Tags

,

Aku mungkin sudah gila sekarang. Ah, aku tidak mau gila dalam artian sebenarnya, aku hanya ingin dikatakan gila kalau sudah berkaitan dengannya.

Segala tentangnya aku tahu, bahkan sampai ukuran sepatu dan juga berapa jumlah jaket musim dingin yang dia miliki pun aku tahu. Apa saja yang bisa membuatnya tersenyum, apa saja yang bisa membuat wajah tampannya yang berseri berubah menjadi muram, dan apa saja penyebab wajahnya yang bersedih, aku tahu.

Aku sudah seperti penguntit. Setiap hari bertemu, bahkan bisa dikatakan aku seperti orang terdekatnya. Padahal kenyataannya, aku sama sekali tidak pernah menyapanya. Aku hanya memerhatikannya dari jauh, dari sini, hanya dari sini, tidak bisa bergerak mendekatinya yang terlalu bersinar.

Saat teman-temanku bertanya, siapa yang aku cintai, aku pasti menjawab dirinya, laki-laki itu. Semua teman-temanku pasti menjawab bahwa aku gila, gadis putus asa karena ditinggal pacarnya. Aku terima dikatakan gila, tapi aku tidak terima dikatakan putus asa. Dia, dia sudah ada lama… lama sekali sebelum aku memilih untuk memiliki hubungan dengan orang lain. Kalian tahu? Itu hanya untuk membuatnya cemburu. Iya, aku tahu, dia saja tidak mengenalku, untuk apa cemburu dengan orang yang tidak dia kenal?

Makin lama aku semakin khawatir, apa rasa ini wajar? Seorang yang hanya memerhatikan pujaan hatinya tanpa bertindak apapun, tanpa usaha untuk menarik perhatiannya secara tidak langsung, apa rasa ini akan bersambut kalau aku hanya seperti ini?

Semakin hari, semakin besar. Rasa yang aku miliki semakin besar. Ditambah lagi, akhir-akhir ini senyumnya selalu ada.  Aku jadi semakin leluasa mengamatinya, semakin menarik. Kalian tahu? Aku pernah sekali menyapanya, dan dengan senyum favoritku, dia balas menyapa dan dia ternyata mengetahui namaku. Ada yang lebih membahagiakan dari itu?

Kamera, salah satu alat kesayanganku untuk mengabadikan semua tentangnya selain catatan kecilku. Dari balik pohon yang ada di taman sekolah, dia pasti melewatinya. Kesempatan itu selalu ada, dia seperti berpose untukku secara tidak sadar. Kalau aku sedang tidak membawa kamera, catatan kecilku pasti penuh dengan gambar dirinya, gambar kegiatannya. Seperti komik, mungkin suatu saat aku bisa memberikan padanya. Kalau sudah seperti itu, aku pasti lupa waktu. Mengabadikan sosoknya agar aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah dia lakukan.

Setidaknya, kalau aku tidak bisa memilikinya, aku memiliki bukti bahwa hari-hariku sangat manis hanya dengan memerhatikannya saja.

Advertisements