Tags

Tahun keempat, tahun 2009. Sudah aku putuskan, pasti akan menjadi tahun yang menyenangkan. Awal baruku bersama seseorang yang baru. Kim Jong Woon. Dia tidak buruk, sangat baik. Dia menyayangiku, bahkan mencintaiku, sama seperti Kibum.

Rasa bersalah, mungkin itu yang aku miliki selama menjalin hubungan dengan Jong Woon. Aku tidak mengerti perasaanku sendiri. Memang, bulan demi bulan kami jalani dengan kebahagiaan ketika bersama, tapi.. aku tidak menganggapnya seperti seorang namjachinguku, bagiku dia masih sahabat untukku.

Rasa bersalah saja tidak cukup, mungkin julukan ‘kejam’ cocok untukku. Banyak hal yang terjadi.

“Rin-ah! Gwenchanayo? Kau mendengarkanku?” Jong Woon mengibaskan tangannya dihadapanku, mencoba menyadarkanku dari lamunan.

“Ah, ne, sorry, I can’t get your point Woon-ah, would you repeat it?” aku merasa tidak enak dengannya, untungnya dia tidak bertanya aku sedang melamunkan apa tadi. Bisa tersinggung dia.

“Hhaha, araseo. We are going to Lotte World this evening, but.. are you okay?” Aku hanya tersenyum, canggung. Malam ini aku ingin melakukan ritual setiap tahunku, merayakan ulang tahun Kibum sendirian di rumah. Ini adalah bulan Agustus, tanggal 21, hari ulang tahun Kibum. Sebenarnya dulu, setiap ulang tahun Kibum, aku dan dia pasti merayakannya di Lotte World. Kami berdua suka berada di sana.

“Gwenchana Woon-ah, this evening? Okay,” aku pun menyetujui ajakannya, berharap bisa menggantikan kenanganku bersama Kibum dengan kenangan bersama Jong Woon disana. Aku harap aku bisa. Jong Woon hanya mengacak rambutku lembut, hal yang sama lagi.

***

Aku dan Jong Woon sampai di Lotte World. Entah kenapa, aku merasa sangat senang! Seakan-akan pikiranku melayang, dan tidak ada beban. Sangat bahagia.

Aku bermain dengan banyak wahana. Semuanya aku coba. Barang-barang yang lucu ataupun unik pun tidak luput dari incaranku. Tujuan terakhirku adalah kedai es krim yang berada di luar Lotte World. Aku selalu menggenggam tangan orang yang di sampingku untuk menemani keluar wilayah Lotte World, orang yang kupanggil dengan nama Kibum.

Orang yang aku genggam tiba-tiba berhenti, tepat di pinggir jalan. Saat inilah kesadaranku kembali. Apa yang harus aku katakan? Aku terlalu terbawa suasana sehingga memanggilnya Kibum! Ya Tuhan, ottokhe?

“Rin-ah, why? Seven months, is that not enough for you to forget about him? Tell me, please..” Jong Woon menatapku, tatapan sedih. Tega sekali aku.. dimana perasaanku? Babo! Babo gateun!

“Woon-ah, mianhae.. cheongmal mianhae.. aku.. aku tidak sengaja.. aku tidak bermaksud untuk me-“

“STOP IT!” kata-kataku terhenti. Dia membentakku, namun tatapan sedihnya tidak berubah, masih menuntutku untuk jujur. Aku tidak sanggup menatap mata itu, aku terlihat kejam di sana.

“ ‘Bum-ah, ayo kesana!’, ‘Bum-ah, belikan aku ini..’, ‘Bum-ah, aku senang sekali kau di sini!’ “ Jong Woon mengucapkan lagi kata-kata yang aku ucapkan ketika bersamanya di sini. Memang, aku menyebut nama Kibum, tanpa sengaja.

“Kau.. senang sekali menyebut namanya.. padahal, yang bersamamu sekarang adalah aku, Kim Jong Woon.. namjachingu-mu..” suaranya berubah serak, menangis? Charin, kau resmi menjadi gadis terkejam!

“What can I do to make you love me, Rin-ah?! Tell me!” masih dengan suara serak, dia membentakku dan mengguncang tubuhku menuntut jawaban.  Aku bingung! Mau jawab apa aku?! Semua yang dilakukan Kibum? Begitu? Tidak mungkin!

“Apa harus dengan cara ini?!” Tiba-tiba kedua tangannya menangkup pipiku dan… dia menciumku! Spontan aku mendorong tubuhnya dengan kuat sekuat yang aku bisa. Kibum tidak pernah menyentuhku! Dia! Berani-beraninya dia!

Jong Woon terlempar mundur. Doronganku terlalu kuat, dan sialnya aku lupa, lupa kalau kami sedang berada di pinggir jalan. Aku mendorongnya ke jalan!

Brak!

“JONG WOON-AH!”

See? Aku kejam. Sangat kejam pada sahabatku sendiri, orang yang sangat menyayangiku. Aku egois, sangat egois. Harusnya aku tidak merusak momen itu, harusnya hari itu menjadi awal yang indah untuk ulang tahun Jong Woon tanggal 24-nya.

