali ke Seoul.

Saat bekerja, pikiranku selalu saja tertuju pada Jongwoon. Menyebalkan. Seharusnya aku tidak perlu memikirkannya lagi, dan tidak ada alasan untuk memikirkannya.

“Terima kasih, ini juga berkat bantuan kalian.” Jungseok mengibaskan tangannya dan berdecak beberapa kali.

“Aish! Kau yang berusaha sangat kuat! Kau rela tidak makan seharian untuk mendapatkan gambar bagus untuk majalah kita!” berlebihan, aku bukannya tidak makan seharian, aku hanya sedang tidak bernafsu makan waktu itu. Aku hanya tertawa pelan untuk menanggapi Jungseok. Setelah mengobrol tentang beberapa hal tentang apa yang akan kami kerjakan bulan ini dan beramah-tamah dengan beberapa pegawai lain yang belum aku kenal, Jungseok pamit untuk kembali ke meja kerjanya yang agak jauh dariku.

Aku kembali duduk, lelah daritadi berdiri. Apa yang harus aku kerjakan hari ini? Jangkwon sajangnim masih sibuk mengurusi bagian politik yang katanya bermasalah. Ah, bagian yang paling tidak aku sukai.

“Mencari info tentang tempat bagus lainnya, mungkin bisa menjadi referensi. Hmm.. baiklah!” aku segera menyalakan komputer dan browsing tentang beberapa tempat yang mungkin belum terlalu diketahui masyarakat luar. Bagian pariwisata memang menyenangkan!

“Sibuk?” aku menghentikan kegiatanku dan mendongak saat mendengar suara orang yang sudah aku hafal.

“Ini. Minum dulu, matamu itu sudah seperti bola basket.”

“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” Kyuhyun –nah, laki-laki ini yang memberitahu ku tentang pekerjaan di sini- mengambil kursi yang ada di meja sampingku dan menggesernya hingga berada dekat denganku.

“Hanya mengunjungi teman lama, hehe. Minumlah dulu.” Kyuhyun kembali menyerahkan gelas kertas yang berisi kopi hitam pekat padaku.

“Kyu, sudah aku katakan berapa kali? Aku tidak suka kopi hitam ini. Menyeramkan.” Kyuhyun tertawa pelan sembari tangan kirinya merangkul bahuku. Tangan kanannya mengambil kembali kopi yang tadi sudah diletakkannya di meja dan meminum kopi itu sampai setengahnya habis.

“Aku tahu, babo. Kopi ini untukku, hanya bercanda tadi, hehehe.” Aku meninju dadanya pelan dan alhasil dia tersedak.

“Hei! Mau kemana?” Kyuhyun mengikutiku yang sudah berdiri, menuju pantry atau dapur kantor ini. Lebih baik aku membuat sendiri minumanku dibanding minta orang lain untuk membuatkannya, mereka tidak tahu seleraku.

“Kalau mau tahu, ya ikut, babo.” Kyuhyun berdecak kesal, tapi tetap saja mengikutiku. Perjalanan menuju pantry tidak begitu jauh, cukup berjalan lima menit dan aku bisa membuat minumanku sendiri sesuai selera.

“Mocca-nya habis?” salah satu OB yang ada di sana mengangguk dan pamit sebentar untuk mengantarkan kopi untuk pegawai lainnya. Aku menggigit bibir bawahku, ah, bagaimana ini?

“Raena, masih ada Latte, kau tidak mau?” Kyuhyun mengambil satu bungkusan Latte dari dalam lemari penyimpan minuman. Aku menggeleng dan mengajak Kyuhyun untuk keluar dari ruangan ini. Semoga saja aku tidak mengantuk hari ini.

Kyuhyun berhenti sejenak untuk membuang gelas kertas tadi di dekat pintu pantry. Tangan kirinya kembali merangkulku sedangkan tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celanannya. Kebiasaannya inilah yang menyebabkan pegawai-pegawai di kantor kami mengira kami sepasang kekasih.

