Tags

, , , ,

Main Cast : Cho Kyuhyun, Choi Seunghyun, Kim Raena

Cameo : Choi Siwon, Choi Sooyoung

Genre : Mm… molla .__.

Setting : In the afternoon, train, blablabla(?)

aaah ide ini tiba-tiba muncul .__. semuanya Seungie eh Seunghyun POV kok ^^ semoga menarik(??) yaaa.. huehehe (>,<)

Enjoy!

Hope you’ll like it! ^^

“Oppa! Kau dimana?! Cepat kembali!” suara Sooyoung melalui I-phone ini sangat mengganggu. Sebagai adik, dia ini lebih cocok menjadi seorang noona yang mempunyai adik bayi. Menyebalkan.

“Tidak usah mencariku, ara?” dan ‘klik!’, aku langsung memutuskan sambungan itu. Memilih untuk mengabaikan semua panggilan dari Sooyoung yang aku yakin tidak akan bertahan lama karena bosan. Bisa aku tebak, setelah ini Siwon yang akan menggantikan Sooyoung menghubungiku, tidak akan mempan.

Aku memeriksa semua barang yang aku bawa, aku rasa cukup. Persediaan uang apalagi, lebih dari cukup aku rasa. Perjalanan menuju Busan dengan kereta, sepertinya lebih mengasyikkan daripada harus berkutat dengan helikopter pribadi.

Haah.. sepi. Apa karena ini bagian kereta eksklusif dan bukan liburan? Aku baru tahu ternyata masyarakat Seoul bisa selengang ini.

Bruk!

Aku langsung mengalihkan perhatianku dari pemandangan di luar kereta pada seorang yeoja yang baru saja meletakkan atau lebih tepatnya menghempaskan tasnya di atas meja dihadapanku. Yeoja ini langsung duduk dan sedikit terkejut ketika melihatku. Setelah itu dia langsung menundukkan kepalanya tanda meminta maaf, tanpa suara.

Perlahan, kereta ini mulai bergerak meninggalkan stasiun. Demi apapun, aku seperti pemilik dari gerbong eksklusif ini. Hanya ada aku, gadis di depanku, dan dua orang yang sedang sibuk dengan laptop mereka di ujung gerbong ini. Sialnya, gadis di depanku ini baru saja mengeluarkan laptopnya dan berkutat dengan benda kecil itu. Ini sama saja dengan kantorku namanya -__-”

Tidak ada pemandangan yang menarik, kecuali satu, gadis di hadapanku ini.. entah apa namanya, yang jelas sulit sekali untuk mengalihkan perhatianku dari wajahnya. Beruntung tidak ada Siwon atau Sooyoung di sini. Setidaknya tidak ada yang merecokiku untuk memandangi gadis ini dan tidak ada yang merecoki gadis ini dengan pertanyaan tentang kecantikan.

Seperti ada yang melambaikan tangan di wajahku, aku kembali dari lamunan tidak jelas itu. Sial, aku ketahuan kalau sedang memerhatikan gadis ini. Ternyata dia yang melambaikan tangannya tadi, mungkin berusaha untuk menghilangkan tatapan aneh dariku. Tapi anehnya, tidak seperti gadis lain yang kalau dipandang terus-menerus seperti tadi akan marah, gadis ini hanya tersenyum singkat dan kembali menatap laptopnya. God! Kau bohong! Kau bilang manusia sempurna tidak ada? Lalu gadis di hadapanku ini apa?! Sial! Kenapa dia harus tersenyum tadi?!

Hmm.. bagaimana kalau aku ajak bicara? Ah, ide bagus! Tapi topik apa?

“Mau ke Busan?” Basa-basi yang bodoh. Kereta ini hanya akan berhenti di Busan! Babo! Gadis itu mengalihkan matanya dari laptopnya lalu menatapku sambil mengangguk, dan menatap laptopnya lagi -__-” Aish, bagaimana caranya agar mata itu tetap fokus padaku?

