Tags

, , , , ,

Main Cast : Lee Taemin/Lee Sungra

Other : Cho Kyuhyun/Kim Raena, Lee Hyukjae/Masami Ayako

Rate : PG15 (ada beberapa kata-kata yang.. u-know lah Xp)

Genre : Family, Romance

Enjoy!

Hope you’ll like it! 😀

@Lee’s House

*Sunday, 6am

Baru saja aku membuka mata, orang yang biasanya belum bangun di sampingku malah sudah hilang entah kemana. Taemin itu, semangat sekali ternyata.

“Ra~ Ra~ Ayo kita bangunkan Jinho.. Ra-ah~ ireona..” untuk menghindari Taemin bertindak aneh -seperti mengguncang kasur sambil lompat-lompat- untuk membangunkanku, aku langsung saja bangun dan menuju dapur untuk memasak hari ini. Biarkan Taemin saja yang membangunkan Jinho.

Ah iya, Jinho biasanya makan apa ya pagi-pagi? Tanya eomma-nya saja lah.

***

Taemin sudah membangunkan Jinho dan aku juga sudah membuat makanan yang biasanya dimasak oleh Raena onnie untuk Jinho, pancake dengan sirup.. err.. strawberry dan tomat yang diblender. Oke, aku tidak tahu rasa macam apa yang akan ada, tapi Raena onnie bilang jangan sampai Jinho tahu kalau ada tomat, pokoknya buat semirip mungkin dengan strawberry lalu campurkan di atas pancake. Memang sih, Jinho tidak suka tomat, wortel, dan sayur-sayuran sama seperti appanya, tapi tidak begini juga kan caranya? -__-

“Woaa~ ahjumma buat pancake!” Jinho yang matanya tadi masih mengantuk langsung semangat menghampiri meja makan. Taemin juga tidak kalah semangat seperti Jinho, tidak mau kalah saingan ya? Hhehhe..

Jinho langsung duduk manis -begitu juga Taemin- dan menadahkan kedua tangannya dengan tampang aegyo untuk menerima piring pancake kesukaannya -begitu juga dengan Taemin, lagi. Aku seperti mengurus dua anak kecil di sini.

Aku ikut duduk dan memerhatikan Jinho yang makan dengan lahap, tidak ada kecurigaan sama sekali akan adanya tomat di sana.

“Ahjumma, tahu darimana aku suka makan pancake kalau pagi? Apalagi sausnya, hampir sama dengan buatan eomma!” Jinho tetap saja makan dengan lahap dan sesekali Taemin mengganggunya makan. Melihat pemandangan ini membuatku tersenyum, mereka berdua lucu sekali, apalagi Jinho.

“Jinho-ah, hari ini kita akan jalan-jalan! Appa akan mengajakmu berkeliling! Otthe?” Jinho yang mendengar itu menghentikan kegiatan makannya dan menatap Taemin dengan tatapan jengkel, mungkin karena acara makannya terganggu. Jinho lalu menatapku, tapi berbeda dengan caranya menatap Taemin tadi. Jinho menatapku dengan mata anak kecil pada umumnya, atau lebih tepatnya jurus aegyo! Wuaa~ aku baru tahu anak Kyuhyun oppa bisa selucu ini! ><

“Eomma~ waktu jalan-jalan nanti, aku bersama eomma yaa~” E-eh?

“M-mwo?” aku terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Jinho tadi. Dia memanggilku apa? Eomma?!

“Wuaaah dia memanggilmu eomma Ra-ah! Sekarang panggil aku appa Jinho-ah~”

“Shireo~ Hyung habiskan saja makanan hyung, aku mau sama eomma~” Jinho langsung mendekatiku dan dengan lucunya menaruh piring pancake-nya di sebelah piringku. Tanpa peringatan atau apapun itu namanya, dia naik ke pangkuanku dan menyuruhku menyuapinya. Ada apa dengan anak ini?!

***

*8am

Taemin ternyata membawa kami ke taman di dekat rumah. Kami menaiki sepeda -atas usul Jinho- karena udara hari ini sangat menyegarkan. Di taman, banyak sekali anak-anak bermain yang ditemani oleh orang tuanya. Taman ini juga sering dipakai untuk jogging atau sekedar jalan-jalan pagi, seperti pagi ini.

Kami memarkirkan sepeda kami, Jinho terus menempel padaku dan tidak memerdulikan Taemin yang terus mengomel atau membujuk Jinho untuk memanggilnya ‘appa’.

