Tags

,

Main cast : Choi Seunghyun / Kim Raena (author atau buatan author) hahha 😀

Other : banyak, cuma numpang suara(?)

Genre : nggak lain dan nggak bukan, romance .__.v

Rate : PG(…) <– isi sendiri *plak!

Enjoy!

Hope you’ll like it ^^

Minggu, hari libur yang menyenangkan bagi seluruh siswa di dunia karena satu-satunya hari selain hari libur nasional yang dapat dimanfaatkan untuk bersantai dari penatnya sekolah. Itu definisi kalau kalian memang benar-benar bisa bersantai. Beda halnya dengan sekolahku, atau lebih tepatnya kelasku. Tiada hari tanpa tugas, mungkin itu kalimat ‘indah’ yang selalu diingat oleh guru-gurunya.

Bagi kami -murid-murid kelas 2-5- hari minggu adalah harinya mengerjakan tugas, sekalipun guru yang bersangkutan jarang hadir di kelas. Inilah cara kami ‘bersantai’, kurasa.

Aku, sudah menyelesaikan semua tugas itu. Total tugas ada lima dari masing-masing mata pelajaran. Jangan kira aku ini anak yang sangat rajin, aku hanya mengusir kebosanan. Pagi-pagi sekali ayah sudah pergi bersama ibu, memancing dengan guru-guru di sekolah. Ah iya, ayahku adalah kepala sekolah di tempatku menuntut ilmu, untuk informasi saja.

Aku mau saja ikut, tapi sayangnya aku sudah bosan. Selain karena sudah sering diajak, ikan-ikan di tempat pemancingan itu sepertinya tidak tertarik denganku. Jadi, daripada hanya dapat bosan –lagi- lebih baik aku mengerjakan tugas.

“Baru jam sepuluh pagi? Apa aku terlalu cepat mengerjakannya ya?” Aku mengobrak-abrik seluruh buku, mencari tugas lagi tapi sayangnya tidak ada. Akhirnya aku memilih untuk membaca kamus-kamus bahasa yang sudah aku beli, dan aku bingung. Gila, kenapa lemari bukuku sudah seperti kantor kedutaan besar saja? Kamus Bahasa Jepang, Arab, dan Spanyol tersusun rapi di dalamnya.

Aku memilih kamus Spanyol dan langsung membacanya dengan posisi tengkurap di kasurku. Motivasiku membeli kamus ini? Dani Pedrosa, pembalap MotoGP dari Spanyol itu, hhehe.

Baru beberapa halaman, aku sudah bosan lagi. Terlalu sulit bagi mulutku untuk menyesuaikan diri dengan kata-kata dalam kamus itu. ‘como teva’, ‘muy bien’, ‘gracias’, ‘buenos’ blablabla.

“Haish! Aku tidak sedang datang bulan tapi bosannya bisa sampai seperti ini?!” Aku bangkit dari kasurku dan keluar dari kamar. Menuju dapur, kalau-kalau saja ibu memasak sesuatu untukku makan siang ini.

“Astaga.. sepertinya memancing lebih penting dibandingkan memasak makan siang untuk anak!” Kosong. Dapur kosong. Tidak ada makanan, tidak ada cemilan, tidak ada minuman segar atau apapun itu yang bisa aku masukkan ke dalam perut, kecuali kalau aku pemakan piring.

“Aaah iya, bersihkan rumah saja!” Aku langsung melenggang ke arah gudang di halaman belakang rumah, tempat menyimpan semua peralatan kebersihan. Saat aku berada di ruang tengah, bibi Yoon sedang menggenggam sapu dan pel di kedua tangannya. Ah, aku memang punya satu pelayan di rumah ini yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Soal ‘kenapa tidak minta buatkan makanan dengan Bibi Yoon?’, jawabannya adalah dia tidak bisa memasak, tugasnya hanya soal bersih-bersih.

“Bibi! Aku saja yang menyapu yaa~” Bibi Yoon hanya mengernyit heran dan tersenyum.

“Bibi sudah membersihkan rumah, ini baru saja ingin menaruh sapu dan pel di gudang,” jawabnya.

“Semua? Semua sudut rumah sudah bibi bersihkan? Tidak ada yang tersisa?”

“Iya Raena~ Ada apa denganmu? Tumben kau mau membersihkan rumah, kecuali kamarmu, hehhe..” Aku hanya menggaruk tengkukku yang tidak gatal dan tersenyum tidak enak dengan Bibi Yoon.