“Berlibur?” kali ini dijawab dengan gelengan kepalanya pelan sambil tersenyum, dan kembali menatap laptop. Aish!

“Kau tinggal di sana?” dibalas dengan anggukan, dan menatap laptop lagi. Hei, sombong juga gadis ini. Daritadi aku bertanya dan tidak ada satupun yang dijawab dengan ‘ne’ atau ‘aniyo’ atau yaah yang lainnya -__-”

“Boleh aku tahu namamu?” Aku melipat kedua tanganku di atas meja, bersikap lebih santai dari yang tadi. Mungkin dia ngeri melihat namja sepertiku. Tiba-tiba dia mengeluarkan secarik kertas dan penanya, menuliskan sesuatu lalu menyerahkannya padaku.

“Cho Raena?” Aku membaca tulisan yang diberikannya tadi. Berarti namanya Cho Raena, begitu?

“Ah, Choi Seunghyun imnida,” Aku mengulurkan tanganku dan -beruntung- disambut olehnya, dan dia kembali berkutat dengan laptopnya. Baiklah, sekarang aku berpikir kalau gadis ini sangat mencintai laptopnya sampai-sampai dia mengabaikan orang yang mengajaknya berbicara.

“Apa yang kau kerjakan?” dan seperti tadi, dia menuliskan sesuatu di kertas dan langsung menyodorkannya padaku.

“Mengedit novel?” aku membaca tulisan itu dan melihat kearahnya yang tersenyum padaku. Gadis itu menuliskan sesuatu lagi pada kertasnya dan kembali menyodorkannya padaku.

“Ah, ne.. aku berlibur ke Busan,” aku menjawab apa yang ditanyakannya -melalui kertas- tadi. Dia kembali tersenyum, tapi kali ini tidak menghadap laptopnya lagi karena dia sudah men-turn off-kan laptopnya. Sekali lagi, dia menulis di kertasnya dan menyerahkannya padaku. Tulisan ini cukup membuatku senang, “Selamat berlibur di Busan ^^”

“Gomawo, pasti sangat menyenangkan di Busan..” apalagi bisa bersamamu.

“Kalau kau butuh pemandu, aku bisa membantumu ^^”ย Tulisan gadis ini cukup membuatku sangat senang! Hmm.. boleh juga, ditemani oleh gadis seperti dia, siapa yang tidak mau.

“Boleh juga, mohon bantuannya Raena-ssi..” dia hanya tersenyum, lagi. Mau berapa kali lagi dia tersenyum di hadapanku? Wajahnya saja sudah cukup ‘mematikan’, ditambah lagi dengan senyum yang selalu diulang-ulang, aku bisa hilang kendali!

Obrolan ‘aneh’ kami terhenti saat I-phone-ku kembali berdering. Siwon menelepon. Aish, aku tahu apa yang akan dibicarakannya.

“Hyung! Kau dimana?”

“Ada apa?”

“Kembalilah, appa mencarimu hyung..”

“Aish, aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak siap mengurus perusahaan itu Wonnie!”

“Tapi hyung, aku dan Sooyoung sudah–” klik! Aku memutuskan sambungan telepon begitu saja. Bosan kalau harus membahas siapa yang mau memegang kendali perusahaan setelah appa. Siwon, lebih memilih menjadi aktor dan harus aku akui kalau itu adalah cita-citanya. Sooyoung, lebih menyukai menjadi pelukis dan suka berkeliling kota untuk mencari objek menarik. Aku? Aku belum tahu apa yang aku inginkan, aku -dan seluruh keluarga- hanya tahu kalau kemampuanku dalam memimpin dan mengatur sesuatu itu sangat baik, itulah alasan kenapa appa memilihku. Tapi tetap saja, aku masih ragu dan dengan egoisnya meninggalkan mereka.