Untung baginya, dan juga untukku, Jong Woon tidak sampai..mm..yaah, meninggalkan kami berenam dan keluarganya untuk selamanya. Tapi tetap saja, aku yang paling bertanggung jawab atas Jong Woon. Dia begini gara-gara aku. Aku seharusnya mengerti perasaannya waktu itu. Perasaannya yang sakit ketika aku sama sekali tidak ingat padanya.

Tapi bagaimana pun, kondisi Jong Woon sama sekali tidak membuat hati lega. Dia koma cukup lama waktu itu. Cukup untuk membuatku menangisinya semalaman, meminta maaf dan berharap dia akan bangun dengan cepat walau mustahil.

Bulan demi bulan dilewati Jong Woon dalam keadaan koma. Setiap hari aku menjenguknya, terkadang bersama Yena dan Hyuk Jae, terkadang juga bersama Kyuhyun dan Soohyun.

Pada akhirnya, kehidupan yang memang sudah dirancang Tuhan untuk berakhir menyedihkan tidak dapat aku tolak. Memang sudah menjadi takdirku untuk menderita, tidak akan pernah berubah aku rasa.

Hari ini aku kembali menjenguk Jong Woon, ditemani oleh Soohyun. Hari ini eomma-nya Jong Woon tidak bisa menjaga karena harus mengurus tokonya, kalau tidak, dapat darimana mereka biaya untuk perawatan Jong Woon.

“Annyong! Woon-ah! We are back! Look, we bring you apples!” Soohyun, hal percuma yang dilakukannya cukup menyentuh bagiku. Panggilan semangat untuk Jong Woon agar cepat bangun, menurutnya. Aku hanya mengikuti langkah Soohyun yang sudah menaruh buah-buahan tadi lalu duduk di samping ranjang rawat Jong Woon.

“Cha-ah, I wanna ask you something, may I?” Soohyun mendekat padaku, ikut duduk di samping ranjang rawat Jong Woon. Tatapan mata penasaran, sekaligus.. prihatin?

Soohyun beralih menatap Jong Woon, sedih. Tak lama, cairan bening sudah keluar dari matanya.

“Jong Woon.. you don’t love him, do you?” masih enggan menatapku, Soohyun mengutarakan pertanyaannya yang jujur saja aku pun tidak tahu jawabannya apa. Semua sikap Jong Woon sama seperti Kibum, itu yang aku sukai darinya. Aku sendiri bingung, apakah aku mencintainya karena dirinya sendiri atau karena kesamaannya dengan Kibum?

“I don’t know Soo-ah, I like him, but.. I don’t know.. mianhae..” aku menundukkan kepalaku. Aku menyesal, aku.. mengapa tidak pernah menyadari perasaanku sendiri untuknya? Sahabat, aku hanya menganggapnya sebagai sahabat.

“Kibum, right?” Soohyun menatapku kali ini. Senyum miris menghiasi wajahnya. Aku hanya bisa mengangguk. Tidak ada gunanya lagi aku menyembunyikan siapa yang selalu dipikiranku. Soohyun sulit untuk dibohongi. Soohyun hanya menghela nafas dengan berat. Perlahan menghapus air matanya. Soohyun menggenggam tanganku, rasa bersalah menyelimutiku saat ini. Aku tahu, Soohyun pasti sedih melihat orang yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri sedang terbaring lemah, koma. Lagi-lagi, aku kejam.

“He loves you so much, Cha-ah. You’ll never know it, because you just seeing one person, Kibum. I know, Jong Woon and you need time, I’ll go for a while. Berbicaralah dengannya, mungkin kalau hanya berdua dia bisa bangun Cha-ah.. I’ll go now..” Soohyun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Meninggalkan aku berdua dengan Jong Woon, sahabat yang sangat aku sayangi.

“Woon-ah, wake up.. jebal.. I’m here.. just me..” aku menggenggam tangannya, erat. Takut kehilangan kali ini, jangan sampai orang yang aku sayangi ini menghilang. Aku belum siap, aku tidak ingin kehilangan lagi. Tidak ada respon sama sekali. Matanya masih terpejam, tidak ada tanda-tanda kesadaran sama sekali.

“Jong Woon… I love you.. so much.. but, as a friend.. mianhae.. jeongmal mianhae.. I know I was wrong.. forgive me, please.. I don’t want you go from me, I need you.. I want you hear my story again, I want you to give me strength again, I want us back together, with Kyuhyun, Hyuk Jae, Yena, and Soohyun.. ireona.. Woon-ah.. ireona..” Bangunlah Woon-ah, aku tidak tahan kalau harus menangis terus seperti ini.

Rasa bersalahku semakin besar. Seharusnya aku tidak gegabah. Ini semua salahku! Aku yang membuatnya seperti ini. Aku sudah membuatnya menderita, dan aku hanya bisa menangis. Menangisi Jong Woon yang tidak merespon ucapanku sama sekali.

