Tags

, , , ,

Main Cast :

Lee Sungra as Audrey/ Dree

Lee Taemin as Nikki <– ini cowok loh yaaa *plak!

Other Cast :

Kim Jonghyun as Ty

Choi Minho as Elias

Kim Kibum as Aiden

Genre and Setting : ANGST, Romance, Tale (semacem dongeng), agak barat-barat(?) gitu deh, latarnya bukan Korea atau Asia, anggap aja Eropa #ngarep :3

Rate : PG deh .__.v

Hope you’ll like it!

Enjoy! ^^

Ingin mendengar satu dongeng? Dongeng ini akan membawamu pada dua perasaan, penyesalan dan kehilangan. Masih mau mendengarkan?

Di sebuah negeri yang jauh, terdapat satu -ah dua istana yang megah. Sangat megah. Istana pertama, diisi oleh raja dan ratu pemimpin negeri itu. Istana kedua, yang berada di samping kanan istana pertama diisi oleh anak laki-laki dan anak perempuan dari raja dan ratu. Mereka sengaja dipisah oleh para tetua negeri, untuk meyakinkan mereka bahwa keturunan raja berhak memimpin negeri yang keras ini.

Anak perempuan di kerajaan tersebut bernama Audrey. Putri Audrey sangat menyukai bunga, segala jenis bunga yang ada di dunia ini harus menjadi koleksinya. Sayangnya, Putri Audrey tidak suka berbagi keindahan bunga tersebut pada orang lain. Putri Audrey, lebih suka menyimpan bunga-bunganya sendiri dan akan menghukum siapa saja yang berani menyentuh koleksinya tersebut, termasuk kakaknya, Aiden.

Hari ini, di siang hari yang panas di negeri yang masih menjunjung tinggi kasta ini, Putri Audrey baru saja memerintahkan Elias untuk memotong kedua tangan pelayan kerajaannya karena telah secara tidak sengaja memecahkan vas bunganya.

Audrey, ditemani oleh Ty dan Elias –yang baru saja membersihkan diri dari noda darah– keluar dari podium kebesaran para bangsawan, tempat para bangsawan melihat para budak dan hamba disiksa. Rakyat negeri itu juga sudah keluar dari bangunan mengerikan -stadion penyiksaan- setelah menyaksikan pemotongan tangan tadi.

“Dree! Apa kau tidak berlebihan?” Dree -panggilan Putri Audrey- menoleh dengan santai ke arah kakaknya. Mata peraknya menambah aura angkuh dan dingin dari sang putri. Gaun putih satin panjang ala kerajaannya menyapu lantai saat Putri Audrey menghampiri kakaknya.

“Aiden, itu namanya pelajaran. Apa kau lupa akan ajaran Raja dan Ratu tentang kedisiplinan dan kekuasaan?” Aiden diam, adiknya telah ‘memakan’ bulat-bulat ajaran mengerikan negeri ini dan itu membuatnya sedih. Negeri ini butuh perubahan, pikirnya.

“Terserah.” Aiden meninggalkan Audrey yang tersenyum penuh kemenangan. Audrey kemudian melangkah menjauhi lapangan penyiksaan tersebut ditemani oleh Ty dan Elias, para penjagal bertopeng.

Dia bukanlah putri dengan hati seputih Snow White, walaupun hatinya bisa lebih dingin dari es. Dia bukanlah Cinderella yang memiliki ibu peri untuk merubah segalanya, yang dia miliki adalah dua pengawal setia untuk merubah segalanya. Ada yang ingin mencoba merubahnya?

*****

PRANG!

Putri Audrey melempar vas bunganya ke jendela besar nan megah ruang koleksi bunganya. Nafasnya memburu, wajah para pelayan wanita yang menemaninya melihat-lihat koleksi bunga Putri Audrey pucat pasi, mereka semua ketakutan.

“Kalian! Dimana sebagian bungaku?!” Mata Putri Audrey berkilat marah. Para pelayan sudah bersimpuh di depan pintu untuk memohon ampun pada sang putri. Jangan sampai Putri Audrey menjentikkan jarinya untuk memanggil Ty ataupun Elias. Kalau itu terjadi, pilihlah, ingin mati dipenggal Ty atau menderita karena beberapa bagian tubuhmu hilang oleh tebasan Elias.

“Kami mohon maaf.. Kami tidak tahu, Putri.. Kami mohon maafkanlah kami..” Mohon salah satu pelayan itu. Audrey diam, berhasil mengontrol emosinya yang sempat memuncak. Audrey tidak menanggapi permohonan maaf dari pelayan-pelayannya itu. Dia kembali menghampiri salah satu vas yang tidak dihancurkan atau dibuangnya tadi.

