Tags

,

Main Cast : Choi Siwon/ Im Yena (Nabil :p)

Nggak perlu dengerin lagunya Need You Now, nggak nyambung *plak!

Khusus aja deh buat Nabil, udah lama pake banget nggak buat ‘kisah cinta’mu dengan mas kuda jelek #kabur #baliklagi

Ada reader yang suka Siwon juga? Anggep aja Yena itu kalian :3

Enjoy!

Hope you’ll like it! πŸ™‚

—- —- —- —- —- —- —- —- —-

@9pm

Yena memijat keningnya yang terasa berdenyut pelan, pusing. Masih ada lima tugas kuliah lagi yang harus di selesaikan dan satu buku tebal tentang ilmu kemanusiaan yang harus dia baca, mengingat dosennya sering sekali mengadakan kuis dadakan, dan Yena tidak mau nilai-nilainya di semester akhir ini anjlok hanya karena pusing.

Setelah memejamkan matanya untuk beberapa saat, Yena kembali menatap kumpulan tugas itu dengan semangat.

“Yak! Semangat! Ini hanya kertas dengan tulisan, kau bisa!” Dengan cekatan, Yena mengambil penanya dan mulai menuliskan apa-apa saja yang menurutnya baik untuk dituliskan, masa bodoh dengan pusingnya.

Banyak alasan Yena untuk segera menyelesaikan tugas-tugas itu walaupun masa tenggang yang diberikan dosennya cukup lama. Pekerjaan lain, sebagai guru taman kanak-kanak yang dia kelola dengan Raena dan Charin telah menunggu. Dia sangat sibuk? Tentu saja, dua orang sahabatnya itu juga sibuk dan tidak sempat membantunya.

Butuh beberapa jam untuk Yena merampungkan semua tugasnya, dan setelah ia pikirkan lagi sebaiknya besok saja membaca buku. Dia tidak mau matanya dihiasi oleh kacamata.

Yena merenggangkan tubuhnya dengan melakukan beberapa gerakan yang menurutnya bisa membuat rileks. Saat itulah matanya menangkap sebuah tanggal yang dia bulati dengan spidol warna hati di kalender kecilnya.

Gadis itu melipat kedua tangannya di atas meja, menumpukan dagu di atas tangannya. Yena menghela nafas berat saat mengingat hari apa besok. Memang, hanya hari minggu, tapi tanggalnya?

Pikirannya melayang kemana-mana, lebih tepatnya empat tahun yang lalu. Saat dia dan seorang laki-laki tampan meresmikan hubungan mereka di sebuah cafe kecil ditengah-tengah kesibukannya dengan dunia hiburan.

Sekarang, Yena hanya bisa mengkhayalkan kalau Siwon bisa berada di sini. Memang gengsinya tinggi, tapi dengan keadaan yang hampir tidak pernah bertemu dan saling mengirimi kabar ini, siapa yang tahan?

Drrt.. drrt..

Yena terlonjak kaget saat iPhone miliknya bergetar. Bukan Siwon, tapi Charin, padahal Yena sudah berharap banyak.

“Ya?”

“Yenaaaaaaaaaaaa~~!” Yena menjauhkan iPhone itu dari telinganya. Oh, dia lupa kalau Charin suka berteriak saat menghubunginya dan Raena.

“Cha~ ada apa?” Yena berdiri, berpindah ke atas ranjangnya dan berbaring di sana. Sekedar untuk ‘meluruskan’ pinggangnya.

“Mm.. apa ya~? Tidak ada sih, hhehe~” Yena hanya tersenyum tipis mendengar itu dari Charin. Terlalu bodoh bagi Yena yang sudah mengenal Charin sejak lama untuk tidak tahu maksud telepon dari Charin kali ini.

“Katakan saja,” Terdengar helaan nafas dari seberang sana, lagi-lagi ada yang khawatir dengan hubungannya dengan Siwon.

