Tags

, , , , ,

saya balik lagi dengan KyuAn, semoga nggak bosen ya, ehehhehe ^^

Enjoy ya ๐Ÿ™‚

Hope you’ll like it! ^^

13 Juni 2011

Kyuhyun Pov

Kami baru saja sampai di dorm pagi ini. Melelahkan sekali. Tapi yang paling capek pasti Leeteuk hyung dan Yesung hyung, malam ini mereka kembali siaran untuk Sukira padahal kami ingin beristirahat. Leeteuk hyung yang seorang pekerja keras tentu saja tidak menghiraukan jadwalnya sama sekali, tapi kami yang mengkhawatirkannya. Dia itu terlalu padat jadwalnya.

“Kyu, bisa bantu aku membawa koper? Entah kenapa terasa sangat berat.” Eunhyuk hyung masih berada di depan pintu dorm. Sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi untuk menarik koper itu. Aku pun membantunya membawa koper-kopernya, kasihan dia kan.

“Aaaah.. gomawo..” Eunhyuk hyung langsung merebahkan dirinya di sofa sambil mengeluarkan handphone-nya dan menelepon seseorang. Tidak usah ditanya lagi, pasti dia menelepon Ayako. Kenapa dia ini hobi sekali sih buat orang iri? Aku mengalihkan pandanganku ke Leeteuk hyung, aish! Dia juga sedang menelepon istrinya. Aku melihat Donghae hyung dan sialnya dia juga sedang menelepon pacarnya seperti Eunhyuk. Tiba-tiba aku merasakan tubuhku terdorong ke depan, ternyata Shindong hyung tak sengaja menabrakku. Kalian tahu? Dia juga sedang menelepon seseorang, siapa lagi kalau bukan Nari.

“Ya! Kau ini kenapa? Kalau iri telepon saja Angel-mu itu! Susah sekali sih.” Sungmin hyung menyodorkan air minum untukku dan mengajakku duduk di sofa. Menyingkirkan kaki Eunhyuk hyung yang seenaknya saja menguasai sofa.

“Tidak bisa dihubungi hyung..” Sungmin hyung menatapku heran. Tidak mungkin dia ingin menanyakan apa alasannya, aku sudah menceritakan yang kemarin kepadanya. Mungkin dia ingin bertanya kenapa aku tidak ke apartemennya saja.

“Kita istirahat dulu, aku ingin kau menemaniku nanti hyung, entah kenapa sepertinya aku seperti akan butuh bantuan seseorang..” Ya, itu yang aku rasakan. Dari kemarin aku terus berpikiran untuk mengajak Sungmin hyung menemaniku menemui Angel, padahal aku tidak begitu menyukai ada orang lain ketika sedang berdua dengan Angel.

“Bagaimana kalau nanti sore? Sekitar jam tiga sore, jadwal kita juga tidak begitu padat kan?” Aku hanya mengangguk pelan. Masih ragu dengan keputusan Sungmin hyung sebenarnya. Nanti sore? Apa tidak terlalu lama?

“Waeyo? Mau sekarang?”

“Tidak usah, dia tidak akan suka melihatku sekarang hyung,” Sungmin hyung hanya melongo mendapati jawabanku yang seperti itu. Bingung? Aku tidak, ahahha

“Kita ini baru saja sampai dari Paris, dia pasti tahu itu, dan kalau kita ke sana sekarang, akan aku pastikan kita diusir untuk disuruh istirahat hyung,”

Kyuhyun Pov end

Author Pov

**Restaurant**

“Joonie-ah, aku pergi dulu ya,” ucap Chaekyo pada Hyunjoon yang sedang membaca majalah di meja kasir. Baru saja Chaekyo ingin pergi, tangannya ditahan oleh Sungra dan Hyunjoon.

“Onnie, berikan bubur ini ya nanti, sampaikan semoga lekas sembuh. Tidak ada yang menjahiliku lagi..” Sungra menampakkan raut wajah sedihnya. Chaekyo pun menerima bungkusan bubur tersebut sembari tersenyum dan beralih menatap Hyunjoon.

“Onnie, ingat kan obat yang aku berikan padamu? Masih ingat kan takarannya berapa?” Hyunjoon yang seharusnya ikut kembali mengingatkan Chaekyo tentang obat-obat yang telah dicari oleh Hyunjoon. Chaekyo tampak berpikir sebentar, dan itu membuat Hyunjoon ketakutan. Bagaimana kalau Chaekyo salah memberikan takaran obat? Bisa berbahaya.