“Dicuri.” Gumam Audrey.

“Ty! Elias!” Audrey meneriakkan nama dua orang favoritnya keras. Membuat para pelayan tersebut bergidik ngeri. Yang dipanggil dengan cepat sudah berada di hadapan sang putri, tidak lupa dengan hormat mereka.

“Suruh budak kalian mencari pencuri bunga-bungaku. Secepatnya dapatkan orang itu. Penggal kepalanya, siapapun itu, tanpa pengecualian.” Ty dan Elias menyeringai dalam hormat mereka. Ini akan menjadi pencarian yang menyenangkan bagi mereka. Mencari orang yang juga dicari oleh Putri Audrey untuk dimusnahkan, adalah kehormatan untuk mereka berdua.

“Dree! Ada apa?” Aiden, dengan setengah berlari menghampiri adiknya yang masih berada di ruangan tempat bunga-bunga kesayangan adiknya tersimpan. Sebelum masuk, Aiden menyuruh para pelayan Audrey untuk berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut. Sama halnya dengan Ty dan Elias yang juga pergi saat Aiden datang.

“Bunga-bungaku hilang. Apa yang membawamu ke sini, Aiden?” Audrey masih sibuk meneliti keadaan ruangannya. Aiden sedikit berjingkat untuk menghindari pecahan vas yang ada dimana-mana untuk menghampiri adiknya.

“Aku mendengar suara pecahan kaca. Bunga-bungamu hilang? Aku juga kehilangan sesuatu, baju kerajaanku hilang entah kemana. Semua sudah mencari dan tidak ada yang menemukan. Aneh.” Audrey mengernyit. Baju kerajaan? Kakaknya tidak pernah mengenakan baju itu, bahkan Audrey tidak tahu bagaimana bentuknya. Yang dia tahu, baju itu berharga, mahal, dan penanda bahwa kita berada di kasta tertinggi.

“Hilang? Kebetulan sekali, aku akan memberitahu Ty dan Elias juga tentang hal ini.” Aiden langsung menahan tangan Audrey yang baru saja akan pergi. Aiden menggeleng, tidak lupa dengan senyumnya. Seingat Aiden, sekeras apapun watak sang adik, Audrey menyukai senyum milik kakaknya itu, dulu.

“Kau ingin membujukku? Tidak berhasil. Aku muak jika ada rakyat jelata yang mencoba-coba ingin menjadi bangsawan. Jadi, orang-orang jenis seperti itu harus dimusnahkan, bukan?” Audrey meninggalkan Aiden yang kembali terdiam. Sepertinya keputusan yang salah untuk bercerita dengan Audrey kalau begini jadinya. Hati adiknya sudah beku, bahkan untuk mencintai kakaknya seperti dulu lagi, sulit diharapkan.

Hatinya sudah beku. Audrey hanya tahu tentang siapa yang berhak berkuasa dan siapa yang tidak. Tentang cinta? Masih perlukah Audrey merasakannya?

*****

Audrey sedang dirapikan rambut panjangnya yang indah pada malam itu. Pelayan tersebut sangat behati-hati dalam menyisiri rambut putri mereka itu, takut dengan Ty dan Elias yang selalu setia berada di depan pintu kamar sang putri.

Prang!

Sebuah batu mecahkan kaca jendela kamar Audrey, cukup untuk membuat amarah Audrey memuncak kembali. Dengan cepat Audrey mengambil batu tersebut.

“Surat?” Audrey mengernyitkan dahinya. Tidak jadi memanggil Ty dan Elias karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Batu tersebut dibungkus oleh sebuah kain yang penuh oleh tulisan tangan seseorang.

“Hutan belakang istana?”

Putri Audrey baru akan dipertemukan dengan takdirnya. Takdir yang manis, sangat manis.

*****

Besok paginya, Audrey berjalan perlahan menuju hutan tersebut. Dia sendirian, seperti perjanjian yang ada dalam surat batu itu. Sebenarnya Audrey menahan rasa takut walaupun dia sudah menyimpan belati kecil yang memiliki racun untuk berjaga-jaga. Hutan ini terkenal angker dan memiliki banyak penghuni hantu. Apa orang yang mengundangnya itu ingin membunuhnya?

Semakin dalam dia memasuki kawasan hutan itu, semakin mencekam pula suasana yang Audrey dapat. Keangkuhannya kalah dengan ketakutannya.

