Tags

,

Assalamu’alaikum ^^
salam sejahtera buat semuanya 🙂

balik lagi sama cerita sedih mendayu-dayu nggak kesampean dari saya *plak!* hehhee
ini part terakhir dari Five Years Series! Yey! *appaluse* *sendirian* ^^
yaaah semoga berkenan dihati para readers yaaa ^^
ah iya, kalo mau bisa baca ff ini pake lagunya Yesung yang It Has To Be You..
kritik dan saran melalui kotak komen(?) sangat diharapkan ><

Oke deh, Enjoy reading!

Hope You’ll Like It chinguu 🙂

5th Year (Thank You)

Tahun 2010. Lima tahun aku bertahan dengan selalu menunggu seseorang dan membiarkannya berkeliaran seenaknya di otakku, Kim Kibum. Sepertinya otakku memang tidak bisa diajak kompromi lagi!

Aku sempat berpikir, apakah Kibum baik-baik saja? Apakah Kibum akan kembali tahun ini? Apakah aku akan bahagia tahun ini? Entahlah, semua terasa semu. Tidak jelas sama sekali.

Semenjak kematian Jong Woon, kami berlima semakin dekat. Hyuk Jae mulai menunjukkan rasanya pada Yena, walau Yena selalu menganggapnya sahabat. Kyuhyun dan Soohyun, aish! Kalau aku tidak menerima kartu undangan pernikahan mereka suatu hari nanti, kuhajar Kyuhyun!

Akhir-akhir ini, aku sering merasa diikuti. Sebenarnya sudah sejak dua tahun yang lalu aku merasakan ini. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tidak mungkin kan ada orang yang mau mengikuti gadis sepertiku ini?

***

Bulan Agustus lagi. Aish, otakku ini selalu saja tidak bisa berhenti memikirkannya! Kim Kibum, kalau sampai aku melihatmu lagi.. mungkin.. aku akan memelukmu erat. Aku tidak akan berani melepasmu, tidak akan pernah. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi Tuhan.

Aku terus berjalan, ke taman lebih tepatnya. Aku ingin menenangkan pikiranku. Mungkin di sini akan ada namja tampan yang bisa membuatku suka padanya, atau juga aku aku bisa bertemu dengan Kibum di sini. Oke, yang itu sedikit mengkhayal.

“Chogi, boleh aku duduk di sampingmu Nona Shim?” aku menolehkan kepalaku kebelakang, ke tempat orang yang memanggilku tadi.

Aku sedikit menyipitkan kedua mataku. Aku lupa dengan wajah orang ini. Lupa? Ya.. wajahnya familiar, tapi aku lupa siapa.

“Henry. Henry Lau. Changmin’s friend,” dia mengulurkan tangannya. Aku pun menyambutnya sambil tersenyum. Pantas saja, dia temannya Changmin oppa. Aku pun memersilahkannya duduk di sebelahku. Sebenarnya hari ini ingin sendiri, tapi entah kenapa, seperti aku butuh seseorang di sampingku. Ada firasat tidak enak.

“Bagaimana kabarmu?” Henry sunbae memulai percakapan, canggung.

“Mm.. lumayan sunbae..” aku hanya tersenyum miris. Tidak mungkin kan aku bilang kalau keadaanku ‘kacau’ ? Dia tidak akan mengerti.

“Kibum. I know about him and.. his condition..” Henry sunbae menatapku dalam. Kibum? Dia tahu soal Kibum? Dari mana?

“Sunbae, tell me –“

“Call me ‘oppa’!” dia memotong ucapanku untuk hal yang tidak penting ini?! Ayolaah.. Aku hanya ingin bertanya tentang Kibum!

“Whatever! Oppa! Where is he?! Kibum, oddiya?!” Aku sedikit mengguncang tubuhnya. Aku ingin mendapatkan jawaban secepatnya.