“Onnie aku ikut saja yaa, aku takut kau malah membunuh Raena onnie- aw!” Hyunjoon mengelus kepalanya yang baru saja dijitak oleh Chaekyo. Sedangkan Sungra hanya tertawa melihat onnie-nya kesakitan.

“Aku tidak mungkin lupa! Aish, yasudah! Nanti aku SMS saja kau kalau aku lupa Joonie-ah, ara?” Hyunjoon hanya mengangguk. Dalam hatinya masih terbesit kekhawatiran, onnie-nya yang satu ini hanya bisa menghapal resep masakan, yang lain? Sangat diragukan.

Akhirnya Chaekyo pun pergi, untunglah dia membawa mobilnya hari ini. Chaekyo berharap keadaan sahabatnya yang satu itu membaik, mengingat Angel atau yang sekarang diminta dipanggil Raena itu lebih pandai mengurus orang lain dibanding diri sendiri.

**Raena’s Apartement**

Chaekyo memasukkan kombinasi password untuk memasuki apartemen Raena. Saat dia sudah masuk, suasana masih gelap. Ruang tamu dan juga dapur masih terlihat rapi seperti kemarin dia tinggalkan. Televisi juga tidak menyala sama sekali. Apa Raena belum bangun? pikir Chaekyo.

“Chae..kyo..” Chaekyo langsung melesat ke kamar Raena saat dia mendengar erangan sahabatnya itu. Terang saja Raena menyebutkan nama Chaekyo, selama tiga hari dia sakit Chaekyo lah yang menjaganya.

“Rae! Aku di sini.. mianhae aku terlambat.. aigoo.. sudaaah jangan menangis lagi..” Chaekyo menggenggam tangan Raena yang masih saja dingin, bahkan lebih dingin dari suhu tubuh Raena yang memang agak dingin. Chaekyo mengecek dahi Raena, masih panas.

“Rae-ah, aku siapkan bubur dulu ya..” Chaekyo membawa bungkusan bubur tadi dan langsung menuju dapur untuk mengambil piring. Raena yang perutnya masih sakit berusahan untuk sekedar duduk di ranjangnya. Saat berhasil duduk, Raena melihat I-phone-nya yang berada di lantai. Layar I-phone-nya mati, pecah, bahkan chasing-nya pun tergores parah.

“Rae, makan dulu..” Chaekyo baru saja kembali dari dapur dan langsung menyuapi Raena. Baru saja tiga suap, Raena sudah menolak untuk kembali makan. Mulutnya masih terasa pahit dan lambungnya masih suka berontak. Chaekyo akhirnya menyerah untuk membujuk Raena untuk tetap makan, ujung-ujungnya juga Raena pasti muntah.

“Chae-ah, tolong ambilkan itu..” Raena menunjuk I-phone-nya. Chaekyo mengambilnya dengan hati-hati, takut nanti layar I-phone itu lepas.

Raena menatap I-phone-nya nanar. Dia ingat tadi malam Kyuhyun meneleponnya dan mengabarkan akan pulang, tapi dia malah pingsan. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah, apakah Kyuhyun tahu dia sedang sakit?

“Chae, aku ingin mandi dulu ya..” Raena mencoba berdiri, tapi gagal. Kali ini dia merutuki tubuhnya yang kalau lemah akan sangat lemah, tidak tanggung-tanggung. Chaekyo melarangnya, tapi Raena bersikeras, mengingat dia juga sedang mengalami rutinitas setiap bulan seorang gadis normal yang belum menikah. Datang bulan.

Author Pov end

***

Kyuhyun Pov

**SJ’s Dorm**

Hari sudah menunjukkan pukul dua siang. Kami yang hari ini sepi jadwal berada di dorm sekedar untuk istirahat. Aku memandang Sungmin hyung yang masih bermalas-malasan di ruang tengah tempat kami berkumpul dengan yang lain. Ryeowook seperti biasa, cuci piring bersama Donghae hyung.

“Hyung, kita pergi sekarang saja! Kajja!” Aku menarik tangan Sungmin hyung dengan cepat, tapi sayangnya ditahan oleh Eunhyuk hyung.

“Aku ikut! Ingin ketemu Angel kan?” Tanpa persetujuanku lagi Dancing Monkey itu langsung melesat keluar. Yasudahlah, setidaknya kami mempunyai supir untuk kesana. *plak!

**Raena’s Apartement**

Aku dengan cepat memasukkan kombinasi password apartemen Angel. Aku memersilahkan Sungmin hyung masuk duluan, entah karena apa aku bingung.

“YA!” Omo! Siapa dia? Haah untung saja Sungmin hyung itu orangnya tanggap, kalau tidak panci itu sudah mengenai muka aegyo Sungmin hyung. Eunhyuk yang berada di belakang Sungmin hyung menengok ke arah gadis itu. Masih dengan sikap siaga dia menggenggam erat tongkat baseball dan satu panci lagi yang aku yakin itu milik Angel.