Trek

Audrey menoleh kebelakang saat suara seperti ranting patah mengagetkannya. Audrey berhenti sejenak dan tetap memerhatikan keadaan di belakangnya. Saat merasa tidak ada apa-apa, Audrey langsung berbalik lagi ke depan dan..

“DAR!”

“Kya!” Audrey mundur ke belakang. Kakinya tersandung batu dan untung saja sepasang tangan lembut namun kuat menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

Audrey terdiam. Menikmati wajah tampan di hadapannya saat ini. Baru kali ini dia melihat sesuatu yang indah selain bunga. Tidak dengan laki-laki yang sedang menahan tubuh Audrey agar tidak terjatuh tadi, laki-laki itu tersenyum dengan tulus.

“Maaf mengagetkanmu, Putri Audrey.” Laki-laki itu melepaskan tangannya saat dia rasa tubuh Audrey telah kembali seimbang. Audrey kembali mengatur ekspresinya, jangan sampai laki-laki itu tahu kalau Audrey sempat terpesona dengan ketampanannya.

“Jadi kau yang melempari kaca berhargaku? Berani sekali kau.” Audrey kembali dengan perangainya, dingin. Laki-laki itu hanya tersenyum dan membungkukkan badannya seraya tangan kanannya mengangkat topi yang dikenakannya.

“Namaku Nikki. Maaf sudah membuatmu kesal, putri.” Seketika itu juga kekesalan Audrey hilang. Entah bagaimana caranya laki-laki yang bernama Nikki ini menghilangkan keangkuhan yang melekat dalam diri Audrey.

Audrey memerhatikan tampilan Nikki dari atas sampai bawah. Tampilan Nikki bagaikan bangsawan hebat. Bajunya yang terlihat mewah tersebut menjelaskan semuanya, menurut Audrey. Tapi untuk apa seorang pangeran berada di sebuah hutan seperti ini? Lalu mengundangnya?

“Ayo, ikut aku.” Tanpa permisi, Nikki menggenggam tangan Audrey yang berbalut sarung tangan putih itu dengan lembut. Satu hal lagi yang membuat Audrey terdiam karena menikmati hal-hal yang didapatkannya sekarang.

Audrey terus memandangi tangann kanannya yang sedang digenggam oleh Nikki. Membayangkan kalau tangan itu akan terus menggenggam tangannya dengan lembut adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Audrey. Kenapa Audrey bisa setenang ini berdekatan dengan orang asing? Mungkinkah karena Nikki juga bangsawan? Atau ada alasan lain?

“Putri Audrey?” Audrey tersadar dari lamunannya saat tangan Nikki yang bebas menyentuh pipinya. Audrey tidak bisa menyembunyikan rasa malunya, dia hanya bisa mengangguk cepat dan kembali memasang tampang dinginnya.

Tiba-tiba Nikki menutup mata Audrey. Membuat Audrey sedikit memberontak karena takut Nikki akan berbuat macam-macam terhadap seorang putri sepertinya. Audrey berusaha untuk mencapai belati kecilnya yang terdapat di sela-sela lengan pakaiannya.

“Apa yang kau lakukan hah?!” Nikki mencoba untuk menenangkan Audrey walaupun tenaga Audrey cukup kuat.

“Baiklah. Siapkan dirimu untuk sesuatu yang hebat, putri. Tadaaaa~” Nikki melepaskan tangannya dari mata Audrey, dan saat itu juga Audrey menganga takjub dengan pemandangan di hadapannya. Hamparan bunga-bunga cantik yang selama ini disukainya terpampang jelas di hadapannya. Rumah pohon yang cantik berhiaskan bunga-bunga langka bergantung indah di salah satu pohon yang kuat. Percikan air terjun kecil menambah keindahan bagian tengah hutan ini.

Batu tetaplah batu, sulit untuk dipecahkan. Pikiran Audrey kembali buruk mengenai Nikki. Perlahan, Audrey mengeluarkan belati kecilnya dan dengan cepat berbalik ke arah Nikki sembari menodongkan belati kecil itu tepat di wajah Nikki.

“Mau apa kau?” Nikki mundur satu langkah. Tidak ada raut ketakutan, dia hanya terkejut dengan respon Audrey setelah melihat pemandangan yang sengaja dibuatnya ini.

“Wow! Tindakanmu cepat sekali, hehhe..” Audrey tidak menyesali tindakannya ini jika pada akhirnya dia bisa melihat laki-laki itu tertawa pelan.

Audrey tetap menodongkan belati kecilnya, semakin memojokkan Nikki ke belakang. Saat itulah, Nikki mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, sebuah gelang yang terbuat dari bunga.

