Tags

,

Assalamu’alaikum ^^
saya balik lagi dengan ff yang..mm.. bakal geje mendayu-dayu gitu (apaaa coba) hehhe
mohon maaf banget kalo ceritanya nggak nyambung ataupun gak jelas yaa ><
ini ff terinspirasi dari lagunya Super Junior KRY – Let’s Not.. semoga berasa yaa “Let’s Not”-nya ><

ohiya, sesuai judul *nunjuk” atas*, ini adalah cerita dari sudut pandang (POV. red) si cewek, atau disini namanya Kyohee.. ntar ada dari sudut pandangnya Hankyung juga kok 🙂

oke, hope you’ll like it!

Enjoy it chinguuuuu! ^^

“Jangan pergi terlalu lama, bayi kita pasti ingin melihatmu ketika lahir, oke?”

“Ne, aku berjanji akan ada di sampingmu pada saat itu tiba. Aku pergi dulu..”

“Ah, Yeobo tunggu! Jangan macam-macam di sana ya.. aku percaya padamu.”

“Karena aku mencintaimu, apapun itu, aku akan berjanji padamu untuk apapun itu karena aku mencintaimu, Kyohee”

“Nona Han harus menjaga kesehatan, jangan terlalu stres. Akan berbahaya bagi kondisi kandunganmu Nona Han.” Aku mendengarkan nasihat dari dokter kandunganku. Memang benar, aku sempat mengalami stres gara-gara memikirkan suamiku.

“Kamsahamnida, aku akan lebih memerhatikan kesehatanku. Permisi.” Aku pun bangkit dari dudukku dan membungkuk kepada dokter itu. Beranjak pergi dari rumah sakit itu.

***

Sudah enam bulan. Dua bulan pertama dia pergi, selalu ada kabar. Entah itu tentang hal yang penting atau tidak dia pasti memberi kabar. Hankyung, suamiku. Dia sedang berada di Cina untuk mengurus perusahaannya. Aku yang sedang hamil muda tidak bisa ikut, katanya nanti aku terlalu capek dan dia takut tidak bisa menjagaku dengan baik di sana. Maka dari itu, aku disuruh menetap di Seoul, bersama Bibi Kwan.

“Aku pulang..” Aku membuka pintu dan langsung meletakkan mantel juga syal-ku ditempatnya. Bibi Kwan langsung menyambutku dan mengandeng tanganku ke meja makan.

“Nona Han, makanlah. Bibi sudah menyiapkan makanan yang baik untuk kalian berdua.” Bibi Kwan menyentuh perutku, kemudian meletakkan ikan dan juga sayuran di atas piringku.

“Kamsahamnida.. aku akan makan banyak malam ini! Hhe..” Aku pun mulai menyendokkan makanan itu, tapi tiba-tiba perutku mual. Sangat mual. Aku pun segera berlari ke wastafel dan memuntahkan makanan yang sudah masuk ke perutku tadi. Bibi Kwan mengurut punggungku.

“Nona Han, gwenchanayo? Anda tidak apa-apa?” Aku hanya menggeleng lemah. Masih mual.

“Bibi Kwan, mianhaeyo.. aku tidak bisa makan lagi hari ini.. aku langsung tidur saja..” Aku pun segera masuk ke kamar, meninggalkan Bibi Kwan sendirian di ruang makan.

***

@Kyohee’s Bedroom

Tok..tok..tok

“Masuk..” Bibi Kwan pun masuk. Membawa segelas susu di tangannya.

“Setidaknya perutmu tidak kosong.. minumlah ini, bayimu perlu nutrisi yang cukup..” Aku pun langsung duduk bersender di ranjangku dan mengambil gelas susu itu. Meminumnya sambil menahan nafas, takutnya akan mual lagi.

Bibi Kwan terus-menerus menatapku. Tatapan iba lebih tepatnya. Aku pun segera menghabiskan susu tadi, dan meletakkannya di meja di samping tempat tidurku.

“Ada apa Bibi Kwan?”

