Tags

, ,

assalamu’alaikum ^^

cuma mau share lagi nih, ff geje lagiii.. hhehe

note : cetak miring/ italic itu berarti flashback ya, terus semua ini Shim Charin’s POV

Enjoy it ! ^^

2nd Year (I Miss You)

Tahun 2007. Tidak ada yang spesial untuk tahun ini. Semua berjalan seperti biasa, tapi satu yang membuatku tidak biasa. Kehadirannya, Kim Kibum.

Satu tahun saja rasanya tidak cukup bagiku untuk melupakan sosok namja yang satu itu. Banyak usahaku untuk menghubunginya lagi, salah satu cara yang paling sederhana adalah menghubungi ponselnya, tapi itu percuma. Nomor handphone-nya tidak aktif lagi sampai sekarang. Cara kedua, aku menantikan kapan dia akan online, tapi itu juga percuma. Cara ketiga, aku mengiriminya banyak e-mail, dan lebih percuma karena dia tidak pernah membalas semua e-mail yang aku kirim. Cara terakhir, aku bertanya dengan seluruh teman-teman kelasku, tapi sama saja, mereka tidak ada yang tahu. Sebenarnya, aku masih punya satu kuncian lagi, Oh Jihee. Dia adalah mantan pacar Kibum, tapi mengingat sifatnya yang tidak bisa diajak bicara santai, aku mengurungkan niatku. Aku yakin, yeoja satu itu pasti tidak tahu.

Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menangisi kepergiannya, terdengar sangat cengeng bukan? Changmin oppa dan Yuri onnie saja sudah berusaha mati-matian menghiburku. Aku sangat berterima kasih pada mereka berdua, tapi aku tidak bisa kalau tidak ada dia.

Bulan Mei, kami semua mengadakan pesta kelulusan. Aku lulus berbarengan dengan Changmin oppa dan teman angkatannya yang lain karena aku merupakan murid akselerasi, bersama Kibum.

“Cha-ah, sudah siap? Jangan menampakkan wajah sedih lagi, kau harus bersuka cita hari ini, yaksok?” Yuri onnie yang sengaja menginap di rumahku menunjukkan kelingkingnya, memberikan isyarat bahwa aku harus berjanji untuk ceria dan turut serta seperti biasa dalam acara kelulusan hari ini. Aku hanya tersenyum tipis dan menggamit kelingkingnya dengan kelingkingku. Aku harap aku baik-baik saja hari ini.

***

Ballroom hotel ini begitu besar dan luas. Aku begitu kagum dengan acara hari ini, semua yang hadir begitu berbeda dengan penampilan biasa, mereka terlihat lebih cantik dan tampan.

Yuri onnie dan Changmin oppa meninggalkanku sendirian, mereka berdua sedang asyik berbincang dengan teman seangkatan mereka.

“Ya! Charin-ah! Annyeong, sendirian?” Aku menatap namja dihadapanku ini. Namja keturunan China ini bernama Henry, Henry Lau tepatnya. Aku hanya mengangguk lalu tersenyum padanya, seolah tidak ada yang aku pikirkan sekarang.

“Aniyo, aku datang dengan oppa-ku, sunbae,” ya, dia kakak kelasku, sama seperti Changmin oppa dan Yuri onnie. Namja yang berpipi chubby ini hanya tersenyum, lalu menyodorkan segelas Lime Ice kepadaku. Langsung saja aku menerimanya karena memang minuman itu adalah favoritku.

“Kamsahamnida sunbae,” aku tersenyum padanya dan mengedarkan pandanganku kearah Changim oppa tadi berada, tapi dia sudah tidak ada di sana. Aish, pasti mereka lupa kalau ada aku.

Aku menolehkan lagi kepalaku kearah Henry sunbae, tapi dia sudah tidak ada. Aneh, apakah ruangan ini membuat orang bisa berpindah tempat dengan mudah?

Begitulah, tidak ada yang spesial, aku hanya mengikuti acara itu tanpa minat. Yuri onnie yang duduk disampingku waktu itu sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi karena aku tidak ada ekspresi apapun.

Bagiku waktu itu, acara kelulusan kami begitu menyakitkan. Melihat semua orang dapat tertawa bahagia, bersenda gurau dengan teman-teman atau orang yang spesial, bahkan ada yang menangis bahagia. Itu tidak terjadi padaku, aku tidak dekat dengan teman-teman di kelas karena kesibukan kami mengejar pelajaran tiga tahun untuk dua tahun. Hanya Kibum, Kim Kibum yang membuatku merasa nyaman berada di kelas itu.

Untung bagiku, hilangnya Kibum tidak merusak nilai ujian negaraku dan aku tetap bisa masuk universitas besar di Seoul. Namun setelah itu semua, pikiranku tentang Kibum kembali lagi. Terlalu sulit ternyata melupakannya. Waktu-waktu yang aku lewati, tidak mungkinkan aku lupakan saja tanpa alasan?

“Ya! Chacha-ah, aku tahu kau senang, tapi bernafaslah dulu! Kau berbicara seperti orang yang dikejar anjing!” kata Kibum sambil menyentil keningku. Kami berada di kantin sekolah sekarang.

Aku memang sedang senang! Aku memenangkan lomba menyanyi di kotaku, Nowon. Aku bercerita dengan Kibum, dan ternyata aku bercerita tanpa jeda saking senangnya! Hahha…

“Aish, Bum-ah, appo!” aku mengelus keningku yang disentilnya tadi, sedikit sakit tapi tidak apa. Aku mengembungkan pipiku tanda kesal, sedikit menggodanya agar merasa bersalah, hhe.

