Tags

, , ,

Aku harap ini hanya mimpi

mimpi bahwa aku sangat menginginkanmu

disaat yang paling kubenci sekalipun

aku mohon, perjuangkan aku

karena aku

warna-mu

Rumah kediaman keluarga Park ini, besar sekali! Mungkin ini tidak cocok untuk disebut rumah, tapi istana!

Yena, kau sangat beruntung sekaligus sial bisa ada disini. Beruntung karena kau harus tinggal di istana yang mewah ini, dan sialnya karena kau harus bekerja di istana ini. Dua-duanya begitu bertolak belakang. Bekerja di sini? Iya! Aku sekarang akan bekerja di sini seumur hidup untuk melunasi semuanya. Selain itu, aku juga lebih memilih tidak bertemu eomma daripada harus membiarkan eomma menderita di pernjara oleh keluarga ini.

Oke, sekarang saatnya bekerja! Im Yena, Hwaiting!

Yena Pov end

Leeteuk Pov

ya! Teuki! Kau laki-laki brengsek! Kita putus!’

Aish, dasar! Tidak bisakah dia tidak berteriak di telepon hah?! Telingaku langsung berdenging mendengarnya. Untungnya dia sudah memutuskan sendiri hubungan ini, setidaknya tidak ada lagi uang yang harus aku keluarkan percuma untuk wanita itu.

Aku turun ke bawah, menuju dapur tepatnya untuk mencari minum. Haus sekali rasanya setelah diomeli.

“Tuan! Jangan kesana!”

BRUK!

“Omonaa…” Aku terpeleset! Lantai ini kenapa licin sekali hah?! Aku mencoba bangkit tapi sepertinya kakiku terkilir. Aku hanya bisa meringis sampai sebuah tangan membantuku untuk berdiri.

“Mianhaeyo Tuan, aku terlambat mengingatkan. Mianhae, gwenchanayo?”

Aku terperangah menatap sosok dihadapanku kini. Selama aku menjadi playboy, belum pernah aku melihat wanita yang seperti ini dihidupku. Aku tidak bisa bernafas dengan benar sekarang, seperti terhipnotis oleh matanya, aku tidak bisa berhenti menatapnya.

“Tuan, gwenchanayo?” Wanita ini melambaikan tangannya padaku. Posisinya sedang memangku kepalaku sekarang.

“Ah, aniyo! Sakit sekalii.. Kau! Bawa aku ke kamar!” Aku harus mengambil kesempatan ini untuk mengetahui siapa dia, tapi dilihat dari pakaiannya dia mengenakan seragam pelayan di rumah ini. Pelayang baru rupanya.

Dengan susah payah dia memapahku sampai ke kamar. Dengan hati-hati dia membuka pintu dan kembali memapahku ke dalam kamar. Sebenarnya ada banyak pelayan yang menawarkan untuk membantu, tapi aku menolak. Aku hanya ingin dibawa oleh yeoja yang sudah membuatku kehabisan nafas ini.

Dia membantuku duduk dipinggir ranjang, ia seperti ingin pergi, kutahan saja tangannya.

“Ya! Jangan lari! Mau kemana kau?” Tanyaku. Aku berusaha untuk tidak terlihat gugup saat menggenggam tangannya.

“Aniyo, aku ingin mengambil kompres untuk mengobati kaki Tuan,” dia tersenyum lalu pergi keluar kamar.

Baiklah, aku simpulkan kalau aku mencintainya! Agak sedikit gila memang, aku ini tidak percaya pada cinta pandangan pertama, tapi sekarang aku malah mengalaminya.

Aku memilih untuk merebahkan diri di atas kasur ini. Memang tadi kakiku rasanya sakit sekali, tapi ketika melihat wanita itu, semua sakitnya hilang!

Tok tok tok

“Masuk!” Aku yakin itu dia. Pintu perlahan terbuka dan semakin menunjukkan sosoknya yang mendekati sempurna bagiku. Dia tersenyum dan membungkuk, lalu berjalan mendekatiku.

“Tuan, bagaimana? Sudah mendingan?” Dia bertanya sambil tetap mengompres kakiku yang terkilir. Aku ingin sekali menjawab ‘Sudah! Sangat sembuh karena kau!’ Tapi aku masih berfikir, kalau aku bilang sembuh, dia tidak akan mengurusiku lagi.

“Ani! Kau harus bertanggung jawab! Urusi aku sampai aku sembuh! Araseo?!” Untuk kesekian kalinya, aku mencoba untuk tidak terlihat gugup didepannya.

