Tags

, , ,

holaaaaaaa πŸ˜€

annyeong chinguuu πŸ™‚

next project nih, buatin ff untuk salah satu temenku lagi, nggak ada yang minta sih, cuma lagi pengen aja.. hehe πŸ˜€

okeee..ini spesial buat nabil deh pairing sama Mr. Choi kesayangannya πŸ˜€

buat reader yang mampir *kalo ada* komen yaa :))

enjoy reading chinguu πŸ™‚

warna itu dapat membuatku bahagia

warna juga dapat mengisi kehidupanku yang hitam, atau bahkan polos

dan, kehilangan warna dalam hidupku

sama seperti kehilangan kebahagianku

sampai aku menemukanmu

Siwon Pov

“Ahjussi, apa lukisanku sudah selesai?”

Aku tersadar dari lamunanku saat seorang anak kecil menghampiriku. Dia melihat hasil karyaku.

“Nah, sudah selesai. Bagaimana?” tanyaku pada anak kecil tersebut. Aku melihat senyuman tergambar diwajahnya, menandakan kepuasan atas lukisanku.

“Woaa.. Ahjussi memang hebat! Mirip sekali denganku yang tampan ini! hehe, sebentar ya ahjussi aku panggil eomma untuk membayar.”

Anak itu pun menghampiri eomma-nya, dan segera memberikan uang 5000 won padaku. Mereka pun langsung pergi dan anak itu melambaikan tangannya padaku.

Ah, aku lupa. Namaku Siwon, lebih tepatnya lagi Choi Siwon. Tidak ada yang tidak mengenal keluarga Choi di Korea Selatan ini, tapi akulah yang tidak pernah mengatakan bahwa margaku Choi pada orang yang aku kenal. Terlalu berat.

Di taman ini, aku lebih sering menghabiskan waktu sambil melukis yang merupakan pekerjaanku. Appa tidak pernah tau ini. Hanya Choi Minho, dongsaengku yang mengetahuinya. Dia sama sepertiku, jiwa seni terlalu melekat pada dirinya.

“Annyeonghaseyo, apa kau bisa melukisku?”

Seorang gadis sedang berdiri dihadapanku. Gadis ini… entah kenapa, seperti banyak warna dalam dirinya. Aku hanya mengangguk mendengar pertanyaannya itu dan langsung memersilahkannya untuk duduk di kursi yang memang aku siapkan.

“Mm.. mianhae, tapi bisakah kau melukisku dengan warna? karena aku perhatikan kau melukis selalu dengan pensil. Ehm.. mianhamnida,” dia membungkuk seraya minta maaf, tapi entak kenapa aku mau saja menurutinya.

“Tunggu disini sebentar agashi,” aku pun pergi untuk membeli beberapa cat warna untuk lukisanku. Untunglah disini tidak jauh tempatnya.

Saat aku kembali, aku melihat sudah ada sketsa wajah gadis itu di kanvas ku. Hei! Siapa yang menggambarnya?!

Aku lihat gadis itu seperti salah tingkah ketika aku kembali, dan sekarang, pensilku hilang!! Omoo.. ada apa ini?!

Aku menoleh kearah gadis itu, dia hanya menunduk. Tak lama kemudian, dia memberikan sebuah benda, pensilku!

“Mm.. mianhae, akuu.. hanya tidak tahan untuk tidak melukis, mianhaee..” katanya sambil menundukkan kepala.

Aku hanya diam, tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis ini. Tapi tunggu dulu, berarti dia juga bisa melukis kan?

Aku duduk disampingnya, kubawa serta kanvasku. Gadis itu terlihat bingung, menarik.

“Gwenchana, aku tidak marah. Aku senang ada yang ingin membantuku. Lee Siwon imnida, agashi?” Aku mengulurkan tangan kananku padanya. Dia pun dengan senang menyambut tanganku.

“Im Yena imnida, senang berkenalan denganmu Siwon-ssi,” dia menunduk sambil tersenyum, membuatku juga tersenyum.

“Bisa melukis juga Yena-ssi? Aku lihat dari sketsa ini sepertinya kau sudah ahli”

Kami berdua melihat sketsa tersebut. Memang sangat indah lukisan ini, berbeda dengan semua lukisanku dulu.

“Ng.. Aku belajar melukis dulu, tapi sekarang tidak lagi, hhe,” Dia hanya menggaruk kepalanya, tanda malu. Aku menyerahkan kembali pensilku yang tadi diserahkannya. Dia terlihat bingung, tapi langsung mengerti ketika aku menunjuk kanvasku yang sudah tergambar wajahnya. Dia langsung melanjutkan sketsa wajahnya sendiri.

