Tags

,

“Terima kasih atas kunjungannya,” aku membungkukkan badan dari balik mesin kasir, pelanggan yang baru saja membeli itu tersenyum dan langsung pergi. Melihat suasana café milikku secara langsung, dan melayani pelanggannya secara langsung menimbulkan kepuasan tersendiri bagiku yang merupakan pemilik café ini.

Ah, perkenalkan, namaku Kim Jongwoon, kalian bisa memanggilku Jongwoon. Aku pemilik dari café yang sekarang sedang terkenal di Seoul ini. Hanya café yang mengutamakan kopi sebagai menunya, dan beberapa kue-kue kecil sebagai pendamping kopi-kopi itu. Aku pemilik dari café ini, dan kali ini aku turun tangan untuk menangani meja kasir hari ini.

Sebenarnya café ini bukan sepenuhnya milikku walaupun aku membangunnya dengan uangku. Café ini aku dedikasikan untuk kedua orang tuaku karena mereka tidak suka hanya berdiam diri saat mereka sudah pensiun. Pekerjaanku sendiri sebagai pemegang saham terbesar di salah satu mall besar di Seoul menbuatku tidak ragu-ragu untuk membuatkan mereka café ini.

“Jongwoon,” Aku menoleh dan mendapati ibuku yang tengah membawa sebuah nampan kecil berisikan satu cangkir mocca dan satu tiramisu. Kombinasi yang lumayan, menurutku. Moccacino hangat, tiramisu berbentuk persegi panjang, ada satu orang yang sangat menyukai kombinasi ini, apalagi saat hujan seperti ini. Ah, aku jadi merindukannya lagi.

“Jongwoon?” aku sedikit kaget karena ibuku melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajahku. Aku melamun ya?

“Apa yang kau pikirkan sambil melihat ini sih?” Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Ibuku pasti tahu siapa yang aku pikirkan. Lima tahun mungkin tidak cukup untuk menghapus kesan-kesan kehadiran gadis itu dihidupku.

“Melihat ini.. kau pasti memikirkannya lagi. Kau tahu? Ibu juga merindukkan suaranya ketika minta dibuatkan mocca, tapi setelah itu pasti dia hanya meminum sedikit. Ah, dimana ya anak itu?” mendengar ibuku mengatakan hal tentangnya lagi, niatku untuk mengantarkan nampan itu tiba-tiba muncul. Mungkin saja itu dia, yah walaupun gadisku yang satu itu tidak pernah tahu kalau aku sudah mempunyai sebuah café besar sekarang. Tunggu, apa masih bisa aku menyebutnya gadisku? Ah, sudahlah.

“Biar aku saja yang bawa. Ibu menjaga meja kasir saja, oke?” Aku langsung mengambil nampan tadi dan menuju meja nomor satu yang ada di ujung kiri café ini tanpa mendengar apa yang akan ibuku katakan. Ibuku harus berterima kasih karena aku membuatnya tidak capek-capek untuk mengantarkan pesanan ini kan, hehhehe.

Jujur saja, aku gugup sekarang. Khayalanku tentang dia yang memesan ini sangat besar, lupa bahwa sudah lama gadis itu meninggalkan Seoul untuk mengejar cita-citanya di Paris, menjadi seorang fotografer.

Aku sudah sampai di meja nomor satu, tapi mana orangnya? Di meja ini hanya ada kamera –yang setahuku harganya mahal- dan tas jinjing kecil. Apa orang yang memesan ini tidak takut barangnya hilang?

Aku meletakkan nampan yang tadi aku bawa di meja. Aku mengedarkan pandanganku seluruh penjuru café, tidak ada tanda-tanda orang yang sedang menuju meja ini. Harapanku hilang, ternyata memang tidak mungkin dia. Gadis itu.. sudahlah.

Aku masih berdiri di samping meja nomor satu ini. Bukannya kembali ke meja kasir dan membantu ibuku, aku malah memperhatikan asap halus dari mocca yang dipesan ini. Ah, bagaimana kalau mocca ini tidak hangat lagi sampai orang itu minum? Gula batunya juga nanti tidak bisa cair dengan baik kalau mocca-nya sudah dingin, gadis itu tidak mungkin menyukai mocca ding—eh kenapa aku malah memikirkan dia suka atau tidak? Toh, bukan gadis itu yang memesan.

“Wah, sudah sampai? Terima kasih.” Aku menoleh ke belakang, mendapati wajah cantik itu lagi di hadapanku. Oh Tuhan, mataku tidak salah lihat, kan?

“Jongwoon?” Aku menahan nafasku sejenak, suara itu kembali menyebutkan namaku. Mata itu kembali melihatku. Wanginya juga tidak berubah walaupun sudah lima tahun lebih gadis ini tidak berada di dekatku. Candu itu kembali lagi.

“Kau tidak banyak berubah ternyata, masih suka menatapku seperti itu.” Raena –nama gadisku ini- langsung duduk dan mengambil tas jinjing kecilnya untuk diletakkan di pangkuannya. Aku memperbaiki ekspresiku, tidak lucu kalau orang sepertiku terperangah tidak jelas objeknya.

