“Hormaaaaaaat grak!”

“Siaaaaaaap grak!”

“Sayang, bukan begitu… begini… nah, lebih ganteng gini, hehehe.”

“Gini, Ma?” Aku mengangguk dan tersenyum saat anakku memperbaiki sikap siapnya di hadapan cermin besar lemari kamarnya. Anakku tersenyum puas saat melihat sikap siapnya yang sudah baik dari sebelumnya. Persis yang diajarkan oleh Papa-nya.

“Papa juga kayak gini kan, Ma?” Aku mengangguk lagi, tanganku mengusap-usap kepalanya dengan sayang. Anakku semakin tersenyum lebar, gembira ketika aku mengiyakan bahwa dia melakukan hal yang sama dengan Papa-nya.

“Bajunya keren, Ma. Papa pasti keren banget waktu pake baju kayak gini, iya kan, Ma?” Baju yang mirip dengan milik Papa-nya walaupun ada beberapa bagian yang berbeda. Maklum, hanya baju buatan komersil, bukan resmi. Aku –lagi dan lagi- hanya mengangguk.

Anakku berbalik dari cermin dan wajahnya mendongak menatapku. Aku berjongkok di hadapannya dan anakku lebih leluasa menyentuh pipiku dengan tangan mungilnya.

“Mama kok ngangguk aja daritadi? Mama sedih, ya?”

“Nggak kok, Kak. Mama nggak sedih.” Anakku cemberut dan tiba-tiba dia langsung melingkarkan tangannya di leherku.

“Mama jangan sedih dong. Kakak aja nggak sedih lagi~” anakku mengusap airmataku dengan lembut, tangan kecil itu begitu penuh kasih sayang, dan aku bersyukur memilikinya di hidupku.

“Papa kan tentara baik, pasti Papa lagi ngeliatin kita dari Surga. Makanya, Mama nggak boleh nangis, nggak boleh sedih, ya?” aku mengangguk dan memeluk tubuh mungilnya itu. Anak umur enam tahun ini bisa membuatku merasa lebih baik. Anakku mengusap-usap punggungku dengan tangan mungilnya.

Dari pantulan cermin, aku bisa melihat foto yang dibingkai indah di atas meja belajar anakku. Foto seorang laki-laki gagah dengan seragam tentara yang menambah kewibawaannya sebagai seorang laki-laki. Kepergiannya meninggalkanku cukup membuatku bersedih, apalagi dia meninggalkan anakku yang sangat mencintai dan menghormatinya.

Sekarang, anakku ingin menjadi sepertinya, seperti Papa-nya. Pernah satu hari aku mengintip anakku ketika selesai sholat, dan aku menangis mendengar doa-nya. Maka dari itu, aku tidak pernah melarang cita-cita anakku. Kepergian Papa-nya bukanlah alasan untuk menghentikan keinginannya.

“Mama pasti bisa. Kan ada Kakak yang nemenin Mama. Kakak sayang Mama~”

Papa, Kakak ingin jadi kayak Papa. Papa doain ya dari sana biar Kakak bisa kayak Papa, bisa jagain Mama, biar Mama nggak sedih lagi,  jadi tentara hebat dan berjasa kayak Papa. Kakak sayang Papa.

Advertisements