“Selesai!” teriaknya. Aku yang disampingnya hanya dapat tersenyum. Sekarang giliranku, untuk menyempurnakan lukisan ini dengan warna. Agak sedikit canggung, karena sudah lama sekali aku tidak menggunakan warna dalam melukis.

“Wah, untuk pelukis handal, kau terlihat canggung untuk menggunakan warna Siwon-ssi,” komentarnya.

Memang benar, aku tidak pernah menggunakan warna lagi, sesuatu yang menyebabkannya. Sekarang, aku menggunakannya lagi, seakan ada yang mendorongku untuk menggunakannya lagi.

“Ne, aku tidak menggunakannya lagi,” jawabku sambil tersenyum kearahnya.

Lukisan kami pun selesai, sangat indah bagiku. Β Entahlah, ada keinginan untuk memiliki lukisan ini.

“Siwon-ssi, ini uangnya. Gomawo sudah menyelesaikannya, sangat indah,” Gadis ini menyerahkan uangnya padaku, sontak aku menolaknya.

“Tidak usah, kau membuat sendiri sketsanya, aku hanya membantu, bawalah,” Aku menyerahkan lukisan tadi padanya. Dia pun tersenyum menerimanya. Dia membungkuk sebagai tanda pamit.

“Siwon-ssi, besok aku akan kesini lagi, annyeong,” dia membalikkan badannya dan berjalan pergi.

Aku hanya melambaikan tanganku padanya. Setidaknya aku tidak akan merasa sendirian lagi disini.

“Hyung!”

Choi Minho, dongsaeng-ku. Menghampiri tempat aku biasa melukis di taman ini. Lengkap dengan kacamata, topi, dan juga masker hitamnya sebagai alat penyamaran.

“Hyung, ayo pulang! Appa mencarimu!” Minho langsung menarik tanganku sebelum aku membereskan semua peralatan lukisku.

@Choi’s House

“Hyung, Appa ada diruang kerjanya, cepat sana! Nanti dia marah!”

Aku menghampiri pintu dengan gugup, aku jarang sekali menghampiri Appa semenjak menolak untuk menjalankan perusahaan.

Tok tok tok

“Masuk!” Suara appa dari dalam. Aku memantapkan hatiku untuk masuk keruangan ini, semoga tidak apa-apa.

“Appa, waeyo?” Aku duduk dikursi yang ada dihadapan mejanya, bersebrangan dengan kursinya.

Appa yang tadi sedang melihat koleksi buku-buku yang ada dibelakangnya langsung memutar kursinya untuk menghadapku. Seperti biasa, tatapan mata tajamnya tidak pernah berubah.

“Langsung saja, Appa mendengar, kau menjadi pelukis jalanan disebuah taman. Apa itu benar?” tanya Appa langsung padaku. Tau darimana dia?! Setahuku, hanya aku dan Minho yang tau akan hal ini. Appa masih menatapku tajam. Aku tau, walaupun aku berbohong pun appa pasti tau, dengan seabrek mata-mata yang dia miliki apapun bisa dia perbuat.

“Ne appa! Mianhaeyo” Aku membungkuk tanda meminta maaf padanya. Aku tidak yakin kalau dia akan mengizinkan aku melukis dijalanan lagi. Appa hanya menghela nafasnya dalam.

“Haah.. sudah appa katakan berkali-kali! Jangan membuat keluarga ini malu!”

“Tapi aku tidak berbuat hal yang memalukan appa!” bantahku.

“Dengan melukis di taman seperti itu?! Kau pikir itu tidak memalukan bagi kita hah?!” Appa beranjak dari kursinya hingga kursi itu mundur kebelakang.

“Appa hanya ingin kau mengurus perusahaan dan menikah dengan Kwon Boa! Apa kau tidak mau mengerti?!”

“Appa! Aku sudah tidak tahan jika appa ingin membicarakan ini lagi! Aku juga tidak pernah menggunakan marga Choi diluar sana!”

Aku berdiri hendak pergi dari ruangan ini! Sudah terlalu sering Appa memaksaku untuk ini!

Siwon Pov end

Yena Pov

Hari yang cukup menyenangkan! Aku bisa melukis lagi selama bertahun-tahun tidak pernah menyentuh kanvas lagi! Aku juga bertemu dengan namja yang sepertinya menyenangkan dan ramah, juga tampan tentunya.

