Tags

,

Assalamu’alaikum 🙂

salam sejahtera semuanya ^^

sekarang giliran Hyunjoon, hhehe :3 saya pasangin dulu sama Changmin, sama Kyu-nya ntar kalo ada waktu >< hhehe

ini semua Hyunjoon POV ya, terus yang cetak miring/italic itu berarti flashback, yaah ini semacam semi songfic kayaknya, semoga tidak bingung 🙂

semoga suka yaa semua ^^

Enjoy!

Hope you’ll like it ^^

**Restaurant**

@8AM, Sunday

Perlahan aku membuka pintu menuju dapur untuk menemui Chaekyo onnie, ingin meminta izin untuk menukar jam kerja pagiku dengan jam kerja malam Jeemi. Kalian penasaran kenapa kami selalu meminta izin pada Chaekyo onnie kalau ingin keluar? Karena dia adalah adiknya Jinjoo oppa. Hanya Chaekyo onnie yang bisa mengendalikan cerewetnya Jinjoo oppa tentang jam kerja.

“Hyunjoon-ah, waeyo?” Chaekyo onnie menghampiriku dan melepaskan apron-nya. Aku bingung harus berkata apa. Izin yang bagaimana? Tidak mungkin aku izin untuk pergi kuliah, mereka semua tahu jadwalku kuliah. Mana mungkin juga aku mengatakan akan pergi dengan Changmin, bisa-bisa susah mendapat izin.

“Onnie.. aku ingin menukar jam kerja pagiku dengan jam kerja malam Jeemi, boleh tidak?” setelah aku mengatakan itu, Chaekyo onnie hanya diam saja. Apa tidak boleh ya?

“Kau tidak ada jadwal kuliah kan? Kau juga baru saja selesai ujian semester, ada apa?” Nah ini dia. Alasan apa yang harus aku gunakan? Apa berkata jujur saja ya? Chaekyo onnie kan pintar menjaga rahasia, jadi mungkin tidak apa-apa kan?

“Aku ada janji dengan –“

“Shim Changmin DBSK?” potong Chaekyo onnie. Tunggu dulu, kenapa dia bisa tahu?

“Aku memerhatikan kalian semua Hyunjoon-ah, maaf, aku tidak –“

“Pergilah,” Aku menolehkan kepalaku ke arah pintu masuk dapur. Benar saja, itu tadi Raena onnie yang memotong omongan Chaekyo onnie.

“Jeemi baru saja datang dan meminta jam kerja pagi dengan Jinjoo oppa langsung karena nanti malam dia harus menjaga ibunya di rumah sakit, dan Jinjoo oppa mengizinkan, jadi aku rasa tidak alasan untuk melarang Hyunjoon untuk pergi kan, Chaekyo?” Entah perasaanku saja atau tidak. Ada yang aneh dengan pandangan Chaekyo onnie terhadap Raena onnie. Antara.. sedih dan marah, mungkin.

“Rae-ah, tapi dia akan pergi dengan –“

“Aku tahu dan aku yakin Changmin tidak sama dengan namja itu. Joonie-ah, pergilah sekarang, jangan sampai janjimu rusak,” melihat sorot mata memerintah Raena onnie, aku langsung pergi dari sana setelah membungkuk mengucapkan terima kasih pada keduanya. Sialnya, aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sini ketika Chaekyo onnie menyebutkan nama DBSK. Penekanan disetiap huruf itu terasa sangat menyakitkan, dan itu cukup membuatku khawatir untuk meninggalkan mereka berdua saja.

**Hyunjoon’s Apartement**

Aku baru saja sampai di apartemenku dan langsung menerima SMS dari Changmin. Dia bilang sekitar 15 menit lagi dia akan sampai. Cepat sekali sih.

Dengan cepat aku membuka lemari pakaianku. Kami hari ini akan bernostalgia, katanya. Jadi, daripada repot lebih baik aku memakai pakaian santai saja. Aku rasa kaus lengan tanggung(?) dan jeans sudah lumayan.

Ting tong ting tong ting tong

Astaga -__-“ Tidak usah aku cek lagi di intercom, aku sudah tahu siapa yang membunyikan bel itu. Semangat sekali dia ini.

