Tags

,

“Charin-ah! Tunggu!” Aku pun menoleh dan mendapatkan Henry oppa yang sedang berlari mengejarku. Ah, aku lupa kalau hari ini dia akan menjemputku! Pabo!

“Ah, oppa.. mianhae.. Aku lupa kalau kau hari ini menjemputku..” Aku menghampirinya dan langsung mengeluarkan tisu untuk menyeka keringat yang ada di keningnya karena mengejarku tadi.

Ah iya, Aku dan Henry oppa sudah berpacaran beberapa bulan setelah kejadian di Sungai Han tahun lalu. Dia laki-laki yang manis dan kau bisa merasa nyaman jika di dekatnya. Henry oppa juga yang menyelamatkanku dari keterpurukan ^^

“Ah, gomawo..” Henry oppa tersenyum saat aku masih menyeka keringatnya. Asal kalian tahu saja, senyumannya memang tidak semematikan senyum Kibum dulu, tapi aku ingin senyum ini selalu ada untukku. Senyum seorang penyelamat.

Jangan berpikiran aku mau berpacaran dengannya karena balas budi. Bukan karena itu. Dia masuk ke dalam hidupku dengan cara yang aku pun tidak tahu bagaimana. Setiap pelukan dan sentuhannya sangat berharga bagiku. Maka dari itu, aku tidak ragu ketika dia memintaku untuk menjadi kekasihnya.

“Aku sudah membawa bunganya, kau tadi mau kemana?” tanya Henry oppa. He? Dia sudah membeli bunganya?

“Aish kau pasti lupa, kan kita sudah berencana untuk pergi bersama hari ini dan aku bilang padamu kemarin aku yang akan membeli bunganya.. kau ini bagaimana,” dia mengusap pipiku pelan dan itu menyebabkan mukaku memerah. Habis, tangannya itu lembut sekali walaupun hanya sebentar ><

“Aku lupa lagi.. mianhae.. yayayaa..” aku bergelayut manja pada lengan Henry oppa dan dibalas dengan diacaknya rambutku dan mencium keningku.

“Kajja! Nanti keburu malam! Lihat, langit saja sudah memasang wajah mengantuk Cha-ah!” Henry oppa menyipitkan matanya yang sudah sipit itu, membuat ekspresi mengantuk dengan wajah yang lucu.

“Oke! Setelah itu kita dinner di tempat mewah! Bagaimana?” Henry oppa mengangguk dan menggenggam tanganku menuju mobilnya.

***Han River***

Akhirnya kami sampai juga. Sungai Han. Aku dan Henry oppa yang membawa sebuket bunga mawar putih turun dari mobil dan langsung menuju pinggiran Sungai Han.

“Haah.. kau tahu? Mencari bunga mawar putih itu sulit sekali, jadi aku hanya mendapat enam tangkai Cha-ah..” Henry oppa menunjukkan buket bunga mawar itu padaku dan memberikannya. Mm.. Bagaimana kalau kami bagi dua saja? Aku pun memberikan tiga tangkai untuk Henry oppa dan tiga tangkai sisanya untukku. Henry oppa sempat bingung tapi diterimanya saja bunga itu.

“Maksudmu untukku? Kita berdoa bersama?” Aku hanya mengangguk dan memulai ritual setiap bulanku. Sudah tujuh bulan aku melakukan ritual tersendiri ini, tapi hari ini aku ingin melakukannya dengan Henry oppa.

Ritual yang aku maksud bukanlah ritual macam-macam. Hanya memetik kemudian menyebarkan kelopak-kelopak bunga mawar putih tersebut ke Sungai Han sambil berdoa atau lebih tepatnya bercerita, untuk Kim Kibum.

Tiba-tiba Henry oppa mencium pipiku kilat dan tersenyum jahil.

“Jangan lupa menyebutkan namaku, oke?” Henry oppa pun langsung beralih menatap bunga mawar putih digenggamannya sambil tersenyum. Dia sudah memetik satu kelopak lalu menerbangkannya bersama angin yang kemudian jatuh di Sungai Han.

“Mulailah Cha..”

Ah sampai lupa. Baiklah, mulai saja. Aku pun memejamkan mata dan mulai berdoa.

  Apa kabarmu?

  Aku datang bersama Henry oppa, bagaimana? Kami cocok kan?