Yeoja ini hanya tersenyum, sangat cantik. Yeoja ini mau aku mati karenanya! Mau tidak mau, untuk menutupi pipiku yang sudah merah ini aku pura-pura kesakitan. Dia terlihat panik dan langsung menjauhkan kompres dari kakiku.

“Gwenchana Tuan?” Ya Tuhaan.. bahkan wajah paniknya juga cantik!

“Gwenchana. Ah, kau pelayang baru disini? Kau tahu aku siapa?” Aku ingin memastikan kalau dia tahu denganku. Dia hanya menggeleng seraya menunduk, ada sedikit ketakutan terpancar dari wajahnya.

“Park Jungsoo  imnida, panggil aku Teuki saja.”

Leeteuk Pov end

***the next day***

Siwon Pov

Kehilangan jejak orang yang kucintai, seperti kehilangan jejak hidupku sendiri. Aku seperti kehilangan warna dalam hidupku, lagi. Untuk kali ini, aku akan berjuang untuk menemukannya lagi. Harus.

Namun, appa sudah merencanakan semuanya, hidupku. Beliau sudah mengatur pernikahanku dengan yeoja itu. Sekeras apapun aku melawan, permintaan appa kali ini sangat berat. Beliau sempat terserang penyakit jantung pada saat terakhir kali aku membantahnya untuk menikah dan mengurus perusahaan, dan salah satu kelemahanku adalah tidak bisa melihat orang yang aku sayangi menderita karena aku sendiri.

“Siwonnie, gomawo karena kau sudah mau menuruti perintah appa,” beliau menepuk pundakku pelan. Kami sekarang sedang berada disebuah rumah sakit pusat di Seoul, tempat appa dirawat. Aku hanya tersenyum mendengarnya, senyum terpaksa tepatnya.

Tok tok tok

“Masuk!” Perintah appa. Seorang yeoja yang tidak asing lagi dihidupku masuk dengan anggunnya. Dia menghampiri appa dan tersenyum singkat padaku.

“Aboji, gwenchanayo? Mianhae, Boa baru bisa menjenguk aboji,” Boa meletakkan bingkisan buah di meja sebelah ranjang appa dan langsung duduk di pinggir ranjang.

“Gwenchana. Boa, ajaklah Siwon berbincang, kalian sudah lama tidak bertemu kan?” Appa melirik kearahku, yang mengisyaratkan agar aku segera keluar bersama Boa. Gadisku dulu.

Siwon Pov end

Author Pov

Siwon dan Boa segera pamit dan keluar dari ruangan. Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka hanya berjalan berdampingan sampai disebuah taman di rumah sakit tersebut.

“Boa-ssi, ayo duduk di sana.” Siwon menunjuk sebuah kursi panjang di taman tersebut dan ditanggapi oleh anggukan Boa.

Mereka berdua duduk dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing untuk beberapa waktu.

“Aku pikir, kau akan menolak rencana pernikahan ini Siwonnie,” Boa memulai pembicaraan. Siwon hanya menunduk sambil tersenyum.

“Tidak ada pilihan lain.” Siwon hanya menjawab datar, tanpa melihat ke arah Boa yang sedari tadi menatapnya.

“Kau… Kau masih mencintaiku?” Boa menatap Siwon yang masih menunduk. Hal itu memaksa Siwon untuk balas menatap yeoja disampingnya, yeoja yang pernah mengisi hidupnya selama dua tahun.

“Ani.” Siwon menjawab dengan datar dan disambut dengan senyuman Boa. Boa kembali menatap pemandangan di depan mereka.

“Baguslah kalau begitu.”

“Aku sudah menemukan kembali jiwaku, kalau kau ingin tahu.” Siwon menunjukkan senyumnya dengan sempurna. Kembali menarik rasa penasaran Boa untuk bertanya.

“Nugu? Apakah dia cantik sepertiku Siwonnie? Hhehe,”

“Im Yena. Lebih, tidak ada kata untuk mendeskripsikan dirinya Boa-ssi,”

Author Pov end

Boa Pov

Baguslah, dia tidak mencintaiku lagi. Setidaknya aku bisa lega, dan tidak ada lagi rasa bersalah terhadap Siwon. Tidak dapat dipungkiri, aku sudah sangat kejam meninggalkannya waktu itu. Saat dia begitu mencintaiku, saat dia menganggapku sebagai warna dalam hidupnya, aku meninggalkannya, demi seseorang yang bahkan tidak pernah menganggapku ada, Park Jungsoo.

Aku pamit dengan Appa-nya Siwon setelah berbincang dengan Siwon tadi. Aku putuskan, setelah ini aku harus menemui Jungsoo.

***

@Park’s House

“Annyeong!” Aku langsung masuk ke dalam rumah Park ahjussi yang langsung disambut oleh para pelayan rumah ini yang memang sudah mengenalku.