“Nona.. jangan terlalu mengkhawatirkan Tuan Han. Anda harus menjaga kesehatan.. Tuan Han mungkin sedang sangat sibuk sekarang, makanya dia belum menghubungi Nona..” Bibi Kwan mengusap rambutku lembut. Dia sudah aku anggap seperti ibuku sendiri. Setidaknya aku bersyukur ada dia di sini.

“Ne Bibi Kwan.. aku akan menjaga kesehatanku.. sepertinya dia memang sangat sibuk, sampai-sampai tidak menghubungiku sama sekali..” aku hanya tersenyum tipis sambil mengatakan hal itu. Padahal, aku sangat merindukan sosok suamiku.

Tiba-tiba terbesitlah sebuah ide. Ide lamaku satu bulan yang lalu.

“Mm.. Bibi, bolehkan aku menyusul Hankyung ke Cina? Aku sangat merindukannya..” Aku menggenggam tangan Bibi Kwan. Berharap dia mengizinkanku pergi. Bibi Kwan hanya menghela nafasnya berat. Aku tahu, dia pasti sangat khawatir dengan keadaanku.

“Tapi Nona Han, kau sedang hamil muda.. sangat tidak baik kalau terlalu banyak beraktifitas..”

Aku menggelengkan kepalaku. Aku yakin keputusanku ini tidak akan berdampak buruk bagi kesehatanku dan juga janinku ini, yang ada aku akan semakin sakit jika tidak bertemu dengan Hankyung lebih lama lagi seperti ini.

“Aniyo.. aku pasti baik-baik saja.. aku ingin bertemu dengannya Bi, aku merindukannya. Mungkin dengan bertemu dengannya aku akan sehat.. tolonglah, izinkan aku..” semakin erat aku menggenggam tangan Bibi Kwan. Aku sangat ingin menemui Hankyung.

“Haah.. ya sudahlah.. yang penting Nona menjaga diri dengan baik selama di sana.. kapan akan pergi? Bibi akan mengurus restoran Nona Han di sini dan Bibi akan mengurus keberangkatan Nona..” Aku pun tersenyum dan memeluk Bibi Kwan. Bibi Kwan balas memelukku.

“Aku ingin lusa.. Kamsahamnida Bi..”

***

@Incheon International Airport

“Jaga diri Nona Han baik-baik. Sampaikan salam Bibi pada Tuan Han.” Bibi Kwan pun memelukku dan aku balas memeluknya. Kenapa ada perasaan aneh di otakku sekarang? Seperti.. akan ada hal buruk yang terjadi. Ah, tidak mungkin. Pasti hanya perasaan gugupku saja. Ini perjalananku keluar negeri pertama kali, jadi pasti aku sedang gugup.

Aku pun melepaskan pelukan dengan Bibi Kwan dan tersenyum ke arahnya, memastikan bahwa aku akan baik-baik saja selama di sana.

“Tenang saja, Bi. Aku akan pulang jika sudah bertemu dengan Hankyung. Aku akan merindukan bibi.. Annyeonghaseyo Bibi Kwan.. Jaga diri..” Aku menarik koperku dan melambaikan tangan sebelum pergi.

***

@Airplane

Perasaan tidak enak terus saja ada di otakku, bahkan di pesawat pun aku sering mual sampai-sampai para pramugari menawari kantung muntah untukku. Untungnya hanya mual, tidak muntah sama sekali.

Akhirnya aku memilih untuk mendengarkan lagu dari Ipod-ku. Aku melihat playlist yang ada tapi tidak ada satu pun yang menarik minatku untuk mendengarkan lagu.

Ah, tunggu dulu, ada lagu Super Junior, judulnya Let’s Not. Sejak kapan ada lagu ini di Ipod-ku? Ah, mungkin tidak sengaja aku masukkan ketika memasukkan lagu Super Junior yang lain. Dengarkan yang ini saja.