“Chankaman!” ketika aku membukakan pintuku, pemandangan yang aku lihat seperti pantulan diriku sendiri, tapi dalam bentuk namja, lebih tinggi, dan banyak ‘aksesoris teroris’ yang melekat padanya. Kami ternyata memakai pakaian yang sama, warna senada, hahha 😀

“Sudah siap?” tanyanya. Aku hanya mengangguk dan langsung mengunci pintu apartemenku dan dengan entengnya dia langsung menarik –atau lebih tepatnya menggenggam- tanganku dengan cepat. Memang tiba-tiba, tapi cukup membuatku senang ^^

“Changmin-ah, memangnya kita akan kemana?” saat ini kami sedang berada di lift dan Changmin masih menggenggam tanganku. Pertanyaanku tadi hanya ditanggapi dengan senyuman. Sok misterius sekali sih (“-_-)

**Hyun Dae Senior High School**

Aku masih tidak percaya dia mengajakku ke sini. SMA Hyun Dae. SMA kami dulu.

“Huah sudah lama sekali tidak ke sini, belum banyak yang berubah ternyata,” tanpa menunggu lagi aku langsung keluar dari mobilnya dan berlari menuju bagian dalam sekolah. Lapangan.

“Joonie-ah! Tunggu aku!” Changmin yang sudah melepas semua ‘aksesoris terorisnya’ berlari menyusulku ke lapangan. Sepertinya aku terlalu senang sampai-sampai aku lupa kalau aku bersamanya ke sini, hhehe.

“Mianhae, aku terlalu senang Changmin-ah! Kau tahu saja aku merindukan sekolah ini..” aku menepuk pundaknya pelan dan dia hanya tertawa. Setelah itu, kami berdua sama-sama terdiam. Memandangi setiap bentuk bangunan yang pernah menampung cerita kami selama tiga tahun. Tiga tahun yang berarti banyak, sangat banyak.

“Joonie-ah, bagaimana kalau kita keliling sekolah? Mumpung sepi, kajja!” dan lagi, dia menggenggam tanganku dengan cepat. Membawaku mengelilingi sekolah kami.

“Choi Hyunjoon? Shim Changmin?” kompak kami menolehkan kepala kami ke belakang, ke arah sebuah(?) suara yang masih familiar di telinga kami.

“Miss Jung!” teriak kami berdua dan langsung memeluk guru Bahasa Inggris kesayangan kami itu. Miss Jung adalah guru Bahasa Inggris terbaik bagiku, beliau sangat rajin memberikan motivasi akan pentingnya Bahasa Inggris untuk kemajuan kami dan juga sering menjadi tempat curhat murid-murid.

“Oh, jangan panggil aku dengan sebutan ‘Miss Jung’ lagi, panggil aku ‘Mrs. Hwang’, okay?” wuah ternyata beliau sudah menikah! Beruntung sekali pria itu mendapatkan guruku ini.

“Miss eh Mrs. Hwang, darimana kau tahu kalau tadi itu kami?” Tanya Changmin. Mrs. Hwang hanya tersenyum penuh arti dan mengajak kami duduk di kursi panjang yang ada di dekat kami, di depan sebuah kelas tepatnya.

“Siapa yang tidak mengenal dua murid kebanggaan sekolah ini setelah Choi Siwon hah?” Mrs. Hwang yang berada di tengah kami menggenggam tangan kami erat. Sudah lama sekali tidak merasakan yang seperti ini. Kalau dosen di tempatku kuliah, tidak ada yang seperti ini.

“Ada apa kalian ke sini? Ingin mengenang saat-saat SMA? Atau bernostalgia dengan tempat-tempat pacaran kalian dulu?” Mrs. Hwang menggoda kami dengan pernyataan terakhirnya. Guru yang satu ini memang tahu semuanya, seperti peramal. Tapi anehnya, wajah Changmin sedikit memerah ketika Mrs. Hwang mengatakan kami ingin bernostalgia dengan tempat pacaran kami dulu.

“Ani, kami hanya merindukan sekolah ini Mrs. Hwang,” jawab Changmin canggung. Setelah itu, Mrs. Hwang berdiri, sepertinya beliau akan meninggalkan kami.

“Hyunjoon, Changmin, aku harus segera pulang karena urusanku di sini sudah selesai, tenang saja, sekolah ini sepi kok. Selamat bersenang-senang..” setelah mengatakan itu Mrs. Hwang langsung meninggalkan kami berdua yang masih terdiam gara-gara perkataannya tadi. Apa maksudnya coba dengan ‘sekolah ini sepi’? =__=”

“Joonie-ah..” aku menoleh ke arah Changmin yang duduknya sudah mendekatiku. Dia menunjuk ke arah lapangan dan itu membuatku bingung. Tidak ada apa-apa di lapangan.