Kakiku langsung melangkah kekamar Jungsoo yang memang sudah kuketahui letaknya. Langsung saja aku buka pintunya karena aku tahu dia pasti akan marah, dan marahnya Jungsoo adalah kesempatanku untuk berbicara dengannya.

“Oppa! Anyyeong!” Aku langsung menghampiri Jungsoo yang sedang berbaring di kasur. Di sampingnya ada seorang pelayan, sepertinya baru. Cantik juga dia.

Jungsoo langsung menghela nafas melihatku, sepertinya kesal.

“Yena-ah, bawakan minuman untuk tamu ini sekarang.” Jungsoo memberi perintah pada pelayannya tadi. Chankamman! Yena? Im Yena kah?

Aku memerhatikan nametag yang dipakai oleh pelayan tadi sebelum dia pergi, dan benar saja, dia Im Yena.

Aku langsung menghampiri Jungsoo dan duduk disamping ranjangnya. Seperti biasa, wajahnya sangat dingin jika ada aku.

“Oppa, neo gwenchana? Ada apa dengan kakimu? Mau aku kompres?” Aku langsung mengambil kompres yang tadi digunakan oleh pelayannya, tapi Jungsoo langsung menjauhkan kakinya dariku.

“Tidak usah, biar Yena yang melakukannya! Kau ada apa kesini lagi?” Tanyanya ketus.

“Seperti biasa, aku hanya ingin mengucapkan ‘saranghae’ padamu oppa,” aku berbicara sambil tersenyum tulus. Tuhan, aku mohon, buatlah dia menyadari rasa ini.

“Cih! Teruslah bermimpi Kwon Boa! Aku tidak mencintaimu!” Jungsoo turun dari ranjang dan hendak meninggalkanku di kamarnya. Aku langsung menahannya yang sudah mendekati pintu dengan menggenggam tangannya.

“Oppa! Jebal, beri aku kesempatan, aku tidak bisa hidup tanpamu!” Aku terus menggengam tangannya. Dia berhenti berusaha melepaskan tanganku darinya dan menatapku tajam. Tiba-tiba saja dia sudah menarik tangannya dan mendorong tubuhku kuat membentur dinding. Dia mengapitku dengan kedua tangannya di samping tubuhku, masih menatap mataku tajam.

“Tidak bisa hidup tanpaku, Kwon Boa?” Suara Jungsoo hampir berbisik. Wajahnya merah seperti menahan marah, mengerikan. Aku tidak pernah melihat wajahnya yang seperti ini.

“Siwon lebih tidak bisa hidup tanpamu!!! Dan aku mencintai Yena! Kau pergilah!!”

Jungsoo membuka pintu, dan menarikku dengan kasar untuk keluar tanpa bisa berbicara lagi. Hatiku sakit! Bukan karena penolakan ini! Aku sakit hati, cintaku dikalahkan oleh seorang pelayan?!

Bruk!

Aku menabrak pelayan tadi, Yena. Langsung saja aku tampar dia. Terlalu memalukan seorang Kwon Boa dikalahkan oleh pelayan seperti dia!

Boa Pov end

Yena Pov

“Oppa! Jebal, beri aku kesempatan, aku tidak bisa hidup tanpamu!” Suara yeoja tadi, sepertinya mereka sedang bertengkar. Ketuk pintunya atau tidak ya?

“Siwon lebih tidak bisa hidup tanpamu!!! Dan aku mencintai Yena! Kau pergilah!!”

Apa ini? Kenapa hatiku sakit mendengarnya? Siwon oppa? Tuan Jungsoo?

Bruk!

Yeoja yang bertamu tadi menabrakku yang memang sedang berdiri di depan pintu. Air yang aku bawa untuk mereka berdua tumpah mengenai bajuku. Baru saja aku ingin mengucapkan maaf padanya, namun..

PLAK!

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH?! Kau merebut Jungsoo-ku!!” Yeoja ini berteriak di depan wajahku. Aku hanya menunduk. Hatiku tidak sakit mendengar ini, eomma bisa lebih kasar daripada ini. Yang membuat hatiku sakit, saat mengetahui kalau yeoja ini dicintai oleh Siwon oppa.

Aku menangis, lagi-lagi bukan karena ini. Menangis, karena aku terlalu bodoh untuk berharap banyak pada Siwon oppa untuk balas mencintaiku. Menangis, karena aku terlalu lancang mencintai orang yang lebih berada daripada aku. Menangis, karena kebodohanku mencintai orang yang telah menjebakku dan keluargaku, dan menangis, karena aku terlalu mencintainya dalam keadaan seharusnya benci sekalipun.