Aku memasuki rumah, harus aku sembunyikan lukisan ini agar tidak ketahuan eomma.

“Yenaaa.. Darimana saja kau?” kata eomma ku dari balik pintu dapur.

“Mm.. mencari pekerjaan eomma..” kataku, berbohong pastinya.

“Kau bohong! Sini! Kemarikan lukisan itu!” Eomma langsung menarik lukisanku tadi dan langsung membuangnya ketungku perapian rumah kami. Api pun melalap habis lukisan itu.

“Eomma.. kenapaa?” Aku menangis, lagi. Ini yang kesekiankalinya eomma membakar lukisanku. Katanya tidak berguna. Aku harus mencari pekerjaan untuk melunasi hutang appa pada keluarga Park. Keluarga Park adalah keluarga kaya, statusnya hampir sama dengan keluarga Choi karena mereka memiliki hubungan darah.

Appa terjerumus hutang karena krisis yang dialami sehingga mengharuskannya untuk mencari bantuan kesana kemari, dan Park ahjussi lah yang mau membantu, namun dengan bunga yang besar.

“Kau tidak ingat Yena-ah?! Kita hampir rusak sekarang! Kau harus mencari pekerjaan! Bukan dengan mainan itu!” bentak eomma lagi. Aku sadar, sudah terlalu lama aku bermain-main. Aku tau kalau keadaan keluargaku sekarang begitu sulit.

“Eomma, mianhaeyo.. Aku hanya bisa melukis..” Aku tidak bisa menahan airmata lagi kalau seperti ini.

Eomma hanya menghela nafasnya berat, dan meninggalkanku sendirian diruang tengah.

Yena Pov end

*tomorrow, @Park in Seoul*

Siwon Pov

Aku menunggu gadis kemarin di taman ini. Tidak peduli dengan omongan appa kemarin. Aku hanya ingin menyalurkan jiwaku disini, dengan melukis.

“Annyeong Siwon-ssi!” Yena melambaikan tangannya padaku. Dia membawa beberapa alat lukis ditangannya, telihat berat.

“Yena-ah, biar aku bantu” Aku pun membawakan semua barang-barangnya. Sebenarnya tidak berat, karena dia tidak membawa kanvas.

Kami kemudian menuju kursi panjang yang ada di taman ini dan mulai merapikan barang-barang.

Aku dan Yena akan bekerja bersama disini, sebagai pelukis. Senang sekali kalau setiap hari seperti ini, apalagi bersama gadis seperti Yena. Terlalu menyenangkan bersamanya. Pandangan mataku tidak dapat lepas dari wajah Yena. Senyum gadis ini tidak pernah lepas dari wajahnya.

“Yena-ah, kau terlihat begitu senang” kataku memulai percakapan.

Yena yang sedang menyiapkan kanvas hanya tersenyum. Ia menghampiriku dan mengambil tempat duduk disebelahku.

“Aku sudah lama tidak merasakan yang seperti ini lagi Siwon-ssi, terlalu menyenangkan!”

Senyum ini, aku tidak pernah melihat senyum seperti ini sebelumnya. Sangat menyenangkan dan menenangkan.

“Cukup panggil aku oppa saja,” aku menatapnya sambil tersenyum, dan dia pun membalas senyumku.

Tanpa sadar aku mengusap rambutnya yang panjang itu. Yena terlihat terkejut, dapat dilihat dari wajahnya yang agak sedikir memerah. Lucu sekali ekspresinya.

“Noona.. bisakah kau melukisku?” Seorang anak kecil laki-laki menghampiri kami. Aku pun langsung melepaskan tanganku yang ada diatas kepala Yena tadi. Yena juga langsung menatap anak laki-laki tersebut.

“Tentu saja bisa, ayo duduk.” Yena langsung menyediakan tempat duduk untuk anak itu.

“Tapi aku tidak punya uang 5000 won noona.” Wajah anak itu berubah murung.

Aku dan Yena yang duduk berdampingan mengamati anak itu. Aku dan Yena saling berpandangan dan seakan mengerti dengan pikiran masing-masing, kami menghampiri anak itu.

“Ini gratis!”