Saying that this moment is the last to you whom I loved so much
Even if you try to turn it back
Even if you hold onto me crying
I was the one who said no and bid our farewell
I always act strong
But I’m a cowardly man
Didn’t have the confidence to protect you forever and left
Don’t love someone like me again
Don’t make someone to miss again
One who looks at only you and needs only you
Meet someone who loves you so much
They can’t go a day without you
Please
Hurting, you try to hold me back
But I’m a cowardly man
Who doesn’t have the confidence to give happiness to anyone beside her
Don’t love someone like me again
Don’t make someone to miss again
One who looks at only you and needs only you
Meet someone who loves you so much
They can’t go a day without you
Even if we are ever to regret our breakup
I can’t do anything but give you our farewell
Don’t cry in pain
Counting the time that’s passed
Don’t miss a foolish love that’s already passed
One who looks at only you and needs only you
Meet someone who loves you so much
They can’t go a day without you
Please
I hope that you’ll be happy
Let’s never meet again

Aku menangis. Entah karena apa, lagu ini terdengar nyata untukku. Untuk apa aku menangisi kisah sedih wanita dalam cerita lagu ini? Aku kan sebentar lagi bertemu Hankyung, suamiku. Aku pasti bahagia, pasti. Hankyung tidak akan pernah berbuat bodoh dan tidak akan pernah melanggar janjinya padaku. Aku yakin itu.

Aku pun mematikan Ipod-ku lalu memasukkannya ke dalam tas lagi. Bukannya membuatku nyaman malah membuat perasaan tidak enakku makin mencuat. Aku mengambil tisu yang ada di meja kursi pesawatku dan menghapus airmata yang keluar banyak tadi. Aku akan bahagia nanti.

***

@Beijing International Airport

Aah.. sampai juga akhirnya! Perjalanan yang cukup melelahkan bagiku. Ramai sekali, cukup pusing aku dibuatnya. Lebih baik aku cepat-cepat keluar dari sini dan memesan hotel kemudian menemui Hankyung!

“Onnie! Tunggu!” Aku menoleh ketika mendengar suara seorang gadis yang sangat aku kenal, Shim Charin, atau lebih tepatnya sekarang Charin Lau. Aku pun segera menghampirinya dan memeluknya. Ada rasa lega di hatiku, setidaknya aku tidak sendirian di negeri yang baru pertama kali aku kunjungi ini.

“Charin-ah! Bogoshipoyo!” Aku pun mencubit pipinya gemas. Jangan salahkan aku kalau aku melakukan itu, pipi anak ini benar-benar menggemaskan!

“Ya! Onnie, berhentilah mencubit pipiku ini! Cubit pipi Henry oppa saja, lebih cubby!” Charin menggembungkan pipinya tanda kesal. Aku tahu, dia paling tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi.

“Araseo.. Baru tiba dari London?” Charin mengangguk semangat. Sepertinya dia ingin bercerita banyak, tapi dia urungkan ketika melihat perutku yang agak membuncit. Ekspresi Charin yang keluar? Jangan ditanya, dia membulatkan matanya dan menutup mulutnya yang hampir menganga itu!

“Onnie! Kau sedang hamil?!” sekarang giliranku yang mengangguk semangat. Sangat menyenangkan rasanya melihat orang lain bahagia atas kehamilanku ini.

“Ya! Kenapa tidak cerita-cerita? Dengan siapa onnie?” Charin sedikit memelankan suaranya, karena daritadi kami berbicara dalam Bahasa Korea dengan cukup kuat.

Tapi pertanyaan Charin menyita perhatianku. Dengan siapa? Siapa lagi kalau bukan suamiku, Hankyung! Dia sendiri tahu dan menghadiri pernikahanku dengan Hankyung waktu itu! Apa dia lupa? Tidak mungkin kan?

“Dengan siapa? Siapa lagi kalau bukan suamiku! Kau ini bagaimana sih?!” aku menyilangkan kedua tanganku di dada. Sedikit kesal dengan pertanyaan tidak masuk akalnya itu.

“Aku tahu onnie! Tapi siapa suamimu?” tanyanya geram. Aku semakin bingung dengan jalan pikiran anak satu ini. Pura-pura lupa atau memang otaknya sudah dipenuhi dengan Henry sih?!

“Ya! Suamiku hanya satu di dunia ini! Kau sendiri menghadiri pernikahanku! Suamiku itu Hankyung! Kau masih ingat kan Charin Lau?” bentakku kesal.

