Tags

,

Annyeonghaseyo, choneun Shim Charin imnida. Hm.. ingin mendengar ceritaku tidak? Aku hanya ingin berbagi cerita yang aku alami selama lima tahun belakang. Lima tahun yang aku habiskan untuk memikirkan seseorang yang entah batang hidungnya berada dimana. Orang ini, selalu berhasil membuat hatiku naik dan berbunga, lalu jatuh tanpa peduli akan pecah jadi berapa keping. Baiklah, mungkin diantara kalian ada yang penasaran, hhehe.. Namanya Kim Kibum. Namjachingu yang bertanggung jawab atas keeksistensian hatiku ini. Yasudah, mulai saja ya.. mungkin kalian sudah bosan mendengar celoteh tidak penting ini. Start! ^^

1st Year (You Leave Me)

Ini terjadi pada tahun 2006, bulan Februari tepatnya. Hmm.. aku sedikit lupa apa yang terjadi pada tahun ini. Tapi tenang saja! Aku sangat mengingat satu kejadian!

~~~~

“Ya! Cha! Irona! Kau ingin terlambat hah?!” Changmin oppa mengguncang tubuhku dengan kuat, tentu saja cara ini yang sangat ampuh untuk membangunkan adiknya yaitu aku, Shim Charin.

“Ne, my kyeopta oppaa.. hus! Dongsaeng-mu yang yeoppo ini mau mandi!” Aku pun langsung mengambil handuk dan segala perkakas yang harus aku bawa serta ketika mandi.

***

Sudah sampai di sekolah. Changmin oppa langsung digandeng oleh Yuri onnie, pacarnya. Okay, aku iri dengan mereka! Dengan cepat aku berlari meninggalkan Changmin oppa dan Yuri onnie untuk menuju kelas.

Sampai di kelas, aku mengedarkan pandanganku. Mencari sosok namja yang sudah bagaikan kewajibanku untuk menatapnya setiap hari. Kalian pikir aku sangat mencintainya? Sangat!

“Chacha! Come here!” Kibum memanggilku dengan panggilan khususnya. Agak geli juga mendengarnya. Kalian tahu? Chacha adalah gabungan, ‘Cha’ yang pertama untuk nama panggilanku, dan ‘Cha’ yang kedua untuk ‘Chagi’ yang artinya ‘sayang’. Yaah, kalian simpulkan sendiri yaa artinya, hhehe.

Aku pun langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya. Kelas ini masih agak sepi, karena murid-murid yang lain sibuk dengan kegiatan pagi mereka masing-masing.

“Bum-ah, kenapa semalam tidak membalas sms-ku? Sibuk?” Aku memulai pembicaraan sambil mengeluarkan buku untuk mata pelajaran pertama, matematika. Park songsaeng tidak akan senang jika kita belum menyiapkan apa-apa sebelum pelajaran. Kibum mengikuti kegiatanku, mengeluarkan buku. Aku masih menatapnya penuh tanya. Namja ini, walau sudah sejak kecil aku mengenalnya dan sampai sekarang menjadi namjachinguku, sangat sulit untuk menebak pikirannya.

“Mianhae, aku ketiduran Cha,” dia menjawabnya sedikit pelan dan tidak menatapku. Aneh. Ini kebiasaannya kalau berbohong.

“Aish, Bum-ah! Jangan bohong, jebal. Waeyo?” Aku menatapnya tajam kali ini, dia masih saja menghindari tatapanku ini. Tuh kan, pasti ada apa-apa!

Ring Ding Dong

Bel sekolah berbunyi, dan bunyinya berhasil mengalihkan pandanganku kearah pintu. Semua murid berebut untuk masuk kelas. Baiklah Bum-ah, kau lolos saat ini.

Nah, itu adalah awal dari semua. Mungkin, aku akan memperpendek cerita, langsung pada saat yang tidak aku duga sama sekali waktu itu, hahha. Mianhae, karena lanjutan cerita diatas itu tidak terjadi apa-apa, alias, kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Tiga hari setelah hari itu..

Aku merindukannya. Nae namja, kemana dia perginya? Sudah tiga hari dia tidak sekolah, bahkan wali kelas kami, Park songsaengnim pun tidak diberi kabar. Aish babo! Aku kan tahu rumahnya!