“Tidak.. aku hanya bosan..”

“Kenapa tidak jalan-jalan saja dengan teman-temanmu? Siapa.. mm.. Sungra, Miho, Hyunjoon, dan Ayako? Kenapa tidak berjalan-jalan dengan mereka?” Eiy bodohnya aku =_=” Kenapa tidak terpikir dari tadi coba?

“Ehehehe aku tidak terpikir akan hal itu, tapi akan aku coba! Terima kasih bibi~” Aku mengecup pipinya singkat dan langsung menuju kamarku lagi.

“Hmm.. hubungi siapa dulu ya? Ayako dulu saja,” Dengan cepat aku mencari kontak Ayako dalam ponselku dan langsung menghubunginya.

“Yobosaeyo? Hyukjae di sini..” Loh? Kok Hyukjae?

“Monkey, kenapa kau yang menjawab? Mana Ayako?”

“Aya sedang bersamaku, kami sedang di—“

“Berikan padanya~”

“Ara~” aku mendengar Hyukjae memanggil nama Ayako dan beberapa detik kemudian sudah suara Ayako yang aku dengar.

“Raena-chan? Kenapa?”

“Aya-chan, kita jalan-jalan yuk..”

“Waah aku sedang keluar bersama Hyukjae Rae-chan, maaf ya~” terdengar suara Ayako seperti tidak enak denganku. Yaah sedang jalan-jalan dengan Hyukjae ya.. Ya sudahlah.

“Ah tidak apa-apa Aya-chan, lanjutkan saja, hhhehe. Annyeong”

Aku menghela nafas pelan. Ayako tidak bisa, siapa lagi selanjutnya ya? Hmm.. Hyunjoon?

“Yobosaeyo?” Laaah kenapa pula dengan suara Hyunjoon?

“Hyunjoon? Ini bukan Hyunjoon kan?” Aku agak ragu, suara ini familiar tapi aku lupa pernah mendengarnya di mana .__.

“Ini Hyunjoon kok..” Hah? Yang benar saja, Hyunjoon itu perempuan dan dia tidak mungkin operasi pita suara.

“Jangan bohong, mana Hyunjoon? Berikan ponsel itu padanya,”

“Aku Hyunjoon..” =___=

“Baiklah! Kau Hyunjoon kan? Tolong sampaikan padanya kalau aku ingin bicara!” Aku kesal dengan suara laki-laki ini, sangat menyebalkan.

“Kalau aku Hyunjoon, kenapa kau minta ‘sampaikan padanya’ hah? Kau bisa bicara langsung denganku! Hhahaha~” Sialan! Aku kenal dengan suara tawa seperti setan ini!

“Ya! Cho Kyuhyun! Kau apakan ponselku?!” terdengar suara teriakan Hyunjoon dan suara tawa Kyuhyun. Oh Tuhan, aku rasa Hyunjoon juga tidak akan bisa pergi denganku.

“Na-ya? Kau masih di sana?”

“Joonie-ah, kau bisa jalan-jalan bersamaku tidak hari ini?”

“TIDAK BISAA!!” Sialan kau Cho Kyuhyun! Telingaku sakiit T_T

“Ayolah Joonie-ah, please~”

“Kim Raena, dia ada urusan denganku, jadi tidak bisa kemana-mana, ara?”

“Ya! Berikan ponselku!”

“Tidak mau! Nanti kau menerima ajakannya!”

“Berikan dulu!”

“Tidak akan Hyun-ah~”

“Ya! Aku harus berbicara langsung dengan Raena, babo!”

Aku memilih untuk langsung memutuskan sambungan. Kepalaku pusing jika harus mendengar pertengkaran ‘penting’ mereka itu.

“Yang ketiga, aku mohon yang ini bisa~” Aku sedikit berat untuk menelepon yang satu ini. Kemungkinan tidak bisanya juga sama besar dengan KyuJoon couple itu, tapi coba dulu.

“Yobosaeyo?” Aku menjauhkan ponselku dari telinga, bukan karena yang menjawab telepon berteriak. Aku hanya heran kenapa yang menjawab teleponku hari ini semuanya laki-laki.

“Ya, yobosaeyo, atau apalah itu. Tsujun-ah bisa kau berikan ponsel itu pada Miho?” kataku, lesu.