“Ingat pertama kali kita bertemu?”

I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought
“Hey, you know, this could be something”

“Semua murid baru harap berkumpul di lapangan sekarang!” suara dari speaker besar itu menggema di seluruh penjuru sekolah. Kenapa di suruh di lapangan? Bukankah biasanya setiap penerimaan murid baru itu diadakan di aula?

“Maaf semuanya, aula kita sedang dalam tahap perbaikan, jadi kita berkumpul di lapangan.” Suara tadi seperti menjawab pertanyaanku. Aduh, sekarang kan cuacanya sangat panas. Seragam ini memang tidak membuat kepanasan, tapi terlalu pendek, rok-nya hanya sampai di atas lutut. Aku kan belum terbiasa dengan ini.

Akhirnya kami semua berbaris sesuai kelas yang telah ditentukan kemarin. Aku mendapat kelas 10-3 dengan 29 anggota. Aku berbaris nomor empat dari depan karena tinggiku yang lumayan. Kepala sekolah SMA ini juga sudah naik ke podium untuk memberikan pengarahan. Tapi bagaimana mau serius mendengarkan kalau cuaca seperti ini. Aku sudah melihat keselilingku dan semuanya sama saja. Ada yang menunduk menghindari panas –terutama yeoja-, ada yang mengibaskan tangannya ke wajah, ada yang mengentak-hentakkan kakinya –mungkin karena bosan-, dan lain-lain. Aku, jujur saja aku termasuk salah satu di antara yeoja yang menundukkan wajah untuk menghindari sinar matahari yang sangat terik ini.

“Kau kepanasan?” aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ada seorang namja tinggi dan juga.. tampan sedang menatapku penasaran. Apa pertanyaan tadi untukku?

“Apa kau kepanasan?” sekali lagi dia bertanya dan itu meyakinkanku kalau pertanyaan tadi memang untukku.

“Hhehe.. lumayan..” aku hanya nyengir tidak jelas, karena baru kali ini ada namja yang mengajakku ngobrol sedekat ini.

“Mau memakai topi? Aku membawanya di tasku, kalau kau mau,” aku langsung menggelengkan kepalaku saat dia hendak menggeledah(?) tasnya untuk mencari topi.

“Aniyo, tidak ada yang memakai topi sekarang. Aku tidak mau dianggap enak sendiri, tapi kamsahamnida..” setelah mengatakan itu aku merasakan sebuah ada sesuatu di atas kepalaku, lumayan berat tapi..lembut?

“Setidaknya ini bisa mengurangi panasnya kan?” tanganya menempel di kepalaku. Dengan senyum yang bisa dikatakan indah dia mengatakan itu. Dia baik sekali.

“Seragam itu cocok untukmu, tapi kenapa kau seperti tidak nyaman?” dia memulai pembicaraan ditengah-tengah pembinaan kepala sekolah kami yang berlangsung sangat lama. Tangannya juga masih menempel di kepalaku.

“Roknya terlalu pendek untukku, hhehe..” jujur saja aku malu mengatakannya. Mana ada yang tidak nyaman hanya gara-gara rok kependekan. Ini sih masih dalam batas wajar bagi seluruh murid yeoja di Seoul.

“Oh..” hanya itu balasannya. Yah, tidak bisa ngobrol lagi ya? Kalau aku ingin mengajaknya ngobrol harus pakai topik apa? Aku bingung, tapi, kenapa juga aku sibuk mencari topik obrolan coba? Terus kenapa juga aku kecewa tidak bisa ngobrol lebih lama dengannya? Aish, panas ini membuatku eror sepertinya.

“Shim Changmin, namamu?” entah dorongan dari mana, tidak ada kegugupan sama sekali ketika menjabat tangannya, seperti hal biasa, atau akan terbiasa?

“Choi Hyunjoon..”

“Sangat senang bisa bertemu denganmu, Hyunjoon-ah..”

Aku tersenyum mengingat bagaimana pertama kali kami bertemu. Waktu itu dia sangat percaya diri dengan menempelkan tangannya di kepalaku, tanpa izin pula. Tapi itu berhasil membuatku nyaman.