“Calm down miss! Besok, jam yang sama dan tempat yang sama. Temui aku, araseo? Byebye..” Henry oppa bangkit dari duduknya dan hanya melambaikan tangannya. Dia sama sekali tidak memerdulikan teriakanku, bahkan aku sempat menarik jas yang dikenakannya, dia tidak peduli sama sekali.

Besok. Okay!

***

“Ya! Shim Charin! Kau ingin pergi kemana? Kita kan sudah berjanji untuk makan malam bersama merayakan pertunangan Yena dan namjachingu-nya!” Soohyun mendekatiku yang sedang berada di depan pintu, bersiap untuk pergi ke taman kemarin.

“Soo-ah, sebentar saja.. Jebal.. Ini penting! Please Soo-ah..” Aku menggenggam tangan Soohyun, berharap diizinkan. Soohyun hanya mengangguk pelan dengan muka masam. Aku tahu dia sebal.

“Jangan lama Cha-ah! Kau tahu kan Hyukkie kita itu bagaimana? Aku tidak ingin dia menangis diacara Yena nanti, kau harus menemaniku menenangkannya! Arachi?” aku mengangguk saja. Benar kata Soohyun, Hyuk Jae itu menyukai Yena. Bagaimana acara nanti ya? Aku hanya Hyuk Jae tidak menangis.

“Oke. Aku pergi dulu Soo-ah.. bye!”

***

“Menunggu lama Cha-ah?” Henry oppa menepuk pundakku dari belakang. Aku hanya tersenyum dan sedikit menggeser posisi dudukku untuknya.

“Aniyo, aku juga baru sampai oppa,” sedikit berbohong tidak apa kan? Aku tidak mungkin bilang kalau sudah setengah jam lebih aku menunggu sendirian di sini.

“Jadi.. masih tertarik untuk mendengarkan ceritaku tentang namja-mu itu?” aku mengangguk semangat. Sudah lama aku menanti akan hal ini. Walaupun tidak bertemu, setidaknya aku tahu bagaimana keadaannya.

“Ne oppa, ceritakan padaku.. dimana dia? Dengan siapa dia tinggal? Bagaimana kabarnya? Dia baik-baik saja kan oppa? Apa dia –“

“Ssstt.. Tenanglaah.. satu per satu.. oke?” Henry oppa meletakkan telunjuknya tepat di bibirku. Membuatku berhenti bertanya, lebih tepatnya dia menghentikanku yang terlalu banyak tanya ini. Aku hanya terdiam menerima perlakuannya ini. Biasanya aku akan segera mendorong orang tersebut, karena hanya Kibum yang boleh menyentuhku seperti ini. Entah, singkirkan saja dulu perasaan aneh ini.

“Ini..” Henry oppa menyerahkan sebuah MP3 kepadaku. Aku bingung, untuk apa? Kalau sekedar untuk mendengar lagu, aku punya I-pod sendiri di rumah.

“Eh? MP3? Untuk apa oppa?” Aku memerhatikan MP3 yang ada ditanganku sekarang. Bentuknya sederhana, berwarna putih, dan hanya memiliki tombol ‘play’. Ah iya satu lagi, tidak ada merk-nya. MP3 macam apa ini?

“Simpan saja Cha-ah.. Itu dari Kibum..” mendengar dari Kibum, aku langsung sigap memasangkan headset yang sudah ada di telingaku. Belum sempat aku menekan tombol ‘play’, Henry oppa menahan tanganku.

“Ayayaaa.. Not now Shim Charin-ah.. Tanggal 21 Agustus nanti baru boleh kau putar! Araseo?”

“Ya! Wae? Tanggal 21 itu masih lama oppa! Masih dua minggu lagi! Aku ingin mendengar apa isi MP3 ini! Pasti suara Kibum. Iya kan oppa?” aku sangat semangat untuk ini. Ada suara namja-ku dalam MP3 ini. Tapi kenapa harus tanggal 21? Ulang tahun Kibum? Itu masih lama…

“Itu janjiku pada Kibum. Kalau kau melanggar, kau akan jadi gadis tua!” Henry oppa memasang tampang yang menyeramkan untuk menakutiku dengan ancamannya tadi. Membuatku tertawa saja orang ini.