Jinho menarik tanganku untuk berlari-lari kecil dan aku pun menurutinya. Taemin mengekor di belakang kami, masih dengan wajah kusutnya gara-gara Jinho masih tidak mau memanggilnya appa.

“Hyukjae hyung! Ayako!” Taemin berteriak dari belakang kami. Dia melambai pada sepasang suami istri yang tentu saja sudah kami kenal dengan baik. Pasangan itu balas melambai dan perlahan mendekat ke arah kami. Kenapa perlahan? Jelas saja, sang istri sedang hamil walaupun baru satu bulan -__-

“Woaa Taemin-ah, Sungra-ah, lari pagi juga?” Hyukjae oppa -sambil menggandeng Ayako- menghampiri kami. Ayako langsung menghampiri Jinho dan mengacak rambut anak itu dengan gemas. Dengan hadirnya dua orang ini, kami pun tidak jadi lari-lari kecil, kami hanya berjalan-jalan pelan mengitari taman karena harus menyesuaikan dengan keadaan Ayako.

“Mana Raena onnie dan Kyuhyun oppa? Kenapa hanya ada Jinho saja di sini?” tanya Ayako sambil menggandeng tangan Jinho sebelah kiri, dan aku sebelah kanan(?). Taemin masih mengobrol dengan Hyukjae oppa, temanya pasti kantor, tidak jauh-jauh dari itu.

“Jinho menginap di tempat kami Aya-chan, jadi anak sehari, hhehe~” Ayako hanya ber’O’ ria dan sesekali mengelus perutnya yang belum ada buncitnya itu sama sekali. Ayako bercerita tentang bagaimana hari-harinya setelah Hyukjae oppa tahu kalau dia sedang hamil. Mulai dari perhatian yang berlebihan, penjagaan ketat, tidak boleh terlalu capek dan sebagainya yang terkadang membuat Ayako jengah, tapi Ayako memahami itu, karena ini anak pertama mereka.

Jujur, aku iri .__.

“Tapi Ra-ah, punya anak sendiri dengan meminjam anak orang lain itu rasanya berbeda loh..”

Jleb!

“Ehehehe~ jangan memasang ekspresi seperti itu.. aku kan hanya berkata yang sebenarnya, jadi saranku untukmu dan Taemin itu kali–”

“Ya! Araaaa! Jangan dibahas soal itu ah!” Ayako hanya nyengir tidak jelas dan kembali ngobrol dengan Jinho. Aku sudah tahu apa yang akan dibicarakan Ayako, menyuruh kami untuk ‘membuat’ anak sendiri. Ini topik yang masih aku hindari, aku masih canggung untuk membicarakan hal ini, entah karena apa.

“Wah, sepertinya sudah cukup siang. Sudah jam sembilan. Kami pulang duluan ya~” Ayako berpamitan padaku dan Jinho lalu menghampiri Hyukjae oppa yang masih sibuk berdebat dengan Taemin entah masalah apa.

“Jinho-ah, kita dekati appa yuk!”

“Ani~ ‘hyung’, bukan ‘appa’,”

“Ara~ Kajja!” Aku pun menarik tangan Jinho menuju Taemin yang masih ‘ngedumel’ tentang apa yang dia bicarakan dengan Hyukjae oppa tadi.

“Min-ah.. waeyo?”

“Ah? Wae? Ani.. aniyo~ Wah sudah siang! Ayo pulang! Ganti baju, lalu kita pergi jalan-jalan, otthe Jinho-ah?” Jinho terlihat berpikir, terlihat dari matanya yang menyipit itu. Tiba-tiba, dia mengeluarkan ‘evil smirk’ milik appa-nya, sangat mirip -__-

“Oke! Eomma, kajja!” Jinho menarik tanganku dan mengajakku berlari menuju tempat parkir sepeda kami dan meninggalkan Taemin. Aigo~ cute! ><

“Ya! Appa tidak diajak?!”

***

*11am

Setelah istirahat beberapa saat, kami memutuskan untuk berjalan-jalan. Sebenarnya bukan rencanaku, aku lebih memilih di rumah dan bermain dengan Jinho dengan cara sederhana karena akan lebih bisa mendekatkan diri dengan seorang anak. Tapi Taemin berbeda, dia bilang harus ada sesuatu yang membuat Jinho tertarik dan mau memanggilnya ‘appa’.

“Jinho-ah, kau suka komik kan? Kita akan ke pusat komik terbesar di sini! Kajja!” Taemin langsung menggendong Jinho yang otomatis berontak. Terang saja Jinho berontak, Taemin menggendongnya seperti ingin menculik saja -__-

“Eomma~! Selamatkan aku dari Taemin hyung~!”