Aku menangis semakin menjadi, biarlah yeoja ini mengomel tiada akhir, toh tidak akan ada gunanya juga untukku. Aku hanya tahu, kalau yeoja ini adalah orang yang dicintai Siwon oppa.

Tiba-tiba sebuah tangan memeluk tubuhku, tangan Tuan Jungsoo. Aku tidak mendengar celotehan yeoja tadi, karena dia sudah diam oleh kehadiran Tuan Jungsoo.

“Aku mohon, tinggalkan rumah ini Boa-ssi,” ucap Tuan Jungsoo datar. Aku yang masih menangis hanya menunduk dan memejamkan mata, dan hanya mendengar langkah kaki yeoja itu yang semakin menjauh. Berlebihan memang, aku menangis seperti ini tidak ada gunanya.

“Yena-ah, gwenchana?” Tuan Jungsoo menghadap kearahku. Aku hanya menunduk dan mengangguk pelan, tanda aku tidak apa-apa. Tuan Jungsoo mengusap pipiku pelan, dan kemudian mengusap airmataku.

Tangan lembutnya, sama seperti tangan Siwon oppa. Hangat dan tulus. Dia lalu mengangkat wajahku untuk menghadapnya. Dia tersenyum, senyum yang sama seperti Siwon oppa.

“Yena-ah, Saranghaeyo, jeongmal saranghaeyo”

Yena Pov end

***the next day***

Siwon Pov

@morning

Aku masih berada diranjangku. Belum ingin bangun. Terlalu malas karena yang selalu ingin aku temui di pagi hari seperti ini menghilang, Yena.

Drrt..drrt..

Sms masuk. Dari siapa pagi-pagi seperti ini?

From : Teuki Hyung

Ya! Ireona Choi Siwon! Telepon aku! Aku ada berita bahagia untukmu!

Ppali!

Aish, dia yang ingin bercerita saja masih pelit untuk meneleponku! Terpaksa, sepertinya dia sangat senang sekarang.

“Yoboseo, hyung! Waeyo?” Aku meneleponnya dengan malas, berharap ini adalah hal penting.

“Ya! Aku ingin bertemu denganmu! Aku sudah bertemu dengan wanita yang tepat! Dia menerimaku! Kau harus bertemu dengannya Siwon-ah!”

“Mwo? Jinjayo hyung?! Aish, yeoja itu pasti sangat sial mendapatkanmu hyung! hhehe, bercanda. Ne, mau bertemu dimana? Kapan?”

“Hhaha! Kali ini aku serius, dia berhasil membuatku takluk! Hmm.. bagaimana kalau di Babtol restoran temanmu Jongwoon itu? Jam makan siang, aku tunggu bersama yeojachingu-ku! Jangan terlambat! Arachi?”

“Ne hyung, araseo! Bye!”

Klik

Kenapa perasaanku tidak menentu? Harusnya aku bahagia, hyung-ku yang satu itu sudah menemukan jiwanya, tapi kenapa perasaanku sedih?

Tok tok tok

“Masuk!” Aku melihat Boa memasuki kamarku. Wajahnya begitu sedih, ada apa dengannya?

“Siwonnie, maukah kau menemaniku seharian ini?” Wajahnya begitu sayu, tidak seperti Boa yang selama ini aku kenal.

“Aku tidak bisa, Teuki hyung mengajakku bertemu hari ini. Mian”

“Aku ikut!”

Siwon Pov end

Yena Pov

@Babtol

Aku di sini sekarang, dengan Jungsoo oppa. Aku menerimanya sebagai namja-ku. Aku tidak tahu, aku mencintainya atau tidak. Dia mengajakku makan siang bersama sepupunya di sini.

Selama menunggu, aku sangat gelisah. Entah apa penyebabnya, aku pikir pertemuan ini akan buruk.

“Oppa, aku ke toilet ya,” Jungsoo oppa hanya mengangguk sambil tersenyum. Senyumnya meneduhkan. Aku harap dapat lebih tenang.

Yena Pov end

Author Pov

Sepeninggalan Yena ke toilet, Jungsoo terus melirik jam ditangannya, tanda dia telah menunggu lama.

“Hyung!” Siwon akhirnya sampai, dia melambaikan tangannya kearah Jungsoo yang disambut oleh senyuman khas oleh Jungsoo, namun senyum itu hilang seketika melihat sesosok yeoja yang tidak ingin dilihatnya, Boa.

“Menunggu lama hyung?” Siwon langsung mengambil tempat di depan Jungsoo. Boa pun mengikutinya dan duduk disamping Siwon. Jungsoo hanya menggeleng kaku.