“I love you too…” suara Jong Woon! Tidak salah lagi! Aku segera mendongakkan kepalaku dan melihat Jong Woon sudah dalam keadaan sadar!

Aku tersenyum padanya yang dibalas dengan senyuman tipis, sulit baginya untuk bergerak dengan bebas. Tangannya menggenggam tanganku, lagi. Sangat erat kali ini, tapi.. tatapan matanya, seperti ingin pergi jauh dariku.

“but sorry Rin-ah, aku.. tidak bisa.. memenuhi keinginanmu.. aku.. sudah terlalu.. lama.. sudah.. saatnya.. pergi.. Rin-ah.. mianhae.. saranghae.. saranghae.. sa..”

Tiiiiiiiiiiiiiitt….

Bunyi panjang dari alat laknat itu. Hilang sudah, sahabatku. Genggaman tangan yang seharusnya hangat berubah menjadi dingin. Genggaman tangan yang seharusnya erat perlahan mengendur. Tatapan mata penuh kasih sayang sudah menutup, untuk selamanya.

Pukulan berat bagi kami untuk kehilangan Jong Woon, sahabat yang berarti. Kalian tahu? Sangat menyakitkan rasanya ditinggal. Aku paling benci sendirian, tapi secara tidak langsung aku sendiri yang menyebabkan kesendirian itu.

Pada pemakaman Jong Woon, Soohyun menenangkanku. Aku menangis hari itu, entah sudah berapa kali aku mengeluarkan cairan bening itu dari mataku, walaupun pada akhirnya aku tidak mengikuti pemakaman itu sampai akhir. Aku kabur dari sana, terlalu menyesakkan melihat orang yang menyayangiku untuk berada di sana.

“Charin-ah! Chankamman!” Yena mengejarku yang tengah lari, lari dari pemakaman. Lebih baik aku tidak melihatnya sama sekali daripada harus merasakan sesak yang teramat sangat dan juga rasa bersalah yang luar biasa.

Aku berbalik. Aku sudah lelah untuk berlari. Berlari dari segala macam akibat tindakanku sendiri. Lebih baik aku saja yang mati. Kibum tidak ada, Jong Woon juga sudah pergi, untuk siapa lagi aku hidup?!

“Cha-ah.. jangan seperti ini.. jebaaal.. kau tidak ingin Jong Woon sedih disana kan?” Yena memeluk tubuhku. Aku menangis sejadi-jadinya. Dan Yena memelukku sangat erat seakan tahu pikiran bodohku tadi, mati.

“Aku kejam Na-ah, aku kejaam.. aku yang membuatnya seperti itu.. bunuh saja aku.. biar aku saja yang mati…” aku sesegukan di bahu Yena. Yena hanya menenangkanku, masih memelukku erat.

“Ssstt.. aniyo.. ini bukan salahmu Cha-ah.. ini sudah takdir, semua manusia memang memiliki batas akhirnya di dunia ini.. ini bukan salahmu.. jebal.. jangan berpikiran seperti itu lagi.. kami masih di sini untukmu.. Cha-ah, its alright.. trust me..”

Aku melepaskan pelukan itu dan menatap mata Yena. Yena membalasnya dengan tersenyum. Tuhan, aku mempunyai mereka, apa yang aku pikirkan tadi? Mati? Ani.. mata Yena dengan jelas memancarkan ketulusan seorang sahabat.

“Apa Jong Woon akan memaafkanku Na-ah?”

“absolutely yes! Dia pasti memaafkan orang yang sangat dicintainya iniii…” Yena mencubit hidungku gemas. Aku tersenyum. Senyum senang, mungkin. Yena, gomawo.

“Best friend forever, yaksok?” Yena menunjukkan kelingkingnya yang langsung aku sambut dengan kelingkingku.

Satu beban berkurang, setidaknya aku yakin, kalau di dunia ini masih ada orang yang tidak akan membiarkanku sendirian. Pikiran untuk mati tadi, sungguh mengerikan. Aku tidak akan mengulanginya lagi, semoga.

“Yaksok. Forever!”

Begitulah, tahun yang berat. Namun pada tahun ini, aku juga mendapatkan pelajaran. Jangan pernah berpikiran pendek, apalagi mengambil tindakan sebelum dipikirkan. Untung saja waktu itu Yena mengejarku, kalau tidak, aku sudah tinggal nama dan membuat Changmin oppa sedih saja sekarang.

Aku sungguh beruntung. Dicintai oleh namja seperti Jong Woon, dia mengerti dengan otakku yang selalu memikirkan orang lain, walau akhirnya seperti ini. Aku beruntung memiliki sahabat-sahabat yang mengerti, selalu mendukung, dan bisa menjadi keluarga kedua bagiku. Aku beruntung, Changmin oppa adalah kakak yang cerewet, itu yang membuktikan bahwa dia sangat menyayangiku.

Sekali lagi, aku sangat terbantu pada tahun ini. Thank you, thank you so much.

Advertisements