Tags

,

Main Cast : Cho Kyuhyun, didampingi Kim Raena ><

Other : Temukan sendiri, semangat!

Genre : Family, Romance

Rate : PG(…)

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

Semuanya sudah tidur. Jinho sudah tidur nyenyak di kamarnya. Raena juga sudah tidur nyenyak di sampingku setelah aku menyanyikan lagu tiga beruang, permintaannya. Haah, dia hamil lagi. Aku jadi ingat masa-masa dia sedang mengandung Jinho, anak pertama kami. Itu masa-masa terberat dalam hidupku, juga masa terberat bagi Raena.

Waktu itu kami baru lima bulan menikah, dan Raena dinyatakan positif hamil. Waktu itu kandungannya baru berusia dua minggu setelah diperiksa oleh Seunghyun hyung. Awal-awal bulan kehamilannya masih biasa saja, sampai saat bulan kelima. Itu adalah masa-masa terberatku menjadi calon ayah sekaligus suami. Kenapa masa terberat? Baiklah, aku ceritakan pada kalian -__-

Bulan Kelima Raena

“Baby~ Kau mau kemana? Kenapa semua bajumu kau masukkan ke koper?” Aku menahan tangan istriku ini agar berhenti memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Aku salah apa sih? Perasaan tidak ada yang salah selama ini. Aku bingung? Tentu saja! Semalam kami masih baik-baik saja, aku masih tidur memeluknya malahan. Kenapa pagi-pagi seperti ini dia malah seperti ini?

“Aaa jangan halangi akuuuu~ Aku ingin ke rumah eommonim!” Dia masih berusaha memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.

“Baby~”

“Jangan panggil aku ‘baby’! Kau tidak cinta lagi padaku! Kau bohong!” Mwo?! Tidak cinta lagi?! Ya! Aku bahkan tidak bisa tidur kalau tidak memeluknya bagaimana bisa aku tidak mencintainya lagi?!

“Aku masih mencintaimu baby~ Lalu aku bohong apaaa?” Aku masih mengekorinya yang berkeliling kamar dan memasukkan semua barang-barangnnya ke koper. Sabar Kyuhyun sabaaar, istrimu sedang hamil -__-

“Kau bohong! Semalam kau bilang aku seksi! Perutku sedang buncit seperti ini kau bilang seksi?!” Aku terdiam di tempatku berdiri. Aku jadi ingat obrolan kami semalam sebelum aku bernyanyi lagu tidur untuknya. Aku bilang kalau dia tetap cantik dan seksi walaupun sedang hamil. Menurut kalian itu gombal, memang, sangat gombal. Aku jujur semalam loh, bukan sekedar gombal! (=_=”)

“Pokoknya aku mau menginap di rumah eommonim!”

BRAK!

Pintu ditutup dengan kuat. Aku terdiam di posisiku, masih di dalam kamar. Kamar ini sudah seperti kapal pecah karena Raena tadi mondar-mandir sambil membongkar barang-barangnya. Jung ahjussi yang mendengar perdebatan kami tadi menghampiriku dengan wajah khawatir.

“Kyuhyun-ah, Raena baru saja pergi membawa mobilnya! Ada apa?” Aku masih bengong. Tidak percaya dia akan benar-benar pergi. Bawa mobil sendiri pula. Ya Tuhan, dia itu nekat sekali sih! Aku tidak bisa mengontrol keadaannya kalau begini! Dia sedang hamil muda, nanti kalau ada apa-apa bagaimana?!

Yaaah selama bulan kelima masa kehamilannya, aku sama sekali tidak bisa bertemu Raena. Eomma bilang, sebaiknya Raena dibiarkan sendiri dulu karena mungkin itu juga bukan kemauannya. Eomma juga bilang, kalau masa ngidam Raena akan sangat panjang mengingat Raena orang yang mudah beruba-ubah mood-nya. Nasib.

Bulan Keenam Raena

Aku sibuk dengan seluruh urusan rumah sakit saat Raena masih saja tidak mau bertemu denganku. Ditambah lagi, aku sedang belajar bagaimana membantu persalinan kehamilan Raena dengan Seunghyun hyung, sainganku dulu dalam mendapatkan Raena. Kalian tahu? Aku ingin mengeluarkan anakku sendiri, dengan tanganku sendiri. Jadi, aku harus menahan gengsiku yang sebesar tata surya ini untuk meminta Seunghyun hyung mengajariku.