“Jadi.. kau kembali pada wanita ini?” Jungsoo berbicara pada Siwon sembari menunjuk Boa. Boa hanya diam dan memalingkan mukanya ke jendela. Siwon hanya tersenyum.

“Permintaan appa, hyung.” Jawab Siwon datar. Siwon mengedarkan pandangannya keseluruh cafe.

“Mana yeoja-mu hyung?” Siwon bertanya pada Jungsoo. Jungsoo hanya menunjuk Yena yang baru saja kembali dari toilet dengan tersenyum.

“Itu yeoja-ku, cantik kan?” Ujar Jungsoo bangga. Boa dan Siwon memandang gadis yang tidak asing lagi bagi mereka. Yena yang melihatnya pun hanya menunduk memberikan hormat, lalu duduk disamping Jungsoo.

Siwon tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari Yena, gadis yang selama ini mencuri semangatnya. Lain halnya dengan Boa, pandangan sinisnya tidak bisa lepas dari Yena.

Author Pov end

Siwon Pov

Yena-ku, tidak ada kesempatan lagi bagiku. Jungsoo hyung, mendapatkannya. Tapi bagaimana bisa?

“Jungsoo oppa, bolehkah aku mengajak Yena jalan-jalan? Kita sudah selesai makan, aku ingin minta maaf pada Yena, bolehkah?” Boa angkat bicara, dengan gaya yang biasa jika sedang berhadapan dengan Jungsoo hyung, bersikap manis.

Jungsoo hyung terlihat ragu, namun akhirnya sebuah anggukan pun ditujukan untuk Boa. Boa pun langsung mengajak Yena keluar, aku hanya dapat memandang kepergian mereka yang semakin menjauh.

“Siwon-ah! Bagaimana? Cantik kan?” Jungsoo hyung membuka pembicaraan. Aku yang tadi melamun pun hanya mengangguk.

“Cantik hyung.” Jawabku datar. Aku ingin tahu, bagaimana mereka bertemu.

“Hyung, kau bertemu dengannya dimana?” Aku bertanya, aku harap dia tidak curiga.“Dia itu pelayan di rumahku Wonnie. Pertama kali melihatnya aku langsung jatuh cinta! Dia anak keluarga Im yang mempunyai hutang dengan appa. Untungnya, ketika aku bercerita pada appa tentang perasaanku ini, beliau langsung menyetujuinya. Syaratnya hanya aku harus melunasi semua hutang keluarga mereka. Kau tahu sendiri, hyung-mu ini pengusaha hebat! Aku bisa saja langsung melunasinya, dan appa langsung setuju! Hebat kan perjuanganku? Hhehe,” Jungsoo hyung bercerita panjang. Mendengarnya sedikit menyakitkan. Yena bahagia bukan karenaku, tapi orang lain. Bisa apa aku?

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Jungsoo hyung, kuharap senyum ini tidak terlihat memaksa.

“Tapi.. aku tahu, dia sedang menunggu seseorang. Sepertinya dia sangat menantikan kehadiran orang itu Wonnie, sepertinya orang yang dicintainya. Matanya masih canggung menatapku langsung, dan dapat kulihat matanya menunjukkan kesedihan. Sepertinya aku harus berusaha untuk benar-benar merebut hatinya Won-ah! Doakan hyung-mu ini ya!” Jungsoo hyung menepuk pundakku pelan, dan menganggkat cangkir kopinya, menandakan mengajak minum. Aku hanya tersenyum, mengikutinya untuk minum.

“Ah! Hampir lupa! Minggu depan! Kami akan menikah! Kau harus datang!” Jungsoo hyung mengeluarkan sebuah kertas yang berukirkan nama mereka, secepat inikah?

Siwon Pov end

Boa Pov

Aku mengajak Yena keluar. Sebenarnya tidak ada tujuan minta maaf, harga diriku terlalu tinggi untuk meminta maaf pada pelayan seperti ini. Aku mengajaknya berjalan menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari Babtol. Setelah sampai kami duduk disebuah kursi yang berada paling sudut.

“Jadi, kau sudah berpacaran dengan Jungsoo oppa?” Tanyaku memulai pembicaraan. Dia hanya menunduk, dan mengangguk pelan. Aku tersenyum meremehkan, kalah dengan orang seperti ini?

“Ini! Ambil uangku! Pergi jauh-jauh dari kehidupan Jungsoo oppa dan Siwon! Kau mengacaukan mereka berdua dengan wajahmu itu! Kau hanya ingin hartanya kan? Kau pikir aku tidak tahu? Kau mendekati Siwon yang merupakan tunanganku, dan kemudian kau mendekati Jungsoo oppa yang merupakan incaranku untuk mendapatkan harta mereka kan?!” Aku meletakkan uang yang sudah aku siapkan untuknya dalam sebuah amplop. Dia hanya memandangnya tanpa minat. Yena kemudian mengangkat wajahnya menghadapku.