Nikki, tanpa rasa takut langsung memasangkan gelang tersebut di tangan Audrey yang sedang menodongkan belati pada wajahnya tadi. Audrey tercengang, tidak menyangka perlakuan seperti ini yang akan didapatkannya. Audrey menurunkan tangannya dan memandang gelang tersebut kagum.

Nikki mengambil tangan Audrey, ikut memandangi gelang buatannya itu dengan perasaan puas. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari tangan Audrey ke wajah Audrey yang bersemu merah.

“Cantik..”

Tidak butuh waktu lama bagi seorang putri untuk jatuh cinta. Bukankah setiap dongeng seperti itu? Putri Audrey mendapatkan sesuatu yang manis, indah, dan menyenangkan. Baginya, Nikki adalah pangeran yang sempurna. Walaupun Putri Audrey tidak tahu dari mana asalnya.

*****

Audrey memandangi gelangnya sambil tetap tersenyum. Dia merebahkan dirinya di kasur kerajaannya dengan perasaan berbunga-bunga, bahkan perasaannya lebih indah dari bunga-bunga yang menjadi gelangnya sekarang. Marahnya akan kehilangan bunga-bunganya waktu itu hilang entah kemana.

Tok tok tok

Pintu besar itu diketuk, senyum Audrey menghilang saat itu juga. Orang itu sudah merusak kebahagiaan yang sedang dia rasakan.

Saat pintu terbuka, tampaklah wajah tampan Elias tanpa topeng. Dengan segera, Elias memberi hormat untuk Putri Audrey.

“Ada apa?” Nada suara Audrey yang dingin dan sarat akan ketidaksukaannya terhadap kehadiran Elias membuat pengawal setia tersebut tidak berani menegakkan kembali tubuhnya.

“Bawahanku sudah menemukan petunjuk mengenai pencuri–“

“Terserah. Laksanakan saja apa yang pernah aku perintahkan pada kalian. Aku tidak ingat. Pergi.” Audrey langsung menutup pintunya kembali dengan kasar. Tidak peduli dengan apa yang akan disampaikan oleh Elias.

Tuk!

Lagi-lagi sebuah batu masuk ke dalam kamarnya. Audrey mengernyit heran, bagaimana bisa batu itu menembus kaca jendela kamarnya?

Audrey menghampiri kaca jendelanya dan meneliti benda tersebut. Tidak ada pecahan baru selain pecahan yang waktu itu dibuat oleh Nikki untuk menyampaikan surat batunya. Apa batu kali ini dari Nikki lagi?

Dengan cepat Audrey memungut batu tersebut, dan benar saja ada tulisan tangan Nikki lagi. Tulisan tangan Nikki yang kembali mengundang Audrey ke hutan itu, hutan mereka berdua.

Putri kita sedang jatuh cinta. Indah bukan? Sayangnya, putri kita melupakan satu hal. Ada yang ingin mengingatkannya?

*****

Mereka berdua sedang berada di rumah pohon sekarang. Menikmati waktu berdua dengan diiringi lagu-lagu indah dari kicauan burung. Audrey bersandar di bahu Nikki. Kaki mereka berdua bermain di angin karena mereka duduk di pinggiran rumah tersebut.

“Sebenarnya kau ini dari kerajaan mana? Kenapa aku tidak pernah melihatmu disekitar sini?” Tanya Putri Audrey. Putri Audrey memang sudah penasaran dengan hal ini sejak mereka bertemu. Pakaian yang dikenakan oleh Nikki sangat familiar di matanya.

“Aku.. dari kerajaan di utara negeri ini, hhehe..” Audrey hanya tersenyum mendengar hal itu. Mereka sama-sama bangsawan, tidak akan ada yang bisa menghalangi jika mereka ingin bersatu. Tidak seperti Romeo dan Juliet.

“Putri Audrey, aku–“

“Lepaskan embel-embel ‘putri’ ketika kau memanggilku, Nikki.”

“Baiklah, Audrey-ku..” Audrey tersenyum malu saat Nikki menyisipkan kata ‘-ku’ setelah namanya. Audrey seperti telah dimiliki sepenuhnya oleh Nikki. Audrey ingin Nikki selalu bersamanya, selamanya. Mungkin Audrey akan bercerita dengan Aiden mengenai Nikki, mengingat Aiden bisa membujuk raja dan ratu untuk segera menyatukan Nikki dan Audrey.

“Audrey..”

“Ya?”

“Aku mencintaimu.. Nikki mencintai Audrey.. Bagaimana jika Nikki yang sebenarnya bukan Nikki yang seperti ini?” Audrey mengangkat kepalanya dari bahu Nikki. Menatap mata biru Nikki penuh tanda tanya.