Kembali dengan gadis di depanku ini. Pandangan matanya tidak lepas dari pemandangan di luar. Aku mengikutinya, mencoba mencari sesuatu yang menarik, tidak ada. Lebih baik aku meneruskan menatapnya saja. Gadis ini, unik. Selalu tersenyum dan tidak pernah berbicara. Sekalipun harus berbicara, dia lebih memilih untuk menuliskannya di kertas.

Tak berapa lama, gadis ini memegangi lehernya, berdehem beberapa kali dan langsung memeriksa tas jinjingnya. Dia mengeluarkan botol minumnya yang sudah kosong, haus ya?

Dia sedikit menggeser posisi duduknya, melihat kearah depan dan belakang gerbong, mungkin mencari para pramugari(?) kereta ini untuk meminta minum. Ah iya!

“Starbucks?” Aku menyodorkan satu botol Starbucks rasa frapucinno-ku padanya. Semoga saja dia tidak anti kopi. Gadis itu menatap ragu ke arahku, wae? Apa aku ini tidak terlihat baik hati he?

“Oh, tenang saja, aku masih punya satu, ambillah..” aku menjawab pertanyaannya yang lagi-lagi disampaikan dengan tulisan yang bertuliskan “Tidak usah, nanti kau haus, terima kasih :)”

Dia mengambil botol Starbucks dari tanganku dan sedikit membungkuk tanda terima kasih, sekali lagi tanpa suara. Aku mengikuti kegiatannya, mengambil satu lagi Starbucks dari tasku dan langsung membukanya. Raena (boleh kan aku menyebutnya begitu?) baru saja ingin meminum kopi itu tapi terhenti oleh handphone-nya yang berdering, ah salah, dia memiliki I-phone juga sepertiku. Dia meletakkan I-phone-nya dihadapan wajahnya.

“Yobosaeyo baby~” What?! Suara namja? Baby?!

Aku sudah berpikiran macam-macam sekarang, ah bukan, aku baru bisa berpikir sekarang. Wajah Raena memang membuatku tidak fokus sampai-sampai tidak memerhatikan hal-hal yang penting. Raena memakai cincin yang cantik di jari manis tangan kanannya, menandakan kalau dia sudah menikah, sial.

Ah, satu lagi. Akhirnya aku menemukan alasan kenapa Raena tidak pernah berbicara denganku dan selalu menggunakan kertas sebagai perantara. Dia.. mm.. aish bagaimana mengatakannya ya.. kalau kalian melihatnya berkomunikasi dengan namja di telepon itu, mungkin kalian akan tahu. Ya, dia menggunakan bahasa isyarat, gadis ini tidak bisa berbicara.

“Kami sudah sampai di stasiun, kau satu jam lagi sampai kan?”ย Raena membalas dengan bahasa isyaratnya. Oh God, maafkan aku. Ternyata memang semua manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna, tapi.. yang mendekati sempurna pasti ada kan?

“Eommaaaa! Bogoshippoyo~” Oke, aku harus akui kalau aku terkejut lagi. Eomma?! Jadi dia sudah punya anak?!

Aku menyingkirkan semua kekecewaanku karena ternyata Raena ini sudah memiliki suami dan sudah mempunyai anak. Baiklah, bukan takdirmu Seunghyung.

Aku memutuskan untuk memandangi Raena lagi. Gadis ini masih asyik berbincang dengan keluarganya melalui I-phone itu. Wajahnya sangat bahagia, bahkan dengan kekurangan itu, satu hal lagi yang mengagumkan darinya. Lalu pria yang menjadi suaminya, dia pasti pria yang sangat hebat. Anaknya, dari suaranya pasti baru berumur sekitar enam tahun, anak itu pasti sangat menyayangi Raena.

Ah, aku jadi ingat mereka yang di Seoul. Siwon, Sooyoung, dan appa. Aku jarang sekali menerima rasa sayang secara langsung. Semuanya tersalur melalui Jung ahjumma -pelayan rumahku- yang selalu mengirimi kami bertiga dengan hadiah tiada henti dari appa. Sebenarnya aku mau saja menjadi pimpinan di perusahaan itu, tapi aku tidak yakin. Appa menyuruhku memimpin perusahaan agar aku ada pekerjaan, atau hanya kepentingan bisnisnya saja?