“Mm? Miho? Dia sedang masak, kami berdua ingin mengerjakan tugas loh, ada apa?” Masak + mengerjakan tugas + berpacaran = TIDAK BISA KELUAR.

“Oh, ya, tidak ada apa-apa, aku hanya merindukannya, bye, thanks Jun!”

“Eh? Ap-“ aku langsung memutuskan sambungan. Sekarang semangatku untuk keluar jalan-jalan sudah semakin surut saja. Tinggal satu orang lagi, Sungra. Semoga dia tidak sedang bersama Taemin.

“Yobosaeyo?” Demi apapun yang ada di laptop mesum Hyukjae! Kenapa Taemin yang menjawab?! Kenapa?!

“YA!”

“YA! Kenapa kau berteriak padaku?!”

“Sungra! Mana Sungra?!” Oke, emosiku sudah memuncak sekarang. Yang aku hubungi daritadi adalah perempuan dan yang menjawab laki-laki semua?!

“Berhenti berteriak atau aku hancurkan kamus-kamusmu?!”

“Serahkan pada Sungra atau aku hancurkan komik-komikmu?!”

“Aish.. araa~ sepertinya mood-mu sedang buruk ya? Hhhaha!”

“Terserah,”

“Ah maaf, aku tadi sedang mengerjakan tugas, ada apa Na-ya?” Akhirnya suara Sungra yang aku dengar -_-

“Mengerjakan tugas? Sudah selesai belum?”

“Sudah sih, kenapa?” Aaah akhirnyaaaa~

“Mau temani aku jalan-jalan tidak? Hari ini, sekarang,kau boleh bawa Taemin itu, yayayaa?”

“Oooh begitu, oke! Eh tunggu sebentar, ayahku memanggil! Tunggu ya!” Yes! Akhirnya aku ada teman jalan-jalan!

Sembari menunggu Sungra kembali dari dipanggil ayahnya, aku mengobrol dengan Taemin. Tidak penting, melanjutkan masalah teriakkan tadi, dan aku minta maaf, hhehe.

“Halo? Raena? Mm.. maaf.. ayah dan ibuku baru saja pergi, dan aku disuruh jaga rumah dan adik-adikku. Aku tidak bisa keluar hari ini Na-ya.. maaf ya..” .__. .___. .____. ._____.

“Oh, iya, tidak apa-apa Ra-ya.. aku maklum kok. Yasudah, byebye~”

Tidak jadi kemana-mana. (T^T)

Drrt.. drrt..

Aku kembali mengambil ponselku yang tadi sudah tergeletak di kasur dengan lesu. Sudah tidak berharap itu SMS dari mereka berempat yang mengabarkan bisa, yang ada dipikiranku mungkin itu SMS promosi dari operator -__-

                From : Seunghyun

                Aku sedang ada di café, sangat ramai hari ini ^^

                Selamat berhari minggu, Na~

Aku tersenyum ketika membaca SMS itu. Hmm.. bagaimana kalau aku ke café saja ya? Sekalian melihatnya bekerja, pasti tampan! Hehehe..

***

Aku sudah berada di sekitaran café tempat Seunghyun bekerja. Ah, di sini juga Jiyoung oppa –teman Seunghyun dan kakak tingkatku- bekerja bersama Seunghyun. Jadi, bisa dibilang mereka berdua itu sangat dekat.

Aku langsung masuk dan langsung disambut dengan suasana yang lumayan ramai di sini. Karena ini masih siang –jam satu- dan hari minggu, jadi lumayan banyak pelanggan yang datang. Sialnya, banyak pasangan di sini.

Aku duduk dan mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru café dan akhirnya menemukan Seunghyun yang.. putih? Rambutnya putih?! Sejak kapan?! Kenapa putih?!

Aku menganga tidak percaya dengan pemandangan ‘rambut’ yang aku lihat. Oke, dia memang tetap tampan, tapi kenapa putih?!

Akhirnya Seunghyun menyadari keberadaanku. Dia sedikit tersenyum dan menghampiri tempat dudukku. Sial lagi. Lagi-lagi sial! Aku harus melihat pemandangan yang tidak enak lagi!

Seunghyun yang hampir sampai ke mejaku, dihampiri oleh gerombolan gadis-gadis-imut-lucu-manja-penyuka-oppa. Dengan dandanan yang oh-so-sweet dan wajah oh-so-cute mereka tidak menghiraukan pandangan pelanggan lain yang keheranan melihat mereka.