“Tentu saja aku ingat..” kataku pelan, lebih untuk diriku sendiri, tapi sepertinya Changmin mendengar itu karena dia tersenyum.

“Dan apa kau ingat tangga itu?”

I don’t wanna go another day,
So I’m telling you exactly what is on my mind

Hari ini membosankan, sangat membosankan. Para guru sedang sibuk rapat yang katanya akan selesai sampai jam pelajaran di sekolah ini selesai atau lebih. Ya ampun, kalau tahu akan seperti ini lebih baik aku tidak sekolah saja. Tapi kalau aku tidak sekolah aku tidak bertemu dengannya. Tapi aku bosan! Aish jinja!

“Aw!” aku terkejut karena ada sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Aku menolehkan kepalaku dan menemukan tersangka yang membuatku terkejut tadi, siapa lagi kalau bukan Changmin. Dia langsung duduk di sampingku –yang memang tempat duduknya- dan memberikan kaleng minuman dingin tadi kepadaku. Sepertinya dia membeli ini di kantin kejujuran, karena yang aku tahu semua anggota sekolah ini –kecuali murid- sedang mengikuti rapat. Aku ulangi, SEMUA. Ya, termasuk bibi kantin dan juga satpam sekolah -_-“

“Ingin mencoba nakal Joonie-ah?” Aku menaikkan kedua alisku, bingung sekaligus terkejut dengan perkataannya. Mencoba nakal? Bagaimana caranya?

Sebagai jawabannya, Changmin menunjuk ke arah jendela kelas yang langsung menuju ke gerbang utama SMA kami. Benar saja, ada tiga murid namja yang sedang keluar gerbang dengan santainya. Bukan hanya menunjuk keluar, Changmin juga menyuruhku memerhatikan keadaan kelas. Kalian tahu? Hanya tinggal 15 murid dari 30 murid di kelas ini. Akhirnya aku mengerti maksud Changmin, dia ingin mengajakku kabur heh?

“Kau mau kemana hari ini? Mumpung hari ini cuacanya bagus Joonie-ah!” seru Changmin semangat. Ini seperti tantangan bagiku. Memang terdengar ekstrim, sekolah ini sangat ketat peraturannya, tapi jangan salahkan kami dong kalau guru rapat sampai melebihi jam sekolah.

“Aku ingin ke taman bermain sampai sore!” seruku tak kalah semangat. Changmin langsung membereskan semua barang-barangnya ke dalam tas begitu juga denganku. Dengan semangat kami keluar kelas dan melancarkan aksi kami.

Karena kelas kami berada di lantai dua, kami harus menuruni tangga yang berada dekat dengan ruang rapat guru. Kami sudah yakin akan lolos karena sudah banyak yang lolos. Tiba-tiba Changmin menarik tanganku dengan cepat ke bawah tangga. Ada apa?

“Sial, satpam itu keluar ruang rapat Joonie-ah..” kata Changmin pelan. Aku mengintip dibalik anak tangga dan benar saja, satpam sekolah sedang berdiri di depan ruang rapat yang dekat dengan tangga. Kenapa giliran kami dia keluar sih?

“Jadi bagaimana?” kataku putus asa, sebenarnya aku sangat ingin keluar, tapi bagaimana caranya kalau bapak berkumis tebal itu tetap berdiri di situ.

“Molla, kau ingin kita keluar tapi meninggalkan tas atau menunggu sampai dia masuk ruang rapat lagi?” Changmin memberiku pilihan. Pilihan yang sulit, di dalam tasku ada novel kesayanganku dan bermacam-macam barang berharga, kalau kami tinggalkan, akan sulit mengambilnya lagi.

“Kita tunggu saja, mungkin tidak akan lama..” akhirnya aku memilih menunggu, itu lebih baik. Setidaknya aku bersama Changmin di sini ^^

Kami memilih untuk duduk di belakang tangga itu. Untunglah sekolah ini menjaga kebersihan, setidaknya tidak ada bau-bau aneh seperti sekolah lain ditempat tersembunyi seperti ini. Untuk menghindari kebosanan, Changmin terus menerus bercerita tentang hal-hal yang lucu sampai membuatku tertawa, tapi untunglah aku menahan tawa itu. Bisa-bisa kami ketahuan kalau sedang bersembunyi.

“Hei kalian!” kami berdua membeku. Suara berat dari satpam itu menggema. Apa kami ketahuan?

