Tags

, , , ,

Tahun ketiga dia menghilang. Tanpa jejak. Aku sudah menjadi orang bodoh bertahun-tahun. Aku menyia-nyiakan beberapa momen yang seharusnya aku lewati dengan canda tawa menjadi tidak berarti hanya karena memikirkannya. Paboya!

Tahun 2008, bisakah aku melupakannya pada tahun ini? Dengan segala kenangan yang aku miliki? Mungkin, sebagian dari kalian yang membaca bagian ini akan berkata, you have to move on! I know, I’ve thinking about that all the time! Kalau saja aku ini bukan tipe yang menaruh cinta begitu dalam pada seorang namja yang bernama Kim Kibum itu, pasti tidak akan sesakit ini rasanya!

“Cha-ah, ayolah makan.. onnie buat sup jagung kesukaanmu, jebal..” Yuri onnie masih menyodorkan semangkuk sup jagung padaku. Sebenarnya aku sangat lapar, tapi entahlah, aku seakan sudah kenyang dengan segala kesakitanku.

Apakah aku harus berakhir seperti ini? Menggantungkan segala harapanku dan tetap menunggunya kembali, atau mencari solusi yang lain yaitu..melupakannya. Semua pertanyaan itu terbesit begitu saja dalam otakku. Melupakannya? Mengingat aku adalah orang yang selalu menaruh cinta di hati, aku pikir, itu akan sangat sulit.

“Onnie..” aku menatap Yuri onnie yang sudah menyerah menyodorkanku dengan sup jagungnya. Yuri onnie menoleh, dan tersenyum. Dia pasti tahu, kalau aku akan bertanya banyak hal padanya.

“Changmin oppa.. seperti apa onnie mencintai Changmin oppa?”

Yuri onnie sedikit terkejut dengan pertanyaanku ini. Mungkin seperti basa-basi, tapi jujur, aku ingin tahu. Apakah rasa cinta mereka sama sepertiku?

“Seperti oksigen, Cha-ah. Oppa-mu adalah kebutuhan dan hak-ku yang mutlak setelah beribadah, wae?” Yuri onnie membelai rambutku penuh sayang.

Sama. Rasanya sama. Oksigen, tidak terlihat namun sangat dibutuhkan. Kehilangan oksigen, sama seperti kehilangan hidup, dan itu aku.

“Apa onnie pernah merindukan Changmin oppa?” pertanyaan bodoh, tentu saja pernah. Namun sekali lagi, apakah rasanya sama?

Yuri onnie hanya tersenyum, senyum yang sangat cantik. Mungkin inilah sebabnya Changmin oppa sampai rela menabung untuk masa depan mereka.

“Absolutely yes my lil’sister, tidak ada yang spesial untuk bisa dirindukan sebenarnya, namun kebersamaan. Itu yang sangat onnie rindukan, apalagi memasak bersamanya. Charin-ah, waeyo? Kenapa kau bertanya tentang itu pada onnie?”

Kebersamaan ya? Ya Tuhan, Yuri onnie dan Changmin oppa yang baru menjalin hubungan selama dua tahun saja bisa seperti ini rasanya, bagaimana dengan aku?

Pertanyaan terakhir, yang selalu membuat dadaku sesak. Berpikir diantara dua pilihan.

“Onnie, bagaimana kalau Changmin oppa meninggalkan onnie seperti Kibum meninggalkanku? Apakah onnie akan bertahan? Apakah onnie akan melupakannya? Onnie, bantu aku..” baiklah, pertahananku untuk tidak menangis ketika menanyakan hal ini luntur sudah. Cengeng. Kibum sudah menjadikanku pribadi yang cengeng.

Yuri onnie sontak memelukku untuk menenangkan. Aku tahu, pasti dia merasa kasihan denganku. Namun aku tidak butuh itu, aku butuh saran yang setidaknya dapat aku lakukan untuk memperbaiki hidupku, hatiku.

“Sst.. uljima Cha-ah, itu adalah pilihanmu sendiri, onnie tidak dapat mengatakan apa-apa tentang hal itu. Hanya saja, onnie berharap kau bisa ceria dan membuka diri lagi, jangan terus terpuruk seperti ini.”