“Nah, begitu kan lebih baik. Shim Charin ini lebih terlihat cantik kalau tertawa! Hhaha..” Henry oppa mencubit pipiku gemas. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Kenapa harus tanggal itu oppa?” Aku melepaskan cubitan Henry oppa. Dia hanya tersenyum, kemudian merangkulku, erat.

“Kau menurut saja.. Itu kemauan Kibum, kau harus sabar..” Henry oppa mengeratkan rangkulannya padaku. Seakan ingin memberi ketegaran, tapi tidak tahu, aku harus tegar untuk apa?

Aku hanya mengangguk. Henry oppa membelai rambutku lembut, menatap mataku, lalu mencium pipiku. Herannya, aku tidak berbuat apa-apa. Tidak seperti Jong Woon waktu itu, ini berbeda.

“Aku pamit dulu Cha-ah. Jangan lupa, tanggal 21! Ara?” Henry oppa lalu bangkit dari duduknya, aku mengiyakannya. Aku tidak mungkin lupa.

“Ah! Bacalah di pinggiran Sungai Han! Itu juga pesan Kibum! Bye Cha-ah..”

Hari itu seharusnya menjadi awalku untuk bahagia lagi. Aku dapat mengetahui keadaan Kibum walaupun secara tidak langsung, sangat bahagia. Aku selalu tidak sabaran waktu itu, menanti tanggal 21 yang selalu aku pastikan akan menyenangkan.

Selama menunggu itu pula, Henry oppa selalu berada didekatku. Selalu ada. Aku heran kenapa dia selalu ada ketika aku membutuhkan pertolongan. Henry oppa selalu membuatku tersenyum dan tertawa. Henry oppa juga sudah berkenalan dengan sahabat-sahabatku dan langsung bisa akrab dengan Hyuk Jae. Dia orang yang baik, sangat baik.

Tapi tahukah kalian? Aku harus menahan semuanya ditahun ini, lagi. Aku memang tidak harus bahagia ditahun ini. Pada tahun ini, aku menyadari bahwa selama ini aku seperti orang idiot saja.

Tepat tanggal 21, aku harus bersiap-siap ke Sungai Han. Semua sudah aku siapkan, dan tidak ketinggalan MP3 itu.

“Onnie! Bilang pada Changmin oppa aku pergi ke Sungai Han! Aku tidak akan pulang malam! Annyeong!” Aku berteriak dari luar rumah kepada Yuri onnie, kebetulan dia akan menginap di rumah kami.

“Ya! Jangan pulang larut! Hati-hati Cha-ah!” Yuri onnie membalas teriakanku dari dalam rumah dan langsung menutup pintu. Dia tahu kalau aku bahagia hari ini ^^

***

Okay, I’m ready for this! Sudah lama aku menantikannya! Walaupun hanya rekaman suaranya, aku merasa cukup. Setidaknya aku tahu, bagaimana dia sekarang.

Aku pun mengeluarkan MP3 tadi dan duduk disalah satu bangku panjang di pinggiran Sungai Han. Segera aku pasang Headset dan bersiap menekan tombol ‘play’. Aku menarik napas dalam. Gugup sekali!

KLIK!

                Annyeong Nae Chacha! I Miss you!

                Kau masih mengenali suara Your Bum kan? Hhehe

                Mm.. apa kabar? Aku harap kau baik-baik saja. Selama aku pergi, apa yang kau perbuat?

                Mianhae.. aku tidak memberitahu apa-apa padamu tentang kepergianku waktu itu

                Aku hanya tidak ingin kau cemas..

                Cha.. kau adalah milikku.. dan aku milikmu..

                Aku pernah berjanji untuk selalu melindungimu kan?

                Aku juga pernah berjanji untuk selalu bersamamu kan?

                Aku akan menepatinya Cha.. tapi.. Secara tidak langsung..

