Tags

,

RAIN AND YOU

“yeobo, apakah kau mencintaiku karena hujan?”

“ne, karena hujan, aku bertemu dan bisa bersamamu,”

“bagaimana kalau tidak ada hujan?”

“kau akan tetap bersamaku.”

Seorang laki-laki yang berpakaian rapi dan formal berjalan kesebuah tempat bersama gadis kecil di sampingnya. Tempat yang bisa dikatakan mengerikan bagi makhluk yang masih ingin hidup. Sebuket bunga mawar putih ia genggam dengan pasti, beserta kartu ucapan yang sudah ditulisinya dengan berbagai macam ungkapan. Ungkapan hatinya.

Sampai di tempat tujuannya, ia duduk disamping ‘rumah’ itu. Rumah yang begitu terawat untuk orang yang dicintai seumur hidup. Rumah terakhir yang indah namun menjadi penghalang bagi mereka berdua untuk meneruskan hidup bahagia bersama. Tidak ada kata, hanya keheningan yang menyelimuti diri laki-laki itu.

Tik..tik..tik..

Hujan. Mengingatkannya akan seorang wanita. Wanita yang telah berhasil masuk kebagian terpenting dalam cerita hidupnya. Hujan, membuatnya bahagia karena selalu menyelingi momen indah hidupnya, walau tidak untuk selamanya.

Saat gerimis. Menjadi latar kebahagiaannya yang pertama. Kebahagiaan ketika wanita-nya menerima untuk menjalani hidup bersama dengan ikatan resmi dimata semua orang dan Tuhan bersamanya. Kebahagiaan yang membawa ketenangan hidup karena bisa menjalaninya dengan orang yang begitu penting disetiap helaan nafas laki-laki itu.

Saat hujan angin yang tidak begitu kuat. Hujan yang menenangkan untuk mereka berdua ketika menjalani hidup. Beban yang mereka rasakan seolah terbang bersama angin dan dihempaskan oleh hujan. Hujan yang disukai oleh mereka berdua, karena selalu ada ketika hari bahagia mereka.

Saat hujan deras. Saat laki-laki itu harus menahan rasa takut yang paling dahsyat. Rasa takut dan senang yang tidak bisa dideskripsikan karena menanti pelengkap kehidupan untuk lahir. Hujan yang mewakili setiap perasaan yang ia miliki saat itu.

Namun hujan dan petir, merenggut semua yang dia butuhkan. Bagian hidupnya terpenting, harus pergi dengan cara yang paling dibencinya. Kanker yang menggerogoti tubuh sang penyemangat hidup tidak memberi kesempatan untuk diobati. Semua berlalu begitu cepat, kebahagiaan yang telalu cepat hilang menurutnya.

Laki-laki itu kembali tersadar dari lamunannya, sebuah payung besar melindungi tubuh laki-laki itu yang telah basah. Sosok mungil disampingnya seperti sedang kesusahan untuk memertahankan agar payung tersebut tetap tegak dan dapat melingdungi tubuh sang ayah.

Laki-laki itu hanya tersenyum miris. Dia hampir lupa, seorang malaikat kecil yang merupakan duplikat dirinya dan wanita yang dicintainya masih ada. Masih ada untuk memberikan semangat untuk dirinya yang hampir gila karena harus kehilangan bagian hidupnya.

Laki-laki itu mengambil payung tersebut dan memeluk tubuh mungil itu seraya tersenyum dan kembali menatap rumah yang sudah ditumbuhi rumput liar namun tetap rapi.

Rumah terakhir sang pelengkap hidup. Rumah itu, rumah gundukan tanah, terlihat begitu tenang. Nama yang tertera pada batu nisan itu tetap terlihat indah dimata laki-laki itu. Nama yang dia ucapkan ketika mengikat janji setia selamanya.

Laki-laki itu menaruh buket bunga mawar putih yang dibawa tadi di atas gundukan tanah itu. Berharap, sang wanita akan senang menerimanya dan membaca apa yang laki-laki itu tuliskan pada secarik kertas di dalamnya, walau itu tidak mungkin.

“Selamat tidur eomma,” ucap sang anak. Laki-laki itu hanya tersenyum, kemudian berdiri sambil menggendong si mungil. Melangkah pergi tanpa kata-kata. Meninggalkan sesuatu yang berharga, dan juga meninggalkan janji. Janji untuk terus tersenyum melewati hidup, walau tanpa wanita-nya.

  Untuk nafasku,

  aku mencintaimu, dan itu tidak akan berubah.

  Aku akan menepati janji, janji untuk selalu bersemangat menjalani hidup,

  Hanya untukmu.

  Aku berjanji tidak akan menangis lagi karena merindukan sosokmu,

  Hanya untukmu.

  Aku berjanji, akan menjaga malaikat kecil kita,

  Bukan hanya untukmu, tapi juga untukku. Untuk kita.

  Aku mencintaimu, dan tidak ada yang dapat merubahnya.

  Aku mencintaimu.

  Dari laki-laki yang membutuhkanmu.

Tulisan di kertas yang ada dalam buket bunga tersebut perlahan luntur karena hujan. Hanya meninggalkan bekas satu kalimat. Aku mencintaimu.

“yeobo, bagaimana kalau tidak ada hujan?”

“maka aku tidak akan pernah bertemu denganmu dan sebahagia ini chagi,”

“kalau begitu, anggaplah aku dan hujan adalah satu dalam hidupmu, karena hujan akan selalu ada untuk membuatmu nyaman dan tenang, selalu ada ketika kau membutuhkan teman menangis, dan akan ada ketika kau gembira. Hujan bisa menggantikanku menyampaikan cintaku untukmu, selamanya.”

**THE END**

Advertisements