Lamunanku terhenti saat sesuatu yang lembut menyentuh tanganku, tangan Raena. Dia menunjukkan I-phone-nya dan jadilah sekarang ada wajah seorang namja dan seorang namja kecil disampingnya terpampang dari I-phone itu.

“Annyeonghaseyo~” namja -sepertinya dia suaminya Raena- itu melambai kearahku diikuti oleh namja kecil di sampingnya.

“Jinho, beri salam dengan ahjussi yang sudah membantu eomma..”

“Annyeonghaseyo ahjussi~” sapa namja kecil yang namanya Jinho tadi padaku. Aku pun membalas sapaannya. Anak ini lucu sekali, matanya mirip dengan Raena.

“Ah, Cho Kyuhyun imnida, terima kasih sudah menemani istriku, dia itu takut kalau berjalan-jalan sendirian, tapi tetap nekat pergi ke Seoul sendirian.. hhehe.. sekali lagi terima kasih untuk..mm.. namamu?”

“Choi Seunghyung imnida.. ah, cheonmaneyo Kyuhyun-ssi, istrimu orang yang berani ternyata..”

“Raena bilang kau ingin berlibur di Busan? Kami akan menjadi pemandumu, otthe?”

“Ah, gomawo Kyuhyun-ssi, tidak usah, aku tidak akan lama di Busan..”

“Baiklah. Kalau butuh bantuan, datang saja ke rumah sakit pusat di Busan, aku dokter di sana, kau bisa datang kapan saja. Hitung-hitung balas budi karena sudah membuat Raena nyaman selama di kereta, hhehe..”

“Ne Kyuhyun-ssi, terima kasih banyak atas tawarannya..” Kyuhyun menundukkan wajahnya sejenak, pengganti membungkuk untuk mengakhiri obrolan kami. Raena lalu kembali menghadapkan I-phone-nya kearahnya.ย *jelimet*

“Eomma.. sudah dulu ya, hati-hati di jalan, we love you~”

“Baby, hati-hati di jalan.. Saranghae~” Manis. Raena melafalkan kata ‘I love you’ tanpa suara sambil membentuk setengah hati dari tangannya, dan menempelkan pada layar I-phone-nya. Oke, aku iri sekarang.

Sambungan sudah diakhiri. Raena beralih menatapku, lalu menuliskan sesuatu pada kertasnya.

“Maaf sudah membuatmu bingung dengan tingkahku yang memakai kertas untuk mengobrol denganmu, sekarang kau tahu kan? ^^ Ah, gomawo sudah membuatku nyaman di kereta ini.. ini perjalanan pertamaku sendirian, kemarin ketika ke Seoul Kyuhyun yang mengantar, karena ada urusan di rumah sakit dia harus pulang duluan.. sekali lagi gomawo ^^”

Aku hanya tersenyum ketika membaca tulisan itu lalu melipat kertas itu dan memasukkannya ke dompetku. Raena terlihat bingung dengan tindakanku tadi. Baru saja dia akan menulis lagi, aku menahan tangannya.

“Untuk kenang-kenangan, boleh?” Masih dengan raut wajah bingung, Raena hanya mengangguk. Ah, satu hal yang tiba-tiba menarik untuk ditanyakan padanya..

“Raena-ssi, apa kau bahagia dengan hidupmu? Maksudku, dengan kekuranganmu, maaf sebelumnya..” sejujurnya tidak enak menanyakan hal ini, tapi ini membuatku penasaran. Aku yang hidupnya berkecukupan bahkan berlebihan, masih merasa kurang puas dengan apa yang ada.