“Kau ini keras kepala sekali. Ini bukan teknik mudah seperti yang kau perkirakan. Ini menyangkut nyawa Kyuhyun-ah, nyawa bayi kalian. Kau masih bersikeras untuk tidak menyerahkan urusan ini padaku? Kau memang jenius, tapi ini ilmu baru bagimu.” Dalam ruangannya, aku diomeli oleh Seunghyun hyung karena masih belum mengerti teknik dasar untuk persalinan. Dia benar, ini menyangkut nyawa bayi kami, salah sedikit saja bisa-bisa salah satu di antara mereka dalam bahaya.

“Aku mohon percayalah padaku. Aku masih mencintainya, makanya aku tidak akan melakukan kesalahan sedikitpun. Haaah.. Kau tidak mau aku menyentuh Raena kan makanya kau seperti ini?” Aku mendongak, menatap mata tajamnya dengan mataku. Berani-beraninya dia bilang dia masih mencintai Raena dihadapanku.

“Kau bodoh, hyung. Dia istriku, berhenti mencintainya. Aku bisa mempelajari ini lebih cepat, sekarang cepat ajari aku.” Berbicara dengan orang ini harus tenang, dingin, dan percaya diri. Kalian pasti bertanya, kenapa aku menjadikannya dokter di sini padahal jelas-jelas dia adalah sainganku. Alasannya mudah, dia dokter hebat, dan aku ingin orang-orang hebat yang menjadi dokter di rumah sakitku, itu saja.

***

“Eomma~ Bagaimana keadaannya?” Aku menelepon eomma-ku yang kebetulan berada di rumah, tidak ikut appa berkebun gingseng. Eomma bilang keadaan Raena baik-baik saja, kandungannya juga baik-baik saja. Aku memutuskan untuk menginap juga di rumah eomma, semoga keadaan membaik.

Aku menyiapkan semua baju-baju yang aku rasa cukup. Di rumah mungkin masih ada baju-baju lamaku. Aku berpamitan dengan Jung ahjussi dan Jung ahjumma, sekaligus berpesan agar mereka menjaga rumah dengan baik sebelum aku pergi.

Sesampainya di rumah, eomma bingung aku harus tidur di mana. Raena tidur di kamar lamaku ternyata, dia tidak mau tidur di kamar Ahra noona padahal noona sedang keluar negeri. Apa aku coba saja ya?

“Kyu, coba saja dulu. Eomma rasa dia juga merindukanmu..” Eomma menuntunku ke tempat Raena istirahat, kamar lamaku. Perlahan pintu dibuka, perlahan juga menampilkan sosok wanita yang selama sebulan tidak aku temui. Dia sedang beristirahat, tidur lebih tepatnya. Merindukanku? Mungkin benar. Dia tidur sambil memeluk kaus lamaku soalnya, hehhehe.

Aku tidak berniat membangunkannya, biarlah dia tidur seperti ini. Untung jam makan siang sudah lewat, setidaknya dia sudah makan. Eomma meninggalkan kami perlahan sambil menutup pintu, takut membangunkan Raena.

“Hei, jagoan appa.. Kau menjaga eomma-mu dengan baik ya~” Aku yang sudah berbaring di sebelah Raena mengusap perutnya pelan. Rasanya ingin ikut tidur juga, tapi sayang kalau momen ini dilewatkan begitu saja. Aku masih belum puas memandangi wanita ini.

“Sampai kapan kau mau memandangiku?” Mata Raena terbuka dan pandangan kami bertemu. Aku menyentuh pipinya dan dia masih menatapku. Tiba-tiba tangannya sudah memelukku untuk lebih mendekat, walaupun sulit, soalnya perutnya menghalangi kami untuk lebih dekat.

“Bogoshippoyo~” Tuh kan benar, dia merindukanku, hhehe.

Dan bulan keenam masa kehamilan Raena adalah bulan terfavoritku. Kami kembali seperti semula, bahkan dia menjadi lebih manja. Hanya satu yang aneh, dia tidak mau makan sayur, sama sepertiku.