                Aku akan melindungimu, dan selalu bersamamu, secara tidak langsung..

                Kau mendengarkan ini pada tanggal 21 kan? Di pinggiran Sungai Han kan?

                Di sanalah, aku akan mulai mengawasimu, melindungimu, dan bersamamu..

                Sama seperti saat aku pertama kali memintamu menjadi milikku..          

Dan hari ini, tepat satu tahun, aku pergi..

                Kau tahu maksudku? Ya, satu tahun aku pergi, benar-benar pergi.. dari dunia ini..

                Cha.. mianhae.. jeongmal mianhae..

Bersemangatlah.. aku tidak suka mendapat laporan dari Henry tentang dirimu yang kurang semangat selama tidak ada aku..

Cerialah.. aku butuh senyummu di tempatku ini.. hehhe.. janji?

Cha.. walaupun aku tidak ada, aku akan tetap dibagian terpenting hidupmu.. walaupun kau akan jatuh cinta dengan namja lain, aku pasti mendapat tempat khusus di hatimu.. aku yakin itu.. jadi.. Semangat lah nae Chacha!

Ah, Henry akan selalu ada untukmu! Dia namja yang baik Cha-ah.. hiduplah bersamanya, aku jamin kau akan bahagia Cha-ah..okay?

I love you.. I love you.. I love you.. sebelum rekaman ini mati, aku menyanyikan sebuah lagu untukmu, semoga kau suka..

*It doesn’t matter if I’m lonely. Whenever I think of you

A smile spreads across my face.

It doesn’t matter if I’m tired. Whenever you are happy

My heart is filled with love.

Today I might live in a harsh world again.

Even if I’m tired, when I close my eyes, I only see your image.

The dreams that are still ringing in my ears

Are leaving my side towards you.

Everyday my life is like a dream.

If we can look at each other and love each other

I’ll stand up again.

To me, the happiness of those precious memories

Will be warmer during hard times.

For me, hope is a dream that never sleeps.

Like a shadow by my side you always

Quietly come to me.

To see if I’m hurt, to see if I’m lonely everyday

With feelings of yearning, you come to me.

Even if the world makes me cry, I’m okay.

Because you are always by my side.

Like dust, will those memories change and leave?

I’ll keep smiling to ease my heart.

Everyday my life is like a dream.

If we can look at each other and love each other

I’ll stand up again.

To me, the happiness of those precious memories

Will be warmer during hard times.

For me, hope is a dream that never sleeps.

No matter how many times I stumble and fall

I’m still standing like this.

I only have one heart.

When I’m tired you become my strength.

My heart is towards you forever.

So I swallowed the hurt and grief.

I’ll only show you my smiling form.

It doesn’t even hurt now.

I’ll always hold on to the dreams I want to fulfill with you

I’ll try to call for you at the place I cannot reach

*I love you with all my heart.

Good bye nae Chacha.. hiduplah, berbahagialah..

Klik!

Aku masih memandangi Sungai Han. Memandang air yang mengalir, sama seperti airmataku. Kibum pergi, benar-benar pergi.

Kalian tahu apa yang ada dipikiran gadis cengeng sepertiku sekarang? Aku.. ingin ikut Kibum. Aku ingin ke tempatnya, aku ingin bersamanya. Dia harus tahu, aku sudah menunggunya, selalu menunggunya seperti seorang idiot yang tidak memerlukan apa-apa.

Aku berdiri dan membiarkan MP3 tadi jatuh begitu saja dari pangkuanku. Aku mendekati pagar Sungai Han. Air sungai ini, seakan mengerti apa yang ingin aku lakukan. Aku ingin  menyusulnya, sekarang juga.

Kudekati lagi pagar Sungai Han. Sialnya, airmata ini terus keluar. Aku teringat dengan Changmin oppa dan sahabat-sahabatku, juga janjiku untuk tidak bertindak bodoh lagi setahun yang lalu. Aku menangis semakin menjadi karena itu.