“Kau tidak lihat pandangan orang-orang di sini, Kyu?” Kyuhyun cuek saja, malah semakin mengeratkan rangkulannya di bahuku.

“Tidak apa-apa. Lagi pula tidak ada ruginya kan kalau kau disangka berpacaran denganku?”

“Kau menyebalkan.”

“Memang.” Kyuhyun mengacak rambutku dan menunjukkan wajah sok gantengnnya itu. Tidak, aku tidak memiliki perasaan padanya sama sekali.

“Ah~ ternyata bagian hiburan itu membosankan! Kau tahu tidak? Mencari berita tentang artis ini, gosip artis itu, skandal artis ini itu. Aish! Semuanya membuatku gila!” Kyuhyun bercerita tentang pekerjaannya dengan menggebu-gebu. Aku hanya kembali duduk dan mendengarkannya sambil menopangkan daguku dengan tangan. Sesekali aku tertawa mendengar gurauannya tentang beberapa teman-teman satu profesinya begitu heboh mencari berita sedangkan dia sama sekali tidak berminat dengan hal itu. Mungkin kalau dia disuruh menjadi paparazzi, majalah hiburan kami akan sangat laku.

Kyuhyun tidak suka membuat berita seperti itu. Menulis-nulis seperti itu bukanlah gayanya. Dia sama sepertiku, hanya suka mengambil gambar. Kami berdua berpendapat bahwa gambar diambil karena ada cerita. Tapi karena aku lebih memilih untuk menuruti tuntutan pekerjaan, jadinya pekerjaanku lebih lancar daripada laki-laki satu ini.

“Sudahlah. Turuti saja, kau sendiri kan yang melamar pekerjaan di sini? Bertanggungjawablah~” Kyuhyun menatapku sejenak lalu tersenyum. Sedikit menghela nafas sembari mengusap puncak kepalaku.

“Kau selalu mengatakan itu kalau aku bercerita tentang ini.”

“Apalagi yang harus aku katakan? Kau juga selalu bercerita tentang hal yang sama, hehehe.” Kyuhyun menggaruk tengkuknya dan tersenyum tidak enak. Aku kembali memerhatikan monitor komputerku saat Kyuhyun kembali ke ruangannya sendiri.

Setelah mencari-cari, aku tidak mendapat apa yang aku inginkan. Semua yang ada di internet ini sudah umum, semua orang juga sudah tahu. Apa aku minta kerja lapangan lagi?

Aku menyandarkan tubuhku di kursi, sedikit menggerakkan leherku yang terasa kaku karena menghadap layar dalam waktu yang cukup lama. Ah, butuh sesuatu yang hangat sekarang. Otakku perlu penenang.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 tepat. Saat yang tepat untuk mengisi perut, pikirku. Aku mematikan komputerku dan langsung menyimpan kamera kesayanganku di dalam laci meja kerja. Sedang tidak ada mood untuk membawanya kemana-mana. Lagi pula kantorku terletak di tengah kota, tidak ada yang bisa dijadikan objek pariwisata dari kondisi tengah kota yang super sibuk ini.

Aku menghadap jendela dan menghela nafas berat. Hujan lagi? Tengah hari begini? Bagaimana aku tidak menyadarinya?

“Raena-ssi, mau pergi makan?” aku menoleh dan mendapati Kyuhyun yang sedang memainkan kunci mobilnya di hadapanku dengan senyum jahilnya. Tanpa menunggu persetujuanku, Kyuhyun langsung –kembali- merangkulku dan keluar dari ruangan ini menuju tempat parkir yang untuknya berada di dalam gedung.

“Kita mau makan di mana?” sampai di dalam mobil dan sudah memasang sabuk pengaman dengan baik, Kyuhyun melajukan mobilnya perlahan saat akan keluar dari halaman parkir menuju jalan utama kota.

“Tanya peta dong, sayang.” Is, laki-laki ini lama-lama bertambah menjengkelkan. Peta? Dia pikir aku Dora?

“Aku serius, Kyuhyun-ssi.” Kyuhyun tertawa dan tangannya kembali aktif mengacak rambutku yang sudah aku tata rapi tadi.