Bulan Ketujuh Raena

“Jangan dekat-dekat denganku~” Bulan ketujuh, penderitaanku kembali lagi. Setelah memutuskan untuk kembali ke rumah kami, Raena menjadi ketus lagi terhadapku. Memang dia tidak pergi kemana-mana, tidak kabur kemana-mana, tapi kalau istrimu tidak mau tidur sekamar denganmu bagaimana ceritanya?!

Sesuai saran eomma, aku menuruti semua kemauannya. Mulai dari tidak tidur sekamar, tidak makan makanannya, tidak berdekatan dengannya, bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Itu membuatku gila!

***

“Changmin-aaaaah! Ottokhe ha?! Ottokhe?! Istriku sendiri tidak mau berdekatan denganku!” Aku sedang berada di ruangan Changmin saat ini, mencoba menceritakan semua yang aku rasakan ini. Aku hampir gila gara-gara harus berjauhan dengan istriku sendiri sekarang. Berada satu rumah tapi seperti orang yang menumpang, kacau.

“YA! Aku saja belum menikah! Kau malah bertanya denganku! Berhenti berteriak seperti itu padaku!” Changmin mengacak rambutnya dan sedikit melonggarkan jas putihnya.

“Kau tahu? Semua curhatanmu tentang ngidamnya Raena membuatku takut melamar Hyunjoon!”

“Bagaimana ini Changmin-aah~ Kalau seperti ini terus aku tidak bisa menjaganya dengan maksimal!” Changmin bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiriku yang duduk di sofa ruangan ini. Changmin menepuk bahuku pelan dan menghela nafas sejenak.

“Sudahlah, jaga saja dia semaksimal yang kau bisa. Urusanmu sekarang, kau serius tidak mau menangani persalinan Raena? Kau jarang bertemu dengan Seunghyun hyung. Selain dia sibuk, kau juga seperti tidak mau menundukkan sedikit kepalamu untuk meminta ilmu padanya. Kau ini bagaimana?” Benar kata Changmin. Aku harus serius soal ini.

“Oke. Aku serius soal ini. Aku akan menemuinya.”

Bulan ketujuh kehamilannya, lebih berat dari bulan kelima. Aku masih ingat, saat Raena menolak untuk aku sentuh, saat Raena menolak untuk aku antar ke tempat yang dia mau, dan saat dia menolak tidur satu kamar denganku. Dia tidak tahu betapa menderitanya aku waktu itu (“=_=)

Bulan Kedelapan Raena

Ini adalah masa-masa rawan bagi kehamilan Raena. Apa saja bisa terjadi jika Raena tidak menjaga dirinya ataupun sesuatu yang buruk terjadi padanya. Kalau aku menyangka dia akan kembali baik padaku seperti bulan keenam waktu itu, aku salah besar. Tindakannya semakin aneh menurutku.

Siang hari di rumah sakit, aku sedang sibuk memeriksa beberapa pasienku yang rata-rata keadaannya sudah membaik. Hari ini Raena bilang akan di rumah saja, tapi entah kenapa firasatku berkata lain. Entahlah, hanya tiba-tiba terbesit rasa khawatir akan keinginan-keinginan anehnya yang lain.

Aku kembali ke ruanganku. Ingin sekali rasanya menghubungi istriku itu, tapi aku takut Raena merasa terganggu. Jadi beginilah aku sekarang, hanya mencoret-coret beberapa laporan lama tidak beraturan.

Tok tok tok

“Masuk.” Muncullah sosok Hyunjoon yang wajahnya terlihat.. bingung?

“Oppa! Aku mau bertanya sesuatu padamu!” Hyunjoon, masih dengan wajah bingung bercampur panik duduk di hadapanku. Aku yang melihat itu juga bingung -_-

“Waeyo?”

“Raena onnie~ Tadi memintaku mengajarinya bermain game yang sering kau mainkan ketika rapat! Dia juga memintaku memesankan game-game, semua game!”

“MWO?!” Hyunjoon menutup telinganya. Tunggu sebentar? Game? Seluruh game? Sejak kapan dia tertarik dengan game yang aku mainkan? Lalu.. kenapa dia bisa ada di sini?!

