Tags

,

Main Cast : Choi Seunghyun aka TOP

Other Cast : Kwon Jiyoung aka GD

Genre : Galau(?), Friendship, Romance(?)

Read this first –> Deciding The Decision

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

Seunghyun menutup kembali helmnya dan langsung berbalik. Tangannya terasa berat untuk menancapkan gas motor itu untuk meninggalkan Raenanya bersama laki-laki yang baru saja diajaknya mengobrol, Jongwoon. Berat hati, Seunghyun melajukan motornya dengan kecepatan sedang setelah melambai sekilas ke arah dua orang itu.

“Ternyata lebih sulit dari yang aku bayangkan..”

*****

Seunghyun mengendarai motornya, tidak lagi dengan kecepatan normal versi standar, melainkan kecepatan normal versinya sendiri. Motornya melaju terlalu cepat di jalan raya, membuat beberapa pejalan kaki yang menginginkan suasana tenang di jalanan mengumpat karena suara besar motor sport miliknya. Pikiran Seunghyun terfokus bukan pada jalanan, hanya pada Raena. Kenangan mereka berdua seperti rol film yang terputar di otak laki-laki tinggi itu.

Motor Seunghyun kembali terparkir di sekitar Sungai Han. Dia kembali duduk di tempat yang pernah dia dan Raenanya duduki.

Sudah sore, langit senja sepertinya sangat mendukung suasana hati laki-laki berparas tegas itu. Sudah dua kaleng kemasan minuman beralkohol dia habiskan, dan itu masih bersisa tiga.

“Aaargh!” Seunghyun mengacak rambutnya kasar. Kaleng kedua tadi diremasnya kuat sehingga isi yang masih sisa sedikit itu keluar. Beberapa orang yang berlalu-lalang di pinggiran sungai itu melihatnya ngeri, karena Seunghyun berdiri dan memukul pohon di dekatnya dengan kuat.

“Bodoh!”

“Gila!”

“Pecundang!” Seunghyun terus menendang pohon itu sampai beberapa daunnya berjatuhan. Untunglah tidak ada penjaga sore ini. Laki-laki itu kembali terduduk dan kembali membuka kaleng ketiganya. Masih belum mabuk, pikirnya.

Tangan Seunghyun merogoh saku celananya. Mengambil benda kecil yang bisa menghubungkannya dengan seseorang.

“Yo! Yobosae–“

“Ji, ke Sungai Han, sekarang.”

Klik

Seunghyun langsung memutuskan sambungan itu tanpa mau mendengar apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya, Jiyoung. Pandangannya kembali ke matahari senja itu, membuatnya seakan menarik perhatian laki-laki itu.

Tatapan matanya menyipit, tangan kanannya yang menggenggam kaleng minuman itu ia angkat ke udara, menyamakan posisi dengan matanya.

“Kenapa aku minum ini lagi?” Dengan suara yang terdengar seperti orang mabuk, Seunghyun kembali meneguk minuman itu. Ketika dirasa sudah habis, Seunghyun kembali meremas kaleng itu sampai remuk. Tangannya yang terkena goresan kaleng itu tidak terasa sakit sama sekali, atau mungkin rasa sakit itu berpindah ke tempat yang lain. Hatinya.

“Na-ya~” Seunghyun memejamkan matanya, menikmati semilir angin di Sungai Han yang menerpa wajahnya. Angin yang lembut itu membuat pikiran Seunghyun berkhayal kemana-mana. Seperti tangan Raena, angin itu seperti tangan Raena yang biasa menyentuh pipinya dengan lembut. Angin itu seperti memeluknya, seperti Raena yang sering memeluknya.

“Seunghyun-ah?” Seunghyun tersadar dari khayalannya oleh sebuah tepukan di pundaknya. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Jiyoung yang tersenyum dan langsung mengambil tempat duduk di samping Seunghyun.

“Ada apa kau menghubungiku seperti tadi? Kau pikir kau itu- Astaga Seunghyun-ah! Kau mabuk lagi?!” Jiyoung merebut kaleng minuman yang sudah berada di tangan Seunghyun tadi dengan cepat. Mata laki-laki imut itu membulat tidak percaya saat melihat tiga kaleng minuman yang sudah kosong -dan remuk- berserakan di sekitar kaki sahabatnya itu. Sudah lama sahabatnya itu tidak pernah menyentuh minuman beralkohol lagi, semenjak bersama gadis yang dia cintai tentunya. Dan kalau sudah seperti ini, pasti ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.

“Seunghyun-ah, kau tidak apa-apa? Kau tidak sedang–”

“Aku melepaskannya, Jiyoung-ah.” Untuk kesekian kalinya, Seunghyun memotong kalimat Jiyoung. Jiyoung maklum walaupun sedikit kesal, orang mabuk, pikirnya. Jiyoung menepuk pundak Seunghyun sekali lagi untuk menguatkan Seunghyun. Saat laki-laki itu menoleh, Jiyoung mengangguk, tanda dia meminta Seunghyun untuk menceritakan semuanya.

“Beberapa hari yang lalu.. di sini.. di tempat kau duduk, Jiyoung-ah.. aku menikmati kebersamaan kami untuk terakhir kali..” Seunghyun, dengan suara khas orang mabuk, berbicara sambil tersenyum miris.