“Tenang saja, Raena. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang aneh. Kita akan ke restoran terkenal di daerah ini. Bagaimana?” aku memikirkan tawaran Kyuhyun sejenak. Restoran terkenal? Berarti mahal kan?

“Aku traktir, mau?”

“Benarkah? Baiklah!” Hei, siapa yang tidak bersemangat makan kalau ditraktir? Hehehe.

“Ada syaratnya, Raena-ssi. Mudah kok. Panggil aku ‘Kyuhyun sayang’, akan aku traktir makanan apapun yang kau makan! Hehehe~”

“Sialan. Aku bayar sendiri saja!” Kyuhyun sialan! Dia pikir memanggilnya ‘sayang’ itu bagus?!

“Yakin? Kalau begitu terserah kau saja~” Kyuhyun berpura-pura memasang tampang kecewa. Muka bocahnya itu semakin tampak lucu kalau sudah seperti itu. Mau tidak mau aku menuruti permintaannya tadi. Bukan, bukan untuk tetap ditraktir. Hanya ingin menyenangkan hati teman senasibku ini ketika kami berada di Paris, sama-sama menuntut ilmu.

“Kyuhyun sayang~” Kyuhyun tersenyum-senyum aneh –menurutku- dan melajukan mobilnya lebih cepat, menembus derasnya hujan yang tidak kunjung reda di luar sana.

“Tunggu, aku keluar duluan.” Kyuhyun membuka pintu mobilnya saat kami telah tiba di restoran yang Kyuhyun maksud. Dari tampilan luarnya saja sudah cantik, apalagi tampilan dalamnya.

Saking asiknya aku memerhatikan desain restoran tersebut, aku hampir saja tidak menyadari bahwa Kyuhyun sudah mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil untuk menyuruhku keluar.

“Kau ini… mau aku masuk angin? Mau makan berdua dengan laki-laki yang basah kuyup?” aku hanya nyengir, merasa tidak enak dengan Kyuhyun yang sudah merelakan badannya hampir basah kuyup untuk memayungiku menuju restoran.

Kami langsung masuk dan disambut dengan ramah oleh penjaga pintu restora itu. Kyuhyun menyerahkan payungnya pada penjaga tersebut agar disimpan sementara oleh mereka. Sepertinya Kyuhyun sering ke sini.

Kyuhyun menarik tanganku menuju meja yang tidak jauh letaknya dari pintu masuk, otomatis juga dekat dengan jendela. Kyuhyun melambaikan tangannya ke arah salah satu pelayan yang terlihat menganggur dan langsung memesan makanan tanpa bertanya padaku terlebih dahulu. Namun, tanpa ditanya juga aku sudah setuju dengan pesanannya.

“Aku masih hapal makananmu, hebat kan?” Kyuhyun menepuk dadanya, sangat bangga dengan ingatannya tentang menu makan siangku.

“Apa sebaiknya kita menambah saham lagi?”

“Aku rasa itu sudah cukup.”

“Tapi kedudukan kita disana cukup membahayakan!”

“Kedudukan kita stabil, asal kau tahu saja.”

“Tapi Jongwoon-ssi! Kita harus menguasai tempat itu sepenuhnya! Bayangkan keuntungan ya—“

“Donghee-ssi, aku rasa pembicaraan kali ini sudah jelas. Kedudukan kita aman, sangat aman.”

“Raena-ssi? Kau tidak apa-apa?” Kyuhyun melambaikan tangannya padaku. Sepertinya aku melamun, ah tidak, aku menguping, terlalu fokus menguping pembicaraan orang yang baru saja masuk dan duduk di belakang mejaku dan Kyuhyun. Jongwoon, dengan rekan bisnisnya.

“Aku tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

“Apa? Aku tidak bisa mendengar suaramu.” Kyuhyun mendekatkan telinganya di depan mulutku, membuatku mendorongnya menjauh agar Jongwoon tidak melihat. Tunggu, memangnya kenapa kalau Jongwoon lihat? Tidak kenapa-kenapa kan? Aish!