***

@Lee’s Car

“Aku tidak mau komik hyuung~” Taemin yang baru saja memasang sabuk pengamannya langsung melihat Jinho yang duduk di sampingnya. Aku juga berpikir begitu, untuk apa mengajak Jinho ke tempat komik-komik berada? Raena onnie kan staf penerjemah komik-komik jepang, jadi sudah pasti Jinho sudah membaca semua komik yang dia suka dari eomma-nya kan? .__.

“Iya Min-ah.. aku pikir lebih baik kita makan saja dulu, ini sudah cukup siang..” Jinho mengangguk semangat dan itu membuatku mencubit pipinya pelan. Ekspresinya pertama tidak senang, tapi berubah lagi menjadi cemberut dengan mengembungkan(?) kedua pipinya seperti mochi. Tambah lucuuuu~

“Oh? Baiklah! Jinho suka makan apa?” Jinho menampakkan ekspresi berpikirnya lalu ‘evil smirk’nya lagi. Aneh, ini mencurigakan -_-

“Pizza!” He?!

“Aigo~ Siang-siang begini makan pizza? Tidak boleh! Kau harus makan yang ada nasinya, arasseo?” bisa-bisa aku kena ceramah panjang oleh Raena onnie kalau tahu anaknya dibolehkan makan pizza sebagai menu makan siang. Raena onnie selalu mementingkan menu yang ada nasinya untuk makan siang Jinho, begitu yang aku tahu.

“Tapi dia suka Ra-ah~ Kajja! Kita makan pizza!”

“Ya! Kau ini bagaimana! Jinho itu kalau siang harus makan nasi Min-ah!” aku memukul lengan Taemin pelan, tidak berani terlalu kuat karena ada Jinho di sini.

“Tapi dia suka pizza Sungra sayang~ Sudahlah, lagipula ini sudah siang, kita langsung saja ke Pizza Hut. Oke?”

Aku melengos, kesal dengan keputusan Taemin ini. Bagaimana bisa dia tidak memikirkan apa yang dibutuhkan Jinho? Pizza itu kan makanan selingan, mana termasuk makanan cepat saji pula. Aish!

***

@Pizza Hut

*11.30am

Kami sudah memesan dua pizza ukuran medium yang isinya penuh daging. Hanya daging. Taemin memulai aksi ‘mengambil hati’ Jinho dengan memotongkan pizza dengan ukuran lumayan besar. Aku yang duduk di samping Jinho bisa melihat ekspresi Jinho yang kurang tertarik dengan makanan itu. Dia seperti mau tak mau menerima pizza itu ada di piringnya.

“Nah, sekarang kau panggil aku ‘appa’ ya~” Taemin kembali meminta ‘imbalan’ atas tindakannya. Jinho, seperti biasa tidak memerdulikan Taemin dan malah menatapku dengan kiddy eyesnya. Jinho mengisyaratkan agar aku mendekatkan telingaku padanya, dan seperti ingin membisikkan sesuatu.

“Eomma, aku tidak mau makan ini~” Jinho menjauhkan mulutnya dari telingaku dan melirik pizza yang sudah ada di piringnya. Taemin menatap kami curiga, tapi masih melanjutkan makan, walau dengan wajah cemberut.

“Wae?” tanyaku pelan dan Jinho kembali membisikkan sesuatu.

“Appa dan eomma hanya mengizinkan makan pizza sore hari, aku sudah terbiasa dengan itu eomma~” aku hanya mengangguk, tapi mau bagaimana lagi, masa Jinho tidak makan?

“Kau makan saja bagian pinggirnya ya.. atau tetap mau makan semua? Makan saja ya Jinho, nanti kau kelaparan..” dan Jinho pun dengan berat hati mengangguk. Aku heran, kenapa dia menjawab pizza tadi ketika Taemin bertanya?

“Eomma~ suapi~” baru saja aku ingin menyuapi Jinho, Taemin malah menyerobot dan langsung menyodorkan sepotong besar pizza ke mulut Jinho.

“Ya! Hyung!”

“Waeyo? Aku kan juga ingin menyuapimu Jinho-ah.. Ayolaaah~” mungkin karena kasihan, Jinho akhirnya membuka mulutnya dan melahap pizza yang disuapi oleh Taemin tadi. Memalukan! Taemin langsung berteriak kegirangan setelah menyuapi Jinho! Aku harus menengkan ‘euforia’ tidak beralasan Taemin ini sebelum pelanggan lain lebih banyak yang menatap aneh ke arah kami.

