Tags

, ,

Main Cast : Cho Kyuhyun/Kim Raena(OC)

Other Cast : Cari~~ *plak!

Genre : Romance, little(?) angst

Rate : mm.. PG15? 😀

aaah sudah lama nggak bikin ff lagi :3

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

Aku menghadiri pernikahan seseorang hari ini, sahabatku, Shim Charin. Dia adalah adik perempuan dari Shim Changmin DBSK. Di usia muda, dia sudah memutuskan untuk menikah, dengan seseorang yang tidak kalah muda pula. Kalian tahu Henry Lau kan? Ya, Super Junior M. Mungkin mereka berdua sudah gila karena langsung memutuskan akan menikah ketika umur hubungan mereka baru tujuh bulan.

Acaranya dilaksanakan pada malam hari di sebuah gereja sederhana yang letaknya agak jauh dari pusat kota, untuk menghindari wartawan ataupun para stalker. Aku berada di sini karena menjadi pendampingnya bersama Yena, tunangan Siwon oppa.

Di pesta kecil ini hanya ada keluarga besar kedua belah pihak, DBSK lengkap, Super Junior dan juga Zhoumi oppa, serta beberapa undangan yang diundang khusus, seperti aku, Yena, Miho onnie, Ayako, dan juga Hyunjoon. Sungra tidak ikut karena SHINee tidak ada di sini dan dia terlalu malu ketika aku mengajaknya kesini, biarpun aku bilang ada yang lain, dia tetap tidak mau ikut.

“Cha-ah, aku yang bertunangan duluan, malah kau yang menikah duluan! Is, dasar gila!” Yena mencubit pipi Charin kuat dan itu lumayan membuat dandanan Charin rusak. Seperti biasa, Charin menggerutu panjang yang hanya dibalas kekehan puas dari Yena. Sepertinya anak ini lupa pada dandanannya yang rusak tadi.

“Permisi, bisa kau perbaiki lagi dandanan Nona Shim?” Dengan cepat, orang yang aku suruh tadi langsung memperbaiki dandanan Charin walaupun sedikit mendapat berontakan dari Charin. Maklum, gadis yang akan menikah satu ini tidak begitu suka dandan.

Selesai didandani, aku membungkuk berterima kasih pada gadis pe-makeup itu, ah, aku tidak tahu apa namanya. Aku mendekati Charin yang masih sibuk membenahi baju pernikahannya, berputar-putar genit di depan kaca besar ruangan ini. Ng, ya, tidak suka dandan tapi centil, itulah Charin.

“Kau sudah cantik, Nyonya Lau~” Aku berdiri di samping kirinya, dan Yena ada di samping kanannya. Aku memerhatikan Charin dipantulan cermin ini, dan dia memang cantik. Ditambah lagi dengan wajahnya yang bertambah sumringah dan memerah saat disebut dengan panggilan ‘Nyonya Lau’.

Setiap wanita yang sudah memiliki kekasih pasti ingin berada di posisi ini. Memakai gaun pengantin, berada di antara orang-orang yang merestui hubungan kalian, dan berjanji untuk saling setia dengan orang yang kalian cintai. Charin sudah mendapatkan ‘paket lengkap’, tinggal menunggu waktu acara ini dimulai, Yena baru mendapatkan ‘pembuka’, tapi setidaknya Siwon oppa sudah mengikat gadis ini agar tidak kemana-mana, lalu.. aku?

Jujur saja, selain senang dan ikut bahagia atas pernikahan Charin, aku juga iri. Charin yang baru tujuh bulan saja.. ah, kalian tahu lah.

“Raena-ah? Kau tidak apa-apa?” Charin menyentuh bahuku, ternyata aku daritadi sibuk dengan pikiranku sendiri ya?

“Kau tidak apa-apa? Wajahmu tampak sedih, ada apa?” Yena berdiri di sebelahku dan menyentuh keningku. Diperlakukan seperti orang sakit seperti ini tidak enak juga.

“Tidak. Tidak apa-apa, hanya memikirkan bagaimana acaramu nanti, hhehe~” Yena dan Charin memandangku tidak yakin, mereka terlalu hafal sifat dan sikapku, jadi aku rasa percuma membohongi mereka.