“Kalian keluar! Atau aku panggil polisi!” Masih dengan keadaan siaga dia mengancam kami. Apa dia tidak mengenal kami? Aku memerhatikan penampilan kami satu per satu. Ah iya, penampilan teroris ini masih melekat pada kami. Pantas saja yang menyambut kami panci. Kami pun melepaskan masker dan kacamata kami. Berniat untuk memperkenalkan diri.

“Sungmin imnida..”

“Eunhyuk imnida..”

“Kyuhyun imnida..” dan reaksinya? Gadis itu membelalakkan kedua matanya, seperti habis melihat hantu saja -___-“

“Sung..min? Eun..hyuk? Kyu..hyun?” Kami bertiga mengangguk santai. Sudah menduga pasti reaksinya seperti ini kalau mengetahui kami ini siapa.

“Chae.. appeun.. Chae.. oddiseo..” aku mendengar ringisan seseorang dari dalam kamar Angel, itu pasti dia. Tapi ada apa dengan suaranya?

“Ya! Ya! Kau ini jangan mentang-mentang artis seenaknya saja ingin masuk kamar seorang gadis! Duduk di sana!” gadis tadi menghalangiku untuk masuk ke kamar Angel. Baru saja aku ingin menjelaskan statusku dia malah menutup pintu kamar dengan kuat.

“Kyu, di sini saja dulu..” Sungmin hyung terlihat sudah duduk di ruang tamu di depan. Mau tidak mau aku mengikutinya.

“Siapa dia?” tanya Eunhyuk hyung dengan wajah bingung. Aku sebenarnya tahu siapa dia, dia itu koki di restoran Angel, tapi aku tidak tahu namanya. Aku memerhatikan Sungmin hyung, dia memandang pintu kamar Angel sambil tersenyum tidak jelas daritadi.

“Hyung, waeyo?” tanyaku. Dan kalian tahu dia bilang apa?

“Kyu-ah, Hyuk-ah, gadis tadi, dia akan jadi istriku,”

“Mwo?!”

*15 minutes left*

“Kalian, aku ingin bicara dengan kalian,” gadis pelempar panci tadi duduk di sofa yang kami tempati. Dia baru saja keluar dari kamar Angel.

“Aku hanya ingin tahu, ada apa kalian datang? Ada perlu apa? Apa kalian mengenal Raena? Dan kenapa kalian bisa mengetahui password untuk membuka pintu apartemen ini? Jelaskan padaku!” Aish jinja! Jika aku tidak mengingat profesi gadis ini adalah koki, mungkin aku akan mengira dia ini wartawan infotainmen!

“Kami datang untuk mengunjungi Angel, salah satu dari kami pacarnya Angel. Tapi, siapa Raena?” jawab Sungmin hyung. Cish, mencari kesempatan sekali dia -__-. Ah tapi dia benar, siapa Raena?

“Apa kau bilang? Pacar? Siapa?” Sungmin hyung dan Eunhyuk hyung kompak menunjuk ke arahku. Wajah gadis tadi langsung berubah masam saat melihatku. Apa dia ingat denganku ya?

“Oh, namja kurang ajar ini?! Yang buat keributan di dapurku waktu itu?!” Chaekyo menunjukku geram. Aku hanya menunjukkan ‘V’ sign padanya, berharap dia tidak marah lagi.

“Agashi, namamu?” Sungmin hyung memasang tampang manly-nya sekarang. Dia tidak menghiraukan amarah gadis tadi padaku. Aku mengambil kesempatan ini untuk melihat Angel.

“Aish, kenapa dikunci sih?”

“Ehm! Ingin masuk tanpa izin Tuan Cho?” Gadis tadi, menyingkirkanku dari depan pintu dan membuka pintu Angel yang tadi dikunci. Aku jadi berpikir, gadis ini protektif sekali.

“Jangan sampai dia bangun, aku tidak ingin dia kesakitan lagi..” kata-kata gadis itu langsung membuatku kaget. Angel sakit?

Aku mendekati ranjang Angel. Dapat aku lihat wajah pucatnya yang memerah. Aku menyentuh tangannya yang tidak tertutup selimut, dingin. Bahkan lebih dingin dari biasanya. Aku menyentuh dahinya, panas. Aku menengok ke arah meja di dekat ranjangnya, I-phone-nya mati dan layarnya sudah retak parah.