“Kau ini apa-apaan Min-ah? Buat malu saja!” yang ditegur malah senyum-senyum tidak jelas. Dasar!

***

*12.45pm

Sudah hampir jam satu siang. Taemin mengajak Jinho untuk bertanding game. Sekali lagi, demi dipanggil ‘appa’. Kami meninggalkan mobil kami di lapangan parkir tempat makan siang kami tadi, karena tempat yang akan dituju tidak jauh dari sini.

“Min-ah, kau yakin ingin bertanding game dengan anak master game?”

“Tenang saja, walaupun aku sering kalah bertanding dengan appa-nya, tapi kalau hanya anak umur enam tahun, aku yakin bisa Ra-ah~” Taemin berkata yakin dan langsung menuju game center yang ada di dekat sini. Taemin berjalan di depan, sedangkan aku bersama Jinho bergandengan mengekori Taemin.

Aku jadi penasaran, kenapa Jinho dengan mudahnya memanggilku ‘eomma’ sedangkan Taemin yang biasanya lebih dekat dengan Jinho malah sulit sekali untuk dipanggil ‘appa’ oleh Jinho. Apa aku tanyakan saja ya?

“Jinho-ah~” Jinho menoleh dan sedikit mendongak. Matanya seperti mengisyaratkan ada-apa-cepat-katakan padaku. -__-

“Kenapa kau mudah sekali memanggilku eomma?” aku gugup menanti jawabannya. Entah karena apa, tapi senyum Jinho yang misterius itu membuatku semakin penasaran dengan alasannya.

“Rahasia..”

Ya sudahlah, mungkin aku harus menahan rasa penasaran. Setidaknya aku tahu bagaimana rasanya dipanggil ‘eomma’ dan menjadi tempat bermanja seorang anak. Rasanya.. mengharukan.

***

@Game Center

*5pm

Jinja! Yang benar saja! Aku seperti patung penuh lumut di sini! Menunggui dua penggila game itu bermain berjam-jam! Sendirian! Dan apa pula itu?! Nama permainan yang dibuat Taemin ituu… Aish! Game ‘panggil aku appa’ itu sungguh konyol! Mereka berdua bertaruh siapa yang kalah harus menuruti perintah yang menang tanpa bantahan. Daritadi mereka berkeliling tempat ini untuk bertanding, aku tidak tahu siapa yang menang siapa yang kalah. Aku tidak peduli! Aku ingin pulaaaaaangg (T_T)

Tak terasa sudah jam lima sore. Sepertinya aku harus berusaha lagi menarik Taemin untuk menghentikan game konyolnya ini. Jinho harus pulang dan istirahat. Setidaknya untuk berjaga-jaga agar dia tidak sakit karena tidak makan nasi tadi.

Aku mengedarkan pandangan mataku keseluruh penjuru tempat ini. Dimana mereka berdua? Apa aku melewatkan satu tempat? Ah iya, tempat hadiah!

“Ra-ah! Aku menang! Hehhehe~” Taemin memamerkan semua hadiah yang dia dapat dan di sebelahnya Jinho hanya menatap boneka panda Po dengan pandangan tertarik. Tidak ada raut wajah sedih ataupun jengkel atas kekalahan yang didapatkannya, Jinho malah bermain dengan boneka panda itu dan memeluk boneka itu erat-erat. Apa dia juga suka boneka?

“Nah sekarang, karena aku menang, kau panggil aku ‘appa’! Oke? Hhehehhe~”

“Tidak mau..” Aku sudah tahu jawaban yang akan diberikan oleh Jinho seperti ini. Sepertinya Taemin sudah kesal kali ini, karena dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dari Jinho, bercampur cemburu padaku karena aku dipanggil eomma, dan mungkin dia merasa usahanya untuk mengambil hati Jinho sia-sia. Taemin langsung keluar tempat ini dengan wajah cemberutnya mendahului kami.

“Jinho-ah, kenapa tidak mau memanggilnya appa? Sekaliii saja.. yayaya~” Aku berusaha membujuk Jinho, kalau-kalau saja dia mau. Sayangnya tidak, dia menggeleng dengan cepat ketika aku menyelesaikan kalimatku tadi. Apa penyebabnya sih?

“Rahasia..” -__- Apa tidak ada kata-kata lain selain ‘rahasia’ ketika aku menanyakan tentang ini ya?