Siwon Pov end

Yena Pov

Hari ini sangat menyenangkan! Terlalu menyenangkan untuk diungkapkan dengan kata-kata! Aku dan Siwon oppa menghabiskan waktu kami di taman ini sambil melukis. Tidak kusangka, ternyata kebaikannya melebihi apa yang aku kira. Dia seperti sosok malaikat yang dengan kebaikan hatinya senantiasa mengajariku berbagai macam hal. Dia juga tidak segan mengajariku beberapa teknik melukis yang tidak aku ketahui, dan yang paling aku kagumi darinya adalah, dia makhluk yang memiliki senyum penenang. Senyum yang selama ini tidak pernah aku dapatkan lagi dari seorang namja, apalagi appa ku. Semenjak hutang-hutangnya tidak bisa terbayar, appa sakit-sakitan.

“Yena-ah, ini hasil kita hari ini! Banyak! Tidak kusangka kau bisa menarik perhatian pengunjung anak-anak dengan idemu itu!” Siwon oppa mengacak rambutku pelan sambil tersenyum. Aku menatap wajahnya puas, karena kami hari ini berhasil memeroleh penghasilan banyak. Hari ini kami khusus mengajarkan anak-anak yang ada di taman ini melukis dengan bayaran yang murah, tapi karena begitu banyak yang berminat kami pun jadi mendapatkan banyak penghasilan.

“Ne oppa! Menyenangkan! Gomawo oppa sudah mengizinkanku untuk ikut denganmu,” aku membunggkuk hormat padanya. Terlihat dia sedikit salah tingkah dan langsung menyuruhku berdiri.

“Aish, aniyo. Jangan begitu Yena-ah! Kau sudah aku anggap asistenku sekarang! Jadi, gomawo juga sudah membantuku,” Siwon oppa menatapku dengan senyumnya dan entah dari detik keberapa bibirnya sudah mendarat dikeningku! Omooo.. jangan biarkan aku tumbang!

Yena Pov end

***

Siwon Pov

Sudah satu bulan. Aku tahu kalau aku sudah jatuh cinta dengan gadis ini. Gadis yang selama satu bulan menemaniku di taman ini. Bukan hanya di taman, gadis ini juga sudah mengisi hatiku lagi setelah bertahun-tahun terpuruk.

Hari ini aku berencana untuk mengatakannya, mengatakan bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya, bahwa untuk tidak menyentuh seujung rambutnya sehari saja akan sangat menyiksaku.

Aku masih menatap Yena dalam. Dia masih fokus dengan lukisannya. Tidak ada objek, hanya lukisan yang selama ini ada dalam imajinasinya. Aku lihat sekali lagi, ternyata sudah hampir selesai. Sebuah pemandangan kampung nelayan yang indah, lengkap dengan pemandangan matahari terbenamnya.

“Kau tau oppa? Akuu.. merindukan tempat ini,” Yena beralih dari menatap lukisannya dan sekarang menatapku.

Aku mendekatkan jarak duduk kami, hanya sekedar untuk mendengar ceritanya. Yena menghela nafas berat, seperti menahan beban yang besar.

“Aku berasal dari Mokpo oppa, lebih tepatnya lagi aku awalnya adalah anak nelayan..” Yena bercerita sambil memandang jauh kedepan, kosong.

“Appa dan eomma, sangat terobsesi untuk menjadi kaya. Itu sebabnya kehidupanku seperti ini sekarang. Memang sangat bagus, appa tidak menggunakan cara kotor untuk mendapatkan kekayaan, appa berusaha sangat keras dibantu dengan eomma yang juga mendukung appa dengan kerjanya di pantai. Sampai pada akhirnya, appa berhasil mengumpulkan uang dan mendirikan sebuah toko ikan di Seoul ini.” Cerita Yena terhenti sesaat. Dia menyeka airmatanya yang mulai turun. Aku dengan sigap menghapus airmatanya dengan kedua tanganku, dan dia hanya tersenyum dan hendak melanjutkan ceritanya lagi.

“Appa mencapai sukses besar disini. Toko kami sudah mencapai luar negeri. Appa sangat bangga dengan hasilnya, begitu juga eomma. Tapi, disaat bisnin appa sedang surut, kembaranku, Im YoonA sakit keras. Kanker darah. Kami semua sudah menghabiskan waktu dan juga uang hanya untuk pengobatan tiada akhirnya. Appa terus-terusan mencari uang dan pada akhirnya appa terlibat dengan keluarga Park, dan terlilit hutang yang cukup banyak. Appa hanya pasrah, yang dia tahu, anaknya harus selamat, …”

Aku terpaku mendengar perkataan Yena. Park? Park ahjussi kah? Aku harus bagaimana? Aku Choi! Semua orang di Korea ini tahu kalau Choi dan Park adalah satu! Dan gadis ini, sedang dilanda kemelut dengan keluaga Park!