“Hyunjoon-ah! Mana dia? Mana? Masih di ruanganmu?” Aku sudah bersiap-siap ke ruangan Hyunjoon, tapi sayangnya Hyunjoon menggeleng dengan ragu.

“Ng.. itu.. Raena onnie tidak di ruanganku lagi oppa..”

“Lalu? Sudah pulang?”

“Anu.. dia.. ng.. sedang konsultasi dengan Seunghyun oppa~” Eey laki-laki itu pandai sekali mencari kesempatan!

“Ah ara! Gomawoyo!” Aku langsung meninggalkan Hyunjoon di ruanganku sendirian dan berlari menuju ruang Seunghyun hyung.

Waktu itu Raena memang sedang konsultasi. Seunghyun hyung juga tidak bertindak macam-macam padanya, hanya tatapan matanya pada Raena itu yang membuatku jengah. Dia menatap Raena dengan tatapan yang.. sulit untuk aku deskripsikan. Aku sempat bertanya dengannya kenapa dia meminta Hyunjoon mengajarinya game dan dia menjawab hanya ingin, dan aku menemukan jawaban lebih lengkapnya ketika Jinho berumur tiga tahun, hhehe.

Bukan hanya game dan Hyunjoon yang dia recoki. Orang yang berada jauh pun dia repotkan dengan keinginan-keinginan anehnya di bulan kedelapan ini.

“Oppa~ Bilang pada istrimu itu untuk tidak mengacaukan tumpukan komik di rumahku~!” Sungra mengadu denganku saat kami istirahat makan siang di rumah sakit. Dia datang bersama Taemin yang juga wajahnya ditekuk.

“Iya hyung! Dia mengganggu jadwal pacaranku dengan Sungra!” Aku dan Changmin berpandangan heran. Raena mengacaukan jadwal pacaran mereka? Memangnya apa yang dia lakukan lagi?

“Raena noona menyuruhku membacakan komik untuknya.. Dia pikir itu dongeng?” Taemin merangkul Sungra dengan erat, Changmin tertawa mendengar ocehan Taemin itu. Aish Cho Raena~ Ada-ada saja kau ini -_-

“Lalu kalian kenapa ke sini? Dia kalian tinggalkan saja di rumahmu Sungra?” Sungra dan Taemin kompak menggeleng. Mereka menunjuk ke arah luar ruanganku. Maksudnya?

“Raena onnie tadi pergi ke sini bareng kami. Dia langsung pergi ke ruangan yang di sebelah sana itu.” Sungra menunjuk arah ruangan Seunghyun hyung, dan nafsu makanku langsung hilang digantikan dengan rasa ingin menyusul Raena ke sana.

***

“Seung-ah~ Nanti kau bantu aku melahirkan yaa~” Aku sudah sampai di ruangan Seunghyun hyung dan melihat Raena merengek seperti ini di hadapannya. Tanpa basa-basi lagi, aku duduk saja di sampingnya. Terserah nanti dia mau menutupi wajahku dengan tasnya atau mencubitiku dengan kuat.

Seunghyun hyung terlihat ragu ketika mengangguk untuk menyetujui permintaan Raena. Raena bertepuk tangan senang dan tersenyum pada Seunghyun hyung.

Bulan kedelapan itu.. emosiku terkuras habis-habisan. Belum selesai dengan memaklumi tingkah anehnya, menahan semua keinginanku untuk menjaganya dengan total, menahan keinginanku untuk mengusap perutnya, dan menahan rasa cemburuku karena Raena lebih senang konsultasi sendirian dengan Seunghyun hyung dibanding bersamaku. Yah, masa-masa berat.

Bulan Kesembilan Raena

Aku harus bersyukur, saat ini Raena lebih menurut padaku dan tidak menolak lagi kalau aku ingin menemaninya kemana-mana. Bulan kesembilan adalah saat-saat yang paling menegangkan, apalagi untukku. Pertama kali punya anak, dan akan menjadi appa. Rasanya~ campur aduk!