“Oppa~ kau yang semalam bernyanyi dengan Jiyoung oppa kan?” Tanya –manja- salah satu dari mereka.

“Ah, eh, i-iya,” Seunghyun menjawab dengan terbata-bata. Gugup di hadapan gadis-gadis itu huh?! Mati kau Seunghyun!

“Wuaah suaranya seksi sekaliii~ Oppa! Nyanyikan lagi bagian rap-mu di Baby Good Night seperti semalam doong~” mereka mulai menarik-narik –manja- kemeja kerja Seunghyun. Seunghyun terlihat mulai kebingungan dan sesekali melihatku. Kebingungan untuk meladeni yang mana dulu?

“Hei, jangan cemburu dong..” Aku menolehkan kepalaku dengan ekspresi kesal. Ternyata Jiyoung oppa, aku langsung memperbaiki ekspresi, aku segan dengan laki-laki ini.

“Mau pesan apa?” Aku kembali menatap Seunghyun yang masih dikerubungi oleh gadis-gadis-imut-lucu-manja-penyuka-oppa itu. Rasa bosanku memang hilang, tapi yang muncul malah.. aish!

“Aku ingin daging Seunghyun goreng, bisakah oppa?” Jiyoung oppa hanya tertawa pelan dan mengacak rambutku. Aku yang tidak tahan tersenyum kembali cemberut. Melihat si-tampan-berkarisma-suara-seksi itu masih dikerubungi oleh ‘fans’nya yang semakin tidak karuan tingkah mereka. Ada yang menarik-narik kemeja, ada yang mencubiti tangannya, bahkan ada yang mencoba untuk menciumnya!

Saat ada salah satu dari mereka meraih kerah kemeja Seunghyun dan berjinjit, Seunghyun dengan –bisa dibilang- kasar melepaskan tangan gadis itu dari kerahnya. Semua gadis-gadis yang mengerubunginya tadi langsung diam. Berbeda dengan Seunghyun, dia tersenyum ke arahku.

“Nona-nona, gadis di sana itu adalah gadisku, bisa kalian bersikap sopan di hadapannya? Dia orang yang tidak suka jika miliknya diganggu orang lain ketika bekerja, jadi maaf, aku harus kembali bekerja, terima kasih sudah mampir,” dengan senyumannya, Seunghyun berkata sopan pada mereka. Sopan? Tidak tahu juga sih.

Gadis-gadis ababil itu melihatku dengan tatapan sinis, aku balik lihat saja. Mereka kira aku ini akan ketakutan? Janga harap.

Perlahan, mereka pergi. Mereka masih melihatku tajam. Masa bodoh dengan mereka.

“Nah, sekarang pangeran tampanmu itu milikmu, ‘habisilah’ dia Raena-ya! Hhehe~” Jiyoung oppa tertawa sambil meninggalkanku. Sekarang, Seunghyun mendekatiku dan bermaksud meraih kepalaku, untuk mengacak rambutku.

Aku menepis tangannya sebelum sampai di kepalaku. Dia sedikit terkejut, tapi bukan Seunghyun kalau menyerah begitu saja. Dia mencubit pipiku dengan kuat. Dia ini ingin merobek kulit pipiku ya? -__-

“Bersikaplah sopan dengan pelangganmu,” mendengar itu, Seunghyun hanya tersenyum dan mengeluarkan notes kecil dan penanya.

“Pesan apa, nona?”

“Seunghyun goreng asam manis,” gumamku, dan ternyata dia mendengarnya.

“Apa?” dari nada suaranya aku tahu, dia mungkin kaget dengan ‘pesanan’ku.

“Tidak. Aku ingin.. pancake ukuran medium dua dengan saus es krim vanilla, lalu ukuran large-nya satu sausnya sama. Kalian jual jajjangmyeon kan? Aku mau satu. Lalu patbingsoo besar, yang paling besar, lalu jus jeruk satu, jangan terlalu manis. Selesai.” Aku mendongak untuk melihat ekspresi Seunghyun, dan tebak apa ekspresinya? Dia menaha tawa sekarang -___-“

“Aku tidak tahu kalau perut gadisku ini seperti karet! Hhhaha..” sambil tetap tertawa Seunghyun mencatat semua pesananku tadi. Aku serius, aku akan memakan semua itu. Aku lapar dan aku sedang emosi(?)