Tidak peduli dengan seragam kasir yang sedang aku kenakan sekarang, aku duduk di hadapannya. Raena menghentikan gerakan tangannya yang baru saja akan memasukkan gula batu ke mocca-nya saat aku duduk di hadapannya. Gadis itu meletakkan kembali penjepit gulanya dan beralih melihatku.

“Setelah lima tahun, kau hanya berakhir menjadi seorang penjaga kasir?” Raena menopangkan dagunya, tatapan mengejek itu bahkan menjadi favoritku sekarang, apa efek merindukan gadis ini begini ya?

“Aku pemilik café ini, dan sahamku juga berkembang pesat.” Raena menatapku terkejut sementara aku hanya tersenyum tipis melihat ekspresinya kali ini, ekspresi lainnya yang manis.

“Bagaimana kabarmu?” aku harus memulai percakapan. Aku tidak mau pertemuanku dengan gadis ini cepat berlalu. Bayangkan saja lima tahun tanpa kabar darinya, itu hampir membuatku putus asa akan kepulangannya.

“Seperti yang kau lihat, dan aku juga yakin kalau kabarmu baik-baik saja selama aku tidak ada.” Saat mengatakan itu, Raena sama sekali tidak menatapku, tangannya sibuk memotong-motong tiramisu itu perlahan. Terlihat senyum getir dari bibirnya.

“Sini, biar aku saja.” Aku mengambil garpu kecil itu dari tangannya, tanpa penolakan apapun darinya. Aku mulai memotong tiramisu itu menjadi bagian-bagian yang tipis. Setelah aku potong tipis, aku potong lagi kecil-kecil, sehingga seperti membentuk kumpulan choco chips persegi yang biasa menjadi topping di es krim. Aku melirik Raena yang memperhatikan gerakan tanganku saat memotong, bisa aku lihat senyumnya mengembang karena bentuk yang aku buat sesuai dengan keinginannya. Selesai dengan tiramisu itu, aku beralih ke mocca-nya. Aku mengambil penjepit gula batu kecil itu dan memasukkan dua gula batu ke dalam cangkir mocca-nya, kemudian aku mengaduk mocca-nya sebanyak 12 kali.

“Minumlah dulu, mumpung masih hangat.” Raena, dengan ragu mengambil cangkir mocca-nya dan perlahan meminum mocca itu. Aku memperhatikannya ketika minum, menunggu ekspresi apalagi yang akan keluar dari wajahnya. Semoga kebiasaannya tidak berubah.

Raena meletakkan cangkirnya kembali, gadis itu mengusap matanya beberapa kali sebelum menatapku. Senyumnya kembali terkembang. Dia banyak tersenyum hari ini, baguslah.

“Masih sama. Bagaimana bisa?”

“Mm.. entahlah.” Aku mengangkat kedua bahuku dan berhasil memunculkan ekspresi kesalnya. Raena hendak meraih garpunya, hendak memakan tiramisunya. Tanganku berhasil meraih garpu itu duluan dan Raena hanya diam saat aku melakukan hal itu.

“Ceritakan tentang Paris dan hidupmu di sana.” Wajah kesal Raena berubah menjadi cerah saat aku memintanya untuk menceritakan tentang kehidupannya di Paris, apa semenyenangkan itu?

Dia mulai bercerita tanpa henti. Pandangan memujanya tidak pernah lepas dari kamera yang sekarang dibawanya itu. Dia menceritakan betapa hebatnya orang-orang di sana saat menentukan objek foto. Betapa hebatnya sistem pendidikan di sana, sementara di beberapa negara jurusan fotografi masih kurang peminatnya. Dia juga bercerita tentang pekerjaannya yang mengabadikan monument-monumen indah di sana.

Beberapa kali dia tersedak karena bercerita sambil makan tiramisu yang aku suapkan padanya. Kebiasaannya, hanya bisa fokus pada satu kegiatan.

“Sepertinya menyenangkan.” Raena tersenyum puas dan menganggukkan kepalanya. Aku kembali menyuapkan potongan kecil tiramisu padanya, namun tangannya menghalangi tiramisu itu masuk ke mulutnya. Ekspresi Raena menjadi datar, wajahnya tidak lagi menghadapku melainkan menatap jendela yang tengah berembun karena hujan di luar masih lumayan deras.

“Kalau bukan karena apa yang kau katakan dulu, mungkin aku tidak akan sebahagia ini.” Raena merapatkan jaketnya dan kini beralih menatapku. Perlahan, Raena menangkupkan kedua tangannya di sisi-sisi cangkir mocca-nya yang masih hangat. Diminumnya sedikit, tapi tangannya sama sekali tidak lepas dari cangkir itu.