“Kau ini.. kan suamiku sudah memenangkan game, harusnya yang menang bisa dapat apa saja yang diinginkannya kan?” Aku mulai menggandengan tangan kiri Jinho dan berjalan keluar menyusul Taemin yang berada di depan kami, masih merajuk. Jinho tidak menjawab, tetap asyik dengan boneka panda itu.

“Aku memang tidak berniat menang kok eomma, hanya ingin mengumpulkan poin untuk mendapat boneka Po ini..” Jinho memamerkan boneka itu padaku dengan senyumannya. Aku juga ikut tersenyum, apa lagi dia menambahkan kalau boneka itu untuk Raena onnie, penyuka Kungfu Panda dan tokoh favoritnya tentu saja beruang gendut bernama Po itu.

“Jadi untuk eomma-mu ya? Anak baik~” Aku mengacak rambut Jinho pelan dan dia hanya tertawa. Untuk kali ini, aku iri dengan Raena onnie. Jinho tahu apa yang disukainya, dan Jinho mau kalah hanya untuk mendapatkan apa yang Raena onnie suka. Melihat yang seperti ini saja menyenangkan, bagaimana kalau aku mengalaminya juga ya?

“Ah! Ini untuk eomma. Aku tidak tahu eomma suka apa, aku hanya menebak saja sih. Bagaimana?” Aku menerima benda kecil itu dari Jinho. Sebuah mainan kecil berbentuk salah satu tokoh komik kesukaanku.

“Wu-wuah~ Aku, eh eomma suka ini Jinho-ah~ Saaangat suka! Terima kasih Captain~ Hhehehe..” Benda ini kecil, sederhana, bisa aku beli kapan saja. Bedanya, benda ini diberikan oleh seorang anak yang memanggilku ‘eomma’. Berbeda, sangat berbeda rasanya.

“Taemin hyung jalannya cepat sekali ya, hahhaha~” Aku menyipitkan mataku untuk melihat Taemin yang jaraknya lumayan jauh dari kami. Dia sedang menyebrang jalan bersama para pejalan kaki yang lainnya, karena hari ini minggu, jadi ramai sekali pejalan kaki hari ini.

“Aah.. Kajja! Kita susul dia! Sebentar lagi lampu hijau!” Aku sedikit menarik tangan Jinho untuk mengajaknya berlari kecil menerobos orang-orang yang entah kenapa sangat ramai. Aku menggenggam tangan Jinho kuat, agar dia tidak terlepas dan hilang. Aku sedikit kesulitan karena beberapa kali menabrak tubuh orang-orang yang berlarian untuk menyebrang.

“Haah~ untung saja bisa cepat ya Jinho~” Aku melihat lampu lalu lintas yang sebentar lagi akan menunjukkan warna hijau bagi pengendara kendaraan bermotor. Taemin menghampiri kami walaupun masih dengan wajah cemberutnya. Baru saja akan berjalan menjauhi jalanan, Jinho melepas genggaman tanganku, dan dia..

“JINHO AWAS!”

“JINHO!!”

CIIIITT!

BRUK!

***

@Lee’s House, Living Room

*8pm

Aku dan Taemin duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Kami berdua sama-sama diam. Masih mengkhawatirkan bagaimana kondisi Jinho. Tidak, dia tidak apa-apa, memang tidak apa-apa. Tapi untuk anak seumuran Jinho, kemungkinan trauma dan ketakutan kemungkinan besar akan ada.

Jinho kembali lagi ke jalan karena boneka panda itu terjatuh saat kami menyebrang. Taemin menarik tangan Jinho dengan cepat ketika mengetahui rambu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau. Mobil yang tepat berada di dekat Jinho langsung meng-rem mobil yang akan dilajukannya dengan cepat. Untunglah tidak terjadi apa-apa. Aku hanya bisa mematung saat itu, tubuhku terlalu kaku untuk bergerak saat Jinho melepas genggamanku.

“Tuan Lee, Nyonya Lee. Tuan muda Cho ingin bertemu dengan anda di kamarnya,” Shin ahjussi menghampiri kami berdua. Kami langsung menuju kamar untuk Jinho selama berada di sini yang berada di lantai dua dengan cepat. Setidaknya dia sudah bangun dari tidurnya, mungkin dia sudah tenang.

Tok tok tok

“Masuk saja~” Aku dan Taemin pun masuk kamar itu dan dapat melihat Jinho yang sudah berpakaian rapi. Mungkin dia ingat akan kami antar pulang malam ini. Dia terlihat biasa saja, tidak ada tanda-tanda ketakutan atau raut wajah pucat sama sekali.