“Oh iya, kalau kau bertemu Seunghyun, tolong beri tahu dia kalau ada Kim Raena di sini, arasseo?” Baru saja Seunghyun ingin berbalik untuk menuju tempat disampaikannya pesanan, dia berbalik lagi ke arahku.

“Aku Seunghyun, kau ini tidak mungkin tidak mengenaliku kan?”

“Kau? Bukan, Seunghyun-ku rambutnya hitam kok,” dan dengan gaya arogan aku menyuruhnya pergi. Seunghyun sepertinya masih kebingungan dengan apa yang aku katakan. Kalau saja dia bicarakan dulu denganku mengenai warna rambutnya itu, mungkin aku tidak akan sekesal ini. Eh? Masa itu saja penyebab kekesalanku? Tidak, gadis-gadis tadi yang membuat emosiku ke puncak.

Aku mengeluarkan salah satu komik yang aku pinjam dari Sungra kemarin. Sebenarnya sudah aku baca tadi malam, tapi baca lagi saja tidak apa-apalah, sekalian menunggu pesanan.

“Hei, kau yakin akan makan semua ini?” Aku mendongakkan kepalaku dan mendapatkan Seunghyun yang sedang menaruh semangkuk jajjangmyeon dan jus jeruk di mejaku. Aku menutup komik Sungra dan langsung menyuruhnya pergi.

Dia tidak bergerak sama sekali, tidak pergi dari hadapanku. Dia malah memandangiku ragu dan kemudian duduk di hadapanku.

“Ya, ada apa?” Seunghyun mencoba meraih tanganku. Aku mau saja meraih tangannya, tapi mengingat aku sedang marah, tidak jadi.

“Nothing, mana pancake dan patbingsoo-ku? Kenapa kau malah duduk di sini? Tidak takut dimarahi bos-mu?” Aku mencoba untuk mengacuhkannya dan mulai meratakan saus di jajjangmyeon itu. Mungkin karena merasa diacuhkan, dia pergi.

“Hei, ini pesananmu! Kau ini lapar atau apa sih?” Sekarang Jiyoung oppa yang mengantarkan pesananku, tiga pancake dan satu patbingsoo besar. Ukh, aku mual membayangkan semua ini harus masuk ke perutku.

“Ya! Lihat semua ini, ckckck.. tubuhmu saja yang kurus, tapi makanmu bahkan lebih banyak dariku!” Jiyoung oppa meninggalkanku masih dengan mengomel tentang nafsu makanku yang besar ini.

Seunghyun tidak terlihat lagi dari gerombolan pelayan di sini. Kemana dia?

Saat aku mengedarkan pandanganku kesekeliling café, segerombolan gadis-gadis yang tadi mengerubungi Seunghyun datang lagi. Kali ini arah jalan ke arahku. Oh oke, masalah.

Brak!

Salah satu dari mereka berlima menggebrak meja tempat makananku berada. Oh ayolaaah, jangan merusak mood makanku!

“Kau!” Gadis dengan tampilan oh-so-glamour ini menunjuk mukaku dengan telunjuknya yang dipenuhi oleh cat dinding itu. Aku yang sedang mengunyah jajjangmyeon terakhirku memilih untuk meminum jus jerukku saja, masa bodoh dengan mereka. Lalu, dimana Seunghyun?

“YA! Lihat aku bocah rakus!” Bocah? Rakus? Aku ini lapar, tante bodoh. Aish, Seunghyun dimanaaa?

“Euh.. lihat! Tidak mungkin kau ini pacarnya our sexy Seunghyun! Kau ini hanya bocah kecil! Hahhaha!” What?! ‘Our sexy Seunghyun’?!

“Kau dengar kami tidak?!” Kali ini suara yang lain, yang agak cempreng dan lebih terdengar menyebalkan di telinga. Aku mendongakkan kepalaku dan menatap mereka satu persatu. Mereka memang terlihat lebih tua dariku, sepertinya seumuran dengan Seunghyun. Ah tidak, wajah Seunghyun lebih muda daripada mereka-mereka ini. Seunghyun! Dimana kau hah?!

Aku masih tidak menghiraukan ocehan-ocehan mereka. Sesekali aku melihat sekeliling, dan sialnya café ini mulai sepi. Apa tidak ada pelayan yang berani menghentikan tindakan pelanggan mereka ini?