“Bum-ah.. kau curang.. kau meninggalkanku sendirian..” aku meracau sendiri seperti orang gila. Penantianku harus berujung. Aku sangat merindukannya, tapi dia sudah pergi mendahuluiku. Aku ingin ikut. Aku ingin bersamanya.

Aku sudah menyentuh pagar pembatas Sungai Han sekarang. Dingin angin malam yang menusuk sudah aku rasakan karena aku melepas jaketku.

Maafkan aku, aku menyayangi kalian semua. Tapi.. aku tidak ingin Kibum sendirian di sana. Maafkan aku..

Aku memejamkan mataku, kemudian merentangkan kedua tanganku. Aku siap. Aku siap untuk menemui Kibum. Aku harus melompat. Harus.

Aku menjatuhkan tubuhku, tapi tepat sebelum itu seseorang menarik tanganku dan memelukku.

“Jangan lakukan itu..” aku mengenal suara ini. Henry oppa, lagi-lagi dia.

“Lepaskan aku.. aku mohon..” bukannya malah melepasku, Henry oppa malah mengeratkan pelukannya.

“Aku bilang lepaskan aku..” masih dengan nada biasa aku mengatakannya. Bagus, aku seperti orang gila sekarang. Kalau saja Henry oppa tidak menarikku tadi, setidaknya aku tidak malu dan bisa bertemu Kibum.

“Shireo! Tidak akan pernah sebelum kau menghilangkan pikiran bodohmu itu!”

“AKU BILANG LEPASKAN AKU!!” Aku mendorongnya sekuat tenaga sehingga sekarang aku bebas dari pelukannya. Aku segera berbalik menuju pagar pembatas tadi. Tapi lagi-lagi Henry oppa menahanku dengan memeluk pinggangku dari belakang.

“BERHENTI BERTINDAK BODOH SHIM CHARIN!!” Aku tidak peduli dengan teriakannya, bahkan dengan tatapan orang-orang disekitar kami sekarang. Aku hanya ingin bertemu Kibum, apa itu salah?

“LET ME GO! I WANT HIM NOW!” Aku terus memberontak, tidak memberi kesempatan untuk Henry oppa menahanku lagi, tapi tiba-tiba dia memutar tubuhku untuk menghadapnya.

Plak!

“KIBUM INGIN KAU TETAP HIDUP!” bentak Henry oppa tepat di mukaku. Aku tidak lagi meronta, hanya menunduk, dan menangis. Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah ini.

“Ku mohon, jangan seperti ini Cha-ah.. kau.. kau harus tetap hidup.. Kibum akan sangat kecewa jika kau bertindak seperti ini..” Henry kembali memelukku erat.

“Katakan padaku oppa..apa.. apa yang terjadi padanya.. pada Kibum-ku..” suaraku bergetar, menangis. Biarlah Henry oppa menganggapku cengeng atau bodoh. Aku hanya ingin menumpahkah semua rasanya sekarang.

“Dia terkena Leukimia. Tahun 2008 dia terkena Leukimia,” Henry oppa semakin memelukku erat. Untuk ini, aku berterima kasih, karena sudah merasa dikuatkan.

“Lalu, tahun 2006, pada saat dia meninggalkanmu, sebenarnya itu keinginan ibunya.. dia ingin Kibum sekolah di Callifornia, agar lebih dekat dengan pamannya yang seorang dokter..”

Aku masih sesegukan di pelukan Henry oppa ketika dia menjelaskan semuanya. Aku hanya bisa berpikir, aku ini bodoh. Bodoh tidak mengetahui apa-apa tentang Kibum. Bodoh tidak mencari tahu lebih dari yang kemarin. Bodoh, karena hanya bisa menunggunya seperti idiot.

“Jangan berpikiran macam-macam Cha-ah..” seolah bisa membaca pikiranku, Henry oppa menatap mataku dalam. Tersirat banyak kekhawatiran.

“Jangan melakukan hal itu lagi.. aku bisa gila kalau kau pergi dan hilang dari jarak pandangku Cha-ah..”