Ada lagi yang jadi pikiranku sekarang. Aku belum menguasai teknik persalinan untuk kehamilan Raena nanti. Aku yang salah, Seunghyun hyung sudah mengajariku dengan giat, tapi aku sendiri yang tidak memerhatikannya. Sepertinya aku harus membuang sedikit gengsiku lain kali.

“Boo~ Aku ingin jalan-jalan~” Hari ini, khusus aku tidak bekerja hanya untuk menemani Raena. Wajahnya tidak seceria biasanya, ada sedikit raut khawatir di sana.

“Kau mau kemana? Istirahat saja ya.. Nanti kau kenapa-kenapa..” Aku mencoba untuk menenangkannya dengan mengajaknya duduk di ruang tengah rumah kami. Kebetulan Jung ahjumma tadi membuat beberapa cemilan untuk kami.

“Tapi aku ingin jalan-jalan~” Raena masih bersikeras dengan menepis tanganku dari pundaknya. Dia menghentakkan kakinya pelan dan berusaha untuk berdiri. Mau kemana dia?

“Raena~ istirahat saja~” Aku menghalangi jalannya menuju pintu setelah mengambil kunci mobil. Dia mau pergi sendiri begitu? Nekat!

“Shireo! Aku mau keluar pokoknya~!”

“Tapi baby~ Berbahaya~!” Biarlah sedikit membentak, yang penting dia menurut sekarang.

“Aish minggir! Aku mau keluar!”

“Tidak boleh!”

“Aku mau– Akh! Kyuuu~ perutkuu~!” Tiba-tiba Raena merunduk sambil memegangi perutnya. Dia merintih kesakitan dan aku masih shock dengan apa yang terjadi padanya.

“Cho Kyuhyun! Perutku sakiiiiiit! Sudah mau keluaaaaar!”

***

Aku dan Raena sudah berada di mobil. Aku membantunya berjalan tadi karena Raena tidak berhenti menangis kesakitan. Jung ahjussi dan ahjumma akan menyusul ke rumah sakit dengan perlengkapan kami.

Selama di mobil, aku jadi sasaran tangan ‘jahat’ Raena. Bayangkan saja, saat menyetir aku harus rela dijambak dan dicubiti olehnya. Raena terus merintih kesakitan dan aku tidak tahu berbuat apa. Aku cemas dan khawatir bukan main! Ini lebih menegangkan daripada menghadapi pasien dengan darah bercucuran ataupun saat aku menghadapi kakeknya Raena di Belanda ketika melamar wanita ini!

***

Di rumah sakit. Aku sudah menghubungi Seunghyun hyung untuk menyiapkan semua peralatannya. Changmin dan Hyunjoon juga sudah aku hubungi, entah apa guna mereka nanti yang penting semua orang di rumah sakit sudah aku hubungi.

Raena sudah dibawa ke ruang persalinan dan aku juga sudah berganti pakaian. Anehnya orang-orang sudah berkumpul di depan ruang persalinan, semua dokter dan suster, bahkan banyak pasien juga berkumpul di sini. Hei! Kenapa malah banyak orang? -__-“

“Hyung! Aku bisa melakukannya.” Aku, Seunghyun hyung, dan beberapa asistennya sudah berkumpul mengelilingi Raena. Seunghyun hyung menggeleng cepat mendengar aku yang akan mengambil alih proses persalinan ini.

“Tidak. Kau tidak tahu apa-apa tentang ini. Pengetahuanmu tidak mencukupi. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Raena, Kyuhyun-ah!” Seunghyun hyung langsung menghampiri Raena setelah asistennya sudah memasang kelengkapan untuk persalinan. Aku masih bersikeras sampai pada akhirnya Raena berteriak kesakitan. Aku menyerah kali ini.

“Baiklah. Aku mohon bantuanmu, hyung.” Proses persalinan pun dimulai. Aku memegangi tangan Raena yang menggenggam tanganku dengan erat. Seunghyun hyung terus berusaha sesuai dengan kemampuannya, aku tidak mengerti.

“Raena! Dorong terus!” Perintah Seunghyun hyung. Aku yang melihat Raena sudah berkeringat terus memberinya semangat. Tangannya sudah dingin dan itu membuatku gugup. Sampai sini, genggamannya masih sangat kuat.

“Baby! Kau pasti bisa! Dorong terus!”