“Maksudmu, Nikki?” Nikki hanya tersenyum sembari menyentuh pipi Audrey dengan kedua tangannya. Menatap mata perak cantik itu dengan cinta yang besar.

“Apakah kau mencintaiku?” Audrey mengangguk mantap.

“Apakah kau mau selalu bersamaku selamanya?” Sekali lagi, Audrey mengangguk tanpa ragu. Nikki tersenyum puas dan mencium puncak kepala Audrey dengan lembut. Namun, satu pertanyaan lagi..

“Apakah.. Apakah kau akan tetap bersamaku sekalipun aku bukan pangeran atau bangsawan?” Audrey diam, tidak langsung merespon seperti tadi. Pikirannya kalut. Sebagai seorang putri kerajaan yang menuntut kesempurnaan hidup, Audrey pasti berkata tidak pada Nikki. Namun, sebagai seorang gadis yang tidak ingin ditinggalkan oleh orang yang dicintainya?

“Tentu saja. Aku akan selalu bersamamu. Sampai kapanpun” Nikki akhirnya memeluk Audrey erat. Tidak menyadari Audrey yang sedang kebingungan dengan pertanyaannya.

“Tutup matamu,” Perintah Nikki, dan Audrey pun menurut. Perasaannya gugup bercampur senang. Apa yang akan dilakukan Nikki? Apakah ada hadiah?

Audrey merasakan ada sesuatu yang menyentuh jari manisnya. Sesuatu seperti.. cincin?

“Mungkin hanya cincin yang terbuat dari bunga. Apakah kau menyukainya?”

Audrey menutup mulutnya, terharu dengan apa yang diberikan Nikki untuknya.

“Sangat. Aku sangat menyukai ini, Nikki.” Dengan segera, Nikki mengecup punggung tangan kanan Audrey dan kemudian mencium bibir Audrey lama.

“Nikki, berjanjilah untuk selalu bersamaku.”

“Selalu, Audrey.” Dan mereka pun terlarut dalam suasana romansa yang mereka ciptakan sendiri. Di hutan yang indah itu, mereka berjanji untuk selalu bersama.

Putri Audrey sangat mencintai Nikki. Nikki adalah miliknya, berharga.

*****

“Aiden!” Aiden mendongakkan kepalanya, menghadap Audrey yang sedang berlarian kecil menghampirinya yang sedang membaca sejarah kerajaan di negeri ini. Keningnya berkerut heran, melihat senyum yang tidak biasanya terkembang di wajah sang adik. Senyum kebahagiaan yang sudah lama tidak Aiden lihat.

“Ya, Dree?” Aiden ikut tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Kali ini Audrey sendirian, tidak ditemani oleh Ty dan Elias seperti biasanya, dan itu membuat Aiden senang. Dua orang itu terlalu kejam untuk selalu berada di dekat Audrey.

“Kenapa kau tidak pernah bercerita tentang pangeran yang ada di negeri utara?” Tanya Audrey ketika sudah duduk di hadapan Aiden. Keheranan Aiden semakin bertambah ketika Audrey menanyakan hal ini.

“Negeri utara? Maksudmu utara negeri ini? Pangeran?” Audrey mengangguk semangat. Ternyata kakaknya juga mengetahui tentang kerajaan yang ada di utara negeri ini tersebut.

“Pangeran itu tampan sekali! Kau pelit tidak berbagi informasi denganku, hehhe.. Sudah ya, aku ingin berjalan-jalan di istana dulu!” Belum sempat Aiden mengatakan apa yang ada dipikirannya Audrey sudah pergi lagi.

“Bukankah.. Tidak ada kerajaan lagi yang berkuasa di negeri ini selain kerajaan ini?” Gumam Aiden. Sore ini, Aiden mendapatkan banyak keanehan dari adiknya.

Sementara itu, Audrey berkeliling istana. Menyapa setiap pelayan, pengawal, dan semua orang yang ada di hadapannya dengan riang. Sampai saat Elias kembali menghampirinya.

“Putri, kami sudah menemukan pencurinya. Besok siang, kami akan melaksanakan perintah Anda.” Ujar Elias. Audrey sempat memikirkan apa yang dikatakan oleh Elias. Perintah? Pencuri? Yang mana? Tanpa pikir panjang, Audrey mengiyakan kata-kata Elias. Yang penting tidak mengganggu pertemuannya besok pagi -lagi- dengan Nikki. Mereka sudah berjanji untuk bertemu, Nikki akan memberikan hadiah yang spesial untuknya.