  Henry oppa laki-laki yang sangat baik, seperti katamu

  Dia membuatku bahagia Bum-ah

  Apa kau di sana bahagia?

  Kau masih merindukanku tidak?

  Apa kau bertemu bidadari yang cantik-cantik di sana? Apa mereka sepertiku? Hhehe

  Bum-ah, semoga kau tenang di sana

  Aku akan bahagia di sini, bersama orang yang kau percayai untuk menjagaku

  Aku akan mencintainya, tapi tidak seperti aku mencintaimu

  Kau dan Henry oppa berbeda, maka dari itu caraku mencintainya juga berbeda

  Aku mencintaimu karena terbiasa, dan aku mencintainya karena takdir

  Terima kasih sudah memberi jalan untukku

  Janji padaku kalau kau akan terus bersama kami

  Bum-ah, hari ini hari terakhir aku melakukan kegiatan ini

  Aku ingin hidup bersama orang yang aku sayangi yang sedang berada disampingku

  Apakah dia bersungguh-sungguh padaku Bum-ah?

  Aku sudah tidak sabar ingin menjadi Nyonya Lau, hhehe

  Bum-ah, sekali lagi, terima kasih

  Semoga kau selalu bahagia di sana..

Selesai dengan ritualku, aku pun memetik seluruh kelopak secara langsung dan membiarkannya diterpa angin. Aku merasa sangat lega setelah bercerita hari ini.

Senyum terkembang dari wajahku, dan aku rasa pipiku juga sudah mulai merona karena pikiranku tadi. Menjadi Nyonya Lau. Ada-ada saja kau Shim Charin! Kalian kan baru berpacaran selama tujuh bulan. Mana mungkin Henry oppa mau melamarku secepat itu, dan juga apakah aku benar-benar siap?

Senyumku terus terkembang dan tiba-tiba Henry oppa mencium pipiku cepat, lagi. Hobi sekali dia ini.

“Sudah selesai?” katanya sambil merangkul bahuku. Aku hanya mengangguk sambil mengendalikan diri agar pipi ini tidak bersemu merah. Tapi mataku menangkap bunga mawar putih yang ada digenggamannya, masih lengkap.

“Oppa, kenapa bunganya tidak digunakan?” kataku sambil menunjuk bunga yang ada digenggamannya. Henry oppa hanya tersenyum, kemudian melepaskan rangkulannya. Sebagai gantinya, dia sudah berada di belakangku dan memelukku dari belakang.

“Sengaja..” hembusan nafasnya ketika berbicara menggelitik leherku. Apa yang akan dilakukannya? Apa dia akan.. mm.. melamarku? Aish, jangan PD dulu.

“Aku sengaja menyisakan bunga ini untukmu, sebagai alatku untuk melamarmu karena cincinnya belum jadi Cha-ah..”

Ha?!

“Jadi.. mau menjadi Nyonya Lau untuk seorang Henry Lau ini, Shim Charin?” Henry oppa menggenngam tanganku agar ikut menggenggam bunga yang ada ditangannya. Airmataku tidak bisa dibendung lagi, aku bahagia? Sangat.

“Itu tandanya iya!” Henry oppa langsung membalikkan tubuhku untuk menghadapnya, kemudian mencium bibirku lembut.

“Gomawo..” ucapnya. Kening kami bersatu, menatap mata satu sama lain. Matahari senja menjadi saksi ungkapan Henry oppa.

“Kau tahu aku tadi berdoa apa?” aku menggeleng. Henry oppa melepaskan pelukannya dan beralih menatap bunga yang sudah berpindah ke tanganku.

“Kelopak tadi, aku gunakan untuk meminta izin dan doa dari Kibum agar kau mau menjadi milikku selamanya, ternyata manjur juga yaa..” katanya sambil mencubit hidungku.

“Kau harus yakin padaku.. Dalam hidupku, hanya kau yang ingin aku jadikan Nyonya Lau, tidak ada yang lain..”

Hanya kau. Ya, hanya kau Henry Lau. Memang bukan yang pertama, tapi aku janjikan kau yang terakhir untuk selamanya. Tenang saja, masa laluku tidak akan mengganggu. Yang ada, hanya aku sebagai Shim Charin-mu dan kau sebagai Henry Lau-ku.

Bagaimana Kim Kibum? Pemikiranku hebat kan? Terima kasih.

Advertisements