“Mike, ayo!” anjing putih besar itu menggonggong senang dan mengikuti Aoi. Laki-laki tinggi itu sedikit berlari sembari menggenggam tali pengikat Mike agar mereka cepat sampai ditujuan.

“Mike, kau pasti tidak sabar ingin bertemu Yue, iya kan?”

“Guk!” Aoi mengusap kepala anjingnya dengan sayang. Senyum Aoi terlihat tulus sekalipun Mike hanyalah anjing. Aoi juga tidak sabar untuk bertemu Yue

Aoi mengamati sekelilingnya. Masih banyak orang-orang yang berlalu lalang dengan baik walaupun belum lama ini mereka dilanda bencana alam besar. Aoi pun harus banyak bersyukur karena mereka berhasil selamat meskipun harus kehilangan banyak harta mereka dan harus selalu waspada akan radiasi nuklir.

“Mike, kira-kira Yue sehat-sehat saja tidak ya?” Mike tidak menjawab kali ini. Aoi pun berkutat dengan pikirannya sendiri, laki-laki itu masih mengkhawatirkan keadaan kekasihnya sekarang.

“Sudah sampai, Mike.” Aoi mengawasi bangunan yang banyak terbuat dari kaca tersebut. Tali pengikat Mike terlepas begitu saja saat seorang gadis yang ada di dalam bangunan tersebut berjalan mendekati dinding kaca dan melambaikan tangan pada mereka.

“Guk!” Yue -gadis itu- berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Mike. Tangan Yue menempel di kaca saat Mike seperti mengendus-endus kaca tersebut. Aoi masih berada di tempatnya, hanya tersenyum sekilas saat melihat kedekatan Yue dan Mike yang tidak pernah hilang sebelum akhirnya dia juga mendekati dinding kaca tersebut.

Aoi meletakkan telapak tangannya di dinding kaca tersebut. Yue berdiri, dan juga meletakkan tangannya di dinding kaca tersebut. Yue tersenyum saat Mike berusaha berdiri untuk menggapai tangan mereka.

“Mike, tunggu sebentar ya.” Akhirnya Mike diam, duduk dengan patuh dan hanya memandangi majikannya.

Tiba-tiba Aoi menghembuskan nafasnya di permukaan kaca tersebut secara memanjang, menimbulkan embun samar.

“Selamat pagi” Aoi menuliskannya di permukaan embun yang dia buat tadi, membuat Yue tersenyum lebar dan melakukan hal yang sama seperti Aoi dari dalam sana.

“Apa kabarmu?” Aoi kembali menuliskannya di atas permukaan embun baru yang dia buat. Yue hanya mengacungkan kedua jempol tangannya pada Aoi, membuat laki-laki itu tersenyum lebar untuk kesekian kalinya.

“A! Tunggu sebentar!” Jerit Aoi. Aoi membongkar tas ransel yang tadi dibawanya dan mengeluarkan sebuah karton putih besar yang tergulung rapi. Yue menaikkan kedua alisnya karena merasa bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu. Dari dalam sana, Yue tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Aoi.

“Mike! Ayo bantu aku! Gigit ujungnya ya, mengerti?”

“Guk!” Mike berdiri dari duduknya dan menggigit ujung kertas karton yang diberikan oleh Aoi. Aoi menahan ujung satunya lagi dan barulah Yue tahu apa yang ingin disampaikan oleh Aoi. Airmata Yue mengalir karena terharu dengan apa yang dilakukan oleh Aoi untuknya. Hal kecil, tapi bisa membuatnya berpikir tidak akan pernah kehilangan Aoi sekalipun dirinya dinyatakan terkontaminasi radiasi nuklir. Yue dievakuasi bersama warga lainnya yang terkena radiasi di bangunan ini.

Yue melingkarkan tangannya di atas kepala, membentuk tanda cinta untuk Aoi.

Aoi kembali menghampiri Yue, menempelkan kembali tangan mereka di permukaan kaca itu sebelum akhirnya Aoi melambaikan tangannya pada Yue. Yue mengangguk dan melambaikan tangannya, gadis itu tahu sudah saatnya Aoi pulang.

Yue menutup kedua matanya saat Aoi benar-benar pergi dari hadapannya. Di dalam hatinya, Yue mengamini apa yang dituliskan oleh Aoi di kertas karton tadi. Dia ingin cepat berkumpul dengan kekasihnya lagi, secepatnya.

From Aoi to My Ai ai Yue : Semoga lekas sembuh, setelah itu, menikahlah denganku. Yue, I love you ^^

Advertisements