“Kwon Boa-ssi, aku tidak berminat dengan uangmu ini.Asal kau tahu saja, aku dekat dengan Jungsoo oppa karena dia mencintaiku, dan aku dekat dengan Siwon oppa bukan secara sengaja. Mianhae, jika aku lancang dekat dengan tunanganmu.” Yena menolak pemberianku. Dia hanya tersenyum dan hendak beranjak dari kursinya, namun aku tahan.

“Chankamman! Kau menolaknya?! Apa kurang banyak?!” Aku bersiap untuk mengeluarkan uang yang ada dalam tasku, tapi dia menahan tanganku.

“Boa-ssi, tidak perlu. Aku bukan orang miskin. Dan ini, undangan pernikahanku dengan Jungsoo oppa. Aku harap kau mau kau datang, dengan tunanganmu itu tentunya. Aku pergi dulu, annyeong,” Yena meninggalkanku yang masih diam menatap undangan yang tadi dia berikan. Sungguh, ini adalah kegagalan terbesarku!

Boa Pov end

***the next day***

Siwon Pov

Aku berencana untuk kerumah Jungsoo hyung hari ini. Aku bukan untuk menemui Jungsoo hyung, aku hanya ingin menemui Yena-ku.

***

@Park’s House

Tok tok tok

“Annyeonghaseyo ahjumma, Jungsoo hyung ada?” Aku sudah memasuki rumah Jungsoo hyung yang langsung disambut oleh Kim ahjumma.

“Aniyo Tuan Choi, beliau sedang keluar karena ada rapat di perusahaan. Waeyo Tuan?”

Ah, baguslah. Setidaknya aku dapat bertemu Yena dan berbicara dengannya setelah sekian lama tidak pernah melihatnya lagi. Aku sangat merindukannya.

Aku memilih untuk menunggu di kamar Jungsoo hyung. Rapi sekali, tidak seperti biasanya. Tiba-tiba pintu terbuka secara perlahan, memunculkan sosok yang selama ini ingin aku temui, Yena-ku.

Yena menyadari kalau air yang diantarkannya untuk tamu itu adalah untukku. Aku lihat dia langsung mundur beberapa langkah, ingin meninggalkan kamar ini dan aku. Langsung saja aku menahan tanggannya. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bersamanya lagi.

“Lepaskan aku Tuan Choi Siwon!” Dia masih berusaha melepaskan tanggannya digenggamanku. Agak sulit karena tangannya yang lainnya sedang memegang cangkir. Dengan cepat aku ambil gelas itu dan langsung memeluknya.

Aku memeluknya, rindu ini begitu besar. Tidak bisa aku bayangkan jika aku hidup tanpanya lebih lama lagi. Aku memeluknya erat, kalau bisa tidak usah lepas, aku tidak ingin kehilangannya.

“Aku mohon, tetaplah seperti ini! Yena-ah! Jebaal, tetaplah seperti ini,” Aku memohon sambil memeluknya, lebih tepatnya aku menangis dipelukannya.

Yena hanya diam, tidak membalas pelukanku, tapi dapat aku rasakan tubuhnya bergetar, dia menangis, sama sepertiku. Aku semakin membenamkan kepalanya didadaku. Biarlah baju ini basah karena tangisannya, asalkan dia bersamaku, dan aku bisa bersamanya sekarang.

Kami masih berdua di kamar Jungsoo hyung. Aku menuntunnya untuk duduk dikursi yang ada di samping ranjang Jungsoo hyung.

“Oppa, jangan temui aku lagi. Jebal, itu akan membuatku sakit hati dan merasa bodoh. Aku sakit hati karena kau sudah merusak kepercayaanku untuk menyembunyikan keluargaku dari keluarga Park, dan aku merasa bodoh, karenaa.. aku tidak bisa membencimu karena itu, aku.. aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu oppa..” Yena menunduk, tidak berani menatapku.

“Aku juga akan menikah, kau tahu itu. Jangan ganggu aku lagi, jebal..” Yena melanjutkan perkataannya, dan hendak kembali meninggalkanku. Dia sudah berada di depan pintu dan bersiap membukanya.

“Tapi aku mencintaimu Yena-ah!! Jeongmal saranghae!” Aku berteriak, dia menghentikan tangannya yang sudah memegang ganggang pintu. Aku menghampirinya.

“Aku mohon, tetaplah di sampingku! Aku hanya mencintaimu!”