“Dia sakit apa?” Aku menoleh ke arah gadis tadi. Dia mendekatiku yang diikuti oleh Eunhyuk hyung dan Sungmin hyung di belakangnya. Aku dapat melihat raut kekhawatiran yang besar di wajah Eunhyuk hyung. Dia ikut mengenggam tangan Angel yang satunya lagi.

“Maag-nya kambuh, sudah tiga hari lebih dia tidak makan dengan teratur. Dia juga kembali melakukan street dance, dia bilang dia sudah lama tidak melakukannya. Mengikuti beberapa les bahasa asing pada malam hari dan selalu tidur lewat dari jam 10 malam! Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya beberapa hari ini, yang jelas dia ini sudah gila!” He? Sebanyak itu? Aish! Dia ini..

“Kenalkan, aku Chaekyo, Kwan Chaekyo. Aku sahabatnya Raena atau yang kau kenal selama ini Angel. Mungkin dia belum memberitahumu nama Korea-nya,” Chaekyo mengambil tasnya yang ada di dekat ranjang Angel.

“Aku pulang dulu, aku sudah menjelaskan pada Sungmin oppa apa saja yang harus kau lakukan nanti.” Baru saja Chaekyo ingin keluar kamar, dia berbalik lagi dan menatapku tajam.

“Rawat dia baik-baik. Aku melakukan ini karena mereka berdua meyakinkanku. Awas kalau terjadi apa-apa dengan Raena!” ancamnya. Akhirnya dia pun keluar dari kamar dan Sungmin hyung mengikutinya.

“Cheonsa.. cepat sembuh..” aku menahan Eunhyuk hyung yang ingin mencium kening Angel. Enak saja dia main cium saja, aku masih di sini!

“Aish, kau ini! Dia ini adikku!”

“Dan dia milikku! Minggir!” Aku menyingkirkan tangan Eunhyuk hyung dari Angel dan dia langsung pergi keluar kamar. Sungmin hyung dengan wajah berseri masuk ke kamar dan menjelaskan padaku apa saja yang harus aku lakukan. Aku mengingat semuanya, bagaimana tidak, milikku sedang sakit dan aku dengan bodohnya tidak menyadari itu.

“Kalian pulang saja hyung, biar aku saja yang merawatnya..” Sungmin hyung pun menurut. Mereka berdua pulang dan yang paling susah diajak pulang tentu saja Eunhyuk hyung. Dia bersikeras untuk menjaga Angel bersamaku, bahkan dia bilang ingin menjaga Angel sendirian, kalau perlu bawa Ayako katanya. Aneh, dia pikir Angel ini anaknya? -___-“

“Sudahlah hyung, aku bisa menjaganya, percayakan saja padaku!” Akhirnya Eunhyuk hyung pun berhasil ditarik oleh Sungmin hyung. Aku mengikuti mereka sampai pintu depan. Setelah mereka pamit, aku pun mengunci pintu tersebut dan kembali ke kamar Angel.

Aku menarik kursi dan duduk di samping ranjang Angel. Sesuai perintah tadi, aku mengompres Angel secara rutin. Sering aku mengecek panasnya, sudah lumayan baikan sepertinya. Aku menggenggam tangannya, tidak sedingin tadi. Dinginnya sudah mendekati dingin tubuh Angel semula. Aku pun memutuskan untuk tetap mengompresnya, setidaknya ini belum jam makan malam, kalaupun dia terbangun aku sudah menyiapkan bubur tadi.

“Chae.. Chae..” Aku yang hampir tertidur kembali sadar saat mendengar suara Angel. Dia mengigau ya? atau bangun?

“Baby..” Aku semakin mengeratkan genggamanku. Wajah Angel kembali pucat, tangannya basah karena keringat. Bukannya tenang, dia malah terlihat gelisah padahal masih memejamkan mata.

“Sa.. kit.. sakiit..” Ottokhe? Dia kesakitan! Apa yang harus aku lakukan?! Aku tidak berpengalaman merawat orang sakit! Ayolah Kyuhyun! Ingat-ingat apa yang dikatakan oleh Sungmin hyung tadi! Ayo ingat!

“Boo..?” Eh? Angel bangun? Aish pasti gara-gara aku panik tadi!

“Angel-ah, gwenchanayo?” Aku membantunya untuk duduk karena sepertinya dia tidak bisa melakukannya sendiri. Aku melihat dia seperti meringis, dan airmata keluar dari matanya. yaiyalah

“Perutku sakit lagi..” dan airmatanya semakin deras keluar. Aku yang baru pertama kali melihat Angel menangis sebanyak ini langsung panik dan entah kenapa aku tidak bisa berbuat apa-apa selain.. yaah memeluknya.