“Hankyung oppa?!” teriak Charin terkejut. Aku saja sampai mundur beberapa langkah karena teriakannya itu. Semua orang yang ada di bandara ini memandangi kami dengan tatapan aneh, yang benar saja! Charin berteriak dengan Bahasa Korea di sini. Mana mereka mengerti!

Aku pun menarik Charin menjauh di tengah keterkejutannya tadi. Hei! Hankyung itu memang suamiku! Kenapa harus terkejut seperti itu?!

“Onnie.. Hankyung.. Hankyung oppa?” Charin masih memandangku terkejut. Geram dengan kelakuannya itu, aku mencubit lengannya sehingga dia meringis kesakitan.

“Apa ada yang aneh jika aku hamil gara-gara Hankyung yang suamiku sendiri itu hah?! Kenapa ekspresimu seperti itu?!” aku tidak tahan dengan sikapnya kali ini. Seperti tidak percaya saja. Tapi kenapa perutku mual lagi? Kenapa bayiku seperti menendang-nendang perutku? Ah, Cuma perasaan pasti.

“Bu.. bukankah kalian sudah ber—“

“Charin-ah!” Suara seorang namja yang tiba-tiba menghampiri kami dengan menepuk pundak Charin menghentikan pembicaraan kami tadi. Siapa lagi kalau bukan ‘kue mochi’ kepunyaan Charin ini, Henry Lau.

“Ah, ternyata ada Kyohee noona juga di sini. Annyeong noona!” Henry membungkuk singkat padaku dan beralih menatap istrinya dengan tatapan bingung. Charin lebih bingung lagi kelihatannya. Aku juga ikutan bingung kalau begitu. Tiba-tiba perutku semakin sakit, seperti ada yang menusuk.

“Akh! Cha.. Cha-ah.. sakiit..” aku menggenggam tangan Charin kuat. Dapat aku lihat raut wajah kekhawatiran Charin dan Henry, setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

***

Aku mengerjapkan mataku, tersadar dari pingsan tadi. Masih sedikit pusing ternyata.

“Onnie, jangan banyak bergerak dulu..” aku hanya menggeleng dan hendak duduk, dibantu oleh Charin tentunya.

“Apa ini di rumah kalian Charin-ah?” Charin hanya mengangguk pelan. Dia menyodorkan segelas teh untukku. Dengan perlahan aku meminumnya, mengingat kepalaku masih sedikit pusing.

“Maaf jadi merepotkan kalian, aku akan segera mencari hotel..” Charin menahan tanganku yang hendak mencari ponselku di dalam tas.

“Onnie tinggal bersama kami saja. Onnie sedang hamil, tidak baik sendirian di negeri orang.. bagaimana? Onnie mau kan?” Charin menyunggingkan senyumnya untukku. Tentu saja aku mau, setidaknya ada yang menemaniku mencari Hankyung nantinya.

***

Sudah tiga hari aku berada di Cina, tapi belum ada petunjuk di mana Hankyung berada. Sekedar informasi, aku sebagai istrinya tidak tahu perusahaan apa yang dia kelola di sini. Bodoh memang, tapi setiap kali aku bertanya pada Hankyung dulu, dia tidak pernah menjawab dan selalu saja mengalihkan pembicaraan.

Charin dan Henry juga tidak banyak membantu. Henry sibuk di perusahaannya, sedangkan Charin juga tidak bisa menemaniku seharian karena harus mengelola butiknya di sini.

Hanya saja, tingkah Henry dan Charin sedikit aneh. Mereka selalu bertanya bahwa apakah benar aku masih istri Hankyung, apa aku belum bercerai, dan pertanyaan lain yang justru membuat perutku semakin sakit. Hankyung tidak pernah meminta cerai padaku, yaah walaupun tidak memberi kabar lama sekali. Namun aku yakin, dia tidak mungkin macam-macam di sini. Dia sudah berjanji.

Akhirnya karena bosan sendirian di rumah, aku memutuskan untuk keluar. Mencari udara segar sebentar tidak apa-apakan bagi ibu hamil?

***

Aku berjalan berkeliling pasar tradisional yang ada di sini. Barang-barangnya lumayan juga. Aku pun memilih untuk melihat-lihat saja, aku tidak membawa uang banyak ke sini.