“Kalau saja waktu itu kau tidak menghina cita-citaku sebagai fotografer, mungkin aku tidak akan sebahagia sekarang. Hinaanmu waktu itu membuatku menantang diriku sendiri, bahwa aku pasti berhasil dengan cita-citaku. Sepertinya aku harus berterima kasih padamu, Kim Jongwoon.” Senyumnya berbeda. Aku tidak tahu dimana letak bedanya, yang jelas, aku tidak menyukai senyum itu karena saat itu juga aku merasa bersalah. Sangat.

“Aku.. aku minta maaf untuk itu. Maafkan aku, aku mohon.” Raena menggelengkan kepalanya dan sekali lagi meminum mocca-nya, kali ini lebih banyak lagi.

“Aku masih belum bisa melupakan kata-katamu sampai saat ini. Aku juga tidak bisa melupakan tatapan merendahmu saat melihat kameraku waktu itu. Kau tahu? Waktu itu aku berpikir kalau kau pasti sedang bermasalah dengan sahammu, tapi semua pikiran positifku tentangmu hilang saat kau sama sekali tidak muncul di bandara waktu itu, Jongwoon.” Raena menghela nafasnya berat. Tanganku berusaha untuk menggenggam tangannya tapi tentu saja Raena menolak.

“Apa.. kau tidak bisa memaafkanku? Sedikit saja?” Raena menggigit bibir bawahnya. Beberapa kali dia mengusap matanya cepat-cepat dan kembali meminum mocca-nya.

“Bisa. Sangat bisa. Hanya saja… aku tidak bisa bersama orang yang tidak mendukungku sama sekali.”

“Rae—“

“Sebenarnya aku sudah menganggap hubungan kita sudah berakhir saat aku meninggalkan Seoul.” Tubuhku kaku, sudah jelas dia menolak untuk menjalani lagi hubugan kami sebelum aku sempat mengatakannya.

“Tapi kita belum pernah membahas tentang hubungan kita!”

“Tidak ada yang perlu dibahas! Kita sudah berakhir dari lima tahun yang lalu!” airmatanya keluar, gadis dihadapanku ini menangis.

“Kalau saja aku tahu café ini milikmu, aku tidak akan kesini. Aku sudah berusaha untuk menghadapimu daritadi. Aku berusaha untuk kembali senang bertemu denganmu.” Aku berdiri dan berlutut di samping di tempat duduknya. Perlahan, aku mengusap airmatanya yang masih mengalir dengan lancar di pipi putihnya. Entah seberat apa kesalahanku dimatanya, tapi bagiku, pasti sangat berat dan menyakitinya.

Aku menggenggam kedua tangannya erat, membuatnya menatap mataku. Aku tidak peduli dengan pelanggan-pelanggan caféku yang melihat tindakanku ini. Aku hanya ingin meyakinkan gadisku ini untuk kembali padaku. Sudah cukup aku menyesal karena meremehkan sesuatu yang penting baginya, kali ini aku tidak mau menyesal karena harus kehilangannya.

“Maafkan aku.. Raena, maafkan aku.” Aku menatapnya, berharap dia mengetahui penyesalanku. Dia diam saja, tidak menjawabku bahkan tidak melihat ke arahku. Apa sudah sangat terlambat?

Raena melepaskan tangannya dari genggaman tanganku. Dia mengambil kameranya tadi dan langsung mengalungkan benda itu di lehernya. Tas jinjing kecil itu juga sudah berada di pundaknya. Dia akan pergi? Lagi?

“Tenang saja. Aku sudah memaafkanmu.” Aku ikut berdiri saat dia berdiri. Raena tersenyum sebelum akhirnya melangkah keluar.

“Jongwoon.” Raena menoleh, sebuah senyum yang terlihat dipaksakan terlihat jelas di wajahnya.

“Bye.” Kakiku tidak bergerak dari tempat ini, tubuhku hanya mematung, mataku hanya melihat tubuhnya yang semakin menjauh dari jangkauanku, pandanganku mengabur sampai pada akhirnya aku tahu sebabnya. Aku membiarkan airmataku keluar kali ini.

Aku menatap moccacino dan tiramisu yang masih bersisa. Raena sangat menyukai moccacino. Dia selalu membujuk ibuku untuk membuatkan moccacino untuknya walaupun takaran gula yang diberikan oleh ibuku tidak pernah pas untuknya.

Aku yang paling mengetahui berapa takaran gulanya. Berapa kali dia mengaduk mocca-nya walaupun dia sendiri tidak pernah menghitungnya. Aku tahu seperti apa dia memotong kue yang akan dia makan. Semua itu aku yang melakukan untuknya.

Sekarang, setelah lima tahun berlalu, aku benar-benar tidak bisa melakukan hal itu lagi untukknya. Kesalahanku terlalu besar untuknya. Tidak ada orang yang bisa menerima cita-citanya dihina dan dianggap remeh. Saat dia memintaku untuk datang ke bandara, mengantarnya pergi ke Paris, aku malah asyik bermain saham dan mengabaikan teleponnya.

“Maafkan aku. Maaf.”

Advertisements