“Kau pasti memikirkan sesuatu, tapi sudahlah. Aku tidak mau kau bercerita dan menangis sesegukan, itu akan membuat wajahmu jelek!”

“Ya! Im Yena! Siapa yang akan menangis sesegukan sih?”

“Kau kan cengeng! Ditinggal Kyu ke Thailand waktu itu saja kau sampai tidak mood seharian!”

“Charin-aaaaah!” Mereka berdua kompak tertawa, menyisakan aku yang sedikit jengkel dengan tingkah mereka, walau pada akhirnya aku ikut tertawa.

“Rin-ah,” Kami bertiga kompak menoleh, aku dan Yena spontan menunduk saat mengetahui siapa yang memanggil Charin tadi. Ayahnya, dan juga ada Changmin oppa.

“Sudah siap?” Dengan senyum yang sangat penuh wibawa, Paman Shim mengulurkan tangannya yang disambut manis oleh Charin. Aku dan Yena langsung mengambil keranjang bunga yang akan jadi ‘properti’ kami nanti.

Pandangan mataku bertemu dengan Changmin oppa, dan laki-laki itu mendekatiku.

“Kau tidak pergi bersama Kyuhyun tadi? Dia datang dengan member Super Junior saja,” Sedikit pelan, mungkin takut yang lain mendengar. Aku menjawabnya hanya dengan gelengan santai dan Changmin menatapku tidak percaya.

“Sedang bertengkar ya?” Kali ini aku berhenti melangkah, dan diikuti olehnya. Charin, Yena, dan ayahnya sudah duluan, bersiap-siap.

“Tidak, memangnya ada apa kau tiba-tiba bertanya seperti ini padaku?” Memang tidak seperti biasanya.

“Kyuhyun daritadi bersikap seperti orang kebingungan. Mulutnya komat-kamit tidak jelas, tangannya juga selalu dia masukkan ke saku celananya, kau tahu apa yang terjadi padanya?” Aku menatap Changmin heran, juga memikirkan apa yang sedang Kyuhyun lakukan.

“Aku tidak tahu. Mungkin dia ada drama atau ada lagu yang harus dia hafalkan?” Changmin menggeleng, tangannya menggaruk kepalanya asal, membuat tatanan rambutnya yang rapi itu kembali acak-acakan dan itu membuatku langsung saja merapikan rambutnya.

“Rae-ah! Ayo cepat!” Aku mempercepat gerakan tanganku di rambut Changmin karena Yena sudah memanggilku untuk bersiap. Changmin sempat berterima kasih dan langsung kembali ke tempat duduknya bersama member DBSK lainnya.

Aku dan Yena memposisikan diri kami di depan pengantin wanita dan pendampingnya. Di belakang pengantin, ada Kyohee, pacarnya Donghae. Dia membawakan bunga. Entah apa konsep pernikahan ini, aku tidak pernah menikah, tapi yang jelas, agak aneh saja melihat Kyohee berjalan sendirian di belakang sana walaupun aku yakin tidak ada rasa canggung menghantuinya, berjalan di atas catwalk saja dia berani.

Musik pengiring kedatangan pengantin sudah terdengar dan kami pun sudah berjalan perlahan menuju laki-laki yang akan menjadi pendamping uri-Charin ini. Henry Lau, terlihat sangat gagah dengan jas formal itu sekalipun dia berdiri membelakangi kami.

Singkat saja, Charin dan juga Henry sudah berdiri berdampingan setelah ayahnya melepas tangan Charin dan Kyohee menyerahkan buket bunga mawar cantik pada Charin. Yena langsung menuju Siwon oppa, karena dia sudah menyiapkan tempat duduk untuk Yena. Aku yang masih kebingungan tiba-tiba ditarik oleh Yesung oppa untuk mengikutinya.

“Oppa~ mau kemana?” Aku sebisa mungkin memelankan suaraku, masalahnya ini adalah bagian inti dari acara, kan tidak lucu kalau aku berteriak-teriak tidak jelas.