Aku tidak konsentrasi lagi mendengar ceritanya. Yang ada dalam pikiranku hanyalah, aku tidak bisa meminta gadis ini untuk menjadi milikku, ah tidak! Aku terlalu pengecut! Aku takut kalau dia akan mengetahui aku yang sebenarnya dan tidak akan menerimaku!

“Yena-ah, uljima,” aku segera menghapus airmatanya. Dapat aku rasakan kepedihan mendalam dari gadisku ini. Tidak dapat aku pungkiri bahwa aku sudah terlanjur mencintainya. Aku memeluknya, hingga dia tertidur.

Aku pun mengangkat tubuhnya yang sudah kelelahan karena menangis tadi, cukup lama. Bajuku yang basah karena tangisannya tadi tidak aku hiraukan, yang penting aku harus mengantarkannya pulang sekarang. Aku mengambil dompet Yena yang ada didalam tas dan menemukan kartu penduduknya. Aku pun langsung menuju alamat tersebut.

—-

Aku cukup terpana melihat rumah ini. Cukup besar. Namun sayang, taman yang dihalaman rumahnya tidak terawat, banyak sekali rumput menjalar disekitar jalan setapak disini.

Aku pun membetulkan posisi Yena digendonganku dan langsung memencet bel rumah ini. Semoga saja eomma atau appa-nya tidak salah paham padaku karena menggendong putri mereka ke rumah.

“Ne, tunggu sebentar!” Suara seorang wanita, aku rasa itu ibunya.

Klek!

Aku memberikan senyumku pada wanita yang sedang berada dihadapanku kali ini, namun yang aku lihat dia memandangku dengan wajah… ketakutan! Ada apa? Apa senyumku menakutkan?

“Kau.. Choi Siwon kan?” Matanya masih menatapku takut. Tanpa aku sadari dia langsung merebut Yena dariku.

“PERGI KAU!!” Teriaknya. Aku yang masih bingung hanya berdiri mematung. Eomma-nya Yena hendak menutup pintu namun aku cegah.

“Ahjumma? Waeyo? Aku hanya mengantar Yena, aku tidak apa-apakan Yena ahjumma.” Ucapku seraya menunduk padanya. Aku tidak ingin dia mengira yang macam-macam.

“Aku mohon jangan kau apa-apakan Yenaa.. Cukup kami saja yang kau buat menderitaa.. Yena anakku tidak tahu apa-apa Tuan Choi, aku mohoon..” Eomma-nya Yena yang tadi memeluk Yena menangis dihadapanku dengan tatapan memohon. Aku semakin tidak mengerti!

“Tolong.. Kami akan membayarnya bulan depaan.. Kami janjiii.. Jangan sakiti anakku..” Tangisan eomma Yena tidak dapat terbendung lagi. Dengan babonya aku baru ingat, kalau keluarga mereka ada masalah dengan Park ahjussi.

“Ahjumma, tenang. Aku hanya mengantar Yena. Kami melukis di taman, tidak lebih. Aku tidak menyakiti Yena ahjumma, percaya padaku.” Aku memegang bahu eomma Yena, mencoba meyakinkan. Im ahjumma hanya mengangguk dan berterima kasih padaku. Aku pun pamit pulang.

Siwon Pov end

Yena Pov

@Yena’s bedroom at night

Aku mengerjapkan kedua mataku, aku baru bangun dari tidurku tadi siang karena menangis. Aku bingung, kenapa bisa aku sudah ada di rumah, bahkan di kamarku.

BRAK!

Masih dengan lamunanku, aku melihat eomma yang membuka pintu dengan kasar.

“Sudah eomma katakan berapa kali Yena-ah?! Jangan pernah melukis lagi!!” Mata eommaku begitu tajam. Dia menyentuh daguku dengan kasar.

“Eom..eomma.. mianhae..mianhae..eommaa..lepaas..” ringisku sambil terisak.

“Kau selalu membantah! Dan sekarang kau membawa keluarga Choi mengetahui rumah kita!”

Aku bingung dengan perkataan eomma kali ini. Keluarga Choi? Aku tidak pernah mengenal keluarga Choi!

“Eomma… aku tidak kenal mereka. Aku tidak pernah membawa siapapun kesini..”

“Bohong! Tadi kau diantar olehnya!” Eomma melepaskan tangannya dari daguku, sangat sakit.