“Ya, jangan mengharapkan bantuan ya, aku ini anak dari pemilik café ini, jadi yang ada di café ini adalah milikku, termasuk Seunghyun oppa, mengerti?” dan gadis kuku cat dinding itu menjentikkan telunjuknya di dahiku. Itu kuat, dan sakit. Aku terlalu terkejut untuk membalasnya, aku tidak pernah menerima perlakuan seperti ini, sekalipun waktu pelatihan taekwondo dan karate.

“Maaf, permisi, apa yang kalian lakukan padanya?” itu suara milik Seunghyun. Kenapa dia baru datang?

“Jyaaa oppa! Aigo-ya kami hanya berkenalan kok! Oppa ayo siniii kita main, ah di sini saja!”

“Oppa! Ayo kesana!”

“Oppa..”

“Oppa..”

“Oppa..”

BRAK!

Aku, aku yang menggebrak meja tadi, tidak salah kan? Lebih baik aku segera meninggalkan tempat ini daripada rasa takutku hilang dan diganti dengan rasa ingin mencekik gadis-gadis itu.

“Oppa, tolong kau bungkuskan satu pancake ini dan patbingsoo ini, harus bisa!” Aku sudah berada di meja kasir setelah menyuruh Jiyoung oppa untuk membungkuskan makananku yang tersisa. Terserah patbingsoo itu bentuknya tidak cantik lagi atau pancake itu sudah tidak enak untuk dimakan lagi, yang penting harus ada yang aku genggam atau makan selama emosi ini masih ada.

“Ini, kembaliannya ambil saja, terima kasih..” si penjaga kasir itu bengong melihatku. Jiyoung oppa menghalangiku untuk pergi. Untuk apa? Untuk melihat Seunghyun yang masih dikerubungi oleh lima gadis itu? Tanpa perlawanan pula, apa perasaannya?

“Raena!” itu teriakan Seunghyun. Ah ya, jangan kira aku akan berbalik dan melihat kau sedang bersenang-senang dengan gadis-gadis itu Choi Seunghyun. Nikmati saja harimu.

***

Aku menenteng bungkusan patbingsoo di tangan kiriku, sedangkan pancake tadi aku makan saja tanpa peduli vanilla yang ada di pancake itu meleleh di tangan kananku. Mungkin setelah makan ini aku harus cuci tangan.

Entah aku mau pergi kemana. Ini baru jam dua siang lewat beberapa menit, dan aku belum mau pulang ke rumah. Aku juga tidak mungkin kembali lagi ke café itu, tidak ada gunanya.

Aku terus berjalan, sekali lagi aku tegaskan aku tidak tahu mana kemana. Rambut putih dan gadis-gadis itu merusak semua mood dan rencana yang aku ciptakan hari ini. Harusnya hari ini aku menikmati wajah Seunghyun ketika bekerja, harusnya hari ini aku memesan makanan banyak untuk aku bagi bersama Seunghyun, harusnya gadis-gadis itu tidak menyentuh bagian dari Seunghyun yang aku sukai, lehernya. Harusnya ya Seunghyun itu bersamaku hari ini! Aaaaa gilaaaa! Pikiranku mulai ngelantur! =___=”

“Na!” Aku menoleh dan mendapati Seunghyun, dengan motor yang masih dikendarainya. Menggiringku?

Aku mempercepat langkahku, menjauhi Seunghyun yang sebenarnya percuma. Hei dia itu naik motor dan aku jalan kaki! -__-

“Naik,” mau tapi mau(?) aku pun naik. Dia menggenggam tanganku soalnya, tangannya itu memang berbahaya. Masih dengan menggenggam tanganku, tangannya yang satu lagi memakaikan helm dengan baik.

“Pegangan,”

“Tidak mau,”

“Nanti jatuh,”

“Apa pedulimu?,”

“Aku peduli, makanya pegangan,”

“Tidak mau,”

“Aish kau ini..” Seunghyun menoleh ke belakang dan mulai meraih tanganku, lalu dilingkarkannya tanganku di pinggangnya, alhasil patbingsoo yang aku idam-idamkan jatuh. -__-

“Pegangan yang kuat,”

***

Ternyata taman ini tujuannya. Tidak terlalu ramai, tapi karena ini hari minggu, jadinya banyak pasangan-pasangan di sini. Mana semuanya lagi bemesraan, sedangkan aku sedang menahan emosi dengan makhluk di sampingku ini.