“Tadi Kyuhyun menyuruhku, kau tahu sendiri bagaimana sifatnya, dia duduk di sana,” Yesung oppa melepas genggaman tangannya dan menunjuk salah satu deretan kursi yang kosong, hanya diisi oleh Kyuhyun. Maklum, sedikit sekali yang menghadiri pesta pernikahan ini, jadi masih sangat banyak kursi yang kosong.

Kyuhyun mengisyaratkan agar aku mendekatinya. Tunggu, aku harus menghentikan debaran jantungku ini sebelum mendekatinya. Kapan dia akan berhenti terlihat tampan?

“Ada apa?” Saat aku bertanya, Kyuhyun malah menyuruhku diam dan memerhatikan jalannya acara. Akhirnya kami duduk dalam diam, sama-sama memerhatikan jalannya acara. Saat Henry mengatakan ‘aku bersedia’, airmataku langsung turun. Bahagia? Tentu saja. Membayangkan sahabatmu sudah melangkah kejenjang yang lebih serius dengan orang yang dicintai dan mencintainya, siapa yang tidak terharu?

Aku dapat merasakan tatapan Kyuhyun dari samping kiriku, dan itu membuatku mau tidak mau menoleh ke arahnya. Mendapati dia tersenyum seperti itu, membuatku juga tersenyum.

“Terharu?” Jari-jari Kyuhyun mengusap pipiku perlahan saat aku hanya mengangguk ketika menjawab pertanyaannya. Setelah dia memastikan tidak ada lagi airmataku yang keluar, tangan kanannya merangkulku lembut.

“Ada yang ingin aku sampaikan padamu, lihat aku.”

Aku langsung menatapnya dan mendapati wajah Kyuhyun yang hanya berjarak beberapa senti dari hidungku. Spontan aku sedikit menjauhkan wajahku tapi sialnya tangan Kyuhyun sudah berada di belakang kepalaku. Menahan agar tidak menjauh.

“Aku tadi bilang lihat aku,” aku mendengus pelan, aku kan hanya ingin menjauhkan wajahku. Lagi pula siapa yang akan nyaman dengan posisi wajah sangat dekat seperti ini, dengan kekasihmu sendiri pula. Gugup, sudah pasti.

“Dari tadi aku menatapmu, hanya ingin menjauhkan wajahku saja. Terlalu dekat,” Kyuhyun menunjukkan senyum ‘evil’nya yang selama ini dipuja-puja oleh penggemarnya padaku, mengerikan. Kenapa mereka bisa suka pada senyuman mengerikan seperti ini?

“Gugup?”

“Tidak,” iya! Tapi lebih banyak mengerikan! Kau bisa melakukan apa saja pada wajahku dengan jarak sedekat ini, Cho Kyuhyun!

“He? Kau yakin?”

“Tentu saja,” sangat yakin! Jauhkan wajahmu!

Percuma, sepasti apapun nada bicara yang aku gunakan, laki-laki keras kepala ini tidak akan mengalah begitu saja. Matanya terus saja menatapku tanpa teralih pada apapun.

“Kyu, memangnya ada a—“

“Dengarkan saja apa yang diucapkan pendeta,” Kyuhyun memotong kalimatku, masih dengan menatapku. Tangannya yang tadi menahan kepalaku sudah berganti tugas menjadi mengusap rambutku. Senyum ‘evil’ jeleknya juga sudah berubah menjadi senyum yang menurutku lebih baik, senyum yang hanya bisa ditunjukkan saat kalian benar-benar ingin tersenyum.

Kami berdua diam, begitu juga dengan tamu yang lain karena memang sedang prosesi inti dari acara ini. Pendeta sedang membacakan janji-janji atau sumpah atau apa itu namanya –aku tidak tahu- untuk Charin.

Bagaimana rasanya berada di posisi Charin sekarang? Maksudku bukan posisi yang terlihat, tapi yang tidak terlihat, mengerti? Posisi sebagai seorang pengantin, itu maksudku. Merasakan debaran jantung saat kita menggapai tangan orang yang kita cintai di depan sana, merasakan debaran jantung saat mendengar pengantin pria mengatakan bahwa dia bersedia akan memenuhi janji dan sumpah yang disampaikan oleh pendeta, dan merasakan debaran jantung saat kita berhasil mengucapkan ‘aku bersedia’. Aku ingin merasakannya, bersama laki-laki di hadapanku ini, tentu saja.