“Jangan menangis, aku mohon..” Aku membenamkan wajahnya di dadaku. Biarlah posisi kami sekarang sangat tidak menguntungkan untuk berpelukan, aku bisa saja sakit pinggang karena Angel masih bersandar di ranjangnya. Angel hanya membalasku dengan anggukan pelannya.

“Aku sudah menyiapkan bubur, makan ya?” Aku langsung menuju dapur dan mengambil semangkuk bubur yang sudah aku siapkan tadi, tidak terlalu panas untungnya.

“Aku suapi dan kau harus mau,” Aku menyendokkan bubur itu dalam porsi kecil. Dan sialnya, ide jahilku tidak bisa aku nonaktifkan walaupun pada saat seperti ini -___-“

“Kereta api dataaang.. wuuss! Masuk terowongan dan aaa…” Aku meliuk-liukkan sendok berisi bubur itu. Padahal Angel sedang meringis kesakitan, tapi lihat wajahnya, sambil menahan tertawa! ^^

“Awaas! Pesawat terbang akan jatuuuh!” Suapan kedua dia mulai makan lumayan lancar, tidak seperti yang pertama tadi mengunyahnya lama.

“Kupu-kupu terbang ajaib akan masuk ke perut akan memberi kesembuhaan.. buka jalaan aaa..” Kali ini dia mulai tersenyum. Aah aku merindukan senyum itu. ๐Ÿ™‚

“Ayo masuuukk! Monster Shindong mengejaaar!” Dan kali ini dia sukses tersenyum lebar, bukan tertawa. Aku rasa akan sangat sakit rasanya ketika kau tertawa sedangkan perutmu sedang sakit.

“Boo.. sudah.. kenyang..” Angel menahan tanganku lemah pada saat suapan kelima. Kenyang? Sedikit sekali makannya.

“Baby, sedikit sekali. Makan lagi!” Aku memaksanya membuka mulut dengan menyumpalkan sendok berisi bubur itu di mulutnya. Angel masih berusaha untuk menjauhkan sendok itu dari mulutnya.

“Aku mau mandi..” Angel berusaha bangkit dari ranjangnya dan seperti tadi, gagal. Aku pun membantunya berdiri. Untunglah dia bisa berjalan sendiri walaupun harus menelusuri dinding. Aku ingin saja mengantarnya, tapi aku takut ide jahilku muncul lagi. Bagaimana kalau tiba-tiba aku menggelitiknya? Kan tidak lucu -__-” Ehm.. sepertinya ada yang terlupa, tapi apa? Ya! Dia belum minum obat!

***

Angel baru saja selesai mandi, dan untunglah keputusanku untuk menunggu di luar kamarnya tadi benar. Ketika aku masuk ke kamarnya lagi, dia sudah berbaring lagi dan hendak tidur. Kalau tadi aku berada di kamar, bisa-bisa aku membopongnya dan menyuruhnya bermain PSP. Sepertinya aku tidak berbakat menjadi pacar yang perhatian, lebih ke arah kejam. -___-

“Baby, minum obat sekarang,” Angel langsung menggeleng dan kembali menenggelamkan dirinya dalam selimut. Aku menarik selimutnya dan tentu saja aku yang menang kalau ingin tarik-menarik selimut. Mana ada tenaga dia sekarang.

“Tolonglaah,” Angel pun menyerah dan kembali mencoba untuk menyandarkan punggungnya agar duduk, dan gagal. Dia ini, apa susahnya sih minta tolong padaku?

“Aku ada di sini, jadi tolong andalkan aku!”

“Mianhae..” Angel menundukkan kepalanya. Apa teguran tadi agak keras? Yasudahlah, yang penting dia harus minum obat sekarang, tadi Sungmin hyung bilang Angel belum minum obat tadi siang, tidak mau lebih tepatnya.

“Berarti nanti malam aku tidak usah minum obat lagi kan?” tanyanya. Aku membalasnya dengan tatapan ‘evil’ yang aku miliki.

“Araseo sajangnim..”

@night, 7pm not 2pm

Angel baru saja tidur setelah aku menceritakan apa saja yang kami lakukan di Paris. Untunglah perutnya sudah tidak begitu sakit lagi katanya. Tapi panasnya masih terasa, baru saja aku mengecek dahinya pelan agar dia tidak terbangun.

Perlahan aku menaiki ranjang Angel dan ikut merebahkan diriku di sana. Untunglah ranjang ini tidak terlalu sempit walaupun diperuntukkan satu orang. Tapi ini tidak buruk sama sekali.