“Tidak sih, yaah~ semangat saja lah, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Kalau aku ada di Seoul, mungkin aku akan datang ke apartemenmu, tapi karena perjalananku di Perancis baru selesai bulan depan, yaah, maaf ya, Yena-ku~ hhhehe,” Charin mengakhiri kalimat itu dengan gaya khasnya yang bisa membuat Yena merasa lebih baik.

“Iya.. Aku mengerti, terima kasih,” Yena dan Charin sama-sama tertawa, entah apa yang mereka pikirkan.

“Hei, sudah dulu ya~ Pulsaku sekarat! Kau harus ganti ketika aku pulang! Jangan bilang tidak ada uang! Kuda jelekmu itu punya banyak kantung berisi! Hhahhahaha!”

Belum sempat Yena menanggapinya, Charin sudah memutuskan sambungan mereka.

“Cis! Kuda? Kantung? Jelek?” Walaupun kesal, Yena tetap tersenyum. Apalagi saat melihat ke samping kanannya, boneka kuda.

“Kuda sok sibuk. Sudah kaya raya masih saja bekerja habis-habisan.” Yena mengangkat tinggi-tinggi boneka itu, menatap mata boneka kecil itu dengan tajam.

“Tapi aku mencintaimu~ Aaaa! Babo~!” Gadis itu memeluk boneka kuda itu dan kemudian berguling-guling di atas ranjangnya.

Drrt.. drrt..

Lagi-lagi telepon.. bukan dari Siwon. Yena dengan malas menjawab telepon itu, mengingat yang menelepon adalah orang yang dia sayang sekaligus orang yang sering membuatnya kesal dengan berbagai macam ejekan untuk Siwon.

“Yeeeenaaaaa~~” Tanpa salam, tanpa apa pun itu yang biasa digunakan untuk membuka sebuah percakapan, walaupun Charin juga tidak melakukannya, tapi setidaknya adik Shim Changmin DBSK itu tidak menggunakan nada mengejek seperti Raena ini.

“Kau bicara macam-macam lagi, aku hancurkan komik-komikmu nanti!”

“Huahahahhahahhahahhaha!” Kalau saja Raena ada bersamanya sekarang, mungkin dua gadis itu sudah saling tendang atau saling melemparkan barang, dan kalau -juga- Charin ada di sini, mungkin mereka bertiga akan saling mengejek kekasih masing-masing. Ya, Yena merindukan mereka.

“So~ tomorrow~ Your 18~ With ahjussi berotot lebih~ Bagaimana?”

“Ya!” Kali ini Yena harus mengatur ekspresinya antara ingin tertawa dengan kesal, walaupun Raena tidak mungkin bisa melihatnya. Ejekan baru lagi, pikirnya.

“Hhhehe~ Bercanda. Sudah dapat kabar dari oppa-ku itu? Ucapan atau semacamnya? Aku dengar dia masih sibuk dengan drama barunya itu.. mm.. Po.. Poseidon! Ya, Poseidon!”

“Waktunya terlalu berharga, memangnya tanggal itu masih ada dipikirannya? Aku rasa tidak.”

Yena dan Raena sama-sama diam, entah apa yang mereka pikirkan. Yang jelas, Yena sedang menerawang apakah Siwon memikirkannya barang sedikit saja.

“Percaya sajalah. Kalian sama-sama sibuk. Setidaknya Siwon sudah mengikatmu dengan cincin pertunangan itu kan? Kau lebih beruntung dariku sebenarnya, hhehehe~” Mau tidak mau, Yena tersenyum. Benar yang dikatakan Raena, dia lebih beruntung. Siwon sudah menunjukkan keseriusannya melalui ikatan pertunangan yang telah dilakukan secara resmi oleh keluarga mereka.

“Ng, terima kasih~ Kau juga, belum dilamar, bukan berarti Kyuhyun tidak serius denganmu, oke?” Terdengar suara kekehan Raena yang terdengar dipaksa, Yena tahu itu.