“Aku bersedia.” Suara Charin terdengar lembut namun pasti, membuyarkan lamunanku. Bukan, bukan hanya itu yang membuyarkan lamunanku. Entah sejak kapan, bibir kami sudah bertemu. Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk mencerna apa yang sedang Kyuhyun lakukan padaku, dan aku baru tersadar saat tangan kiri Kyuhyun melingkari pinggangku.

Akhirnya aku memejamkan mataku, sekedar mengikuti alur yang diciptakan oleh Kyuhyun. Aku tidak tahu apa tujuan Kyuhyun menciumku kali ini, tapi tentu saja aku tidak akan menolak.

Perlahan, dia menjauhkan wajahnya dari wajahku. Ada semburat merah di pipinya walaupun tidak terlalu terlihat.

“Ternyata pas,” Kyuhyun menggenggam tangan kiriku lembut, lengkap dengan senyumannya yang membuat laki-laki ini bertambah tampan. Tapi, pas apa?

“Lihat jarimu,” Kyuhyun mengangkat telapak tangan kiriku hingga sejajar dengan wajahku. Terpampang cincin cantik di jari manisku. Tunggu, apa maksudnya?

“Kau suka?” Aku ingin menyuarakan pikiranku, bahwa aku sangat menyukai cincin ini. Mulutku terasa kaku untuk sekedar berbicara, bahkan tepuk tangan riuh para tamu pun tidak membuatku memalingkan muka dari cincin ini. Sampai saat Kyuhyun menurunkan tanganku dan sesekali menghembuskan nafas kuat, dapat aku lihat telinganya memerah dan tangan kanannya mengacak-acak rambutnya.

“Maaf kalau hanya seperti ini, aku tidak tahu harus memberikan cincin ini dengan cara apa. Aku tidak bisa seromantis Siwon hyung saat melamar Yena ataupun tidak seberani Henry saat mengajak Charin menikah. Raena-ah..” Kyuhyun menatap mataku dalam, tangannya sudah berpindah kekedua pipiku. Katakan, aku mohon katakan.

“Mungkin tidak dalam waktu dekat ini, tapi.. Maukah kau menikah denganku?”

Aku langsung memeluknya. Tiga tahun lebih aku menantikan kata-kata ini darinya. Tuhan, terima kasih.

“Rae-ah~ Babyrae~ Gomawoyo, gomawoyo.” Aku semakin mengeratkan pelukanku pada Kyuhyun, begitu juga sebaliknya. Aku akan memberitahukan kakek dan yang lainnya tentang ini, mereka harus bertemu dengan Kyuhyun. Kakek pasti menyukai Kyuhyun dan menyetujui lamaran tidak langsung ini.

Kyuhyun melepas pelukannya, tapi tidak dengan tangannya. Tangannya masih berada di pinggangku dan sama sekali tidak ada tanda-tanda ingin lepas. Aku juga seperti itu, tiba-tiba ada sedikit rasa tidak rela harus melepaskan tanganku di bahunya. Perasaanku mendadak tidak enak, kenapa ya?

“Ya! Sudah selesai? Selamaaaat!” Aku menoleh kaget saat Hyukjae oppa merangkul Kyuhyun dan Sungmin oppa merangkulku. Ryeowook oppa hanya duduk di depan kami sambil mengambil foto dadakan.

“Ya! Hyung! Jangan mengganggu momen kami!” Kyuhyun menyingkirkan tangan Hyukjae oppa dari bahunya kasar dan hanya dibalas dengan suara tawa Hyukjae oppa. Aku mencoba untuk menghalau airmataku agar tidak keluar, walaupun masih ada airmata yang lolos. Terlalu membahagiakan, sangat bahagia.

“Hei, perhatikan pesta orang dulu! Baru bersenang-senang! Kalian ini~” Leeteuk oppa menunjuk ke arah dua pengantin yang sudah berbalik untuk mendengarkan lantunan lagu persembahan dari Changmin, kakak Charin.