“Nugu? Apakah Siwon oppa?” tanyaku pada eomma.

“Ne! Kau tahu kan dia?! Kita bisa celaka Yena-ah!!” Bentak eommaku lagi. Aku yang merasa kenal dengan Siwon oppa langsung membantah perkataan eomma.

“Eomma! Dia tu Lee! Lee Siwon! Bukan Choi Siwon!”

“Kau salah Yena-ah! Dia itu Choi Siwon! Kau tidak pernah mengenalnya karena dia memang tidak pernah muncul diantara keluarga Choi!”

Eomma yang sudah berlinang airmata jatuh terduduk dilantai kamarku. Aku menghampiri eomma. Mencoba memeluknya dengan menenangkannya. Aku tahu beban yang ditanggungnya sangat berat, semenjak kematian YoonA dan Appa, kami hanya tinggal berdua dirumah ini.

Aku mencoba untuk tidak percaya dengan semua perkataan eomma-ku, tapi yang dikatakannya bisa jadi benar. Selama ini keluarga Choi selalu mengenalkan anaknya hanya 2 orang, Choi Minho dan Choi Jiwon, sedangkan yang kami tau keluarga itu memiliki 3 orang anak.

Aku masih menenangkan eomma dalam pelukanku, sampai suara dobrakan pintu depan mengejutkan kami berdua.

“Annyeooong” sapa orang itu, dengan nada yang sedikit menjengkelkan jika didengar.

“Ya! Apa rumah ini tidak ada orang ha?!”

BRAK!

Aku mendengar suara meja ditendang. Aku menatap eomma-ku yang sudah bergetar ketakutan. Sesaat kemudian eomma sudah berdiri dan menyuruhku diam di kamar. Eomma menutup pintu kamarku rapat, aku pun segera mendekat kearah pintu untuk mencuri dengar.

“A..annyeonghaseyo sajangnim. Silahkan duduk,” Aku dapat mendengar suara eomma-ku dari sini dengan jelas.

“Ternyata, disini kalian bersembunyi. Cuih! Aku kasihan melihat kalian!” Seorang laki-laki yang berbicara sekarang, sangat menyesakkan mendengarnya berkata seperti itu pada eommaku.

“Tolong beri waktu lagi, kami pasti akan membayarnya…”

“Ckckck.. tidak bisa Nyonya Im. Terlalu banyak hutang dan bunga!” Bentak orang itu kepada eomma-ku. Aku sudah tidak tahan lagi untuk keluar dari kamar ini.

“Aku mohon ketenggangan waktu sajangnim, jebal..” Suara eommaku mulai serak.

“Aish! Menggelikan! Kangin! Cepat bawa ahjumma tua ini! Kita bawa dia ke penjara!”

“Chankaman!!!” Baiklah, aku sudah keluar kamar! Aku sudah tidak tahan dengan semua perlakuan mereka dengan eomma-ku.

“Jangan apa-apakan eommaku!” Aku berlari menghampiri mereka tapi salah satu dari mereka berhasil menangkap tanganku dan memelintirnya.

“Argh! Sakiit!” Sakit sekali! Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis, eommaku yang sudah diikat dengan tali oleh mereka pun hanya menangis.

“Cih! Mengharukan sekali disini!” Ujar salah satu laki-laki yang sedang mengikat eommaku.

“Hyung! Jangan-jangan ini yang dikatakan mata-mata Choi Sajangnim tadi?” Laki-laki yang dipanggil ‘hyung’ itu pun mengamati wajahku sesaat dan kemudian menampakkan seringaiannya.

“Wahwahwah, kangin-ssi, sepertinya kebiasaan Tuan Muda Choi Siwon itu berguna juga! Hhaha..”

“Kau benar Hankyung hyung! Hhaha..”

Choi Siwon?! Siwon oppa?!

To Be Continued

hedeeeeh pegel juga =,= hahha

gimana? gimana?

Aish, pasti terlalu mendramatisir ya? atau terlalu gimanaa gitu ? huehehehe

mianhae yaa… sebenernya ini mau dibikin one shot! Tapi berhubung udah bingung duluan sama endingnya mau gimana makanya dibikin continued. hhehe miaaaanhaeee ><

Biar lebih klop lagi, kasih komen dong chingu πŸ™‚

Akhir kata, thanks banget kalau ada yang baca di wordpress ini, bakal terharu banget kalau ada yang baca trus komen πŸ™‚

Gomapsumida chinguu :*

Hope you’ll like it! πŸ˜€

Advertisements