Raena langsung menuliskan jawabannya. Oke, ini terlihat seperti kuis cepat tepat sekarang. Tidak begitu lama, Raena menyerahkan ‘kertas jawabannya’ padaku. Panjang juga, sepertinya sudah terlatih untuk menulis cepat.

“Kekurangan ada untuk dimengerti, jika kau sudah mengerti kekuranganmu maka sayangilah. Cara menyayangi kekuranganmu cukup satu, hargailah hidupmu.. ah aku mulai bicara ngelantur ya? hhehe ^^, aku sangat bahagia dengan hidup seperti ini, bahkan dengan kekuranganku ini, aku bisa mendapatkan keahlian yaitu menulis, aku hanya menghargai apa yang sudah ditakdirkan untukku ^^”

Jujur saja, aku tidak begitu mengerti dengan kalimat panjang ini. Tapi.. aku menangkap satu inti, hargailah hidupmu.

“Gomawo Raena-ssi, boleh aku simpan lagi kertasnya?” Raena kembali mengangguk dan tersenyum. Senyum terakhir karena dia menyenderkan kepalanya dengan kursi kereta ini. Sepertinya dia kelelahan, karena dia langsung tertidur. Oh tidak, gadis ini tidak bisa membuatku berhenti mengaguminya!

I-phone-ku berbunyi lagi dan dengan cepat aku menjawab panggilan itu, takut nanti Raena terbangun.

“Yobosaeyo?”

“Oppa?”

“Oh, Youngie? Waeyo?”

“Where are you? Kami mohon kembalilah oppa..”

“Hmm..”

“Hyung!” Loh? Kenapa jadi Siwon?

“Hyung.. kami sudah bicara dengan appa.. aku.. aku yang akan menggantikanmu mengurus perusahaan, tapi.. yaah.. walaupun aku harus meninggalkan karirku, asal kau kembali hyung, jebal..” Siwon menggantikanku? Merelakan impiannya? Hei! Hyung macam apa aku ini?! Aish kenapa baru sadar!

“Wonnie-ah, aku mau mengurus perusahaan.. dan kau, jangan coba-coba meninggalkan cita-citamu atau kita bertanding taekwondo sampai mati, ara?”

“Yey! Oppa! Kalau begitu cepat kembali! Kau dimana hah?!” Ya ampun, mereka ini seperti anak kecil sekali -__-”

“Jangan bicara keras-keras Youngie-ah, ada yang sedang tidur, hhehe”

“Araseo.. aku tahu itu pasti yeoja, hhaha.. cepatlah pulang! Appa merindukanmu! Kita akan serumah lagi berempat oppa!

“Ne ahjumma~ bye~” klik! Hhhahaha, lucu sekali mereka. Aaah.. jadi ingin langsung pulang kalau sudah begini.

Pandanganku kembali teralihkan pada gadis dihadapanku ini, Raena. Aku bangkit begitu saja dari tempat dudukku dan duduk di sampingnya. Memanjakan mataku untuk kesekian kalinya dengan menatap wajah gadis ini. Bahkan keindahan itu tidak padam saat dia tertidur sekalipun.

“Gomawo, Raena-ah..”

Dan satu ciuman di pipi dariku untuknya. Tidak apa-apakan? Hhehehe..

Menerima kenyataan kalau gadis ini sudah menjadi milik orang lain memang sulit, mengingat dengan mudahnya dia membuatku jatuh cinta. Tapi, untuk menerima nasihat untuk menghargai hidup, hmm.. bagaimana kalau aku jadikan prinsip hidup? ^^

FIN

ff ini… nggak ada inti kayaknya (.___.) maksa nggak? hhhuhuhu ๐Ÿ˜ฅ

aah tapi gomawo buat yang udah baca ^^ mianhae kalo kurang memuaskan m(_ _)m *bow

ff ini terinspirasi dari beberapa film ataupun ff, jadi kalo ada yang sama latarnya (kereta) itu terinspirasi dari sana(?) hhehe ๐Ÿ˜€

gomawoooo~ ๐Ÿ™‚

Advertisements