“Kau bohong!” Yena berteriak padaku. Aku terdiam, tidak ada lagi yang dapat aku lakukan. Yena yang selama ini aku kenal, sudah tidak percaya denganku lagi.

Tok tok tok

Perlahan pintu terbuka, menampakkan sosok Jungsoo hyung. Dia tersenyum.

“Wah, Siwon-ah! Ada apa datang ke sini?” Dia menyapaku ramah, sepertinya dia tidak tahu apa yang kami bicarakan.

“Aniyo hyung, hanya ingin melihat keadaanmu saja. Sekarang kau sehat, syukurlah. Aku pulang dulu hyung, annyeong.” Aku langsung pergi. Meninggalkan mereka berdua.

Siwon Pov end

Leeteuk Pov

**night**

@Jungsoo’s Bedroom

Aku sedang berbaring diranjangku. Mengingat apa saja yang terjadi hari ini. Sudah aku duga, Yena memang mencintai orang lain. Aku tidak tahu, ternyata dia mencintai Siwon, dan Siwon juga mencintainya.

Aku mendengar semuanya tadi siang, pembicaraan mereka berdua di kamarku ini. Pembicaraan yang memang sudah seharusnya aku ketahui, yaitu tentang perasaan mereka.

Sekarang aku bingung, apakah aku harus merelakan cintaku yang satu ini? Akan sulit bagiku untuk menemukan yang lain, karena semua cinta yang aku miliki sudah direbut oleh Yena. Di sisi lain, sejak pertama kali aku memertemukan Siwon dan Yena, aku dapat melihat sorot mata penuh kerinduan dari Siwon untuk Yena. Sangat berbeda dengan cara pandangnya terhadap Boa dulu.

Baiklah, sebelum hari pernikahanku, aku sudah harus memutuskan. Aku tidak mau plin-plan dan menyesal nantinya. Aku meraih i-phone disampingku kemudian menelepon seseorang yang ingin aku temui sekarang. Biarlah hatiku sakit, setidaknya ada sedikit kebaikan yang aku lakukan dalam hidupku ini.

Leeteuk Pov end

***the next night***

Yena Pov

Lima hari lagi menuju hari pernikahanku. Apa aku bisa? Yakinkah aku? Aku baru saja bertemu dengan Jungsoo oppa tapi aku langsung menerima lamarannya hanya karena senyum dan juga sentuhan tangannya dipipiku sama seperti Siwon oppa. Apakah aku kejam jika karena hanya itu aku menerima lamarannya?

Aish, babo! Jangan ragu! Siwon oppa itu jahat! Kau harus melupakannya!

“Yena-ah, ada surat untukmu!” Kim ahjumma memberikanku sebuah surat. Setelah kuperhatikan lagi, tidak ada nama pengirim. Hanya ada tulisan perintah.

Im Yena, aku mencintaimu.

Pergilah ke Seoul Park sekarang.

Aku menunggumu,

I Love You

Siapa? Apakah Jungsoo oppa? Tapi untuk apa dia mengirimi aku surat seperti ini hanya sekadar untuk bertemu? Aish, dan kenapa juga harus di taman itu?

Aku penasaran, aku harap orang ini bukan orang iseng atau orang yang berniat jahat terhadapku. Aku pun segera keluar rumah keluarga Park dan menuju halte bus.

***

Aku baru memasuki kawasan taman ini. Sepi sekali. Lampu-lampu di sini juga tidak terlalu terang. Namun, sebuah kertas yang tertempel di pohon menarik perhatianku.

Teruslah berjalan, lewatilah tiga pohon setelah pohon ini lalu berbelok kiri

I Love You Im Yena

Aku pun memfokuskan pandangan mataku pada tiga pohon yang ada setelah pohon ini.

Satu pohon..

Dua pohon..

Tiga pohon, lalu berbelok kiri. Aku terkejut, belum sempat aku mencerna apa yang akan terjadi selanjutnya, aku melihat sketsa wajahku disebuah kanvas, wajahku sedang tersenyum dilukisan tanpa warna itu.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Sepanjang aku berjalan, sketsa wajahku yang menjadi penuntunnya. Tapi, kenapa selalu hitam putih? Aku tidak bisa begitu melihat dengan jelas karena ini malam.

Pandangan mataku terhenti melihat lukisanku sendiri, karena dihadapanku sekarang sudah ada pemandangan yang lebih indah lagi.

Taman ini dibuat seperti ada di cerita dongeng. Terdapat rumput-rumput menjalar diatas kepala kita, di tengah-tengah kelilingan rumput-rumput tersebut terdapat sebuah meja dengan dua kursi putih. Di atas meja tersebut ada lilin, dan dua cangkir teh yang sepertinya masih hangat.