“Ini,” Seunghyun memberikanku es krim. Bukan patbingsoo sih, tapi lumayanlah.

“Kenapa tadi langsung pergi?” Oh oke, ini perasaanku saja atau apa, dia sedang menatapku ya? Tidak mau balas ah, nanti marahku hilang.

“Hei, lihat aku..” Malas-malasan aku melihatnya, masih dengan mengemut(?) es krim yang tadi diberikannya. Mataku tidak bertemu dengan matanya, yang jadi pusat perhatianku sekarang adalah rambutnya. (bayangin aja rambut TOP yang di acara parody Secret Garden, ganteng *plak!)

“Ya! Ya! Ya!” Seunghyun mencoba melepaskan tanganku dari rambutnya yang aku.. jambak. Tingkahku seperti anak kecil? Biar saja!

“Rambutmuuuuuuu!!” mungkin sudah banyak orang yang melihat kami dengan pandangan aneh sekarang. Masa bodoh dengan mereka, yang penting aku puaskan dulu menyiksa rambutnya.

“Sudah puas?” Akhirnya usaha Seunghyun berhasil, tanganku terlepas dari rambutnya. Sudah, sudah puas, sangat puas, eh, belum juga sih, ada satu lagi. Ada satu hal lagi yang membuatku naik darah hari ini.

Masih dengan es krim di mulutku, aku mengecek wajahnya, dan yang paling penting, lehernya.

“Aaa aku mengerti. Hhahaha dasar, kau ini..” dengan cepat Seunghyun memindahkan kedua tanganku ke lehernya. Posisi ini sungguh aneh, aku seperti seorang gadis kecil dengan es krim di mulutnya yang dengan ganas ingin ‘menyerang’ laki-laki di hadapanku ini.

“Jadi, sekarang ceritakan apa yang membuatmu seperti ini, aku akan mendengarkan,” Seunghyun mengambil es krim yang ada di mulutku dan malah dia yang memakannya, curang.

Masih dengan posisi tadi, aku mulai bercerita tentang kekesalanku dengannya karena mengubah warna rambut tanpa memberitahuku dulu. Bukan aku sok mengatur hidupnya, tapi setidaknya aku sudah berantisipasi dengan ketampanannya yang akan bertambah. *plak!

Aku juga mengatakan kalau aku tidak suka dia dikerubungi seperti tadi. Mereka menyentuh Seunghyun seenaknya saja dan malah mengataiku ‘bocah rakus’. Mereka pikir aku suka? Tujuanku setelah marah-marah dengan Seunghyun dan memesan banyak makanan tadi adalah mengajaknya makan juga, tapi entah kenapa emosiku tidak bisa diajak kompromi.

“Jadi kau cemburu?” es krim tadi sudah habis dimakan olehnya. Mendengarkanku berceloteh mungkin membuatnya lapar. Aku hanya mengangguk pelan, ini pertama kalinya aku cemburu sebesar ini sampai bertindak seperti anak kecil.

“Kemajuan pesat, hehhe..” aku melepaskan tanganku dari lehernya dan memilih untuk bersandar di bahunya. Kemajuan pesat ya? Iya juga sih. Biasanya kalau aku cemburu, hanya akan bertanya wanita itu siapa dan dia akan menjelaskan lalu tidak aku pikirkan lagi. Kali ini berbeda, aku tidak suka dia digoda seperti itu oleh wanita lain. Apalagi.. mereka lebih cantik dan terlihat dewasa dariku.

“Nanti kau tertarik dengan mereka bagaimana? Mereka cantik, seksi, lebih berisi, seumuran denganmu, dan setiap hari bisa bertemu denganmu. Kau dan aku kan hanya bisa bertemu hari minggu dan beberapa waktu senggang, kalau kau tidak sibuk..” suaraku makin mengecil mengingat apa-apa saja kemungkinan yang bisa terjadi.

“Hei, kata Jiyoung tadi mereka menyentuhmu ya? Bagian mana?” Seunghyun menjauhkan kepalaku daru bahunya dan menangkupkan kedua tangannya di pipiku. Aku hanya mempraktekkan apa yang dilakukan salah satu gadis tadi terhadapku pada Seunghyun.

“Kau ini.. kenapa tiba-tiba manja seperti ini? Hhahaha~”

“Tidak boleh ya?” Seunghyun makin keras tertawa. Yaah aku jadi bahan ejekan ya? Apa menjijikkan melihatku manja ya? Ya sudah, tidak lagi deh.