Tiba-tiba seorang tukang sol sepatu menabrak tubuhku. Untung saja tidak begitu kuat. Orang tersebut hanya membungkuk meminta maaf dalam Bahasa Cina, untung saja Hankyung pernah mengajariku sedikit.

Saat orang itu tidak lagi membungkuk untuk minta maaf, dia menegakkan badannya. Dan saat itulah, duniaku terasa berhenti. Aku begitu merindukan sosok orang dihadapanku ini. Hankyung! Dapat aku lihat wajah terkejut Hankyung saat mengetahui akulah yang ditabraknya, istrinya. Tidak dipungkiri lagi, aku bahagia!

Namun, belum sempat aku mengucapkan namanya, dia lari dari hadapanku dengan cepat. Aku yang sedang hamil tidak bisa mengejarnya dengan cepat, tapi aku harus mengejarnya! Aku harus bertemu dengannya. Aku tidak ingin kehilangan kontak lagi dengannya.

Aku terus berlari di siang hari ini. Panas tidak lagi aku pedulikan, yang aku pedulikan hanyalah Hankyung. Aku harus bertemu dengannya.

“Hankyung!” aku meneriakkan namanya ditengah keramaian pasar. Hankyun yang tengah berlari hanya menoleh sebentar dan tidak menghiraukanku sama sekali. Saat itulah, semua terasa gelap bagiku.

***

@Lau’s House (at night)

Aku mengerjapkan kedua mataku. Sakit sekali rasanya. Bukan hanya kepalaku yang pusing, perutku juga terasa sangat sakit sehingga aku tidak mampu bangun dari tempat tidur ini. Sesaat setelah aku menyadari bahwa aku berada di rumah Henry dan Charin, aku mendengar suara mereka berdua yang sedang berdebat.

“Kau bilang mereka berdua sudah bercerai Henry-ah, kenapa Kyohee onnie masih mencari Hankyung oppa?”

“Aku juga tidak tahu Cha-ah, Hankyung hyung yang berkata seperti itu padaku,”

“Lalu bagaimana? Kasihan Kyohee onnie, sudah dua kali pingsan semenjak dia ada di sini. Pertemukanlah mereka berdua Henry-ah, Kyohee onnie pasti sangat merindukan suaminya itu..”

“Cha-ah, aku sudah berjanji pada Hankyung hyung untuk tidak memberitahukan soal ini kepada siapa-siapa, aku tidak bisa..”

“Lalu membiarkan Kyohee onnie lebih sakit dari ini?! Aku tidak mau! Tolonglah Henry-ah, aku yakin Kyohee onnie pasti bisa menghadapinya..”

“Pertemukan aku!” Aku memotong perdebatan mereka berdua. Aku sudah tidak tahan mendengarnya, terlebih lagi aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

“No.. noona?! Noona sudah bangun, ada yang bisa aku bantu?” tawar Henry, seperti tidak mendengar suaraku tadi. Aku yang hendak dibantu untuk duduk oleh Henry langsung menepis tangan Henry. Aku pikir aku bisa sendiri, yang penting Hankyung sekarang.

“Jangan sembunyikan apa-apa lagi, beritahu aku di mana Hankyung. Sekarang..”

***

Aku berjalan diiringi oleh Charin, Henry berjalan mendahului kami. Bingung, itu yang aku rasakan pertama kali. Hankyung itu sedang mengurus sebuah perusahaan, tetapi kenapa aku dibawa ketempat seperti ini?

Aku memandang sekeliling, tempat ini begitu buruk untuk menjadi pemukiman. Sampah ada di mana-mana, bau busuk sampah sangat menyengat, tatanan rumah yang tidak beraturan, dan masih banyak lagi yang membuat tempat ini begitu menyedihkan.

Henry tiba-tiba berhenti, sekilas menoleh menatap Charin dan aku bergantian.

“Noona yakin?” Henry bertanya padaku. Aku mengangguk mantap untuk hal ini. Biarpun firasatku buruk dan rasa bingung yang meliputiku, yang paling penting adalah aku bertemu Hankyung.

Henry melanjutkan jalannya. Sesekali dia menoleh kearah kami, seakan tidak yakin. Charin mengenggam tanganku erat, seakan ingin menguatkan.