“Iya~ Sudah dulu ya, aku lanjut bekerja, banyak sekali komik baru bulan ini. Ah, sekali-sekali datang ke cafe ya~ Bye~”

“Bye~” Yena memutuskan sambungan mereka. Mencoba untuk menenangkan pikirannya dengan pikiran-pikiran positif.

Yena memang jarang memakai cincin pertunangan mereka, apalagi Siwon. Mengingat status laki-laki itu sebagai entertainer, dengan berbagai macam gosip yang harus dia tanggung, seperti.. yaah, mantan kekasihnya itu.

“Aish! Berhentilah berpikiran yang macam-macam!” Yena menepuk pipinya pelan, kemudian menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih itu. Memikirkan apa yang sedang kekasihnya lakukan.

Ting tong

Yena bangkit dari ranjangnya, menuju pintu dengan segera dan melihat intercom apartemennya. Kosong. Harapannya tentang kehadiran Siwon memudar, tapi ada satu hal yang membuatnya penasaran. Tidak mungkin ada orang iseng di apartemen mewah ini, pikirnya.

Yena membuka pintunya perlahan. Masih tidak menemukan apa-apa. Untuk saat itu dia merutuki otak dramanya yang mengharapkan ada bingkisan cantik atau serangkaian bunga cantik dari Siwon untuknya. Merasa tidak puas, Yena keluar dari apartemennya dan menengok ke kanan dan kiri.

“Ikuti panah ini?” Yena membaca tulisan yang tertempel di dinding luar apartemennya, sebelah kiri. Mau tidak mau, senyum gadis cantik itu terkembang. Dengan segera Yena masuk lagi untuk mengambil cardigan putihnya dan segera keluar setelah mengunci pintu apartemennya.

“Terus ikuti~” Yena kembali membaca tulisan yang tertempel agak jauh dari tulisan pertama tadi.

“Naik lah sampai lantai paling atas?” Saat tiba di depan lift, tulisan itu yang didapatinya. Bukannya senang, Yena malah merasa jengkel karena menurutnya ini terlalu bertele-tele. Tapi tetap saja, masih ada perasaan terharu yang terselip.

“Sudah tahu aku tidak suka Justin Bieber, masih saja melakukan cara seperti ini. Dasar~” omel Yena saat di dalam lift, tangannya bersedekap di depan dada dan kakinya yang berbalut boots kecil diketuk-ketukkannya di lantai.

Ting

Masih harus menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai atap apartemen ini, dan Yena tidak suka kalau harus capek-capek naik tangga, apalagi dengan heels, walaupun tidak terlalu tinggi.

“Awas saja kau nanti.. Choi.. Siwon..” Nafas Yena sudah tersengal. Sekarang dia bingung, ingin senang atau marah ketika bertemu tunangannya itu.

Sampai. Yena sudah sampai di lantai teratas, lebih tepatnya landasan helikopter. Yena mengedarkan pandangannya, mencari orang yang menjadi otak dari semua ini, dan.. ketemu!

“Hei, Na~” Dengan sebuket mawar putih di tangannya, Siwon merentangkan kedua tangannya, pertanda bagi Yena untuk segera memeluknya.

“Kau bilang ‘hei’? Setelah kau menyuruhku untuk naik tangga sebanyak itu kau hanya bilang ‘hei’?!” Yena melepas sepatu bootsnya dan melemparkannya pada Siwon tanpa ampun. Setidaknya Siwon harus bersyukur karena sepatu itu hanya ada dua, kalau tidak, bisa rusak mukanya.

“Baiklah~ Baiklah~ Aku minta maaf~ Ayolah, kita sudah lama tidak bertemu dan kau menyambutku dengan ini?” Yena memalingkan mukanya, berniat untuk meninggalkan Siwon sendirian namun terlambat karena genggaman tangan Siwon di pergelangan tangannya cukup kuat untuk menahan gadis itu.