Dengan begini, aku bisa melihat wajahnya secara jelas, cantik. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang teratur, sepertinya dia tidur nyenyak. Detak jantungnya juga terasa. Aku makin mendekatkan wajahku dengan wajahnya, menyentuhkan dahiku dengan dahinya. Panas.

“Sampai kapan dahimu akan menempel?” Angel membuka matanya dan tentu saja pandangan kami bertemu. Dalam jarak seperti ini, namja mana yang tidak gugup jika dipandang oleh yeoja yang dicintainya sedekat ini.

“Sejak kapan kau bangun?” Aku menjauhkan wajahku sedikit karena aku yakin wajahku sudah memerah.

“Sejak kau naik dan ikut tidur..” jawab Angel pelan. Aku jadi ingin mengajaknya mengobrol saja kalau begini. Aku pun memeluk pinggangnya, mendekatkannya denganku. Tidak ada pemberontakan, dia tidak mungkin bisa berontak kalau seperti ini.

“Masih panas?” Basa-basi, aku hanya ingin mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Aku sangat menyukai menatapnya dari dekat gara-gara tadi. Angel mengangguk pelan, dia menutup matanya lagi. Yaah matanya jangan ditutup!

“Buka matamu..” Sesuai perintah, Angel membuka matanya dan langsung aku sambut dengan mencium dahinya.

“Kau curang..” tangan kananku yang tadi memeluk pinggangnya berpindah ke pipinya. Bukan, bukan untuk menyentuh pipinya lembut, tapi untuk mencubitnya. Jujur saja, aku sedikit kecewa sekarang.

“Wae?”

“Kau selalu mengingatkanku untuk menjaga kesehatan, sedangkan kau? Sampai seperti ini. Anak nakal,” semakin kuat aku mencubit pipinya, biarlah sekalian balas dendam atas cubitannya selama ini, ehehehehe.

“Sakiiit.. lepaas.. kau itu seperti eomma-ku saja..” Tuh kan, kenapa suka sekali membantah.

“Ya! Aku tidak suka kau seperti ini! Kau tidak memikirkan kesehatanmu! Makan tidak teratur, les bahasa asing, tidur terlalu malam! Kau bahkan kembali melakukan street dance kan?!” Dalam jarak sedekat ini, aku kira Angel bisa mendengar semuanya dengan jelas. Tidak apalah, sekali-sekali dia ini dikerasi, aku tidak ingin dia sakit lagi.

Angel tidak menjawab sama sekali. Dia hanya menatap mataku dan meraih tanganku di pipinya, mengenggamnya sangat erat.

“Mianhae.. Aku memang bodoh..” Aku terkejut dengan kata terakhirnya. Bodoh, kata-kata itu terlarang untuk hubungan kami. Kami berdua jarang atau bahkan tidak pernah mengucapkan kata itu satu sama lain.

“Kau tidak bodoh, kau ceroboh!”

“Aku bodoh, seharusnya aku tidak usah merindukanmu sampai harus mengalihkannya dengan kegiatan lain..” Oke, dia berhasil membuatku terkejut lagi dan kali ini dia berhasil meredam kekecewaanku. Hei, dia begini karena merindukanku?

“Kau merindukanku, tapi kenapa tidak menghubungiku saja?” Ini baru namanya bodoh -___-“

“Itu akan menyiksaku babo!” Tangannya menyentil hidungku kuat. Ya! Sepertinya dia sudah mendapatkan kekuatannya lagi. Tapi, menghubungiku itu menyiksanya?

“Wae? eh, kau bilang apa tadi? Babo? Ya!” Tidak, tenang saja, aku tidak ‘menyiksanya’ lagi dengan cubitanku. Aku hanya memeluknya lagi, lebih dekat.

“Seharusnya aku tidak akan seperti ini kalau saja waktu itu kau tidak menciumku, babo!”

“Jinja? Kalau begitu cium lagi ya?”

PLAK!

“Baby.. kau kejaam..” Aku mengelus pipiku yang habis ditamparnya tadi, dalam keadaan sedekat ini dia bisa seperti ini? Tidak sakit, hanya.. pedas ๐Ÿ˜ฅ

“Jadi intinya, kau sakit begini karena merindukanku, begitu? Lalu kau mencoba untuk mengalihkan perasaanmu itu dengan merusak kesehatan sendiri bahkan tidak memerhatikan jadwal makanmu?” Angel pun mengangguk dan menenggelamkan wajahnya di dadaku. Aku pun membelai rambutnya pelan, sudah lama tidak merasakan yang seperti ini.