Aku dan Taemin duduk di pinggir kasurnya, dan Jinho duduk di tengah-tengah ranjangnya.

“Hyung~ aku.. ingin mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih sudah menyelamatkanku tadi,” Jinho tersenyum dan Taemin hanya mengacak rambutnya asal. Tidak ada ‘panggil aku appa’ lagi kali ini.

“Untuk eomma~ mianhae.. sudah membuatmu khawatir, hehhe..” Aku mencubit pipinya kuat dan dia meringis kesakitan, hhehehe.

“Kalian berdua tidak seburuk yang aku kira. Kalian.. sudah cocok untuk menjadi orang tua, hanya saja masalahnya ada pada Taemin hyung..” Taemin menyimak dengan serius, sama sepertiku. Sepertinya Jinho akan menjelaskan semua pertanyaanku tadi siang.

“Sungra ahju- eh noona, kenapa menyajikanku pancake tadi pagi? Apa pendapatmu tentang saus tomat pancake itu?” Aku berpikir sebentar, memikirkan pendapatku tentang saus pancake itu lebih tepatnya. Mengherankan memang dia bisa tahu tentang saus tomat ‘blender’ ada di pancakenya tadi pagi.

“Aku menelepon eomma-mu Jinho-ah. Dia bilang kalau makanan minggu pagimu itu pancake.. soal saus ituu.. mm.. sebenarnya agak aneh, tomat, tapi aku pikir kau memang harus makan makanan yang baik, ya kan?” jawaban yang kacau menurutku. Apa tanggapan Jinho ya?

“Nah! Itu dia kenapa aku memanggilmu ‘eomma’! Sungra noona tidak menyingkirkan tomat karena tahu itu yang aku butuhkan, mengerti?” Aku menggeleng. Tidak mengerti. Ini aku yang tidak mengerti atau kalimat anak ini yang terlalu ‘anak kecil’?

“Aku rasa tidak..”

-_____-”

“Baiklaah~ sepertinya aku harus menjelaskan semuanya. Di sini, aku menguji noona dan hyung, apa kalian sudah cocok jadi orang tua atau belum. Sebenarnya sudah cocok, apalagi noona, tapi Taemin hyung..” jeda sebentar, Jinho menatap Taemin tajam.

“Hyung memang calon orang tua yang baik, menyayangi anaknya, tapi, bukan berarti sayang anak itu harus memberikan apa saja yang anak itu sukai. Hyung harus memerhatikan apa yang anak itu butuhkan, bukan sukai. Seperti saat makan siang tadi, hyung hanya tanya apa yang aku sukai dan tidak mendengar ocehan Sungra noona tentang makanan yang harusnya aku makan pada siang hari..” jeda lagi, sepertinya dia sudah menyiapkan kalimat-kalimat panjang yang membingungkan ini. Dasar.

“Aigo~ aku bicara banyak sekali. Intinya, kebutuhan anak nomor satu, kesukaan anak nomor dua, sekian.”

Taemin akhirnya mengangguk mengerti. Baguslah, aku juga mengerti. Taemin mendekati Jinho perlahan, merangkul bocah kecil itu.

“Jadi karena itu kau tidak mau memanggilku ‘appa’? Karena aku hanya memikirkan apa yang kau sukai tanpa tahu apa yang kau butuhkan?” Jinho pun mengangguk semangat. Taemin hanya menghela nafas, mungkin menyesali perbuatannya karena tidak menuruti kata-kataku. Sekarang, kesempatannya untuk mendengar seorang anak memanggilnya ‘appa’ hilang, soalnya sebentar lagi kami akan mengantar Jinho pulang.

Drrtt..drrtt..

“Yobosaeyo onnie-ah? Wae?”

“Sungra, aku yang akan menjemput Jinho di rumah kalian, tapi aku jemput Kyu dulu ya, mobilnya tadi siang masuk bengkel, hehhe..”

“Aaah apa dia tidak bisa pulang sendiri? Manja sekali! Ara~ telepon lagi saja kalau sudah akan sampai onnie..”

“Ini sudah malam, bagaimana kalau dia diculik? Hhahhaha, bercanda! Arasseo pengantin baruu~ Bye!”

Klik

Yang benar saja, diculik? Orang macam itu diculik? -______-”

“Jinho-ah, eomma-mu yang akan menjemput, jadi kita turun saja ya, sekalian bersiap, kajja!” Jinho dengan semangat turun dari kasurnya dan langsung menuruni tangga melingkar kami dengan cepat. Taemin membawakan tas kecil Jinho yang berisi pakaian dan aku berjalan di sampingnya.