“KYU! Sakiiiiiit!”

“Ayo berusaha Raena!”

“Kyu~ Kyu~ Kyu~” Raena merengek. Ya Tuhan, tolong selamatkan wanita yang kucintai ini dan bayi kami, aku mohon.

“Baby! Turuti instruksiku! Huh hah huh hah begitu!” Eh? Kenapa aku bicara begini?

“Ya! Ini sakit, babo!” Sempat-sempatnya dia mengomeliku? .__.Β 

“Kepala bayinya belum terlihat! Raena~ Kau pasti bisa..” Kali ini perintah Seunghyun hyung lebih lembut, mungkin untuk membuat Raena santai. Aku mengecup kening Raena sekedar mencoba memberinya ketenangan. Raena mengangguk dan kembali memberikan dorongan agar bayinya cepat keluar.

‘Ini terlalu lama..” gumam Seunghyun hyung. Aku kembali memerhatikan Raena yang matanya sudah sayu. Genggamannya melonggar.

“Dokter! Pasien kelelahan!” Teriak salah satu suster di sana. Raut wajah Seunghyun hyung berubah khawatir dan pucat. Dia melihatku dan memberikan aba-aba agar aku terus membuat Raena sadar dan tidak tertidur ataupun lengah.

“Baby! Raena! Kau tidak boleh lelah! Ayo terus berusaha!” Airmata Raena keluar sedikit demi sedikit. Genggamannya kembali kuat dan dia kembali memberikan dorongan. Seunghyun hyung juga memberikan semangat sembari membantu bayi kami untuk keluar.

“Kepalanya sudah terlihat!”

“Baby! Ayo! Sedikit lagi!”

“Teruslah berusaha Raena,”

“CHO KYUHYUUUUNN~!”

Hhhahahhaha πŸ˜€ Aku jadi ingat bagaimana menegangkannya proses persalinan itu. Kalian tahu? Raena meneriakkan namaku untuk mendorong bayi kami keluar, dan benar saja, bayi itu berhasil ditarik oleh Seunghyun hyung. Namaku memang hebat, hahhahha.

Beberapa minggu setelah itu, Raena bisa pulang membawa bayi kami dan disambut meriah oleh keluarga besar kami. Haah benar-benar melegakan. Aku juga sempat bertanya dengan Changmin, kenapa waktu itu orang-oran berkumpul di depan ruang persalinan. Ternyata Changmin menyebarkan bahwa istri Dokter Cho akan melahirkan. Ada-ada saja.

Saat ini, wanita yang tengah tidur di sampingku ini hamil lagi. Aku takut? Lumayan. Aku hanya berharap tingkahnya tidak seaneh waktu dia mengandung Jinho. Aku bisa mati gara-gara merindukannya.

“Boo~ Belum tidur?” Raena bangun dan mengusap pipiku. Aku meraih tangannya dan mencium telapak tangannya.

“Ada apa?” Raena mendekatkan dirinya, memelukku dan ‘menenggelamkan’ wajahnya di dadaku.

“Aniyo.. Hanya membayangkan apa lagi yang akan kau lakukan nanti, hehhhe.” Raena mendongak, menunjukkan wajah cemberutnya. Aku ingin saja menciumnya, tapi tidak jadi karena mungkin moodnya sedang tidak bagus, hhehe.

“Apa pun yang aku lakukan, kau akan tetap bersamaku. Aku tahu itu.. Sudah, tidurlah..”

“Tentu saja, aku tidak akan kemana-mana. Jaljayo~”

Nah, begitulah ceritaku tentang pertama kali menghadapi ibu hamil, hhhehehhe. Doakan kami bahagia selalu ya ^^

FIN

Hai hai hai hai hai :3

ini dia cerita waktu Raena ngandung(?) Jinho. Aneh? emang(?) hhehhehe

sekaligus mau ngasih tau nih buat reader semua, setelah ff ini mungkin aku nggak bakal update ff baru, soalnya besok udah pergi ke Malang untuk ngurus yang namanya jaket almamater sama Ospek terus asrama πŸ™‚ Doakan semua lancar yaa ^^

Kritik dan saran selalu diterima dengan baik ^^

Terima kasiiiih πŸ˜€

Advertisements