Aku pun langsung mengambil jaket dengan cepat dan hendak keluar rumah. Untunglah Changmin oppa sedang pergi keluar dengan Yuri onnie, tidak ada yang mengomel setidaknya karena ini sudah malam.

Aku mengeratkan jaketku, sedikit dingin. Aku sedikit berlari mengejar waktu, setidaknya ini untuk menghindari Changmin oppa sampai lebih dulu di rumah dibanding aku, atau ‘kereta api’ berbicaralah yang akan aku dengar.

Akhirnya, sampai juga. Aku pun langsung memasuki perkarangan rumah Kibum, sangat terawat karena dia tinggal bersama kedua orangtua-nya.

Tok tok tok

Aku mengetuk pintu agak kuat, sebenarnya tidak sengaja tapi tidak apalah. Tidak ada jawaban. Aku memutuskan untuk mengetuknya sekali lagi, dan masih tidak ada jawaban. Aku melihat sekitar rumah ini, ada jendela di samping ternyata. Ketika aku sedikit berjinjit untuk mengintip apakah ada orang, malah gelap yang aku dapat. Seperti tidak ada penghuni sama sekali rumah ini.

Aku memutuskan untuk bertanya pada tetangganya yang kebetulan baru keluar dari rumah.

“Chogi, ahjumma kau tahu kemana pemilik rumah itu? Daritadi aku ketuk tidak ada yang menjawab,” aku bertanya sedikit tergesa, ingat? Waktu.

“Ah, keluarga Tuan Kim pergi, entah kemana tapi sepertinya akan lama dan jauh, dilihat dari barang bawaan mereka yang sangat banyak kemarin,” ahjumma itu menjawab sambil menerawang untuk mencoba mengingat. Chankaman! Ôje?!

“Ahjumma, benarkah kemarin? Apa ahjumma tidak salah lihat?” Jebal, aku belum siap.

“Ne, nan mitta.” Setelah mengatakan itu, ahjumma itu pun berlalu. Membiarkan aku terdiam disini. Apakah benar? Tapi Kibum tidak berkata apa-apa padaku! Dia tidak menemuiku! Aish jinja! Wae Bum-ah?!

“Cha-ah!” seseorang memanggiku dari belakang, Changmin oppa.

“Ya! Kenapa kau disini? Sudah malam, kajja! Pulang!” Changmin oppa hendak menarik tanganku, namun kutepis. Kalian tahu kenapa? Sebenarnya aku benci untuk mengatakan ini karena akan ada pikiran kalau aku ini gadis bodoh. Ya, aku masih tidak percaya kalau Kibum pergi tanpa sepengetahuanku, tanpa menemuiku untuk sekadar mengucapkan sampai jumpa padaku, dan bodohnya lagi aku berniat untuk tetap berdiri di depan rumah Kibum. Aku ingin memastikan kalau ahjumma tadi salah lihat. Pasti salah lihat.

Kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya, aku menangis. Changmin oppa dan Yuri onnie kebingungan menghadapiku. Seberapa besar usaha mereka untuk membawaku pulang, tidak akan membuahkan hasil. Aku masih ingin disini! Menunggu Kibum datang dan mengatakan kalau ahjumma tadi hanya bercanda! Tapi hal itu tidak terjadi, airmata yang sebenarnya bening pun, seperti berubah menjadi warna hitam, semuanya gelap.

Yaah yaah yaah, aku pingsan pada saat itu! Sedikit berlebihan mungkin. Tapi, aku ingin bertanya pada kalian. Bagaimana rasanya jika seseorang yang menjadi tempat berteduhnya hati kalian, seseorang yang ketika kalian mendengar suaranya saja sudah sangat merasa aman, dan seseorang yang sudah mengambil separuh bagian dalam cerita hidup kalian menghilang begitu saja? Meninggalkan kalian dalam keadaan kalian sangat mencintainya dan membutuhkan sosoknya hadir dihidup kalian, bagaimana rasanya?

Itulah yang aku rasakan sepanjang tahun itu, begitu menyesakkan.

*To be continued

Advertisements