“Diceramahi anak kecil huh? Hhehhe~”

“Aish, kau ini..”

***

*8.30pm

Aku, Taemin, dan Jinho sudah duduk manis di ruang tamu sambil menikmati beberapa cemilan yang disediakan Shin ahjumma. Jinho masih menggenggam boneka panda gendut itu di tangannya sambil makan.

“Annyeoong~” terdengar suara Raena onnie dari pintu. Kami pun langsung berdiri, apalagi Jinho yang dengan semangat berlari ke pelukan eomma-nya. Kyuhyun oppa hanya berjalan santai sambil mengusap rambut Jinho pelan. Kali ini kesan ‘evil’nya terganti dengan kesan ‘appa baik hati’.

“Taemin-ah! Kau menjaga anakku dengan baik kan?” Kyuhyun oppa menepuk pundak Taemin lumayan kuat. Taemin hanya tersenyum getir menanggapinya. Jangan sampai Kyuhyun oppa tahu kalau anaknya hampir tertabrak mobil tadi sore ><

“Ne appa! Mereka baik sekali!” Syukurlah.. Jinho tidak berkata macam-macam. Mungkin dia tahu kemungkinan apa yang terjadi kalau appa-nya tahu kejadian itu.

“Kalau begitu kami pulang dulu, sudah malam dan Jinho harus tidur,” Kyuhyun oppa menggendong Jinho dan membungkuk sedikit ke arah kami yang diikuti oleh Raena onnie.

“Ah ne, terima kasih sudah mau meminjamkan Jinho pada kami hyung! Hhhehe~” Kami bergerak(?) mendekat pintu keluar. Jinho masih memandangi kami dengan matanya yang sudah sayu, mengantuk.

“Appa, turunkan aku..” Kyuhyun oppa berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam mobil mereka dan memandang Jinho. Jinho menatapnya dengan tatapan memohon dan Kyuhyun oppa pun menurunkan Jinho dari gendongannya.

“Eomma dan appa masuk mobil duluan saja, nanti Jinho menyusul, sebentar kok, yayaya~” Raena onnie dan Kyuhyun oppa saling pandang dan mengernyit kebingungan bersama(?). Raena onnie hanya mengangguk pada Kyuhyun oppa, tanda ‘izinkan saja’ mungkin.

“Oke, jangan lama-lama. Taemin, Sungra, kami masuk dulu ya~ Annyeong~”

“Sampai jumpa lagi pengantin baru, annyeong~”

Raena onnie dan Kyuhyun oppa memasuki mobil mereka sementara Jinho mendekati kami berdua yang masih berdiri di ambang pintu.

“Hei! Rumah kalian ini sangat besar! Bagaimana kalau kalian tambah anggota?” Aku dan Taemin saling pandang. Maksudnya tambah anggota? Menambah pelayan? Tukang kebun?

“Aiyaaa~ Rumah ini terlalu sepi kalau hanya kalian berdua yang mengisi! Anggap saja semua pelayan di rumah ini tidak ada! Tambahkan anggota baru seperti bayi kan bagus! Hhahhahahaha! Bye bye!” Sialan! Baru tadi sore aku menganggap anak ini lucu dan manis, sekarang sudah seperti evil kecil! Apa-apaan membahas soal anak hah?!

Jinho berlari menuju mobilnya, meninggalkan aku yang cemberut dan Taemin yang tersenyum.. licik.

“Ah satu lagi! Gomawo, eomma dan.. appa!” Aku terkejut mendengar Jinho mengucapkan kata ‘appa’ untuk Taemin, apalagi laki-laki di sampingku ini. Dia jejingkrakan sekarang! -__-

“You are welcome Captain Cho! Hhhaha!” Oke, dia seperti orang gila sekarang. Tuhan, aku ini menikah dengan anak berumur berapa sih?

Mobil mereka sudah meninggalkan halaman rumah kami dan Yoon ahjussi menutup pagar. Baru saja aku ingin masuk ke dalam, Taemin menahan tanganku sambil senyum-senyum tidak jelas. Firasat : buruk.

“Sungra~” nada manja yang dibuat-buat itu membuatku merinding. Taemin ingin membuatku mati menahan gugup apa?

“Apa?”

“Bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?”

“Usul Jinho tadi ituu~”

“Yang mana?!” Tuhaaan >< tanganku sudah berkeringat di genggamannya! Ottokhe?!