Putri Audrey melupakan sesuatu. Sesuatu yang penting, sangat penting. Hadiah Nikki akan selalu terlihat istimewa di mata Audrey walaupun sederhana. Namun, jika bukan Nikki yang memberikannya, bagaimana?

*****

Pagi itu, Audrey menunggu di rumah pohon mereka. Tidak ada tanda-tanda kedatangan Nikki. Tidak ada kicauan burung hari ini, cahaya matahari hutan juga sangat redup, tidak seperti biasanya yang menyinari rumah pohon mereka dengan cantik.

“Nikki, dimana kau?” Tanyanya, lebih tepatnya pada diri sendiri. Sekali lagi, Audrey melayangkan pandangannya pada sekeliling rumah pohon mereka yang tidak begitu tinggi itu. Berharap menemukan Nikki.

Nikki berjanji hari ini akan bertemu dengan Audrey seperti biasanya. Nikki juga berjanji akan memberikan Audrey hadiah yang spesial, sesuatu yang telah Nikki buat dan sebagai tanda bahwa Audrey hanyalah miliknya. Tapi, kemana Nikki? Audrey sangat penasaran dengan apa yang ingin diberikan Nikki untuknya.

Putri Audrey duduk kembali, mencoba untuk percaya bahwa tidak lama lagi Nikki akan datang. Dia memilih untuk memerhatikan kembali cincin dan gelang bunga yang pernah diberikan Nikki padanya.

“Bunga ini familiar..” Gumam Audrey saat dia memerhatikan gelangnya. Dahinya mengernyit heran, kenapa bunga-bunga yang terangkai menjadi gelang ini mirip dengan bunga-bunganya yang hilang?

“Ini..” Audrey memerhatikan cincinnya. Betapa terkejutnya dia saat baru menyadari bahwa bunga tersebut adalah memang bunga miliknya yang hilang. Ingatan Audrey seakan memutar kembali ketika melihat bunga-bunganya. Sekarang, Audrey menyesal tidak mendengarkan laporan Elias dan menyesal tidak memerhatikan apa yang Nikki beri.

Audrey turun dari rumah pohon tersebut dengan buru-buru. Niatnya yang ingin berlari sulit terealisasi karena gaunnya yang panjang itu berkali-kali tersangkut di ranting-ranting pohon yang jatuh. Hari sudah siang, seperti yang dikatakan Elias kemarin, pencuri bunga tersebut akan dihukum.

Apakah kalian masih mengingat hukumannya? Ya, ‘tanpa terkecuali’. Sekarang, Putri Audrey hanya bisa berharap, berharap bahwa bukan Nikki pelakunya. Ya, semoga bukan Nikki.

*****

Audrey berhasil keluar dari hutan. Rambutnya yang biasa tergelung indah sudah kusut. Terdapat banyak sobekan di sarung tangan putihnya karena harus menyingkirkan dahan-dahan yang menghalangi jalannya. Gaunnya sudah lusuh, tidak berwarna putih lagi.

Dengan cepat Audrey memasuki istananya. Sayangnya, istana tersebut sudah hampir sepi.

“Suruh budak kalian mencari pencuri bunga-bungaku. Secepatnya dapatkan orang itu. Penggal kepalanya, siapapun itu, tanpa pengecualian.”

“Kau ingin membujukku? Tidak berhasil. Aku muak jika ada rakyat jelata yang mencoba-coba ingin menjadi bangsawan. Jadi, orang-orang jenis seperti itu harus dimusnahkan, bukan?”

“Apakah.. Apakah kau akan tetap bersamaku sekalipun aku bukan pangeran atau bangsawan?”

“Nikki, berjanjilah untuk selalu bersamaku.”

“Selalu, Audrey.”

Ingatan Audrey berkelebat tentang semua ucapannya dan Nikki dengan cepat. Airmata Audrey keluar dengan cepat secepat dia berlari ke penjara untuk menemui orang yang ditangkap oleh Ty dan Elias. Sekedar untuk memastikan hati dan matanya bahwa bukan Nikki orangnya.

“Ty! Where are you?!” Jerit Audrey saat tiba di pintu utama penjara. Audrey memberanikan diri untuk masuk, mengingat tempat itu sangat menyeramkan untuknya, tapi demi kepastian, kenapa tidak?

Para tahanan yang kakinya dibelenggu dengan bola batu tersadar dari lamunan panjang mereka akan kebebasan. Mereka semua bangkit saat melihat sang putri yang menjadi otak dari penahanan mereka semua itu ‘mengunjungi’ mereka. Tangan-tangan kotor para tahanan tersebut mencoba meraih sang putri dari balik jeruji yang membuat Audrey mengacungkan belati kecil beracunnya.