“Kemari!” Aku menutup mataku dan merapatkan diri dengan Changmin. Changmin merangkulku dan anehnya dia menahan tertawa. Wae? Ada yang aneh?

“Bukan kita Joonie-ah.. lihat itu..” Aku membuka mataku dan melihat satpam itu sedang membawa dua murid, namja dan yeoja yang sedang mencoba kabur, sama seperti kami. Untunglah bukan kami -_-

“Eh, dia pergi, ayo keluar!” aku menarik tangan Changmin dengan semangat dan sialnya Changmin menarikku lagi dengan kuat sampai aku terduduk di pangkuannya. Kesal sekaligus malu bercampur jadi satu. Kesal karena kesempatan untuk keluar hilang dan malu karena posisi kami sangat mendukungku untuk malu ><

“Dia sudah kembali, kalau kau keluar kita ketahuan!” dengan canggung Changmin menurunkanku dari pangkuannya. Aish, kenapa cepat sekali sih dia itu kembali?! Merusak rencanaku saja.

“Bersandar saja di sini, kalau saja ada murid yang tertangkap lagi Joonie-ah..” Aku pun menurutinya untuk bersandar di dinding yang memang ditempeli(?) oleh tangga. Menahan rasa kesalku dan memutuskan untuk diam saja.

“Joonie-ah, kalau kita punya waktu senggang, tempat apa saja yang ingin kau kunjungi bersamaku?” Tanya Changmin yang berada di sampingku. Mm.. mau kemana ya?

“Aku ingin kita ke taman bermain, makan patbingsoo ukuran super bersama, membeli gembok lucu lalu pergi ke Namsan Tower, makan-makan sepuasnya, lalu berjalan-jalan ke Mokpo, ke pantai Mokpo, ke pulau Jeju, lalu..”

Aku tertawa mengingat kejadian di belakang tangga waktu itu. Rencana nakal kami tidak terlaksana, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku menyebutkan begitu banyak keinginanku. Yang aku ingat hanyalah aku sudah berada di rumah.

“Posisimu waktu itu seperti ini, kau tertidur waktu itu..” Aku menyadari posisiku sekarang. Aku bersandar di bahu Changmin saat mengingat kejadian itu. Aigo, jadi waktu itu aku tertidur dengan posisi seperti ini?

“Kau tahu apa yang aku lakukan sebelum mengantarmu pulang?”

Belum sempat aku menjawab, Changmin mencium keningku singkat. Jadi dia mencium keningku ketika aku tertidur baru mengantarku pulang? Aish, kenapa hobi sekali membuatku malu sih >///<

“Kajja! Kita ke aula..” seperti biasa, Changmin menggenggam tanganku lagi, seakan-akan aku ini tidak akan bisa berjalan jika dia tidak menggenggam tanganku, tapi tidak apa. Yang penting ini tangannya kan 🙂

“Duduklah di sana..” Changmin menunjuk sebuah kursi yang ada di dalam aula. Aku menurut saja, tapi herannya dia tidak mengikutiku, dia melepas genggaman tangannya saat aku akan menuju kursi yang ditunjuknya.

Saat aku duduk di kursi itu, rasa sakit menghampiriku. Lagi-lagi aku mengingat sesuatu, sesuatu yang menyakitkan sekaligus menyedihkan. Sekarang aku tahu alasan Changmin tidak mengikutiku duduk di sini.

‘Cause everything you do and words you say
You know that it all takes my breath away

Kami semua berada di aula sekolah, menunggu pengumuman kelulusan dengan perasaan yang bercampur aduk. Kami sebenarnya sudah sangat yakin akan lulus semua, tapi memang perasaan gugup tidak bisa dihindari karena ini adalah hal yang sangat ditunggu.

Aku mengedarkan pandanganku seluruh penjuru aula. Aku belum menemukan Changmin berada di sini. Handphone-nya juga tidak aktif saat aku hubungi. Apa mungkin dia terlambat?

“Semuanya harap tenang! Pengumumannya sudah datang!” suasana riuh aula berubah menjadi sunyi perlahan-lahan. Kami semua mulai duduk secara teratur. Aku langsung mencari tempat strategis agar ketika Changmin datang bisa langsung mendapatkan tempat duduk. Jadilah aku mengosongkan satu tempat duduk untuknya di sampingku dan harus menahan rasa tidak enak saat mengatakan pada murid-murid lain kalau kursi yang kosong ini sudah ada yang menempatinya. Aku harap Changmin tidak lama.