Siwon memeluk tubuh tinggi gadisnya itu dengan sayang, melingkarkan kedua tangannya di tubuh gadis itu sehingga buket mawar putih itu terpampang jelas di hadapan Yena.

“Harinya memang besok, tapi karena aku masih ada—-“

“Tidak usah dipikirkan, aku tidak apa-apa,” Yena mendorong bunga itu dari hadapannya yang juga berarti menjauhkan Siwon darinya. Yena berbalik menghadap Siwon, melihat wajah tampan yang bisa membuat semua gadis berteriak histeris itu dengan senyum yang dipaksakan.

“Apa kau tidak suka kejutan ini?” Yena sedikit menengok ke belakang badan Siwon. Sederhana, lilin yang dibentuk hati yang ditengah-tengahnya ada satu meja dan dua kursi yang berhadapan. Hanya ada dua minuman kesukaan mereka berdua di atas meja itu, tidak ada makanan. Yena suka itu, sangat suka.

“Aku suka, sangat suka.” Siwon tersenyum, dan Yena berterima kasih dengan akal sehatnya yang mengizinkan gengsinya turun sedikit.

“Aku—” Siwon dan Yena sama-sama berhenti melanjutkan kalimat mereka. Siwon menggaruk tengkuknya dan Yena yang berdehem beberapa kali untuk menghilangkan kecanggungan yang jarang terjadi ini.

“Aku dulu, bagaimana?” Sebagai laki-laki, Siwon mengambil alih dan Yena hanya mengangguk sembari menggosokkan kedua telapak tangannya, malam ini dingin.

“Aku.. boleh aku memeluk—” Tanpa perlu menyelesaikan kalimat, Yena sudah menghambur ke pelukan Siwon. Orang yang selama ini dibutuhkannya.

“—mu?” Seperti orang bodoh, Siwon menyelesaikan kata-katanya dengan nada yang tidak jelas.

“Aku tidak butuh kejutan, aku hanya butuh kau sekarang…” Mendengar itu, Siwon mengeratkan pelukan mereka. Menggunakan momen yang sudah pasti akan sangat jarang mereka dapati itu dengan sebaik-baiknya. Begitupun dengan Yena, tidak peduli dengan kakinya yang tidak beralas lagi, yang penting laki-laki kesayangannya ada dipelukannya sekarang.

“Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk ini,” Senyum Siwon semakin terkembang, diusapnya rambut Yena dengan lembut.

“Maafkan aku, akan aku bayar semua waktu kita, suatu hari, aku berjanji, bagaimana?” Masih dalam pelukan Siwon, Yena menengadahkan wajahnya dan menatap mata Siwon penuh ancaman.

“Kalau kau melanggar, awas saja!”

“Selama kau tidak benar-benar jatuh cinta dengan para aktor barat itu, pasti aku tepati!” Mata Yena membulat, terkejut. Walaupun tertawa, Yena melancarkan pukulannya di lengan Siwon dengan kuat. Setidaknya, walaupun sebentar, kehadiran laki-laki itu di matanya saja sudah cukup membuatnya puas.

And I don’t know how
I can do without
I just need you now

—- —- —- —- —- —-

HUAHAHAHHAHHAHAHHAHAHAHHAHA XD *plak!

saya memasukkan beberapa sifat dan kesukaan asli seorang YenaΒ  di sini, entah itu bener apa nggak, yang penting cerita jalan *kabur

So, Yena~ Miss You :3

Mungkin.. nextnya Charin sama Henry yaaa XD *kalau ada ide*

komen : kritik dan saran, selalu dinanti :3

ThankKYU :*

Ps, buat Nabil, endingnya geje ya? emang πŸ˜› ini termasuk Happy Ending nggak? hhahhahhaa πŸ˜€ Sayang kamu aja deh cyiiin πŸ˜€

Advertisements