“Noona, itu tempatnya,” Henry berhenti dan menunjukkan sebuah rumah. Jujur saja, aku sangat tidak percaya jika Hankyung ada di tempat itu. Sebuah rumah kecil ada dihadapanku sekarang. Aku menyuruh Charin dan Henry tidak mengikutiku, cukup melihatku dari jauh.

Sebuah rumah kecil, tidak ada jendela, ada tumpukan sampah di samping kiri rumah itu. Hankyung tinggal di sana? Tidak mungkin.

Aku terus melangkah perlahan ke rumah itu. Rasa tidak percayaku lebih besar dari apapun. Aku percaya Hankyung tidak ada di sini. Namun, baru saja aku berpikiran seperti itu, seorang laki-laki tampan yang sangat aku kenal keluar dari rumah tersebut. Itu Hankyung-ku.

“Han.. Kau Hankyung?” aku menunjuk dirinya yang tidak berada jauh dariku. Pandangan mata kami bertemu. Saat itulah dia sangat terkejut melihatku. Dia tidak menghiraukan panggilanku, Hankyung bergegas masuk.

“Tunggu!” Aku menarik tangannya sebelum dia berhasil masuk kembali ke dalam rumah.

“Han.. Yeobo.. Ini kau kan? Han! Jawab aku!” Hankyung masih saja bergeming. Dia tidak mau menatap mataku sekalipun aku berada di depannya sekarang.

“Pergi..” kata Hankyung pelan. Kali ini Hankyung menatapku, sorot mata penuh kebencian. Dia menepis tanganku yang menggenggam tangannya namun tidak berhasil karena aku genggam dengan kuat.

“Tidak mau! Pulang.. pulanglah bersamaku..” aku mulai menangis. Berharap dia berubah pikiran.

“Aku sudah tidak kaya lagi Kyohee-ah!” Aku memejamkan mataku karena bentakannya itu. Dia belum pernah membentakku. Menakutkan. Namun rasa takut itu tergantikan dengan keyakinanku untuk selalu bersamanya. Tidak peduli dia kaya ataupun miskin, aku masih mencintainya, dan janin dalam perutku ini membutuhkan seorang ayah.

“Aku tidak peduli! Pulanglah bersamaku Han..”

“Ada apa ini?!” tiba-tiba seorang wanita muda yang sedang hamil keluar dari rumah yang dihuni Hankyung. Sepertinya wanita itu orang Cina, tetapi bisa Bahasa Korea.

“Masuklah! Tidak ada hubungannya denganmu!” bentak Hankyung pada wanita itu. Aku memandanginya dari kepala sampai ujung kaki. Kenapa penampilan wanita ini seakan-akan dia juga tinggal di rumah Hankyung?

Wanita itu tidak memerdulikan bentakan Hankyung dan beralih menatapku.

“Kau siapa?! Kenapa memegangi tangan suamiku hah?!” Wanita itu mendekatiku. Aku tidak berani menatapnya, dia menyeramkan. Dan apa katanya tadi? Suaminya?

“Hankyung suamiku!” ku beranikan menatapnya. Biarlah aku harus sedikit mendongak karena dia lebih tinggi dariku, yang penting dia harus tahu kalau Hankyung itu suamiku.

“Hentikan!” Aku dan wanita itu menoleh kearah Hankyung.

“Xian Yue! Masuk!” Hankyung memandang geram kearah wanita itu. Wanita yang bernama Xian Yue itu tetap tidak menuruti perintah Hankyung sekalipun sudah dibentak.

“Kau! Nona Park Kyohee! Pergi dari sini! Aku bukan suamimu!”

Perutku sakit seiring perkataan Hankyung. Sakit sekali. Semua organ ditubuhku seperti bekerja sama untuk menyakitiku. Hankyung.. mengusirku.

“Onnie!” Charin berlari menghampiriku bersama Henry. Tanganku yang sudah lemas untuk menggenggam Hankyung perlahan mengendur. Sakit luar biasa. Perutku semakin bergejolak. Kepalaku seperti berputar, namun aku tidak ingin menyerah. Aku harus membawa Hankyung bersamaku.