Membuka diri? Ottokhe? Apakah aku harus melupakannya? Bisakah?

Bagiku waktu itu, tidak ada pilihan lain. Sakit yang aku miliki terlalu lama untuk bertahan. Setiap wanita tidak ingin hubungannya menggantung tanpa akhir kan?

Pada tahun ini juga, aku melakukannya. Mencoba untuk melupakan dia. Aku harap ini akan berhasil, aku harus lepas dari kebodohanku untuk menungguinya yang tidak jelas itu.

Cara pertamaku, aku akan mencoba untuk fokus pada kegiatan di kampus. Sudah susah payah masuk ke universitas paling terkenal dan hebat di Korea Selatan, tidak boleh aku sia-siakan. Cara kedua, mencari penggantinya.

Seharian berada di kampus menyenangkan juga, aku ditemani sahabat-sahabatku sekarang. Ada Hyuk Jae, Jong Woon, Kyuhyun, Soohyun, dan Yena. Begitu menyenangkan bersama mereka.

Kyuhyun dan Soohyun, ‘Hyunnie couple’ itu selalu membuatku iri. Mereka berdua sama seperti Changmin oppa dan Yuri onnie, tidak bisa terpisah. Yena dan Hyuk Jae, mereka adalah sahabat dekat karena Siwon yang merupakan namjachingu Yena adalah sahabat dekat Hyuk Jae, tapi tetap saja, mereka sangat dekat. Kim Jong Woon, namja yang paling dekat denganku, atau yang paling dekat denganku diantara kami berenam.

Aku merasa nyaman berada didekatnya. Aku selalu berbagi masalah padanya, dia juga sering memintaku bercerita tentang kehidupanku, termasuk soal Kibum. Dia selalu bisa menghiburku dan mengajakku bercanda ketika aku melamun, melamunkan Kibum. Sahabat terbaikku.

***

Akhir tahun. Kami berenam sepakat untuk menghadiri festival yang diadakan di tengah kota. Sepakat untuk berkumpul disebuah taman terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat tujuan.

Aku pergi agak cepat dari waktu yang dijanjikan, karena Changmin oppa sedang memersiapkan pestanya sendiri di rumah, memasak bersama Yuri onnie lagi katanya. Setibanya di taman, ternyata bukan aku yang sampai duluan, ada Jong Woon. Cukup tampan dengan setelah kaus berlengan panjang berwarna putih dan jeans hitam.

“Woon-ah!” aku menepuk pundaknya, sedikit membuatnya terkejut karena kehadiranku yang tiba-tiba.

“Aish, Charin-ah! Kau hampir membuatku mati tadi!” dengan raut wajah berlebihan dia berbicara padaku, membuatku sedikit tertawa.

“Mana yang lain?” tanyaku. Dia hanya mengangkat bahu, tanda tidak tahu.

Hening. Rasa canggung menyelimuti kami. Aku tidak punya obrolan lain, berbeda sekali dengan hari-hari biasa. Kami hanya berdiri berdampingan tanpa ada yang memulai pembicaraan. Hei, aku tidak mungkin gugup kan?

Sekitar 10 menit kemudian, Hyuk Jae datang bersama Yena. Yena terlihat manis, namun Hyuk Jae, still with his own sytle! Jeans tanggung yang dipakainya itu..benar-benar anak ini, sepertinya dia akan mati kedinginan malam ini. Kyuhyun dan Soohyun menyusul, seperti biasa, bergandengan. Aish, jangan iri Cha! Jangan iri!

“Kajja! Kita pergi!” seru Kyuhyun yang ditanggapi oleh anggukan kami semua.

***

“Woaaaaa… gomawo Kyu-ah! Cantik sekali gelangnya…” Soohyun menerima gelang yang diberikan Kyuhyun. Sungguh, kalau Kibum masih di sini, aku tidak akan kalah dari mereka berdua! Aish, berhenti memikirkan Kibum!

Hyuk Jae dan Yena malah asyik pergi bermain komidi putar bersama, terlihat sekali kalau Hyuk Jae menyukai Yena lebih dari teman, kasihan dia.