“Selamat menikmati~” pesanan kami datang. Nasi ayam teriyaki dan mocca kesukaanku. Kyuhyun juga memesan menu yang sama, hanya saja dia memesan air mineral kali ini, bukan kopi hitam itu lagi.

“Makan dengan baik. Mengerti?” Kyuhyun –lagi dan lagi- mengacak rambutku sambil tersenyum, kali ini senyum tulus yang keluar dari bibirnya. Terbawa suasana, aku juga ikut tersenyum dan langsung mengambil sendok juga garpu, sudah lapar.

“Eits! Tunggu dulu!” baru saja ingin mulai makan, Kyuhyun menahan tanganku dan –memaksa- menaruhnya kembali di atas meja.

“Kita bersulang! Hehehe.”

“He? Bersulang? Oh, bagus. Apa hubungan air mineral dengan moccacino sampai kau menghentikanku makan, Cho Kyuhyun-ssi?” aku mencubit pipinya kuat dan itu cukup membuatku lupa kalau ada laki-laki yang paling aku hindari sedang duduk di belakangku sekarang. Untunglah dia tidak menyadari keberadaanku.

“Hehehe~ Untuk keberhasilanmu dalam membuat majalah pariwisata kantor kita laku keras. Bersulang untuk Kim Raena!” teriak Kyuhyun dan tentu saja membuat seisi restoran menoleh menghadap kami. Aku hanya bisa menunduk. Sialan kau, Cho Kyuhyun!

“Kyuh-aish! Apa-apaan kau ini?!” kataku pelan dan mencoba untuk menurunkan tangan Kyuhyun yang terkepal ke udara tadi.

“Kenapa? Bukankah itu harus dirayakan? Baru sebulan kau bekerja tapi sudah dapat apresiasi besar dari direktur! Harusnya kau merayakan—“

“Raena?”aku dan Kyuhyun serentak menoleh kesumber suara. Oh, tidak, Jongwoon.

“Raena, siapa dia?” Kyuhyun secara terang-terangan menunjuk Jongwoon yang sedang berdiri di sampingku. Aku menurunkan tangan Kyuhyun, tapi laki-laki itu sama sekali tidak menurut.

“Harusnya aku yang bertanya, siapa kau?” suara Jongwoon terdengar tenang. Tidak, aku tidak ingin melihatnya. Dia berdiri di sampingku saja sudah cukup membuatku merinding.

“Aku?” Aku melirik Kyuhyun. Sekilas wajahnya menampilkan seringaian jahat dan itu pertanda…

“Suaminya.”…buruk. kapan aku jadi istrinya?

“Sayang, kau mengenalnya?” Kyuhyun menggenggam tanganku sembari menyuruhku untuk melihat Jongwoon.

“Ah, Jong… Jongwoon-ssi. Selamat siang.” Ini tidak benar. Aku tidak seharusnya gugup. Aku harusnya bersikap biasa saja. Ayolah, kendalikan jantungmu, Kim Raena!

“Wah, kalian kelihatan akrab, hehehe. Perkenalkan, aku Cho Kyuhyun.” Aku berusaha menarik tanganku dari genggaman Kyuhyun, tapi percuma. Walau tangan kanannya bersalaman dengan Jongwoon, tapi tangan kirinya begitu kuat.

“Kim Jongwoon.” Sekalipun aku tidak melihatnya lagi, aku bisa merasakan tatapan tajam dari Jongwoon. Tuhan, hari sudah dingin, jangan buat dingin lagi dengan tatapan laki-laki di sampingku ini.

“Ehm.” Aku mendongak, mencoba untuk mencari tahu apa maksud Kyuhyun mengatakan kalau dia suamiku. Aku sedikit melotot ke arahnya, mencoba mengatakan ‘jangan berkata macam-macam lagi’ tapi sepertinya dia tidak peduli.