Semua tamu yang hadir –walaupun sedikit- bertepuk tangan saat Changmin oppa menyanyikan sebuah lagu yang sangat indah untuk kebahagiaan adiknya itu. Saat itulah aku melihat Changmin oppa mengusap matanya dan melanjutkan bernyanyi. Mungkin Changmin oppa akan merasa kehilangan adiknya yang satu itu, mengingat mereka berdua sangat dekat walaupun sering terpisah jauh.

“Mungkin saat kita menikah, Ahra noona yang akan menyanyi, hehhehe~” Kami sudah ditinggalkan oleh tiga orang tadi, hanya berdua. Aku tersenyum mendengar hal itu. Ah, membayangkannya saja sudah membuat hatiku senang bukan main.

Aku masih memilih untuk diam. Memilih untuk kembali memerhatikan cincin cantik pemberian Kyuhyun tadi. Aku menunduk, cincin itu seperti bersinar, dan seperti memberikanku kekuatan untuk terus tersenyum.

Perasaanku kembali tidak enak. Apa pengaruh malam? Tidak mungkin, pakaianku tidak terlalu tipis dan gedung ini juga tertutup walaupun pendingin ruangannya menyala. Kesehatanku juga baik-baik saja, atau hanya perasaanku saja? Iya, hanya perasaan saja. Lagipula aku sedang bahagia sekarang.

“Rae-ah? Kau tidak apa-apa?” Kyuhyun menyenggol lenganku, sontak aku menggeleng dan kembali fokus pada acara Charin dan Henry.

“Raena-ah! Ayo! Charin akan melempar bunganya!” Kyohee onnie menyeretku berdiri, sempat aku menatap Kyuhyun ragu, tapi Kyuhyun hanya mengangguk dan melepas genggaman tangannya.

DEG

Apa ini? Kenapa rasanya tidak enak sekali?

“Hei, kau tidak apa-apa?” Tanya Kyohee onnie sambil terus menyeretku untuk mengikutinya ke depan. Aku hanya tersenyum tipis dan menggeleng. Tidak enak merusak suasana hatinya yang sedang bersemangat itu dengan perasaan tidak enakku yang tidak jelas ini.

Sudah banyak wanita –yang belum menikah tentunya- berkumpul di depan Charin untuk mencoba menangkap karangan bunga yang akan dilemparkan oleh Charin, termasuk aku. Bahkan Miho onnie yang sudah menikah dengan Leeteuk oppa saja masih ikutan, hhehe.

“Siap ya~?” Teriak Charin semangat, Henry menyuruh Charin memutar, membelakangi kami, lalu Henry memeluk Charin dari belakang. Kami semua bersorak iri pada Charin, mereka berdua ini mesra sekali, melempar bunga saja harus berdua, hhahaha.

“Satu~ Dua~ Tiga!” Bunga terlempar, aku yang berada jauh dari Charin tentu saja tidak mendapatkan bunga itu. Bukan tidak suka dengan acara ini, aku bahkan sangat menyukai hal-hal macam ini. Hanya saja, kakiku terasa tidak mau melangkah, tubuhku seperti dingin. Apa aku demam?

Kyohee onnie bersorak gembira sambil menunjukkan karangan bunga yang ia dapat pada kami. Donghae oppa mendekatinya dan tentu saja mencium Kyohee singkat di depan kami.

Acara kembali berlanjut seperti biasa, semua member Super Junior –termasuk Kyuhyun- bercengkrama dengan Henry dan Charin, begitu juga dengan member DBSK. Mereka terlihat sangat akrab. Aku hanya ditemani oleh Hyunjoon saat ini, dia sedikit canggung untuk mendekati kekasih oppadeul yang lain, katanya.

“Onnie, kau sepertinya tidak bersemangat, kenapa?” Hyunjoon menyodorkanku segelas air lemon yang ada di salah satu meja. Aku menerima air itu setengah ragu, tidak ada rasa haus sama sekali padahal aku belum minum dari tadi sore sampai malam yang menjelang larut ini.