Perlahan aku mendekati meja tersebut, namun sebuah tangan menahanku. Tangan yang dimiliki oleh namja yang berhasil merebut hatiku dan membuatnya kusut tidak karuan. Siwon oppa.

“Siwon oppa?” Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Kalian tahu? Ada sedikit rasa lega, setidaknya tidak ada yang berniat jahat padaku malam ini.

“Duduklah, Yena-ah,” Siwon oppa tersenyum dan menuntunku untuk duduk. Dia menarik kursinya dan mempersilahkanku duduk. Setelah itu, dia mengambil tempat duduk di depanku.

“Kau suka tempatnya?” Siwon oppa memulai pembicaraan sambil menyodorkan secangkir teh untukku. Aku hanya mengangguk, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sejujurnya, aku sangat senang, teramat senang, namun mengingat pernikahanku, aku harus tahu diri sekarang.

“Yena-ah, aku mohon dengarkan aku sekarang. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Tidak ada yang lain. Jeongmal saranghae,” Siwon oppa menggenggam tanganku.

“Oppa, aku akan menikah, jangan seperti ini. Jebal, tidak seharusnya kau melakukan ini terhadap hyung-mu sendiri,” Aku mulai beranjak pergi, tapi sekali lagi tangannya menghalangiku untuk pergi. Dia membalikkan tubuhku untuk menghadapnya. Dia menatapku dalam, ada sedikit kesedihan dimata Siwon oppa, menurutku.

“Yena-ah, kau tahu? Pertama kali aku bertemu denganmu, kau sudah membuka mataku untuk melihat warna lagi. Lukisan kita waktu itu, adalah sesuatu yang spesial bagiku. Kau sangat berarti bagiku, aku mohon, jangan pergi Yena-ah,” Siwon oppa berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, cincin. Sangat indah.

Ingin sekali aku menerimanya, namun statusku yang sebentar lagi akan menikah membuatku ragu.

“Bagaimana dengan Jungsoo oppa?” Aku memberanikan diri untuk bertanya akan hal ini. Sungguh diluar dugaan, Siwon oppa tidak menjawab, malah langsung menyematkan cincin tersebut dijariku dan kemudian memelukku.

“Jungsoo hyung bilang, kau lebih cocok bermarga Choi dibanding Park! Hhaha,” Siwon oppa mengatakannya tepat di telingaku. Sangat senang! Aku harap ini bukan mimpi! Tuhan, terima kasih. Orang yang aku cintai juga mencintaiku, sangat mencintaiku.

“Hidupku adalah kanvas, dan aku adalah pensil. Lukisan hidup dikanvasku tidak akan lengkap jika tidak ada cat warna diatasnya, dan kaulah cat warna itu. Yena-ah, saranghae.”

Yena Pov end

**meanwhile**

@Han River

Leeteuk Pov

Haaah.. Di sini aku sekarang. Duduk dipinggiran Sungai Han, tempat favoritku.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan Yena dan juga Siwon sekarang, yang jelas mereka pasti sedang bahagia.

‘Siwon-ah, jaga Yena baik-baik’

‘waeyo hyung? Apa maksudmu?’

‘Aku serahkan Yena padamu, karena aku tahu, kalian saling mencintai, pergilah, kejarlah lagi dia, dan ingat, kalau kau sampai menyakiti Yena-ku, aku tidak akan izin dulu padamu untuk mengambilnya lagi, arachi?’

‘Jinja?! Gomawo hyung! Gomawo!’

Aaah.. kejadian tadi siang. Aku sudah seperti pahlawan ya? Hhhaha..

“Sungai Han begitu indah pada malam hari ya oppa!”

Suara yeoja ini, aku menoleh dan mendapati Boa sudah duduk disampingku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Dia menawarkan secangkir kopi starbucks yang dibelinya.

“Tapi sayang sekali, sungai seindah ini harus didatangi oleh orang sakit hati sepertimu oppa!” Dia melanjutkan perkataannya sambil sedikit tertawa. Benar juga, aku sedikit menyegarkan pikiran di sini.

“Kalau kau mau, aku bisa berusaha keras untuk memperbaiki hatimu itu oppa!” Boa mengatakannya dengan semangat. Boleh juga idenya.

“Cobalah Boa-ah! Buatlah oppa-mu ini berpaling dari Yena!”

Leeteuk Pov end

Sebuah lukisan tidak dapat dikatakan lukisan jika tidak ada warna.

Hidupku adalah kau, karena tidak ada warna lain yang dapat mewarnai kanvas kehidupanku.

Sejauh apapun kau pergi, kau takkan hilang dari hatiku,

kau warna hidupku, sudah ditetapkan dari dulu.

Advertisements