“Tentu saja boleh Na-ya~ Aku malah senang! Hhaha.. aku kira kau hanya bisa serius selama ini, jadi aku gunakan rambut ini sebagai pemancing. Bagaimana? Baguskan?” Ooh begituu.. Itu trik-nya ya? Bagus juga, bagaimana kalau aku cat rambutku jadi merah? Atau kuning? Ah jangan, bukan dia yang marah, bisa-bisa ayah mengusirku dari rumah karena mengira aku bukan anaknya -__-

“Benarkah? Dasar..” Aku dan Seunghyun tertawa bersama, mengingat tingkahku hari ini dan kekesalan gara-gara gadis-gadis tadi. Eh, ngomong-ngomong, kenapa dia bisa keluar? Aish, bodoh kau Raena! Dia bolos kerja?!

“Ya, kenapa kau bisa keluar di jam kerja seperti ini? Kau bolos?” Seunghyun menarik pinggangku lebih dekat, menyuruhku untuk bersandar di dadanya, dan dia menaruh kepalanya di atas kepalaku. Otomatis, aku bisa mendengar detak jantungnya dan menghirup aroma tubuhnya. Kenapa aku ingin menangis?

“Saat melihatmu seperti sedang marah padaku, aku pikir aku harus menemanimu saat itu juga. Makanya aku menghilang saat kau diganggu oleh mereka, saat itu aku sedang izin dengan bos dan meminta shift malam padanya, agak sulit tapi syukurlah boleh, lalu aku ganti baju, dan saat keluar aku melihatmu duduk sendirian dikerubungi oleh mereka..”

“Saat mereka semua menahanku, dan kau pergi.. untunglah ada Jiyoung yang mencoba untuk membujuk mereka bermain bersamanya, entah apa yang dilakukan Jiyoung, tapi yang jelas aku harus berterima kasih padanya, hhehe..” Seunghyun mengakhiri ceritanya. Aah maaf Seung-ah, aku kira kau keasyikan dengan mereka ;__;

Setelah itu, tidak ada yang mulai berbicara, suasana hening. Sama seperti suasana taman ini yang tidak begitu banyak pengunjung. Aku hanya mendengar detak jantung laki-laki ini saja.

“Hei..”

“Apa?”

“Tetap percaya padaku kan?” Aku mengangguk, dan dia pun mengeratkan pelukannya.

“Baguslah.. katakan saja apa yang kau tidak suka padaku, akan aku perbaiki, mengerti?”

“Iyaaa.. kau juga..” Seunghyun hanya tertawa kecil. Hei Choi Seunghyun, aku serius akan mengatakan semua yang aku mau padamu, termasuk, tetaplah ada untukku. Sepertinya aku butuh pelukan dan nasihatmu setiap hari loh, hhehe..

“Hei, panggil aku ‘oppa’ lagi,”

“Tidak mau,”

“Dasar,”

Dan satu kecupan manis mengakhiri konflik hari ini, hehhe. ^^

***besoknya..

“Ayah! Masa sakit hanya gara-gara memancing sih?” pagi-pagi sekali aku sudah dikejutkan dengan kondisi ayahku yang sedang demam. Tidak terlalu tinggi sih, tapi tetap saja ibu heboh -__-

“Yasudah, aku berangkat sekolah sendiri saja ya, aku pergi dulu..”

“Hati-hati di jalan sayang~” teriak ibuku dari dalam kamar. Aku hanya langsung menuju pintu dan memilih untuk ke halte bis terdekat. Semoga tidak kehabisan bis.

“Hei! Ayo naik!” Itu suara milik Seunghyun. Saat aku berbalik, kejutan kedua pagi ini. Rambutnya kembali hitam! Hhahaha XD

“Okee.. pegangan Na-ya~”

Hhehehe~ sepertinya dia sangat tahu cara menyenangkanku. Akan aku balas nanti, Seunghyun. ^^

FIN!

ff perdana tentang SeungNa yang saya buat! >< dan saya seneeeeeenngg banget waktu buat ni ff XD

maaf kalo ada typo, cerita nggak jelas, dan kalo ceritanya maksa, maklum, author lagi kesengsem sama di laki-laki >///<

akhir kata(?), mohon kritik dan saran melalui kotak komen(?) hhehehe ^^

terima kasiiiih 🙂

Advertisements