“Aigoo… my Chacha, mianhaeyo.. jangan cemberut! Nanti aku tidak lepas cubitan ini dari pipimu!” Kibum mencubit pipiku dan tersenyum puas setelah aku tersenyum disela-sela cubitannya, mungkin kalian tidak percaya kalau cubitan yang cukup kuat ini tidak sakit sama sekali, bahkan menyenangkan!

“Araseo Bum-ah! Lepaskan tanganmu dari pipiku.. Your Chacha is happy now!” aku membentangkan kedua tanganku dan tersenyum lebar. Kibum hanya tersenyum, namun kemudian dia berdiri dan membentangkan kedua tangannya juga. Kibum seperti sedang mengambil ancang-ancang untuk berteriak, dan ternyata itu bukan dugaanku saja.

“NAN! SHIM CHARIN NAMJACHINGU! CONRATULATION BECAUSE YOU’VE WIN SINGING COMPETITION MY CHACHA! I’M HAPPY TO BE WITH YOU!”

Aigooo… wajahku pasti merah padam sekarang! Namja itu! Dia hanya tersenyum puas setelah membuatku malu sekaligus senang tadi!

Aku menyembunyikan wajahku dibalik piagam yang aku bawa tadi. Sudah banyak murid yang terbengong-bengong dengan tingkah seorang namja yang terkenal dingin tiba-tiba berteriak seperti itu, di kantin!

Sesaat setelah Kibum berteriak seperti itu, semua murid yang ada di kantin bertepuk tangan meriah. Mereka menghampiri kami dan memberikan selamat kepadaku. Aah, bangganya aku ^^

Hah, waktu itu menyenangkan. Tingkahnya yang tidak terduga itu, bisa membuat semua yang tidak masuk akal dan memalukan bagiku ini bahagia. Bukan hanya itu, dia selalu melindungiku, dan mengutamakanku dalam hidupnya. Itu yang membuatku tidak bisa melupakannya begitu saja.

“JIHEE-AH! LEPASKAN DIA!” Kibum menghampiriku yang sedang..tercekik. Dia berlari. Aku yang sudah tidak tahan pun melepaskan genggaman tanganku yang berusaha melepaskan tangan Jihee dileherku.

Jihee yang mendengar teriakan itu langsung melepaskan tangannya dari leherku, dan hendak lari, tapi terlambat. Kibum sudah mencengkram tangannya sebelum ia lari. Tangan Kibum sudah melayang diudara hendak menampar Jihee, untungnya aku berhasil menahan tangan Kibum.

“Ani! Jangan tampar dia Bum-ah!” Kibum pun membiarkannya pergi. Matanya masih mengisyaratkan kemarahan. Mengerikan. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini.

“Bum-ah… nan gwenchana, kajja. Kita pergi dari sini,” aku menggenggam tangannya, dingin. Namun tiba-tiba dia sudah memelukku. Pelukan ini berbeda dengan yang pernah dia berikan sebelumnya, penuh kekhawatiran.

“Cha.. mianhae… jeongmal mianhae.. ini semua karena aku, mianhae..” bahu Kibum bergetar, menandakan kalau dia sedang menangis, sedikit mungkin. Aku hanya bisa menenangkannya dan berpikir kembali tentang penyebab kejadian tadi.

Oh Jihee, mantan yeojachingu Kibum. Alasan Kibum tidak ingin bersamanya lagi sangat wajar. Jihee berselingkuh dan dengan santainya berciuman dengan namja itu di depan mata Kibum. Namun, setelah mereka berpisah sampai akhirnya Kibum bersamaku, Jihee berniat kembali pada Kibum yang sudah pasti ditolak mentah-mentah. Hal itulah penyebab Jihee mencekikku tadi, karena merasa kalah dariku.

Aku kembali lagi kepada kenyataan sekarang. Kibum tidak bersalah, cintanya untukku tidak pernah salah.

“Gwenchana Bum-ah, I’m okay. Its not your fault Bum-ah, trust me..” Kibum pun semakin mengeratkan pelukannya. Aku kembali hanya menenangkannya, berharap dia berhenti untuk merasa bersalah.

“Aku mohon, jangan jauh-jauh dariku agar aku bisa melindungimu.. aku akan merasa berdosa kalau tidak bisa menjagamu dengan baik Cha-ah,” Kibum pun melepaskan pelukannya. Matanya sedikit sayu, dan penuh rasa bersalah.

“Ne, be my guardian! Hhehe..” aku merentangkan kedua tanganku padanya sambil tersenyum lebar, berharap semua rasa bersalahnya hilang. Dia hanya tersenyum jahil, sepertinya usahaku berhasil.

“Ya! Only ‘guardian’?! without ‘angel’?!” Kibum berkacak pinggang, sedang berpura-pura marah. Aku hanya mengangguk semangat untuk menjahilinya. Inilah yang aku inginkan. Keceriaan seorang Kim Kibum untukku akan menjadi semangat tersendiri.

Hari itu, seharusnya menjadi hari yang suram. Jihee hampir membunuhku waktu itu, namun namja-ku datang dan mengubah hari itu menjadi berharga, karena dia berjanji untuk melindungiku.

Bum-ah, where are you? One year without you, I can’t leave easily. I miss you.

Advertisements