Aiish.. kenapa aku malah iri melihat sahabat-sahabatku sendiri? Dan kenapa juga aku harus membandingkan keadaanku sekarang dengan mereka? Berhentilah Cha.. Lupakan.. Kau bisa!

Tiba-tiba tanganku ditarik seseorang, Jong Woon. Kami berdua menjauh dari Kyuhyun dan Soohyun. Dia menarikku jauh sekali ke belakang. Genggaman tangannya sangat kuat, sampai-sampai aku meringis karena kesakitan.

“Woon-ah!” aku meneriakkan namanya agar dia berhenti, tapi tetap saja dia menarikku.

“Kim Jong Woon!” aku sudah tidak bisa menahan sakit di tanganku lagi. Dia keterlaluan! Apa maunya sih?!

Dia berhenti. Tempat yang cukup sepi karena dia membawaku ke taman tempat kami berkumpul tadi. Apa maksudnya?

Drrt..drrt..drrt…

Handphone-ku berdering dan menampilkan nama Soohyun, dia menelepon. Baru saja akan aku jawab panggilannya, Jong Woon merebut handphone-ku dan mematikannya. Aku terkejut, sebenarnya apa yang ada dipikirannya? Ada apa dengannya hah?!

“Bisakah aku berhenti jadi temanmu? Aku bosan melihatmu yang selalu menampakkan wajah sedih ketika melihat Kyuhyun dan Soohyun bersama! Kibum, dan Kibum! Aku bosan kalau kau selalu menceritakannya padaku!” Jong Woon meneriakiku. Baru kali ini dia begitu marah pada seseorang. Tunggu dulu? Dia ingin berhenti jadi temanku? Bosan dengan ceritaku? Bukannya selama ini dia yang selalu memintaku bercerita tentang Kibum hah?!

“Mwoya?! Apa ada yang salah denganku Woon-ah?! Kau sendiri yang memintaku untuk menceritakannya padamu!” kesal sekali rasanya. Aku ingin bersenang-senang malam tahun baru ini! Kenapa harus bertengkar dengan sahabatku sendiri?

Jong Woon menundukkan kepala, terlihat ada penyesalan pada wajahnya.

“Mianhae, jeongmal mianhae.. aku… hanya ingin mempelajari pengalamanmu, agar tidak ada yang salah nantinya,” Jong Woon menggenggam tanganku erat dan menatap mataku. Dia.. apa yang ingin dia pelajari dari pengalamanku?

“Aku sudah bosan menjadi sahabatmu, sahabat yang selalu mendengarkan ceritamu yang selalu memikirkan tentang namja bernama Kim Kibum yang sangat kau cintai itu,” dia menghela nafasnya sebentar sebelum melanjutkan pembicaraan, dan aku sendiri masih bingung dengan maksudnya. Lagi pula, genggaman tangan ini, sangat erat.

“Aku tidak ingin menjadi sahabatmu lagi, dan tidak ingin kau memikirkan tentang namja itu lagi, karena aku… aku ingin kau selalu memikirkanku, ganti ceritamu tentangnya menjadi tentangku, ganti status kita yang hanya sahabat menjadi…mm…be mine?” seiring dengan ucapan itu, genggamannya terasa sangat kuat, seakan tidak akan pernah melepaskan tanganku.

‘Be mine’? Kibum juga mengatakan hal yang sama, persis seperti ini. Bayangan Kibum melayang di otakku, terefleksikan pada wajah Jong Woon. Kibum-ah, neo odiya? Dimana kau? Aku.. ingin ini adalah kau.

Aku menerimanya saat itu. Yah, membingungkan memang. Tapi aku harus terus maju, Jong Woon menyayangiku, sangat menyayangiku. Aku tidak setega itu membiarkan orang patah hati.

Entah keputusan itu benar atau tidak, aku berharap semua akan baik-baik saja.

Untuk urusan Kibum.  Trying to forget about him, is harder than I ever imagine. Kibum masih memiliki tempat. Sekalipun Jong Woon sudah menguasai hatiku, entah kenapa, Kibum seperti memiliki tempat khusus. Bisakah aku berhenti mencintainya? Aku mohon, ini semakin menyesakkan.

Advertisements