“Jongwoon-ssi, bisa berhenti menatap istriku seperti itu? Kau ingat? Aku suaminya, hehehe.” Kyuhyun tersenyum ke arah Jongwoon, dan saat mengatakan bahwa dia suamiku, dia tersenyum kepadaku. Aku harus mengatakan bahwa ini hanya lelucon pada Jongwoon. Kyuhyun keterlaluan.

“Jongwoon-ssi, dia bukan su—“

“Kami baru saja pulang bulan madu. Makanya kami merayakannya kecil-kecilan di sini. Mau bergabung?” Kyuhyun melepas genggaman tangannya dan bergeser sedikit untuk memersilahkan Jongwoon duduk.

“Aku tidak ingin mengganggu acara kalian…” dan tak lama dari itu aku merasakan usapan lembut di kepalaku. Tangan Jongwoon.

“Raena… kelihatannya sudah bahagia. Selamat.” Aku mendongak, menatap wajahnya yang memperlihatkan senyum, tapi matanya berkata lain. Sedih.

“Aku pamit duluan.”

“Jongwo—“

“Donghee-ssi, aku pulang duluan. Selamat siang.” Jongwoon segera berlalu melewati meja kami. Ada apa ini? Kenapa seperti ini? Tidak, aku tidak mau mencintainya lagi. Bersikaplah biasa, Raena. Bersikaplah biasa. Jangan biarkan hatimu mengambil alih. Biarkan otakmu yang bekerja. Dia pergi, itu bagus. Kenapa terasa sakit? Harusnya senang!

“Sayang, kau tidak apa-apa?”

“Kyu… berhenti memanggilku sayang.” Aku mengambil gelas mocca-ku. Masih hangat. Aku meminumnya banyak-banyak. Biasanya ini menenangkan, kenapa kali ini tidak berhasil?

“Sayang, kau menangis…” Kyuhyun berpindah duduk ke sampingku, membuatku bergeser. Tangannya mengusap kedua mataku sambil sedikit menyanyikan lagu kesukaannya, Marry You.

“Itu tadi Jongwoon yang pernah kau ceritakan padaku ketika di Paris?” aku mengangguk, tidak perlu berbohong pada laki-laki ini. Dia tahu semuanya.

“Aaa laki-laki yang kurang ajar itu? Yang menghina—“

“Kyu. Berhenti.” Kyuhyun mengerutkan keningnya. Melepaskan kontak tangannya dengan pipiku. Ekspresinya berganti seketika, entah apa penyebabnya.

“Lihat, jendelanya berembun.” Aku melihat kebelakangku, jendelanya memang berembun, lalu?

Jari Kyuhyun menyentuh jendela itu, membuat satu titik yang tidak aku mengerti apa maksudnya.

“Pinjam tanganmu.” Kyuhyun menggenggam tangan kananku dengan tangan kanannya. Menuntun telunjukku menyentuh gambar titik yang dia buat di jendela tadi untuk menjadi bentuk lain.

“Love?” aku menatap Kyuhyun dan itu cukup membuat jantungku kembali berdetak lebih cepat. Wajahnya tidak jauh dari wajahku.

“Lupakan…” suara pelan ini, dia sedang serius.

“Lupakan… apa?”

“Dia. Lupakan dia. Aku mencintaimu. Menikahlah denganku..” Aku mendorong tubuhnya perlahan. Mencoba menciptakan jarak di antara kami walaupun tangan kiri Kyuhyun langsung merangkul bahuku lebih dekat dengannya.

“Kau gila. Jangan main-main tentang pernikahan, Kyu.”

“Kau baru tahu kalau aku gila? Makanya, menikah denganku adalah bentuk tanggung jawabmu…” Kyuhyun menyentuhkan hidungnya di pipiku, membuatku setengah mati menahan gugup.

“…karena kau yang membuatku gila seperti ini. Lima tahun itu lebih dari cukup untuk bisa membuatku mencintaimu sedalam sekarang. Menikahlah denganku.”

Memilih kembali mengejar dan memertahankan kisah lama yang pernah menyakiti. Bersama kisah baru, sangat baru, yang lebih bisa mengerti. Pilih yang mana?

*****

Advertisements