“Tidak, tidak apa-apa. Tapi sepertinya aku butuh istirahat Joonie-ah.” Hyunjoon mengangguk, lalu mengedarkan pandangannya di ruangan ini.

“Onnie pulang dengan Kyuhyun oppa kan?”

“Tidak. Aku menyetir mobilku sendiri, hhehe. Kau mau pulang?” Hyunjoon terlihat ragu, dia menunjuk Changmin yang berada tidak jauh di belakangnya. Ah, aku mengerti. Dia pulang bersama Changmin.

“Kalau begitu aku ke sana dulu ya, berpamitan dengan Charin dan Henry. Sepertinya tubuhku tidak bisa diajak kompromi lagi, tidak jelas sekali keadaannya sekarang,” Hyunjoon mengangguk dan mengikutiku berjalan ke arah Charin tapi dia berhenti ketika Changmin menahan tangannya untuk dikenalkan dengan member DBSK lainnya.

“Charin-ah, aku pulang duluan ya, tidak apa-apa kan?” Charin menunjukkan wajah kecewanya. Henry juga memandangku heran.

“Maaf, tapi sepertinya aku tidak enak badan. Maaf ya Charin-ah~ akan aku ganti waktu kita lain kali, maafkan aku~” Akhirnya Charin menghela nafas pelan dan tersenyum. Henry juga mengangguk maklum. Beberapa member Super Junior yang mendengar juga mengucapkan ucapan semoga lekas sembuh padaku, padahal belum tentu aku sakit, aku hanya merasa sangat tidak nyaman sekarang. Aneh, harusnya aku merasa sangat nyaman kan sekarang?

“Tidak apa-apa kok, semoga hanya tidak enak badan, bukan sakit yang macam-macam, hehhe. Hati-hati di jalan, oke?” Aku mengangguk dan memeluk Charin erat. Sahabatku, selamat menempuh hidup baru.

“Aku menyayangimu, Charin-ah.”

“Aku juga menyayangimu, cepat susul kami, oke?” Airmata Charin turun. Aku langsung mengusap pipinya yang basah itu dan kembali memeluknya erat, dan rasa itu kembali datang. Sial, kenapa rasanya tidak enak sekali?

“Sudah~ Kau harus bahagia, oke? Aku akan menyusul kalau iblis kesukaanmu itu melamarku, hehhehe.” Charin terkekeh pelan, masih dengan isakan kecilnya. Tiba-tiba ada satu tubuh lagi yang meringsek dalam pelukan kami, Yena.

“Kalian berpelukan tidak mengajak aku huh?” Dan kami bertiga pun tertawa. Yena malah sempat mengejek make up Charin yang berantakan gara-gara menangis. Charin meminta bantuan Henry untuk membelanya tapi malah ditambahi ejekan oleh Henry, manis.

“Rae-ah,” Aku menoleh ke belakang, Kyuhyun menepuk bahuku. Aku tersenyum padanya dan entah kenapa langsung saja aku memeluk tubuhnya.

“Aku pulang dulu ya,” Kyuhyun menatapku, masih dalam pelukannya. Tangannya mengusap kepalaku lembut, membuatku ingin menangis. Raena, sebenarnya apa yang kau rasakan? Kenapa seperti ini saja kau ingin menangis?

“Kau pulang sendirian? Aku antar, bagaimana?”

“Tidak usah, aku bawa mobil sendiri kok, kau pasti capek. Besok sudah ada kegiatan lagi kan? Sepulang dari sini, istirahatlah.” Kyuhyun tampak ragu untuk mengiyakan, tapi aku terus mendesaknya agar membiarkanku pulang sendiri.

“Baiklah, hati-hati di jalan, ini sudah malam, kau tidak mengantuk kan?” Aku menggeleng dan tersenyum padanya. Kyuhyun pun melepaskan pelukannya, dan aku langsung berpamitan dengan semua orang yang ada di sana termasuk kedua orang tua Charin.

Saat melangkah keluar gereja, aku mengepalkan tangan kiriku kuat. Ada keinginan untuk menjaga benda yang sekarang berada di jari manisku ini sekarang. Kyuhyun yang memberikannya, harus aku jaga. Kyu, terima kasih.