“Aku tidak boleh menyusul Kibum?” tanyaku. Bodoh memang, tapi pikiran itu masih belum bisa aku singkirkan begitu saja.

“Tidak. Jangan. Aku mohon.. tetaplah di sini..” perlahan, airmata Henry oppa keluar. Entah dorongan apa, membuatku mengusap airmatanya. Tepat pada saat itu, Henry oppa menggenggam tanganku yang masih di pipinya, kemudian mencium telapak tanganku.

“Tetaplah hidup.. untuk Kibum.. untukku.. untuk semuanya.. aku mohon..”

Aku mengangguk dan kembali tenggelam dalam pelukan protektif Henry oppa. Kata-katanya, mengingatkan akan ide bodohku tadi, mati. Aku sudah berpikiran pendek lagi. Kibum pasti kecewa melihatku seperti tadi. Dan aku bersyukur, ada Henry oppa di sini. Seseorang yang melindungiku.

Kau tahu Kibum-ah, mencintaimu sangat menyenangkan sekaligus menyakitkan. Kau membuatku seperti orang bodoh bertahun-tahun, tapi itu semua tidak membuatku lupa padamu. Apa yang kau perbuat padaku sampai aku mencintaimu seperti ini? Tidak ada. Kau hanya mencintaiku dengan caramu.

Kepergianmu ini, akan aku ikhlaskan. Tidak peduli kau sudah pergi lima tahun lamanya, kau tetap ada di sini, di hatiku.

Kau bagian hidupku yang paling berharga. Kau pelindung abadiku setelah Tuhan. Kau pernah mencintaiku begitu dalam. Terima kasih.

Kibum-ah, kau mengirim Henry oppa padaku. Kau mengirimnya untuk mewakilimu melindungiku kan? Terima kasih.

***

Sedih, rasa bersalah, ketakutan, aku merasakan semuanya saat tahu Kibum hilang dari hidupku untuk selamanya. Sedih dan rasa bersalah, karena aku tidak mencari tahu secara maksimal tentangnya. Aku hanya mencoba melupakannya, dan berharap dia akan muncul di depanku secara tiba-tiba. Benar-benar bodoh.

Ketakutan, aku takut untuk meneruskan hidup tanpanya. Terlebih lagi, aku sudah bergantung padanya walaupun sudah bertahun-tahun ditinggalkan.

Untunglah, Henry oppa ada. Aku sangat bersyukur laki-laki ini tercipta di dunia. Dia menyelamatkanku. Bukan hanya menyelamatkan nyawaku, tapi juga keutuhan hatiku waktu itu. Dia berusaha keras untuk membuatku bangkit lagi tanpa bayang-bayang Kibum. Untuk itu, terima kasih.

Henry oppa berhasil mengangkatku dari keterpurukan. Dia juga berhasil mengambil alih hatiku. Tidak sepenuhnya, karena Kibum memiliki tempat khusus yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun dihatiku. Dia kenangan milikku paling berharga.

Untukmu yang selalu melindungiku.

Untukmu yang selalu membuatku bahagia dan sedih.

Untukmu yang sudah memberiku pelajaran hidup.

Untukmu yang sudah menjadi bagian hidupku, oksigen pribadiku.

Kim Kibum. Terima kasih.

*THE END*

 Aaaaah… gimana? gimana? gimana?
mm.. lumayanlah buat ff ini, nggak terlalu dapet feel tapi kalo aku mah (Loh?)
hehhee
rencananya sih ada after story, tapi diliat dari otak saya yang lagi pengen refresh dari layar laptop, agak susah terealisasi, tapi aku usahain deh, soalnya pengen juga ngelanjutin ini >< hhehe

Semoga semua suka yaaa ^^
Makasih udah pada bacaaaaaaaaa *chu readers*
Makasih kalo ada yang komeeeen *double chu*
huehehehehe

akhir kata, Hasta La Vista!

Wassalamu’alaikum ^^

Advertisements