“Mianhae, aku tidak akan sakit lagi, aku akan cepat sembuh, asalkan kau biarkan aku seperti ini, sebentar saja, ya?” Aku tidak bisa menahan senyum bahagiaku sekarang. Momen ini susah aku dapatkan, mana mungkin aku tidak membiarkannya melepas pelukanku? Asal dia tahu saja, aku juga tersiksa merindukannya.

“Hei, apa Chaekyo langsung pulang saat kau disini?” Masih dalam posisi wajahnya di dadaku Angel bertanya.

“Tidak, dia sempat mengobrol dengan kami sebelum dia pulang,”

“Kami? Kau tidak sendirian?” Angel mendongakkan kepalanya menatap mataku dan itu membuatku mencium dahinya lagi.

“Ne, aku ditemani Sungmin hyung dan Monkey kesayanganmu..” Angel tersenyum saat aku menyebutkan kata ‘Monkey kesayanganmu’ tadi.

“Masih cemburu ya? Dia kan kakakku..” Aku mengembungkan pipiku dan yang menguntungkan dari tindakanku tadi adalah Angel semakin mengeratkan pelukannya. Jarang-jarang dia seperti ini.

“Bahas yang lain saja lah. Eh, temanmu itu sudah punya pacar belum?” Angel menatapku heran. Aiyaa.. jangan sampai dia salah paham!

“Jangan berpikiran yang macam-macam! Sungmin hyung sepertinya menyukainya, begitu..”

“Jangan, suruh Sungmin oppa jangan menyukainya. Chaekyo tidak akan mau menerima seorang artis lagi..” Bingung, aku menatap Angel. Tadi Angel bilang ‘lagi’, berarti temannya itu pernah berpacaran dengan artis kan?

“Aku tidak akan menceritakannya padamu, itu rahasia kami..” Akhirnya aku harus menelan rasa penasaran saja. Tapi, menyuruh Sungmin hyung berhenti menyukai seseorang, itu akan sulit, sangat sulit.

“Aku ngantuk boo..” setelah itu, tidak ada suara lagi. Ya ampun, gadis ini cepat sekali tidur -___-“

Masih dalam pelukanku, sepertinya dia tidak ingin sendirian sekarang. Aku tidur bersamanya tidak apa-apa kan? Lagi pula aku tidak akan apa-apakan dia. Tubuhnya masih lumayan panas, tapi nafasnya sudah teratur, sepertinya dia tidur nyenyak sekali.

Aku sedikit menunduk, sekedar untuk melihat wajahnya atau lebih tepat rambutnya karena wajahnya berada di dadaku. Aku mendongakkan wajahnya perlahan. Memerhatikan setiap detail wajah gadis yang sudah berani membuatku jatuh cinta, dan berani jatuh cinta padaku. Berani jatuh cinta padaku? Ya, jatuh cinta pada seorang artis yang sibuk, status yang harus selalu disembunyikan, dan bahkan aku merasakan sakit pada hatiku saat harus diterpa skandal dengan yeoja idol lain.

Sekarang, gadis ini sedang sakit. Sakit karena merindukanku sampai-sampai ingin menghilangkan rasa rindunya dengan cara yang salah menurutku. Sayangnya, aku tidak tahu harus berbuat apa. Inilah aku dengan pekerjaanku. Mungkin untuk saat ini saja dia seperti ini, selanjutnya tidak boleh seperti ini. Akan sulit bagiku meninggalkannya kalau dia seperti ini.

Perlahan, aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya, kalian tahu apa yang akan aku lakukan kan? Tidak usah aku jelaskan. Semoga dia tidak terbangun, aku ingin ini agak lama. Tertular demam juga tidak apa-apa. Cepat sembuh, Angel-ku.

***

14 Juni 2011

“CHO KYUHYUN!! WAKE UP!! IREONA!! PPALIIIII!!” Aku merasakan seseorang mengguncang tubuhku kuat. Aku tahu itu siapa. Demi apapun, aku bahagia dia sembuh secepat ini. Aku sudah bangun daritadi, hanya saja aku ingin tahu apa yang dia lakukan ketika bangun. Kalian tahu? Sebelum berteriak seperti ini, dia mencium pipiku, hhaha.

“Kau membangunkan singa baby! Rasakan ini!” Dengan cepat aku bangkit dari ranjangnya dan mengejarnya. Mudah saja menangkapnya lalu menggelitiknya. Dan tenaganya kembali, dia malah mencubitiku tiada ampun. Aku kalah (_ _”)

“Mandilah, lalu sarapan!” Aku pun menurutinya karena bajuku memang ada di sini. Jangan berpikiran macam-macam. Itu karena aku pernah minta tolong Angel untuk menjahitkan bajuku yang sobek dan lupa mengambilnya lagi, lebih tepatnya kami berdua yang lupa. Absurd

Selesai mandi, aku langsung menuju dapur. Angel sudah menunggu di sana dengan berbagai macam.. mm.. sayuran, lagi.