**********

Raena mulai menyalakan mobilnya. Perasaannya sudah mulai tenang, tidak seperti saat dia masih di dalam gereja tadi. Raena melajukan mobilnya, selayaknya seorang yang bisa menyetir, tidak ada rasa khawatir akan rasa kantuk karena memang matanya sudah terbiasa untuk terjaga di jam 11 malam seperti ini.

Jalanan kota Seoul tidak begitu padat walaupun lampu-lampu kota masih menyala dengan terang, tanda bahwa beberapa tempat hiburan dan restoran masih buka. Sempat terbesit niat untuk mampir di kedai kopi tempat Yesung untuk sekedar mengisi perut kosongnya, tapi niat itu ia urungkan mengingat tubuhnya tiba-tiba saja terasa terlalu capek untuk mampir.

“Mungkin lain kali saja.” Raena kembali melajukan mobilnya. Mulutnya melantunkan beberapa lagu yang terputar dari music player di mobilnya.

Drrt.. drrtt..

Handphone Raena berdering, dengan hati-hati, gadis itu mengambil handphone yang terletak di dalam tas jinjing yang ia letakkan di tempat duduk sebelahnya.

Drrt.. drrtt..

Raena belum berhasil mendapatkan handphone-nya. Matanya tentu saja masih menghadap ke jalan dengan fokus, hanya tangannya saja yang ‘mengacaukan’ kondisi tas jinjingnya itu agar mendapatkan handphone-nya.

“Aish! Mana sih?!” Sebal, Raena memutuskan untuk menengok sebentar ke arah tasnya dan berhasil, dia mendapatkan handphone-nya.

“Yobosae—Ah!” Terkejut, Raena menghindari seekor kucing yang tiba-tiba menyebrang jalan dan untungnya dia berhasil menghindar. Raena tidak akan suka jika hewan yang dia sukai harus mati karena dirinya.

Mobil Raena menghindar dengan cepat tadi, membuat Raena harus bersusah payah untuk mengembalikan mobilnya ke jalur semula. Tapi..

“Kyu-ah? Tunggu sebenta—“

TINTIIIN!

BRAK!

**********

Tuut.. tuut..

Kyuhyun menjauhkan handphone itu dari telinganya. Perasaannya mendadak tidak ingat. Kalau ia tidak salah dengar, ada suara klakson mobil yang sangat kuat dan suara jeritan Raena sebelum telepon itu terputus.

“Kyu-ah, ada apa?” Sungmin menepuk bahu Kyuhyun, mengembalikan kesadaran laki-laki itu. Kyuhyun tidak menanggapi pertanyaan Sungmin, dia kembali menatap handphone-nya, mencoba meyakinkan apa yang dia dengar tadi tidak benar.

“Kyu-ah?

“Hyung,” Sungmin menatap Kyuhyun aneh, ada apa dengan adik kesayangannya ini, pikirnya.

“Ya?”

“Perasaanku tidak enak. Aku sepertinya.. Hyung! Pulang sekarang!” Sungmin sepertinya mengerti apa yang Kyuhyun rasakan. Buktinya, dia langsung mengajak para member lain untuk pulang, kebetulan acaranya hampir selesai dan itu cukup membuat Kyuhyun lega, sekaligus cemas.

“Ayolah, jawab Raena-ah,” Kyuhyun kembali berulang kali mencoba untuk menghubungi Raena, tapi hasilnya nihil. Raena sama sekali tidak bisa dihubungi.

“Paman, percepat mobilnya, bisakah?” Mereka –Super Junior- sudah berada di van milik mereka. Mobil mereka pun melaju agak lebih cepat dari semula. Semua member memandang Kyuhyun heran, hendak menanyakan apa yang terjadi padanya tapi ditahan oleh Sungmin.

“Aku juga tidak tahu, tunggu dia saja yang ingin bercerita.” Semua member mengangguk termasuk Leeteuk sang leader.

“Kyuhyun-ah, jalanan macet total, bagaimana ini?” Ucap Seunghwan –manajer SJ- pada Kyuhyun dari kursi depan. Kyuhyun memandang keluar jendela. Benar saja, mobil-mobil terhenti dan beberapa pengendaranya turun ke jalan.