“Aniyo.. Kau harus kembali padaku.. aku.. kami membutuhkanmu..” aku menyentuh perutku yang semakin sakit. Hankyung menjauh dariku. Tiba-tiba wanita itu maju..

“Kau tidak tuli nona jelek! Pergi!” wanita itu mendorongku kuat hingga aku terjatuh. Charin yang baru menghampiriku mengangkat tubuhku. Percuma, aku tidak sanggup berdiri. Kakiku lemas, dan aku tidak merasakan sakit luar biasa pada perutku.

“Onnie! Ketubanmu pecah!” Charin berteriak panik. Mataku mulai tidak bekerja dengan baik, semuanya samar, sampai aku mendengar suara pukulan yang sangat kuat. Henry memukul Hankyung.

“Kau gila hyung!” aku masih bisa melihat Henry yang mengcengkram baju Hankyung. Aku ingin mencegah, tapi Charin sudah mengangkat tubuhku, walaupun dengan susah payah.

“Henry-ah! Cepat! Kita ke rumah sakit sekarang!” Henry berhenti memukul Hankyung. Wanita tadi hanya diam, tidak bertindak apa-apa. Henry membopongku dibantu oleh Charin dan menjauhi tempat itu dengan segera.

“Hankyung.. Han.. kembalilah..”

Menyedihkan. Aku wanita paling menyedihkan. Aku tidak bisa membawa suamiku kembali. Aku tidak bisa memperjuangkan rumah tanggaku. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku keguguran. Maafkan aku.. aku salah membiarkanmu pergi.

***

@Beijing’s Hospital

“Charin-ah..” aku baru saja sadar dari pingsanku, ah tidak, aku dibius. Kalian tahu? Aku kehilangan anakku.

“Onnie.. istirahatlah..” Charin membelai rambutku lembut. Dapat aku rasakan semua kekhawatirannya.

“Aku.. anakku pergi kan Cha-ah?” kataku pelan. Airmata perlahan turun, aku tidak bisa membendungnya lagi. Aku ingin ada teman untuk membagi penderitaanku ini.

“Onnie sudah.. istirahatlah..” Charin mengusap airmataku.

“Hankyung.. tidak kembali.. ini salahku.. aku bukan istri yang baik..” Aku terus menangis, tidak aku hiraukan kepalaku yang masih pusing karena pengaruh obat bius tadi.

“Onnie tidak salah.. onnie.. berhentilah meratapi ini.. Hankyung oppa bukan yang terbaik untuk onnie..” Charin menangis sambil menggenggam tanganku.

Drrtt..drrtt..

Ada sms masuk. Charin mengusap airmatanya dan merogoh tasku. Mencari handphone-ku yang menerima sms tadi.

“Charin.. dari siapa? Apa Bibi Kwan?” tanyaku padanya. Charin hanya menggeleng lemah, tidak menatapku sama sekali dan terus memerhatikan layar handphone-ku. Yang ada Charin menangis lagi. Ada apa?

“Berikan padaku..” aku berusaha merebutnya walaupun percuma. Charin menjauhkan handphone-ku.

“Lebih baik onnie tidak usah baca, biar aku hapus saja..”

“Jangan!” aku bersikeras ingin merebut handphone-ku dari Charin.

“Tolong, berikan padaku..” Aku memelas pada Charin. Aku menyerah untuk merebutnya karena percuma, aku belum kuat untuk berdiri bahkan duduk. Akhirnya Charin menyerahkan handphone-ku, meski dengan berat hati.

Aku memerhatikan layar handphone-ku sendiri. Benar saja, aku menangis. Mungkin benar, Hankyung bukan yang terbaik untukku, walau pada kenyataannya, aku sangat mencintainya.

                From : My Hankyung

I hope that you’ll be happy

Let’s never meet again

okeeee… selesaaaiii ^^

ini baru dari sudut pandang si cewek (Kyohee), ntar dibuat dari sudut pandang si cowok (Hankyung)

ntar ketauan deh, kenapa Hankyung sampe kayak gitu sama Kyohee..hehhe

mohon kritik dan saran yang membangun dari para readers yaa ^^

Thanks for reading chinguu~ 🙂

Advertisements