“Cepat habiskan, setelah ini kau harus pulang.” He? Dia mengusirku?

“Kau kan besok harus berada di Thailand, lupa?” Ah iya, shooting ‘Masita’ ya.

Kami makan dalam diam, memilih untuk konsentrasi dengan makanan masing-masing. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, karena dipikiranku sekarang hanyalah kenapa sayuran ini lambat sekali habisnya!

“Aku akan berusaha agar tidak sakit lagi..” kata Angel sambil menunduk menatap piringnya. Ah kesempatan untuk menceramahinya sekarang.

“Yaksok?”

“Ng.. yaksok..” Angel menatapku meyakinkan. Aku menghentikan kegiatan makanku dan menatapnya tajam.

“Janji makan tepat waktu?”

“Ne..”

“Janji mengurangi kegiatan selain bekerja direstoran?”

“He’eh..”

“Janji tidak tidur larut malam lagi?”

“Eung..”

“Janji tidak melakukan street dance lagi?” Angel terlihat ragu saat menjawab yang ini. Aish, semenjak dekat dengan Eunhyuk hyung dia semakin sulit untuk menghilangkan hobinya ini.

“Tergantung Hyukkie, tapi aku janji tidak akan sering melakukannya, yayayaa..” Untuk yang satu ini menyerah saja lah, setidaknya dia tidak dengan orang lain yang tidak jelas siapa. Kalau ada apa-apa dengannya gara-gara dance kan aku bisa langsung memarahi Eunhyuk hyung.

Akhirnya sarapan selesai. Angel menyuruhku untuk segera pulang karena katanya Sungmin hyung sudah menunggu. Dia menggunakan handphone-ku untuk menghubungi Sungmin hyung katanya.

“Aku pulang dulu, jangan lupa minum obat, kau belum sembuh total, Kim Raena..” Angel tersenyum saat aku menyebutkan namanya. Kim Raena.

“Kau pasti tahu dari Chaekyo ya? Ne sajangnim, akan aku laksankan, pulanglah..” Angel atau yang sekarang akan aku panggil Raena memelukku singkat. Seperti biasa, aku menangkupkan kedua tanganku di pipinya, menatap matanya.

“Jaga kesehatanmu, Rae-ah..” Aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya, melakukan apa yang tadi malam aku lakukan. Raena menerimanya dengan baik, bahkan dia mengalungkan tangannya di leherku dan spontan tangan kananku berpindah ke lehernya dan tangan kiriku memeluk pingangnya. Yang seperti ini, pertama kali untuk kami.

Lima menit, aku merasakan asin pada ciuman kami. Aku melepas bibirnya, menatapnya yang menangis.

“Hhehe.. mian.. aku pasti akan merindukanmu lagi..” Raena menghapus airmatanya. Aku hanya tersenyum menanggapinya, setidaknya dia sudah berjanji akan menjaga dirinya ketika merindukanku, aku tidak akan khawatir lagi.

“Aku juga, makanya, lanjutkan lagi..”

“Tapi Sungmin op–” Aku membungkam bibirnya seperti posisi tadi. Setidaknya biarkan dulu seperti ini sebentar, atau lama? Ah entahlah. Mungkin dengan ini dia bisa lebih cepat sembuh, hhaha ๐Ÿ˜€

FIN

Entah ini cerita macam apa (_ _) udah panjang, nggak jelas, maksa, nggak nyambung, yaah pokoknya ini jauh dari kata sempurna.

Mianhae atas kegejean saya yang tersalur lewat ff ini. Soal sakit, yaaah itu kenyataan. Derita anak semi pengangguran trus sendirian dirumah dengan kemampuan memasak terbatas, beginilah -_-“

karena eh karena ff ini jauh dari kata sempurna, maka dari itu si author labil mengharapkan kritik dan saran melalui Reg <spasi> Jodohย kotak komen yang tersedia ๐Ÿ™‚

Buat semua reader yang udah baca, saya ucapkaaan..

Thank you so much reader ๐Ÿ™‚
I love you all, chu~

Aku nggak mikirin tentang silent reader, aku udah makasih banget kalian mau baca ff aku, tapi alangkah berbahagianya jika kita saling mengenal ^^ dan yang paling penting nggak ada yang plagiat ff daku, walaupun jelek tapi bikinnya kan mikir juga, dan aku yakin di Indonesia InsyaAllah nggak ada plagiat ๐Ÿ™‚

sekian curhatan ababil sang author,

See you chinguduel ^^

Advertisements