Suasana riuh kembali terdengar setelah pengumuman selesai. Benar, kami semua lulus dengan nilai memuaskan. Suasana haru menyelimuti aula. Banyak yang menangis haru bersama teman-temannya, termasuk aku.

Tapi aku masih mencari Changmin. Dia memang tidak datang, atau terlambat? Bagaimana bisa dia melewati momen penting ini?

Sampai salah seorang teman sekelasku dan Changmin menghampiriku dan mengatakan bahwa Changmin sedang mengikuti training di SMent, aku baru menyadari bahwa Changmin meninggalkanku.

Changmin tidak mengabariku tentang audisi apapun sampai dia harus mengikuti training di perusahaan entertaimen terbesar dan terketat di Korea Selatan itu. Bukan langsung dari Changmin, aku mengetahuinya bukan langsung dari Changmin.

Aku tidak membencinya, tidak bisa. Aku tidak mau egois, itu cita-citanya. Yang aku tahu, selalu ada alasan dibalik sebuah tindakan, baik itu secara tersirat maupun tersurat. Tugasku hanyalah berpikir positif tentangnya. Dia tidak mungkin melanggar janjinya.

“Mianhae.. uljima..” Changmin mengusap airmatku pelan. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya, masih mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.

“Waktu itu aku hanya iseng mengikuti audisi, aku pikir aku tidak akan lolos. Tapi ternyata aku lolos dan langsung diminta untuk mengikuti training. Sialnya, waktu aku ingin menghubungimu aku baru mengingat bahwa kau pernah mengatakan ingin belajar untuk masuk jurusan kedokeran, makanya aku tidak menghubungimu. Hari dimana aku harus pergi ke asrama untuk training, aku terdesak oleh pihak SM karena mereka menginginkan semuanya berjalan cepat, makanya aku –“

“Gwenchana..” aku memotong pembicaraannya. Aku tidak ingin dia semakin merasa bersalah karena itu memang cita-citanya. Kau tidak mungkin menyalahkan orang yang kau cintai gara-gara dia mengejar cita-citanya kan?

“Jinja? Tapi aku –“

“Gwenchana Changmin-ah.. aku tidak marah..”

“Gomawo..”

“Untuk?” Changmin menggenggam tanganku erat, belum menjawab pertanyaanku tadi. Tatapan matanya serius, berbeda dengan Changmin sebelumnya.

“Untuk tetap memikirkanku.. gomawo..” senyum terkembang dari bibirnya, dan itu membuatku ikut tersenyum sambil mengangguk. Karena memang benar, aku memikirkannya, aku memikirkan semua tentangnya.

“Jadi.. tentang yang ditaman waktu itu.. apa aku masih bisa memilikimu lagi?” dengan gugup Changmin menanyakan hal itu dan berhasil membuatku ingin membuatnya sport jantung dulu, hhehe..

“Apa maksudmu dengan ‘lagi’? Tidak bisa..” Changmin terlihat shock dengan perkataanku tadi. Sebelum dia menanyakan yang macam-macam lebih baik aku katakan saja maksudnya.

“Tidak ada kata ‘lagi’, karena kau memang selalu memilikiku, Shim Changmin..”

Aku memang tidak pernah berhenti memikirkanmu, kau sudah terlalu dalam memasuki hidupku.

Nobody gonna love me better
I must stick with you forever
Nobody gonna take me higher
I must stick with you.
You know how to appreciate me
I must stick with you, my baby
Nobody ever made me feel this way
I must stick with you
And now
Ain’t nothing else I can need (nothing else I can need)
And now
I’m singing ’cause you’re so, so into me.
I got you,
We’ll be making love endlessly.
I’m with you (baby, I’m with you)
Baby, you’re with me (Baby, you’re with me)

FIN

aaaaah selesai #senamSKJ ^^

mianhae buat yang udah nungguin MinJoon couple-nya u,u

mianhae kalau cerita ini mendayu-dayu geje gimana gitu *deepbow*

jangan salahkan seung, salahkan kyu #ditendangkyu

hhehhe

buat hyunjoon = gimana saeng ff ini? huaa mianhae kalau nggak sesuai harapan u,u hope you’ll like it 🙂

sekali lagi gomawo buat semuanya yang udah ngasih semangat untuk buat ff ini ya ^^

wassalamu’alaikum

Advertisements