Tags

,

italic = flashback
Bold = donghae’s words(?)
this is lee hyukjae’s pov

Enjoy ๐Ÿ™‚

โ€œHyukie-ah.. maaf sudah membuatmu susah selama ini.. Kau adalah orang terbaik yang pernah ada. Kau kekuatanku, kau penyemangatku, kau pendirianku. Terima kasih, sahabatku.โ€

Aku melangkahkan kakiku ke tempat seseorang berada. Ke tempat seseorang yang sudah seperti saudara sehidup sematiku. Orang yang berharga bagiku, Lee Donghae.

Aku duduk bersimpuh di samping tempatnya. Menatap matanya yang selalu menampilkan ketenangan ketika tersenyum, walaupun hanya melalui sebuah figura foto.

โ€œHei kapten, lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?โ€

Musim panas telah menyambut kehidupan orang-orang di Korea dan sekitarnya. Itu berarti saatnya lomba-lomba sepak bola antar sekolah dilaksanakan. Aku dan kau, kita berdua sudah bertekat akan menjadi tim inti sepak bola sekolah kita.

โ€œHae-ah, kau mendapat giliran seleksi kapan? Kalau aku besok,โ€ aku menunjukkan padamu nomor peserta milikku dengan gembira, walaupun ada rasa sedikit tidak rela karena tidak bisa berjuang bersama-sama.

โ€œAku dapat lusa Hyuk-ah, tapi.. aku tidak yakin ini akan berjalan lancar..โ€ wajahmu berubah, dari semangat menjadi lesu. Harusnya aku yang berkata seperti itu, mengingat kemampuanmu jauh di atas kemampuanku.

โ€œYa! Kau pasti bisa Hae-ah!โ€ aku menepuk punggungmu kuat sebagai pembangkit percaya dirimu. Kau hanya tersenyum lemah Hae-ah, kelihatan sekali kalau kau tidak yakin sama sekali.

โ€œBagaimana kalau kita taruhan? Kita bertanding untuk mendapatkan posisi kapten! Yang kalah harus membelikan yang menang patbingsoo ukuran ekstra besar! Otthe?โ€ aku menggunakan es krim kesukaan kita berdua untuk menambah semangatmu, dan untunglah, wajahmu kembali ceria saat itu.

Haah.. mengingat saat kau menyanggupi taruhan itu, aku merasa semangatmu kembali berkali-kali lipat. Bodohnya aku saat itu, tidak bisa membaca apa yang terjadi padamu, apa yang menyebabkan kau mudah patah semangat beberapa waktu lalu aku tidak tahu.

โ€œAku ini sahabat yang bodoh Hae-ah.. tidak bisa mengerti apa yang terjadi padamu, terutama fisikmu,โ€

Tapi kau selalu bilang kalau aku ini hebat, seorang sahabat yang dikirimkan Tuhan. Lee Hyukjae yang diutus untuk menjadi sahabat Lee Donghae.

Pada hari pengumuman siapa yang masuk, kau tidak hadir di lapangan bola sekolah. Kau juga tidak membalas pesanku ataupun menjawab teleponku. Aku mengira kau hari itu mungkin sedang sibuk, entah sibuk apa.

Setelah pengumuman selesai, aku merasa sangat senang karena kita berdua berhasil masuk tim inti sekolah. Aku berencana untuk melancarkan taruhanku denganmu waktu itu, menjadi kapten tim.

Tanpa tahu yang terjadi.

โ€œKalau saja aku tahu Hae-ah.. aku akan memilih pergi ke rumah sakit dibanding ikut seleksi kapten tim, mianhae..โ€

Lagi-lagi jadwal seleksi kita terpisah. Aku yang membayangkan kau semangat jadi ikut semangat waktu itu. Bukan hanya demi patbingsoo sebenarnya, tapi lebih karena kesenangan kita masing-masing. Rasanya menyenangkan saat salah satu dari kita berdua menderita gara-gara kalah taruhan, walaupun tetap saja hasil taruhan itu kita nikmati berdua.

Satu hari setelah hari seleksi, akhirnya kau bisa aku hubungi. Kau bilang waktu itu motormu sedang di bengkel. Besoknya, aku ingin ke rumahmu karena ternyata aku yang terpilih menjadi kapten tim. Senang? Tentu saja. Sayangnya, rasa senang itu tidak terasa sebagaimana mestinya saat aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu.

Saat aku ada waktu ke rumahmu, kerumuman orang-orang berpakaian serba hitam yang aku lihat. Pikiranku sudah melayang kemana-mana. Aku mengira betapa sedihnya kau sekarang karena aku mengira ibumu atau kakakmu yang meninggal Hae-ah.

Niatku yang ingin menagih patbingsoo darimu berubah menjadi niat untuk menyemangatimu lagi. Aku bergegas mendekat ke rumahmu, dan betapa terkejutnya aku melihat Donghwa hyung sedang duduk merenung di depan pintu sembari ditemani oleh teman-temannya. Aku kembali berpikir, berarti bukan Donghwa hyung yang meninggal.

Aku mendekati Donghwa hyung ketika teman-temannya yang berusaha menenangkannya tadi pergi. Mata hyung-mu sembab dan tidak berhenti mengeluarkan airmata. Saat dia melihatku, dia langsung memelukku Hae-ah, dia memelukku sangat erat. Aku ingin bertanya kau ada di mana, tapi niat itu aku urungkan ketika mendengar tangisan Donghwa hyung yang semakin menjadi.

โ€œDonghwa~ bawa masuk temannya..โ€ aku mendengar suara ibumu mendekat dan menepuk punggung Donghwa hyung pelan sembari melihatku dengan matanya yang juga sembab. Ibumu muncul, Donghwa hyung sedang memelukku, disaat itulah aku tidak ingin berpikir. Aku takut memikirkan apa yang terjadi padamu.

Cuaca panas yang sangat terik disini membuatku berkeringat banyak. Patbingsoo yang aku bawa pun sepertinya sudah mencair.

โ€œHae-ah.. waktu itu kau menitipkan ini pada Donghwa hyung. Kau ini aneh, hanya patbingsoo? Tidak ada ucapan-ucapan lain he?โ€

Kau memberikan aku patbingsoo ini untuk kemenanganku kan? Bodoh. Seharusnya kau yang menjadi kapten. Kau kapten sebenarnya. Andai saja aku tahu penyakit itu ada padamu, aku tidak akan mengikuti seleksi itu.

โ€œKau tidak mengikuti seleksi kapten, aku seperti menang tanpa ada lawan waktu itu Hae-ah, kau curang..โ€

Aku mengeluarkan patbingsoo yang sudah aku bawa. Aku rasa, es krim ini sudah hampir cair dan tidak berbentuk lagi seperti es krim. Aku menaruh patbingsoo itu di samping tempatmu Hae-ah. Aku tidak mau memakannya, tidak apa-apa kan?

โ€œLee Donghae.. Kapten Lee Donghae.. Sahabatku.. Semangatku, ada padamu, jadi aku mohon, berbahagialah..โ€

โ€œLee Hyukjae itu hebat. Lee Hyukjae itu orang yang penuh semangat. Alasan aku bahagia menjadi sahabatmu adalah, kau tidak mudah menyerah. Terima kasih sudah menjadi penyemangatku, itu sangat berarti.โ€

ย FIN

berani-beraninya saya publish ni ff –” padahal sama sekali nggak dapet feel-nya, beda banget sama Rain and You waktu itu .__.

aaah.. gomawo buat readers aja deh ๐Ÿ™‚

Advertisements