“Ada apa ini? Kenapa semacet ini?” Yesung membuka sedikit kaca mobil mereka dan mencoba untuk melihat apa yang terjadi.

“Apa yang terjadi ya?” Seunghwan membuka kaca jendela lebih lebar. Tubuhnya dia tegakkan untuk dapat melihat lebih tinggi.

“Ada asap kecil di sana, sepertinya ada kecelakaan.”

“Aigo, kasihan sekali orang itu.” Shindong memasang raut wajah sedih. Yang lainnya hanya mengangguk setuju.

Seunghwan menghentikan satu pengendara yang sepertinya habis dari lokasi kejadian, rasa penasarannya sangat besar sekarang.

“Maaf, tuan. Bisa beritahu aku apa yang terjadi di depan sana?”

“Ah, di sana? Ada kecelakaan antar mobil pribadi. Tapi hanya satu mobil yang rusak parah, sampai terbalik. Korbannya wanita pula.” Laki-laki itu menggelengkan kepalanya prihatin sembari merapatkan mantelnya.

“Kasihan sekali wanita itu, darah dimana-mana, aku jadi ngeri sendiri untuk melihatnya lebih dekat lagi.” Seunghwan mengangguk tanda mengerti, dan berniat berterima kasih pada laki-laki itu, namun niatnya ditahan oleh pertanyaan Kyuhyun.

“Boleh aku tahu cirri-cirinya, paman?” Laki-laki itu cukup terkejut. Bagaimana tidak, seorang super star sedang berada di hadapannya sekarang.

“Paman! Cirri-cirinya seperti apa?!” Kyuhyun sedikit membentak, membuat kekaguman laki-laki tadi sedikit memudar dan mencoba untuk mengingat-ingat ciri-ciri wanita yang menjadi korban tadi.

“Kalau tidak salah, warna bajunya putih, tidak begitu jelas karena tertutupi darah. Lalu rambutnya ikal coklat, selain itu aku tidak tahu.” Setelah mengatakan itu, laki-laki tadi pergi.

“Kyuhyun-ah! Jangan pergi!” Seunghwan berteriak dari dalam mobilnya saat salah satu anak asuhannya itu melesat keluar mobil tanpa alat penyamaran satu pun, hanya gelap malam yang menutupi.

“Anak itu..” Seunghwan baru saja ingin keluar dari mobil namun ditahan oleh Sungmin. Sungmin menggeleng lemah, mengisyaratkan agar manajer mereka itu membiarkan Kyuhyun turun sendiri, tidak diganggu.

Mungkin Sungmin tahu, siapa yang dimaksud oleh laki-laki tadi.

**********

Kyuhyun berlari dengan kencang, tidak memerdulikan gerombolan orang yang untungnya semua para pegawai dan orang-orang pulang kerja malam yang ada di sana, tidak ada gadis-gadis yang akan mengerubungi.

Sampai. Kyuhyun sampai di tempat kejadian yang sudah dibatasi oleh garis polisi itu. Matanya mencari sosok yang dimaksud laki-laki tadi, tapi nihil, sepertinya korban sudah dibawa ke rumah sakit.

Kyuhyun memerhatikan mobil yang rusak parah itu, dan jantungnya terasa berhenti berdetak. Nomor polisi mobil itu, warna mobil itu, dan juga jenis mobil itu, milik Raena-nya.

“Tidak, hanya mirip. Aku mohon, hanya mirip.”

Kyuhyun mencoba untuk mensugesti dirinya, bahwa itu sama sekali bukan milik Raena-nya. Namun, matanya menangkap satu benda lagi. Benda yang baru saja dia berikan pada Raena-nya di gereja. Benda yang dia berikan hanya untuk Raena dengan segenap hatinya.

Kyuhyun melompati batas polisi, mencoba untuk mendekati objek yang membuat nafasnya tercekat. Cincin itu.

“Raena.. tidak, tidak mungkin.”

Setiap kebahagiaan, pasti ada cobaan yang menyelinap kan?

Continued…

Advertisements