“Ty! Elias! Where are you?!” Tubuh Audrey gemetar. Dirinya sudah tidak tahan untuk berada di penjara ini lama-lama. Audrey memutuskan untuk berlari keluar, menuju gedung di sebelah penjara tersebut. Stadion penyiksaan.

“Aiden!” Beruntung dia bertemu Aiden saat akan menaiki tangga podium. Aiden yang melihat keadaan buruk dari adik tercintanya itu berlari menghampiri dan memegangi tangan Audrey kuat.

“Dree? Ada apa dengan penampilanmu?”

“Siapa yang dihukum?” Tanya Audrey langsung. Nafas Audrey sudah memburu, dirinya tidak ingin ketinggalan informasi tentang penjagalan hari ini. Bukan karena ini adalah hal kesukaannya, tapi ini menyangkut orang yang dia sukai, yang dia cintai.

“What?”

“Siapa yang dihukum?!”

“Maksudmu?”

“AIDEN! SIAPA YANG DIHUKUM HARI INI?!” Suara Audrey meninggi, diiringi dengan tangisannya yang semakin menjadi. Aiden tidak tahu harus berkata apa, karena memang dia tidak mengetahui siapa -atau lebih tepatnya nama- dari orang yang akan dihukum hari ini.

“Bukankah kau pernah memerintahkan Ty dan Elias untuk mencari pencuri bungamu? Kau juga menyuruh mereka untuk menangkap pencuri baju kerajaanku kan? Pelakunya orang yang sama, sepertinya kau perlu melihatnya sendiri. Dia sudah ada di tengah lapangan sekarang. Apa kau sangat tidak sabar ingin melihat penjagalan ini sampai-sampai berteriak padaku?” Ujar Aiden panjang. Wajah Aiden menunjukkan kekesalan dan menarik tangan Audrey untuk segera menaiki podium.

Audrey sibuk dengan pikirannya sendiri. Orang yang sama, pikirnya. Pencuri bunga dan pencuri pakaian kerajaan adalah orang yang sama.

Semakin dekat Audrey dan Aiden dengan podium kebesaran mereka. Semakin riuh suasana rakyat negeri ini yang berkumpul dan meneriakkan kata-kata sadis untuk sang pelaku. Ya, negeri ini mengerikan.

Putri Audrey kita ketakutan. Selalu berharap bahwa Nikki adalah pangeran sungguhan dari seberang negerinya, walaupun status sudah tidak dipedulikan lagi olehnya. Takdir manis yang dimiliki oleh putri kita mungkin tidak bisa bertahan lama.

*****

Audrey duduk di samping Aiden dengan cemas. Pencuri itu memang sudah di tengah lapangan. Kepalanya dibungkus dengan kain hitam sehingga menutupi wajahnya. Leher pencuri itu diikat dengan tambang yang ujungnya digenggam kuat oleh tangan kokoh Elias. Ty, dengan pakaian lengkapnya, sedang mengasah kapak yang akan digunakannya di atas ‘panggung’ penjagalan.

Perlahan, pencuri itu digiring oleh Elias untuk menaiki panggung. Saat itulah nafas Audrey tercekat. Dia tidak menyukai pencuri itu berada di sana. Dia ingin menarik tubuh pencuri itu untuk lari bersamanya. Alasannya? Audrey mengenali bentuk tubuh kurus yang dibalut dengan pakaian compang-camping itu.

“Aiden.. Bisa kau hentikan ini? Aku mohon..” Audrey meremas tangan Aiden kuat sementara Aiden menggeleng. Aiden tidak punya kuasa untuk ini. Ini memang perintah adiknya sendiri, kalau saja pencuri itu hanya mencuri bunga, mungkin Aiden atau Audrey bisa menghentikannya.

“Dree.. Dia juga mencuri baju kerajaan, bahkan merusak lambang kerajaan yang ada di baju itu. Kau tahu? Lambang itu terbuat dari emas, raja dan ratu marah besar akan hal ini. Aku tidak bisa. Apa yang membuatmu ingin menghentikan ini? Bukankah kau selalu menyukai kegiatan seperti ini?”

Audrey diam. Alasan apa yang harus dia utarakan pada kakaknya. Mengatakan bahwa dia memiliki firasat bahwa pencuri itu adalah kekasihnya? Tidak mungkin.

“Semuanya tenang!” Teriakan lantang Ty kembali membuat Audrey melihat pencuri itu dan membuat seluruh rakyat yang menonton menjadi tenang. Sunyi.