“Malam ini?”

“Apanya yang malam ini?!”

“Mungkin sekali saja waktu itu tidak cukup, coba lagi?”

“Apa sih?! YA! Turunkan akuuuu!!” Sial! Dia menggendongku! Gila! Taemin gila! Kalau menggendongku dengan bride style masih bisa aku terima, tapi ini! Dia kira aku ini barang curian hah?!

“Shin ahjussi! Tutup pintunya yaaa~”

Ya.. setidaknya aku sudah siap untuk punya satu sekarang. :p

FIN XD

Meanwhile…

Author Pov, @Cho’s Car

“Jinnie-ah, bagaimana? Rencana kita berhasil?” Raena menoleh ke belakang untuk berbicara dengan anaknya. Jinho mengangguk semangat dan mengacungkan kedua jempolnya.

“Tentu saja berhasil eomma! Hhehehe~” Raena bertepuk tangan saking senangnya, sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum melihat tingkah dua orang yang sedang bersamanya ini. Dia sempat menceramahi Raena tentang banyak hal, tapi saat Raena menjelaskan tujuannya dan Jinho untuk memancing dua orang itu untuk memikirkan soal anak, Kyuhyun terpaksa merelakan hari minggunya bersama Jinho.

“Memangnya punya anak itu sulit ya eomma? Memangnya bagaimana sih caranya?” Raena dan Kyuhyun terbatuk. Bukan, bukan karena mereka sedang sakit, hanya salah tingkah dengan pertanyaan anak mereka itu.

“Ituu.. dari~ dari burung bangau! Ya! Burung bangau! Tahu dongengnya kan Jinho-ah? Ya dari bangau pembawa bayi, begitu..” jawab Kyuhyun, salah tingkah. Raena hanya menunjukkan cengirannya, berharap anak mereka tidak curiga sama sekali.

“Ooh.. jadi Seunghyun hyung setiap hari akan berurusan dengan burung bangau ya appa? Appa pernah lihat?” Kyuhyun diam tidak bisa menjawab lagi. Sekarang dia harus berkata apa tentang ini.

“Ah! Jinnie-ah, ini untuk eomma?” syukurlah Raena mengalihkan perhatian Jinho dengan menunjuk boneka panda Po yang berada di tangan Jinho.

“Ne, untuk eomma~”

“Apa saja yang kau lakukan seharian ini Jinho-ah?” Kyuhyun menimpali dengan bertanya lagi, semakin banyak bertanya semakin besar kemungkinan Jinho lupa pertanyaannya.

“Tidak melakukan apa-apa, hanya bertanding game,” Jinho sedikit menggeliat di jok belakang, sudah mengantuk.

“Oh begitu, yasudah, istirahat saja dulu sebentar, nanti appa bangunkan, kau pasti lelah..” Kyuhyun memacu mobilnya lumayan pelan agar Jinho tetap nyaman saat istirahat di mobil.

“Ng.. lelah.. hampir tertabrak mobil juga loh appa eomma..”

Hening. Wajah Kyuhyun dan Raena terlihat shock, sedangkan Jinho sudah terlelap. Kyuhyun menghentikan mobilnya.

“Baby..”

“I-iya?”

“Jinho bilang apa tadi?” Raena yang mengerti apa tindakan Kyuhyun setelah ini, hanya bisa tersenyum -sok- manis.

“Tidak, tidak bilang apa-apa kok, hanya mengigau.. ayo jalan lagii.. pulaaang~” Raena memasang jurus -pura pura- manjanya, berharap Kyuhyun luluh dan tidak kembali lagi kekediaman Taemin dan Sungra. Kalau sampai hal itu terjadi, entahlah.

“Kita kembali ke sana,” kata-kata itu memang keluar dengan nada yang tenang, tapi sarat akan aksi kekejaman -__-

“Ya! Kau kembali ke sana, kita tidak akan pernah buat adik untuk Jinho, Cho Kyuhyun..” ancaman tepat, karena Kyuhyun langsung berubah pikiran. setan mesum 

“Aish, kau curang! Araa~ yang penting Jinho selamat.. malam ini, otthe?” Evil smile, Raena dalam bahaya -juga- malam ini.

REAL FIN XDD

Oke, saya tau ff ini seliweran kalimat-kalimat nggak jelas -__- terlalu terburu-buru kah? atau gimana? saya mohon maaf m(_ _)m

butuh kritik dan saran, serta komen(loh?) dari reader semua :3

terima kasih ^^

Advertisements