“Ada yang menyukainya.. orang itu berada di dekatnya.. berada di jarak pandang yang bisa selalu dijangkau oleh matanya, Jiyoung-ah..” Seunghyun berhenti sebentar,

“Apa aku salah jika melepaskannya karena itu?” Dengan mata sayunya, Seunghyun menatap Jiyoung penuh tanda tanya. Berharap bahwa Jiyoung berkata ‘tidak’, tapi malah sebaliknya.

“Kau bodoh,” Jiyoung membuka kaleng minuman tadi dan meminumnya sedikit.

“Ada alasan lain kan?” Jiyoung menatap Seunghyun penuh selidik. Seunghyun hanya tersenyum tipis dan mengambil kaleng minuman kelimanya yang tidak diambil Jiyoung karena tidak tahu. Jiyoung menyerah untuk melarang Seunghyun minum, percuma.

“Aku meragukannya,” Seunghyun terdiam sebentar sementara Jiyoung masih sabar menunggu kelanjutan kalimat Seunghyun tadi. Matahari di Seoul sudah terbenam sempurna, dan hanya menyisakan lampu-lampu kecil di sekitar mereka. Namun Jiyoung masih bisa melihat wajah Seunghyun yang kacau. Perpaduan pandangan mata yang kosong dan senyum miris, menyedihkan.

“Aku kira.. dia sudah tidak, ah kau tahu sendiri apa maksudku..” Seunghyun meneguk banyak-banyak minuman tadi tanpa sisa. Membuat kesadarannya goyah dan dia sepenuhnya mabuk.

“Ji~ Aku melepaskannyaa~ tapi kau tahu? Dia memelukku.. seperti ini~” Seunghyun memeluk dirinya sendiri dan itu cukup membuat Jiyoung ngeri. Orang-orang disekitarnya mulai melirik-lirik ke arah mereka dengan pandangan aneh. Jiyoung sendiri bingung bagaimana cara menenangkan seorang Choi Seunghyun yang sudah mabuk berat.

“Dia menangis, Ji~ dia tidak mau melepaskanku~ kenapa aku berpikiran bodoh seperti– Aaargh!” Seunghyun yang tadi duduk langsung berdiri dan meninju pohon yang ada di dekatnya dengan kuat.

“Seunghyun-ah! Tenangkan dirimu, babo!” Jiyoung menahan tangan Seunghyun yang akan meninju pohon malang itu lagi. Dia turut prihatin dengan keadaan sahabatnya ini walaupun masih belum mengerti cerita Seunghyun. Jiyoung hanya tahu satu hal, Seunghyun dan Raena sudah berpisah.

Jiyoung mengajak Seunghyun untuk duduk kembali. Seunghyun sudah tenang, yaah masih dengan tatapan matanya yang kosong. Mata tajam itu seperti kehilangan fokusnya.

“Ji~ Kau pernah sesak nafas kan? Bagaimana rasanya?”

“Eh?”

“Sesak nafas itu~ bagaimana rasanya, ceritakan padaku~” Pertanyaan aneh menurut Jiyoung, tapi harus dijawab.

“Tentu saja sesak, sulit bernafas, dan kau membutuhkan alat bantu untuk kembali bernafas dengan benar,”

“Berarti.. aku kehilangan alat bantu bernafasku, begitu?” Seunghyun menangkupkan tangannya di kepala. Meremas rambutnya dengan pelan dan menundukkan kepalanya dalam.

“Masih mabuk? Masih ada beban? Emm.. kau bisa bersandar di bahuku, kalau kau mau.”

“Aku bukan homo. Terima kasih..” Jiyoung tertawa. Walau sahabatnya itu belum 100% sadar, setidaknya Seunghyun menjawab dengan benar.

“Na-ya..” Gumam Seunghyun. Laki-laki itu memejamkan matanya seraya menunduk. Tidak perlu diperjelas lagi, Jiyoung tahu sahabatnya itu sedang menangis diam-diam. Jiyoung memutuskan untuk diam, mengamati Seunghyun yang sedang terpuruk untuk pertama kalinya karena seorang gadis.

Cerita Seunghyun memang tidak jelas baginya, tapi apapun itu yang terjadi, pasti sangat meyakitkan sehingga membuat Seunghyun seperti ini.

Seunghyun sendiri, tidak bisa menahan airmatanya. Campuran penyesalan dan kehilangan, itu yang dia rasakan. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sibuk berkutat dengan pemikirannya sendiri tanpa sadar akan kenyataan Raena tetap ingin bersamanya. Dia melepaskan Raena untuk laki-laki yang menyukai gadisnya begitu saja. Dia sudah terlanjur mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja pada Raena, kenyataannya?

Malam itu, Jiyoung menemani Seunghyun. Tidak ada percakapan, hanya ada isakan kecil yang tertahan dari sahabatnya itu.

“Na-ya~”

Tidak ada lagi gadis yang akan menanyakan kabarnya setiap hari,

Tidak ada lagi gadis yang akan cemburu karena gadis-gadis penggemar disekelilingnya,

Tidak ada lagi yang akan memberikannya pelukan penyemangat,

Tidak ada lagi yang akan memberikannya ciuman kilat pertanda mereka saling merindukan,

Tidak ada lagi tangan lembut yang menyentuh pipi dan lehernya,

Tidak ada lagi suara manis yang memanggilnya ‘Seung-ah’,

Tidak ada lagi Raena,

Tidak ada lagi.

FIN(?)

*jangan lempar sayaa~*

Advertisements