“Wahai kau penjahat kerajaan, apa keinginan terakhirmu sebelum kematianmu?” Tanya Ty keras sehingga semua orang yang ada di stadion ini mendengar. Pencuri itu tidak mengatakan apa-apa, hanya menolehkan kepalanya yang masih terbungkus kain hitam ke arah podium, tempat Audrey berada. Audrey mulai merasa tidak nyaman, seakan kematian juga akan menjemputnya ketika pencuri itu mulai membuka sendiri penutup kepala tersebut.

Pencuri itu tersenyum melihat Audrey, walaupun tidak dengan putri itu. Pencuri itu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian kotornya, sebuah mahkota bunga. Cantik. Hanya untuk Audrey.

Pencuri itu membuka mulutnya, berusaha untuk berbicara walaupun sulit. Bagi tahanan berat, siksaan sebelum penjagalan adalah kewajiban. Mungkin pencuri itu sudah mendapatkan cambukan disekujur tubuhnya.

Audrey menutup mulutnya rapat. Otaknya tidak memerintahkan untuk mengalihkan perhatiannya pada yang lain. Audrey tetap melihat ke arah pencuri itu, matanya.

“For you..” Walaupun tanpa suara, Audrey tahu apa yang diucapkan oleh pencuri itu. Aiden memandang adiknya kebingungan, apakah dia tidak mengetahui sesuatu yang penting antara adiknya dan pecuri itu?

“Sorry..” Ujarnya sambil tetap menggenggam mahkota bunga itu.

“Waktumu habis, pencuri.” Ty segera memasang ancang-ancang dengan mengangkat kapaknya tinggi. Elias mendorong bahu pencuri itu menggunakan kakinya yang kuat hingga tertunduk. Mahkota itu terlepas dari tangan sang pencuri, jatuh menggelinding tepat di bawah kepalanya yang sudah tertunduk.

Sekali lagi, pencuri itu menatap Audrey yang jauh darinya, yang tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Pencuri itu tersenyum tulus ke arah Audrey walaupun mungkin Audrey tidak begitu melihatnya.

“I love you..”

ZRAS!

Darah itu mengenai mahkota yang indah. Kepala itu, terlepas, jatuh.

*****

Audrey berjalan ke suatu tempat. Dia tidak mengenakan gaunnya, tidak pula mengenakan sarung tangannya, dia hanya mengenakan pakaian pelayannya yang dia ambil secara paksa. Tangannya menggenggam sesuatu yang sangat berharga baginya, mahkota bunga.

Audrey sampai di tempat tujuannya. Makam. Makam kepala lebih tepatnya. Hanya kepala yang ditanam di sini, tubuhnya? Di buang, entah kemana.

Audrey terduduk lemah. Menyusuri kayu lapuk yang hanya menjadi penanda dari keberadaan kepala orang yang dicintai dengan tangan halusnya. Audrey melepaskan tiara yang selama ini selalu melekat di kepalanya, tanda kebesaran seorang putri kerajaan yang angkuh dan berkuasa. Dia menggantikan tiara itu dengan mahkota bunga yang dibawanya tadi, walaupun mahkota itu sudah berlumuran darah.

“Aku akan selalu bersamamu,” Audrey mengeluarkan belati kecilnya yang beracun itu. Mencari letak yang sesuai ditubuhnya untuk ditancapkan dengan belati itu dengan santainya, dan dia memutuskan bahwa nadi di tangannyalah yang tepat.

“Aku akan selalu bersamamu…” Audrey mengulangi kata-katanya lagi, selagi darah mengalir dari pergelangan tangannya. Audrey tidak menarik belatinya, dia membiarkan belati itu terus mengeluarkan racun yang dimiliki ke tubuhnya.

“Nikki.”

Cintamu hilang, Putri Audrey. Hanya karena kau tidak mengingat apa yang kau katakan, takdir manismu berubah. Mulutmu, harimaumu, Putri.

Kalau kalian menjadi Putri Audrey, apa yang akan kalian lakukan?

THE END

._. .__. .___. .____. ._____.

Selesai ya? Ini selesai ya?

gimana ya? #garukgarukkepala

mohon maaf jika tidak sesuai keinginan, Taemin-mu onnie buat begini.. #liriksungratakut

jikalau banyak typo, maafkanlah :3

jikalau ceritanya nggak jelas, terlalu mendramatisir, atau mungkin maksa, yaah maafkanlah :3

mungkin latarnya nggak pas di Eropa, masih kebawa Asia kayaknya -__- #gagal

kritik dan saran selalu dinanti di kotak komen, asal no bashing(?) dan SARA *laaah?

Gomawoyo semuaaa ^^

#langsungkaburpakehelm

Advertisements